Maximillian: Adrienne Maddrock

large-7

Pervious: 

Maximillian: [4] Mea Proget Te

“No matter what happens you can’t stop me.” ―Up Rising, Chen

Namaku Ad, Adrienne Maddrock.

Aku termuda dan terkuat.

-oOo-

Kaum kami terdiri dari empat bagian. Yang Terlemah disebut vampir, si penghisap darah dan kehilangan nurani. Sang Penjaga disebut Ward, mereka yang memiliki kekuatan. Yang Terkuat merupakan bangsawan, vampir dengan dua kekuatan dalam dirinya serta pecahan dari pemimpin kami. Terakhir, pemilik dari seluruh elemen yang ada, Maximillian.

Lalu, bagaimana aku harus menyebut diriku ini?

Aku vampir dengan jantung yang berdetak. Tubuhku enggan membeku. Aku menua.

Aku vampir, tetapi tidak menyukai bau darah, apalagi mengecap rasanya.

Sesungguhnya, aku lebih pantas masuk ke dalam golongan terendah. Sayangnya, sejak kelahiranku elemen air telah mengiringi.

Lantas, apakah aku bagian dari Ward?

Sepertinya, tidak. Ketika usiaku menginjak sembilan tahun, tiba-tiba diriku bisa mengendalikan dan menciptakan cahaya dari jemari.

Kemudian, mereka pun menyebutku bangsawan. Julukan yang mereka sematkan itu, hanya bertahan selama lima tahun. Tepat pada tahun kelimabelas aku hidup, elemen angin memilihku untuk mengendalikan mereka.

Sekarang, aku berada di tengah-tengah antara kaum bangsawan dan Maximillian. Hal itu menyebakan kegemparan di kalangan Ward, baik klan timur maupun barat. Mereka berpendapat bahwa aku tidak mungkin memiliki tiga elemen utama karena apabila diriku punya satu lagi, maka kedudukan diriku setara dengan Maximillian. Sedangkan, Maximillian seharusnya hanya ada satu.

Paman dan bibi yang tinggal bersamaku selalu menanyakan hal serupa. Darimana aku mendapatkan kekuatan itu?

Mereka telah kehilangan akal nampaknya. Tentu saja, aku tidak tahu. Kalau sudah begitu, ayahku―Byun Baekhyun akan mengambil alih untuk menjawab. Dia hanya mengucapkan satu hal mengenai kesembuhan seseorang. Lagi-lagi aku tak mengerti siapa yang dimaksud Ayah.

Alasan semua ini terjadi padaku terjawab, ketika pesta ulang tahun ketujuhbelasku. Aku, Ibu, Ayah, dan Paman Suho sedang berada di ruang depan hunian, sedangkan paman serta bibiku yang lain pergi berburu. Seseorang yang teramat rupawan, berparas dingin, dan bersurai merah membara―datang dari kabut berniat untuk menemuiku.

Aku dapat menatap sorot mata Ibu yang cemas ketika melihat tamu kami. Ibuku, Sue Park langsung saja menjadikan dirinya perisai bagiku. Ibu yang memiliki raga seusia denganku, kini mengerahkan kemampuannya. Ibuku yang kata Ayah tidak memiliki kekuatan apa pun, mulai berubah.

Butuh waktu tiga tahun bagi Sue dan Baekhyun untuk memersiapkan kelahiran Adrienne. Mereka tahu benar jika sang putri pertama akan mengemban tugas yang teramat berat. Menjadi bagian dari serpihan Maximillian bukanlah hal yang mudah, para bangsawan diharuskan untuk setia pada pemimpin mereka.

Apalagi, Maximillian menaruh perhatian lebih pada Adrienne. Satu-satunya serpihannya yang memiliki kekuatan setara dengan Maximillian. Ariana Maddrock bahkan rela memberikan gelar Maddrock pada Adrienne, itulah alasan Adrienne tidak menyandang nama keluarga Byun.

Ingatan Sue enggan melupakan bagaimana terpesonanya Ariana pada bayinya. Adrienne yang memiliki warna pupil sebiru samudra dan surai hitam serupa batu yang diselimuti air. Ariana memberi si gadis kecil nama Adrienne yang memiliki arti gadis lautan. Sesuai dengan namanya, kekuatan pertama yang dimiliki Adrienne yaitu elemen air.

Ariana baru mengijinkan Sue, Baekhyun, dan Adrienne pergi dari Maddrock, satu tahun setelah kelahiran putri mereka. Dengan janji untuk menjaga kerahasiaan perjanjian yang telah dibuat.

Ariana pun enggan melupakan hadiah kecilnya bagi Adrienne. Kneazle berwujud singa, bernama Mingyu menjadi penjaga bagi Adrienne.

“Aku akan menemui kalian, saat gadis ini siap untuk mendapatkan kekuatan keempatnya. Ia akan menyembuhkan apa yang seharusnya dirinya sembuhkan,” ujar Ariana dalam perpisahan itu.

Ternyata, Ariana menepati janjinya.

