Maximillian: The Alarice and Acantha

IMG_20160308_062859

Prev: PrologThe HalfThe NobleThe Abigail Crandall

“I wandered here to your outreached hand, found you to protect you, be your savior.” Lightsaber, EXO

Kohesivitas mereka tidak perlu diragukan lagi. Abigail senantiasa berkolerasi dengan kesukarelaan yang berlebih kepada Kai. Gadis itu pun, sebenarnya menanamkan seluruh kepercayaannya. Akan tetapi, kenyataan pahit, bahwa mereka sudah tiga hari dua malam berputar di tempat yang sama, mulai meragukannya.

Kai pun begitu, ditilik dari perangainya yang tersendat-sendat, memperlihatkan apabila pria itu sedang berpikir keras. Demikianlah yang berkutat di benak Kai. Dirinya tahu benar, jika mereka tersesat. Sebenarnya, Kai mengetahui jalan keluar. Namun, ada kebimbangan di dalam hati. Vampir itu menunggu saat yang tepat untuk melayangkan mantra pamungkasnya.

Kai telah menyuarakan apa yang ia tunggu kepada Abigail. Lantas membuat Abigail mulai kesal.

“Jadi, Kai. Kita sudah tersesat selama ini dan kau tak kunjung menyimpulkan bahwa kita perlu mantra itu. Aku jadi ragu. Apakah mantra hebat yang kau ujarkan, benar-benar ada atau hanya sekedar bualan?” tanya Abigail, setelah memendam berbagai emosi. Gadis itu sengaja menarik tangan Kai, agar si pria berkenan menghentikan langkah sejenak.

Pekat telah melingkupi langit, sedangkan mereka tak tahu ke mana arah yang tepat. Gaun putih selutut yang dikenakan Abgial, semakin kusut. Jubah yang membalut Kai juga demikian.

“Kita sedang berada di ilusi yang dibuat oleh kawanku.” Timpal Kai, santai. Pria itu berbalik untuk sekedar menyamakan tatapannya dengan netra biru si gadis. Kai mencari kehangatan dan ketentraman di sana. “Kau takut,” simpul Kai, setelah menyelam ke dalam pupil Abigail.

Abigail mengangguk dengan gamang. “Sedikit,” balasnya. Ia membelai paras rupawan kekasih hatinya. “Katakanlah pada sahabatmu itu, agar tidak mempermainkan kita.” Lanjut Abigail, nadanya merayu. Menambahkan manisnya gula dalam permohonannya, Abigail mengecup punggung tangan Kai.

“Baiklah,” bisik Kai, menjungkitkan ujung bibir.

Kai menghela napas. Insting kembali ia izinkan untuk mengambil alih. Jiwanya butuh ketenangan. Bibirnya bergerak beberapa kali, membisikkan sebuah mantra yang ia ingat di luar kepala.

Sebuah kalimat yang diberikan oleh penguasa tubuhnya, ketika kunjungan terakhir ke Maximillian. Bulu kuduknya meremang, saat ingatan akan kecantikan pemilik jiwanya terlintas di benak. Aku merindukannya. Suara saling sahut-menyahut, mengoarkan kedalaman hati. Sebagian diri Kai mendengus, menyadari bahwa perasaan yang bergelora itu hanya satu arah.

“Koíta ti tha prépei na exetásoume, anoíxte to ti tha prépei na eínai anoichtí̱.” Ucap Kai, lantang. Pedihnya cinta sejalur yang bertahun-tahun ia rasakan, meluapkan segala emosi. Ariana. Keras juga benaknya, meneriakkan satu nama yang segera merobek hutan.

Guncangan terjadi. Tak ada yang bisa lolos dari getaran dahsyat yang membelah hutan. Pohon pinus yang berdiri teguh mulai tumbang. Rumput-rumput menyusup takut ke dalam tanah.

Ariana. Ariana. Ariana!

Kai sibuk merapikan emosinya, ketika Abigail meraung ketakutan.

“Kai, apa yang terjadi?” tanya gadis itu panik. Ia meraih lengan Kai untuk menyadarkan pria itu.

Tatapan kosong Kai segera terisi. Kai merasakan suasana mencekam yang sedang menggelayuti Abigail. Setengah hati, Kai menyelimuti Abigail dengan perisai tipis untuk menenangkan.

Sekian detik mereka bertahan dan terombang-ambing dalam gemuruh lenyapnya hutan pinus. Pada sekon ke seratus, hutan pinus itu secara mistis bertransformasi menjadi gurun pasir kecoklatan. Keluasan yang gersang. Segera membuat siapa saja yang memandang merasa hampa.

