Untold Love: Love Birds

 

large (3)

Credit Moodboard: We Heart It

Previous:

Untold LoveUntold Love: I Hate YouUntold Love: I Can’t Handle It – Untold Love: I’m Sorry

“I tried to forget you, who didn’t love me.” ―Tell Me What is Love, D.O

-oOo-

Mungkin aku memang menyukai Do Kyungsoo, sedari awal. Aku juga mengagumi perangainya dan cara dia memperlakukan diriku. Aku mendapatkan perhatian yang besar dari Kyungsoo dari dulu sampai sekarang. Hidupku berjalan bersisihan dengannya. Aku tumbuh bersamanya. Aku terbiasa akan tubuh, raut, aroma, dan segala hal tentang Kyungsoo. Itu membuatku nyaman, sekaligus merasa tolol.

Kyungsoo menjadikan diriku tak dapat memahami apa yang sedang kurasakan.

Apa aku sedang jatuh cinta?

Apa ini hanya perasaan saling tergantung?

Apa aku menginginkan Kyungsoo karena dia bisa kumanfaatkan?

Apa aku melihat Kyungsoo sebagai pria?

Apa aku benar-benar cemburu atau hanya tak ingin berbagi?

Apa aku berhak jatuh cinta padanya?

Apa dia mengijinkan diriku untuk mencintainya?

Apa dia akan menyakitiku seperti pria berengsek yang lain?

Dan pertanyaan itu semakin lantang terbesit dalam benakku, saat Kyungsoo berada di dekatku lagi. Setelah satu bulan aku berusaha meredam dan menenangkan diri. Hatiku lagi-lagi bimbang, ketika pemuda itu mengawasiku. Aku merasa semua baik-baik saja, namun sebenarnya tidak. Sayangnya, Kyungsoo tahu―pemuda itu selalu mengerti segala hal mengenai diriku dan apa yang sedang kupikirkan. Alasan itulah yang membuatnya angkat bicara.

“Bagaimana kabarmu?” ucapnya lembut, serupa sepoi angin yang menggelitik telinga. Kyungsoo menatapku dengan tajam, seperti yang biasa dirinya lakukan.

Aku tersenyum, mengeluarkan kebiasaanku apabila terlalu gugup. Malam ini di apartemen Joonmyun hanya ada kami. Berdua dengannya duduk di bar mini kakakku yang letaknya dekat dapur. “Tidak terlalu baik, tapi di sini menyenangkan. Aku mendapatkan teman baru,” jawabku berusaha meredam diri untuk mencurahkan segalanya.

Kyungsoo menghela napas panjang setelah mendengar penjelasanku. Pria itu meminum sloki yang berisi wine. “Teman baru,” ulang Kyungsoo. Netranya berpindah dari mengamatiku menjadi mengawasi cermat lukisan yang tergantung di dinding dekat kami. “Kau terlihat cantik di lukisan itu. Meskipun dirimu memang selalu rupawan di mataku,” lanjutnya.

Aku dapat merasakan pipiku memanas. Aku tersipu, sebenarnya ini bukan pertama kalinya. Belasan tahun berkawan dengannya menjadikan diriku sebagai objek pujaan pemuda itu. Biasanya, aku hanya menganggap kalimat manisnya sebagai hal yang tak berarti. Akan tetapi, setelah satu bulan runguku hanya mendengar kehampaan, pujian itu lebih mendebarkan.

“Terima kasih, Mr. Do. Ternyata ada satu lagi pria, selain dirimu yang bisa melukis parasku ini,” aku menimpali.

“Apa dia teman barumu itu?” Kyungsoo bertanya. Intonasi suaranya berubah, Ia tak lagi terdengar ramah.

Aku mengangguk, sembari menandaskan minumanku yang tinggal separuh.

Sekali lagi Kyungsoo menjungkitkan senyum. Dingin. Rautnya layaknya air yang beku tiba-tiba. Ada sesuatu yang memancing kerutan dahi Kyungsoo. Sempat terbesit dalam pikiranku jika pemuda itu sedang merasa terancam.

Kendati demikian, ekspresi itulah yang mendorong diriku agar bercerita lebih banyak. “Namanya Lay Zhang. Dia akan bertunangan dengan kekasihnya satu minggu lagi,” gumamku, tanpa memandang maniknya.

