The Naked Truth: The Girl From The Past

 

the-naked-truth-twelveblossom-bycastorpollux

cr:CASTORPOLLUX@Poster Channel

Previous: PrologMournful

“Apa kau tidak penasaran, Nara?” tanya Summer, megupas kesenyapan.

Suara Summer menggema dalam benakku. Apa aku tidak ingin tahu? Siapa wanita yang menggantikan posisiku?

“Tidak,” jawabku. Logika ini mengambil alih. Aku tidak perlu tahu, siapa lawanku.

Summer tertawa. Ia mengecap kopinya sekilas. “Sifatmu tidak berubah, ya. Kau selalu acuh pada apa pun. Meski, hatimu sedang cemburu.” Ia menyortir penampilanku dengan pupil kelabunya. “Kau naif sekali,” imbuhnya, pelan.

Begitulah Summer. Seorang wanita penuh percaya diri dalam bicara. Ia sangat sensitif akan suasana hati seseorang. Maka dari itu, mudah baginya untuk mempermainkan individu lain. Surainya yang cokelat akan dihempaskan, apabila ia sedang terlalu percaya diri. Kulitnya yang putih, bersemu merah jika ia bersemangat. Rupanya masih elok, seperti dulu.

Dia yang memberikan kabar mengenai pernikahan Sehun. Ia juga yang meyakinkanku, bahwa diriku bisa saja memperbaiki kesalahan. Summer menegaskan, agar aku tidak perlu sakit hati lagi, seperti cintaku kepada Chanyeol yang kandas begitu saja.

“Aku hanya ingin bertemu dengannya dan bicara, selebihnya―“

“―Selebihnya apa? Kau akan mengaku cinta, lalu berpasrah diri. Seperti caramu dulu melakukannya di hari pernikahanku dan Chanyeol,” potong Summer, kemudian mendengus.

“Summer, itu bukan urusanmu,” tegasku.

Lawan bicaraku itu mulai berekspresi. “Kau merusak segalanya. Keteguhan Chanyeol yang berniat untuk mencoba mencintaiku. Apa kau tahu itu?” tanya Summer.

“Aku masih sangat muda. Bahkan, diriku sama sekali tidak memikirkan dampaknya. Kesalahan masa lalu.” Aku berusaha menjelaskan.

Summer tersenyum. “Itulah alasanku memintamu untuk datang ke Seoul. Aku ingin kita memperbaiki segalanya.” Ia menghela napas, mengambil jeda sejenak. “Terlalu banyak dusta di masa lalu kita, Jung Nara. Chanyeol tidak pernah sekali pun menyentuhku. Bayi itu bukan darah daging Chanyeol,” akunya, suara Summer berat.

Kabar itu jelas menamparku. Tubuh ini melorot ke kursi yang kududuki. Hidupku yang hancur. Seluruh napasku yang remuk, ternyata disebakan oleh satu kebohongan. Aku menggigit bibir, menahan kemarahan yang sudah menunggu di kobarkan.

“Kau … Kau dulu sahabatku,” bisikku, mengungkapkan fakta yang terasa pahit.

“Justru itu, dulu kita bersahabat. Aku tahu dirimu jatuh cinta kepada Chanyeol. Sayangnya, aku juga melakukan hal yang sama. Aku tahu Sehun menyukaimu. Jadi, tidak ada salahnya aku memiliki Chanyeol. Kau bakal melupakannya, masih ada Sehun yang menjagamu. Namun, sesuatu yang dimulai dengan dusta, pasti akan berakhir sia-sia. Kami bercerai, Nara. Chanyeol tahu, jika bayi yang kukandung bukanlah anaknya. Chanyeol tetap mencintai putraku, tetapi dia mengabaikan diriku. Dia mencarimu,” ujar Summer.

Aku bisa melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Aku hanya bisa membisu. Butiran kalimat yang terucap dari Summer merampas keinginanku untuk bicara.

Nampaknya Summer tahu, apabila diriku enggan menanggapi. Ia melanjutkan ceritanya. “Chanyeol mencarimu, dia menemui Sehun. Kau sedang hamil saat itu. Aku yakin Sehun tidak mengatakan apa pun soal pencarian dan percerain Chanyeol.” Summer tergugu. Ia menarik napas, berusaha menenangkan diri. “Aku takut sekali, jika dia benar-benar menemukanmu. Aku dan Sehun memutuskan untuk menjauhkan dirimu dan Chanyeol. Dia berjanji untuk tidak memberitahumu soal apa pun,” lanjutnya, cepat.

Diriku semakin hampa. Ada lubang besar yang menganga di sana. Aku berucap lirih, “Sehun berbohong padaku. Dia mengetahui segalanya.” Perlahan satu, dua, tiga bulir peluh mulai mengalir turun.

“Sehun tidak bersalah Nara. Dia hanya kasihan kepadaku. Dia―“

“―Tetapi tetap saja, dia berbohong kepadaku.” Aku menyela, intonasi suara meninggi menggambarkan betapa sedih dan murkanya diriku.

Aku kecewa kepada Sehun, bukan karena ia telah melenyapkan satu-satunya kesempatanku untuk bersatu dengan Chanyeol. Akan tetapi, kenyataan bahwa Sehun berdusta. Sehun adalah pria yang paling aku percaya. Dia selalu menepati janjinya. Sehun berjanji untuk membuatku bahagia. Kenyataan berkata lain, justru dirinyalah yang berupaya menyakitiku. Membiarkan diriku terus terluka akibat kebohongannya.

Aku berniat membencinya.

Aku ingin membencinya.

Tetapi, hatiku tidak sanggup melakukannya.

-oOo-

a/n: Aku sudah menamatkan cerita ini hehehe. Ternyata, jadinya pendek. Segera aku post lanjutannya. Ada project baru yang ingn aku tulis lagi. Karena setiap partnya pendek, jadi tidak ada kolm komentar ya.

Advertisements