Outages: The Scars

outages-2

Credit Poster : ALKINDI DESIGN

Inspired from Fifty Shades of Grey

Twelveblossom’s

Prev: New LiveWe WalkThe WeddingBehind The Scene – The Real You

“Scars have strange power to remind us that our past is real.”―Cormac McCarthy


Tidak ada yang sanggup membuat Nara begitu bahagia hingga ingin meletup, selain fakta bahwa Sehun terlelap di sampingnya. Jemari Nara membelai surai hitam Sehun yang terasa lembut di indra peraba. Gadis itu enggan mengenyahkan senyum yang terpatri di paras rupawannya.

“Selamat pagi, Sayang,” sapa Nara ceria, saat netra Sehun perlahan terbuka, lantas mendapatkan sorot memuja dari pria itu.

Sehun enggan menimpali dengan ucapan. Dia mengungkung Nara ke dalam pelukan. Sehun mengecup kening gadisnya, kemudian sepasang kelopak mata Nara. “Good morning, Darling,” selanya, sembari mencium singkat bibir gadisnya. Sehun memindai tubuh Nara yang telah berpakaian rapi, gadis itu memakai rok biru tua selutut dan atasan polos berwarna putih. Ia mengernyit bingung sebab semalam, sebelum mereka tertidur, Nara masih mengenakan kemeja Sehun.

Nara mengerti pertanyaan yang bersuara di benak Sehun, maka dari itu si gadis pun berujar, “Krystal akan berkunjung ke apartemen hari ini. Aku sudah berpakaian karena tidak ingin bibiku terlalu senang akibat tahu kita menghabiskan malam bersama.” Nara meraba punggung telanjang Sehun, lalu melanjutkan, “Entah dia mendapatkan berita dari mana. Bibi tahu, jika kau melamarku.”

Sehun melepaskan pelukannya dan menyingkap selimut tebal yang membalut mereka, menampilkan tubuhnya yang hanya mengenakan celana pendek. Ia terduduk di ranjang kamar Nara. “Aku juga harus bersiap,” katanya.

Nara ikut terbangun. Gadis itu mengecup bahu Sehun yang bidang, sejenak menghirup aroma maskulin kekasihnya. “Aku suka sekali bau Sehun, sewaktu bangun tidur di pagi hari,” ucap Nara manja.

Sehun tertawa. Ia mengelus pipi si gadis perlahan, mendaratkan ciuman manis di sana. “Aku menganggap itu sebagai pujian. Aku milikmu. Kau bisa memiliki aromaku setiap membuka mata di pagi hari.”

Nara hendak memperdalam kemesraan mereka, namun suara bel pintu apartemennya berdering. Gadis itu membuang napas kesal. “Seharusnya, ini jadi momen yang romantis di antara kita. Serius, aku ingin punya rumah sendiri,” cebik Nara, sambil beranjak dari tempat tidur itu, menyisakan Sehun yang tertawa melihat tingkah kekasihnya.

“Bibi tahu kata kunci apartemen ini. Kenapa membunyikan bel?” tanya Nara, tanpa berusaha menyembunyikan kekesalannya, ketika mereka menuju dapur untuk membongkar kantung karton―isinya sayuran dan daging―yang dibawa Krystal.

Krystal berpendapat bahwa dirinya perlu membawa makanan ke apartemennya karena dia yakin bahwa keponakannya pasti enggan berbelanja selama ditinggal berbulan madu. Well, wanita itu hanya jaga-jaga, siapa tahu Nara mati kelaparan?

Krystal mengerling penuh arti. “Aku menjaga privasimu dan Sehun,” jawabnya. Wanita itu terlihat segar ketika menyunggingkan bibir.

“Privasi?”

Yes, Sweetheart. Aku memberitahukan kedatanganku agar kalian tidak malu karena ketahuan,” timpal Krystal, genit.

“Ketahuan apa? Memangnya kami mencuri.” Nara mengoarkan protes. Gadis itu membuka lemari pendingin, meraih susu kemasan lalu meminumnya.

“Cinta kalian kan sedang membara. Bisa saja kalian bercinta di atas meja makan ini, di sofa, di ruang menonton, atau―“

“―Jangan meracuni pikirannya, Krys.” Sehun memotong ucapan Krystal. Pria itu melangkah menuju Nara, kemudian meraih pinggang si gadis. Jari Sehun menghapus sisa susu di ujung bibir Nara.

