The Untold Story of Jealousy: Upset

Previous:

Untold Love – The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend – She’s Dreaming – Think of You – You Are The One – Hangover

“You are the one and only that I’ve been looking for.” ―One and Only, EXO

-oOo-

Jisoo merasakan seluruh tubuhnya sakit. Ia mengerang beberapa kali, kemudian meregangkan tubuh. Pelan-pelan kelopak matanya terbuka. Ia segera mengenali di mana saat ini dirinya terbaring. Ranjang Do Kyungsoo.

Gadis itu seketika pening, saat ia mencoba duduk. Rasanya pusing sekali, tapi ketidaknyamanan itu segera terganti menjadi senyum simpul. Jisoo mengamati kemeja milik Kyungsoo yang ia kenakan. Aroma Kyungsoo samar-samar menyusup dalam indra penciumannya. Perlahan, membuat ingatannya menapaki setiap episode yang ia lakoni kemarin malam.

Jisoo hanya ingat separuh dari kejadiaan. Gadis itu tadinya mengira bahwa pria yang membantunya ialah Kyungsoo, makanya ia asal menciumnya. Kecerobohan Jisoo disebabkan oleh alkohol yang telah mengambil kesadarannya. Selanjutnya, ia hanya bisa mengingat jika Kyungsoo yang asli datang, lalu memukul Baekhyun.

Jisoo menghela napas kasar, bibirnya mengerucut. Tampaknya, kali ini sikapnya sudah keterlaluan. Jisoo menyesal, pasti Kyungsoo kecewa padanya.

Jisoo lantas beranjak dari tempat tidur, ia sedikit terhuyung. Sebelum Jisoo sempat mengayunkan tungkai, netra gadis itu menangkap segelas susu yang di letakkan pada meja tak jauh dari ranjang. Hati Jisoo terenyuh. Begitulah Kyungsoo, semarah apapun pada Jisoo, pemuda itu tidak bisa mengabaikannya.

Jisoo meminum susu yang ternyata masih hangat. Kemudian, ia membersihkan diri dulu sebelum keluar kamar. Jisoo berharap-harap cemas, semoga kekasihnya tak begitu murka padanya.

“Dia pasti sangat kesal,” gumam Jisoo sewaktu mendapati Kyungsoo yang sedang duduk di kursi ruang keluarga. Paras pemuda itu mengeras, bibirnya mengatup membentuk garis tipis, dan netranya menatap tajam ke arah layar kaca.

Bahkan, Kyungsoo enggan menyapa si gadis yang kini ikut duduk di sampingnya. Kyungsoo hanya terus mengganti saluran televisi.

“Selamat pagi, Do Kyungsoo,” ucap Jisoo, nadanya manis. Gadis itu tersenyum, menunggu tanggapan. “Aku sudah wangi,” imbuhnya. Ia menyisir surainya yang masih basah dan memamerkan kaus beruang milik Kyungsoo yang kini sedang dikenakan.

Kyungsoo tak mengindahkan. Ia justru mematikan televisi. Lalu, pria itu pergi dari ruang keluarga menuju dapur.

Jisoo mengekori kekasihnya. “Apa kau marah padaku?” tanyanya. Jisoo memosisikan dirinya di dekat Kyungsoo yang kini sedang membuka lemari es dan minum air dingin. “Jangan marah, kau tahukan aku suka sekali bertingkah aneh sewaktu mabuk dan mencium orang yang ada di dekatku. Aku dan Baekhyun tidak benar-benar berciuman―“ ucapan Jisoo terputus.

Kyungsoo meletakkan botol minumnya dengan keras ke nakas, membuat Jisoo sedikit terpenjat. Si pria kembali berjalan, tujuannya adalah ruang kerja.

“Bibir kami memang saling menempel, tapi aku dan dia―“ lagi-lagi ungkapan Jisoo terpotong. Kyungsoo menutup pintu ruang kerja tepat di hadapan gadisnya. Jisoo lantas menghela napas kesal. Ia berusaha sabar. Kyungsoo kadang bisa sangat kekanakan.

Jisoo membuka engsel pintu ruang kerja Kyungsoo yang ternyata tidak dikunci, hal itu menandakan apabila kekasihnya mengijinkannya masuk. “Marah kok setengah-setengah,” oceh Jisoo pelan. Ia mengubah raut yang awalnya cemberut menjadi ceria lagi. “Halo, Do Kyungsoo. Ini hari Minggu, tapi kau malah di ruang kerja,” ujar si gadis sok gembira.

Kyungsoo tak mengacuhkan gadis kesayangannya. Pria itu kini sibuk berada di balik meja dan menekuni dokumen.

