[4] Undercover Marriage

undiscover-mrriage-2

Poster by Miss of Beat R @ D’Angel Falls

Prev: [Part 1] [Part 2] [Part 3]

Jisoo bukanlah tipe gadis yang memasukkan nasi dan lauk pauk sebagai daftar favorit santap paginya. Ia lebih suka meneguk susu cokelat atau mengunyah roti berisi selai kacang. Namun, kali ia harus menerima fakta bahwa kebiasaannya itu pun bakal berubah, sejalan dengan tempat tinggal barunya. Wanita yang dilabeli sebagai ibu kandung Jisoo, rupanya tidak tahu soal menu favorit putrinya. Jisoo hanya bisa menghela napas maklum serta berusaha menyumpalkan kudapan yang tersaji di meja makan. Beberapa kali hatinya mengimbuhkan keluhan.

Aku lebih suka kelaparan daripada makan nasi di pagi hari. Satu rutukkan bebarengan dengan suapan terpaksa.

“Kak Jisoo, apa kau menyukai masakkan Ibu?” tanya Nayeon. Si bungsu itu duduk di seberang Jisoo.

Atensi Jisoo tertarik, ia melepaskan pandangan tersiksanya pada mangkuk nasi. Kemudian menjawab pelan. “Ibu?” tanya Jisoo pelan. Agaknya seperti sindiran telak untuk wanita paruh baya yang juga semeja dengannya.

Wanita yang dimaksud pun, masuk ke dalam obrolan. Helaan napasnya terdengar nyaring. “Kau bisa panggil aku Bibi, apabila sebutan Ibu terlalu berat untukmu.” Ujarnya lembut sembari tersenyum.

Jisoo balas menarik ujung bibir, membentuk jungkitan dingin. “Baiklah, Bibi.” Timpal Jisoo, tanpa ragu, lalu pura-pura sibuk meminum air putih.

Sempat ada jeda yang lama ditambah kecanggungan yang kentara, sebelum bel apartemen mereka berbunyi. Nayeon yang sedari tadi terjebak di tengah-tengah ketegangan refleks berdiri. Jujur saja, Nayeon ingin kabur jauh-jauh dari kecanggungan mereka. Oleh karena itu, dengan gesit, ia memilih untuk membukakan pintu.

Sementara Jisoo tetap pada sikap cueknya. Ia hendak beranjak dari meja makan mereka. Gerakannya berhenti ketika ibu berkata, “Makanmu sedikit sekali.” Ujar Nyonya Lee, suaranya rendah.

Jisoo berusaha membenahi ekspresinya yang muram. “Tidak terbiasa makan―“

“Do Jisoo!” Seru suara bariton yang amat Jisoo kenal menginterupsi. Seorang pria mengenakan setelan kantor sudah beridiri di hadapannya, ketika Jisoo membalikkan badan.

Jisoo menyugar senyum, lebih tulus dan tak ada kesan berpura-pura pada perilakunya. “Kim Jongin, hai.” Sapa gadis yang tengah mengenakan celana jins dan kaus biru muda. Jisoo menerima pelukkan dari Jongin, lalu berujar dengan bersemangat. “Kau datang sepagi ini. Kim Jongin yang biasa kesiangan, mengejutkan.” Lanjut Jisoo, ia menarik Jongin menuju ke kamar. Gadis itu enggan menunggu jawaban dari Jongin. Jisoo juga sengaja tidak mengindahkan salam perkenalan ibu kandungnya serta Nayeon yang tertegun di tempat.

Alis Jongin berkerut, tanda apabila ia menyimpan banyak pertanyaan atas sikap sahabat kecilnya. “Bukannya bermaksud ikut campur, sepertinya kau tidak akrab dengan mereka.” Jongin mulai mengoarkan apa yang sedari tadi berputar di benaknya.

Jisoo berjinjit, kemudian menekan bahu Jongin sebagai perintah agar pria itu duduk manis di ranjang kecilnya. “Aku tidak terlalu menyukai mereka dan sama sekali tak memiliki niat untuk memperbaiki keadaan.” Penjelasan Jisoo diakhiri cibiran.

“Tapi, Jisoo…” Nasehat Jongin terputus dengan suara dengusan si gadis. Membuat ucapan Jongin tertelan kembali. Jongin mengedikkan bahu, berusaha mengoreksi sikapnya. “Baiklah, terserah kau saja.” Ujar Jongin pada akhirnya.

“Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanya Jisoo, menggeser topik.

