Maximillian: The Abigail Crandall

bcc51382ce5989e90b80efc524ad2763Prev: PrologThe HalfThe Noble

“If you smile at me like that. It’s hard for me to not feel anything.” ―Unfair, EXO

Gadis itu ialah pemilik surai merah darah yang tergerai indah, kulit seputih susu sapi yang baru direbus, dan paras rupawan yang memikat. Jadi, jangan salahkan Kai apabila ia tertarik akan keartistikan yang ditawarkan si gadis jelita.

Barang kali, bunga-bunga liar, daun-daun segar, dan lumut yang menjadi penghuni terdahulu hutan pun, malu mendapati diri mereka kalah elok dengan rupa si gadis. Begitu juga netra awas Kai, yang segera menemukan keanggunan itu di tengah-tengah rimbun hutan. Di setengah perjalanannya menuju kekasihnya―yang sebenarnya tak kalah elok, lebih cantik―Kai bertemu si gadis. Ada yang berujar, ‘rumput tetangga lebih hijau’. Sesuatu yang baru dan tidak pernah dimiliki terasa jauh menantang, terutama bagi vampir petualang seperti Kai. Gadis itu menjadi petualangan barunya.

Kai tersenyum miring, ia sengaja menyembunyikan tubuh, mengikuti si gadis yang bergerak takut-takut menyingkap hutan. Indra penciuman Kai mengetahui bahwa gadis yang mengenakan gaun putih selutut, memiliki jantung yang berdetak serta kerasnya kulit vampir. Seringai Kai lantas meredup, “Setengah vampir.” Ujarnya pelan, diiringi benaknya yang terhubung pada pasangan absolut saudaranya―Sue.

Atensi Kai tersita sepenuhnya ketika si gadis berhadapan dengan tiga serigala. Nampaknya gadis itu pun tak tahu cara melindungi diri. Dia hanya tertegun, mengigit bibir, dan memundurkan langkah hingga terkantuk ranting pohon pinus. Melihat pemandangan itu membuat Kai menghembuskan napas kuat, “Apa semua manusia setengah vampir memiliki gerak refleks yang buruk?” tanyanya, lebih kepada diri sendiri.

Ini bukan kali pertama Kai menyelematkan gadis setengah vampir yang hampir meregang nyawa akibat serbuan serigala. Namun, ini pertama kalinya Kai menemukan lautan dalam pupil seorang gadis yang baru ia kenal. Menghanyutkan Kai dalam keluasan lautan dalam sekali pandang. Kai menggapai, semudah itukah ia jatuh cinta, kembali?

Tidak, tentu saja tidak. Ini hanya salah satu halaman buku cerita dalam kisah kepahlawanannya. Beginilah, cara si pria menyenangkan diri, barang sejenak terbebas dalam kegelapan yang terkasih.

Misi penyelamatannya, berjalan mulus. Kai mendapatkan imbalan yang sepadan. Senyum ragu, awalnya. Namun, segera berganti lebih tulus saat bibir merah jambu si gadis mengucapkan nama. “Abigail Crandall.” Bagai musik yang mengalun, Abigail Crandall berhasil menyematkan dirinya di seluruh jalur logika Kai.

Abigail lagi-lagi mengumbarkan raut lugu pada si pria, ketika mereka berbincang mengenai tujuan masing-masing. Sudah dua hari mereka menjadi kawan seperjalanan, entah apa yang menarik Abigail untuk menyetujui Kai masuk ke dalam hidupnya. Sejatinya, benak Abigail tunduk semenjak menangkap sudut-sudut bibir Kai yang menjungkit beberapa milimeter. Sederhana.

“Sudah menjadi rutinitas diriku untuk mengunjungi Maximillian setiap lima tahun sekali.” Kelakar Kai ketika mereka duduk mengelilingi api unggun di tengah hutan.

Mereka sedang beristirahat. Bukan, mereka. Hanya Abigail yang membutuhkan duduk sejenak. Abigail mengalami sendiri betapa tangguhnya si pria yang terbalut jubah hitam itu. Kai bisa saja melangkah lebih cepat dan sampai lebih cepat. Tetapi, ia memilih menyamai kaki Abigail. Alasan si pria sangatlah klasik, Kai ingin menjamin keselamatan Abigail. Lagi pula, mereka memiliki tujuan yang serupa―Maximillian.

“Pasti ada sesuatu yang mengundangmu.” Abigail menanggapi, netranya bertemu dengan milik Kai. Ada kegelapan di dalam sana yang meluruhkan lautan milik Abigail. Seakan tersedot masuk ke dalam lubang hitam itu, Abigail terpaksa menaruh senyum simpul untuk mengurangi kecanggungan.

Kai terhenyak sebelum memberikan tandasan akan perkataan Abigail. “Ya, ada yang mendorongku untuk ke sana.” Abigail mendapati Kai kembali menerawang, serupa pikirannya sedang melalang buana. Belum sempat Abigail menimpali, Kai kembali melanjutkan ucapannya. “Lalu, bagaimana dengan dirimu?” tanya Kai.

