The Untold Story of Jealousy: Think of You

tumblr_nncrz39tz81ruckh6o1_1280

Credit Pict: We Heart It

Previous:

Untold Love – The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend – She’s Dreaming

“All day, I think of you.” Everytime, Chen ft Punch (Ost. Descendant of The Sun)

Kim Jisoo baru menyadari hadiah yang dimaksud Kyungsoo, saat dirinya mencuci muka di pagi hari berikutnya. Gadis itu sempat tertegun sebentar di depan cermin kamar mandi. Ia membolak-balik telapak tangan. Ada benda berkilauan yang melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin cantik ialah pemberian sekaligus pengikat bagi hubungan mereka. Benda kecil yang seharusnya mampu membuatnya tersenyum sepanjang hari.

Sebagai respons atas hadiahnya, Jisoo lantas mengetik pesan singkat yang ditunjukkan untuk Kyungsoo.

Terima kasih, Kyungsoo. Ini sangat manis. Mau makan siang denganku?

Setelah satu jam, Jisoo baru mendapatkan balasan dari Kyungsoo. Gadis itu tengah merias wajah hendak berangkat ke kantor, ketika pesan Kyungsoo kembali membuatnya kecewa.

“Aku tidak bisa, siang nanti harus bertemu dengan klien.” Jisoo membaca keras-keras tulisan yang tertera di layar ponsel. “Rasanya, Kyungsoo selalu menolak permintaanku akhir-akhir ini,” gumam Jisoo. Gadis itu menghela napas kasar. Ia beranjak dari meja rias, kemudian pergi ke kantor dengan semangat yang tinggal separuh.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Gadis itu membereskan kubik kerjanya, lalu merenung sejenak. Netranya menatap tajam meja kerja, penuh tumpukan kertas dan satu pigura foto yang memotret jelas dirinya serta Kyungsoo. Hatinya lagi-lagi merindukan Kyungsoo, padahal baru kemarin malam mereka bertemu. Ia masih sibuk berdiskusi dengan pikirannya saat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Aku lapar, ayo makan siang. Jisoo, ini Baekhyun. ―B

Jisoo mengedipkan mata beberapa kali. Gadis itu perlu tiga sekon untuk bisa mencerna isi pesan dari si mantan kekasih. Belum sempat Jisoo menjentikkan jari agar bisa membalas, Baekhyun sudah mengirimkan satu pesan lagi.

Kemarin kau sudah berjanji. Jangan menolak. Oh, tolong kirimkan alamat kantormu. ―B

Jisoo menghela napas. Ia menggigit bibir. Kenapa justru Baekhyun yang menemuinya, padahal Kyungsoo yang ingin dilihatnya?

Apa ini kebetulan?

Jisoo menggelengkan kepala. Gadis itu menyingkirkan berbagai pikiran buruk yang berlalu-lalang. Ia lantas mengetik balasan yang menunjukkan persetujuan kepada Baekhyun.

Lima belas menit lagi, aku sampai di depan kantormu. ―B

Setelahnya, gadis yang kini mengenakan rok kain bewarna merah muda dan kemeja kerja putih itu bangun dari duduknya. Jisoo tampak terburu-buru sebab Baekhyun selalu tepat waktu. Itulah kebiasaan yang tidak berubah dari si pria. Baekhyun enggan membiarkan Jisoo menunggu lama. Ia sudah hadir di hadapan Jisoo tepat lima belas menit si gadis berada di lobi.

“Karena waktunya singkat, bagaimana jika kita makan siang di sekitar sini saja?” tawar Baekhyun yang langsung mendapatkan anggukkan setuju dari Jisoo.

“Aku biasa makan siang di Cake and Milk,” ucap Jisoo sambil menunjuk kafe kecil yang terletak di seberang kantor gadis itu.

“Baik, aku yang traktir,” timpal Baekhyun.

Mereka mulai mengayunkan kaki berdampingan. Baekhyun sesekali menggelontorkan berbagai lelucon yang membuat Jisoo tertawa. Baekhyun juga mengajukan pertanyaan sepanjang mereka berjalan. Baekhyun bersikap manis seperti yang biasa dirinya lakukan di masa lalu.

“Kyungsoo bergeraknya cepat juga,” gumam Baekhyun sembari memotong roti isi daging. Pria itu duduk di hadapan Jisoo yang sedang meminum susu cokelat.

Jisoo awalnya hanya mengerutkan alis karena bingung apa yang dimaksud Baekhyun. Ia memahami arah perbincangan mereka di kafe itu, setelah Baekhyun menunjuk cincin Jisoo.

“Hadiah dari Kyungsoo kemarin malam,” ucap Jisoo.

