[5] Undercover Marriage

undiscover-mrriage-2

Poster by Miss of Beat R @ D’Angel Falls

Prev: [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4]

“Please, just one minute, stay for minute.”

-oOo-

Pendirian Jisoo sering goyah. Dalam hidupnya, ketika ia terjebak dalam beberapa pilihan. Jisoo tak pernah bersusah payah untuk memikirkan keputusan yang tepat, sebab Kyungsoo selalu melangkah terlebih dahulu dan memberikannya jalan yang terbaik. Jisoo juga tidak perlu khawatir tersakiti atau pun menyesal dengan jalur yang akan ia lalui karena Jongin berada di belakangnya untuk melindungi. Namun, kali ini berbeda. Dua pria terbaik dalam hidupnya, justru menjadi penyebab akan kepenatan gadis itu.

Benak Jisoo belum pernah seletih ini. Ia sangat enggan berada di keadaan runyam. Bahkan tempat untuk berkeluh kesah pun Jisoo tidak punya. Hidupnya terasa berat.

Helaan napas panjang terdengar kembali. Jisoo hanya mampu tertegun ratusan sekon sembari menunggu. Gadis itu berada di ruang kerja Kyungsoo, sementara sang pemilik ruangan sedang berbincang melalui telepon dengan orang yang menjadi penanggung jawab publikasi pernikahan mereka. Andai saja, ia dan Kyungsoo dari kalangan biasa, mungkin berita seputar tanggal pernikahan tidak akan seberapa menarik. Kenyataannya, tidak demikian. Semua hal mengenai pewaris keluarga Do layak menjadi isu publik.

Kegelisahan gadis itu semakin bertambah, saat seorang pria setengah baya memasuki ruangan. Jisoo terhenyak dari lamunannya. Ayah dari Kim Jongin duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Pria itu tersenyum sendu.

“Selamat untukmu. Saya rasa caramu untuk kembali ke dalam keluarga ini sangat brilian. Walaupun, bisa melukai banyak pihak. Saya rasa Jongin tidak akan senang mendengar kabar ini.” Ucap pria yang menjabat sebagai direktur di perusahaan Keluarga Do, sekaligus sebagai paman jauh Jisoo dan Kyungsoo.

Jisoo mengigit bibir, ungkapan pamannya jelas menambah kebimbangan si gadis. Jongin belum tahu mengenai rencana pernikahannya dengan Kyungsoo. Kim Jongin―pria malang itu, bahkan sekarang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan. Jisoo yakin kepergian Jongin sengaja diatur oleh Kyungsoo, agar kekasih Jisoo itu tidak mengacaukan segala hal. Apalagi, Kyungsoo sangat yakin bahwa pendirian Jisoo sangat mudah digoyahkan dengan kehadiran Kim Jongin.

Jisoo hendak menjawab, namun sentuhan ringan di bahu membuatnya kembali bisu. Kyungsoo sepertinya bergerak cepat, ia segera memotong obrolan searah yang jelas didominasi oleh pamannya. Kyungsoo yang mengenakan jas dipadukan dengan kemeja putih, celana kain, dan dasi hitam itu terlihat rupawan, sudah sewajarnya.

“Direktur Kim, ada keperluan apa?” tanya Kyungsoo, nadanya dingin.

Mr. Kim beranjak dari duduknya, ia tersenyum sekilas. Lalu, mengulurkan tangan hendak menjabat. “Saya ingin mengucapkan selamat,” katanya singkat.

Kyungsoo lantas menyabut. “Terima kasih,” balasnya. Netra Kyungsoo menatap Jisoo, kemudian kembali memberikan atensi kepada Direktur Kim. “Saya ingin berbincang sebentar dengan Jisoo. Tolong, Anda meninggalkan ruangan saya.” Lanjut Kyungsoo.

Direktur Kim segera mengangguk, ia melangkah pergi.

“Kau sedang cemas.” Kyungsoo mengoarkan pernyataan. Jelas, tak perlu ada sanggahan dari Jisoo sebab terpatri jelas dalam raut gadis itu.

Jisoo melemparkan pandangan kepada lawan bicaranya. “Aku takut,” gadis itu mengambil jeda. “Bagaimana pendapat Jongin mengenai ini?” tanya Jisoo.

“Jongin lebih bijaksana daripada diriku, apalagi dirimu. Dia tentu bisa memutuskan sikap yang tepat untuk menanggapi ini.” Jawab Kyungsoo, ia menenangkan.

“Kalian berdua sangat penting dalam hidupku.” Timpal Jisoo, matanya menerawang.

“Aku tahu.”

Jisoo menggapai jari-jari Kyungsoo, “Saat ini, aku lebih memilihmu karena lebih dulu mengenalmu, Dio. Kau mengetahui dengan pasti hal yang kubutuhkan. Aku percaya kepadamu. Bersama Jongin, tidak akan memberiku segalanya dan aku tak sanggup hidup tanpa apa pun.” Gadis itu mengedikan bahu. “Lagi pula kita hanya menikah.” Lanjut Jisoo, ia tersenyum berusaha menenangkan diri sendiri.

Kyungsoo mengeratkan tautan mereka. “Hanya sementara. Setelah itu, aku akan melepaskanmu.” Kilah pria itu menutup percakapan mereka.

Semuanya berjalan lancar, sesuai dengan yang Kyungsoo rencanakan. Pengumuman pernikahan Kyungsoo dan Jisoo, mengguncangkan dewan direksi perusahaan. Jisoo akan kembali menyandang nama Keluarga Do, membuat musuh-musuh yang siap menggulingkan Do Kyungsoo harus gigit jari lagi.

