The Queen Of Pierrepont

842673

Prev: The King of Pierrepont

“Stop saying sweet lies now.” ―Bad Girl, Henry feat Chanyeol

-oOo-

“Stop saying sweet lies now.” Gadis itu berucap, ia menatap lawan bicaranya. Helaan napas yang terdengar dari sepasang kekasih itu, enggan menyelimuti kecemasan dalam vokal Olivia selanjutnya. “Aku tahu, semua tidak baik-baik saja.” Olivia menyelesaikan ungkapannya, sembari merangkum paras pria yang berdiri di hadapannya.

Oliver tersenyum berusaha memaklumi perasaan si gadis yang sedang gundah gulana. Pria itu meraih jari-jari Olivia yang membelai paras Oliver, kemudian mengecupnya. “Aku tidak berdusta, Liv.” Jawab sang Raja Muda, menyelipkan panggilan sayangnya untuk Olivia sebagai penutup.

“Tapi, dewan istana tidak menyetujui pernikahan kita.” Timpal Olivia. Netranya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak ingin kau mendapatkan kesulitan karena menikahiku atau pun mencintaiku.” Lanjut Liv yang mulai tersedu.

Oliver enggan menguarkan gagasan lagi, ia merespons ucapan kasihnya dengan pelukan hangat yang erat. Oliver membiarkan ruang istirahatnya hanya berisi suara jarum jam yang berdetak. Sementara dirinya, larut ke dalam kenyamanan yang abadi bersama Olivia.

Setelah gadisnya tenang dalam kungkungan. Oliver mulai membuka perbincangan. “Mencintaimu bukanlah kesalahan, Liv. Kau adalah hal teristimewa yang pernah datang di hidupku.” Oliver mengambil spasi di antara mereka, agar dirinya dapat menelusuri paras Olivia. “Mereka bukannya tidak setuju, hanya memperingatkan bahwa raja sepertiku, seharusnya menikah dengan tuan putri dari kerajaan lain untuk memperluas kekuasaan.” Lanjut Oliver.

“Semestinya, kau menuruti ucapan mereka.” Olivia berkata nelangsa.

“Aku memiliki hak untuk menolak.” Sela, Raja Muda intonasinya tegas. “Sebagai gantinya, aku telah menjanjikan sesuatu kepada mereka dengan darahku.” Sambung Oliver, kini manik hijaunya menelusuri biru pupil Olivia.

“Apa yang kau janjikan?” tanya si gadis yang membalut tubuhnya dengan jubah merah tua.

“Memastikan bahwa pangeran dan putri yang lahir dari rahimmu akan menikah dengan raja atau pun putri kerajaan lain.” Ungkap Oliver.

“Kau tidak bisa menjanjikan hal seperti itu. Kau sama saja merampas―”

“ ―Untuk kali ini saja, izinkan aku bertindak egois, Ratuku.” Potong pria bermahkota itu.

-oOo-

Satu bulan kemudian, Oliver dan Olivia menikah. Pesta pernikahan yang paling meriah di Pierrepont. Rakyat bersuka cita sebab raja mereka yang cerdas dan bijaksana, telah menemukan ratu untuk Pierrepont. Olivia Griffith menjadi ratu yang penuh belas kasih serta lembut.

Wanita yang memiliki surai indah berwarna merah itu, melahirkan putri pertamanya dua tahun setelah pernikahan mereka. Oliver memberi nama sang putri Rebecca. Bayi perempuan yang mirip sekali dengan ayahnya.

Tiga tahun berlalu, Olivia kembali memberikan pewaris untuk kerajaan Pierrepont. Olivia melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Sang pangeran diberi nama Leander yang memiliki arti perkasa. Sementara saudarinya, dianugerahkan nama Lianna, yang mempunyai arti rupawan serupa kelopak bunga mawar.

Semuanya terasa sempurna, hingga waktu berlalu dari tahun ke tahun. Pelaksanaan sumpah Oliver pun semakin dekat, hal itu membuat Olivia cemas hingga jatuh sakit. Olivia tak dapat membendung kekhawatirannya. Ia merasa bersalah karena telah merampas hak anaknya untuk memilih pasangan hidup.

Bagaimana jika putra dan putrinya jatuh cinta kepada rakyat biasa?

Bagaimana jika anak-anaknya mempertanyakan mengenai kewajiban mereka untuk menjalin ikatan hanya dengan raja atau pun putri yang telah ditentukan?

Hati Olivia yang lembut enggan menampung segala rasa yang bergejolak. Penyakit datang dan pergi, silih berganti menyerang tubuh sang Ratu. Kondisinya tak membaik ketika putri tertuanya―Rebecca yang saat itu berusia delapan belas tahun menangis kepada ibundanya sebab ia belum ingin menikah dan tak mau meninggalkan kerajaannya yang subur.

Apa boleh buat?

Oliver dan Olivia tidak memiliki daya apa pun. Anggota dewan telah memutuskan dengan siapa Rebecca akan menikah. Ingin atau pun tidak, bukanlah hal yang penting karena itu sebuah kewajiban.

Ketidakberdayaan sang ratu membuatnya semakin terpuruk. Napasnya pun enggan berhembus kembali. Olivia Griffith sang Ratu Pierrepont, memilih untuk menyerah pada sakitnya dan meninggalkan putra dan putrinya di usia empat puluh tahun.

-oOo-

a/n:

Kotak komentar ada di Track List.

Udah ada beberapa konsep buat ngelanjutin ceritanya. Kita bakal ketemu lagi, kok sama Oliver dan ketiga anaknya (Becca, Lea, dan Ann). Nulis cerita yang dongeng-dongeng gini itu seru, aku nyaman banget nulis soal Pierropont.

Oh ya, sedikit spoiler.

Irene sebagai Becca.

Kai sebagai Lea.

Nara sebagai Ann.

Nah, kalau ada Nara di sini berarti ada?

Sehun sebagai Xerxes (The King of Rexwald).

Kalau ada Irene berarti ada?

Suho sebagai Marvin (The King of Whitelaw).

Kalau ada Kai berarti ada?

Krystal sebagai Ariella (The Princess of Paxton).

Advertisements