“Aku kira dia kekasih barumu―“

“―Bagaimana kabar Liv?” Aku memotong ucapannya enggan mendengarkan lebih jauh sebab perilakunya itu dipersepsikan sebagai sebuah kecemburuan dalam benakku. Aku tidak ingin kepercayaan diri ini melambung tanpa tahu kedudukannya berada di mana.

“Dia baik,” balas Kyungsoo.

Bibirku membentuk suara aneh yang terdengar layaknya cicitan. Kemudian, keheningan mengambil alih. Kyungsoo sibuk memandangi gelasnya, sedangkan aku membuang muka.

“Aku tidak berkencan dengan Liv,” Kyungsoo merobek bisu di antara kami.

Ia mengangkat sebuah topik yang lantas menarik perhatianku. Aku ingin sekali menimpali ucapannya. Serebrumku berusaha memilah ungkapan yang akan kukoarkan. Namun, tak ada satu pun yang tepat. Semunya hanya membusuk dalam hatiku saja.

“Aku mencintai gadis lain. Sudah lama aku menyukainya, tapi aku tidak pernah sekali pun membicarakan hal ini padanya,” kata Kyungsoo, setelah tak ada jawaban dari diriku.

“Apa dia cinta pertamamu? Apa gadis yang sama? Kau pernah bicara soal hal ini, saat kita masih tinggal di Busan.”

Kyungsoo tersenyum, kali ini lebih lembut dan tulus dari sebelumnya. Maniknya menatapku secara intens, dia seperti sedang menonton kenangan yang diproyeksikan oleh pupil ini. “Ya, dia gadis yang sama.”

Ada nyeri yang terasa begitu kentara. Terbesit perasaan tidak rela. Gadis yang belasan tahun ini menjadi topik pembicaraan Kyungsoo. Seseorang yang menyita energiku untuk cemburu setiap kali dirinya dibicarakan. Aku meremas ujung kaus yang kukenakan sebagai pelampiasan. “Kau bertemu dengannya lagi?” tanyaku, suara ini bergetar. “Kau belum melupakannya,” aku menyimpulkan.

“Ya, aku kira bisa melupakannya, tetapi setiap bertemu dengannya di mana pun aku terus saja jatuh cinta,” kata Kyungsoo.

“Seperti apa dia sekarang? Ceritakan padaku,” ucapanku terasa hambar. Dulu Kyungsoo tak pernah menjawab, ketika aku bertanya bagaimana wujud cinta pertamanya. Kyungsoo biasanya mengalihkan pembicaraan, tapi kali ini tampaknya berbeda. Kami terbawa suasana. Aku mencoba peruntunganku. Argumenku terbukti sewaktu pemuda itu mulai membuka bibir.

Kyungsoo menguraikan tawa yang nyaring menyerupai musik kegemaranku. Ia membuatku rela melakukan apa pun demi mendengarnya gembira.

“Dia tidak lebih cantik dari sebelumnya. Satu-satunya hal yang berubah, surainya bertambah panjang. Dia memiliki pupil bewarna hitam. Hidungnya mancung, tapi setiap bercermin dia selalu protes mengenai hidungnya yang kecil. Dia menulis dengan tangan kiri.” Kyungsoo berkata, sembari memindaiku. Dia terlihat sedang mencari sesuatu ke dalam ekspresiku. “Dia lebih menyukai es krim vanila daripada cokelat. Dia alergi kacang. Dia lebih memilih tidur daripada harus berkencan. Band favoritnya Vanilla Acoustic. Dia tak bisa tidur dengan lampu dimatikan―“

“―Entah mengapa dia memiliki kebiasaan seperti diriku. Konyol sekali,” tanpa sadar aku merespons ucapannya. Dua sekon berikutnya, aku terkejut karena perkataanku sendiri. Terasa memalukan. Aku tidak seharusnya ….

“Sayangnya, itu memang dirimu,” balasnya. Satu kalimat yang mampu membuatku meledak.

