[Sad Movie Special Moment] Gifts For Jino’s Little Brother

Tidak biasanya Jino menuruti semua ucapan Bibi Soojung. Apalagi, saat Bibi Soojung mencubit pipi Jino dengan gemas. Kali ini berbeda, Jino menjadi anak yang super manis. Diam, tersenyum, dan tidak merengek.

Bibi Soojung dan Jino sedang berjalan-jalan di toko mainan. Mereka akan membeli satu atau dua mainan untuk hadiah. Bukan Jino, kok yang berulang tahun. Namun, adik Jino yang baru berusia dua tahun.

Sebab Jino sangat jarang bertemu dengan si adik kecil, makanya Jino ingin hadiah yang istimewa. Satu lagi alasannya karena adik Jino tinggal bersama Ibu, jauh sekali berada di Paris. Jino harus naik kapal terbang kalau ingin ke sana.

“Hadiah ini bagus buat adik.” Ujar Jino sembari menggoyangkan mobil-mobilan sebesar tubuhnya. Jino tersenyum sangat manis, membuat Bibi Soojung mengacak surai Jino.

“Tidak, Jino. Mino masih terlalu kecil untuk bermain mobil-mobilan.” Tolak Bibi Soojung, halus.

Jino cemberut, sejenak. Kemudian pria kecil yang kini mengenakan kaos biru muda dan celana pendek coklat itu pun melanjutkan pencariannya.

“Bagaimana kalau ini?” tanya Jino sekali lagi, kini menenteng robot-robotan di tangan kanan. Sementara tangan kirinya, menarik kemeja kotak-kotak Bibi Soojung untuk menarik atensi wanita yang berdiri tidak jauh darinya.

Bibi Soojung mengalihkan fokusnya dari boneka beruang super besar. “Eum,” gumam Bibi Soojung. “Sepertinya tidak, Sayang.” Imbuh Bibi Soojung, lembut.

Jino mendesah kesal, tapi tidak berselang lama. Mata bulat Jino sudah menemukan buruannya lagi, sebuah miniatur traktor dan gedung yang sangat bagus. “Bibi, Mino akan suka itu.” Seru Jino, jarinya menunjuk-nunjuk mainan yang menarik perhatiannya.

Bibi Soojung mengikuti arah tatapan keponakannya yang sedang melonjak-lonjak. Alis Soojung bertaut. “Bagaimana dengan ini?” Bukannya menjawab, Bibi Soojung malah mengutarakan pertanyaan. Di pelukan Bibi Soojung sudah ada boneka beruang coklat yang sedari tadi membuat Jino merinding. “Mino pasti suka, beruang ini sangat gendut, empuk, dan lembut.” Imbuh Bibi Soojung, tidak menyadari cebikkan Jino.

“Bibi Soojung, Jino ingin punya adik yang gentelmen, bukan girly!” Timpal Jino, separuh kesal, separuh putus asa.

Jino tidak ingin Mino, si adik kecilnya menjadi ‘korban’ Bibi Soojung seperti dirinya.

-fin

a/n: Cuma mau bilang ‘hehehehehe’.

Advertisements