The Untold Story of Jealousy: Hangover

park-hotel-bar-photographerl

Previous:

Untold Love – The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend – She’s Dreaming – Think of You – You Are The One

“All of my habbits that you hated, I started doing that again.” ―A Day Without You, Chen ft Jonghyun

-oOo-

Kyungsoo memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri. Emosi pria itu sudah hampir meledak, andai saja dia tidak ingat bahwa dirinya masih berada di ruang rapat. Kyungsoo sedang lembur, dia lelah bukan main, kendati demikian keadaan enggan bertoleransi padanya.

Kyungsoo baru saja menerima pesan singkat dari Baekhyun yang menyatakan bahwa Kim Jisoo mabuk, minta dijemput. Sungguh pintar cara sepasang mantan kekasih itu membuat Kyungsoo kesal.

Kenyataan jika Jisoo mabuk saja sudah membuatnya murka, kali ini malah didampingi Baekhyun. Pikiran Kyungsoo sudah melaju ke hal-hal negatif yang tidak sanggup dia kendalikan. Lantas itulah yang membuat Kyungsoo lekas mengakhiri rapat dengan timnya, lalu berlari menuju kendaraannya. Apabila tidak demikian, kepala Kyungsoo bisa meledak saking cemasnya.

Pagi itu diawali Jisoo dengan cemberut. Ia kesal pada pria yang tengah berdiri di hadapannya. Jisoo sudah merajuk selama satu jam, namun Kyungsoo tetap saja berangkat ke kantor. Padahal, ini hari Sabtu dan Kyungsoo sudah berjanji untuk menemaninya reuni bersama teman satu klubnya sewaktu sekolah menengah atas.

“Kyungsoo, kau lebih memilih tim sialan itu daripada aku,” gerutu Jisoo sembari mengawasi kekasihnya yang sibuk mengancingkan kemeja biru tua. Jisoo sebenarnya tidak benar-benar marah, dia hanya sedikit kesal. Lagi pula, mana bisa dirinya marah pada Kyungsoo? Apalagi, kondisi pria itu sedang sangat menarik hati sekarang―surai hitam Kyungsoo masih basah dan berantakan―mampu melelehkan Jisoo.

Kyungsoo membalas tatapan Jisoo dengan senyum kecil. Ia menepuk lembut pipi si gadis yang kini masih memakai piama. “Ini keadaan darurat,” bisik Kyungsoo pada rungu gadisnya, langsung membuat Jisoo berkidik.

“Menyebalkan sekali. Padahal reuni itu sudah disusun jauh-jauh hari. Aku jadi tidak bisa pergi,” oceh Jisoo yang mengekori Kyungsoo ke luar kamar. “Kau selalu membuatku kesal dan bingung. Kadang perhatian, kemudian mengabaikanku lagi. Kapan-kapan giliran aku yang membuatmu kesal padaku,” tambah si gadis, ia melipat tangan di depan dada.

Kyungsoo membelai surai Jisoo penuh kasih. “Sayang sekali, aku tidak bisa kesal padamu,” kelakar pemuda itu yang memancing Jisoo untuk semakin mengerucutkan bibir.

“Dasar laki-laki,” cibir gadis itu. Tak berselang lama, Jisoo kembali menarik tangan Kyungsoo yang meraih engsel pintu hendak meninggalkan apartemen. “Apa kau tidak ingin makan pagi dulu?” tanya Jisoo, ada nada khawatir dalam suaranya. Jisoo tahu benar apabila Kyungsoo kerap melupakan jadwal makan jika sudah berkutat dengan urusan kantor.

Kyungsoo menarik ujung bibir. Ada jeda sejenak sebelun pemuda itu memutuskan jawaban atas kecemasan gadisnya. “Ini saja sudah cukup membuatku kenyang seharian,” ujarnya sembari mengecup bibir Jisoo selama belasan detik, lalu melepaskan.

Jisoo menyipitkan mata. “Apa kau kira dengan menciumku lantas membuat aku lupa? Aku masih kesal karena kau pergi ke kantor di hari libur,” rajuk Jisoo.

