[6] Undercover Marriage

undiscover-mrriage-2 (1)

Poster by Miss of Beat R @ D’Angel Falls

Prev:

Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5

“Menurutmu, harus kita apakan Nona Kecil itu?” Tanya Kyungsoo, sembari tersenyum miring―menampakkan seringai licik di parasnya.

-oOo-

Sudah satu minggu Jisoo menginap di Apartemen Rahasia. Ia seperti tahanan yang dipenjara. Tiga orang secara bergiliran berjaga di depan pintu apartemen, padahal kemungkinan Jisoo untuk kabur sangatlah kecil. Jisoo tidak berencana melarikan diri sebab dia enggan berurusan dengan kemurkaan Kyungsoo.

Suasana hati gadis itu sedang buruk belakangan ini. Kepasrahan sikapnya terhadap Kyungsoo, bukan berarti membuat Jisoo menelan begitu saja kekesalannya. Jisoo sengaja membanting, lalu mengunci pintu kamar setiap kali Kyungsoo berkunjung.

Pada hari pertama hingga ketiga, Kyungsoo rutin mengunjungi Jisoo. Pria itu bungkam sembari membereskan pigura foto yang sengaja dipecahkan Jisoo, memasak makanan kesukaan Jisoo, dan mengisi lemari pendingin dengan berbagai keperluan adiknya. Namun, pada hari keempat hingga ketujuh, Kyungsoo tak lagi datang.

Pada hari kedelapan, Kyungsoo juga tak menunjukkan presensinya. Jisoo mengintip melalui lubang kunci kamar, ketika seseorang memasuki apartemen. Gadis itu hanya mendapati Bibi Lee, asisten rumah tangga Keluarga Do. Lantas membuat si gadis mendengus kecewa.

Jisoo meremas ponsel yang berada di genggaman. Andai saja dalam situasi normal pasti Jisoo sudah mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan keadaan Kyungsoo. Tidak biasanya Kyungsoo menghilang tanpa memberikan kabar pada Jisoo. Walaupun masih marah pada pria itu, tetap saja timbul kecemasan di dalam hatinya.

Jisoo melempar ponselnya. “Aku tidak peduli.” Gumam gadis yang masih mengenakan gaun tidur. Berkebalikan dengan bibirnya, tubuh Jisoo lebih jujur. Ia mulai terisak pelan.

Hati Jisoo sedang menderita. Dua pria paling penting dalam hidupnya, membuat dirinya terluka. Jongin juga berhenti menghubungi Jisoo, hubungan mereka terputus. Sedangkan, Kyungsoo―Jisoo tak mengerti apa yang harus ia lakukan pada pria itu. Di mata Jisoo, Kyungsoo berubah sangat asing. Jisoo seperti tak pernah mengenal Kyungsoo, terlalu banyak hal yang disembunyikan sang pewaris Keluarga Do.

“Nona Muda,” panggilan dari balik pintu membuat Jisoo menghapus peluh. “Makan pagi Anda sudah siap. Anda harus makan, Nona. Anda belum makan apa pun sedari kemarin malam.” Lanjut Bibi Lee, setelah tak mendapatkan sahutan dari Jisoo.

Sementara si gadis yang terduduk di ranjang hanya bergeming. Ia tak ingat kapan terakhir kali dirinya makan dengan benar. Beberapa hari ini Jisoo mengkonsumsi makanan ringan dan air soda yang ada di lemari es. Jisoo tak menyentuh apa pun yang dibuatkan Bibi Lee untuknya.

“Saya pamit, Nona. Saya harus pulang ke rumah besar.” Ucap Bibi Lele, beberapa menit kemudian.

Lagi-lagi Jisoo tak membalas. Bibi Lee akan datang lagi pada tengah hari nanti untuk menghidangkan makan siang dan malam. Setelah itu, si gadis yang bersurai coklat madu itu dibiarkan kesepian kembali, tinggal sendiri di sana.

“Saya harap Anda bersedia menemui saya, Nona.” Bibi Lee, kembali mencoba mengajak Jisoo bicara dari balik pintu. Tersirat kesedihan dari intonasi suara wanita yang telah merawat Jisoo semenjak bayi itu.