Jisoo bisa bernapas lega selama dua hari, setelahnya kepanikan kembali melanda. Jongin pulang. Jisoo pun harus menghadapi kemurkaan yang membara darinya, tergambar jelas di paras pria itu.

Jisoo masih berada di klub tarinya saat Jongin menemuinya. Wajah si pria nampak lelah. Kondisi Jongin tidak terlalu baik.

“Jisoo, kita perlu bicara.” Jelas Jongin, tanpa salam hangat yang biasa ia tuturkan.

Ruangan berbalut cermin itu, hanya dinaungi oleh Jisoo dan Nara sebelum kedatangan Jongin. Nara tahu diri, gadis itu langsung pergi ketika tubuh jangkung Jongin memasuki ruang latihan.

Jisoo mengusap keringat. Ia meminum air mineral, demi mengusir kecanggungan. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan.” Ujar Jisoo. Gadis itu berusaha mengatur napasnya yang memburu selepas berlatih.

Jongin menarik lengan Jisoo, saat si gadis hendak berpaling pergi. “Kau akan menikah.” Sambar Jongin yang masih mengenakan setelan kerjanya yang kusut, sepertinya sedari kantor, Jongin bergegas menemui Jisoo.

“Iya,” singkat si gadis menanggapi. Paras Jisoo berusaha menyugar senyum. “Aku menunggu ucapan selamat darimu.” Imbuhnya.

“Tapi, kau mencintaiku, Do Jisoo. Dia kakakmu.”

Jisoo menghempaskan tangan Jongin. “Perasaan seseorang dapat berubah, Kim Jongin. Dulu dia kakakku, maka dari itu aku harus membantunya.” Ucap Jisoo lantang.

Emosi Jongin mulai tersulut. “Berubah,” Vokal pria itu sinis. Ia tertawa penuh ejekkan. “Jangan lakukan itu, Jisoo. Kau bukan gadis serakah.”

“Apa yang tidak perlu kulakukan? Apa aku harus membiarkan ayahmu mengambil semua hak milikku dan Kyungsoo? Aku tidak bisa cuma berdiam diri.” Jisoo mengumpulkan napas, lalu kembali berujar. “Bukan aku yang serakah, Kim Jongin. Ayahmu, keluargamu, dan kau. Kalian selalu menjadi benalu keluarga Do. Kau adalah alat yang digunakan ayahmu untuk menjeratku.” Jisoo memaparkan seluruh kegundahannya.

Paras Jongin mengernyit, ia terluka. Ucapan gadis itu menyinggung dirinya. Jisoo seharusnya tahu, bahwa Jongin tidak memiliki maksud terselubung terhadap hubungan mereka. Pria itu tulus. Meskipun, Jongin tidak dapat memungkiri niat buruk ayahnya kepada Kyungsoo dan Jisoo.

“Kyungsoo yang memanfaatkanmu,” ucap Jongin, intonasinya datar.

Jisoo menyunggingkan sudut bibir. “Aku juga meraih keuntungan dari Kyungsoo.” Gadis itu mendekat ke arah Jongin, “Terkadang, cinta bukanlah segalanya, Kim Jongin. Jangan terlalu naif.” Bisik Jisoo, kemudian melangkah keluar dari ruang latihan, tanpa berani menatap pria itu.

“Kau tidak perlu terlalu keras kepadanya, Jisoo.” Kata Nara yang mengangsurkan Cola ke arah Jisoo. Nara memilih duduk di samping Jisoo. Mereka sedang berada di tangga darurat gedung klub tari. Tempat sunyi yang paling sesuai untuk merenung.

Bahu Jisoo mulai naik dan turun. Perlahan gadis itu tergugu. Airmatanya meluncur beberapa bulir, sebelum ia menanggapi ucapanya Nara atau pun menerima minuman kaleng dari kawannya.

“Aku ingin Jongin membenciku. Itu jauh lebih baik.” Balas Jisoo, sembari mengusap peluh yang turun.

“Kau benar-benar menyukainya?” Pernyataan Nara serupa pertanyaan. Nara menepuk punggung Jisoo, berusaha menenangkan gadis itu. “Rasa suka akan membuatmu nekat dan melakukan hal di luar kewajaran. Di sini yang membuatmu melakukan keduanya adalah Kyungsoo, bukan Jongin.” Nara meracau.

Jisoo mulai tersenyum dalam tangis. “Jadi, apa menurutmu aku menyukai Kyungsoo?” tanya gadis itu sembarangan.

Nara ikut menyimpulkan lengkungan bibir. “Benar.”

“Dia kakakku.”

Nara mengangguk, “Ya. Tapi, kau sudah tahu sejak lama bahwa Kyungsoo bukan kakak kandungmu. Well, bisa jadi sebagian dirimu sudah menganggapnya sebagai pria bukan kakak lagi.” Jelas Nara.

“Sebagian dari diriku juga menyukai Jongin.” Gumam Jisoo, kesedihan kembali menjalar dalam hatinya.

“Jongin selalu ada untukmu dan dia tidak memiliki peran sebagai kakak bagimu. Sudah sewajarnya kau jatuh cinta kepadanya. Hal sama yang kau rasakan pada Kyungsoo, bedanya kau tidak pernah memiliki kesempatan secara gamblang untuk menyuratkan perasaanmu kepada Kyungsoo.” Nara kembali menimpali kebimbangan Jisoo.

“Menurutmu, siapa yang paling kucintai di antara keduanya?” Jisoo kembali bertanya.