Abigail lantas menunduk. Memandangi alas kakinya yang mengkilap akibat sinar-sinar bulan menembus sela-sela dedaunan. “Aku mencari kebenaran atas siapa orangtuaku dan obat bagi orangtuaku yang lainnya.” Jawab Abigail, suaranya pelan.

Alis Kai bertaut. Bibirnya terkatup kembali, saat menemukan kepedihan dalam paras si gadis jelita. Ia seperti melihat mawar yang layu, perasaan tak tega menggerayangi Kai.

“Kau vampir, tentu sudah mencium aromaku yang tak sempurna. Aku setengah manusia. Aku sedang mencari siapa ibuku dan ingin meminta penyembuhan atas sakit ayahku. Maximillian jawaban atas semuanya.” Lanjut Abigail.

“Kau terlalu berharap banyak terhadap Maximillian, Abigail. Dia yang berkuasa tak sebaik itu, asal kau tahu.” Jelas Kai. Jari-jarinya beranjak untuk membelai kulit si gadis yang sendu. Sedikit saja, ada harapan di benak Kai yang ingin menghilangkan beban itu dari Abigail.

“Kendati demikian, aku masih terus berharap, Kai.” Ketika Abigail membalas lembutnya belaian si pria. Saat jari mereka bertaut dengan sempurna. Abigail merasakan dirinya bagaikan mozaik yang menemukan pasangan. Abigail tahu, jika detak jantungnya yang bertalu-talu, pipinya yang merona, dan tubuhnya yang menegang ialah bentuk kejujuran, bahwa dirinya mulai terbawa arus kasih.

Masih terngiang jelas di dalam ingatan Abigail, ucapan Kai mengenai buasnya jalan yang harus ia tempuh menuju Maximillian. Hal tersebut pun terbukti pada hari ke lima mereka menjelajahi sudut-sudut rimba. Abigail berjalan bersisihan dengan Kai. Si pria menunggu dengan sabar langkah si gadis yang mulai terengah. Sembari sesekali terdengar obrolan manis yang menggema sepanjang hutan.

“Aku tidak percaya kita tersesat dua kali. Padahal, kau mengaku telah ratusan kali berkunjung ke Maximillian.” Sindir Abigail, tanpa melupakan kesopanannya.

Kai tertawa. Entah sudah beberapa kali ia mengulang tawa itu seharian ini. Sesuatu yang tak akan dirinya dapatkan, apabila menghabiskan waktu bersama terkasihnya. “Aku tidak menggunakan jalan darat, Abigail.” Sela Kai, menginterupsi cebikan si gadis.

“Apa kau terbang?” tanya Abigail, polos.
Kai menghentikan langkahnya. “Tidak juga, aku berteleportasi.”

Mata Abigail segera membola. Ia menghentikan langkah. Berhadap-hadapan dengan Kai, ia mulai mengoarkan keterkejutannya. “Apa kau salah satu vampir istimewa, kerabat sang Maximillian?”

Lantaran menjawab, Kai malah tersenyum miring. Sontak membuat Abigail tertegun beberapa saat. Abigail tak lagi mendengar detak jantungnya ketika Kai mendekat. Kemudian, berbisik sensual tepat di rungu. “Rahasia,” ujar Kai, lalu tertawa―meninggalkan Abigail yang kehabisan kata di belakang.

Kedamaian enggan berselang selamanya. Suara geraman berat yang semakin lama mendekat, segera mengeraskan paras Kai. Si pria segera mengumpankan tubuhnya, melindungi Abigail di baliknya.

Raksasa setinggi enam meter menyugar pepohonan. Abigail gemetar ketakutan mendapati si raksasa berwarna coklat itu, memiliki kepala menyerupai manusia, bertubuh singa, dan berekor kalajengking. Abigail tak pernah sekali pun, berhadapan dengan makhluk mengerikan. Kerapuhan Abigail enggan mengijikan si gadis bersikap kuat dan gesit.

“Manticore,” gumam Kai mendefinisikan makhluk arogan di hadapan mereka. Pria itu memutari Abigail, hingga membentuk lingkaran tipis yang menyelebungi si gadis. Setelahnya, Kai menerjang ke arah makhluk buas yang haus akan darah.

Abigail mengigit bibir sebagai tanda kekhawatirannya memuncak. Kai memang cepat, gesit, dan kuat. Namun, tetap saja racun yang dihembuskan oleh Manticore melayukan kehidupan mereka.

