Healing

250ae5986404e915d9e7984152e46fb4

“Your icy eyes take my breath away.” EXO, Twenty Four

Byun Baekhyun tidak pernah bertingkah sepanik ini, seluruh emosinya biasa tertata rapi. Ia enggan memberikan tatapan marah ataupun tak ramah. Dia jarang sekali menunjukkan kemurkaannya. Dalam keadaan normal, Byun Baekhyun kerap memaparkan senyum tiga jari yang memikat setiap orang untuk ikut menyunggingkan bibir. Kini hal itu meluruh, paras Baekhyun menegang. Bibirnya terkatup dan sepasang netra itu membidik lawan bicaranya dengan dingin.

“Sudah kubilang, jangan menghilang tanpa kabar,” vokal Byun Baekhyun. Pemuda berusia akhir dua puluhan itu menghela napas kasar. “Dan sekalinya dirimu menghubungiku, malah memberikan berita buruk,” imbuhnya kesal.

Sementara Park Sue yang terlentang di ranjang pasien, tersenyum lebar melihat dokter sekaligus kawannya itu tengah memberengut. “Aku hanya mendaki gunung kemudian terpeleset

―Kau seharusnya pergi ke rumah sakit terdekat, bukannya datang kemari, Park Sue.” Baekhyun memotong perkataan Sue. Dia meraup wajah lelah, ketika matanya menjelajah kaki Sue yang diperban. Baekhyun singgah di kursi yang berada tepat berdampingan dengan ranjang si gadis. Jujur saja, Baekhyun sangat capek. Ia baru saja terkurung selama enam jam di ruang operasi. Baekhyun hendak beristirahat, namun telepon si gadis membuatnya berlari kalang kabut ke ruang IGDmengabaikan letihnya. Gadis itu memang selalu dapat mengacaukan dirinya.

Sue melejitkan bahu Ia menjawab enteng, “Aku merindukanmu. Sudah hampir dua minggu kita tidak bertemu.”

Baekhyun mendengus. Pemuda itu melepaskan jas putihnya, lantas menampakkan Kemeja biru muda dan celana kain hitam menjadikannya menawan. “Kau membuat kepalaku pusing, Park Sue.”

“Kau membuat hatiku berdebar-debar, Byun Baekhyun,” balas Sue, menirukan intonasi Baekhyun. Ia mengerling jahil.

Baekhyun membuang muka, berusaha mengulum senyum. Parasnya mulai memerah. Dia terbatuk sejenak, kemudian mengatur ekspresi menjadi cemberut kembali. Maniknya menatap tajam ke arah Sue, lalu berdecak kesal.

Sue tertawa kecil. “Doctor Byun, your icy eyes take my breath away. I love you,” bisik Sue. “Jangan marah lagi, ya? Lagi pula hari ini salju pertama turun, seharusnya kau tersenyumkau kan sangat suka salju,” lanjut si gadis bersurai sebahu itu. Dia merentangkan tangan, menginginkan pelukan yang berperan sebagai tanda, jika Baekhyun tak marah lagi padanya.

Ungkapan si gadis lantas mendapatkan celetukan dari Baekhyun, “Cheesy.” Kendati demikian Baekhyun menjungkitkan ujung bibir untuk si gadis. Pemuda itu mendekat ke arah Sue, kemudian mendekapnya.

Kehangatan itu sontak merayap ke seluruh tubuh Baekhyun. Rasa nyaman, tentram, dan aman sekaligus dapat dirinya rasakan. Pikirannya seolah menjadi begitu tenang, menyadari bahwa gadis yang dua minggu belakangan ini menyita seluruh kekhawatirannya kini berada di dalam kungkungannya.

Park Sue selalu begitu.

Bagi Baekhyun, Park Sue bisa menyakitinya sekaligus menjadi penyembuh atas segala kegelisahannya.

-oOo-

a/n: Temen rasa pacar. Pacar rasa temen.  Ini masih berhubungan sama What I Want For Christmas. 😄😄

Belakangan ini aku agak sibuk. Mungkin nanti aku bakal jarang post FF, tapi diusahakan tetap produktif kok. Kolom komentar di Track List. Terima kasih sudah membaca^^.

Advertisements