Baekhyun tertawa pelan. “Aku sudah menduga kalian akan berkencan. Tatapan Kyungsoo sewaktu itu sangat protektif.” Baekhyun berhenti sejenak. Ia menarik piring sandwich milik Jisoo ke arahnya, lalu memotong kecil-kecil. Pria itu kembali berucap ketika mengembalikan piring si gadis ke hadapannya. “Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?” tanyanya lagi.

Jisoo tidak langsung menjawab. Gadis itu masih tertegun mengamati piringnya. Baekhyun masih ingat jika Jisoo lebih suka dipotongkan sandwich. Pria itu dulu melakukannya setiap mereka pergi kencan.

“Dua tahun,” jawab Jisoo pada akhirnya. Gadis itu mengacuhkan segala kenangan yang berusaha benaknya bangun kembali. “Butuh waktu yang lama untuk memahami perasaanku padanya,” tegas Jisoo.

Baekhyun tersenyum. “Kau ini belum berubah, sangat tidak paham perasaan orang lain di sekitarmu,” celetuk pemuda itu yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari Jisoo. “Bagaimana bisa kau menceritakan hubungan kalian dengan begitu gamblang padaku, sementara kita dulu belum benar-benar putus?” lanjut Baekhyun.

Refleks Jisoo menghela napas panjang. “Kau meninggalkanku tanpa kabar itu lebih dari cukup untuk didefinisikan sebagai berakhirnya hubungan kita, Byun Baekhyun.”

Baekhyun membolakan mata. “Aku meninggalkan surat untukmu

Apa surat?” potong Jisoo.

Baekhyun mengangguk. “Aku menitipkan surat itu pada Do Kyungsoo. Surat yang berisi pilihan untukmu.”

“Pilihan apa?” bisik Jisoo. Ia merasa bahwa seluruh perkataan Baekhyun adalah dusta.

“Pilihan soal, kau bersedia menungguku atau tidak. Tapi, kau tak pernah memberikan jawaban. Sewaktu itu aku mengartikan bahwa kau tak bersedia karena tidak ada balasan apa pun darimu,” ucap Baekhyun. Ia menundukan kepala, ada kekhawatiran dalam intonasi. Baekhyun seakan enggan mengungkit betapa dirinya menantikan jawaban si gadis ketika itu.

Keterbalikan dengan sendunya Baekhyun, Jisoo malah tertawa pelan. Gadis itu merasa konyol. “Kau tahu, dulu aku berani menyerahkan segalanya demi mengetahui alasanmu yang menghilang begitu tiba-tiba. Aku bahkan menangis, memikirkanmu semalaman, tidak mau makan, dan bertindak bodoh saat itu.” Jisoo menjungkitkan bibir, senyum simpul terpancar saat dia mulai mengenang. “Dulu aku pernah sangat menyukaimu.”

Kesedihan pria itu lenyap dengan cepat. Wajahnya berubah ceria sebab pesona Jisoo mampu menyenangkan hati. “Aku juga.” Baekhyun menyuap potongan roti, lalu kembali mengimbuhkan, “Apa kau tidak marah pada Kyungsoo karena dia enggan menyampaikan pesanku dan membuatmu patah hati?”

Jisoo tak butuh waktu lama agar bisa menjawab pertanyaan Baekhyun. “Apabila kau menanyakan hal itu beberapa tahun lalu, tentu saja aku marah padanya. Tetapi, jawabanku sekarang adalah tidak. Justru terdengar menyenangkan karena kenyataannya Kyungsoo mencintaiku sejak lama. Aku mengartikan perbuatannya itu sebagai bentuk dari kecemburuan.”

“Lagi-lagi kau membuatku patah hati, Kim Jisoo,” kelakar Baekhyun yang pura-pura cemberut.

Jisoo melejitkan bahu. “Patah hatimu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang kurasakan dulu,” gurau Jisoo yang langsung mendapatkan tawa ringan dari lawan bicaranya.

“Obrolan ini sangat menarik,” puji Baekhyun.

Jisoo meletakkan alat makannya. “Sayang sekali, aku harus segera kembali ke kantor.”

Jisoo dan Baekhyun pun beranjak dari meja kafe. Mereka pun kembali berjalan bersisian hingga di depan gedung tempat Jisoo bekerja.

Jisoo sudah hendak melangkah memasuki bangunan itu, ketika Baekhyun menanyakan sesuatu yang sempat membuat napasnya tertahan sejenak.

“Kim Jisoo, apa boleh aku membuatmu selalu memikirkanku seperti dulu?” Baekhyun menatap gadis itu. Ia tersenyum rupawan. “Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku bisa menunggu,” lanjutnya, lalu Baekhyun pun berbalik pergi.

-oOo-

Kolom komentar berada di Track List. Terima kasih sudah membaca ^^.

Advertisements