Cost Of Chance: Perfect Beginning

cost-of-chance

Poster by Alkindi

Terinspirasi dari Descendant of The Sun.

“When I’m in your arms, heaven melts and comes inside.” ―Cloud 9, EXO


Seharusnya ini menjadi malam natal yang menyenangkan. Lilin-lilin telah dinyalakan. Ruangan itu ditaburi kelopak mawar yang rupawan. Aroma semerbak hidangan pun tercium saat aku membuka pintu, sembari berharap apabila pria yang kucintai menyambutku.

Kendati demikian yang kudapat hanyalah sebuah tipuan. Pesan singkat anonim yang aku kira berasal dari pujaan hati justru mengantarkanku pada keadaan saat ini.

Langkah pertamaku memasuki sebuah apartemen miliki kekasihku, disapa oleh seseorang yang membekap. Makan malam romantis yang telah kuimpikan berakhir menyedihkan dengan tangan yang dikekang oleh tali. Aku terikat, tak berdaya, dan kesakitan. Gaun mahal yang terpilih untuk malam istimewa ini sobek. Tak ada lagi keanggunan pada surai yang sengaja ditata. Semuanya berantakan.

Aku menatap tajam pria asing yang menyekapku. Dia masih muda, usianya sekitar awal tiga puluhan. Wajahnya bengis, dia berulang kali menjelajah tubuhku melalui matanya. Lantaran demikian, ia tak lekas menyentuhku, seperti ada perintah yang menyuruhnya begitu.

Aku sempat menggigil. Menyadari betapa bodohnya diriku. Seharunya, aku tak semudah itu percaya. Aku tahu benar, bila kekasihku terlalu sibuk dengan urusan kantornya, dia tak mungkin sempat menyiapkan makan malam konyol. Bukan hal baru, apabila apartemen kekasihku ini dimasuki oleh beberapa musuhnya yang berniat membalas dendam. Sebab hal itulah yang menjadi resiko dari pekerjaannya. Dia bahkan sempat beberapa kali berganti lokasi tempat tinggal untuk dapat menyamarkan jejak. Puluhan kali juga dirinya ingin kami putus agar aku jauh dari mara bahaya. Namun, upayanya berujung sia-sia. Seorang Jung Nara, tidak mudah gentar. Nara enggan menyerah dan putus hanya gara-gara berkencan dengan seorang pasukan polisi khusus.

“Aku sedikit terkejut, seorang Oh Sehun yang kaku bisa memiliki kekasih,” ucap si penyekap.

Aku merasakan tangannya yang kasar mencengkram bahuku, lalu memainkan moncong senjata api itu ke arah pelipisku. Aku berjengit. Aku berusaha mengendalikan rasa takut yang terlanjur bersarang.

Pria itu mengendus wajahku.

Aku berusaha menghindari parasnya yang buruk. Perilaku yang kukoarkan mengguncang amarahnya. Ia memukulku. Aku mengigit bibir agar bisa menahan pekikan sakit.

“Dia membuat adikku tertembak. Lihat saja, apa yang bisa kulakukan padamu,” ucapnya mengancamku.

Aku tetap bungkam. Sehun berulang kali berpesan, jika diriku sampai disekap, aku hanya perlu diam. Ocehanku justru akan membuat mereka semakin tergugah untuk terus menyiksa diriku.

Sehun juga berucap apabila diriku sedang dalam bahaya, aku hanya perlu berhitung satu sampai seratus. Dia akan datang sebelum hitunganku berakhir. Aku percaya padanya. Sehun selalu menepati janjinya.

Seratus. Bertepatan dengan batinku yang berkata, seluruh penerangan dalam apartemen itu padam.

Aku mendengar dinding kaca yang berada di kamar utama pecah. Ada seseorang yang masuk dengan memanjat hingga lantai sepuluh demi menerobos apartemen ini.

“Berengsek!” umpat si penyekap.

Sontak netraku membola, demi menerangkan pandangan. Aku mendengar langkah kaki memasuki ruang santai, tempat diriku diikat.

