The Princess of Pierrepont: Rebecca Park

20160816_154606

Previous:

The King of PierrepontThe Queen of Pierrepont

“I hope everything you want will come true.”  ―My Hero, Suho & dkk.

Pemeran

  • Park Chanyeol sebagai Oliver (Raja Pierrepont)
  • Irene Red Velvet sebagai Rebecca Park
  • Suho sebagai Marvin
  • Kai sebagai Leander Park
  • Jung Nara sebagai Lianna Park

-oOo-

Prolog

“Sejak kapan kau jatuh cinta padaku?”

“Sejak enam tahu lalu.”

“Enam tahun lalu?”

“Saya melihatmu enam tahun lalu, ketika ayahanda kita pergi berburu bersama, Ratuku. Kau melepaskan rusa buruan Raja Oliver dan Raja Kendrick. Rupanya, kau berbelas kasih tak hanya kepada rusa, namun juga merawat kedua saudaramu. Sejak saat itu, hatiku enggan menginginkan gadis lain, selain dirimu.”

Tersohor sudah pesona putri sulung sang pengusa Pierrepont itu. Gadis bersurai hitam yang senantiasa bermahkota perak, paras rupawan layaknya mawar yang sedang mekar-mekarnya, dan tubuh semampai berlekuk indah. Tak ada yang dapat menandingi kecantikan yang ditawarkan Rebecca Park. Bukan hanya fisiknya saja yang biasa dipuji, namun perangainya yang halus dan lembut, patut diimbuhkan sebagai nilai lain yang melekat pada sang putri sulung.

Biasanya Rebecca enggan meninggalkan senyum yang merekah pada bibir merah jambunya. Tetapi, semenjak sang ibunda tiada, ia layu. Si gadis pujaan seluruh penghuni Pierrepont itu pun kehilangan sinar hidupnya. Terasa berat beban yang berada di bahu Rebecca, banyak hal yang harus ditanggunya. Terlebih lagi, rasa bersalah yang bersarang pada hati tidak ingin enyah begitu saja.

“Maafkan saya, Ayahanda. Andai saja, saya tidak terus mengeluh atas takdir seorang putri, Ibunda pasti masih ada bersama kita,” ucap Rebecca, suaranya terputus oleh sedu sedan yang menyayat rasa. Rebecca bersimpuh di hadapan Oliver, Raja yang juga berduka atas kematian cintanya.

Oliver beranjak dari singgasana agung. Ia membantu Rebecca agar kembali berdiri. Sang raja mengahapus airmata yang mengalir di raut si gadis berusia delapan belas tahun itu. “Jangan merasa bersalah lagi, Putriku. Dengar, gaunmu bisa rusak dan kecantikanmu pun luntur jika kau menangis. Ibumu pasti tidak suka, bila putri kesayangannya berduka. Aku mengerti, hal ini teramat berat untukmu, apalagi perasaanmu yang sehalus sutra akan terus merasa terbebani. Rebecca, dirimu memang memiliki mata dan surai sepertiku. Namun, sifatmu yang baik serupa ibumu. Itulah yang membuatku bertahan dalam menghadapi musibah ini. Olivia tidak benar-benar meninggalkan kita. Sebagian dari dirinya, ada pada kau, Lea, dan Ann. Kalian hartaku yang paling berharga,” ungkap Oliver, lantas membuat putrinya tersedu dalam pelukannya.

Pelayaan tengah menyisir surai Rebecca, ketika pintu kamarnya terbuka tanpa peringatan. Ruangan luas itu terisi suara langkah kaki terburu-buru dari seorang gadis. Semua pelayan memberi hormat pada si putri bungsu yang manis. Rebecca pun tersenyum tipis, saat sang adik memeluknya dari belakang.

“Becca, belum-belum aku sudah merindukanmu,” ucap Ann. Ia menghela napas sejenak, lalu intonasinya berubah ceria. “Tapi, tidak apa-apa, kau akan menikah dengan raja yang baik hati.”

Rebecca menjetikkan jari, meminta pelayan untuk meninggalkan kamarnya. Gadis itu memutar tubuh agar dapat mengawasi raut Ann yang kadang menjahilinya. “Apa kau sudah bertemu dengannya?” tanya Becca.

Lianna Park mengangguk. “Sedari kedatangannya ke Pierrepont, aku kerap berbincang dengannya. Baru saja aku mengekori Lea untuk berlatih memanah dan Raja Whitelaw juga bergabung bersama kami. Dia teman Lea berburu,” jawabnya, sambil tersenyum lebar, menujukkan lesung pipi.