Senyum Krystal semakin melebar. “Baiklah, kita perlu membahas beberapa hal mengenai pernikahan kalian.”

“Gosh, saat ini bukan waktu yang tepat,” keluh Nara, lalu memijat pelipisnya. Nara tiba-tiba pusing, mendengar soal pernikahan, apalagi bibinya yang mengungkit.

Sehun melejitkan bahu. “Okay, girl’s time. Lebih baik aku mandi dan bersiap ke kantor,” putus Sehun. Pria itu menggaruk tengkuk, sembari perlahan menghindar dari tatapan tajam Nara yang meminta pertolongan untuk dibebaskan dari ocehan Krystal. Sehun kabur ke kamar.

“Ini adalah waktu yang tepat, percayalah padaku pernikahanmu akan menjadi yang termegah sepanjang tahun ini!” seru Krystal kegirangan.

Nara memutar bola mata, jengah. “Dengar Bibi, aku bukan artis―“

“―Memang bukan―”

“―Atau tokoh politik yang terkenal. Jadi, aku ingin pernikahan yang sederhana.“

Krystal melipat tangan di depan dada. “Kau memang bukan artis atau tokoh politik. Namun, Sehun adalah pebisnis muda yang kekayaannya tak bisa kau hitung dengan semua jarimu. Dunia harus tahu jika―“

“―Cukup, Bibi. Aku mengerti. Aku sangat lelah sekarang. Mungkin kita membicarakan besok atau lusa saja.” Nara menyela Krystal, sebelum wanita itu mendongeng soal betapa kerasnya dunia bisnis yang tentunya membuat Nara mengantuk.

Krystal menggigit bibir. Ia seperti baru mengingat sesuatu yang penting dan harus segera disampaikan. “Ini agak mengejutkan, namun Jessie mengancam akan datang lusa, apabila kalian tidak segera menentukan tanggalnya,” ujar bibinya yang lantas membuat mata Nara membola.

“Bibi memberitahu Mom?” pekik Nara, terkejut. Si gadis menyugar surai cokelatnya. “Bibi sudah gila!” serunya putus asa.

Paras cantik Krystal memancarkan rasa bersalah, ia menepuk bahu Nara. “Aku terlalu senang, saat Sehun meneleponku. Dia berkata bahwa kau menerima cincinnya. Aku hanya membagikan kegembiraan pada ibumu. Dia sangat senang dan heboh.”

“Aku bisa sinting!” omel Nara pada Krystal yang tersenyum malu.

Nara merasa bahwa dirinya mengalami penuaan dini dalam tiga hari terakhir. Gadis itu sibuk sekali memilih gedung, gaun, undangan, dan segala perlengkapan pernikahannya yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Well, keluarga mereka memutuskan tanggal dengan cepat. Jessica―ibu Nara―berkunjung selama beberapa hari ke Seoul, sebelum mendapatkan telepon bahwa bosnya kerepotan menerbitkan majalah tanpa kehadiran sang ketua editor. Sementara Sehun, terus saja beralasan mengenai padatnya jadwal kerja, apabila diminta menemani Nara dan Krystal berbelanja keperluan resepsi. Nara tahu pria itu menghindari kegiatan melelahkan itu. Hal tersebut, membuat itensitas pertemuan Nara dan kekasihnya berkurang, apalagi si gadis juga resmi berhenti menjadi karyawan magang di kantor Sehun. Jadi, ketika Nara sudah rindu setengah mati dengan Sehun, gadis itu meminta prianya untuk datang ke apartemen sepulang kerja.

“Aku sudah berencana kemari, lalu kau meneleponku,” ujar Sehun, saat Nara membukakan pintu. Pria itu memeluk Nara hangat, kemudian memberikan kecupan singkat pada kening gadisnya.

Nara tersenyum. Ia menarik Sehun untuk duduk di sofa ruang menonton. “Tumben dirimu memikirkanku, bukannya akhir-akhir ini kau sangat sibuk,” balas si gadis.

“Aku sibuk karena menyiapkan hadiah untukmu,” ucap Sehun sembari menggoyangkan iPad yang ia bawa.

“Aku sudah punya benda itu.” Nara mencebik, netranya melihat Sehun mengotak-atik iPad, membuat dirinya mengintip, ingin tahu.

