If We Love Again: All The Memories

if-we-love-again-req-1

Poster By: Kyoung @ Poster Channel

Previous:

Desire of Heart  – Still Remember You – That Was Love

Sehun, Jung Nara, Park Chanyeol, and Olivia Kim │ PG 15 │Hurt/Comfort & Romance │ Series │Track List Project

“You are there in all the memories.” ―Monodrama, Lay

Nara menggantung mantel dan syalnya. Ia memasuki apartemen Chanyeol dengan kegamangan yang merasuki ulu hati. Gadis itu sedang kacau, ia berharap dapat melarikan diri dari masalahnya. Kendati demikian, Nara hanya mampu menyesal sebab bibirnya telah membocorkan alasannya dulu meninggalkan Sehun.

Mungkin, bagi orang lain itu adalah hal yang biasa.

Namun, menurut Jung Nara, tentu saja berbeda. Nara yang begitu egois dan arogan. Mana mungkin berkorban untuk seseorang? Itu akan melukai harga dirinya.

“Aku sudah mengatakannya pada Sehun,” ucap Nara sembari duduk di samping Chanyeol yang sedang bermain gitar.

Chanyeol yang kali ini membalut tubuh dengan pakaian santai, meletakkan alat musiknya agar dia lebih fokus pada si sahabat. “Apa yang kau katakan padanya?” tanya Chanyeol.

“Alasanku meninggalkannya,” jawab Nara sedih. Ia merebahkan kepala di bahu Chanyeol. Gadis itu memejamkan mata, berusaha bersikap tenang.

Chanyeol selalu bisa memberikan respon yang diinginkan, sesegera mungkin menghibur Nara. “Seluruhnya?” timpal Chanyeol, ia menarik Nara ke dalam pelukan.

“Belum, hanya separuh.” Nara menghela napas kasar. “Dia membenciku,”

Chanyeol membelai surai Nara lembut. “Dia masih berusaha mencerna semuanya, sabar Jung Nara. Jangan terlalu memikirkan hal itu.” Ia kemudian mengubah topik pembicaraan agar si gadis tak luruh dalam duka. “Nara, kau pernah bilang padaku jika dirimu bosan karena hanya berada di apartemen. Kau mengajar balet tiga jam perhari, jadi masih banyak waktu luang. Bagaimana kalau kau bekerja sebagai pemain piano di The Heaven?” ujar Chanyeol bersemangat.

Nara melonggarkan dekapannya. “Apa yang kau maksud The Heaven restoran favoritku? Tentu saja aku bersedia, Park Chanyeol!” timpal Nara. Gadis itu tersenyum. “Aku tidak tahu mereka sedang membuka lowongan―“

“―Do Kyungsoo―manajer The Heaven―langsung yang memberikan informasi soal itu,” sela Chanyeol.

“Bagus sekali, dengan begitu aku bisa menyewa apartemen sendiri dan tidak merepotkanmu.”

Chanyeol mengerucutkan bibir. “Aku senang kau tinggal di sini. Apartemen ini terlalu luas untuk kuhuni sendiri.”

Nara menepuk kepala Chanyeol penuh sayang. “Makanya, kau cari kekasih agar dapat menemanimu,” hibur Nara.

“Bagaimana aku bisa mencari kekasih bila diriku sudah lama jatuh cinta pada seorang gadis?” lontar Chanyeol yang membuat Nara membolakan mata.

“Siapa dia? Apa aku mengenalnya?”

“Kau mengenalnya,” timpal Chanyeol. Pemuda itu memandangi Nara penuh arti.

“Wah, apa dia temanku?”

“Memangnya kau punya teman lagi selain aku?” celetuk Chanyeol yang lantas mendapatkan pukulan ringan di kepala.

Chanyeol tertawa, ia mengusap kepalanya pura-pura kesakitan.

“Ah, pasti Olivia Kim,” simpul Nara.

Chanyeol hanya menggeleng. Ia tetap menatap sahabatnya lembut, sambil berujar dalam pikiran, sebenarnya gadis ini benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura saja?