Rebecca berkacak pinggang. Ia menyentil hidung saudarinya yang lebih muda dua tahun itu. “Kau melanggar dua peraturan seorang putri, Young Lady,” ucap Becca, dibarengi dengan dengusan Ann. Namun, Becca tetap melanjutkan perkataannya, “Pertama seorang putri tidak diperkenankan berlatih memanah karena―”

“―karena itu akan mengurangi keanggunan. Memangnya, apa semua putri harus terlihat anggun?” potong Ann.

Rebecca melejitkan bahu. “Sedari kecil kita diajarkan untuk berperilaku anggun dan lembut. Termasuk, anggun dalam berpakaian. Kau seharusnya tidak menemui Raja Whitelaw dengan jubah kusut serta berlumpur seperti ini, Adikku. Itu menjadi kesalahan keduamu.”

“Lupakan kesalahanku tadi, Becca. Pertemuanku dengannya menguntungkanmu. Paling tidak aku bisa memberitahumu bagaimana paras dan perangai Whitelaw,” jelas Ann. Putri rupawan itu duduk di ranjang kakaknya. Ia menepuk ruang kosong di sampingnya, menandakan agar Rebecca turut singgah. “Apa kau benar-benar tak ingin berjumpa dirinya sebelum hari pernikahan?” tanya Ann.

Becca menuruti permintaan non-verbal si bungsu. “Aku tidak ingin berjumpa dengannya,” kata Becca, ada kemuraman di sana.

“Besok kau akan menikah dengan raja itu. Baiklah, jika dirimu tidak ingin bertemu dengan Whitelaw. Aku akan menceritakan pengamatanku terhadapnya kepadamu,” putus Ann.

Rebecca enggan menjawab. Ia hanya membuang muka, pura-pura tidak tertarik.

“Raja Whitelaw ialah pemuda yang tampan. Dia memiliki surai dan pupil bewarna cokelat keemasan. Kulitnya putih seperti milikmu. Dia pemanah yang hebat. Sewaktu aku bercerita mengenai kegemaranmu―“

“―Oh kau seharusnya tidak membicarakan diriku―“

“―Dia juga menyukai sastra, melukis, dan musik, sepertinya selera kalian serupa. Cara bicaranya bijaksana serta cerdas. Raja Whitelaw merupakan pria yang teramat patut bersanding denganmu. Kakak, berjanjilah padaku, kalian akan saling mencintai,” ungkap Ann. Jari-jarinya meremas pelan jemari Becca. Tatapannya terpaut dengan putri sulung itu. Ann sedang khawatir. Dia memang terlalu muda untuk memahami kegundahan Rebecca sebagai putri tertua. Lianna separuh mengerti jika keturunan sang raja diwajibkan untuk menjalin ikatan dengan keluarga kerajaan lain. Namun, dia tahu benar apabila kakaknya memandang pernikahan ini sebagai sebuah kutukkan yang merenggut sang Ibunda dan menjauhkan dirinya dari Pierrepont. Ada kesedihan yang berusaha disembunyikan oleh Rebecca, Lianna mengerti itu.

“Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum kulalui, Adikku,” balas Becca. Ia membelai wajah sang adik yang sendu.

“Kau selalu mengabulkan apa pun keinginanku, Becca. Bisakah aku meminta satu hal padamu? Terakhir kali sebelum kau pergi dari kerajaan ini dan tinggal bersama raja barumu.” Lianna mengakhiri ucapannya dengan cicitan yang teramat pelan.

“Apa keinginanmu, Ann?” tanya Rebecca penuh kasih sayang.

“Aku ingin kau selalu bahagia,” ujar Lianna, kemudian menghambur ke pelukkan kakak sulungnya.

Rebecca tersenyum. Putri bergaun merah muda itu mengusap punggung adiknya, memberi ketenangan. “I hope everything you want will come true,” bisik Becca, hati kecilnya turut berharap.

Tebing itu masih sama, seperti terakhir kali Rebecca berkunjung ke sana. Daerah kesukaan Becca yang berada tepat tiga ratus meter dari istana. Dari tebing itu netra sang putri disuguhkan pemandangan indah yang merangkum Sutherland. Langkah kakinya melambat, saat ia berada di ujung. Angin sepoi-sepoi, menggoyangkan gaunnya.