Sehun mengangsurkan iPad yang menampilkan lima kotak, setiap kotak terdapat lima rumah menawan. Lantas membuat Nara mengurutkan alis, bingung.

“Apa perusahaanmu beralih fokus?” tanya Nara.

Sehun menggeleng. “Kau pilih saja salah satu. Minggu lalu, aku bertanya kepada ibumu, seperti apa rumah impian Jung Nara. Lalu, aku mencari rumah yang sesuai kriteria. Sekarang, aku memintamu untuk memilih,” jelas Sehun. Pria itu mengambil jeda sejenak, sembari membelai surai Nara. “Jika lima pilihan ini belum ada yang kau suka, aku akan mencarikan lagi,” imbuh pria itu.

Nara menghamburkan diri ke pelukan Sehun sebelum menjawab, “Kelimanya sangat indah. Berada di tepi pantai, banyak jendela, taman penuh bunga, luas, dan―Oh Sehun, sebenarnya ini tidak penting. Di mana pun asal ada dirimu, aku menyukainya.”

Sehun mengulum senyum. “Manis sekali, tapi tetap saja kau harus memilih di mana kita akan tinggal setelah menikah, Love,” ujar Sehun, lalu menyentil hidung Nara.

“Bagaimana kalau aku menyukai kelimanya?“ kelakar Nara, nadanya jenaka.

“Bagus, aku sudah membeli semuanya,” potong Sehun enteng. Ia tertawa, saat Nara melotot ke arahnya. “Semuanya milikmu, atas nama Jung Nara,” lanjut pria itu.

“Ini berlebihan!” pekik si gadis. Ia berdiri dari duduknya, kemudian Nara berkacak pinggang.

Sehun menarik tangan Nara agar gadis itu kembali duduk. “Tidak, kau harus terbiasa. Mulai sekarang, semua milikku adalah punyamu,” kata Sehun.

Nara menghela napas panjang sewaktu netra Sehun menatapnya tajam, hal itu menandakan bahwa kekasihnya enggan menerima penolakan. “Baiklah, aku menyerah. Sejujurnya aku lebih suka tinggal di apartemen yang dekat dengan kantormu. Rasanya terlalu sepi, apabila hanya kau dan aku yang tinggal di hunian sebesar itu,” tawar Nara. Si gadis mengimbuhkan, ketika Sehun hendak membuka argumen lagi. “Jika kita sudah memiliki anak, kita akan pindah ke rumah yang lebih besar. Aku berjanji.”

Sehun tampak berpikir beberapa sekon, lalu bicara, “Aku, setuju. Ada beberapa gedung apartemen yang dekat dengan kantor. Kita tetap akan memilihnya, sesuai yang kau suka.” Ia tersenyum, menyadari bahwa keinginan gadis yang berada di sampingnya itu sangat sederhana.

“Ide bagus,” balas Nara, sembari menyenderkan kepala ke bahu Sehun. Ia memainkan jari-jari pria yang masih mengenakan setelan kantor.

“Nara, apa besok kau bisa menemaniku?” tanya Sehun, saat Nara sudah hampir tertidur di kungkungannya.

“Ke mana?”

Sehun tersenyum simpul, “Bertemu Kim Jongin. Dia datang dari London untuk pernikahan kita.”

“Astaga, padahal masih dua bulan lagi,” protes Nara. Gadis itu cemberut, namun tetap menyetujui permintaan kekasihnya. “Boleh, kenapa dia datang lebih awal?” imbuh Nara.

“Dia tertarik padamu, saat aku menyebutkan namamu dan kau juga besar di London,” jawab Sehun ia terdiam sebentar, seperti mengingat-ingat sesuatu. “Jongin kuliah di universitas yang sama denganmu.”

“Benarkah? Aku tak ingat punya teman yang namanya Jongin. Dia tidak terkenal,” kelakar gadis itu.

Well, Jongin menggunakan nama aslinya ketika di London. Mom tentunya sudah bercerita jika Jongin adalah anak angkat,” jelas Sehun. Pria itu mengusap lengan Nara.

“Memangnya, siapa nama aslinya?” Nara mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.

“Kai.”

“Kai?” bisik Nara, suaranya tegang. Nara membeku. Parasnya memucat. Napasnya tercekat mendengar Sehun menyebutkan nama itu. Nara telah memutar potongan adegan masa lalu di kepalanya. Atensi Nara tidak tertuju pada pria yang duduk di sampingnya.