Paman Suho memangkas keheningan yang terjadi. Paman Suho ialah pemimpin kami, maka wajib baginya untuk menjadi juru bicara bagi keluarga.

“Maximillian, apa yang membuat Anda datang ke klan barat?” tanya Paman Suho pada gadis memikat yang kini memusatkan tatapan pada Ibuku.

Aku mendengar helaan napas panjang dari Ayah seakan menunjukkan betapa dirinya lelah dengan keadaan seperti ini. “Maximillian datang untuk memberikan sesuatu pada Ad,” jelas Ayah sembari menatapku. Ia tersenyum menenangkan. Ayah pasti tahu jika aku sedang gelisah sebab Ibu terus saja mencengkram pergelangan tanganku seakan ia bisa kapan saja kehilangan diriku.

“Hadiah,” ulang Paman Suho tanpa meninggalkan kesopanannya.

Maximillian melepaskan tudung jubah hitamnya. Dia mengayunkan kaki agar dapat mendekatiku. “Sue, biarkan aku bicara pada Ad. Aku di sini tidak untuk merampasnya darimu atau berperang dengan klanmu. Aku bahkan datang sendirian. Baik Alarice, Acantha, Ariadne, dan Kneazleku pun tak mengikuti,” tawar Ariana.

“Ad tak memiliki raga sekuat dirimu, Yang Mulia. Dia tidak akan bertahan hidup lebih lama apabila mempunyai empat elemen utama. Saya mohon―”

Permintaan Ibu terputus, digantikan oleh erangan kepedihan. Ibu tergeletak. Aku terkejut dan ikut merasakan sakit. “Ibu!” pekik bibirku. Sekilas aku menatap manik Maximillian yang berpendar merah.

Aku yakin derita Ibu disebabkan olehnya.

Aku juga dapat merasakan energi inti Ayah yang berusaha memutuskan serangan dan menghantam Maximillian. Gejolak kemurkaan Ayah itu amat terasa membuat tubuhku semakin berat.

Sementara Paman Suho berusaha menengahi, “Cukup Baekhyun, kau akan menghancurkan klan barat dan Adrienne,” cegah Paman Suho. Ia menelangkup pendar cahaya yang ada di telapak tangan Ayah.

“Aku sudah berusaha bersikap baik pada keluarga kalian, tetapi aku sedang tidak memiliki banyak waktu. Kalian meminta padaku menemukan penyembuh atas Kai. Adrienne mampu memberikan kekuatan bagi Kai agar terbebas dari tidur panjangnya,” ujar Maximillian.

“Siapa Kai?” tanyaku. Aku berusaha mengingat. Aku memang pernah mendengarkan namanya saat Ibu dan Ayah berdiskusi. Mereka biasanya membahas beberapa hal, ketika menemaniku tidur, tapi langsung saja berhenti membicarakannya sewaktu diriku terbangun. Sepertinya, ada yang dirahasiakan.

Tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi!

Keadaan telah terlanjur genting.

Aku enggan hanya diam saja, sementara keluargaku tak berdaya seperti ini.

“Aku akan ikuti kemauanmu, tapi lepaskan Ibuku dari penderitaan dan ampuni keluargaku,” ucap Adrienne pada akhirnya. Gadis itu menegakkan tubuh. “Bagi mereka kau adalah Maximillian, tetapi untukku dirimu hanyalah gadis asing biasa,” tegasnya. Bersamaan dengan keteguhan hatinya itu munculah Kneazle milik Adrienne.

Kneazle itu masih dalam wujud singa, kemudian berubah menjadi seorang pemuda berusia sembilan belas tahun. Namanya Mingyu, ia merupakan kawan sekaligus pelindung Adrienne.

“Yang Mulia,” ucap Mingyu pada Adrienne dan Ariana.

Ariana hanya tersenyum simpul, penuh makna, menyaksikan kejadian di hadapannya. Lantaran tersingung dengan perilaku Adrienne, Ariana justru tersanjung karena serpihan dari dirinya bisa tumbuh menjadi sosok yang pemberani. Ariana menggerakkan tangannya ke arah Suho, Baekhyun, dan Sue membuat mereka seketika membeku di tempat.

“Mereka akan baik-baik saja. Ini hanya ilusi, seakan tubuh mereka membeku, namun sebenarnya tetap bisa bergerak. Aku hanya memanipulasi benak keluargamu,” kata Ariana, ketika Adrienne hendak membuka suara. Ia mengulurkan tangan. “Jika, kau ingin mengetahui siapa sebenarnya dirimu, jari-jariku ini dapat membantu. Setiap makhluk memiliki misi atas kelahirannya. Bukankah gadis cerdik serupa dirimu selalu bertanya-tanya dan sangat menyenangkan apabila menemukan jawaban?” ulas Ariana, mencoba memersuasi gadis belia di hadapannya.