Rebecca menelaah langit sore yang bewarna oranye dan bersemburat merah, matahari akan tenggelam. Becca merasakan sesak napas, saat menyadari bahwa mungkin ini menjadi terakhir kalinya ia dapat menikmati pesona Pierrepont.

Satu jam lamanya sang putri merenung. Lambat laun terdapat dorongan hati yang berbisik kepadanya untuk terus melangkah dan menjatuhkan diri dari tubir. Ia ingin terbang bersama angin. Becca menginginkan kebebasan dan melepas segalanya. Seandainya saja dirinya lebih egois. Rebecca perlahan menyesal, betapa mulianya dia, sehingga harus mengemban tugas menjadi putri dari sebuah kerajaan.

Benaknya terus melalang buana, hingga tak sadar bahwa kaki jenjang si gadis terus melangkah menuju bibir jurang. Rebecca menatap lurus, pandangannya kosong. Tinggal dua pijakkan sebelum Rebecca memenuhi suara mistis yang merayu untuk menyerahkan diri pada kematian.

Hingga tapak kaki kuda berlari mendekati Rebecca. Seorang pemuda memakai atasan putih, meraih tangan Rebecca, sehingga tubuh si gadis berbalik menjauhi bibir jurang.

“Tuan Putri, apa yang Anda lakukan?” tanya pemuda itu, lalu melepaskan cengkramannya pada Rebecca.

Rebecca terkejut. Benaknya masih memproses, apa yang sedang terjadi. “Apa yang sedang kulakukan?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.

“Anda seakan ingin terjun dari tebing itu,” simpul si pemuda bersurai cokelat. Ia memindai tubuh Rebecca dengan tajam melalui pupil hazelnya, memastikan bahwa gadis di hadapannya tak tergores.

“Astaga, diriku terpikat oleh kematian yang ditawarkannya,” bisik Rebecca. Sang putri membalas si pemuda. Ia tersenyum menghibur pada lawan bicaranya yang nampak cemas. “Terima kasih sudah menyelamatkanku. Siapa kau? Pakaianmu tidak seperti pengawalku,” imbuhnya. Rebecca berjalan melewati sang pemuda yang terlihat berusia sebaya dengannya. Gadis itu menuju kuda putih yang menunggu di belakang sang pemuda.

Pemuda itu mengikuti langkah Rebecca. Tubuhnya yang jangkung, berdiri mengawasi ketika sang putri membelai kuda putih itu.

“Lucas,” sapa Rebecca pada kuda putih yang gagah dan berpelana kulit yang mengkilap.

“Dia yang membawa saya kemari, nampaknya kuda itu mengenali tuannya yang sedang kesulitan,” timpal si pemuda.

Rebecca sekali lagi menarik ujung bibir. “Ini kuda kesayangan Pangeran Leander. Kau pasti penjaga Lucas yang baru sebab aku tidak pernah melihatmu,” ujar Becca.

Si pemuda berpikir sejenak, kemudian mengangguk. “Bisa dibilang seperti itu,” jawabnya santun.

“Siapa namamu?” tanya Rebecca.

“Marvin,” ujarnya singkat, sembari sibuk meraih sesuatu yang ada pada tas pelana kuda. Marvin mengeluarkan sepatu yang terbalut permata, lalu meletakkan di hadapan sang putri. “Anda terlalu sibuk berpikir, hingga meninggalkan alas kaki yang indah ini,” kelakar Marvin. Ekor mata pemuda itu mencuri pandang pada kaki Rebecca yang terluka.

“Terima kasih sekali lagi. Aku berhutang banyak padamu hari ini.” Rebecca berujar, ketika Marvin bersujud di depannya untuk membantu Rebecca mengenakan sepatu itu.

Marvin kembali menegapkan tubuh. Aura kehormatan terkuar pada diri pemuda itu. Walaupun ia tetap mengawasi sang putri, namun enggan melupakan kebaikan perangainya. “Putri Rebecca, sebaiknya Anda kembali ke kastil sebab pengawal mencari Anda sedari satu jam yang lalu,” tawar Marvin. Pemuda rupawan itu menambahkan perkataannya, saat melihat Rebecca hendak merajut langkah lagi. “Lucas akan sangat berpuas diri apabila diberi kesempatan untuk melayani Tuan Putri Pierrepont,” sambung Marvin, sembari mengulurkan tangan, membantu Rebecca naik ke atas kuda.

“Ini pertama kalinya aku melanggar perintah sebagai seorang putri,” ucap Rebecca kepada Marvin yang berjalan di samping Lucas dan dirinya.