Abigail merasa tidak berguna. Ia hanya menjadi penonton pertunjukan laga yang dibintangi oleh kawannya. Walaupun selang beberapa menit, Manticore mulai kualahan membalas serangan Kai. Abigail yakin, Kai bisa lebih kuat dari ini. Andai saja, Kai tidak menggunakan lebih dari setengah tenaganya untuk menciptakan perisai pelindung bagi Abigail, pasti pria itu bisa melenyapkan Manticore dengan mudah.
“Tidak!” Seru tertahan Abigail ketika cakar Manticore mengenai tubuh Kai. Pria itu tersungkur, darah biru tua mengalir dari dadanya. Abigail sontak terpana. “Maximillian,” ujar pelan si gadis. Benak Abigail langsung saja terhubung pada kepercayaan banyak vampir yang hidup di lembah tempatnya tinggal. ‘Hanya ada satu vampir yang memiliki darah sebiru lautan ia adalah penguasa dari semua bangsawan dan elemen dari bangsa kita’. Milik Kai lebih tua dari air laut, menimbulkan pertanyaan dalam pikirannya. Apakah dia sang terlarang itu? Abigail menaruh keraguan atas apa yang dilihatnya.

Pikirannya tersentak ketika rungunya mendengar suara gemuruh yang berasal dari kebangkitan Kai. Pria itu kembali berdiri, lukanya telah sembuh, walaupun tidak seluruhnya. Tangan Kai bertransformasi menyerupai kuku-kuku tajam makhluk buas itu. Terlihat lebih kokoh dan siap mengoyak.

“Terima ini makhluk idiot,” koar Kai, lalu mengoyak mangsanya. Mencabik Manticore menjadi beberapa bagian. Gumpalan tubuh si raksasa pun disusun menjadi gundukan, pematik api dikeluarkannya untuk membakar musuhnya.

Manticore itu terjilat-jilat api, melenyapkan tubuh buasnya.

Abigail bernapas lega, sekaligus tercekat. Entah ia harus bagaimana, kenyataan bahwa dirinya bersama sang Maximillian―atau seseorang yang berkaitan dengan penguasa, membuatnya merasa tertipu. Kai tidak mengatakannya, padahal Abigail sendiri sudah mengungkapkan segala hal mengenai silsilahnya. Maka dari itu, Abigail segera menggelar aksi protes, setelah Kai membebaskan dirinya dari perisai.

“Abigail! Tunggu, apa kau tidak ingin mengucapkan terima kasih?” tanya Kai, langkahnya agak pelan akibat perih dari luka. Ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkan seluruh goresan. “Argh, sial darah ini terus saja keluar.” Lanjut Kai yang langsung saja mendapatkan simpati dari gadis yang mendahuluinya.

Abigail ikut terduduk di samping Kai. Raut khawatirnya enggan bersembunyi saat sepasang netra lautan itu, menangkap sobekan di tubuh Kai. “Apa sangat sakit?” tanyanya, sedih.

Kai tersenyum untuk meluruhkan kecemasan di rupa elok Abigail. Sungguh suatu pantangan saat Kai mengijinkan jari-jari Abigail bergerak untuk menggapai rahangnya. Kai seharusnya menolak dengan tegas. Kasihnya tidak akan suka, apabila kehangatan gadis lain menyembuhkannya. Tetapi, sepasan mata Kai mengatup. Ada kedamian dalam sentuhan Abigail, kenyamanan yang sebelumnya enggan menghinggapi ekisistensinya. Benak Kai menyela, menghapus pemikiran bahwa diri pria itu sedang jatuh cinta. Sudah menjadi kodrat dirinya, jatuh cinta hanya sekali dalam kehidupannya. Tak ada pengampunan untuk kedua atau yang ketiga.

“Kai, apa kau sudah lebih baik?” Abigail kembali bersuara. Naluri gadis itu yang mengantarkan tubuhnya semakin mendekat ke arah si pria. Abigail dapat mencium aroma maskulin bercampur tetesan luka menganga dari tubuh lawan bicaranya.

Kai menjawab, “Jangan cemas. Aku baik-baik saja, Gadis Lembah.” Jawab Kai. Gerakan selanjutnya yang dilayangkan pria itu benar-benar di luar kendali. Ia beringsut untuk merangkum wajah si gadis. Perlahan mempertemukan kelembapan bibirnya dengan kehangatan Abigail. Ini sungguh tidak akan diampuni, meskipun Kai menukar sendiri nyawanya dengan kalimat ‘kau termaafkan’ dari kasihnya.

Aku akan lenyap, putus insting Kai sembari menikmati sentuhan dari tubuh lain itu.

Atau…

Masih ada celah yang dapat ia lalui. Toh, si gadis tidak mengetahui bahwa bibir yang dikecupnya saat ini ialah kekasih penguasanya.

Dia tidak menyadari bahwa diriku ini terlarang. Asal Kai bisa menyembunyikan jati dirinya, kutukan segel kasihnya, enggan menyakiti Abigail.

Setidaknya Abigail tidak akan lenyap sebegitu mudah, simpul Kai menutup kisahnya bersama Abigail Crandall.

-oOo-

a/n: Saya akan sangat senang mendapatkan review dari kalian. Klik di Track List untuk meninggalkan review atau komentar. Terima kasih.

Advertisements