Outages: The Real You

 

outages-4

Credit Poster : ALKINDI DESIGN

Inspired from Fifty Shades of Grey

Twelveblossom’s present

Prev: New LiveWe WalkThe WeddingBehind The Scene

Sedari mereka terduduk di sini semenjak satu jam lalu, Sehun enggan melepaskan genggaman erat sekaligus lembutnya pada jari-jari Nara. Seakan pria itu memberikan kekuatan dan memohon agar gadisnya tidak lari tunggang langgang meninggalkan ruangan serba putih yang hangat. Sebenarnya, Sehun tidak perlu memberikan beban pada benaknya yang kelewat cemas. Toh, Nara tidak berencana sejenak pun meninggalkan cintanya sendirian.

Atensi Nara justru terfokus pada pria lain yang mendominasi obrolan ‘ringan’ mereka. Kris, pria jangkung yang mengaku sebagai dokter pribadi Oh Sehun sedang menjelaskan beberapa hal penting. Yang menurut Sehun, bisa membuat Nara meragukan keputusannya untuk tetap mencintai Sehun.

“Dia tidak mengidap kelainan apa pun, Nara. Sehun hanya korban. Mentalnya memang cidera, tetapi dia sudah melewati bagian kritisnya belasan tahun lalu. Sehun hanya membutuhkan kepercayaan dari orang yang dia cintai. Dukungan itu perlu, apalagi jika ingatannya tertaut pada trauma masa kecilnya.” Kris mengakhiri penjelasan panjangnya. Dokter muda plus sahabat Sehun itu pun tersenyum sekilas. “Kau memilih gadis yang tepat, setidaknya dia masih sadarkan diri. Setelah mengetahui masa lalumu.” Lanjut pria yang mengenakan jas putih, lebih ditujukan kepada Sehun.

Sehun membalas, “Aku sudah memberitahu semuanya pada Nara. Mulai dari orangtuaku yang kriminal, segala hal.”

Kris nampak terkejut. Ia menggeser posisi duduknya yang berhadapan dengan Sehun dan Nara. “Kemajuan yang bagus, kau mulai membuka diri.” Kris menguarkan pendapat.

“Mungkin karena aku tidak berhenti mengungkapkan cinta padanya. Kau tahu, Kris. Seperti opera sabun, cinta mengalahkan segalanya.” Timpal Nara separuh bercanda.

Kris pun tertawa, disambut Sehun yang menggerutu. Suasana cair itu kembali menegang saat Kris memberikan satu pertanyaan kepada mereka, “Apa kalian sudah mencoba bercinta?”

“Sial,” umpat Sehun. Pria itu sontak membuang tatapannya. Ia tidak berkenan membalas, hanya memandangi perapian yang menyala di sudut ruangan.

Sementara Nara mengusap tengkuk, tanda jika si gadis bergaun selutut itu sedang kikuk. Nara menghela napas pelan, ketika menyadari dirinyalah yang harus menjawab. Lantaran Sehun menolak keras atau gamang terhadap pertanyaan tabu itu.

“Belum, maksudku. Sehun, dia menginginkan―entahlah, dia tidak bisa bercumbu denganku. Sehun akan berubah sangat kaku.” Nara menjawab, ragu. Netra si gadis menatap Sehun lekat, mencoba menerka-nerka apa yang sedang berputar di pikiran prianya.

“Kalian harus mencobanya. Bercintalah,” Ujar Kris tenang.

“Tidak―“

“―Baiklah.” Nara memotong sanggahan Sehun. Gadis itu tersenyum simpul, “Setelah ini aku akan berbelanja banyak gaun malam yang menggugah selera, Sehun. Sekarang, kau menolak, tapi lihat saja nanti.” Lanjut Nara, enggan melupakan seringainnya.

Sehun memutar bola mata sebagai respons. “Tanpa gaun malam pun, aku sudah sangat terpikat padamu.” Gumam Sehun yang langsung menimbulkan rona cantik di pipi gadisnya.

Kris hanya dapat menimpali percakapan mereka dengan tawa menggelegar yang khas darinya.

“Suasana hatiku mudah berubah-ubah,” Sehun berkata sembari mengemudikan mobil.

Nara yang duduk di sampingnya mengangguk paham. “Tadi Kris sudah membahas soal itu.” Nara menanggapi.