“Sudah jelas sekali. Jawabannya ada pada dirimu. Tanyakan kepada benakmu, Do Jisoo. Siapa yang paling kau rindukan? Siapa yang membuatmu benar-benar kehilangan jika kau berjauhan dengannya?” Nara menarik napas, tatapan yang tajam sengaja ia tujukan kepada lawan bicaranya. “Dengar, adik kecil. Suatu pilihan yang kau ambil akan baik atau buruk, tergantung dengan bagaimana dirimu menerima kosekuensi dari pilihan itu. Berusahalah untuk bahagia dan berhenti memikirkan apa yang sudah kau lepaskan, sebab itu tidak akan jadi milikmu lagi. Mengerti?” Imbuh Jung Nara.

Jisoo mengangguk, ia tak mampu menimpali dengan ucapan. Kendati demikian, seluruh argumen Nara, berputar dalam kepala Jisoo. Seluruh benak Jisoo bekerja sama agar bisa membuat strategi untuk kebahagiannya.
Nara berdiri dari duduknya. Ia menepuk bahu Jisoo penuh kasih, sebelum undur diri. “Aku ada kencan dengan Oh Sehun. Sampai jumpa. Jangan menangis lagi. Aku sudah menelepon Kyungsoo. Aku tahu, kondisi kejiwaanmu akan segera membaik bila ada kakak kesayanganmu itu.”

Nara berlari keluar dari tangga darurat, meninggalkan Jisoo yang berusaha meredam gejolak dalam dadanya.

Sepuluh menit berlalu, saat langkah kaki seseoramg kembali terdengar menelusuri tangga darurat. Ketukan berhenti tepat di samping Jisoo. Gadis itu merasakan jaket biru tua disampirkan ke bahunya. Aroma yang tak asing segera terkuar dari jaket yang membalut Jisoo. Menghangatkan si gadis yang masih mengenakan busana latihan.
“Di sini dingin.” Ucap Kyungsoo, lembut. Lantas merenggut perhatian sang gadis.

Jisoo mendongakkan kepala. Ia berusaha tersenyum. “Iya, dingin.” Netra Jisoo menelusuri sosok pria yang berdiri di sebelahnya.

“Lalu, kenapa kau masih di sini, Jio?” Kyungsoo bertanya sembari mengulurkan tangan untuk membantu si gadis berdiri.

Jisoo beranjak dari tempat melamun favoritnya. “Menunggu Dio.” Ia tersenyum.

Kyungsoo mengusap pipi Jisoo. Dio menyadari bekas aliran peluh pada paras sang gadis bersurai coklat madu itu. “Kau menangis.” Jari-jari Kyungsoo berhenti di sudut bibir Jisoo. “Aku tidak suka melihatmu menangis.” Imbuhnya.

“Jongin datang kemari dan―“.

“―Nara sudah cerita . Makanya, aku ke sini untuk menghiburmu.” Potong Kyungsoo.

“Eum, aku penasaran bagaimana caramu menghimburku Dio?”

Kyungsoo mengetuk dagu, seolah memikirkan sesuatu yang sangat penting. Perlu beberapa sekon baginya untuk kembali membuka mulut. “Sebelum aku mengatakan rencanaku, lebih baik kau berganti pakaian. Jujur saja, Jio. Kau bau.” Kelakar pria itu yang langsung mendapatkan respons cemberut dari Jisoo.

“Baiklah, aku memang bau. Aku berganti pakaian dulu.” Jisoo menarik tangan Kyungsoo agar bersedia mengikutinya. Sembari merajut langkah menuju ruang ganti, Jisoo mengamati Kyungsoo. “Tidak biasanya di siang hari kau sudah mengenakan pakaian santai. Di mana jas dan dasimu, Tuan Gila Kerja?” Sindir Jisoo.

Kyungsoo mengacak surai si gadis yang dikuncir kuda. “Ini semua untukmu. Sudah cepat masuk sana.” Balas Kyungsoo sambil mendorong Jisoo untuk masuk ke dalam ruang ganti, sementara pria itu menunggu di luar.

Kyungsoo selalu memiliki cara yang menarik agar bisa merebut seluruh pujian dari Jisoo. Hal itu dikarenakan mereka yang bersama semenjak balita. Jadi, Kyungsoo tahu apa saja yang disukai dan dibenci Jio. Salah satu dari banyak hal yang merebut atensi si gadis adalah kucing bewarna coklat dan sangat gendut miliknya.

Jisoo langsung memekik kegirangan saat masuk ke dalam mobil Kyungsoo dan mendapati kucing kesayangannya ada di tempat duduk belakang. Kucing jantan itu sengaja dimasukkan Kyungsoo ke dalam keranjang merah jambu, tempat yang biasa Jisoo gunakan untuk membawa si kucing berjalan-jalan.

“Kio! Aku merindukanmu, Sayang.” Sapa Jio. Kio segera mengeong manja, mengenali pemiliknya. “Apa boleh aku menggendongnya?” tanya Jisoo penuh harap kepada Kyungsoo.

Kyungsoo tertawa, ia menggeleng. “Tidak, pasang sabuk pengamanmu, Jio. Kita ajak Kio jalan-jalan ke taman, baru kau boleh bermain dengannya.” Ujar Kyungsoo yang langsung dituruti oleh gadis itu.

Dalam perjalanan, Jisoo terus saja mengungkapkan kerinduannya pada Kio. Gadis itu juga berkicau soal hari-harinya yang muram bersama keluarga barunya kepada Kio. Segala hal yang membuat gundah gulana, segera menyerbu keluar, menuntut untuk diceritakan.