“Baiklah, kau boleh pergi ke reuni itu asal jangan sampai bertemu Baekhyun di sana.”

“Baekhyun kan juga anggota klub!” pekik si gadis. Jisoo menarik napas. “Dia juga pasti hadir,” imbuhnya.

“Ya sudah, jangan pergi,” timpal Kyungsoo enteng sambil melejitkan bahu. Pemuda itu tersenyum menang sebelum menghilang ke balik pintu apartemen kekasihnya.

Jisoo mengerang, tidak terima dengan kesimpulan Kyungsoo. Ia merasa terpancing. Tekadnya semakin kuat untuk membuat Kyungsoo kesal. Kini serebrumnya telah merakit satu rencana yang dapat mengakibatkan Do Kyungsoo kelimpungan.

“Memangnya kau saja yang bisa bertindak menyebalkan?” gumam si gadis.

“Aku tidak ikut campur,” kilah Sehun saat melihat kawannya menegak sloki-sloki itu. Sehun hanya berdecak mendapati tingkah seorang gadis yang ia yakini dalam beberapa menit ke depan akan tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk.

Nara mengikuti tatapan Sehun yang tandas ke arah Kim Jisoo. Nara memasang raut sedih yang dibuat-buat, sembari tangannya menggoyang-goyangkan tubuh mungil Jisoo di sebelahnya. “Hentikan, Jisoo. Kyungsoo akan menguliti kami jika kau sampai mabuk,” ucapnya. Nara memukul ringan pemuda lain yang berada di samping Sehun. “Byun Baekhyun, hentikan Jisoo cepat. Reuni kita jangan sampai jadi pertumpahan darah―“

“―Jisoo sudah berusia dua puluh tiga tahun. Secara hukum gadis ini diijinkan menegak alkohol, Nara,” jelas Baekhyun. Berlainan dengan ucapannya, Baekhyun beranjak menjauhkan botol minuman itu dari jangkauan Jisoo.

“Aku sudah besar, Nara,” celetuk Jisoo, kemudian tersenyum lebar. “Mantan kekasihku yang baik hati selalu membelaku,” lanjutnya. Tangan Jisoo berusaha meraih Baekhyun yang duduk di seberang meja.

Baekhyun hanya tersenyum. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah Jisoo yang semakin memikat perhatian. Awalnya, dia tidak seberapa tertarik untuk mengikuti reuni klub menyanyi semasa sekolah menengah atas. Mengingat yang hadir tidak lebih dari dua puluh orang dan lokasinya berada di Mark’s Bar (salah satu bar yang membosankan menurut Baekhyun). Akan tetapi, Jisoo meminta langsung padanya agar bersedia hadir. Mau bagaimana lagi? Kim Jisoo selalu menjadi hal yang menarik bagi Byun Baekhyun. Dia enggan menolak pada akhirnya.

“Aku begini karena Kyungsoo. Kyungsoo jahat padaku. Dia sibuk sendiri. Rapat ini dan itu. Proyek ini dan itu,” Jisoo mulai melantur. Ia menunjuk ke arah Sehun, “Andai saja, Kyungsoo semalas Oh Sehun, pasti asyik sekali!” seru Jisoo, tiba-tiba bertepuk tangan. Sontak si gadis mencuri perhatian peserta reuni lain yang duduk di meja berbeda.

“Dia benar-benar sudah gila,” cibir Sehun. Pemuda itu menyingsingkan lengan kemeja. “Aku hanya menghemat energi, bukannya malas,” gumam Sehun.

“Andai saja Kyungsoo seperti Baekhyun yang selalu datang saat aku memintanya,” bisik Jisoo. Matanya yang menyiratkan duka bertemu manik Baekhyun. “Pasti akan sangat menyenangkan.” Jisoo mengakhiri ucapannya sambil membekap mulut. Ia memberikan tanda-tanda seperti ingin muntah.

Baekhyun refleks menuju ke samping gadis itu, kemudian membantu Jisoo berdiri. “Aku akan mengantarkannya ke toilet,” ucap Baekhyun.