“Jung Nara, apa kau baik-baik saja?” Sehun bertanya. Ia memindai mata gadisnya yang kosong, benak Nara sedang tidak di ruangan itu. Sehun meremas lembut jari-jari gadisnya. “Apa yang sedang kau pikirkan?” ulang Sehun, ketika pertanyaannya tidak dijawab.

“Aku baik. Eum, aku sangat mengantuk, lelah, dan ingin tidur,” kata Nara seadanya. Ia menunduk, enggan membalas pandangan Sehun pada dirinya. Gadis yang mengenakan piama tidurnya itu lebih memilih untuk melangkah pergi menuju ke kamar.

Sehun melejitkan bahu bingung atas sikap Nara yang janggal. Ia mengikuti si gadis berbaring di ranjang, kemudian memberikan kenyamanan pada Nara.

Pria itu tidak bertanya lagi. Dirinya mencoba memahami sikap Nara. Berulang kali Sehun mengatakan pada pikirannya bahwa Nara sedang lelah, Sehun harus menjadi penghiburan atas kasihnya, bukannya malah merecoki.

Sepanjang malam, Nara hanya bungkam dan memeluk Sehun. Seakan dirinya takut kehilangan kekasihnya pada hari berikutnya.

Nara baru terlelap tidur setelah jam menunjukkan pukul tiga pagi. Perlahan Sehun melepaskan pelukan Nara. Ia mengecup paras damai gadisnya yang pulas. Sehun merasa, apabila ada sesuatu yang sedang disembunyikan Nara.

“Aku akan mencari tahu,” bisik Sehun sebelum pergi, membiarkan si gadis terlelap sendirian.

Kai adalah pria yang ramah. Kai ialah pria yang memiliki paras rupawan. Kai merupakan pria yang dapat menarik hati seorang gadis, tanpa berusaha keras. Nara masih mengingat betul pesona pria itu, setiap inci tubuhnya, dan hangatnya tangan Kai yang pernah menjadi bagian dari dirinya.

Nara dulu tergila-gila padanya.

Entah sudah berapa ratus kalimat pujaan yang Nara ucapkan untuknya. Kai memang indah, masa lalu yang memberikan goresan membekas dan … menyakitkan.

“Kim Jongin,” vokal yang familier, kembali mengisi rungu Nara. Ujung bibirnya tertarik membentuk sudut yang hanya bisa dilakukan oleh Kai.

Nara merasakan jemari Sehun mengusap lengannya, menarik sang kekasih dari lamunan. Parasnya yang cantik tertegun beberapa sekon, lalu berusaha mengubah keterkejutannya. “Jung Nara,” balas si gadis. Dua tahun lalu, mereka juga memperkenalkan diri dengan cara yang sama.

Tubuh Nara tegang, ketika Kai menjabat tangannya. Gadis itu berpikir, apabila Kai akan menyatakan secara gamblang ke pada Sehun mengenai hubungan percintaannya dengan Nara. Kini Kai justru bersikap seakan mereka tidak pernah bertemu.

Betapa hebat akting pria berengsek ini, batin Nara.

Kendati demikian, pupil hitam Jongin memindai Nara. Ia menatap Nara, tajam. Ada pesan yang tersirat dalam setiap detik pandangannya pada si gadis yang terbalut gaun selutut, “Nama yang indah dan―”

“―Mudah diingat,” potong Nara. Ia sengaja menyelipkan kenangan perkenalan antara dirinya dan Kai di masa lalu. Setelah itu, Nara membuang wajah. Atensinya mendarat pada Sehun yang berdiri di sampingnya. “Salah satu temanku di London pernah mengatakannya,” jelas Nara, menyelipkan senyum tipis. Dia berjinjit, kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir Sehun.

“Jongin, kau akan pulang bersama Nara. Aku harus kembali ke kantor ada rapat,” kata Sehun. Pria itu merenggangkan spasi di antara dirinya dan Nara. “Tolong jaga gadis ini,” ujarnya.

Jongin mengangguk. “Aku akan menjaganya,” pria berkulit kecoklatan itu menyetujui.

“Sehun kau bilang tidak ada rapat―”

“―Mendadak, Darling. Alex yang mengantar kalian dari bandara ke rumah. Lagi pula Jinri ingin bertemu denganmu,” sela Sehun. Dia membelai pipi Nara sekilas, kemudian berbalik. Tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya, Sehun merajut langkahnya terlebih dahulu.