“Aku takut gelap,” ucap Sehun, tampak ragu. Dari nadanya seakan-akan takut gelap adalah hal paling abnormal di dunia.

Nara tertawa kecil, “Aku juga begitu. Jadi, kita bisa memasang banyak lampu di rumah.”

“Aku pernah berhubungan dengan sesama jenis.” Ujar Sehun, kali ini suaranya datar.

Nara enggan langsung menimpali, gadis itu melemparkan tatapannya pada Sehun. Sepasang netra Nara mengamati prianya baik-baik. Ada ratusan emosi yang berkembang dalam dada Nara. Dari sekian banyak, hanya rasa kasih yang paling membuncah. Lantas mendorong si gadis untuk menarik ujung bibir, membentuk senyum manis. “Tolong ingatkan aku untuk tidak cemburu.” Kelakar Nara, ia bergeser ke arah Sehun. Pura-pura berbisik penuh rahasia, Nara berujar, “Tolong katakan, kau lebih mencintaiku daripada mereka.”

“Aku mencintaimu, sangat.” Balas Sehun. Ia melebarkan senyum ketika menerima kecupan di pipi dari gadis kesayangannya itu.

“Terlukis jelas, kok. Di keningmu ada tulisan yang berujar begitu.” Nara kembali berkata.

Sehun sedang mengulang kembali apa yang tadi diinformasikan Kris kepada Nara. Hanya memastikan, siapa tahu gadisnya melewatkan beberapa hal. “Aku anak dari seorang pembunuh.” Ucap Sehun.

“Sehun, apa bisa aku meminta satu hal padamu?” Nara merespons pernyataan Sehun dengan pertanyaan.

Sehun mencuri pandang sekilas kepada Nara sebelum kembali fokus. “Apa permintaanmu?” tanya Sehun penasaran.

“Jangan pernah menyakiti dirimu. Jangan menyalahkan dirimu atas sesuatu yang tidak kau perbuat.” Jawab Nara segera. Gadis itu menerima uluran tangan Sehun. Ia meremas jari Sehun dengan lembut. “Apa pun yang dilakukan ibumu adalah kehendak takdir. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu atas itu. Ketauilah, Oh Sehun. Aku tidak peduli semua masa lalumu. Aku mencintaimu, baik sekarang, besok atau lusa. Tolong hormati perasaanku.” Nara mengakhiri ucapannya, penuh penekanan.

“Akan kucoba,” Sehun membalas.

“Baguslah,” Vokal Nara penuh kelegaan.
Ada hening beberapa menit sebelum Sehun kembali membuka bibirnya.

“Kau― “

“―kalau kau berniat mengulang ucapan Kris lagi, aku bersumpah akan loncat dari mobil ini.” Potong Nara, cemberut.

Sehun terawa, mencubit pipi gadisnya. “Tidak, Darling. Aku hanya ingin bertanya, apa kau ada acara malam ini?”

“Kalau tidak, kenapa? Kau pasti ingin mengajakku berkencan.” Simpul Nara.

Sehun refleks menggeleng. “Bukan aku yang mengajakmu berkencan, tetapi keluargaku. Mereka ingin bertemu dengan gadis yang membuat Oh Sehun bertekuk lutut padanya.” Balas sehun.

Nara kembali merona, membuat Sehun mengusap semburat itu dengan gemas.

“Aku tidak punya pilihan lain selain setuju.” Ucap Nara genit ditambah malu-malu. Kesenangan si gadis tidak berlangsung lama dengan cepat berubah menjadi kepanikan―yang sebenarnya tak perlu. “Aku tidak punya gaun yang sesuai. Bibiku sedang berbulan madu. Astaga, bagaimana jika nantinya aku terlihat buruk di mata mereka?” tanya Nara penuh kecemasan.

Sehun mendengus keras-keras, “Kau harus lebih bersyukur Nara. Satu lagi, kau terlihat sangat cantik memakai gaun apa pun.” Hibur Sehun.

Nara memutar bola mata. “Lelaki memang tidak tahu, betapa pentingnya pakaian untuk wanita. Kepercayaan diri akan timbul jika―“

“―baiklah, aku akan mengatarmu belanja sekarang.” Sehun memotong ocehan Nara, yang diketahui pria itu bakal berlangsung sangat panjang.