Nara menikmati pekerjaan barunya. Ia bermain piano di The Heaven pada pukul tujuh hingga sepuluh malam. Gadis itu teramat nyaman berada di sana, dia mencintai piano, serta gajinya lumayan untuk menyewa apartemen kecil dekat studio balet. Walaupun begitu, si gadis juga sempat gundah. Hal itu disebabkan, The Heaven adalah restoran ternama yang dipenuhi orang-orang kaya―Nara dulu berasal dari tingkatan itu―mendapati dirinya tersingkir dari golongan tersebut membuatnya kecewa.

Selain itu, saat manik si gadis memandang sekeliling The Heaven beberapa kenangan menerobos untuk kembali muncul ke permukaan. Ia dan Sehun pernah sekali makan di sini ketika ulang tahun Nara. Mereka duduk di bagian ujung The Heaven yang bersebelahan langsung dengan jendela. Nara tersenyum sekilas mengingat manisnya perlakuan pemuda itu padanya. Mereka dulu sering melewati The Heaven, ketika jalan-jalan bersama hanya untuk mendengarkan permainan piano yang berasal dari restoran itu. Nara kerap meminta Sehun menemaninya makan di The Heaven. Akan tetapi, pemuda itu menolak. Alasan pria itu bertindak demikian sebab Sehun bertekad, sebelum ia mampu membayar tagihannya dengan uangnya sendiri, maka mereka tidak akan makan di The Heaven.

Hingga pada suatu saat, setelah sekian lama Sehun kerja paruh waktu, pemuda itu menghadiahkan makan malam di The Heaven kepada Nara. Nara sangat gembira, bukan karena dia singgah di restoran berkelas, namun lebih pada Sehun yang bersedia berusaha demi dirinya. Nara mencintai Sehun yang seperti itu.

Tanpa sadar Nara memainkan lagu yang melatar belakangi makan malam istimewa mereka di masa lalu. Ia merasuki nada-nada yang mengalun lembut, seolah-olah Sehun sedang berada di sini bersamanya, tersenyum padanya, dan menatapnya penuh sayang. Hatinya kemudian berdesir, membisikkan setiap rindu yang berusaha dipendam.

Begitu terbawa suasana, Nara lupa waktu. Ia baru jeda setelah menyelesaikan lagu kelima.

Setiap satu jam sekali Nara diberi istirahat selama dua puluh menit. Ia menggunakan waktu singkat tersebut untuk menyantap makan malamnya. Si gadis tak menyangka apabila dirinya mendapatkan sedikit kemewahan pada menu makan malamnya. Mungkin karena manajer The Heaven adalah teman Chanyeol, makanya ia baik pada Nara. Nara bersyukur memiliki sahabat serupa Park Chanyeol.

Nara selalu enggan berpikiran atau memilih opsi lain. Bisa saja bukan, semua itu tak hanya berasal dari Chanyeol? Pasti ada rencana berbeda dalam hidup. Misalnya, kemungkinan bahwa apa pun yang didapatkan si gadis kini hasil kebaikan dari pria lain yang sedang mengawasinya dari jauh.

Pria lain itu adalah Sehun.

Oh Sehun berada di ruang ekslusif The Heaven. Ruangan itu berada di lantai dua dan dilapisi kaca satu arah. Ia dapat menyaksikan Nara yang sedang bermain piano, lantaran si gadis tidak.

“Aku masih ingat saat kau dan Nara berkunjung untuk pertama kalinya ke sini,” ujar Do Kyungsoo yang duduk di hadapan Sehun.

Olivia Kim sebagai satu-satunya wanita yang berada di ruangan itu lantas tersenyum. Si gadis bisa mengira tanggapan Sehun atas ungkan Kyungsoo. “Aku penasaran sosok Sehun ketika masih remaja,” celetuk Liv.

Paras Sehun dingin. Ia menegak anggur dalam gelas kristalnya. Tentu saja, dia ingat. Kenangan itu enggan enyah dalam benaknya. “Itu sudah lama sekali, Kyungsoo,” vokal Sehun, mengabaikan Liv. Ia berdiri mendekati jendela yang luas agar dapat mengamati Nara lebih dekat.