Kyungsoo menghentikan kendaraan yang merrka tumpangi di taman dekat kediaman keluarga Do. Ia sengaja memilih taman yang dipenuhi bunga, ketika musim semi itu sebab Jio menyukainya. Saat mereka masih anak-anak sering sekali Jisoo dan Kyungsoo bermain dan menghabiskan waktu di sana.

“Kio, Jio merindukanmu.” Ungkap Kyungsoo sembari menyerahkan si kucing yang berusia dua tahun itu kepada Jisoo.

Jisoo turun dari mobil, ia duduk di salah satu bangku terdekat, jari-jarinya membelai Kio. “Terima kasih, ini sangat menghibur.” Kata si gadis, senyumnya enggan pergi.

Kyungsoo mengangguk. “Kau ini gadis lugu, Jisoo. Bagi orang lain yang tidak mengenalmu, mereka akan kesulitan menyenangkanmu. Namun, bagi orang yang sudah mengenalmu, mencari penghiburan bagimu adalah hal yang mudah.” Timpal si pria.

Jisoo menunduk, entah mengapa ucapan Kyungsoo yang santai justru terasa berat dalam pikirannya. “Aku gadis yang mudah disenangkan dan berubah pikiran. Orang yang paling dekat denganku akan tersakiti akibat ulahku.”

Kyungsoo menarik sudut bibir, “Tenang saja, aku orang yang kuat. Terserah kau akan berubah pikiran atau menyakitiku berulang kali, aku akan mengatasinya dan membuatmu kembali.”

Jisoo menghela napas. “Kau selalu menjagaku Dio. Terima kasih.”

“Setelah ini, Nenek Do ingin bertemu denganmu. Kita ke rumah.” Kyungsoo menanggapi.

Rumah itu tidak berubah. Barang-barangnya diletakkan di tempat yang sama. Semerbak harum violet juga masih menguar ke indra penciuman, saat Jisoo memasuki ruang tamu keluarga Do. Aroma bunga kegemarannya. Wangi yang membuat Jisoo nyaman dan tentram. Akhirnya, gadis itu merasakan rumah yang sesungguhnya. Tempatnya pulang untuk menyembuhkan, mengistirahatkan, dan meredam diri dari kegelisahan atau ketakutan. Jisoo bahagia, ketika ia kembali.

Nenek Do menyambut hangat kedatangan cucu kesayangannya. Segera wanita tua yang masih bugar itu memeluk si gadis. Lalu, mengecup kening dan pipi Jisoo. Tidaklah lupa mengucapkan rindu yang selama ini dipendam.

Mereka pergi ke halaman belakang untuk meminum teh, kegiatan yang biasa dilakukan saat sore hari. Obrolan ringan akan terangkat sembari menikmati biskuit. Langit yang cerah menambah kenikmatan.

Nenek Do duduk berdampingan dengan Jisoo, jari-jarinya enggan melepaskan genggaman pada sang cucu. “Grandma tidak ingin kehilanganmu, Sweetheart. Sewaktu Grandma mendengar berita mengenai kalian, Grandma sangat senang.” Ujar wanita yang berpakaian dan berperilaku elegan.

Jisoo hanya menyunggingkan senyum manis sebagai tanggapan.

“Awalnya, akan janggal saat kalian yang bermula sebagai saudara kandung, kini harus menerima kenyataan bahwa sebenarannya bukan.” Nenek Do menepuk punggung tangan Jisoo. “Tapi, itu tidak penting. Kyungsoo akan menjagamu. Dia tidak akan membiarkan dirimu terluka sedikit pun, Sayang. Cinta bisa datang kapan saja, namun bukan menjadi faktor utama dalam membina hubungan.” Lanjut Nenek Do, lembut.

“Grandma selalu mengkhawatirkanku, padahal aku sudah dewasa.” Ucap Jisoo, nadanya manja.

Nenek Do tersenyum anggun, gaun yang ia kenakan bergerak ringan ketika dirinya beringsut mendekat ke arah cucunya. “Grandma sangat menyangimu, Sayang. Dengar, Grandma akan mempersiapkan pernikahan kalian segera. Agar kau bisa kembali ke rumah ini dan direksi tidak mengganggu Kyungsoo lagi.”

Kali ini Kyungsoo menimpali, “Tidak perlu terlalu meriah. Hanya keluarga saja yang turut hadir. Grandma tahu, bukan? Jisoo kita, tidak menyukai keramaian dan terlalu lama menjadi pusat perhatian.”

Grandma mengangguk paham. “Baiklah, semuanya telah diputuskan. Grandma berjanji, Jisoo akan jadi mempelai wanita yang paling rupawan.” Ungkap Nenek Do, bersemangat.

Jisoo menyetujui segala kesepakatan yang mereka buat. Gadis itu enggan banyak berargumen. Apa pun yang dirinya ucapkan, tak akan berdampak banyak. Jisoo hanya perlu menurut.

Perbincangan mereka hanya berlangsung selama satu jam, selanjutnya Kyungsoo mengantarkan Jisoo untuk kembali ke apartemen milik keluarga barunya.

Hari telah petang, Jisoo menatap ke arah jendela mobil sepanjang perjalanan. Ia tidak ingin membicarakan apa pun. Hanya perutnya yang berbunyi nyaring.
“Lapar?” tanya Kyungsoo.

Jisoo cemberut. “Iya, kau sudah mengajakku berkeliling dan tidak membelikan makanan apa pun.” Keluh Jisoo.

Kyungsoo tertawa. “Jadi, kegelisahanmu sekarang sebatas lapar.” Simpul Kyungsoo.

Jisoo mengangguk dengan semangat.

“Apa yang ingin kau makan, hm?”