“Tapi, Kyungsoo―“

“―Maafkan aku,” sela Kyungsoo. Ia berdiri dari duduknya. Parasnya tampak terluka. Di sisi lain pikirannya telah memperkirakan bahwa diriku akan menolak dan kembali membenci. Itulah yang memaksanya membuka mulut lagi. “I tried to forget this love. Aku benar-benar berusaha untuk menghapusnya, Jisoo. Aku tahu ini akan berakhir buruk sebab kita bersahabat dan kau tidak menganggapku lebih dari itu,” Kyungsoo menguraikan penjelasan yang membuatku membisu.

Dia menungguku menimpali, tetapi aku tetap diam. Semua ini sulit dicerna olehku. Terlalu mendadak. Namun, aku tahu satu hal. Aku juga merasakan hal yang serupa. Sedari dulu. Sejak awal.

“Semakin aku berusaha melupakan semuanya, semakin diriku―“

Kyungsoo tak dapat melanjutkan perkataannya. Aku menghentikan segala penyesalan itu. Tepatnya, hatiku yang melakukan sebab jika logika yang berperan, aku tak mungkin mengecup Kyungsoo.

Pria itu terpenjat, saat bibir kami bertemu.

Sekon berikutnya, perlahan-lahan ia membalas kecupan itu, hanya sekilas lalu melepaskan tautan kami.

“Apa arti ciuman ini? Apa untuk menghiburku?” cecarnya.

“Ya,” jawabku yang membuatnya mundur satu langkah. “Aku ingin kau tak bersedih. Aku enggan melihat pria yang kucintai berduka, Do Kyungsoo,” imbuhku. Aku meremas lembut jari-jarinya.

Kyungsoo menarik tubuhku ke dalam kungkungannya. Aku tak menghitung berapa lama kami saling mendekap satu sama lain. Aku ingin selamanya seperti ini. Begitu nyaman dan tenteram.

“Apa ini mimpi, Kim Jisoo?” bisik Kyungsoo di runguku.

Aku merangkum wajah rupawan itu, membuatnya hanya menatapku. Jari-jari ini bergerak untuk membelai rahang Kyungsoo, kemudian sudut bibirnya. “Mungkin saja,” ujarku pelan, sembari memangkas spasi di antara kami. Aku mengalungkan tanganku pada lehernya. Merasakan kelembaban yang ditawarkan Kyungsoo, membiarkan pemuda itu melumat bibir bawahku dan menarik tengkukku untuk memperdalam kecupannya.

Kyungsoo tersenyum dalam tautan itu, ketika aku mengigit gemas bibirnya. Ia bergumam dalam ciumannya, “Wow, Kim Jisoo. You are such a good kisser.” Kelembutan Kyungsoo beranjak ke leherku. Ia mengambil napas dalam-dalam di sana, kemudian mengecup bagian sensitifku.

Jemariku terselip di rambutnya yang halus. Aku meremas pelan surai Kyungsoo. “If you kiss my neck, I’m not responsible for what happens next,” ucapku di tengah-tengah gairah yang disuguhkan Kyungsoo.

Pemuda itu tertawa. Ia menghentikan kegiatannya. Kyungsoo menegakkan diri. “Memangnya, apa yang bisa terjadi?” kelakarnya.

Pipiku otomatis kembali merona. Aku memalingkan wajah. Tidak biasanya diriku kehilangan kata seperti ini di depan Kyungsoo. Apalagi mengetahui fakta bahwa lengan Kyungsoo yang kokoh, memelukku. “Shut up, Kyungsoo,” kataku.

Pemuda itu justru semakin tergelak. Ia mengecup pipiku. “Kau sadar tidak, rautmu yang seperti ini membuatku jatuh cinta padamu?” godanya lagi.

Aku ikut tersenyum akibat rayuannya. “I love you, Do Kyungsoo,” ucapku dalam pelukannya.

Kyungsoo membelai punggungku, sembari membalas pengakuanku, “You are the one, I wanna be in love.”

-Fin-

a/n:

Halo! Hahahaha. Cie yang jadian, selamat ya. Series Untold Love tamat sudah. Mungkin nanti mereka tetep muncul, tapi dalam judul lain. Makasih yang udah baca. Semoga kalian suka. Untuk meninggalkan kesan dan pesan cerita ini silahkan klik Track List^^.

Advertisements