Marvin menggiring kuda itu, tidak terlalu cepat. Ada tanda-tanda bahwa dirinya ingin menghabiskan beberapa menit lebih lama dengan putri yang terkenal dengan aroma memikatnya. “Apa saja pertauran yang telah Anda langgar, Yang Mulia?” tanya Marvin suaranya tegas.

“Melarikan diri dari penjagaku, menunggang kuda, dan berbicara dengan seorang pria asing.”

“Maafkan saya yang menjadi penyebab dari pelanggaran Anda―“

“―Tidak apa-apa, aku senang melakukannya, Marvin. Ann selalu berkata padaku, peraturan ada untuk dilanggar dan ini hari terakhirku di Pierrepont. Aku melakukan semua hal yang belum pernah kulakukan, salah satunya melanggar aturan seorang putri.” Kesedihan terkoar ketika Rebecca memotong ucapan Marvin.

“Apa Anda membenci Whitelaw? Whitelaw adalah negeri yang indah, mungkin Anda nanti merindukan Pierrepont. Namun, perasaan itu akan terobati dengan kerupawanan Whitelaw,” jelas Marvin. Pemuda itu menatap Rebecca yang menampilkan raut berpikir.

“Apa kau pernah berkunjung ke sana?”

“Ya, Tuan Putri.”

“Ceritakan padaku mengenai Whitelaw.”

“Whitelaw terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Quiteria sebagai area untuk keluarga kerajaan dan Purvance sebutan bagi daerah pemukiman serta produksi. Semua rakyat dan anggota keluarga kerajaan tidak ada bedanya. Mereka mengenakan pakaian putih, tanda persamaan. Sang raja pun terkadang enngan mengenakan mahkota sebab dia tidak ingin dikenal karena kedudukan, melainkan kecakapannya.” Marvin merangkum penjelasan itu dengan begitu epik. Ia juga menguraikan apa saja yang terjadi di kerajaan yang terletak di utara Pierrepont itu dan bagaimana sikap rakyat terhadap Raja Whitelaw.

“Raja Whitelaw adalah pria yang baik hati,” simpul Rebecca. Ia mengehela napas sejenak, “Yang menjadi pertanyaanku ialah apa yang menyebabkannya berkenan menikah denganku?” lanjut sang putri.

Marvin tersenyum tipis. Ia berhenti menapaki jalan, begitu pun dengan kuda yang digiringnya. “Setiap pemuda pasti jatuh hati pada gadis yang penuh kasih seperti Anda, Putri,” jawabnya.

Rebecca tertawa pelan. Ada kepahitan dalam suaranya itu. “Pemikiranmu begitu sederhana, Penjaga Kuda. Dia menikahiku karena keinginan untuk mempeluas wilayah, sama dengan yang diharapkan dewan istana Pierrepont,” cecar Rebecca. Gadis itu memberi tanda agar mereka melanjutkan perjalanan.

“Raja Whitelaw akan berduka apabila mendengar ucapan Anda, Yang Mulia. Anda belum mengenalnya secara mendalam. Bisa saja ada kasih yang terselip dari semua kesepakatan itu sebab kedua belah kerjaan setuju tanpa ada paksaan―“

“―Jika dirimu tak memperkenalkan diri sebagai penjaga kuda Leander, aku pasti mengira kau bagian dari Kerajaan Whitelaw.”

Marvin enggan langsung menimpali. Pemuda itu membantu sang putri untuk turun dari pelana, saat pengawal datang menuju mereka. Ada sekitar tiga puluh orang yang terbagi menjadi dua bagian. Satu kelompok berjubah putih―pasukan dari Whitelaw dan kelompok lainnya mengenakan pakaian cokelat―kesatria dari Pierrepont.

“Yang Mulia,” ujar salah seorang perwira Whitelaw. Pria paruh baya itu membawa mahkota, jubah putih kerajaan, dan pedang bewarna perak. Dia membungkuk singkat pada Rebecca dan Marvin.

Betapa terkejut dan berdebar hati Rebecca, ketika Marvin menerima pedang dari sang perwira, namun tidak dengan mahkota dan jubahnya.

“Saya memang bagian dari Whitelaw. Sayangnya, saya bukanlah seorang penjaga kuda di sana. Tetapi, suatu kehormatan bila seorang penjaga kudalah yang mampu menarik perhatian Putri Pierrepont, kendati Raja Whitelaw,” ucap Marvin. Ekspresinya keruh, saat melanjutkan perkataannya, “Saya tidak mengira bahwa pernikahan ini membawa kesedihan bagi gadis yang saya cintai,” lanjut Marvin.