Jisoo menghela napas. Perlahan kakinya melangkah menuju engsel pintu. “Bibi, aku baik-baik saja.” Kata si gadis, kemudian membuka daun pintu yang menghubungkan kamarnya dengan ruang santai.

Bibi Lee berdiri di hadapan Jisoo.

Bibi Lee adalah wanita berparas keibuan, surainya sudah mulai memutih, dan tak lebih tinggi dari Jisoo. Wanita berusia lima puluh tahun itu mengenakan seragam pelayan Keluarga Do. Bibi Lee tersenyum penuh kelegaan, ketika mengetahui Jisoo bersedia keluar dari kamar.

“Lihat Bibi, aku baik-baik saja.” Bisik Jisoo, ia mulai menangis sembari beranjak memeluk Bibi Lee.

Wanita itu menepuk punggung Jisoo dengan lembut. Ia menenangkan gadis yang telah dirinya anggap sebagai putrinya sendiri. “Menangislah, Nona. Menangislah sampai seluruh duka Anda meluruh. Setelah ini, semuanya akan baik-baik saja.” Hibur Bibi Lee.

“Tidak perlu khawatir, Nona. Tuan Muda baik-baik saja.” Ungkap Bibi Lee ketika mereka duduk di meja makan. Wanita itu meyakinkan dengan membelai punggung tangan Jisoo.

“Aku tidak peduli padanya.” Timpal Jisoo, berusaha menyembunyikan kelegaan.

Bibi Lee tersenyum maklum. “Tidak ada hal apa pun yang membuat Anda khawatir, selain Tuan Muda. Anda sangat mudah menangis jika merindukan Tuan Muda.”

Jisoo ikut menarik sudut bibir yang lama kaku. “Itu dulu sewaktu aku masih kecil. Sekarang, sudah tidak lagi.” Si gadis menghela napas panjang, setelahnya ia melanjutkan ucapannya. “Dulu aku hanya perlu menangis, masalah akan selesai. Sekarang, semuanya terasa rumit. Aku dan perasaanku.”

“Tidak rumit, Nona. Anda hanya perlu jujur pada apa yang Anda rasakan.”

“Bibi Lee, aku terlalu bingung untuk memutuskan apa yang kini kurasakan,” balas Jisoo.

“Mungkin ini akan membantu Anda memutuskan. Seharusnya, saya dilarang untuk memberitahukan hal ini kepada Anda. Tuan Muda mengalami kecelakaan lima hari lalu, ia sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Apabila, Anda ingin menjenguknya―”

“―Apa?” Jisoo memotong penjelasan Bibi Lee. Ia berdiri dari duduknya. “Bagaimana keadaannya, Bibi? Apa Kyungsoo baik-baik saja?” Lanjut Jisoo.

“Anda harus melihatnya sendiri.” Jawab Bibi Lee.

Jisoo menatap sedih pria yang berbaring di ranjang rumah sakit. Nampak beberapa luka di paras Kyungsoo. Tangan kanan si pria patah, hingga harus disangga. Bagian kening Kyungsoo dibalut perban.

Pria itu masih tertidur pulas, walaupun sudah siang hari. Dokter mungkin sengaja membiusnya sebab Kyungsoo memaksa untuk terus bekerja. Kertas berserakan di samping ranjang, bukti bahwa pria itu jauh lebih mementingkan perusahaan daripada kesehatannya sendiri.

Jisoo meremas lembut jari Kyungsoo yang tak terluka. “Kenapa tidak memberitahuku?” tanya si gadis, lirih. “Apa kau pikir, aku tak lagi peduli padamu, begitu?” tanya Jisoo pada keheningan.

“Bukannya kau masih marah?” Suara Kyungsoo mengisi sepi yang ada. Pria itu membuka kelopak mata. Ia menatap Jisoo yang duduk di dekatnya.

Bibir Jisoo enggan langsung menjawab. Gadis itu sedikit kaget, dirinya mengira Kyungsoo sedang terlelap. “Kau seharusnya tidur.” Ucap Jisoo, setelah beberapa sekon berlalu.

“Bagaimana aku bisa tidur jika kau terus menangis? Berisik.”