“Wow, ternyata benar ini dirimu, Jung Nara,” ungkap Kai, setelah Sehun benar-benar menghilang dari pandangan. Pria itu menghela napas panjang. “Sulit diterima,” imbuhnya.

Nara tak mengindahkan ucapan lawan bicaranya. Gadis itu memilih untuk mengayunkan langkah menjauh. Nara membalikkan badan, ketika Jongin menyentak tangannya. “Kai, lepaskan!” perintah Nara.

“Kita perlu bicara,” tuntut Jongin, tergesa.

Nara tertawa datar. “Bicara? Aku tidak memiliki kepentingan apa pun mengenai dirimu.”

“Kita harus menyelesaikan segalanya.”

“Semuanya sudah selesai. Aku berharap kau enyah dalam hidupku. Aku ingin kau pergi.” Nara bersuara lirih. Gadis itu berusaha membendung airmata yang keluar.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” ungkap Kai. Ia beranjak memeluk Nara, namun gadis itu menolak. “Sehun tak akan suka ini. Gadis yang sangat dicintainya ternyata kekasih adiknya,” lanjut pemuda berusia sebaya dengan Nara itu.

Nara memberikan tatapan menghunus pada Kai. Ia mencoba untuk menelan emosinya. “Hubungan kita sudah berakhir―“

“―Aku tidak percaya kau belum memberitahu Sehun kita berkencan―“

Ucapan Jongin terpotong, akibat tamparan Nara pada pria itu. Peluh si gadis menetes. Tangannya bergetar, ketika ia menunjuk Kai. “Kau sudah menyakitiku. Kau tidak layak mengatakan itu,” bisik Nara. Si gadis berusaha mengatur napasnya yang memburu. Dia menenangkan diri, merasakan pandangan orang lain yang tertuju pada mereka. “Aku akan memberitahu Sehun semuanya,” imbuh Nara.

“Dan Sehun akan menyesal telah memilihmu,” timpal Kai, mencengkram lengan gadis itu.

-oOo-

Advertisements

235 thoughts on “Outages: The Scars

  1. problem solved. jadi kai itu mantam nara. awalnya nara gak ngenalin jongin karena dia ngenalin diri sebagai kai. dan kesel di sini sama jongin. jongin ngancem nara :/ aku mulai ngerti karena lompat chapter huhu ㅠㅠ

  2. yaelaahhhh bang-kai bang-kai, aishhhh..knpa harus kmbali ke koreyaaaaa..lagian knpa dia keliatan ga trima gtu..?? bukankah dulu dia yg nyakitin nara..?? kan juga uda putus, knpa kai bilangnya gadis yg dicintainya ternyta kekasih adiknya..??? heolll bukannya hubungan mereka uda kandas..??? daebakkk

  3. Yah… mantannya dateng. Dari pas tiffany ngomong kalo Jongin tinggal di london emang udah nebak kalo dia itu mantannya Nara. Tapi yah pas emang kebukti, masih aja takut plus sedih 😕😕
    Semoga aja Nara Sehun baik baik aja 🙏🙏🙏

  4. makin hari nara sm sehun snggt sweet klah pngantin baru hahaha,,,, tak sangka llki yg buat nara sakit itu jogin a.k.a kai saudara angkat sehun lagi,ini akn jadi konflik antara mreka bertiga,,,, kai jahat ugut nara

  5. What the …
    Waktu sesi lihat foto di rumah Sehun di part sebelumnya aku sempat kepikiran kalau mungkin orang yang bikin Nara patah hatu itu Jongin, karena mama Choi bilang dia di London & seumuran sama Nara. Aah tapi masa siiih..
    Dan ini??? Beneran dia?? Si Jongin a.k.a Kai itu orangnyaa??
    Wow! Luar biasaaa

  6. Jadi selama ini dugaanku benar, hmmmm
    Kai yaaaaaaa, knapa horor gitu sih? Dugaanku sih sehun tau. Tapi knapa kai nya jafi ga rela gituuuu

  7. senangnya nara ex datang wkwk. seneng banget baca ff yang belibet dan endingnya ditarik ulur wkwk. bikin naranya jadi pihak yang tersakiti plis wkwk.

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s