“Ada beberapa pertanyaan yang tak perlu dijawab―“

“―Lalu, bagaimana cara dirimu mengatasi kegelisahan atas seluruh pertanyaan yang tidak terjawab itu?” tanya Ariana. Ia melejitkan bahu. Langkahnya beranjak memutari tubuh Adrienne. “Kenapa kau lebih kuat dari keluargamu yang lainnya? Kenapa jantungmu berdetak? Kenapa orangtuamu tidak pernah mengijinkanmu pergi Westby? Kenapa keluargamu tidak pernah mengungkit Kai, padahal ia merupakan anggota klan barat? Kenapa kau selalu memimpikan gadis lain bernama Ariana dan Abigail? Kenapa nama kelurgamu Maddrock, bukannya Byun?” cerca Ariana, suaranya dingin. Seluruh kalimat yang diuntaikan Maximillian menusuk sudut-sudut benak Adrienne.

“Karena aku … aku ….” Adrienne tersengal-sengal. Ia jatuh, bersujud di hadapan Maximillian.

“Karena kau bagian dari diriku. Aku memberikan separuh dari keutuhanku. Sebab ada satu hal yang harus kau perbaiki. Pembenaran atas sesuatu yang aku pun tak berdaya untuk ikut campur,” timpal Maximillian. Sekali lagi Ariana mengulurkan tangan, bermaksud menggapai Adrienne. “Saudara kelimaku, tolong,” bisiknya.

Menyakitkan. Suara merdu milik Maximillian bagaikan pisau yang mencabik tubuh. Terasa pedih. Logika ini bukan milikku lagi. Satu-satunya yang kuinginkan, yaitu menaati seluruh keinginanya. Hidup terasa hampa apabila berusaha menolak kesetiaan yang mulai timbul.

Apa ini yang disebut kesetiaan abadi oleh Paman Sehun?

Paman Sehun pernah mengatakan bahwa Mingyu memiliki kesetiaan abadi padaku. Seluruh dunia dapat berdusta kepadaku, namun Mingyu tidak. Mingyu disebut Kneazle, apakah aku juga salah satu Kneazle Maximillian?

Aku tidak peduli.

Aku benar-benar menutup pikiran mengenai siapa diriku. Yang terpenting sekarang, menuruti daulat dari gadis yang kini mendominasi diriku.

Aku menerima uluran tangan Maximillian.

Aku terhempas memasuki telapak tangan itu. Tubuhku seolah-olah tetarik untuk terjerat lebih dalam. Ada sebuah kenangan yang berputar dalam genggaman Ariana. Selayaknya cuplikan film yang berlalu lalang, memoar mengisi seluruh benak. Seperti aku yang mengalaminya sendiri, bukan gadis lain yang teramat mirip denganku.

Gadis dalam putaran kenangan, parasnya serupa aku. Hanya saja surainya merah, kendati aku hitam arang. Ada kelicikan yang tergores pada tatapannya. Kilatan-kilatan kekuatan yang beradu memberikan pemahaman padaku, bahwa si gadis yang ada dalam kenangan merupakan Ariana Maddrock.

Adegan berlalu pada topik baru. Kali ini seorang pria tersenyum pada Ariana. Pemuda itu berlari ke arah si gadis berjubah hitam, lalu mengecup punggung tangannya. Aku merasakan cinta yang teramat dalam bersemi di antara mereka.

Lantaran menimpali kasihnya sang gadis berujar dingin, “Aku tidak bisa mencintaimu. Aku memang Ariana, tetapi aku juga Maximillian.” Gadis itu menatap sendu pujaan hatinya. “Andai saja, aku terlahir kembali bukan sebagai Maximillian,” lirihnya.

Mereka menghilang. Kelebat hitam dan putih mengenyahkan sepasang kekasih, mengaburkan pandangan.

“Aku mencintaimu, Kai,” gema suara Ariana memenuhi benak ini.

Kini ada dampak lain dari seluruh ucapan Ariana. Kejadian itu bergerak begitu cepat hingga semuanya berubah.

Aku kembali ditarik, sekarang diriku merasuki tubuh sang gadis. Jiwaku mengambil alih tubuh si gadis.

Seluruh plot terganti lagi. Aku saat ini berada di pelukan pemuda itu. Tak berselang lama ia melonggarkan dekapannya agar bisa menatap parasku lamat. Dia tersenyum memikat seolah seluruh duniaku bertumpu pada kegembiraannya. Aku tersihir dalam pesonanya yang menghangatkan hati.
Ia membelai suraiku lembut.

Ia mengecup bibirku.

Ia mencumbuku.

Aku jatuh cinta padanya.

Entah ini perasaanku sendiri atau rasa dari Ariana yang raganya telah kurenggut.

“Aku mencintaimu, Ariana,” bisiknya di runguku. “Hanya bagian dirimulah yang dapat membangkitkan aku dari kebekuan ini,” lanjutnya lemah.

Ariana.

Aku ialah Ariana.

Aku adalah Maximillian.

Jika, itu memang diriku … aku harus membangkitkannya.

Jika, itu memang diriku … hanya aku yang patut menerima kasihnya.

Karena aku ialah Ariana.

-oOo-

a/n: Halo, lama ya aku nggak update Maximillian (yang nggak tamat-tamat ini). Gimana? Kita akhiri di sini aja atau masih mau lanjut? Kalian bisa meninggalkan komentar di Track List.

Advertisements