Datum: Thursday

2

Prev: WednesdayTuesday

“Kau yang mengirimkan surat cinta ini kan, Sehun?”

-oOo-

Tidak biasanya Nara tersenyum selebar dunia dan secerah mentari. Apalagi, langkah kakinya sengaja dipantul-pantulkan, hingga surainya yang digerai pun bergoyang-goyang. Bibirnya biasa mengerucut, kini malah sibuk menyapa setiap murid yang bersimpang jalan dengannya.

“Hai,” seru Nara kepada murid kelas satu yang sedang membaca buku. Itu sapaan sok akrab ke dua puluh yang dilayangkan Nara. Sejumlah itu pula si gadis setengah albino itu, tidak mengenal mereka.

Kehebohan Nara semakin menjadi-jadi ketika ia melewati lorong menuju kelasnya. Sosok pemuda setinggi menara Eiffel sedang beridiri dengan headset tersumpal di rungu.

“Sehun!” Panggil Nara. Merasa panggilannya diabaikan, ia kembali bersuara kali ini lebih keras, “Oh Sehun!” Tepat, dugaan Nara. Volume sengaja ia naikan, perhatian Sehun pun Nara dapatkan.

Kedati demikian, Sehun hanya menatapnya sekilas kemudian kembali fokus pada ponselnya. Nara menghela napas panjang. Serta merta kedua kaki mini Nara melangkah lebar-lebar, menghampiri pemuda berseragam sekolah itu.

“Door!” Celetuk Nara sambil memukul pelan bahu Sehun. Gadis itu berjinjit agar bisa melepas headset dari telinga si pemuda.

“Apalagi Nara? Aku ingin punya kehidupan tenang, barang sebentar saja.” Keluh Sehun, matanya membola. Ia meringkas ponselnya ke saku. Lalu, berkacak pinggang menghadap Nara. “Dan kau selalu menghancurkan keinginanku.” Lanjut Sehun, tanpa basa-basi.

Nara nyengir. “Aku tidak pernah menganggu hidupmu.” Seloroh si gadis yang langsung membuat Sehun memutar bola mata.

Menurut Sehun, Nara itu seperti karnaval keliling. Sebab, setiap Nara berada di dekat Sehun, mereka selalu jadi pusat perhatian. Heboh, sekali. Luar biasa.

“Terserahlah,” timpal Sehun, nadanya dingin. Akan tetapi, segera diralat saat netranya kembali bertemu dengan kilau pupil Nara. Sebagian diri Sehun enggan membiarkan gadis itu kehilangan kegembiraan. Sehun bisa memastikan, jika separuh dirinya sudah mulai gila. “Baiklah, kali ini apa?” tanya Sehun berusaha, mengimbuhkan minat dalam intonasi suaranya.

Nara mengibarkan surat bewarna merah jambu yang sedari tadi dibawanya. “Aku dapat surat cinta.” Ungkap Nara, melengking.

Sehun melipat tangan di depan dada, berusaha galak. “Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Sehun sedatar mungkin, lidahnya agak kelu.

“Tentu saja, ada! Pengirim surat ini mengajakku untuk pergi makan es krim bersama pada hari Kamis minggu depan. Dia memintaku segera menjawab kesedianku, setelah aku membaca surat ini.” Jelas Nara.

Ekspresi Nara yang malu-malu itu membunyikan alarm di benak Sehun. Pikiran gadis itu terlalu curam untuk bisa ditegakkan atau diluruskan. Jadi, Sehun terlampau khawatir dengan mesin persepsi yang ada di kepala si gadis. Pikiran Nara cenderung menginterpretasikan sesuatu di luar batas kewajaran. Sehun cemas lawan bicaranya sedang dipermainkan.

“Lalu?” Singkat, Sehun kembali bertanya.

“Kau yang mengirimkan surat cinta ini kan, Sehun?” Simpul Nara, nadanya bertanya.

Mulut Sehun terbuka beberapa milimeter. Pria itu tertegun. Sejak kapan dirinya berubah menjadi pemuda melankolis? Demi semua kentang goreng kesukaannya. Sehun lebih memilih terjun dari jurang, daripada menulis surat cinta dengan amplop pink! Melihat warnanya yang terang-benderang, membuat Sehun ingin meremas kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. Apalagi, untuk makan es krim bersama. Terlalu picisan. Sehun itu pemuda tangguh! Tidak makan es krim bersama, astaga.