“Maaf,” sesal Jisoo lantas mendapatkan senyum dari Kyungsoo.

“Sudah tidak marah lagi?” tanya si pria yang masih tak ingin mengenyahkan tatapannya pada gadis bergaun biru muda itu.

“Tentu saja,” timpal Jisoo.

“Maaf.” Ujar Kyungsoo, sembari berusaha duduk. Ia mengernyit kesakitan dalam upayanya.

Si gadis panik, “Jangan duduk nanti sakit, berbaring saja.”

“Aku akan kembali tidur kalau kau mau menemaniku.” Pinta Kyungsoo. Pria itu menepuk ruang kosong yang tersisa di samping kiri. Ranjang tempat Kyungsoo dirawat memang cukup untuk dua orang.

Jisoo menurut. Ia berbaring menghadap Kyungsoo. “Aku melakukan ini bukan berarti sudah memaafkanmu.”

Tawa beralun riang dari bibir Kyungsoo yang terluka. “Aku tahu, kau sangat susah untuk memaafkanku.” Kata Kyungsoo, ia kembali memejamkan mata ketika jari-jari Jisoo membelai wajahnya.

“Rasanya pasti sangat sakit.” Gumam Jisoo, tertekan. Manik mata si gadis menatap lekat pria yang berada di sampingnya.

“Sudah tidak sakit.”

Jisoo cemberut. “Siapa yang melakukan ini?” tanyanya.

Kyungsoo tak langsung merespons. Ia mengatupkan bibir.

“Mobilmu hampir jatuh ke tebing. Aku yakin Do Kyungsoo tidak berniat untuk bunuh diri,” ujar Jisoo yang berusaha meredam emosi. Merasa tak mendapatkan tanggapan si gadis berucap lagi. “Katakan padaku, kakak. Aku ingin tahu.”

Kyungsoo membalas tatapan Jisoo dengan tajam. “Tentu saja tidak. Ada sekelompok orang yang berniat buruk padaku.” Ia menghembuskan napas. Jarinya yang bebas mengusap surai Jisoo.
“Siapa?”

Kyungsoo menyembunyikan ekspresi dalam kernyitan luka. “Menurutmu, siapa yang akan diuntungkan jika seorang Do Kyungsoo lenyap?” Si pria menguraikan jawaban dengan pertanyaan.

Ekspresi Jisoo mengeras. “Paman Kim.” Jawab gadis itu, lalu terbangun. Ia meraih mantel cokelatnya yang tersampir di kursi. Kaki Jisoo melangkah lebar meninggalkan ruang inap, tak mengindahkan panggilan Kyungsoo.

“Do Jisoo!” Seru Kyungsoo, berusaha berdiri, namun tubuhnya kembali terhempas ke ranjang. “Alex!” Pria itu kembali berteriak.

Pria kekar berjas hitam masuk ke dalam ruangan, memenuhi panggilan Kyungsoo. “Iya, Tuan Muda.”

“Ikuti Do Jisoo, pastikan dia aman.” Perintah Kyungsoo.

Pengawal itu pun mengangguk singkat, kemudian undur diri.

Kyungsoo memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing. “Berengsek.” Umpat pria itu, bibirnya mengerang kesal.

Jisoo sampai di depan gedung megah yang memiliki dua puluh lantai. Ini bukan pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke salah satu anak perusahan Keluarga Do yang dikelola oleh Keluarga Kim. Gadis itu pun tak mengindahkan petugas keamanan yang memanggilnya atau karyawan yang menatapnya penasaran.

Pakaian yang membalut tubuh Jisoo memang terlalu santai untuk berkunjung ke sebuah perkantoran elit. Jisoo hanya mengenakan gaun pendek selutut yang sudah dipakainya dari kemarin dan mantel cokelat yang kusut. Apalagi surai Jisoo yang tergerai dan awut-awutan, tak menunjukkan kesan elegan.

Jisoo keluar dari lift yang membawanya sampai ke lantai tujuh belas. Setelah itu, si gadis disambut wanita berusia awal tiga puluhan yang menunjukkan kebingungan. Wanita itu dibalut atasan merah muda dan rok di atas lutut, tampak menarik.