Nara mengulas senyum, “Baiklah, kita belanja sebentar, lalu makan siang. Bagaimana Tuan Oh Sehun, kau setuju ‘kan?” Kelakar Nara.

“Apa pun yang kau inginkan, Nona Muda.” Jawab Sehun, mengakhiri perbincangan singkat mereka.

Jantung Nara bertalu-talu saat memasuki kediaman Keluarga Choi―keluarga angkat Oh Sehun. Ia gugup setengah mati, walaupun Sehun sudah berulang kali memberikan keyakinan pada Nara, bahwa gadis itu terlihat rupawan. Namun, Nara masih bersikokoh ada celah dalam keanggunan gaun hitam yang sedang dikenakannya. Nara terlampau banyak berspekulasi, pertanyaan paling sering dikoarkan oleh benaknya adalah ‘Bagaimana kalau keluarga Sehun tidak menyukainya?’.

Sementara menurut Sehun, kegamangan Nara itu tanpa alasan. Keluarganya akan menerima dengan senang hati, wanita yang Sehun cintai. Itu sudah pasti. Nampaknya Sehun tak perlu lama-lama mengkhawatirkan perihal keraguan Nara. Ekspresi gadis itu berubah tertegun ketika sampai di hunian Sehun.
Di hadapan Nara terdapat bangunan mewah empat lantai yang dikelilingi kebun bunga, jangan lupakan air mancur warna-warni itu. Nara terpesona, sangat terpesona.

“Ekspresimu lucu,” bisik pria yang tengah membalut tubuh dengan kemeja putih polos dan celana kain hitam, serta mantel bewarna senada yang melindunginya dari udara malam.

Nara mengerjapkan mata, “Rumahmu indah sekali.” Si gadis menguarkan opini.

Sehun melejitkan bahu, ia menggenggam tangan Nara kemudian membimbingnya menuju ke pelataran rumah. “Aku bisa membuatkan satu untukmu.” Sehun menawarkan.

Nara mencebik, “Itu berlebihan.”

“Aku serius.”

“Iya, aku tahu. Berhentilah memamerkan kekayaanmu.” Ujar Nara yang lantas mendapatkan kecupan manis dari Sehun.

“Kau sangat menarik.” Kata Sehun, lalu membuka pintu besar itu. “Selamat datang di keluarga Choi, Darling.”

Nara disambut, itu sangat jelas. Sapaan pertama berlangsung hangat. Nara menerima pelukkan lembut dari seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun dan cantik. Wanita itu memakai gaun yang membalut ketat tubunya. Surai hitamnya disanggul rapi membuat kesan mewah pada penampilan si wanita.

“Tiffany Choi, aku ibu Sehun.” Wanita itu memperkenalkan diri, setelah melepaskan pelukkan sayangnya pada Nara.

Nara tersenyum manis, “Jung Nara, saya sangat senang dapat bertemu dengan Anda.”

“Jangan terlalu formal, Sayang.” Suara lain berasal dari seorang pria. Pria yang usianya sebaya dengan Mrs. Choi. “Choi Siwon, ayah sekaligus sahabat terdekat Oh Sehun.” Ayah Sehun menjabat tangan Nara dengan antusias.

“Senang bertemu dengan Anda.” Timpal Nara penuh rasa hormat.

“Dia sangat gugup, Dad. Katanya, penampilannya kurang sempurna untuk menemui kalian.” Ujar Oh Sehun saat mereka menuju ruang makan.

“Kau sangat cantik, Nara.” Puji Siwon, ada hening sejenak. “Tentu saja, apabila dibandingkan dengan istriku, kau kalah cantik.” Kelakar Siwon, menimbulkan tawa renyah dari mereka.

“Dia paling rupawan di duniaku, Dad.”

Tiffany menanggapi, parasnya berbinar ada kebahagian di sana. “Lihatlah, Sehun kita benar-benar sedang jatuh cinta.”

“Akhirnya, ada seorang gadis yang membebaskan kemurungan dari kakakku.” Lontar seorang gadis manis, ketika mereka sudah duduk mengelilingi meja makan. Gadis itu cepat-cepat turun dari tangga. Surai bergelombag bewarna merah menyala milik si gadis bergoyang-goyang, kemudian tenang kembali ketika si pemilik berhenti di samping Nara.

