The Mark’s Bar

Bar-600x450

“I just need to check that you’re doing well.” ―White Noise, EXO

Baekhyun as Benedict Oakley

-oOo-

Kawasan Rivington Street selalu ramai dengan pejalan kaki. Walaupun, air hujan masih berbekas di jalan-jalan yang mengarah ke jantung kota London, hal itu tidak mengurungkan pengunjung Mark’s Bar singgah di bangunan nomor 68 tersebut. Termasuk Benedict Oakley, si pecandu berat Sazerac Cocktail yang rela menembus hujan demi segelas minuman.

Seperti sebelumnya, Benedict―pemuda yang mengisi waktu luangnya dengan bekerja paruh waktu sebagai fotografer itu―memasuki bar. Tak ada yang istimewa, terlalu biasa. Pupil hitamnya memindai seisi ruangan untuk menemukan sofa yang pas, biasanya di dekat jendela paling besar. Sayangnya, tempat favoritnya itu sudah dimiliki oleh orang lain. Niat Benedict yang urung, kembali muncul saat menyadari siapa yang mencuri kursinya.

Benedict mengulas senyum, mengenali gadis yang tengah merenungi jendela. Perlahan-lahan kakinya mengayun menuju  hal yang masuk ke dalam daftar pelipur laranya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sue Griffith menghitung setiap tetes air yang meluncur dari jendela. Dia sudah bosan, tiga jam berada di bar ini dan tidak menemukan sesuatu yang dapat menghibur. Sue menghela napas, aroma alkohol tercium, gadis itu tidak mabuk―hanya separuh saja.

“Griffith,” panggil seseorang yang lantas membuat Sue terlonjak dari kursi.

Sue mengerjapkan mata, tak percaya, setelah tahu siapa yang tiba-tiba mengoarkan namanya dan sekarang duduk di hadapannya. “Hai Ben,” sapa Sue, kentara keceriaan palsu berusaha diselipkan. Ia tersenyum kecut. “Konyol sekali, saat seseorang memanggilku Griffith. Mereka seperti berteriak ‘Si Rambut Merah’,” lanjut si gadis, dalam hitungan sekon parasnya berubah cemberut.

“Well, sama halnya dengan Oakley―“

“―Kayu Oak!” seru Sue. Tawa yang dibuat-buat menggelegar dari bibir tipis Sue. Jarinya meraih tergesa apa pun yang berada di atas meja. Dia hendak meminum lagi segelas penuh alkoholnya.

Gerakan Sue kalah cepat dengan pria yang mengawasinya itu. Ben merebut minuman Sue. “Sudah cukup mabuk, jangan minum lagi.” Benedict memperingatkan.

Sue menarik salah satu ujung bibir, membentuk seringai. “Untuk ukuran gadis yang baru saja putus dengan kekasihnya, aku boleh mabuk sampai tidak sadarkan diri,” ucap gadis itu. Jari Sue menunjuk ke arah Benedict. Dia berusaha merebut gelasnya kembali.

Ben menegak alkohol itu hingga tidak tersisa, kemudian meletakkannya dengan keras ke atas meja. “You know our love would be tragic. Jadi, walaupun dilanjutkan pun sudah tidak ada faedahnya,” jelas Ben, “Kau harus segera melupakanku, mengerti?” lanjutnya.

“Melupakan semua hal tentang dirimu?”

Ben mengangguk.

“Aku ingin, Ben. Menemukan cinta baru, senyum baru, dan kekasih baru,” ujar Sue pilu.

Paras Ben mengernyit, ketika mendengar kesedihan dalam suara mantan kekasihnya. “Sudah satu minggu, Sue. Kau harus melanjutkan hidupmu,” hibur Benedict.

“The more time passes, the more I miss you, Ben,” gumam Sue.

Ben menghela napas panjang. “Kau harus bisa Sue sebab ini keputusanmu―“

“―Tidak! Waktu itu aku hanya murka. Terlau marah hingga enggan memikirkan apa jadinya diriku tanpamu,” sanggah Sue. Tangan Sue menggapai Ben seakan gadis itu ingin mencakar lawan bicaranya. “Mana mungkin aku bisa melupakanmu, kau ada di mana-mana. Sewaktu aku makan, mandi, ke kampus, mengerjakan tugas akhir, berjalan, dan―oh astaga―kau bahkan berada di Mark’s Bar di hari Kamis, biasanya kau kemari hanya hari Selasa. Pikiranku sudah tidak waras. Bayanganmu menghantuiku,” oceh Sue.

Benedict menyangga dagu. Lagi-lagi tersenyum simpul. Yeah, Ben merasa kegelisahannya satu pekan ini meluruh, setelah melihat Sue secara nyata berada di hadapannya. Ben pun tak menampik bahwa dirinya cukup senang bisa tersenyum lagi sebab tujuh hari belakangan ini, ia hanya memberengut.

“Lalu, kenapa kau berada di Mark’s Bar? Bukannya, Sue Griffith tidak suka suasana bar ini,” tanya Ben, penasaran.

Sue tertegun, selang dua sekon parasnya berubah sangat manis dengan lesung pipi yang muncul, ketika ia tertawa. “My memory goes back to the place I was with you,” jawabnya.

“Menarik,” timpal Ben singkat. Dia menatap tajam gadis itu.

Benedict menikmati pemandangan indah yang berwujud seorang gadis di hadapannya. Sekali lagi, berulang kali, Ben terpesona. Benedict tahu bahwa hatinya akan meluluh kembali, jika bertemu dengan mantan kekasihnya. Upayanya seminggu ini untuk melupakan si gadis hancur berantakan.

Pikirannya sedang merindukan rasa yang meletup saat dia menyentuh gadisnya. Refleks tangan Ben terulur untuk menyelipkan anak surai Sue yang berantakan. Indra perabanya berusaha mengingat kenyamanan yang biasa gadis itu tawarkan.

Sementara Sue mengatupkan netra, sebagai respons ketika Ben membelai rambutnya. “Lalu, kenapa kau memilih duduk di hadapanku?” Giliran Sue yang memberikan pertanyaan.

“I just need to check that you’re doing well,” ujar Ben, lembut.

“Aku sedang tidak baik-baik saja,” kata Sue, ia membuka kelopak mata, mempertemukan maniknya dengan pupil mantan kekasihnya.

“Aku tahu.”

“Aku tidak baik-baik saja karenamu, Ben.”

“Aku tahu.”

“Aku merasa bersalah karena memintamu pergi dari hidupku.”

“Aku tahu.”

“Aku menyesal sudah bertingkah konyol dan membuatmu kesal,” bisik Sue, sembari meremas jari-jari Ben.

“Aku tahu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tahu.” Benedict melepaskan tautan jari mereka.

Sue mulai meneteskan airmatanya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kemudian, Benedict mengecup jemari Sue.

“Aku juga mencintaimu, Sue Griffith. Tidak berkurang sedikit pun,” ucapnya. “Bagaimana kalau kita berpacaran lagi? Agar aku tidak perlu setiap hari berkunjung ke Mark’s Bar untuk memeriksa keadaanmu,” imbuh si pemuda.

Sue mengangguk, ia masih menangis, namun kini diimbuhi tawa.

-oOo-

a/n: Halo, terima kasih sudah membaca. Saya berharap, semoga tidak silent reader :). Kamu dapat meninggalkan komentar dengan cara klik di Track List.

Advertisements