My (Girl)Friend: Nara’s Littlest Things

mygirlfriend

Poster By: Sfxo@PosterChanel

Previous:

My (Girl)Friend: I Miss You – My (Girl)Friend: Please? – My (Girl)Friend: Just Friend – My (Girl)Friend: Pregnant

“Honestly, we are just friends but a little closer.” ―Lil Something, Chen ft Heize

-oOo-

Memiliki sahabat seperti Sehun adalah hal teristimewa yang pernah kudapat. Dia baik, tampan, dan yang terpenting―pemuda itu mengerti segala hal mengenai diriku, sekecil apa pun kebiasaan yang kupunya Sehun memahaminya. Aku bahkan tak perlu bersusah payah untuk bicara apabila menginginkan sesuatu, diriku ini hanya perlu memberikan tatapan padanya. Dia bisa membaca suasana hatiku. Jangan lupakan kemampuannya sebagai penghibur. Percayalah, aku tidak dapat marah padanya lebih dari lima menit. Well, tentu saja dia juga dengan mudah membuatku menangis sebab dirinya tahu benar apa yang kubenci.

O, bicara soal sesuatu yang tidak kusuka, aku bisa membuat seribu daftar hal yang kubenci. Sialnya, Sehun menghafal dengan baik rincian yang telah kubuat di kepalaku. Kemampuan itulah yang dimanfaatkan olehnya, ia bersikap berkebebalikan dari semua hal yang tak kusuka. Sehingga Sehun menjadi pemuda yang sangat manis di mataku. Celakanya lagi, perangainya itu yang membuatku tidak bisa berkutik di hadapannya. Aku seperti telanjang.

Tentu saja, telanjang dalam arti kiasan. Aku tidak berniat untuk benar-benar telanjang di depan Sehun. Hm, meskipun kami pernah―pada ulang tahunnya―bercinta―itu terjadi begitu saja. Lalu, kenapa kita membicarakan soal bercinta?

Baiklah, kalau kalian sangat ingin tahu, apa yang terjadi saat itu. Err, sebenarnya, aku tidak terlalu mengingatnya.

Yang menjadi pertanyaanku akhir-akhir ini ialah apakah kami betul-betul melakukannya?

Aku hanya ingat, saat itu dia berada di apartemenku membawa wine yang katanya mahal. Kami minum sambil tertawa-tawa, semuanya berjalan normal. Hingga dia meminta hadiah ulang tahunnya, ketika kami sudah menghabiskan setengah botol. Aku jadi penasaran, apakah segelas wine dapat membuatku mabuk?

Jujur saja, aku merasakannya sewaktu dia memulainya. Kami bahkan berdebat seperti biasa tentang bagaimana cara melakukannya. Ketahuilah, walaupun usia Sehun sudah hampir pertengahan dua puluhan, dia tetap bodoh soal ‘itu’. Ah, ini terlalu memalukan.

Apa aku harus menceritakannya secara detail?

Kalian pasti berharap demikian. Tetapi, tidak. Ayolah yang benar saja, lewati saja bagian ‘itu’ karena kalian pasti bosan jika aku mengisahkan prosesnya.

Yang sekarang perlu kita bahas adalah test pack di tanganku. Kotak kecil bewarna merah muda itu sangat mengganggu. Ini bahkan lebih menyeramkan daripada menunggu hasil ujian. Aku takut, jelas.

Apa jadinya jika aku hamil?

Pasti akan memalukan sebab di depan publik kami sering menyangkal kisah cinta yang mungkin terjadi. Semua orang tahu status kami hanya bershabat. Well, sahabat dekat. Hm, sahabat dekat sekali (‘sekali’ kurasa cocok untuk menggambarkan hal-hal yang telah kami lakukan selama ini). Semua orang pasti terkejut. Lagi pula, aku tidak membayangkan harus melahirkan Sehun versi mini. Apa kabar diriku apabila itu terjadi (asal kalian tahu, Sehun juga punya sisi menyebalkan)? Punya satu Sehun saja sudah melelahkan, apalagi dua.

Sayangnya, kekhawatiran itu hanya berlaku padaku. Pemuda yang menjadi partner-ku dalam membuat kekacauan ini, malah enggan mengatupkan bibir. Senyum Sehun masih tersungging lebar, saat mengantarku menuju kamar mandi apartemen. Dia bahkan tidak mengacuhkan dengusanku.