Gadis itu berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Aku tidak ingin makan di luar. Aku ingin cepat-cepat tidur.” Jawab Jisoo.

Kyungsoo menghela napas. “Baiklah, kita akan memesan sesuatu, kemudian memakannya sambil menonton televisi.”

“Well, tidak semudah kelihatannya. Di apartemen itu hanya ada salah satu televisi dan pasti sudah dipakai Nayeon. Dia sangat suka menonton—“

“—Kau tidak perlu pulang ke sana jika tidak ingin.” Kyungsoo langsung menyela. Melalui ekor matan, ia mencuri pandang sekilas kepada gadis itu, kemudian kembali fokus pada jalan.

Senyum Jisoo bermain di ujung bibir. “Benarkah? Lalu aku harus ke mana?” tanyanya, senang.

“Terserah, kau ingin menginap di mana.”

Jisoo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, ia agak malu. “Tapi, aku tidak suka tidur sendiri di tempat asing, Dio.” Vokal si gadis.

Tawa Kyungsoo terbit juga. “Aku temani.”

Call!” Seru Jisoo riang. Benaknya memilah-milah kiranya tempat mana yang sesuai. “Bagaimana kalau rumah musim panas—“

“—Terlalu jauh, Jio. Rumah musim panas kita ada di Busan.”

Jisoo mengangguk, setuju. “Apartemen Rahasia,” cetus si gadis.

“Boleh, kebetulan ada beberapa potong pakaian kita masih tersimpan di sana.” Kyungsoo menyetujui, ia meyugar senyum simpul.

Apartemen Rahasia. Begitu cara Dio dan Jio menyebut sebuah apartemen mewah di daerah Gangnam, yang dibeli Kyungsoo dari gaji tahun pertamanya bekerja. Kyungsoo memberikan bangunan yang terdiri dari dua kamar itu sebagai hadiah ulang tahun keenam belas untuk Jisoo. Ruangan nyaman yang luas dan dilapisi warna biru muda, menjadi tempat Dio dan Jio melarikan diri. Apabila mereka gundah, Apartemen Rahasia jadi tujuan utama. Hanya untuk lari sejenak dari realitas yang mencekik.

Dio dan Jio melakukan kegiatan sederhana, jika mereka berkunjung ke sana. Misalnya sekarang, mereka berada di ruang menonton, duduk berdampingan sembari mengikuti alur cerita film yang disiarkan televisi raksasa.

Dua loyang pizza tersedia di hadapan Dio dan Jio. Mereka makan bergantian sepotong demi potong. Jio mengunyah bagian tengah pizza, lalu diangsurkan ke Dio yang menyukai pinggiran pizza. Kepala Jisoo berbaring lelah di bahu Kyungsoo. Pria itu sesekali membelai surai Jio atau mengecup puncak kepala si gadis. Kebiasaan.

Jisoo tidak seberapa memerhatikan alur film itu. Matanya mulai layu, mengantuk. Dia menguap beberapa kali. Gadis itu terlampau letih untuk mengeluh. Ia hanya ingin hidup tenang seperti ini.

“Jio, kau mengantuk?” tanya Kyungsoo, ia menatap si gadis, lembut.

Jisoo mengangguk lemah. “Aku mengantuk, tapi tidak mau tidur di ranjang. Soalnya, tadi aku sudah habiskan empat potong pizza, nanti gendut kalau tidur.” Jisoo merajuk.

Kyungsoo bergerak, ia mengubah posisi mereka. Pria itu merentangkan tangan, agar Jisoo bisa beringsut ke dalam pelukan. Gadis itu menurut. Tubuh Kyungsoo hangat. Jisoo selalu menyukainya.

“Begini saja, nanti kalau filmnya sudah selesai, kita pindah ke kamar.” Ujar Kyungsoo sembari mengecilkan volume televisi. Ia mengeratkan kungkungan tubuhnya pada gadis itu, berusaha memberikan kenyamanan dan keamanan. Perlahan, bibir Kyungsoo mulai bersenandung menyanyikan lagu tidur untuk sang terkasih.

Ketenangan mereka enggan berlangsung lama, ponsel Jisoo yang berada di nakas berdering lantang. Kyungsoo hendak meraih ponsel itu, namun kalah cepat dengan gerakan Jisoo yang masih separuh mengantuk.

Jisoo tertegun menatap si pemanggil dalam layar ponselnya. Tak kunjung dijawab, dering itu pun berhenti.

“Siapa? Kenapa tidak dijawab?” tanya Kyungsoo, penasaran.

Lantaran membalas, tubuh Jisoo malah menegang. Bertepatan dengan itu, dering kembali terdengar. Jisoo berkicau pelan kepada Kyungsoo, “Nayeon menghubungiku.”

Pria itu menghela napas dalam-dalam. “Baiklah, mari kita dengarkan. Aktifkan pengeras suaramu.” Perintah Kyungsoo yang langsung dituruti Jisoo.

“Kak Jisoo,” sapa Nayeon dari seberang telepon. “Kak Jongin—temanmu yang waktu itu, dia baru saja datang dan ingin menemuimu. Dia mengatakan bahwa kau tidak bisa dihubungi. Makanya, aku bilang kepadanya, jika kakak akan pulang larut.” Nayeon memberitahukan.
Jisoo mengigit bibir. Tatapannya berulang kali mengarah ke Kyungsoo dan ponsel. “Aku tidak pulang malam ini. Anggota Keluarga Do memintaku menginap.”

“Er, dia berniat menunggumu.” Timpal Nayeon putus asa. Sepertinya, Jongin membuat adik Jisoo itu kualahan.