“Maafkan aku tidak mengenalimu,” bisik Rebecca. Si gadis tak dapat melepaskan pandangannya dari sang raja agung itu. Ia merasakan desiran aneh yang kian lama membuncah serta membuat dadanya sesak.

Senyum Raja Whitelaw tersungging, suara merdu Rebecca lebih dari cukup untuk membasuh rasa tersinggungnya. Ia meraih jubah kerajaan, lalu memakaikan pada Rebecca. Sang raja negeri yang adil itu menjaga Rebecca agar tak kedinginan.

Rona kemerahan muncul di paras Putri Pierrepont. Ia terdiam, seakan tubuhnya menjadi kaku. Rebecca berusaha bernapas dengan baik, ketika Raja Whitelaw membelai pipinya yang merah dengan lembut, tanpa melupakan kesantunan.

Setelah berpuas diri, Marvin meraih senjatanya, kemudian membuka sarung pedang. Digoreskan telapak tangan Marvin pada pedang itu―pengawal Raja Whitelaw hendak mencegah, tapi urung sebab tatapan Marvin meminta mereka enyah. “Saya memang tidak sanggup menarik perjanjian pernikahan kita. Namun, dengan darah ini―“

Jemari Rebecca memutus ucapan Marvin dengan menelangkup telapak sang Raja Whitelaw yang meneteskan darah. Gadis itu membelai lembut goresan panjang sebagai gambar penyesalannya.

“Tidak,” sela Rebecca. Ia mengigit bibir, gerakan refleks yang terpancar saat ada kegundahan dalam diri si gadis. “Kau tidak perlu menjanjikan apa pun padaku,” sambungnya, sembari mengecup punggung tangan Marvin. Lantas Rebecca berbalik, pergi meninggalkan sang raja bersama pelayannya yang paling setia.

“Kau terlihat sangat menawan, Becca,” puji Leander, ketika berjalanan beriringan dengan sang putri sulung. Mereka sedang menuju aula utama kerajaan untuk menghadiri pesta dansa sebagai penyambutan resmi kedatangan Raja Whitelaw.

Sebenarnya, Rebecca enggan hadir dalam perayaan itu. Namun, bujuk rayu Leander meruntuhkan niatnya. Bagaimana pun, Becca tidak ingin mengecewakan adiknya yang sudah bersusah payah menghadiahkan gaun sutra bewarna sebiru laut. Keraguan dalam rautnya perlahan pupus, ketika mereka memasuki ruangan.

Ada dua puluh anak tangga yang harus dituruni Rebecca untuk mencapai lantai dansa. Keindahan tempat itu langsung memanjakan matanya. Atap ruangan berbentuk setengah lingkaran dan dilapisi kaca, sehingga para tamu bisa menikmati hamparan bintang yang berkelip di langit malam. Luas platform dansa itu pun dapat menampung seribu orang dengan kursi yang ditata khusus bagi pemain musik.

Di anak tangga terakhir, Marvin telah menunggu kehadiran Rebecca. Pemuda itu tampak menawan dengan jubah bewarna putih serta mahkota senada. Marvin memahat paras ramah serta bersahabat. Ia tersenyum simpul, ketika meminta kesedian Rebecca untuk menari dengannya.

Lantas rona merah pun memoles pipi si gadis. Hatinya bergetar, ketika tangan Marvin terulur. Tanpa berpikir panjang, Rebecca membiarkan jemarinya bertaut pada jari Raja Whitelaw.

Para hadirin menjadikan mereka sebagai pusat atensi. Tepukan meriah mengiringi pasangan yang akan menikah esok hari ke tengah ruangan. Rebecca membungkuk singkat, saat pupilnya bertemu dengan Ayahanda―Raja Pierrepont.

Permainan biola mengawali alunan nada yang menuntun gerakan dansa antara Putri Pierrepont dan Raja Whitelaw. Betapa serasinya sosok mereka. Tubuh yang begitu pas terbingkai dalam gerakan. Siapa pun yang ada di pesta itu enggan mengenyahkan pujian dan pujaan bagi sepasang pria serta wanita itu.

Kendati demikian, ketika raga mereka menjadi satu dalam sebuah harmoni, baik Rebecca maupun Marvin hanya menyadari kehadiran satu sama lain. Dunia terlalu luas untuk dipikirkan. Benak mereka berfokus pada debar jantung yang terus terpacu.