“Hai, kakak ipar. Aku Choi Jinri, adik Oh Sehun. Satu-satunya gadis di bawah umur yang bisa memaklumi sikap over protective seorang Oh Sehun.” Senyum lebar enggan berpindah dari bibir Jinri, sewaktu berjabat tangan dengan Nara.

“Dia bocah kecil yang sangat sering melanggar larangan dari kakaknya.” Celetuk Sehun yamg langsung mendapatkan cibiran dari Jinri.

“Sebenarnya, ada satu lagi anak laki-lakiku, tetapi dia sedang berada di London.” Jelas Tiffany di tengah-tengah dihidangkannya makanan pembuka.

Nara mengangguk sebagai tanda mengerti, bersamaan dengan sura Mr. Choi yang mempersilahkan untuk menyantap hidangan.

Lantas makan malam mereka dipenuhi oleh obrolan ringan mengenai kelucuan yang dibuat Sehun dan Jinri sewaktu mereka kecil. Ada kehangatan di hati Nara kala mendengarkan pengalaman menyenangkan itu dari ibu angkat Sehun. Wanita itu bertingkah seolah-olah Sehun merupakan darah dagingnya, bagian terpenting dalam hidupnya. Nara pun merasa lega, menyadari bahwa kasihnya tidaklah sendirian saat menghadapi kekacaun itu. Diam-diam Nara bersyukur, takdir masih menyisakan kebahagian untuk pria yang sangat dicintainya. Ia pun berjanji untuk masuk ke dalam hidup Sehun, menambahkan daftar kegembiraan yang akan prianya peroleh nanti.

Nara mengamati interaksi keluarga kecil itu. Sehun sedang bermain catur melawan ayahnya, sedangkan Jinri menjadi penyemangat yang kadang berpihak pada kakak atau Mr. Choi. Mereka sedang berada di halaman belakang kediaman Keluarga Choi yang tidak kalah menarik. Terdapat kebun mawar dan lili yang mengelilingi kolam renang, kursi taman berjejer rapi menambah keindahan. Seperti bagian rumah yang lainnya, hunian mereka tidak dibiarkan gelap. Lampu-lampu menghiasi sepanjang sudut.

“Kau pasti bosan, perlu waktu lama bagi mereka untuk mengakui kekalahan,” ungkap Tiffany Choi sembari menepuk bahu Nara. Wanita itu tersenyum cerah ketika Nara menautkan tatapan pada paras ibu Sehun tersebut. “Bagaimana kalau aku menujukkan album foto Sehun padamu, sambil menunggu mereka menyelesaikan permainan konyol ini?” Tawar Mrs. Choi nampak bersemangat. Wanita itu memiliki jalan pikiran serupa dengan Nara, mereka sama-sama tidak mengerti permainan catur.

Nara pun mengangguk menyetujui. “Baiklah, Mrs. Choi.” Ujar gadis itu, tak lupa mengimbuhkan lengkungan bibir yang langsung menampakkan lesung pipit.

“Albumnya ada di ruang keluarga. Kita harus berpindah tempat sebentar,” ajak Ibu angkat Sehun.

“Tunjukkan yang baik-baik saja, Mom,” sahut Sehun ketika ibunya bergerak terlebih dahulu untuk menyiapkan album fotonya.

“Baiklah, Love.” Jawab Mrs. Choi sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.

“Cepat kembali,” Ujar Sehun kepada Nara dengan cepat pria itu mengecup bibir gadisnya yang langsung mendapat sorakkan dari Jinri.

“Astaga, dulu kakak tidak memperbolehkan aku berciuman dengan kekasihku. Lihatlah sekarang, Kak! Kak Sehun mencium Kak Nara!” Protes Jinri.
Nara hanya tertawa ringan, sedangkan Sehun memutar bola mata. “Usiamu baru tujuh belas tahun. Dad pun akan setuju dengan pemikiranku itu.” Kata Sehun yang selanjutnya mendapat anggukkan setuju dari Mr. Choi.

“Aku harus menemui ibumu,” Nara memotong perdebatan kecil antara kakak dan adik tersebut.

Sehun tersenyum, “Baiklah, sayang.” Balas sang pria sebagai pengantar kepergian Nara.

“Kemarilah, Nara.” Tiffany menepuk sofa di sampingnya. Wanita itu memangku dua buah album foto berukuran besar. Ia mengangsurkan salah satu album pada Nara. “Ada banyak sebenarnya, namun tentu kau penasaran dengan masa kecil Sehun.”