“Biar aku saja, Baekhyun. Lagi pula toilet perempuan, aku bisa―“

“―Nara biarkan saja. Jisoo sudah hampir pingsan, begitu. Kau tidak bisa membopongnya apabila hal itu terjadi,” pangkas Sehun. Dia memberikan tanda agar Baekhyun segera membawa Jisoo pergi.

Sementara Jisoo hanya pasrah menerima uluran tangan dari mantan kekasihnya.

Kyungsoo memasuki Mark’s Bar dengan ayunan tungkai yang tergesa. Pemuda itu telah melonggarkan dasi dan menanggalkan jas. Matanya memindai seisi bar yang lumayan besar, hingga manik si pemuda menemukan dua sosok yang dikenalnya.

Kyungsoo menyadari sepenuhnya bahwa kemunculan dirinya di hadapan Sehun dan Nara membuat keduanya membolakan mata. Bahkan Sehun sempat tersedak, walaupun belum meneguk apa pun yang ada dalam slokinya. Kyungsoo memutar bola mata jengah melihat tingkah Sehun. Ia paham benar sahabat karibnya itu bersikap sangat canggung karena merasa bersalah.

“Di mana Jisoo?” tanyanya, lantas duduk di salah satu kursi kosong yang letaknya sejajar dengan Jung Nara.

Nara tertawa kecil. Si gadis blesteran Korea dan Amerika itu berdeham sejenak sebelum berucap. “Dia sedang ada urusan sebentar,” jawab Nara.

“Kita sudah lama tidak bertemu, apa kau tak ingin menanyakan kabarku?” kini giliran Sehun yang menimpali. Pria itu menyematkan senyum lebar sok ceria pada lawan bicaranya.

Raut Kyungsoo tetap datar. Ia menatap Sehun tanpa menunjukkan tanda ketertarikan. “Kantor kita bersebelahan. Kau selalu merecokiku dan minta ditraktir makan siang. Rasanya tak perlu basa-basi lagi,” tandas Kyungsoo.

Sehun hanya mengangguk-angguk setuju. Ekspresinya kini terlihat konyol. “O, ya. Benar juga,” gumam Sehun sembari beberapa kali mencuri lihat ke tempat di mana Jisoo dan Baekhyun menghilang.

“Aku mencari Jisoo dulu,” timpal Kyungsoo. Ia mengikuti arah tatapan Sehun. Kyungsoo sepertinya bisa menduga ke mana kekasihnya itu pergi bersama Baekhyun sebab Sehun tak bisa menyembunyikan maniknya yang kerap memberikan sinyal, tanpa sadar.

Kyungsoo tetap pergi dari meja itu, meskipun Sehun dan Nara memintanya untuk menunggu sejenak. Nalurinya mengatakan bahwa Jisoo sedang tidak baik-baik saja sekarang. Ia berusaha menolak perasaan cemas yang terlanjur mengembang, namun gagal.

Kyungsoo menelusuri lorong yang menghubungkan bar dengan bagian taman mini gedung itu. Kyungsoo sontak mempercepat langkahnya kala mendapati sosok Jisoo yang tampak terdesak.

“Baekhyun, lepaskan!” pekikan Jisoo semakin tajam menusuk gendang telinga Kyungsoo.

Tak hanya suara yang mampu ditangkap Kyungsoo. Maniknya dapat memandang dengan jelas bagaimana Baekhyun mengimpit Jisoo dan mengecup bibir gadisnya secara paksa. Ada bara api tak kasat mata yang membakar tubuh Kyungsoo.

Tanpa banyak bicara Kyungsoo menarik bahu Baekhyun.

Lalu, pukulan keras ia tujukan pada Byun Baekhyun, tanpa jeda.

-oOo-

a/n: Terima kasih sudah membaca. Komentar kalian sangat ditunggu sebagai asupa semangat buat ngelanjutin cerita ini. Untuk meninggalkan komentar silahkan klik >>> Track List.

Advertisements