“Nona Do Jisoo.” Ucap wanita yang dikenali Jisoo sebagai sekretaris pamannya.

Jisoo memalingkan paras, lalu menatap tajam lawan bicaranya. “Aku ingin bertemu paman, sekarang.” Ujarnya, dingin.

“Tapi, Direktur Kim sedang rapat dengan―tunggu nona Anda tidak diizinkan masuk.”

Permintaan sang wanita hanya dianggap angin lalu oleh Jisoo. Ia tetap memaksa masuk.

“Kalian memang parasit.” Koar Jisoo, ketika pintu ruang kerja Direktur Kim terbuka.

Lantas menarik perhatian Kim Junghee, Kim Jongin, dan tiga direktur lain yang sedang berbincang serius mengelilingi meja panjang oval. Ruangan Direktur Kim memang tidak seluas tempat kerja Kyungsoo, namun tetap mengesankan dengan dinding cokelat muda dan jendela yang memaparkan Kota Seoul di sore hari.

Jisoo mendekati meja itu.

Bisik-bisik para direktur berdengung mengisi ruangan, ketika si gadis meraih cangkir salah satu anggota rapat. Semua orang tertegun di kursinya, saat Jisoo menyiramkan isi cangkir tepat ke wajah Kim Junghee.

“Parasit! Apa kau ingin membunuh kakakku?” Pekik Jisoo.

Kim Jongin yang pertama kali tersadar atas kekagetannya langsung membentak Jisoo. “Kim Jisoo, apa yang kau lakukan?” Pria itu menarik Jisoo menjauh dari Direktur Kim.

“Lepaskan aku, Kim Jongin. Jangan menyentuhku. Kau dan ayahmu adalah pria hina. Ayahmu berniat membunuh Do Kyungsoo. Aku yakin kau juga tahu itu―“

“―Gadis tidak tahu diri.” Kim Junghee hendak menampar Do Jisoo. Namun, tangannya ditepis oleh Jongin, sebelum menyentuh paras Nona Muda itu. “Gadis liar tidak tahu aturan ini, tak pantas menginjakkan kaki di ruanganku. Panggil keamanan, cepat!” si Pria paruh baya menunjukkan murkanya.

Paras Jisoo memerah, terdapat amarah yang memuncak di sana. Jisoo hendak membuka bibirnya lagi, tetapi Jongin menyeretnya terlebih dahulu untuk meninggalkan ruangan.

Pria itu menggenggam tangan Jisoo, enggan memedulikan teriakan bahkan perlawanan gadis yang sedang terseok-seok mengikuti lajunya. Jongin membawa Jisoo ke ruangannya. Sesampainya di sana, Jongin mendorong si gadis hingga terhempas ke sofa.

Jongin mengerang lelah. Ia meraup parasnya yang berkeringat. “Apa yang kau lakukan, Do Jisoo? Apa kau sudah gila?” Tanya Jongin putus asa.

Jisoo berdiri, berhadapan dengan Jongin. “Ayahmu mencelakai Kyungsoo. Dia berniat membunuhnya.” Jawab Jisoo.

“Tidak mungkin.” Sanggah pria itu, sembari menarik dasinya hingga terlepas.

“Kyungsoo ada di rumah sakit dia―“

“―Dengar Do Jisoo, dengarkan aku.” Potong Jongin, ia mencengkram sepasang bahu Jisoo. “Tidak ada yang bisa melukai Do Kyungsoo, kecuali jika dia memang benar-benar ingin. Kyungsoo memiliki kekuasaan yang bahkan kau tidak bisa membayangkan seberapa besar itu.”Lanjut Jongin.

Jisoo membuang muka. “Kau berusaha memengaruhiku, parasit?” tanya gadis itu penuh hinaan.

Jongin mempererat cengkraman pada bahu Jisoo, membuat si gadis mengernyit kesakitan. “Berhenti memanggilku parasit karena kita sama. Kau juga tidak memiliki hak apa pun atas kekayaan Keluarga Do dan kau menikahi Kyungsoo hanya untuk mendapatkan uang.” Pria itu menarik napas, berusaha menenangkan diri. Jongin membelai pipi Jisoo dengan lembut. “Kau dan aku dapat menjadi rekan yang baik karena kita sama-sama seorang parasit.” Sambung si pria, kemudian tersenyum tipis. Jongin menyelami manik Jisoo.