“Kau memohon agar bisa membayar makanan di sini dengan tenagamu,” timpal Kyungsoo.

Ungkapan Kyungsoo telah memancing ingatan Sehun memutar adegan-adegan lama yang sukar hilang dalam benak.

Sehun empat tahun lalu tidak memiliki banyak hal, kecuali perasaannya sendiri. Sehun yang dulu teramat menyukai Jung Nara. Dia ingin memberikan apapun kepada kekasihnya, termasuk hal yang disukai si gadis. Sehun mendengarkan dengan baik ketika Nara bercerita mengenai The Heaven dan keinginan gadis itu untuk berkencan di sana. Nara berkata, dia memang sudah sering pergi ke The Heaven bersama keluarganya, namun akan lain ceritanya apabila dia berkunjung dengan Sehun. The Heaven jauh lebih istimewa jika ada Sehun, kenang pemuda itu.

Agar dapat mewujudkan keinginan kasihnya, Sehun berusaha kerja paruh waktu selama dua bulan. Tetapi, dia hanya mampu membayar separuh dari harga menu restoran itu. Sehun yang sekarang bisa saja tersenyum kecut mengenang dirinya dulu yang memohon pada Do Kyungsoo―manajer muda saat itu―untuk mengijinkannya membayar sisanya nanti. Dia begitu berusaha membuat Nara senang. Bahkan, Sehun enggan memikirkan dirinya sendiri. Sehun remaja yang begitu naif.

“Sehun, kita harus pulang karena ada beberapa dokumen yang perlu diselesaikan,” ucap Olivia Kim, sukses membuat Sehun menginjakkan kembali kesadarannya. “Tentunya, kau tidak berencana membuntutinya terus, bukan? Dia akan sangat terkejut kalau kau sampai ketahuan,” imbuh Liv, nadanya jenaka.

Mendengar ocehan Liv, Sehun mengalihkan tatapan pada Nara. Ia berusaha menghapus pikiran yang mencoba memunculkan kembali kasih itu. Sehun meletakkan slokinya, kemudian meraih jaket yang tersampir. Pemuda itu menepuk bahu Kyungsoo.

“Tolong jaga dia,” ujar Sehun sebelum langkahnya mengayun keluar dari ruangan itu.

Nara melihatnya. Ia dapat menangkap sosok Sehun yang menuruni tangga, ketika dia menyelesaikan sesi terakhirnya bermain piano. Gadis itu tertegun melihat Sehun yang bercengkrama bersama seorang gadis, mereka keluar dari ruang eksklusif The Heaven. Gadis lain yang kini jari-jarinya bertautan dengan Sehun ialah Olivia Kim, wanita itu tampak lebih rupawan dari sebelumnya.

Apa sedari tadi Liv dan Sehun berduaan di ruangan itu?

Nara menundukkan kepala sejenak. Tangannya mencengkram meja yang berada di dekatnya. Entah mengapa sekujur tubuhnya mengigil karena mendapati Sehun bersama wanita lain di restoran favorit mereka.

Gaun selutut bewarna hitam yang dipakai Nara bergoyang ketika si gadis mendekat ke arah mereka. Berulang kali Nara meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja.

“Jung Nara, kita bertemu di sini. Apa kau sedang makan malam? Tapi, terlalu larut untuk itu,” sapa Liv, ketika mereka bersimpang jalan.

Nara tersenyum, sudut bibirnya bergetar. Ia memindai Liv, lalu maniknya tertuju pada Sehun yang terlihat tampan malam ini. Hati Nara berdesir menangkap raga Sehun dalam sorot matanya, walaupun pemuda itu enggan membalas tatapan Nara―Sehun membuat Nara seolah-olah tidak ada. Rahang Sehun seakan beku, dia tidak berniat menggerakkannya untuk memberikan satu patah kata pun pada Nara.

Nara rindu suara Sehun.

