My World Is You

9473269882_ee606409d0_h

Track List

“I don’t hate him. Because he makes you smile like an angel.” –What If, EXO


Sehun tersenyum simpul sembari mengunyah tartlet berhiaskan potongan stroberi dan jeruk. Sehun memang suka hal yang manis-manis, namun tidak kerap pula ia mendapatkan hal favoritnya. Hanya ketika libur panjang atau saat dirinya benar-benar memiliki izin dari perusahaan untuk pulang ke rumah. Sungguh, hanya itu alasannya jarang atau bahkan tidak pernah pulang dalam kurun waktu satu bulan ini.

Nampaknya, kedua opini Sehun tersebut, tak dapat meyakinkan wanita yang kini menatapnya lekat-lekat dari kursi yang berhadapan dengannya. Menurut si wanita, ada hal yang disembunyikan Sehun. Misalnya, perasaan tidak menyenangkan atau menganggap rumah ini bukan lagi sebagai hunian nyaman yang layak dirindukan.

“Rasanya jika kau meneruskan perilaku jarang pulangmu ini, aku bisa benar-benar melupakan wajahmu.” Ujar si wanita yang masih mengenakan gaun tidurnya. Parasnya terlihat mengantuk, tetapi ketegasan berusaha ia buat, hingga dapat menyatakan bahwa dirinya rela bangun dini hari hanya demi Sehun. Walaupun dengan kentara dia enggan menyembunyikan protes atas keterlambatan Sehun. “Katanya pulang siang hari, tapi malah datang dini hari seperti ini. Tartletnya jadi tidak enak.” Imbuh si wanita.

Sehun tetap menyunggingkan ujung-ujung bibirnya, ada kemakluman di sana. “Ada banyak konser, ini saja hanya libur dua hari. Tadi harus membelikan oleh-oleh untukmu, jadi agak terlambat. Ngomong-ngomong tartlet ini tetap enak, kok.” Jawab pria berusia awal dua puluhan itu, ringan.

“Agak terlambat? Sangat terlambat.” Sambar wanita itu sambil menautkan alis. Ia menghela napas berat, kemudian melanjutkan, “Aku yakin kau menghindarinya. Kau sengaja pulang dini hari saat ia sudah tidur, lihatlah besok pagi-pagi sebelum dirinya bangun kau bakal pergi lagi. Kau keberatan dengan hubungan kami.” Jelasnya agak tertahan, memaparkan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginannya membuat egonya terkoyak.

Sehun meletakkan tartlet yang hendak ia suapkan. Tatapannya yang tajam sengaja ia arahkan kepada lawan bicaranya. “Sudah kubilang, aku tidak keberatan kalau kau menikah lagi.” Kata Sehun pelan.
Wanita itu mengetuk meja dengan jari-jarinya. Ia sedang berpikir dalam keheningan. Selang beberapa puluh detik, dirinya kembali berucap. “Aku yakin itu berat bagimu. Seharusnya, aku tidak langsung menerima lamarannya. Aku tahu kau membencinya.” Ujar si wanita, ada kegetiran dalam suaranya yang mengisi senyapnya ruang makan.

Sehun tertawa renyah, ia berpendapat bahwa opini yang baru saja ia dengar itu konyol. “Ibu, aku sama sekali tidak membencinya. Kau sudah membesarkan diriku sendirian, saat ini aku sudah dewasa dan mandiri. Kini giliranmu membuka lembaran baru. Ayolah, obrolan yang kita angkat saat ini sudah kita lakukan beberapa kali.” Timpal pria yang mengenakan celana jins dan kaus biru tua.

Wanita yang melahirkan sekaligus pusat dunia bagi Oh Sehun itu, menatap anaknya dengan gamang. “Tapi, kau tidak ingin memanggilnya ayah.” Gumam Ibu Sehun.

“Bukan berarti aku membencinya.” Balas Sehun, cepat. Ia meremas lembut jari-jari ibunya, berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu. “Aku sama sekali tidak membencinya karena dia telah memberikan kebahagian untukmu. Dia, membuat dirimu tersenyum. Apabila ibu bahagia, aku juga. Aku yakin ayah di surga akan berpendapat sama. Percayalah padaku.” Lanjut Sehun.

Akhirnya, Ibu Sehun mengikuti senyum putranya. Saking terharunya, airmatanya menetes beberapa bulir. Ada rasa syukur serta kebanggaan tersendiri yang ia dapatkan. Sehun seharusnya tahu, wanita itu bahagia sebab ia memiliki anak laki-laki seperti Sehun. Bukan karena yang lainnya.

“Sehun, kau dunia ibu,” ucap Ibu Sehun lembut.

Sehun pun membalas sambil kembali mengunyah tartlet buatan ibunya, “Aku tahu, Ibu.”

-Fin

a/n: Kolom komentar ada di sini.

Advertisements