“Aku tidak ingin bertemu dengannya, Nayeon.” Putus Jisoo. Tak ada jawaban dari adiknya, membuat Jisoo terpaksa mengimbuhkan kalimat yang lain. “Aku benar-benar perlu sendiri sekarang. Tolong, sampaikan padanya untuk tidak menggangguku.”

“Baiklah, dia sangat memaksa. Aku akan mengatakan apa yang kau inginkan. Sampai jumpa, Kak.” Ujar Nayeon, lalu mengakhiri sambungan teleponnya.

Mata Jisoo sudah berkaca-kaca saat itu, mendorong Kyungsoo untuk kembali memberikan pelukan. Jisoo menerima perlindungan dari Kyungsoo. Seperti sebelumnya, ketika dia terluka Kyungsoo selalu siaga, agar dapat menarik Jisoo menjauhi luka itu.

“Lebih baik kau tidur, semuanya akan baik-baik saja, Jisoo. Perasaanmu ini hanya sementara, percaya padaku.” Hibur Kyungsoo, lembut. Selama ini, suara rendah pria itu menjaga Jisoo dan telah mendapatkan kepercayaan seutuhnya.

Perlahan Jisoo mengatupkan kelopak mata. Sembari berharap-harap cemas, jika besok akan lebih baik dari hari ini. Kyungsoo sudah berjanji akan itu dan Jisoo percaya.

Jisoo mengeluh, saat binar-binar cahaya merayap ke arah netranya yang tertutup. Ia mulai mengerjap cepat, lalu membuka mata. Langit sudah tak pekat lagi, membuat Jisoo mencuri padangan pada jam dinding yang terpaku di atas pintu. Pukul sembilan pagi. Benak Jisoo teringat sesuatu, ia meraba sisi tempat tidurnya. Tak ada tubuh pria yang seharusnya berbaring di sana.

“Dia sudah berangkat kerja.” Lirih Jisoo, ia meregangkan badan sejenak, kemudian terduduk di ranjang. Tatapan Jisoo langsung disambut oleh pantulan dirinya di cermin. Paras kusut, surai teracak, dan piama bergambar beruang yang tertekuk. Jisoo menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk menghimpun kesadaran.

Rutinitas paginya itu, diinterupsi oleh getaran akibat pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Jisoo segera meraihnya. Ada banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk. Hampir seluruhnya dari Jongin. Jisoo menghela napas berat. Ia segera menghapus semua pesan yang dikirim Jongin.

“Aku harus tegas.” Ujarnya meyakinkan diri sendiri. Ia mengotak-atik menu dalam ponselnya, agar secara otomatis tidak lagi menerima panggilan atau pesan dari Jongin. Gerakan tangannya terhenti, saat sebuah pesan kembali masuk. Kali ini dari Nayeon.

From: Nayeon

Dia masih berada di depan apartemen kita, Kak. Sedari malam tadi dia kedinginan.

Jisoo langsung berdiri. Jongin alergi dingin. Pikiran Jisoo membentak. Jongin bisa sakit. Jisoo memang sudah memilih, namun bukan berarti ia menyakiti salah satu dari keduanya.

Serampangan Jisoo menyiapkan diri. Ia harus segera menemui Jongin, agar pria itu tidak berbuat bodoh. Jisoo mengganti pakaian dengan kaos merah serta celana jeans. Tak lupa mengenakan jaket tebal dan syal. Bulan ini telah memasuki musim gugur, jadi udara mulai sejuk, terkadang angin yang bertiup terlalu dingin.

Jisoo keluar dari kamar, ia sontak kaget mengetahui Kyungsoo berada di dapur. Pria itu membelakangi Jisoo, nampaknya Kyungsoo sedang memasak sesuatu.

“Dio,” sapa Jisoo.

Kyungsoo membalik tubuhnya, ia tersenyum simpul. “Selamat pagi,” balasnya. Tak berselang lama, alis Kyungsoo bertaut kebingungan. “Kau sudah rapi. Mau ke mana?” tanyanya.

Jisoo mengigit bibir. Mengamati pria yang berada di hadapannya. Kyungsoo juga sudah rapi, pria itu telah membalut tubuh dengan kemeja putih panjang yang lengannya ditarik hingga siku dan celana kain hitam—pakaian kantor. “Aku ingin menemui Jongin.” Jawab Jisoo pelan.

Paras Kyungsoo berubah. Ada ekspresi tak suka tersurat di sana. Pria itu langsung mematikan alat memaksaknya. Ia mendekat ke arah Jio.

“Kau tidak perlu menemuinya. Kondisimu sedang tidak baik. Jangan muncul di muka umum karena wartawan pasti akan memburumu. Mereka mengiginkan keterangan lebih lanjut soal pernikahan kita. Bertemu dengan Jongin, bukanlah pilihan yang tepat sekarang.” Jelas Kyungsoo sembari mengerkau lengan Jisoo.

Cengkeraman tangan Kyungsoo semakin kuat terhadap lengan Jisoo, ketika si gadis menggeleng. Jisoo menolak. “Aku memilih menikah denganmu. Justru itu, aku harus menjelaskan segalanya kepada Jongin. Aku harus menemuinya. Dia menungguku sedari malam.”

Raut Kyungsoo murung. “Tidak, itu hanya taktiknya untuk mengubah keputusanmu,” timpalnya.

“Aku harus pergi.” Jisoo berucap, ia menampik tangan Kyungsoo.

Pria itu segera meraih tubuh Jisoo. Gadis itu sangat kaget saat Dio mencengkau bahunya dengan kasar. Tekanan Kyungsoo pada si gadis sangat kuat, hingga Jisoo mengernyit.

