Cost of Chance: The Destiny

cost-of-chance

Poster by Alkindi

Previous:  Perfect Beginning

“There is an evil hiding in the mask.” EXO, Can’t Bring Me Down

Dua tahun sebelum akhir yang sempurna itu.

-oOo-

Takdir, aku percaya akan itu. Setiap orang yang kita temui, baik sengaja atau pun tak sengaja, semuanya telah dituliskan dalam sebuah takdir. Berdasarkan hal itulah diriku menyatakan apabila keberadaannya ialah keputusan takdir. Sesuatu yang tidak dapat kutolak dan kuhindari.

Aku bertemu dengannya saat tenggelam dalam keputusasaan. Dia menarikku kepermukaan, meninggalkan segala rasa takut. Ia menyelamatkan hidupku.

Ingatkanku enggan melupakannya. Aku mengingat setiap detail mengenai raganya. Cara tangan itu meraihku dan tubuhnya yang melindungi diriku.

“Apa kau terluka?” tanya pemuda itu setelah kami berlari selama sepuluh menit. Ia tak terengah, napasnya tetap setabil seolah pelarian ini sudah menjadi hal biasa dalam hidupnya.

Aku hanya menatapnya. Jantungku masih melompat-lompat keras, entah karena terkejut atau tak terbiasa berlari. Pikiranku mengolah informasi yang berserakan. Aku mencoba menenangkan diri serta mendeskripsikan apa yang sedang terjadi.

Malam ini pukul sepuluh malam, aku baru saja pulang dari rumah kawanku. Ada beberapa pria yang tiba-tiba menghadang diriku. Mereka bertanya tentang sesuatu, namun aku tidak dapat mengingat dengan pasti. Mereka mulai menekanku, lalu aku ketakutan. Tubuhku membeku. Tak berselang lama, seorang pemuda yang kini berada di sampingku menolongku. Dia melawan mereka, singkat cerita, pemuda itu menarikku kabur.

“Nara, apa kau terluka?” ulangnya sembari menepuk bahu ini, lekas menyadarkan diriku yang melamun.

Aku menggeleng. Nyatanya, tanganku masih gemetar. “Siapa kau?”

“Jangan pulang terlalu larut. Kuantar kau pulang,” balasnya, tanpa menghiraukan pertanyaanku. Ia kembali menarik tanganku.

Kami mengayunkan tungkai dalam diam. Ia sengaja memilih jalan memutar agar kami tak perlu bertemu berandalan tadi. Nampaknya pemuda jangkung dan berpakaian serba hitam ini mengenal dengan baik lingkungan rumahku. Sedari tadi aku mencuri pandang pada pria itu, mencoba mengenalinya. Akan tetapi, parasnya tertutupi topi.

Sesampainya di depan rumah nenekku, pemuda itu berhenti. Ia melepas topinya, memaparkan rupa yang dapat dikategorikan tampan. Ia tidak tersenyum atau pun merajuk. Ekspresinya enggan terbaca dengan mudah.

“Masuklah,” ucapnya melalui bibir tipis itu.

Aku bergeming di tempat. “Siapa kau?”

“Aku tetanggamu,” jawabnya sambil menunjuk rumah yang terletak tak jauh dari seberang tempat tinggalku.

“Terima kasih,” timpalku. Aku mengenyahkan berbagai opsi di benak yang menyatakan jika pemuda ini bisa saja berniat buruk. Ia telah menolongku itu artinya dia baik, begitulah caraku menenangkan pikiran.

Pemuda itu tersenyum kecil. Sunggingan bibirnya hanya bertahan sejenak. “Selamat atas kelulusanmu,” ucapnya sebelum berbalik pergi.

Bagaimana dia bisa tahu tentang diriku?

Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya.

Siapa dia?

Namaku Jung Nara. Aku akan berusia sembilan belas tahun beberapa bulan lagi. Aku baru saja lulus dari sekolah menengah atas di Busan. Aku berencana untuk melanjutkan kuliah di Seoul, walaupun nenekku amat sangat melarangku ke sana. Kata nenek, ia akan kesepian jika diriku berjauhan dengannya, apalagi usia nenek sudah menginjak akhir enam puluhan.

Ayah dan ibuku sudah tidak ada. Aku juga tak memiliki saudara. Aku hanya mempunyai nenek di dunia ini. Nenek yang merawatku sedari kecil. Aku tinggal di sebuah rumah berlantai dua bersama nenek.

Tak ada yang istimewa dari diriku. Oh, satu-satunya hal yang kubanggakan adalah permainan pianoku. Aku sangat menyukai musik. Tanpa alunan lagu di malam hari, aku akan bermimpi buruk. Mimpi yang selalu sama.

Mimpi itu kini semakin sering datang, meskipun aku mendengarkan seluruh lagu favoritku sebelum terlelap. Dalam mimpi itu, aku berada di dalam mobil bersama seorang wanita yang tampak sangat menyanyangiku dan anak laki-laki yang bercanda denganku. Awalnya, menjadi bunga tidur yang indah. Kendati demikian, sinar putih yang menyilaukan dan benturan keras dalam mimpi itu merusak segalanya. Aku seolah-olah dapat mencium anyir darah di sana, terasa begitu nyata. Setiap kali pikiranku mengingat mimpi itu, rasa sakit terus saja menusuk di hati.