“Argh!” keluhku tertahan, ketika mata pisau menekan leher. Perih kali ini tak dapat kukendalikan. Rasanya betul-betul sakit. Aku mulai ketakutan menyadari dua senjata yang ditodongkan padaku, pisau dan pistol.

“Wah, pahlawan negara ini menyerahkan nyawa. Demi seorang wanita,” suara serak penyekap itu terdengar ganjil dalam telingaku.

Aku mengepalkan tangan semakin erat, ketika sepasang manikku mendapati Sehun yang berdiri di depanku. Sehun mengarahkan revolver ke hadapan penyekap. Raut pria itu mengeras, ia tak membalas tatapanku. Mata Sehun terfokus pada penyekap itu.

“Lepaskan dia,” desis Sehun. “Jika tidak, kupastikan kau lenyap di tangaku,” lanjutnya.

“Arogan seperti biasa,” timpal penyekap. “Letakkan senjatamu,” perintah pria buruk rupa itu. Ia berusaha menggertak Sehun dengan mendekatkan ujung pisau pada kulitku.

Sehun melemparkan pistolnya santai. Seluruh tindakan polisi khusus itu telah dipertimbangkan baik-baik. Aku tahu, jika Sehun memiliki lebih dari satu senjata api yang tersembunyi di balik pakaian.

Kendati demikian penyekap lagi-lagi menggoreskan pisau komando itu pada wajahku. Ia memancing kemurkaan muncul pada ekspresi kekasihku.

Tekanan tajam yang pedih. Luka itu sangat menyakitkan. Aku mengernyit menahan derita.

“Ah, kau menguji kesabaranku,” ucap Sehun sebelum dia bergerak.

Sehun hendak menerjang, namun gerakannya berubah menjadi menghindar saat si penyekap melemparkan pisau ke arahnya. Tubuh Sehun bergerak gesit sekali lagi untuk semakin mendekati musuhnya. Aku tak dapat melihat dengan jelas pertikaian mereka.

Aku seketika meronta, ketika penyekap menarik pelatuk, membidik Sehun. Peluru itu hampir mengenai bahu Sehun. Ia sempat terhuyung sejenak. Tak berselang lama Sehun kembali bangkit.

Raga Sehun berpindah lebih cepat, tiba-tiba saja ia sudah melucuti senjata api yang dipegang oleh penyekap. Sehun menghajar lawannya, dia menjauhkan tubuh itu dariku. Ia menendang si penyekap hingga tersungkur membentur dinding.

Sehun melepaskan kain yang membekap mulutku. “S-sehun,” aku mulai tersedu. Sehun menghela napas, ia seakan sangat lega mendengar suaraku.

Telapak tangan Sehun menutup mataku. “Semua akan baik-baik saja, anggap saja kau tak pernah mendengar ini,” bisiknya lembut bersamaan dengan dua letusan lain yang berasal dari revolver Sehun. “Pejamkan matamu,” pinta Sehun padaku, tangan pemuda itu tak lagi menghalangi. Lantas Aku pun mendengar suara langkah Sehun menjauh.

“Kirim tim pembersih ke apartemenku,” perkataan Sehun sayup-sayup terdengar.

Selang beberapa sekon, aku merasakan Sehun melepaskan ikatan.

Isakan tangisku semakin keras. Aku berubah menjadi begitu rapuh di hadapan pria itu. Aku langsung saja memeluknya erat sekali.

“Jangan buka matamu,” gumamnya sembari membalas dekapanku. Sehun merenggangkan pelukannya agar ia dapat memindai diriku. Jarinya menghapus airmata yang turun. Bibirnya mengecup kelopak mataku berulang kali. “Tidak apa-apa, Love. Semuanya sudah selesai,” hiburnya. Dia kembali menarikku dalam kungkungannya.

“Aku takut sekali,” selaku dalam sedu.

Sehun meraihku ke dalam gendongannya. Ia membawaku masuk ke dalam kamar lain yang berada jauh dari ruang tempat diriku disekap. Pemuda itu menutup pintu, lalu menyalakan lampu darurat.