“Benar, Mrs. Choi. Saya rasa Sehun kecil akan lebih mudah tersenyum.” Vokal Nara, tangannya mulai membuka halaman pertama. Potret itu begitu menyita perhatian Nara. Seorang anak laki-laki, tirus, berkantantong mata, dan muram.

Seakan menduplikat paras Sehun sewaktu itu, Tiffany lantas menampakkan raut kesedihan yang serupa. “Kami bersahabat dengan ayah kandung Sehun. Ketika itu kami hendak berkunjung ke apartemennya dan menyampaikan kabar bahwa kami sudah menikah. Ayah Sehun sahabat terbaikku. Ia terus meyakinkan, walaupun aku tidak bisa melahirkan seorang bayi, Siwon akan tetap mencintaiku. Dia satu-satunya orang yang mendukung kami.” Tiffany menghela napas kasar, “Kami akan menyampaikan berita bahagia, justru mendapatkan berita duka. Ayah Sehun terbunuh dan putra mereka―kami langsung mencari Sehun kecil. Dia sendirian dan terluka.”

Napas Nara sontak tercekat, ia mengusap lembut potret masa kecil Sehun. Seakan merasakan derita yang sama.

“Awalnya dia tidak ingin berbicara. Sehun membisu. Kami mengadopsinya. Foto ini kami ambil ketika Sehun tersenyum untuk pertama kali di malam Natal. Aku masih mengingat dengan jelas kenangan itu. Siwon menirukan suara Santa, kemudian dia memberikan hadiah Natalnya. Tepat dua tahun dirinya tinggal bersama kami.” Jelas Tiffany, saat mereka sampai pada halaman ke dua. Sehun kecil tidak banyak berubah di sana, hanya saja senyum segaris yang membuat si anak laki-laki terlihat hidup.

Nara mengurai lengkungan simpul. “Dia mulai terlihat tampan.” Nara beropini, mendapatkan anggukkan setuju dari ibu Sehun.

Pada halaman ketiga menampilkan Sehun bersama seorang anak laki-laki lain yang tertawa seperti mentari. “Dia saudara Sehun dan Jinri yang sekarang berada di London. Kami mengadopsinya setelah tiga tahun Sehun bersama kami.” Tiffany membelai potret itu penuh sayang, “Mereka berbeda, kau pasti dapat melihatnya. Kim Jongin seperti matahari, sangat cerah, mudah tersenyum, dan bersahabat. Mereka akrab dengan cepat. Kim Jongin sebaya denganmu Nara. Kami mengadopsinya karena orangtua Jongin meninggal akibat kecelakaan pesawat, Jongin putra dari rekan bisnis Siwon.” Ungkap Tiffany, kemudian membuka halaman selanjutnya.

“Jinri?” tanya Nara saat melihat bayi perempuan. Pada foto itu Sehun sedang mengawasi Jinri yang tertidur pulas di kereta bayi.

“Mutiara kebahagian keluarga kami, Choi Jinri. Dia satu-satunya anak kami yang menyandang nama Choi. Foto ini diambil ketika hari pertama Jinri datang ke rumah. Usianya baru delapan bulan. Bertepatan itu, Sehun mulai mengucapkan kata pertamanya. Lihatlah, Sehun tertawa.” Perkataan Tiffanya membuat hati Nara terenyuh.
“Apa kata pertama yang diucapkan Sehun, Mrs. Choi?” tanya Nara lebih seperti gumaman.

Tiffany menatap Nara singkat, lalu menjawab. “Adik,” ujar Tiffany. Wanita itu membuka halaman yang lain, segera menampakkan Sehun yang sedang mengecup pipi Tiffany. “Pertama kalinya Sehun memanggilku ‘Mom’. Aku sedang sakit saat itu dan Sehun naik ke atas ranjangku, mengucapkan ‘cepat sembuh, Mom’. Terdengar konyol, aku langsung menangis mendengarnya.” Lanjut Tiffany, netranya berkaca-kaca.

“Saya tahu bagaimana rasanya.” Nara merespons. Ia buru-buru menjelaskan. “Saya belum pernah menjadi seorang ibu. Maksud saya, rasa itu mungkin sama dengan yang saya dapatkan ketika Sehun berujar, jika dia jatuh cinta pada saya. Rasanya, saya ingin meledak.” Kelakar Nara, lembut.