“Aku bekerja di sini. Kemana kalian pergi setelah ini?” tanya Nara, tanpa sanggup mengontrol ucapannya. Ia terlalu khawatir akan apa yang dilakukan Sehun serta Liv.

Liv menyugar surainya yang tergerai indah. Kecantikan gadis itu sangat mendominasi lawannya. “Kami akan pulang ke apartemen Sehun―“

“―Apa kalian tinggal bersama?” potong Nara.

Liv hendak menjawab, namun Sehun mendahului. “Bukan urusanmu, Jung Nara,” tukas si pemuda, kemudian menarik Liv pergi dari sana.

Nara tertawa pelan. Dalam tawa itu tersimpan kesedihan yang sangat kentara. Nara terlanjur bingung dengan perasaannya, ia tertawa tetapi juga menangis dalam sekon yang bersamaan. Seseorang, ternyata dapat merasakan perasaan yang berlawan dalam waktu yang sama.

Sehun masih berada di balik kemudi audinya. Dia belum beranjak dari The Heaven, ia tadi meminta Liv dan pengawalnya pulang terlebih dahulu. Sementara dia sibuk mengekori Nara yang selesai bekerja pukul sebelas malam. Sehun hanya khawatir―tidak lebih, kepalanya benar-benar akan meledak sewaktu berusaha meredam lajurnya. Daripada dirinya tidak bisa tidur semalaman, ia memilih mengikuti si gadis serta memastikan Nara aman.

Pemuda itu menatap lekat Nara yang berada di depan The Heaven, walaupun restoran itu sudah tutup. Sepertinya, Nara sedang menunggu seseorang.

Tentunya, keberadaannya di sini tidak diketahui Nara. Seperti pengecut dia bersembunyi. Logika Sehun menginginkan agar dirinya tak lagi peduli pada gadis itu, akan tetapi segala kenangan yang terlanjur terpatri mengatakan sebaliknya.

Sehun pun enggan memungkiri, bila sebagian dari dirinya masih menyimpan kasih yang teramat dalam. Separuh yang lainnya membenci Nara. Dirinya dulu lebih memilih untuk membuat Nara menderita. Meskipun begitu, pengakuan Nara satu minggu yang lalu sedikit meluluhkan dirinya.

“Apa dia pulang sendiri? Di mana Chanyeol?” gumamnya, ketika melihat Nara berjalan―Sehun tahu jika Chanyeol biasa mengantar dan menjemput Nara. Ia memijat pelipis, mulai bingung dengan niat yang memerintahkannya untuk terus mengikuti si gadis. “Dingin begini, kenapa dia tidak memakai syal? Gadis bodoh,” lanjutnya. Sehun menghempaskan diri ke bangku kemudianya, kali ini dia menyetir sendiri. “Ah, yang benar saja, aku tidak akan mengikutinya lagi, terserah.” Seusai berucap demikian, tangan Sehun memukul setir. Kemudian dia meraih masker, kacamata, dan syalnya yang dia gunakan untuk menutupi paras. Sehun keluar dari mobil.

Pemuda itu mengikuti Nara.

Ia berjalan beberapa langkah di belakang Nara.

Sehun ingin menjaga Nara.

Sehun ikut berhenti, saat Nara memasuki taman yang terletak tak jauh dari The Heaven. Tubuh Sehun membeku, ia ingat benar arti taman itu bagi hubungan mereka. Perkiraan Sehun benar, saat Nara duduk di salah satu bangku taman. Sementara Sehun menjaga spasi di antara mereka.

Taman itu adalah tempat terjadinya kecupan pertama. Hal melankolis yang Sehun sanggup tertawakan di masa ini, tiba-tiba terasa getir. Nyatanya, dirinya masih mengingat setiap adegan yang menjadi bagian dari kejadian itu. Dalam benaknya terpatri jelas, bagaimana rasa bibir Nara yang menyentuhnya. Dingin dan manis. Dingin karena bertepatan dengan turunnya salju pertama. Manis sebab ia mencium gadis yang dicintainya.