“Saya bertanya kepada Ann mengenai Tebing Keputusasaan yang sore tadi kau kunjungi,” ujar Marvin mengawali pembicaraan, tanpa melupakan gerakan dansanya. Pemuda itu mempererat tangannya yang berada di pinggang sang putri.

Rebecca menyembunyikan malu dalam dentang tawa singkat. “Sejak kecil Ibunda selalu mengajakku ke sana.”

“Tebing itu hanya memikat seseorang untuk mengakhiri hidupnya, apabila orang tersebut merasa sendiri dan putus asa,” lanjut Marvin tanpa mengindahkan tanggapan Rebecca. Ia menghentikan langkah tarian. Pemuda itu menatap tajam si gadis, ada kegilasan yang bersemayan di netra Raja Whitelaw. “Mulai sekarang, ingatlah satu hal. Kau tidak sendirian, Rebecca. Aku tidak membiarkan kau merasa sendirian lagi,” imbuh sang Raja.

Napas lawan bicaranya berhenti sejenak. Ini pertama kalinya Marvin menyebut nama Rebecca tanpa gelar yang mengawali. Hal itu justru membuat hati sang putri hangat. Si gadis merasa bahwa keterikatan dirinya dan Raja Whitelaw lebih dari sekedar hubungan bilateral antara dua kerajaan.

“Terima kasih, aku nantinya dapat menjadi penghuni Whitelaw yang paling bahagia sebab perhatian Raja mereka hanya tertuju padaku,” kelakar Rebecca.

Marvin merespons ucapan mempelainya dengan mengecup jemari Rebecca. “Dan Raja Whitelaw pun berharap, mungkin sebentar lagi Putri Pierrepont akan jatuh hati padanya―“

“―Hal itu sudah terjadi,” potong Rebecca, senyumnya merekah bagai bunga mawar yang sedang cantik-cantiknya.

Epilog

Keesokan harinya, pernikahan megah pun terjadi. Untuk pertama kalinya Pierrepont menggelar kegembiraan, setelah kepergian sang Ratu. Seluruh keluarga kerajaan, bangsawan, dan rakyat bersuka cita. Semua kalangan diundang dalam perayaan yang berlangsung, baik di Pierrepont atau pun Whitelaw.

Rebecca belum sepenuhnya jatuh hati dengan Raja barunya ketika itu, namun sering waktu yang berjalan sang putri sulung menjadi wanita paling bahagia.

Raja Whitelaw menganugerahkan mahkota terindah yang pernah dibuat oleh Kerajaan Whitelaw kepada sang Ratu. Kasihnya terbukti dari upayanya untuk mengubur keegoisan. Marvin Whitelaw memberikan pilihan bagi ratunya agar tetap tinggal di Pierrepont selama yang Rebecca inginkan. Raja Whitelaw tak sanggup memberikan duka pada cintanya sebab diharuskan meninggalkan Pierrepont. Namun, Rebecca yang kemulian hatinya tak diragukan justru menolak. Ratu Whitelaw enggan berpisah dengan suaminya. Rebecca menginginkan cinta terus bersemi dalam kehidupan barunya, walaupun butuh waktu yang lama.

Tiga tahun setelah pernikahan mereka, Ratu Rebecca melahirkan putra mahkota. Raja Whitelaw menamai sang pangeran Dominic Whitelaw yang memiliki arti pemegang kuasa. Dominic tak sekedar pewaris yang mengikat dua kerajan, namun juga menjadi bukti cinta yang terus berkembang antara Rebecca dan Marvin.

-oOo-

a/n:

  • Lumayan ngetik ini. Semoga kalian nggak bosen bacanya huhuhu. Awalnya sih, mau kubagi jadi beberapa part, tapi nanti pasti nggak keurus. Jadi, aku bagi jadi pernama anaknya Chanyeol. Nah, selanjutnya mau dibikinin ceritanya Leander ketemu Ariella atau Lianna ketemu Xerxes? Hehehe.
  • Aku lebih milih Lianna x Xerxes dulu. Sampai udah bikin moodboarnya :”).
  • Oh ya, kutunggu saran, komentar, dan koreksi kalian. Kolom komentar, saran, dan koreksi ada di Track List.
  • Terima kasih ya sudah baca^^.
  • Btw, EXO comeback. Suka banget sama lagunya, terutama yang She’s Dreaming.

20160816_233432

Advertisements