Mrs. Choi mengusap punggun tangan Nara. “Terima kasih, Jung Nara. Terima kasih sudah membuat anakku jatuh cinta. Terima kasih telah membuatnya utuh. Terima kasih sudah mencintainya.” Timpal Tiffany, ia memeluk gadis yang berada di dekatnya itu.

Sehun mengantar Nara pulang tepat pukul sepuluh malam. Setelah berjanji untuk datang mengunjungi Keluarga Choi sesering mungkin, Nara dapat pulang. Jinri terus merajuk. meminta Nara untuk menginap di rumah mereka. Jinri berkata, apabila dirinya ingin sekali memiliki saudara perempuan yang nantinya bisa diajak mengobrol soal pria dan tidak memandang buruk kekasih Jinri. Soalnya, Sehun dan Jongin selalu ingin memukul siapa saja yang menjadi kekasih Jinri, bagi kedua kakaknya, setiap pria itu berengsek―well kecuali mereka sendiri.

“Jinri sangat lucu,” Ucap Nara sembari mengalungkan tangannya pada leher Sehun, saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen si gadis.

Sehun mengungkung Nara ke dalam pelukannya. “Hm, kau lebih lucu satu tingkat di atasnya.” Bisik Sehun.

“Kau tahu, aku lebih suka disebut wanita dewasa daripada lucu, Oh Sehun.” Cebik Nara, kaki gadis itu berjinjit demi mencuri satu kecupan manis dari kekasihnya.

Sehun refleks menunduk agar gadisnya tidak perlu berjinjit, ia mengangkat tubuh Nara. Perlahan, namun pasti Sehun mulai membalas lumatan ringan yang digelontorkan Nara. “Mana yang lebih kau pilih, menjadi wanita dewasa atau wanita yang kucintai?” tanya Sehun retorik, saat menjauhkan diri sejenak dari tautan mereka―memberikan waktu pada gadisnya untuk mengambil napas dalam-dalam.

Nara terengah, ia sempat tersenyum lemah. “Apa tidak ada pilihan lain?” Gadis itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

Sehun tersenyum miring, kemudian membelai surai Nara yang tergerai cantik. “Tidak ada,” jawabnya.

Nara mengeratkan pelukkan, hingga tubuh mereka menempel sempurna. Gadis itu bisa mencuri aroma dari tubuh Sehun. Lama-kelamaan Nara bisa ketiduran. “Aku ingin menjadi wanita yang bisa bercinta denganmu, boleh ti―Sehun!” Pekik Nara, ucapannya terpotong akibat Sehun yang tiba-tiba merengkuhnya ke dalam gendongan. Pria itu menyugarkan tawa sepanjang perjalanna mereka ke ranjang.

Tidak menunggu ocehan gadisnya, Sehun kembali menautkan bibir mereka. Sementara Nara segera menggapai kewarasannya. Kerja tubuh Nara menjadi berlebihan sewaktu mereka bersentuhan seperti ini. Dengar saja jantung Nara yang bertalu-talu, menjadi latar musik cumbuannya.

Sehun menindih tubuh Nara, ia menelusuri rahang gadis itu. Sesampainya bibirnya pada rungu si gadis, Sehun berbisik. “Mungkin nanti, aku akan memberikan pilihan itu. Menikahlah denganku, kali ini lebih serius dari yang sebelumnya.”

Nara mendesah sebagai tanggapan. Ia mengacak surai Sehun yang terlampau berantakan akibat ulahnya. Nara mempererat pelukannya pada leher Sehun, ia menginginkan prianya tidak segera beranjak. Perlahan jari-jari Nara melangkah lentik menuju kancing-kancing kemeja Sehun. Satu kancing terbuka, kancing selanjutnya, hingga keseluruhannya tertanggal. Nara membelai otot perut Sehun yang menimbulkan geraman tertahan berasal dari prianya. Nara tersenyum penuh kemenangan.

“Kita harus mencobanya, seperti kata Kris.” Gumam Nara disela kecupan intens mereka. Seharusnya Nara lebih berhati-hati berucap, sebab akibat dari perkataan asalnya membuat tubuh Sehun menegang. Pria itu pun melepaskan diri dari tubuh Nara.