“Aduh, kakiku tersandung,” keluh Jisoo. Ia pura-pura jatuh sembari mencuri pandang ke arah Kyungsoo yang tampaknya tidak tertarik. Jisoo berdecak, kemudian bangun. Jisoo malu, aktingnya tidak mempan.

Jisoo memutuskan untuk duduk di hadapan Kyungsoo. Gadis itu menyangga kepalanya dengan tangan. Ia mengamati paras Kyungsoo yang galak. Dia juga memuji Kyungsoo yang tampak menawan hari ini dengan kaus garis-garis serta celana pendek jeans. Namun, yang diperhatikan tak kunjung mencurahkan respons.

Lama-lama Jisoo mengantuk. Ah, satu jam berselang gadis itu akhirnya tidur juga. Ia menggunakan tangannya sebagai alas dan kepalanya di letakkan pada meja.

Kyungsoo hanya menggeleng tak percaya, sewaktu mendapati gadisnya malah terlelap. Ia sebenarnya tidak dapat marah pada Jisoo. Akan tetapi, jika dia mengingat kembali apa yang dilakukan Baekhyun dan Jisoo malam itu, tubuhnya langsung memanas. Kesal setengah mati.

Tanpa sadar jari-jari Kyungsoo membelai surai Jisoo. Hal itu yang biasa dilakukannya untuk membuat tidur si gadis semakin lelap.

“Kau tidak marah lagi padaku kan?” suara lembut itu terdengar dari bibir Jisoo yang ternyata hanya berpura-pura tidur. Si gadis langsung menegakkan tubuh, ujung bibirnya terangkat.

Kyungsoo cepat-cepat mengurungkan tangannya yang tadi terlanjur menyentuh Jisoo dengan penuh sayang. “Hanya dalam mimpimu,” ungkap Kyungsoo dingin.

“Akhirnya, Do Kyungsoo bersuara,” sorak gadis itu. “Suaramu indah sekali. Ayo, coba ulangi,” rayunya.

Kyungsoo memutar bola mata. Pemuda itu melangkah pergi dari ruang kerjanya menuju kamarnya. Ia lantas berbaring di ranjang, kemudian menyelimuti dirinya seperti kepompong.

Jisoo ikut merebahkan tubuh di samping Kyungsoo. “Aku minta maaf,” ucapnya sedih. “Aku hanya ingin membuatmu kesal, tapi sumpah aku tidak berencana mencium Baekhyun. Lagi pula, aku dulu kan pernah cerita padamu jika Bekhyun tidak pandai dalam hal berciu―“

“Berisik,” hardik Kyungsoo.

Jisoo cemberut. “Jangan marah padaku. Jangan bersikap kekanakan begini. Aku saja yang kekanakan, kau jangan,” rengek Jisoo sambil menarik-narik selimut Kyungsoo.

Tetap tidak ada jawaban.

“Ya sudah, aku pulang saja!” pekik Jisoo frustasi. Gadis itu sudah akan bangun, tetapi tangan Kyungsoo terulur untuk mencegahnya.

Kepala pemuda itu menyembul dari selimut. “Di luar hujan,” katanya.

“Apa pedulimu?”

Kyungsoo menghela napas keras-keras. “Nanti kau sakit,” timpal Kyungsoo.

“Biar saja.” Jisoo melipat tangan di depan dada. “Daripada tak diacuhkan olehmu,” imbuhnya.

“Kau dari tadi hanya mengoceh soal bagaimana kronologis ciuman kalian. Apa kau pikir aku tertarik?” ujar Kyungsoo. Ia bangun dari posisi tidur.

“Aku hanya menjelaskan agar dirimu tidak salah paham,” jawab si gadis enggan menyerah kalah.

“Aku sudah tahu,” timpal Kyungsoo. Ia menjatuhkan diri lagi ke ranjang.

“Sudah tahu apa?”

Kyungsoo enggan langsung menjawab. Pemuda itu menatap manik gadisnya yang menunggu. “Aku sudah tahu kalau kau tidak berniat mencium Baekhyun. Aku sudah tahu kebiasaan mabukmu seperti apa. Aku mengenal dirimu lebih baik daripa caraku memahami diriku sendiri,” ujar Kyungsoo. Rasanya, kekesalan Kyungsoo mulai meluruh. Buktinya, pria itu menautkan jemarinya dengan milik Jisoo. “Lebih baik, kita tidak membahas kejadian tadi malam,” lanjutnya.

Jisoo beringsut ke pelukan kekasihnya. Ia menyembunyikan parasnya di leher Kyungsoo. “Jangan marah lagi,” gumamnya.

Kyungsoo membelai punggung Jisoo. “Aku tidak bisa marah padamu. Aku hanya kesal, itu pun hanya sebentar. Aku payah sekali,” balas Kyungsoo.