“Lepaskan aku. Aku tidak seperti dirimu.” Gadis itu menimpali dengan sengit.

“Matamu itu Do Jisoo tidak pernah bisa berdusta.” Jongin melepaskan kungkungannya pada tubuh si gadis.

“Tutup mulutmu, Kim Jongin.” Sela Jisoo, sebelum meninggalkan ruang kerja Jongin.

“Baru dua jam berlalu dan rekaman CCTV Nona Muda yang sedang menyerang Direktur Kim sudah tersebar, Tuan.” Lapor Alex, tangan kanan Kyungsoo.

Ucapan Alex lantas membuat Kyungsoo mengerang kesal. Situs berita online sedang berlomba untuk mengulas pertunjukkan yang dibintangi oleh petinggi Keluarga Do dan calon istri dari sang pewaris. Sialnya, pihak Jisoolah yang terlihat bersalah―atau memang benar adanya begitu. Jelas, skandal ini adalah perbuatan Direktur Kim yang sengaja dibuat untuk menyakiti Jisoo.

“Segera bereskan. Ke mana gadis itu sekarang?” tanya Kyungsoo.

Alex menjawab, “Nona Muda sedang berada di apartemen.”

“Jangan biarkan Jisoo mengetahui segalanya. Pastikan wartawan tidak bisa menemukannya.” Timpal Kyungsoo. Pria itu mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan. “Panggil Kim Jongin ke mari.” Imbuh Kyungsoo.

“Tuan Kim sudah ada di depan, Tuan Muda. Beliau berniat mengunjungi Anda.” Jawab Alex.

Pintu ruang inap Kyungsoo terbuka, sosok jangkung Jongin melangkah mendekat. Jongin masih mengenakan setelan kantor, ketika tersenyum tipis ke arah Kyungsoo. Ia mengangguk singkat sebagai salamnya untuk Kyungsoo yang masih terduduk di ranjang.

“Bagaimana lukamu?” tanya Jongin.

Kyungsoo menatapnya tajam. “Tidak penting kita membicarakan hal itu. Apa yang kau inginkan?” Balas Kyungsoo.

Jongin mengubah raut menjadi lebih serius. “Kau tentunya sudah mengetahui tujuanku. Skandal itu adalah awal pembalasan dari Direktur Kim. Dia enggan mentoleransi sikap Jisoo. Apalagi, video itu sudah diatur sedemikian rupa hingga menampakkan Jisoo yang bersalah.” Ungkap Jongin.

Kyungsoo berdeham merespons.

Jongin melanjutkan ucapannya, “Ini adalah rekaman yang asli. Lindungi Jisoo.” Pria itu menyerahkan MicroSD berserta tabung bening yang membungkus.

Kyungsoo tertawa sinis. Ia mencuri pandang pada benda itu. “Aku menolak.” Timpal Kyungsok datar.

Jongin menghela napas. “Jangan berperasangka buruk, soal Jisoo kita berada di pihak yang sama.”

“Aku menolak.”

“Do Kyungsoo!”

Kyungsoo memijat pelipis. “Jangan berteriak, kau membuat kepalaku semakin pusing. Aku bisa menyelesaikan masalah ini. Aku lebih berterima kasih, apabila kau mengawasi Direktur Kim dengan benar. Jangan biarkan pria tua itu menyentuh Jisoo, bahkan ujung surainya sekali pun.” Kyungsoo mengangsurkan MicroSD itu pada Jongin. “Jika aku menggunakan video asli itu, maka akan sangat kentara kau berada pada pihak Jisoo. Untuk saat ini peranmu hanya mengintai.” Imbuh Kyungsoo.

Jongin mengangguk mengerti. “Baiklah, aku harus pergi.” Katanya, kemudian beranjak keluar dari ruangan.

Selang beberapa sekon―setelah enyahnya Jongin, Kyungsoo membuka mulut. “Alex, sepertinya kita harus mengubah rencana.”

“Saya menunggu perintah Anda.” Ujar pengawal Kyungsoo.