Sehun berbaring di samping Nara yang terlihat sangat berantakan. Ia mengoordinasikan napasnya yang memburu. “Tidak ada percobaan.” Seloroh Sehun, dingin.

Nara mengigit bibir, “Tadi sangat menyenangkan.”

Sehun mencuri pandang kepada Nara melalui ekor matanya. “Kita belum menikah Nara.”

Nara mendengus, “Masa bodoh dengan pernikahan―”

“―Kita harus.” Tegas Sehun, netranya terpejam. Sehun berusaha mengendalikan emosi.

Nara menghela napas maklum. Ia berbalik ke arah Sehun, kali ini si gadis yang menidih pria itu. Jari-jari Nara mengusap peluh yang berada di kening Sehun dengan penuh sayang. “Tidak masalah, toh aku tidak punya kegiatan lain selain mencintaimu.” Gurau Nara.

Senyum Sehun bermain di ujung bibir. “Sangat perlu diapresiasi.” Timpal Sehun, selanjutnya pria itu menggeser tubuh Nara pelan agar dirinya bisa berdiri dari ranjang. Sehun tidak berusaha mengancingkan kemeja yang telah dibuka Nara dan itu membuat Nara tertegun, menyadari betapa memikat prianya.

Nara terduduk di ranjang sembari mengamati Sehun yang sibuk merogohkan tangannya ke saku celana kain yang ia kenakan. Alis Sehun tertaut, menegaskan betapa serius dirinya sekarang. Tak berselang lama, Sehun menemukan sesuatu yang ia cari. Pria itu kemudian menggapai jari-jari kekasihnya.

Nara menuruti uluran tangan sehun yang memintanya untuk berdiri di hadapannya.

Sehun terbatuk kecil, ia mengecup punggung tangan Jung Nara sebelum berucap mantap. “Tolong, menikahlah denganku.” Bukan sebuah pertanyaan mengenai kesediaan Nara. Ucapan Sehun lebih dari sekedar itu, ia meminta agar Nara menjaganya secara fisik dan logika.

Nara mengangguk, “Baiklah, memangnya aku punya pilihan lain.” Gadis itu tersenyum yakin.

Sehun tertawa, “Tidak ada.” Jawabnya cepat, kemudian memasangkan cincin mutiara yang dikelilingi berlian itu ke jari manis Nara. “Lebih indah, jika kamu yang memakainya.” Imbuh Sehun, sebelum menarik gadisnya kembali ke pelukan.

“Aku mencintaimu, Sehun.” Sela Nara, mengikis keheningan.

Sehun mengecup puncak kepala gadis kesayangannya. “Aku juga mencintaimu dan akan selalu begitu.” Sehun menutup perbincangan khidmat mereka dengan untaian penghargaan atas kasihnya pada Nara.

-oOo-

a/n: Saya merindukan Sehun dan Nara dalam kisah ini. Semoga kalian juga.

Advertisements

324 thoughts on “Outages: The Real You

  1. Aku baru lanjut baca… ya Tuhan, mereka so sweet bgt… gakuat akutu… Jadi makin cinta sama pasangan ini… Coba kalau Sehun ga ganteng, Nara ga bakal cinta sama dia dengan apa adanya hahaha

    Regards,

    SehunBee

  2. ingin menangis pas ibu angkatnya sehun cerita :”’ sehun udah beneran ya jatuh cinta sama nara. bener2 terharu baca chapter ini. oh iya dan maaf kak karena aku sebelumnya salah baca chapter dan langsung ke chapter romantic escape ㅠㅠㅠ

  3. Sebenernya aku masih harap harap cemas. Takut sehin berubah jadi mengerikan 😯😯😯
    Tapi mereka itu sweet banget 😄
    Semoga aja Sehun bener bener cinta sama Nara 🙏

  4. Suka banget ama ini ff, aku lama gak berkunjung dan easa rinduku di obati sama ini cerita. Terbaik lah. Huhuhu, please lah sehun sdh mulai membuka hati atau mungkin sdh dari awal wkakakka

  5. klu aku jdi sehun mungkin aku akn jd seperti yah,,, melihat ibu sendiri membunuh ayah di hadapan mata itu sngt ngeri sekali,akhirnya sehun meungkapkan kata keramat itu pada Nara,,, kak aku minta PW yh BEHIND THE SCENE plssssss

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s