Jisoo mengamati paras prianya yang kini lebih hangat dari sebelumnya. Ia tersenyum, saat Kyungsoo mulai menjungkitkan bibir. “Andai saja, ada banyak Do Kyungsoo di dunia ini. Do Kyungsoo yang baik hati, pintar, dan sangat pengertian. Do Kyungsoo yang punya mata lebar,” celoteh Jisoo. Ia menutup ucapannya dengan kecupan di pipi Kyungsoo.

Kyungsoo menautkan alis. Ia seolah berpikir. “Bisa saja, ada Do Kyungsoo yang lain.”

Jisoo membolakan mata merasa tertarik. “Bagaimana caranya?” tanyanyan penasaran.

Kyungsoo tertawa. Ia mendekap gadisnya semarik erat. “Kita menikah, lalu membuat duplikat Do Kyungsoo dan mini Kim Jisoo,” jawabnya yang langsung mendapatkan cubitan dari Jisoo.

Pipi gadis itu merona. “Tidak mau menikah.”

“Kenapa?” giliran Kyungsoo yang mencebik.

“Aku tidak bisa memasak.”

Kyungsoo tersenyum mendengar alasan kekasihnya. “Aku bisa memasak untuk keluarga kita atau mengajarimu,” timpalnya.

“Aku ceroboh dan selalu melakukan kesalahan.”

“Aku orang yang teliti dan aku bisa membantumu memperbaiki setiap kesalahanmu, Darling.”

“Kau tahu, aku tidak bisa akrab dengan anak kecil dan aku tak dapat membuat bayi berhenti menangis,” keluh Jisoo.

Kyungsoo mengecup puncak kepala Jisoo sebelum menjawab, “Karena kau belum menjadi seorang ibu. Ada yang mengatakan, wanita akan berubah saat ia punya bayinya sendiri,” jelas Kyungsoo.

“Aku takut kau akan lelah denganku yang tidak bisa apa-apa dan bosan dan―“

Argumen Jisoo berhenti, ketika Kyungsoo menyemburkan dentang tawa.

“Aku telah mengenalmu selama dua puluh tiga tahun. Aku mulai mencintaimu lebih dari sebelas tahun. Rasanya sudah sangat terlambat jika kau bicara soal kebosanan sekarang,” ucap Kyungsoo. Ia mendekatkan diri pada paras Jisoo, sehingga hidung mereka bersentuhan. “Aku jadi curiga, kau enggan menikah karena tidak mencintaiku,” imbuh Kyungsoo.

Jisoo sontak menggeleng. “Bukan begitu. Aku sangat menyukaimu dan sangat mencintaimu. Makanya ….”

“Makanya?” ulang Kyungsoo sewaktu Jisoo menggantungkan ucapan.

Jisoo menggigit bibir. “Makanya, aku ingin kau mendapatkan semua yang terbaik di dunia. Sepertinya, aku bukan salah satunya,”

“Gadis bodoh,” gumam Kyungsoo. Pemuda itu lantas memangkas jarak di antara mereka. Kyungsoo melumat lembut bibir atas gadisnya, lalu bagian bawah. Ia menarik tengkuk Jisoo untuk memperdalam kecupan. Kini pemuda itu bergerak perlahan agar bisa memosisikan dirinya di atas gadisnya.

Jisoo sedikit kualahan menghadapi Kyungsoo kali ini. Ia hanya mampu mengikuti gerakan prianya. Jisoo meremas kasar surai Kyungsoo yang sudah berantakan, ketika pemuda itu mulai mengecup dan mengigit lehernya.

“Kyungsoo,” desah gadis itu.

Jisoo mulai menikmati permainan kasihnya, namun Kyungsoo tiba-tiba menjauhkan paras mereka.

Kyungsoo menyeringai, setelah mengamati Jisoo yang begitu berantakan karena dirinya. Kyungsoo pun menahan tangan Jisoo yang mencoba menariknya kembali pada tautan yang mendebarkan itu.

“Aku tidak mau,” kelakar Kyungsoo. “Mana bisa aku mencium gadis yang tidak ingin menikahiku?” imbuhnya.

“Do Kyungsoo, jangan main-main,” keluh si gadis.

Kyungsoo melejitkan bahu. Ia bahkan mulai menjauhkan tubuh mereka yang terjalin intens.

Jisoo menahan Kyungsoo. “Baiklah,” bisik gadis itu.

“Baiklah apa, Sayang?”

“Baiklah, kita menikah,” ujar Jisoo lemas, disambut tawa Kyungsoo yang memenuhi seisi ruangan.

Serius? Apa mereka benar-benar menikah?

-oOo-

a/n: Terima kasih sudah membaca, kritik, saran, dan kotak komentar bisa kalian sampaikan di Track List. ^^

Advertisements