Aku dibaringkan ke tempat tidur. Ia duduk di sampingku. Setelah memasuki ruangan ini, aku diijinkan untuk membuka mata. Aku lega sebab netraku bisa melihatnya.

“Chanyeol akan segera kemari dan membersihkan. Sepuluh menit lagi, kita pergi dari sini,” jelasnya. Sehun menggenggam tanganku, lalu mengecupnya.

Aku tahu benar hal yang dimaksudkan Sehun. Si penyekap tadi sudah enyah dari dunia ini. Ia meminta timnya untuk menyingkirkan jasad dari penjahat itu agar aku tak perlu melihat seluruh kejadiannya. Aku lantas menatap pemuda yang membuatku jatuh cinta, tak ada satu pun penyesalan yang tersirat dalam sorot matanya. Bahkan, setelah dirinya membunuh seseorang.

“Dia sudah lama buron, Nara. Kejahatannya pun cukup untuk diganjar hukuman mati. Kau maupun diriku tak perlu menyesal. Meskipun, nanti aku harus menulis laporan yang lumayan panjang pada komandan besar,” jelas Sehun, seolah ia menjawab pertanyaan dalam benakku. Pemuda itu tersenyum rupawan, membuatku sejenak lupa dengan kejadian mengerikan yang baru saja terjadi. Dia bergerak mendekati parasku, kemudian mengecup kening ini penuh sayang.

“Sehun, aku takut sekali. Aku tadi mengira bahwa yang ada di dalam apartemen ini dirimu―“

“―Maaf karena aku datang terlambat,” potong pemuda itu. Manik hitamnya enggan lepas dari luka yang tergores pada paras dan leher ini. “Maaf sudah merusak malam Natalmu,” imbuhnya penuh penyesalan.

Aku menggelengkan kepala. Tubuhku memilih untuk beringsut ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah di dada bidangnya. “Aku tidak apa-apa,” bisikku, sebelum ketenangan mulai menyesapi pikiran sebab aroma keberadaan pria itu membuatku merasa aman.

“Apa dia tertidur?” tanya Chanyeol, sembari melepas sarung tangannya. Sahabat Sehun sekaligus saudara Nara itu mengawasi gadis yang sedang terlelap dalam pelukan rekannya. “Yang benar saja, dia baru saja disekap,” lanjut Chanyeol heran.

Sehun menjawab santai, “Dia sudah merasa aman.”

Chanyeol berdecak, ketika melihat luka yang melintang pada paras rupawan Nara. “Sial, seharusnya tadi aku meremukkan wajahnya dulu sebelum mengirimnya ke kamar mayat.”

“Aku rasa komandan besar kita yang akan mengambil alih. Dia tidak membiarkan putrinya terluka sia-sia. Ayo, pulang.” Sehun menggendong Nara dengan hati-hati seolah si gadis adalah hal paling rentan dalam dunianya.

Chanyeol mengangguk, lalu mengekori mereka dari belakang. Ia memberi isyarat anggotanya untuk menyiapkan kendaraan. Pemuda berusia akhir dua puluhan itu menepuk bahu Sehun. “Jaga dia untuk malam ini. Aku yang akan menemui komandan untukmu. Aku rasa Nara lebih membutuhkanmu,” ucapnya. Chanyeol melejitkan bahu, ia memindai apartemen yang lebih mirip seperti kapal pecah itu. “Lagi pula, kau perlu hunian baru,” timpal Chanyeol.

Sehun setuju. Dia memikirkan hal yang serupa.

Badanku sakit semua, itulah yang kurasakan ketika diriku mulai bergerak meregangkan tubuh. Rupanya aku terlelap cukup lama, fakta bahwa cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai memperkuat dugaanku. Aku mendapati Sehun yang tertidur sembari terduduk di sampingku, ketika netraku terbuka sempurna. Tangan pemuda itu berada di puncak kepalaku, sepertinya dia membelai surai ini sepanjang malam―sekedar menenangkan aku.

