The Untold Story of Jealousy: She’s Dreaming

best-red-color-for-bedroom

Previous:

Untold Love – The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend

“I think you are just like a dream.” Dream, Baekhyun ft Suzy

Jisoo tidak pernah tidur senyenyak ini semenjak beberapa bulan terakhir. Kini gadis itu sedang melalang buana mengikuti alur bunga tidur. Bahkan, Jisoo dapat merasakan secara nyata, aroma kekasihnya yang menjadi aktor utama dalam mimpi indahnya. Bibir tipis Jisoo lantas menggumakan nama Kyungsoo pelan.

Kyungsoo tersenyum manis saat gadis yang berada di pelukannya menyebutkan namanya. Pria itu mengencangkan kungkungan pada tubuh Jisoo yang kini sedang membelakanginya. Indra penciuman Kyungsoo sengaja menarik napas di puncak kepala si gadis. Sudah dua minggu semenjak Kyungsoo terakhir kali bertemu kekasihnya. Ia juga menggagalkan kencan mereka tadi sore. Kyungsoo merasa bersalah, makanya pria itu berkunjung ke flat Jisoo.

“Kyungsoo jangan pergi,” ucap Jisoo pelan sembari membalik badan, membuat mereka saling berhadapan. Ranjang itu berdecit ringan saat si gadis bergerak gelisah dalam tidurnya.

Kyugsoo mengernyitkan dahi, menyadari bahwa bunga tidur kekasihnya beralih menjadi sebuah mimpi buruk. Jari-jarinya menyapu peluh Jisoo dengan lembut. Lalu, Kyungsoo mengecup kening Jisoo. “Mimpi buruk, hm?” tanya Kyungsoo tanpa bermaksud memperoleh jawaban.

Tangan Kyungsoo yang mengusap punggung Jisoo, ternyata memberikan kenyamanan pada sang gadis. Perlahan, tetapi pasti sentuhan itu membuat raut Jisoo yang awalnya ketakutan berubah menjadi tenang.

Dalam tidurnya Jisoo menengadahkan kepala, hingga paras mereka sejajar. Jangan salahkan Kyungsoo apabila ia terlalu gemas dengan gadis itu. Semua hal yang dilakukan Jisoo, baik sengaja atau pun tidak, mampu mendebarkan hati Kyungsoo.

Mimpi dalam benak Jisoo semakin nyata. Kini ia merasakan lembabnya bibir Kyungsoo yang menelusuri rahang Jisoo. Gadis itu pun perlahan menggeleparkan kelopak mata, hingga terbuka sempurna. Ia terkejut, sekaligus kegirangan melihat siapa yang berada di hadapannya. Sunggingan bibir Kyungsoo pun menyambutnya.

“Do Kyungsoo?”

“Hm,” gumam pria itu. Kyungsoo mengubah posisi sedemikian rupa sehingga kening dan hidung mereka dapat bersentuhan. “Aku merindukanmu, Kim Jisoo,” lanjutnya.

Senyum bermain di ujung bibir si gadis, namun berusaha kembali ia telan. “Kau mengabaikanku belakangan ini,” keluh Jisoo sekaligus meminta penjelasan.

“Aku harus memenangkan satu project,” kata Kyungsoo singkat. Ia menjauhkan paras dari Jisoo. Sehingga dapat memandang secara utuh wajah si gadis.

“Lalu, apa hubungannya dengan dirimu yang mengabaikanku?”

Kyungsoo tertawa sekilas, ketika mendapati mata Jisoo memutar jengah.

“Aku jadi tidak dapat berkonsentrasi jika kau berada di dekatku.” Pemuda itu mengecup sekilas pipi Jisoo yang memerah. “Aku terdengar seperti perayu ulung saat mengatakan ini, tapi percayalah jantungku ini berdetak teramat kencang ketika bersamamu.”

Jisoo mendentangkan tawa, sewaktu prianya mengakhiri rayuan. Ia mengalungkan tangan ke leher Kyungsoo. “Aku hampir saja berpikir untuk berselingkuh karena kau tampak berubah.”

“Aku tahu, kau bertemu Baekhyun dan itu sangat membuatku cemburu,” katanya.

“Kau tahu darimana?”

Kyungsoo membelai paras Jisoo penuh sayang. “Baekhyun yang bercerita padaku. Dia sangat kompetitif, walaupun dirimu hanya bagian dari masa lalunya. Baekhyun mungkin bangga bisa merayumu,” jawab Kyungsoo. Pria itu mencebik. Ia pura-pura membuang muka.