“Kyungsoo menghubungiku, dia bilang kalau adiknya sedang tertekan. Katanya, kau akan sangat gembira, jika aku mengajakmu ke klub tari.” Jawab Jongin yang langsung medapatkan sorakan riang dari lawan bicaranya.

Jongin pun ikut tertawa melihat tingkah Jisoo yang kekanakan. Setelahnya, netra Jongin mengawasi Jisoo yang sibuk mondar-mandir memasukkan peralatan yang akan ia bawa ke klub tari.

“Akhirnya, ada yang membuatku bisa berpikir waras.” Gumam Jisoo, sambil menyumpalkan pakaian ganti ke ransel merahnya. “Aku bisa mati bosan, jika terus berada di sini.” Lanjut Jisoo.

Jongin mengangguk dan mendengarkan. Pria itu pendengar yang baik. Itulah daya tarik Jongin yang sanggup memikat Jisoo. Gadis itu pun menaruh beberapa persen perasaannya pada Jongin.

“Apa kau sudah makan pagi?” Jongin memotong ocehan Jisoo.

Si gadis yang sedang mengikat surainya itu pun mengangguk. “Sedikit,” timpal Jisoo.

“Apa kita mampir dulu ke gerai Pak Lee?” Tawar Jongin ketika ia mengulurkan tangan untuk mengenggam jari-jari Jisoo.

“Tidak perlu, nanti saja setelah latihan. Ayo, berangkat.” Ajak Jisoo, sekali lagi menarik pria rupawan agar mengikuti keinginannya.

Jisoo berpamitan dengan seadanya kepada keluarganya. Lalu, melangkah lebar-lebar meninggalkan apartemen mungil, hunian barunya. Jongin pun hanya mengekori si gadis yang dua tahun lebih muda darinya. Langkah kaki mereka hendak berayun menuju tangga, saat suara sepatu terdengar berisik di belakang. Penuh ketergesaan.

“Kakak!” Seruan itu merenggut fokus Jisoo pada lorong di hadapannya. Jisoo berhenti, kemudian berbalik, begitu pun Jongin.

Nayeon terengah-engah, berusaha mengatur napasnya. Gadis yang tengah mengenakan seragam dan menyandang tas sekolah itu, mengangsurkan kotak bekal bewarna merah kepada kakaknya. “Kotak makanmu ketinggalan, Kak.” Jelas Nayeon, setelahnya. Senyum tipis tersungging dari bibir Nayeon yang entah bagaimana, membuat Jongin membanding-bandingkan Nayeon dengan Jisoo. Mereka mirip, hanya saja paras Jisoo kusut setiap pagi.

Benar saja, lantaran menerima kotak makannya. Jisoo malah cemberut. Pelan, namun tegas. Jisoo menolak. “Tidak, buatmu saja. Aku kenyang.” Ujar Jisoo. Ia melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, tanpa mengindahkan adiknya.

Jongin melihat kekecewaan Nayeon. Pria itu menghela napas. Ada belas kasih yang timbul dari Jongin untuk Nayeon. Gadis kecil ini harus lebih tabah lagi, menghadapi sikap Jisoo yang kadang baik dan kadang jahat. Jongin, sih, sudah hafal betul.

“Kemari kan.” Kata Jongin, membokar lamunan Nayeon yang sedari tadi mengawasi langkah kaki kakaknya yang jauh ke depan. “Aku akan membujuknya. Dia memang seperti itu dan aku jamin Jisoo tidak sengaja membuatmu kecewa.” Lanjut Jongin, di akhiri senyum bersahabat.

Nayeon mengangguk, agak ragu. Pipi gadis kecil itu merona, menyadari kerupawanan pria yang mengajaknya mengobrol. “Terima kasih, sepertinya aku harus segera berangkat ke sekolah, sudah terlambat.” Ucap Nayeon, malu-malu.

Alis Jongin bertaut. “Oh, maaf. Sudah membuatmu terlambat. Di mana sekolahmu?” tanya Jongin.

“Hannyoung Art High School,” Jawab Nayeon.

“Baguslah, satu arah dengan klub tari Jisoo. Ayo, aku antar sekalian.” Ajak Jongin tanpa berpikir panjang, segera saja pria itu menarik tangan Nayeon agar dapat menyusul Jisoo.

“Lelucon paling tidak lucu sedunia. Hannyoung Art High School bahkan letaknya sangat jauh dari klub tariku. Kau sengaja membuang waktuku, ya?” tanya Jisoo, tajam.

Jisoo melotot ke arah Jongin yang sedang berada di sampingnya, mengemudikan kendaraan mewah yang mereka tumpangi. Sejenak, ekor mata  Jisoo juga mencuri pandang ke arah penumpang lain di belakang. Nayeon tampak sangat malu, ditambah lagi ucapan sinis Jisoo.

