C.P.M

young-couple-1031642_640

“Communication privacy management (CPM) is a theory about how people make decisions about revealing and concealing private information.”

“Ketika individu terlibat dalam sebuah hubungan, ia akan terus mengatur batasan-batasan atas informasi pribadi. Sesuatu yang publik dan privat.” Nara membaca dua potong kalimat yang diketik rapi dalam sebuah jurnal. Ia mengetukan pensilnya ke meja makan. Kemudian, atensinya beralih kepada pria yang mengamatinya sedari tadi. “Itu disebut manajemen privasi komunikasi, Babe.”

Sehun melejitkan bahu. Ia menjungkitkan sudut bibir dan tangannya terlipat elegan. “Sebuah dialektika.” Timpalnya, sorotnya jenaka.

“Benar, sebuah dialektika. Keterbukaan tidak selalu berdampak postif, begitu juga sebaliknya.”

“Misalnya, Honey?” tanya Sehun lebih pelan.

Nara enggan langsung merespons. Benaknya sedang memutar, memilah fenomena strategis yang dekat dengan mereka. “Perselingkuhan,” Jawab wanita itu, belasan detik kemudian. “Saat aku mengaku berselingkuh darimu. Kadang itu berarti baik atau buruk, begitu?” Lanjut Nara, meragu.

“Bisa jadi, kurang spesifik, Sayang.”

Nara tersenyum simpul, “Tergantung seberapa besar aku memasukan dirimu ke dalam batasan kolektif.”

“Detailnya?” Sehun menghela napas, ia mengoreksi pertanyaannya. “Apa yang menjadi pedoman seseorang, ketika memutuskan aturan privasinya, Sweetheart?”

“Culture.”

Sehun menimpali, “Amerika lebih terbuka daripada Asia. Dasar, rasis.”

“Aku harap bisa menukar tambah dirimu dengan―“

“―Gender.” Sehun memotong kelakar yang dikoarkan wanitanya. Ia mengerling saat tahu celetukannya benar. “Hanya menebak,” jelas Sehun.

“Seorang wanita lebih terbuka, daripada pria. Tidak sengaja membaca itu dalam tulisan Griffin.” Ungkap Nara, santai.

A First Look at Communication Theory.” Sehun menyebutkan judul buku yang menjadi landasan ucapan Nara.

“Tepat,” Vokal Nara enggan menyembunyikan kekagumannya. “Lalu?” Nara meminta Sehun melanjutkan.

Motivation.” Sehun berujar, jari-jarinya meremas lembut milik Nara. “Seperti motivasiku, mengatakan aku berselingkuh karena sudah bosan denganmu. Hanya contoh.” Ia melanjutkan.

“Lebih tepatnya, minta ditonjok. Dasar pria.” Nara berkelakar, disambut tawa Sehun yang memenuhi ruang makan.

“Kemudian?”

Context.” Urai Nara. Ia mengingat-ingat, “Terdapat dua bagian.”

Well, lingkungan fisik dan ruang fisik. Masuk akal. Manusia terlalu tak stabil. Kadang begini, kadang begitu.” Sela Sehun.

Risk or benefit.” Nara menimpali, suaranya parau.

“Resikonya, ditendang dari apartemen. Keuntungannya―“ Penjelasan Sehun tak terselesaikan.

Nara berkacak pinggang, “Sudah jelas keuntungannya, dapat tubuh baru untuk bercinta.”

Sehun tertawa, lagi. “Yeah, dalam konteks perselingkuhan, itu memang tujuan utamanya. Kau tahu benar, Darling.”

Of course!” Nara mendekat ke arah Sehun, menarik kerah kemeja pria itu. Ia mencari kelembaban di sana. Di tengah balutan bibir mereka yang menyatu, Nara berbisik sensual. “Kau juga tahu benar, kita kan sering melakukannya.”

a/n: Sebatas curhatan soal skripsi, yaampun.

Advertisements