“Tempat ini mengerikan.” Abigail berkicau.

Kai enggan menanggapi, ia segera meraih jari-jari si gadis. Langkah mereka terajut bersama, berpasangan. Serasi dan pasti.

Kai tahu benar, teka-teki yang hendak mereka hadapi. Berlainan dengan Abigail yang berulang kali mengutarakan, apabila mereka sedang tak mujur. Bukannya, medapatkan terang akan alur tujuan. Justru kegersangan membentang sepanjang jalan.

“Jangan takut, Abigail. Ini hanya ilusi.” Hibur Kai. Ia menyadari gadisnya mulai mengigil. Nyali Abigail menciut, Kai berusaha melambungkannya kembali.

Abigail mengigit bibir. Dalam hati berceloteh, mendaftar segala permohonan yang ia panjatkan. Abigail tidak ingin bertemu makhluk buas layaknya Manticore yang bermaksud membunuh mereka beberapa hari lalu. Raganya belum siap. Pikirannya pun juga.

“Betapa hebat ilusi ini, bisa menirukan dengan begitu serupa kegersangan dan perasaanku semakin takut. Siapa makhluk yang memiliki kekuatan ini, Kai?” Abigail bertanya, gusar.

Kai menjawab tanpa menghentikan langkahnya. “Alarice dan Acantha, Sayang.” Pria itu sengaja menyugar jarak dari satu kalimat ke kalimat yang lain. “Alarice Sherwood adalah penguasa hutan dan Acantha Shirley, saudaranya. Acantha, penguasa gurun.” Lanjut Kai.

Abigail berusaha mencerna buliran fakta yang baru diterimanya. “Lalu, bagaimana cara kita terbebas dari penderitaan ini, Kai?”

Kai tersenyum, ia sengaja mengeratkan kaitan tangannya pada jari Abigail. “Seperti cara kita melewati wilayah Alarice Sherwood.” Ungkap pria itu.

Abigail menghentikan pijakannya. Tubuhnya terasa layu. Ia lemas, saat kembali menggelontorkan opininya. “Apa kita harus menghadapi Manticore lagi?”

“Bukan kita, namun aku. Beberapa kali diriku bertemu si gadis gurun, ia lebih menyukai ular daripada monster. Acantha lebih lembut daripada Alarice. Gadis itu suka membunuh lawannya dengan perlahan, melalui racun.”

“Gadis yang bengis.” Argumen Abigail, menggema di sepanjang gurun. Entah bagaimana, ucapan penuh kepedihan Abigail, merangsang guntur dalam langit gelap.

Kilat menyambar, bagai lampu yang sengaja dititahkan untuk menerangi mereka. Agar Abigail dan Kai bisa mengamati secara gamblang, sesuatu yang berkedut sedang bergerak.

Ular berkepala tiga dengan tubuh bewarna oranya dan bergaris hitam mendekat ke arah mereka. Keganasan terpampang jelas dalam panjang sang ular yang mencapai 3,5 meter dan memiliki tinggi satu meter. Ular itu melaju gesit menuju ke arah Abigail dan Kai.

“Kai, kita seharusnya lari.” Bujuk Abigail, menyadari dirinya dan Kai yang hanya bergeming di tempat, menjemput maut. “Kau tidak harus melawannya. Aku takut kau terluka lagi, Kai.” Lanjut si gadis.

Kai tertawa. “Kita memang tidak harus melawannya. Runespoor tidaklah berbahaya. Justru, apabila kita lari tunggang langgang menghadapi Runespoor akan mengundang Occamy untuk mengambil alih. Aku lebih suka mengobrol dengan Runespoor daripada Occamy, Sayang.” Jelas Kai yang tak lantas menurunkan kadar kerisauan Abigail.

“Aku tidak suka keduanya. Walaupun, diriku belum pernah bertemu Occamy dan tidak berharap untuk dipertemukan.” Timpal Abigail, pegangannya pada lengan Kai semakin mengerat. Abigail berdiri di belakang punggung Kai. Ia benar-benar ketakutan.

Runespoor berhenti bergerak, saat jaraknya hanya terpaut beberapa meter dari Kai dan Abigail. Ketiga kepalanya menunduk memberi penghormatan yang khidmat kepada Kai.

“Tuanku,” desis ketiga kepala.

“Kalian mengenaliku,” respons Kai.