Jisoo berusaha memberontak. “Lepaskan, Kyungsoo.” Seloroh Jio, nadanya panik.

Kyungsoo tetap enggan. Netranya justru menukik tajam ke arah Jisoo. “Percayalah padaku ini lebih baik. Aku tidak akan menyakitimu. Kau akan terluka bila pergi dari sini, Jio.” Pria itu menjelaskan. Namun, lawan bicaranya terlanjur takut.

“Aku ingin bertemu Jong—“

Argumen Jisoo terputus. Kyungsoo menghentikan gadisnya berbicara. Ia membungkamnya.

Dio mengecup Jisoo.

Mata Jisoo membola saat menyadari apa yang dilakukan oleh Kyungsoo. Detak jantungnya terasa membuncah, ingin meledak, ketika bibir pria itu mulai bergerak. Jisoo tidak melawan atau menerima. Ia hanya terpaku di tempat.

Merasa tak ada penolakan, Kyungsoo semakin memperdalam tautan mereka. Sekon berhenti berdetak. Dunia seperti enggan untuk berputar. Waktu berhenti. Begitu juga diri Kyungsoo. Ia kehilangan kendali. Kewarasannya mengundurkan diri. Kini, giliran perasaannya yang mengambil alih.

Kecupan itu berubah asam, ketika buliran peluh mulai menetes dari netra si gadis. Menambahkan kepedihan di dalam luka. Rasanya tidak hambar, terlalu banyak emosi yang terlibat. Jisoo tidak bisa mengelompokkan beragam rasa itu. Sesuai kebiasaan, sewaktu dia bingung yang hanya dapat dilakukannya adalah menangis.

Airmata itu menyadarkan Kyungsoo. Ia melepaskan kecupannya. Tangannya tidak lagi mencengkram bahu Jisoo. Jarinya berganti membelai paras si gadis untuk menghapus laju duka Jio. Lalu, mengangkat dagu Jisoo, agar netra mereka bisa bertemu. “Jangan menangis.” Ucap Kyungsoo, pelan, penuh penyesalan.

Gadis itu tergugu. “Kau menyakitiku, Dio.” Lirihnya.

Luka itu, lantas menghujam Kyungsoo berkali-lipat lebih runcing, merobek setiap bagian yang ada dalam diri si pria. Kyungsoo tidak menjawab. Dia enggan meminta maaf, sebab dirinya tak bersalah. Ia hanya ingin melindungi Jisoo. Dirinya tidak ingin kehilangan gadis itu.

Melalui gerakan non-verbal, Kyungsoo menyalurkan rasanya. Ia merengkuh tubuh Jisoo yang gemetar. Berusaha membasuh kecewa yang ada dalam benak gadisnya. “Semuanya akan segera berlalu. Aku berjanji.” Bisik Kyungsoo di rungu Jisoo.

Gadis itu tidak merespons, baginya Kyungsoo sudah menjadi sosok baru. Kyungsoo bukan lagi seorang kakak laki-laki yang dikenalnya selama belasan tahun. Kyungsoo adalah orang lain. Pria asing yang belum mendapatkan kepercayaan dari Jisoo. Seseorang yang membuatnya bersedih.

Bagi Jisoo, yang tersisa hanyalah Do Kyungsoo, bukan lagi Dio yang terkasih. Dio sudah lenyap.

-oOo-

a/n:
Wow! Ini part Undercover Marriage terpanjang yang pernah saya tulis. Jujur, saya agak bimbang sama kelanjutan cerita ini. Jika, kalian punya ide atau masukkan soal part selanjutnya, silahkan tinggalkan di kotak komentar, lalu kita bahas bersama.

Terima kasih sudah membaca!

Menjadi silent reader di blog ini, sama sekali tidak menguntungkan. Saya bakal lebih disiplin soal permintaan password.

P.s: Cerita ini sudah punya poster, yeay!~ Terima kasih untuk Miss of Beat R yang sudah membuatkan poster yang cantik ini.

Advertisements

146 thoughts on “[5] Undercover Marriage

  1. Waduuuhhh bingung juga ya disukai dua orang ganteng dan sekaligus menyukai mereka berdua…..bingung milihnya.
    Sampai saat ini saya hanya menikmati membaca cerita ini,tanpa ingin menduga bagaimana akhirnya karena emang sulit ditebak..
    Suka banget sama alurnya ….saya ga pernah baca ff dengan cerita seperti ini ….two thumbs up

  2. Ah d.o aku padamu … jongin kasian bangeth .. jong jong buat gue eh ga jing dia udah ada yg punya .. punya krystal 😥

  3. melihat bagaimna kyungsoo memperlakukan jisoo, jisoo udah seharusnya milih kyungsoo wkwk
    jisoo terlalu bodo kalo mau nyianyiain lalaki kaya kyungsoo :(((

  4. Ahhhhh~ kisseu-kisseu
    oppa knapa gk jujur dari awal klo udh fall in love sma jisoo,jadi jisoo juga gk kget pas dicium, sumpah aku ngebut baca ff ini pngen tau kisah mreka berdua, kak izin baca ini ya udh komen dari awal kok

  5. Kakak, seneng banget punya poster. Kekekeke, aku juga ikut seneng Kak tapi sebenernya waktu aku mulai baca, ff ini udah ada posternya. Ya, mungkin emang aku aja yang kudet

  6. Ku sudah komentar kah?:( lupa nih. Udah lama ga baca UM, dan lagi liat2 chapter sebelumnya:”)

    Ini chapter fav saya atuh:”)))))))

    Entah dari dulu saya suka kalo hubungannya “adek kakak”. Yatapi ga kandung dong wowkw.