“Tetap saja searah.” Bela Jongin.

Jisoo melipat tangannya. “Kau kira sedang bicara dengan balita yang buta arah, Kim Jongin.”

Jongin tertawa. Bibir Jisoo yang mengerucut justru terlihat begitu menggemaskan. Tangannya yang bebas mengacak surai si gadis. “Lagi pula dengan begini aku bisa lebih lama menghabiskan waktu bersamamu.” Rayu pria itu.

Jisoo mengeram kesal, berkebalikan dengan pipinya yang merona cantik. “Terserah.” Desis Jisoo, ia membuang muka.

Duapuluh menit kemudian, mobil Jongin berhenti di depan pintu gerbang sekolah menengah atas. Nayeon pun langsung keluar setelah mengucapkan salam perpisahan yang dibalas Jisoo seadanya.

“Terima kasih, Kak.” Perkataan Nayeon yang sempat terdengar, sebelum Jongin melajukan kendaraannya.

Sejenak kemudian Jongin mencari jari-jari Jisoo untuk ditautkan dengan miliknya. Tak lupa ia mengecup punggung tangan Jisoo. “Jangan terlalu galak. Adikmu gadis yang baik.” Jongin memulai topik yang sedari tadi mengganjal dalam benaknya.

Jisoo kembali memberikan atensinya pada Jongin. “Aku sedang tidak mood untuk bersikap baik.”

“Kenapa?”

Jisoo menghela napas. “Kyungsoo kemarin menemaniku tidur. Dia bercerita banyak hal, salah satunya praduga Kyungsoo mengenai gadis itu.”

Tatapan Jongin menjurus ke jalan yang mereka lalui. Bibir pria itu bergerak tipis. “Hidup kalian terlalu dibuat rumit.” Jongin menarik napas, sebelum melanjutkan. “Dengan berhenti memikirkan hal buruk, membuat hidupmu lebih menyenangkan. Semua orang pasti memiliki sisi gelap, Jisoo. Kalau hanya melihat bagian negatifnya saja, kau akan selalu merasa cemas.” Terang Jongin, ia mengimbuhkan senyum simpul.

Jisoo tertegun. “Semua orang bilang, aku sangat mirip dengan Nayeon.” Ungkap Jisoo, pelan.

Jongin enggan langsung menjawab. Ia tahu, curahan gadis itu tidak berhenti di sana.

“Aku takut.” Lanjut Jisoo.

“Takut?”

Jisoo mengangguk. “Nayeon akan menggantikan aku.”

Jongin sontak menyemburkan tawanya. Menurut, Jongin alasan Jisoo sangatlah konyol. “Jisoo, kau berlebihan.” Balas pria itu.

“Iya, aku tahu. Jangan tertawa!” Jisoo bersuara lantang. Ia cemberut.

Jongin menepikan kendaraan yang mereka tumpangi. Pria itu meredakan ledakkan kekehannya. “Maaf, Jisoo.” Sembari tersedak beberapa kali Jongin akhirnya berhasil mengendalikan tawanya.

“Aku memang kekanakan.” Seloroh Jisoo, setelah beberapa menit keheningan mengisi celah. Pandangan gadis itu membingkai langit yang tersusun artistik. Segera teralih, ketika Jongin berusaha merangkum paras Jisoo dengan jari-jarinya. Membuat atensi Jisoo, terarah pada Jongin.

“Kalian memang mirip, bukan berarti dia dapat menggantikanmu.” Ucap Jongin, kali ini lebih serius. Pria itu membelai surai Jisoo, berusaha membangun keyakinan. “Kau kira aku akan menyukai Nayeon, sebegitu mudahnya? Selama ada kau, Do Jisoo. Tidak ada yang dapat menggantikammu.” Imbuh Jongin.

“Apa ucapanmu kali ini bisa kupegang?” tanya Jisoo ragu.

Jongin mengecup rahang si gadis. “Tentu saja.” Ia kembali menelusuri indra peraba gadisnya, hingga sampai pada ujung bibir Jisoo. Berhenti di sana, pria itu kembali menyampaikan suaranya. “Kau seperti akan pergi jauh, saja?” Kemudian, Jongin pun bertanya.

Jisoo tak lantas menjawab. Ia sibuk meladeni, tautan yang Jongin ciptakan. Banyak hal yang perlu ia pikirkan. Benaknya, mulai menghitung kalkulasi atas sekuens yang menggantung dan akan dirinya lalui.