Sehun mendongak, ketika merasakan buliran salju mulai turun, salju pertama tahun ini. Pemuda itu tersenyum kecut. Latarnya sama, tetapi mereka tidak lagi bersama.

Apa ini kebetulan?

Apa dirinya sedang dipermainkan?

Tampaknya, Nara menyadari salju mulai berjatuhan. Sehun terpana melihat senyum Nara yang tergores dalam paras si gadis. Nara menengadahkan telapak tangan, seakan ia menangkap salju putih. Sehun tahu, Nara memiliki kebiasaan seperti itu. Si gadis sangat menyukai salju.

Nara kembali merajut langkah, setelah puluhan menit terdiam di bangku taman. Sehun tetap mengekorinya.

Tungkai Sehun sontak semakin berat ketika Nara memasuki toko kue yang biasa mereka kunjungi dulu. Gadis itu memesan kue kacang, meskipun dia alergi terhadap kacang. Sehun memindai Nara dari kejauhan, si gadis memilih duduk di ujung ruangan. Sehun singgah di belakang Nara. Tak ada pergerakan dari mantan kekasihnya, Nara diam sembari memandangi makanan yang berada di meja.

“Kenapa membeli sesuatu yang jelas-jelas bisa membuatnya sakit?” sekali lagi Sehun melakukan monolog.

Sehun melihat bahu gadis yang sempat ia cintai itu mulai naik-turun. Sehun menyadari Nara sedang terisak. Sehun pun refleks menghela napas panjang. Ia menahan diri untuk menghampiri Nara, kemudian memeluknya. Semestinya, dia bahagia mendapati gadis yang dulu menghinanya menderita. Akan tetapi, Sehun justru semakin berduka.

Logika dan hatinya kali ini saling bertentangan. Sehun tidak suka dengan situasi serupa ini, dia tak dapat mengendalikan dirinya.

Nara memotong kue berbentuk bundar yang diisi kacang tanah. Dia dulu kerap sekali kemari, apabila masalah hidup terlampau menyiksanya. Nara berkunjung dengan Sehun pada masa itu. Mereka ke sini setelah kerja paruh waktu Sehun. Nara merindukannya. Dia sangat menginginkan Sehun yang terangkai di waktu lalu.

Mereka begitu sederhana kala itu. Emosi yang terkuak pun tak tercampur aduk layaknya sekarang. Nara enggan menyesali keputusannya, namun sebagian dari sisi egoisnya menginginkan Sehun menjadi miliknya kembali.

Nara mulai memakan kue, tanpa peduli alerginya.

Nara menyuap potong demi potong makanan itu seakan dirinya sedang menelan seluruh kenangan yang dulu berusaha dilupakan. Nara kembali bangun dari duduknya dan berjalan, selepas menghabiskan tiga puluh menit duduk merenung di toko roti. Tubuhnya terasa ringan, ia melangkah tanpa tenaga. Konsentrasinya juga mulai meluruh.

Mungkin efek alerginya atau angin malam musim dingin yang menusuk kulit. Nara merasakan sakit disekujur tubuhnya.

Gadis itu bahkan terus saja berjalan saat lampu penyeberangan berubah warna menjadi merah. Ia hampir tertabrak, hingga tangan seorang pria bergegas menariknya.

“Kau sudah tidak waras, ya!” bentak si pria yang sontak berdiri di sampingnya.

Nara tidak sempat mengenali pria itu, kepalanya terlanjur pusing, dan semuanya berubah menjadi gelap.

-oOo-

a/n:

Terima kasih udah baca dan mengikuti cerita ini hehehe. Kalian bisa meninggalkan kritik dan saran dengan klik Track List. ^^

Oh ya, aku juga mau minta tolong jangan nagih cerita terus ke aku. Kalau ada waktu luang pasti segera aku tulis kok. Eum, aku kurang nyaman kalau ada yang chat atau mention soal ‘kapan ceritanya dilanjutin?’ padahal aku sudah jawab sesabar mungkin tapi tetap mencecar aja. Kalau digituin, kesannya aku kayak punya tugas dan si penagih ini dosennya. Huhuhu serem.

Advertisements