“Tidak, Nara. Kau gila.” Sela Sehun, sebelum Nara kembali membuka bibir. Sehun harus menghentikan tebak-tebakan asal dari teman satu kelasnya itu. “Aku tidak memiliki niat untuk makan es krim. Aku baru saja terserang radang tenggorokan dan demam. Aku enggan sakit kembali dalam waktu dekat.” Ujar Sehun, berusaha mencari alasan selogis mungkin untuk membuat Nara mengerti.

Nara menganggukkan kepala. Ia tahu Sehun sedang salah tingkah. Nara juga biasanya begitu, kalau dekat-dekat dengan orang yang ia suka. Seharusnya, Nara tidak langsung tanya. Sehun jadi malu, kan!

“Lihat, pengirimnya menuliskan inisial di sini.” Ucap Nara sembari menunjuk kertas.

Sehun mundur selangkah, “Pasti bukan aku.” Pemuda itu melambaikan tangan untuk menolak. Sikapnya agak berlebihan, sih.

“Dia menulis ‘S’. Aku pikir Sehun.”

Sehun mengamati baik-baik tulisan tangan yang terpatri di kertas itu. Alisnya bertautan. “Ini bukan tulisanku, Nara.”

“Memang tulisanmu tidak sebagus ini.” Timpal Nara, agak kecewa. Lebih tepatnya kecewa berat. Tadinya Nara enggan peduli pada surat cinta itu. Tetapi melihat inisial yang dituliskan, mengingatkan Nara kepada Sehun. Paling tidak, jika benar Sehun yang menulis, Nara bisa mendapatkan es krim gratis tanpa harus canggung. Nara akan membuang surat itu ke tong sampah, kalau tidak ada huruf ‘S’ di sana. Sungguh. Walaupun, Nara cinta mati dengan es krim, dia tidak suka makan es krim bersama orang asing.

“Lagi pula, Kamis minggu depan, aku ada latihan berenang.” Kata Sehun, pelan―mencari-cari alasan lagi. Ia tidak tahu, sinar-sinar yang tadi mencuat dari Nara mulai meredup sejalan dengan penolakannya.

Gadis itu mendadak gundah gulana. Kamis memang selalu menjadi hari tersialku, ungkap Nara. Sendu.

“Baiklah, maaf sudah mengganggumu.” Bisik Nara, lemah. Senyumnya kandas. Tanpa menunggu balasan. Nara berbalik arah, meninggalkan Sehun yang bernapas lega di belakangnya.

Aku sudah gila. Batin Sehun menghardik ribuan kali, sepanjang perjalanan. Hujan lumayan deras. Bukannya langsung pulang, Sehun malah berlari menuju ke arah lain. Sehun merasa ada makhluk halus yang merasukinya saat dirinya membeli sesuatu yang tak pantas dia beli.

Kenapa dunia begitu tidak adil padaku? Tanya Sehun, pilu. Tadi netranya bersirobok dengan milik gadis cantik, ada kesedihan di raut itu. Lantas membuat naluri belas kasih Sehun terbuka lebar-lebar. Sehun tidak tega.

Kentara sekali, Sehun menghela napas. Berat, awalnya. Lebih berat lagi, apabila Sehun meninggalkan si gadis sendirian.

Sehun bisa memastikan separuh kewarasannya lenyap, ketika ia menyisirkan langkah ke arah kesenduan itu.

Menghibur Jung Nara.

Hujan.

Buliran air berjatuhan dari atap halte. Nara sedang bermuram durja. Ia ingin naik bus untuk melengkapi kesedihan. Seragamnya agak basah, dia berlari menuju halte ketika langit belum terlalu tergugu.

Nara duduk diam. Sendirian. Teman-teman sekolahnya tidak ada yang sudi berhujan-hujan ria, apalagi untuk mununggu bus. Mereka kaya, Nara juga. Bedanya, Nara sedang ingin menghapus kemuramannya, sebab tidak jadi dapat es krim gratis dari Sehun.