Apa jadinya jika Jongin mengetahui rencanaku dengan Kyungsoo? Batin Jisoo, keras.

Di sela-sela kecupan itu pun, Jongin membisikkan hatinya kepada Jisoo. “Aku mencintaimu,” Jongin semakin memberatkan laju sekuens yang dirancang gadisnya.

Hari sudah gelap, ketika Jisoo memenuhi permintaan itu. Jisoo tidak langsung pulang ke rumah barunya. Kendati demikian, setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Jongin yang mengantarnya sampai pintu apartemen. Jisoo justru menapaki langkah menuju tempat lain.

Gerai kopi yang terletak di samping gedung apartemennya, menjadi lokasi pertemuan mereka. Jisoo menghela napas panjang. Surainya pun digoyangkan oleh angin, beberapa kali, lantas si gadis memantapkan diri untuk masuk. Jisoo langsung saja disambut oleh pelayan gerai kopi yang mengenakan apron ungu tua. Pria muda itu tersenyum ramah ke arah Jisoo, seperti telah menduga dan terencana bahwa seorang gadis akan bertandang ke gerai kopinya.

“Silahkan, Nona. Tolong, ikuti saya.” Minta pelayan itu dengan sopan, lalu berjalan mendahului Jisoo.

Jisoo mengamati gerai kopi. Tidak luas, namun hangat, mungkin karena cat kuning telur mendominasi. Bangku-bangku kayu sengaja ditata rapi memenuhi ruangan yang sepi. Tidak ada pengunjung yang berada di gerai, selain Jisoo. Si gadis dapat menebak sedari awal, Kyungsoo pasti sudah menggunakan uangnya untuk menyingkirkan orang lain. Sikap angkuh pria itu, Jisoo hafal betul.

Sampailah mereka pada lantai dua dari gerai kopi. Tidak ada atap yang melindungi Jisoo kali ini. Bahkan, gadis itu bisa merangkum langit malam yang pekat melalui netranya. Di bangku kayu paling ujung, terdekat dengan pagar besi, duduklah Kyungsoo. Pemuda itu sedang menyesap isi dari cangkir putih yang digenggam oleh jari-jarinya.

Sang pelayan muda memersilahkan Jisoo untuk menikmati waktunya. Sementara, si pelayan mengenyahkan diri, memberikan ruang bagi mereka.

Langkah Jisoo semakin berat. Dia duduk tepat di hadapan Kyungsoo. Kemudian, serta merta mendapatkan senyum penuh kemenangan dari pria itu.

“Kau datang,” ujar Kyungsoo membuka perbincangan.

Jisoo, menarik beberapa milimeter sudut bibirnya. “Tentu saja, Dio.” Netra mereka bersirobok, saat Jisoo melanjutkan perkataannya. “Pasti ada hal yang sangat penting, hingga membuatmu mengosongkan gerai kopi. Hanya untuk bertemu denganku.”

“Sebenarnya, tidak. Aku kurang nyaman membicarakan ini di lingkungan barumu.” Balas Kyungsoo.

“Lalu, apa yang mengusikmu?” tanya Jisoo pelan.

Kyungsoo melejitkan bahu. “Kau menghabiskan waktu dengan Jongin hari ini.” Simpul pria itu.

Jisoo menunggu. Benaknya enggan berputar untuk mencerna ke arah mana obrolan mereka akan tertuju.

“Apa kau sudah mengatakan kepadanya mengenai―”

“―Pernikahan kita?” Potong Jisoo. Ada jeda sejenak, “Jika itu yang kau maksud. Aku belum mengatakan apa pun.” Lanjut si gadis lirih.

Giliran Kyungsoo yang menghela napas dalam-dalam. “Akan lebih baik, apabila dia mengetahui langsung darimu, Jio. Bukan dari yang lain.”

“Aku mulai berpikir, Kyungsoo. Pernikahan ini, selayaknya tidak perlu dilakukan.” Timpal Jisoo yang langsung membuat rahang lawan bicaranya mengeras.

“Kau akan merugikan dirimu sendiri,” kata Kyungsoo.

Jisoo meraih tangan Kyungsoo, lalu meremasnya lembut. “Kakak, sesuatu yang dimulai dengan kebohongan tidak akan berakhir baik. Pernikahan ini hanya permainan kita.”

Kyungsoo menyeringai. “Bahkan kita tidak saling mencintai.” Sambar pria itu.

“Kekayaan tidak selamanya bisa membeli cinta,” lanjut Jisoo menimpali.

“Baiklah, kita gagalkan saja.” Tak berselang lama, suara jernih pria itu memberikan keputusan yang terkesan main-main.