Aku meraba pipi dan leherku yang sudah dibalut perban. Bahkan aku tidak merasakan perih, sewaktu goresan ini diobati. Well, pengaruh Sehun pada tubuhku lumayan besar ternyata.

Aku berusaha duduk, menyamakan parasku dengan dirinya. Aku menelusuri raut pemuda itu menggunakan mata. Menawan, dingin, dan hangat―tiga hal yang selalu ada dalam wujud Sehun. Aku mencintai ketiganya.

“Kau juga terluka,” bisikku, saat mendapati bahunya yang diperban. Kondisiku sudah cukup sehat sehingga dapat memahami bahwa peluru sempat mengenai raga Sehun. Tanpa sadar aku menyentuh lukanya, membuat Sehun mengernyit, kemudian terbangun dari mimpi.

“Kau sudah bangun,” ucapnya yang sontak mendapatkan anggukan kepala dariku. Ia mengubah posisinya menjadi berbaring, setelah itu menarikku agar masuk ke dalam pelukan. “Masih pagi, tidur lagi, ya?” pintanya lembut.

Bibirku enggan menjawab sebab tubuh ini sudah membalas terlebih dahulu. Diriku membiarkan tangan Sehun menyelip ke dalam kaus putih demi mengusap punggungku. Sementara jariku memainkan surai hitamnya yang berantakan.

Keheningan terajut dalam ruangan itu. Kami terlalu menikmati setiap sentuhan yang diberikan satu sama lain. Lantaran demikian, Sehun mulai mengangkat topik yang mengejutkan.

“Bagaimana kalau kita menikah?” tanyanya yang sontak membuat alis mataku saling bertaut. “Resikonya memang lebih tinggi, tapi hal itu satu-satunya cara yang dapat kupikirkan agar aku dapat menjagamu setiap saat,” lanjutnya.

“Aku akan benar-benar menjadi kelemahanmu jika kau menikah denganku,” ucap bibir ini. Aku mengutarakan kalimat yang biasa diutarakan Sehun. Kerap sekali kekasihku itu membahas mengenai betapa pasukan polisi khusus menjadi payah sebab istrinya dijadikan ancaman oleh penjahat.

“Kau memang kelemahanku,” koreksi Sehun. “Aku bisa kehilangan hidupku sendiri, tetapi aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirimu.”

Aku tersenyum serta merasakan panas di pipiku. Sehun bukanlah tipe pria yang mudah mengungkapkan perasaannya, mendengarnya bicara seperti ini, jantungku jadi berdetak aneh. “Dasar curang. Kalau kau bicara begitu manis, aku jadi tidak bisa menolak.” Aku mulai mencebik.

Sehun pun tertawa. Ia mengangkat daguku dengan jari telunjuknya. Dia memberikan kecupan singkat pada bibir. “Sebelum dirimu datang dua tahun lalu, jangankan menikah―aku bahkan tidak berpikir bahwa diriku bisa jatuh cinta.”

Aku refleks tertawa, mengingat kejadian dua tahun lalu memang sangat mengesankan. Kehidupanku yang biasa-biasa saja menjadi istimewa, sejak kepindahanku ke Seoul dan pertemuanku dengan pria kaku rekan kerja kakakku. Semenjak kejadian itu, Nara yang dulu seakan bertransformasi menjadi gadis tangguh lain. Walaupun, aku juga masih menangis apabila ditodong revolver di kepala. Paling tidak, aku lebih pemberani dari sebelumnya. Serius!

Well, bagaimana jika aku menceritakannya pada kalian mengenai semua hal yang terjadi dua tahun lalu?

-oOo-

a/n: Aku masih bingung ini mau aku jadikan series atau enggak. Dan… aku buat Sehun x Nara lagi karena kayaknya aku lagi mabok Sehun 😂😂😂😂.

Hehehe. Lihat nanti aja ya. Oh ya, selamat tahun baru~ 🌸🌸🌸

Kolom komentar ada di Track List. Terima kasih sudah membaca.

Advertisements