“Kami bukanlah makhluk tak tahu akal budi layaknya Manticore. Kami telah berwawasan dan mengetahui hanya Noble dan Ward yang bisa memecahkan siasat licik dari penguasa gurun, Tuan.” Jelas Runespoor.

“Di mana Achanta?” tanya Kai.

Kepala Runespoor bergerak ke arah selatan. “Maximillian mengundang Achanta Shirley ke Maddrock’s Mansion bersama Alarice Sherwood.”

Kai menghela napas kasar, “Jadi, aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di sana.” Pria itu menyeringai.

Seakan tahu betul maksud Kai, Runespoor menyela kekecewaan yang dibuat-buat oleh vampir itu. “Tenanglah, Tuan. Manticore bukan penjaga kesayangan Alarice.” Si ular berkepela tiga menggantikan atensi kepada gadis yang berada di balik Kai. “Anda, sudah semestinya khawatir akan keselamatan gadis setengah vampir ini. Saya meloloskannya sebab ia bersama Anda. Namun, apa pun yang berada di Maddrock tidak akan pernah menyukai, saat Anda membawa gadis lain ke sana.” Imbuh ular itu.

“Aku tahu, terima kasih. Sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan. Setelah ini, apa yang harus kami lewati? Labirin Ariadne, bukan?” tanya Kai, lebih serius. Ia merasakan tubuh Abigail menegang, nampaknya si gadis enggan berlama-lama berhadapan dengan ular cerdas itu.

“Benar, Tuan. Seharusnya demikian adanya. Akan tetapi, seperti yang telah kita ketahui bahwa bangsawan tertinggi Maximillian, Ariadne Maddrock sedang berduka. Maximillian mengeluarkan perintahnya bahwa tak ada yang diizinkan untuk mengusik adik tersayangnya, Tuan. Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan mengikuti api abadi, langsung menuju Maddrock’s Mansion. Kneazle akan membimbing Anda. Anda tahu benar bagaimana memanggil makhluk mulia itu sebab Anda kekasih dari pemiliknya.” Uraian penjelasan itu mengakhiri ucapan Runespoor. Ular berkepala tiga itu memberi penghormatan, lalu memudarkan diri menjadi kisi yang lenyap teterpa angin.

Petir yang menyambar enyah juga. Meninggalkan Kai dan Abigail. Kai masih terpukau dengan kesenyapan, seakan itu abadi. Segala hal mengenai Alarice dan Acantha menghantarkan Kai pada ingatan lain mengenai sang penguasa. Ketika Maximillian menunjukan untuk pertama kali, wujudnya yang lain.

“Kai,” bisik Abgial, kembali menarik si pria yang sedang hanyut dalam kenangan.

Kai merangkum paras rupawan Abigail. “Aku tahu kau memiliki banyak pertanya, tolong simpan saja. Kita harus keluar dari kawasan Acantha sesegera mungkin, sebelum Occamy terbangun dari tidurnya.” Ujar Kai, sembari berharap kekuatan teleportasinya dapat berfungsi untuk vampir lain. Tetapi, nyatanya tidak. Ia tak akan bisa membawa Abigail dalam perjalanan semu itu. Hanya mampu melenyapkan saja, tanpa menghadirkan kembali.

Cum deo bene faciendo bene faciet,” suara rendah Kai merapalkan. Kata terakhir mantra itu menyambarkan api yang berkobar di hadapan mereka. Api yang menjilat-jilat pasir secara ganjil. Api membara bewarna biru muda.

“Kemarilah, Abigail,” ajak Kai kepada gadis yang tengah tertegun. Kai menarik lembut tubuh Abigail.

Gadis itu berusaha melawan. “Kai itu api!” Pekik Abigail saat Kai melangkahkan kaki ke dalam kobaran.

“Ini Halcynonapi abadi, Abigail. Halcynon bertugas sebagai penyembuh, bukan pemusnah.” Bujuk Kai, vokalnya memersuasi. “Aku berjanji, dirimu tidak akan terluka.” Lanjut Kai yang langsung mendapatkan anggukan dari si gadis.

Abigail menerima uluran jari-jari Kai. Serta merta tubunya dibelit api biru itu. Layaknya terhisap penuh. Bahkan Abigail, tidak mampu merasakan raganya yang hancur menjadi butiran abu. Begitu pun Kai, Abigail tidak lagi merasakan eksistensinya.

Mereka lenyap. Terbakar api.

-oOo-

Kolom komentar klik di Track List.

Advertisements