  7. OMG! That moment when kyungsoo kissed jisoo got me so crazy!!! Degdegan bgt grgr ikutan bingung antara jongin & kyungsoo huhuㅠㅠ good job author udh berhasil bikin hariku lebih degdegan(?) dengan ffmu ini♥

  8. Whaaaa…. aku jadi ikutan galau… gimana nihhhh…. jangan sampe jio jadi benci dio, kn cian setansoo nya…

    Sebenarnya klw ditanya nasukan, gak ada masukan untuk author, karena author dh keren banget bikin ni cerita jadi bagus….
    Author jjang**

  9. Lebih suka d.o sama j.o jangan ama kamjong, mungkin jisoo akan sakit di awal jika menikah ama d.o tp dia mendapatkan apa yg sudah dimiliki selama ini. Klu ama kamjong bener dia bahagia di awal tp entah selanjutnya gmana yg pastinya keluarga besar DO akan menyingkirkan semua penganggu termasuk mungkin jisoo jika menikah ama kamjong.
    Sakit di awal akan terbayar jika jisoo tau yg sebenarnya jika d.o memendam rasa ama dia seperi perkataan nara waktu itu tanpa sadar sebenarnya hati jisoo sudah memilih dari awal.

  10. thor dio sma jio kapan nikah?klo kelamaan takutnya jiony berubah pikiran T_T kasian dionya trus jonginny sma nayeon aja,hehehehe
    thor request bikin yg happy ending ya?ya?ya? Pliis😇

  11. Hello author, saya pembaca baru-
    sebenarnya saya setuju kalau jisoo dgn kyungsoo, tp dsini kyungsoo jd lebih nunjukin egonya dan tdk berfikir bagaimana perasaan jisoo atas perlakuan kasarnya apalagi tiba2 menciumnya.
    Tujuan kyungsoo sebenarnya karena dia mencintai jisoo dan tdk ingin kehilangan atau karna hartanya? Sedangkan jisoo spt nya memilih menikahi kyungsoo lebih karna harta(masih bimbang dgn perasaan nya yg terbagi ke jongin) tp kyungsoo udah bikin kecewa trs nanti milih jongin Hmm penasaran kelanjutannya.. Semangat thor!!

  12. Hai kyknya baru pertama kali deh komen disini. Semakin lama ceritanya makin menarik. D.o akhirnya lebih bisa mengekspresikan perasaannya ya. Ya walaupun jisoo masih bingung sm hatinyaa.
    Ditunggu yaaa kelanjutannya

  13. aaaaaa….kyungsoo makin agresif buat nunjukin perasaannya sama jisoo, tapi si kai kasihan juga udah begitu tulus tapi ditinggalin. Bagaimanapun aku tetep ngedukung hubungan kyungsoo-jisoo tetap berjalan baik. O…ya kenalin, aku reader baru, niatnya sih tadi mau baca part awal aja dulu eh kok ceritanya bikin gereget langsung aja lanjut sampe part 5 dan gak kerasa nih udah jam 11 malam kkk. Semoga kelanjutannya makin keren, Fighting!! ^^

  14. sorry sebelumnya bukannya mau jadi silent reader tapi emang gak punya kesempatan untuk ngasih komentar. maaf sebelumnya. ini komentar aku dari part 1 sampai part 5 ini mohon di terima..

    cerita dari awalnya bagus dan banyak banget hal hal yang menarik menurut aku. suka banget sama sikapnya d.o yang stay cool dan jisoo yang terkesan cuek tapi sayang sma kakaknya.
    mereka bukan saudara kandung satu fakta lagi yang mengejutkan tapi ceritanya seru. kyungsoo kau kakak yang terlalu posesif dan kau mencintai jisoo makanya kau ingin jisoo tetap berada disampingmu agar dia selalu bisa kau lindungi.
    waw lanjutannya begitu menyakitkan dan juga membuat semua anggota dewan direksi terkejut semoga aja apa yang di rencanakan oleh kyungsoo dapat berjalan dengan lancar.
    memulai kehidupan baru itu membuat jisoo sadar bahwa dia anak yang beruntuk karena pernah merasakan yang namanya kemewahan, kyungsoo juga sayang banget sama jisoo dan itu yang ngebuat jisoo selalu ngebutuhin kyungsoo.
    dan untuk part 5. ini part paling menyakitkan menurut aku, jongin terluka, jisoo terluka, dan kyungsoo juga terluka. kyungsoo harus kau pakai cara yang lebih halus lagi kalo mau ngedapetin hati jisoo. kasihan kalian bertiga tapi mau bagaimana lagi. Cinta tak pernah bisa di paksaain dan takdirpun tak bisa kau kendalikan sesuka hatimu kyungsoo. jisoo ngebenci kyungsoo? entahlah gak bisa neabk alurnya. semoga part selanjutnya lebih bagus lagi dan semoga berakhir dengan end yang bagus juga.

    aku mau minta maaf kalo seandainya di part yang selanjutnya aku gak dapat komen soalnya sibuk banget sama kuliah. maaf ya sebelumnya aku hargain karya kamu bagus. fighting untuk terus nulis.

  15. saran mending sama D.O daripada si black. Bikin J.o suka d.o juga boleh kali. Salam kenal aku pembaca baru ff mu.

  16. Suka lihat D.O yang bru LBH terbuka dgn perasaannya , menurutku jisoo LBH baik sama D.O jng sama jongin krn membuatnya lebih menderita dan kehilangan sgla2nya gak tega rasanya , trims dah membuat baber campur aduk bc ff ini di tunggu kelanjutannya ya

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s