“Bagaimana kalau hasilnya positif?” tanyaku, sebelum masuk ke dalam toilet.

“Artinya, kau hamil. Selamat, Jung Nara,” jawabnya enteng yang sontak mengundang tanganku untuk meraih surainya yang bewarna silver.

Aku menjambak rambutnya. Selang lima sekon, aku berhenti. Alisku mengernyit, tumben Sehun tidak menghindar. Di justru menunduk agar diriku tidak perlu berjinjit untuk meraihnya.

“Kenapa tidak menghindar? Pasti sakit,” ujarku. Aku menepuk kepala Sehun dengan penuh sayang, kemudian memeluk tubuh jangkungnya. Aku tahu sikapku ini konyol, tapi badanku ini bergerak sendiri, mereka enggan melihat Sehun pasrah atau pun sakit.

“Katanya orang hamil itu sensitif, jadi aku harus lebih mengalah,” katanya lugu.

Aku melepaskan kungkungan kami. Serta merta aku menarik napas panjang. “Dengar ya, aku kan belum pasti mengandung. Bisa saja aku hanya keracunan makanan atau―“ ucapanku terhenti, ketika Sehun menyisir rambutnya yang berantakan. Entah mengapa, ia tampak memesona. Setiap kali melihatnya seperti itu, ada kekuatan mistis yang mendorongku untuk menarik kerah kemeja Sehun, kemudian menciumnya.

Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir segala fantasi yang berkelebat di dalam benakku. Kalian pasti merasa bahwa persahabatan kami tidak sehat. Mana ada persahabatan yang melibatkan seks?

“Kau tahu, kadang aku berpikir tatapanmu yang seperti ini, seakan berniat ingin memakanku hidup-hidup,” kelakar Sehun. Pemuda itu mendorongku lembut ke balik pintu kamar mandi. “Test pack sudah menunggu,” imbuhnya, kemudian menutup pintu membiarkanku berduaan dengan pendeteksi kehamilan ini.

“Pasti keliru,” ujar Sehun, saat aku menunjukkan hasilnya. Hanya ada satu garis. Aku hampir menangis saking leganya. Berkebalikan dengan pemuda itu yang sekarang terlihat kecewa.

“Kau harus menerima kenyataan,” aku menarik Sehun agar dia singgah di sofa ruang menonton. Aku duduk di pangkuaannya, lalu mengalungkan tangan ke lehernya. “Kita belum layak menjadi orangtua. Kau masih sibuk dengan mimpimu, aku juga,” imbuhku. Aku sengaja mempertemukan manik ini dengan miliknya. Aku menginginkan agar dia menghapus raut sedih yang membuatku tidak nyaman itu. Rasanya ada yang mengganjal, ketika melihat Sehun berduka.

Sehun mengalihkan pandangan. Ia tahu apa yang kumau, nampaknya kali ini dia enggan mengabulkan. “Kau seakan-akan tidak mengharapkan ada bagian dari diriku bersamamu―“ Perkataan Sehun lah yang terpotong.

Aku mengecupnya. Awalnya dia terkejut, mengatupkan bibir, dan tidak membalas ciumanku. Namun, ketika aku mengigit bibir bawahnya, Sehun mulai mengerang pelan. Ia melumat dengan tergesa-gesa, seakan kami kehabisan waktu. Begitulah Sehun, dia mudah sekali menyerah apabila berhadapan denganku. Soal sentuhan, dirinya sangat terburu-buru, seperti aku akan kabur saja.

“Kita bisa mencobanya lagi, itu yang dapat membuatku gembira kembali,” ucapnya tepat di bibirku, saat jari-jarinya sudah berhasil melepaskan kancing terakhir piamaku.

Aku tak menjawab, tentu saja. Aku sangat sibuk menanggapi serangan Sehun. Aku bahkan tidak sempat berpikir bahwa pemuda yang bercumbu denganku ini adalah sabahat baikku dan bagaimana kami seharusnya bersikap sebagai sahabat yang profesional.

Eum.

Jadi aku butuh pendapat kalian, apakah kami sudah terlihat seperti ‘sahabat dekat sekali’?

-oOo-

a/n: Semoga ini menghibur untuk mengawali September ceria~. Kotak komentar silahkan klik Track List.

Oh ya, sekarang permintaan password dapat melalui Line dengan cara add @NYC8880L (pakai @). Terima kasih sudah membaca, semoga tidak membosankan hehehe. 😁

Advertisements