Jisoo mengerjap beberapa kali, kebingungan. “Serius?”

“Tidak.”

“Sudah kuduga.”

Kyungsoo tertawa renyah. “Kau bahkan tidak tahan tinggal di hunian kumuh itu, padahal kurang dari satu minggu. Apa kau yakin bisa hidup sederhana? Bagaimana dengan sekolah balet impianmu?” Cerca pria itu, melepaskan ikatan tangan mereka.

“Tidak dan Juilliard masih menjadi impianku.” Jisoo mengigit bibir. “Tetapi, aku juga sangat menyukai Jongin.” Lanjut Jio.

Kyungsoo meluruh. Ia tahu dilematis yang sedang dihadapi oleh gadis lugu itu. “Jika, Jongin benar-benar mencintaimu, seharusnya dia bisa menunggu. Dia selayaknya mengerti keputusan yang kau ambil.”

Jisoo hanya mengalirkan pandanganya kepada pria di hadapannya. Entah mengapa, keraguan mulai muncul ke permukaan. Apakah disebabkan oleh pertemuannya dengan Jongin tadi pagi? Atau memang dirinya belum siap menjalani semua ini.

“Aku tidak pernah menarik kesepakatan, Jio. Saat aku mulai memutuskan dan terikat dengan perjanjian, pantang bagiku untuk mengingkari. Begitu juga, rekanku dalam pembuatan ikatan itu. Aku akan memastikannya memenuhi semua yang ia tawarkan, serta menjarah apa pun yang terpenting bagi dirinya. Apabila, ia mengingkari.” Jelas Kyungsoo, intonasinya dalam dan tegas.

Terdengar seperti ancaman di rungu Jio.

-oOo-

a/n:

Semoga cerita ini tidak berhenti di tengah jalan. Mind to review?

Menjadi silent reader di blog ini, sama sekali tidak menguntungkan. Saya bakal lebih disiplin soal permintaan password.

Advertisements

135 thoughts on “[4] Undercover Marriage

  1. ohhh kasian jio,,siapa yg gk dilema kalo begitu ke adaannya?
    disatu sisi dia gk pengen mutusin hubungannya sama cowok yg dia cintai.
    disisi lain dia gak kuat dengan keadaannya yg miskin..
    duhh llahhh.
    izin baca kelanjutannya ya author.

  2. knpa kyungsoo ga nyatain perasaannya aja sihhh
    rumit bgtttt
    jongin sama nayeon ajadeh wkwk
    alurnya suka meledak ,ledak, syukak aku aka>_<

  3. Haduuuu ini kayanya pemikiran unpopular but I’m currently rooting for Jongin! Hu Jong sygggg baik bgt ku suka. Kasian Jisoo naif pikirannya udh diracunin Do Kyungsoo dr kecil hahahaha

    Tapi Jongin sm Nayeon jg gapapa deh. Kayanya Nayeon baik, walaupun agak mencurigakan sih.

    PLISSSSS jangan stop Kak!!!! Semangaaattt<3

  4. emang bener sih kata Jongin… Jisoo ini terlalu overthinking. Yah, tapi si Nayeon juga mencurigakan sedikit… kkk~

    Kyungsoo biasa ya, CEO badass XD istilah jawanya: sak karepe dhewe (semaunya sendiri)…

    Curiga ada bunga” cinta Jongin sama dedek Nayeon… Heum.

  5. ceritanya keren… maaf baru komen sekarang. soalnya niatnya langsung baca dari part 1 sampai 4. ketagihan pengen baca di part selanjutnya dan selanjutnya. you are so genius, you can create it well. 🙂

  6. twelveblossom kamu udh update chapter 6 tp aku bener-bener ga pernah bosen baca ff ini maka nya aku baca ulang lg hehe. Kalau bisa cepet-cepet update chapter selanjut nya yaa

  7. DUUUH merinding baca momen kai-jisoo! Suka bgt sama merekaa, bikin dilema sama kyungsoo kan jadinyaㅠㅜ btw, aku nemu ff ini barusaan bgt dari skff, dan udah nyampe chap5 baru sempet komen hehe. Selebihnya cerita ini baguss dan aku suka watak dari karakter masing2 (esp kyungsoo)!♥

  8. Pingback: [3] Undercover Marriage – Do Kyungsoo Fanfiction Indonesia

  9. sampai disini, aku udah gak bisa komen apa apa lagi, jujur,
    tapi aku suka sama alur cerita’ya, feel ya juga dapet kalo buat aku, udah itu aja 😀

  10. Pingback: [6] Undercover Marriage | Twelveblossom

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s