Malam ini pun, bunga tidur itu menghantuiku kembali. Aku terengah-engah, terbangun. Aku mencengkram selimut merah muda yang membungkus tubuh. Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, ketenangan yang kuinginkan tak kunjung didapat.

Suara pecahan kaca tiba-tiba terdengar semakin memacu laju jantungku.

Aku segera beranjak dari tempat tidur. Satu-satunya hal yang kukhawatirkan adalah nenek. Tanganku yang hendak membuka pintu kamar terhenti saat suara tembakan memasuki gendang telinga. Jari-jari ini mulai gemetar. Aku mencoba mengumpulkan keberanian, lalu mengayunkan engsel pintu.

Seluruh penjuru rumah gelap. Aku membekap mulutku untuk menghentikan isakan.

“Di mana gadis itu?” suara bariton yang asing, membelah keheningan.

Aku mengigit bibir, ketika suara tawa mengejek milik nenek membalas pertanyaan pria itu. Bergantian bunyi benda keras jatuh dan erangan nenek kembali terdengar. Aku berlari menuruni tangga, enggan menghiraukan takut yang menyerang.

“Nenek!” bibirku memekik, ketika melihat keadaan nenek yang terkapar di ruang tamu. Kepala nenek berdarah, rautnya sedih, dan maniknya menatapku layu. Aku mendapati tangan nenek mengenggam senjata api. Diriku sedikit terkejut, mendapati revolver itu.

Dua pria berdiri di hadapanku. Mereka masing-masing membawa senjata. Aku tak dapat mengenali mereka sebab keempatnya mengenakan penutup kepala.

“Wah, ini ternyata nona muda kita,” ungkap pria bertubuh besar. Dia mendekat ke arahku.

“Lari, Nara. Lari,” bisik nenek. Dia mencengkram ujung piamaku, sembari mengangsurkan senjata api berukuran lebih kecil dari balik gaun tidurnya. Nenek bangun dari posisinya menjadi terduduk.

Lantas aku pun menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak akan meninggalkan nenek sendirian.” Aku mengarahkan senjata api itu ke arah dua pria yang berniat jahat kepada kami. Aku panik sebab tidak tahu cara menggunakan senjata api.

“Sudah lama kami mencarimu. Apa kau pikir dapat dengan mudah melarikan diri lagi, Nona Park?” ucap penjahat itu.

“Kalian salah orang. Nenekku adalah Jung Mirae dan aku Jung Nara. Kami bukan dari Keluarga Park,” aku mencoba menjelaskan. Suaraku bergetar dan pelan, justru membuat mereka tertawa menggelegar.

“Nara lari,” gumam nenek sekali lagi.

“Nenek tua ini benar-benar menganggu,” pria itu mengakhiri perkataannya dengan satu lemparan pisau pada dada nenek.

“JANGAN!” jeritku. Tangisan ini pecah dan aku semakin bergetar ketakutan. “ARGH!” keluhku sekali lagi, ketika si penjahat menarik suraiku. Pistol yang ada di genggaman tanganku sontak terjatuh.

“Kendalikan emosimu, kita harus membawanya hidup-hidup,” lontar pria lain yang memiliki tubuh lebih kurus.

Aku berusaha melawan. Menendang dan memukul sebisaku. Pukulanku secara tak sengaja mengenai pria itu.

“Menjengkelkan sekali gadis ini,” ujarnya.

Tak mengindahkan kawannya, pria tersebut justru memukulku. Aku terpelanting ke belakang membentur dinding. Kepalaku pusing dan padanganku kabur. Dia menarikku agar berdiri, lalu menampar wajahku. Aku pun merasakan darah mengalir dari hidung.

Dia membantingku sekali lagi. Kesadaranku semakin menurun. Aku tak mengira jika hidupku akan berakhir dengan cara seperti ini.

Mataku sangat berat.

Aku lelah sekali.

Sakit.

Sangat sakit.

Luka ini menyiksaku.

Di antara keadaan hidup dan mati, sayup-sayup aku mendengar suara pelatuk ditarik dan ditembakkan kepada penyiksaku. Entah dari mana peluru itu berasal, kedua pria yang berada di hadapanku tumbang begitu saja.

Seseorang turun dari tangga, membawa senjata laras panjang. Ia berlari ke arahku yang terkapar.

“Nara, Jung Nara,” panggilnya, tangan penolongku itu menepuk pipiku. “Bawa bantuan kemari, cepat.” Aku mendengar suara tegasnya, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Aku mulai memasuki lorong panjang yang pekat.

-oOo-

a/n: Aku merasa gagal nulis cerita ini gak tau kenapa T.T huhuhu mungkin karena aku belum biasa nulis cerita genre action. Tapi, pengen nulis yang begini sambil belajar.

Kolom komentar untuk meninggalkan komentar ada di Track List. Terima kasih sudah membaca. ^^

P.s: Cerita ini memang aku post singkat-singkat. Jadi, ya memang pendek perpartnya.

Advertisements