Nara tahu dia konyol. Ia bisa saja, beli es krim, lalu memakannya. Tidak perlu mogok seperti ini. Toh, Sehun telah menjelaskan apabila dirinya bukanlah pengirim surat cinta. Sehun pun juga mengaku, dia berlatih renang Kamis minggu depan. Sudah, masalah selesai.

Huft. Hati Nara menolak menyelesaikan.

“Nara, kau tidak berencana menabrakan diri ke bus kan?” Suara itu berkelakar agak keras agar dapat mengalahkan rintik hujan.

Nara mendongak. Sehun ada di sana, berdiri di hadapan Nara. Sehun berlindung di bawah payung biru muda.

“Tidak, aku tidak suka ditabrak apa pun. Soalnya sakit.” Jelas Nara setelah jeda beberapa detik.

Sehun tertawa riang, lega. Ternyata, gadis itu masih sehat.

Sehun mengatupkan payung, lalu duduk di samping Nara. Ia mengangsurkan kantong plastik hitam ke arah sang gadis. “Untukmu,” ujar Sehun.

Nara menerimanya. Dia bingung, tapi lebih memilih diam. Perlahan Nara menengok isinya. Gadis itu lantas tersenyum lebar. “Es krim!” Seru Nara.

Sehun membuang muka. Nara yang seperti itu―terlihat lugu dan menggemaskan―selalu membuat darah Sehun berdesir. Aku sedang tidak sehat, gumam dalam hati Sehun. Pikiran Sehun sedang menerjemahkan arti desiran itu. Ada banyak kemungkinan, salah satunya gejala jantung koroner. Kelihatannya, aku harus lebih sering olahraga, kali ini Sehun menyimpulkan. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehun tidak mengindahkan ocehan Nara yang tersulut kegembiraan. Hingga, satu celetukkan terjungkit dari bibir si gadis.

“Aku tahu kau yang mengirimkan surat cinta itu. Mengaku saja, jangan malu-malu.” Goda Nara, kali ini sembari menarik-narik ujung lengan Sehun.

Pemuda itu menolehkan kepala, hendak membalas kebisingan si gadis. Akan tetapi, vokalnya tertelan kembali karena harus berhadapan dengan paras Nara yang terlalu dekat.

Sehun bisa melihat mata Nara yang hitam legam, dilindungi bulu mata lentik.

Sehun bisa melihat lebih jelas, kombinasi sempurna yang tersusun sebagai keindahan dalam raut Nara. Jelas dan lebih membuatnya berdebar.

Sekaligus, warna lain yang menghias di sana.

Sehun memang benci merah jambu.

Dia tidak pernah menemukan merah muda semenarik itu…

Tentu saja. Selain, semburat lucu yang membentang tipis di pipi Nara.

Dilihat sedekat ini, jadi lebih menawan.

“Mengakulah Sehun, ayo mengaku!” Nara tetap saja berisik. Tidak sadar lawan bicaranya sedang terpesona.

Ah, gadis ini.

“Sehun, aku tadinya takut sekali kalau-kalau bukan kau yang memberiku surat cinta. Siapa tahu ada maniak yang―“

Sehun memotong omelan Nara.

Kecupan Sehun memangkas vokal Nara.

Kau sudah gila Sehun.

Kau tidak waras.

Kau…

Nara mengerjapkan mata. Jarinya terlurur ke pipi, tempat bibir Sehun tadi mendarat.

Nara membeku ditempat.

Sehun panik setengah mati.

Kabur Sehun. Kabur! Instingnya mengambil alih. Pemuda itu memasang kuda-kuda. Cekatan, gesit, dan sedikit pengecut. Sehun lari tunggang-langgang, menembus hujan. Meninggalkan Nara yang meledak-ledak, sendirian.

Sialan, kenapa dia punya warna pink yang begitu memikat?! Batin Sehun mengumpat, sembari meyakinkan diri bahwa besok, dirinya pasti terserang demam lagi.

-oOo-

a/n: Semoga terhibur~ 

Advertisements

120 thoughts on “Datum: Thursday

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s