“Menurutmu, harus kita apakan Nona Kecil itu?” Tanya Kyungsoo, sembari tersenyum miring―menampakkan seringai licik di parasnya.

Jisoo mengigil ketakutan. Tangisannya terdengar memilukan. Ia duduk memeluk lutut dan berusaha menutupi kemejanya yang sobek. Bercak-bercak merah membekas di sepanjang leher Jisoo. Ada setitik darah segar di ujung bibir. Surai Jisoo berantakan, ia baru saja menghadapi hal paling buruk yang pernah dialami seorang gadis berusia delapan belas tahun.

Kyungsoo berdiri di hadapan Jisoo, memindai apartemen yang berantakan dan tubuh yang terkapar bersimpah darah itu. Dia tak henti-hentinya mengerang murka. Revolver yang berada di tangan Kyungsoo menjadi saksi bisu kejadian yang menyulut amarah pewaris keluarga Do tersebut.

-Bersambung-

a/n:

Advertisements

141 thoughts on “[6] Undercover Marriage

  1. Kyungsoo jahat?
    Tidak mungkin andwaeeeee
    Makin penasaran kak ini jalan ceritanya kagak bisa ditebak, nexttttt kkak semangat

  2. Tuh kaaannn bener ….aku ga bisa menebak arah ceritanya jadi bikin semakin penasaran soalnya belom jelas nih mana yang jahat mana yang baik….jangan lama lama ya authornim
    Keep writing ….authornim

  3. Sepertinya kyungsoo punya karakter tersembunyi yg susah ditebak. Dia itu ja
    hat atau baik…masih ambigu banget. Bisa bisa do jisoo lah poin utama kisah ini.
    Ending part ini bikin menganga.

  4. Entahlah gue bingung nebak alur . .. yg pasti kayanya d.o atau jongin dalangnya deh .. atau malah d.o yg punya muka dua … hah
    … di tunggu next nya

  5. jongin kayanya baik tapi gataudeh gimnaa wkwk gabisa nebak alur cerita kakak penuh kejutan soalnya,wjwk
    anzing itu jisoo knpaaa?!!
    siapa yg gituin? astagah aku penasaran
    cepat lanjut kak, manggat ngetik ngetik ceritanya kak titis^^
    kuharap bukan kyungsoo yg gituin jisoo

  6. what the hell !! what’s going on??!! *alay* jisoo knpa? dio oppa juga knpa? jngan2 dio punya niat jahat? ugh aku jadi penasaran ditunggu next chapternya kak

  7. Ditunggu next chapter, kak, mian baru bisa ninggalin jejak , soalnya emailku valid teruss~~ TT
    Eh, boleh kasih sedikit saran, min? Sebenarnya karakter Jisoo itu bikin aku bingung sbg pembaca, soalnya terkadang Jisoo bisa jd ceria, sinis, kuat, rapuh, *miansok Tp DO-nya kereeennnnnn huaaa ngga kuat saya sm cwo imut satu itu.
    Semangat terus!~ ^^

  8. makin lama makin seru thor, kyungsoo nya kok jahat kok berubah 😭😭? kasian jisoo nya ktanya cinta tpi kok begitu, btw ditunggu next chapternya ya thor, sekali lagi kenalin aku reader baru disini, salam kenal ✌✌☺☺

  9. AAAAAAA ITU JISOO KENAPAA;;-;;
    Kyungsoo ngapaiinn:((
    Jangan2 kyungsoo ngelakuin kekerasan ke jisoo??:((
    Sebenernya kyungsoo baik apa jahat sih:((
    Ditunggu next chapter ya kak!!
    Semangat melanjutkan ffnya kaak!!^^9

  10. Sudah, saya sudah meninggalkan jejak. Aduh, Kakak bener-bener protektif sama ff-nya. Ya, nggak heran sih, aku juga bakal kayak gitu kalau karyaku nggak dihargain. Oh ya, Jisoo habis diapain Kak?

  11. Jisoo berdarah dio yg buat?
    Terus jongin kenapa bisa di tim yg sama dg kyungsoo?
    Terus, “apa yg hrs kita lakukan pada nina kecil itu?”, ini maksudnya dio mmg memperalat jio aja ya?
    Lanjut kak!!

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s