Jisoo merangkum wajah Kyungsoo agar bersedia menatap dirinya. Gadis itu memberikan kecupan sekilas di bibir sambil berbisik, “Aku hanya mencintaimu.”

“Aku juga. Karena itulah, aku tidak mungkin bisa berjauhan denganmu. Butuh belasan tahun bagiku untuk dapat menerima balasan cinta darimu, Kim Jisoo. Tentunya, aku tidak mungkin semudah itu bosan terhadap hubungan kita,” cerca Kyungsoo.

Jisoo membolakan mata. “Bagaimana bisa kau menjawab semua keraguan yang ada di kepalaku?” tanya Jisoo terkejut sebab ucapan Kyungsoo sangat tepat dengan apa yang dirasakannya sekarang.

Kyungsoo menyentil hidung Jisoo. “Kau seperti buku terbuka. Aku hanya perlu melihat ke dalam matamu dan menemukan jawaban.” Pria itu merelakan diri, ketika Jisoo memukul lengannya.

“Jangan bercanda.”

“Aku sedang tidak bercanda,” timpal Kyungsoo sewaktu Jisoo berusaha membalik posisi mereka. Kini Jisoo berada di atas tubuh kekasihnya.

“Baiklah, aku percaya,” putus Jisoo. Si gadis menyugar surai hitam Kyungsoo yang terasa halus di sela jari.

“Kau mudah sekali menyerah, ya.”

Jisoo enggan membalas, gadis itu sibuk memberikan kecupan di leher Kyungsoo. Selanjutnya, Jisoo hanya mendengarkan ucapan Kyungsoo yang menceritakan mengenai project barunya yang disetujui oleh kantor serta bayaran yang dia dapatkan. Sesekali Jisoo menanggapi dengan bergumam, sementara Kyungsoo hanya pasrah mendapatkan gigitan gemas dari kekasihnya.

“Pelan-pelan, Sayang,” Kyungsoo merespon sentuhan si gadis.

Jisoo cemberut. Ia hendak mengaitkan bibirnya dengan milik Kyungsoo, akan tetapi dicegah kekasihnya. “Dengar, aku ingin membeli sesuatu untukmu dari hasil project besar pertamaku,” ujar Kyungsoo yang lantas diberikan anggukan setuju lawan bicaranya. “Jisoo perhatikan dulu,” ulang Kyungsoo sembari mencengkram lembut tangan kiri Jisoo yang mengusap pipi pria itu.

Jisoo melebarkan matanya yang sipit. “Okay, apa yang ingin kau berikan kepadaku?” tanya Jisoo, kini ia terlentang di samping Kyungsoo.

Kyungsoo langsung berdecak, lalu ia terduduk. “Dari dulu kau ini tidak peka. Hadiahnya sudah kau pakai,” ucapnya, sebelum berdiri dan mengancingkan kembali kemejanya yang berhasil dibuka Jisoo.

Bibir Jisoo mengerucut. “Aku bertanya baik-baik. Kenapa kau malah marah?”

“Aku tidak marah,” timpal Kyungsoo. Pria itu meraih mantel. “Aku pulang,” pamitnya.

Jisoo tergesa-gesa mengikuti langkah Kyungsoo menuju ruang tamu. “Aku kira kau menginap, ini sudah jam dua belas malam.”

“Besok ada rapat pagi. Aku yakin tidak dapat bangun pagi jika menginap di sini,” ujar pemuda itu. Ia berhenti sejenak akibat cengkraman Jisoo pada lengannya, kemudian Kyungsoo tersenyum dan berbalik. “Aku tidak marah, hanya saja sedikit kesal. Kau tidak menyadari hadiah yang sudah kuberikan. Cari tahu, Kim Jisoo,” imbuh Kyungsoo. Pria itu memberikan kecupan singkat di puncak kepala Jisoo, setelahnya menghilang di balik pintu apartemen si gadis.

-oOo-

a/n: Halo, beberapa hari ini aku bakal post cerita yang berkaitan dengan Track List. Huhuhu soalnya lagu EXO makin banyak dan nanti kalau nggak segera dibuatin cerita makin numpuk daftarnya. Makasih ya sudah membaca cerita ini. Aku sangat menunggu komentar kalian, silahkan tinggalkan komentar di Track List. ^^

Advertisements