Outages: Romantic Escape

outages-4

 Inspired from Fifty Shades of Grey

Twelveblossom’s

Credit Poster: Alkindi Design

Prev: New LiveWe WalkThe WeddingBehind The Scene – The Real You The Scars

“Sebelum kita memulai kehidupan yang baru, ada kalanya kita harus berdamai terlebih dahulu dengan masa lalu.”

-oOo-

Rasa takut itu semakin menjalar dalam hati Jung Nara. Ia tak mampu lagi menahan segala emosi yang seolah ingin meledak dalam raganya. Walaupun dia kini sedang melarikan diri, tak ada satu pun ketenangan yang ia dapatkan.

Segalanya berbeda. Dulu Nara melarikan diri untuk melupakan. Kini ia kabur sebab Nara enggan menyakiti kekasih hatinya. Banyak hal yang dia kobarkan, termasuk cintanya dan rasa rindunya.

Berkali-kali pun Nara memikirkan keputusannya menghilang dari kehidupan Sehun dirasa tepat. Ia tak ingin Sehun tersakiti karena Nara sempat menjadi bagian dari Kim Jongin. Nara tidak sanggup menerima kenyataan apabila nantinya Sehun menjauhinya karena hubungan Nara di masa lalu. Semakin Nara menebak masa depan, gadis itu semakin terjerumus dalam kegelisahan.

Pemikiran itulah yang sedari kemarin ditentang oleh Krystal. Puluhan kali Krystal menasehati Nara agar si gadis mencoba untuk bicara terlebih dahulu pada Sehun. Kendati demikian, Nara tetap duduk diam di hunian Krystal dan Luhan, merenungi kesialannya.

Saat ini adalah sore kedua Nara berada di ruang santai kediaman Krystal. Gadis itu duduk memandangi jendela lebar yang menghubungkan langsung dengan hamparan taman bunga mawar merah. Keadaan Nara bisa dibilang berantakan. Tatapannya kosong, seakan jiwanya tidak berada di sana.

“Sehun menghubungiku lagi. Dari nadanya ia terdengar putus asa,” ucap Krystal dari arah dapur. Wanita itu membawa secangkir susu cokelat panas untuk keponakannya dan ponsel yang diletakkan di nakas dekat mereka. Krystal lalu duduk di samping Nara. “Dia tidak mengerti kesalahan apa yang telah dirinya perbuat sehingga kau enggan menemuinya,” lanjut Krystal, ia tak mendapatkan atensi dari Nara.

Puluhan sekon berselang, ketika Nara meraih cangkirnya. Ia mengecap manisnya susu cokelat yang justru membuatnya bertambah layu. “Aku tidak bisa bertemu dengannya. Aku tidak tahu harus menjelaskan mengenai apa,” Nara menggigit bibir, kemudian melanjutkan, “Setiap aku memikirkan bahwa mereka bersaudara membuatku bertambah sakit hati.”

“Nara, itu hanya masa lalu. Sehun tentunya bisa mengerti. Selama ini kau juga sudah membantunya berdamai dengan masa lalunya,” jelas Krystal.

Nara menggeleng. Matanya mulai berkaca-kaca. “Bagi sebagian orang masa laluku memang konyol. Tapi, perbuatan Jongin kepadaku sangat menyakitkan―“

“―Tapi, kau mencintai Sehun sekarang―“

“―Kim Jongin dulu membuatku jatuh cinta. Dia datang ketika aku tidak memiliki siapa pun untuk dicintai. Aku kesepian karena tak memiliki ayah dan ibuku yang gila kerja. Jongin selalu ada untukku. Kim Jongin menjadikan diriku gadis paling bahagia di dunia ini. Setelah aku sungguh-sunnguh jatuh cinta padanya, pemuda sialan itu justru….” Nara berhenti sejenak, dia menghapus airmata yang mulai meluncur. “Dia menjadikan diriku taruhan,” imbuh Nara, terisak.

Krystal memeluk Nara. Dia membelai lembut punggung keponakannya, berusaha menenangkan. “Semuanya akan baik-baik saja, young lady,” bisik Krystal lembut.

“Semuanya tidak baik-baik saja. Bagaimana jika aku nantinya justru berniat membalas dendam kepada Jongin dengan menyakiti Sehun? Bagaimana jika Sehun menjauhiku karena aku pernah menjalin hubungan bersama Jongin? Bagaimana jika Jongin menceritakan semuanya, sehingga membuat Sehun tak lagi mencintaiku?” ujar Nara panjang dan lebar. Gadis itu masih tersedu-sedu. “Aku sangat mencintai Sehun. Aku tidak bisa kehilangan Sehun, Bibi. Aku takut sekali. Bagaimana ini?” vokal Nara, penuh kesedihan.

“Karena itu kau harus bicara padanya,” timpal Krystal. Wanita bergaun hitam selutut itu menjauhkan diri dari Nara. Ia menghela napas sejenak, meraih ponselnya yang sedari tadi terhubung dengan seseorang, “Sehun, kau sudah dengar alasan gadis kecil kita ini tidak ingin menemuimu. Kau bisa masuk sekarang,” ucap Krystal, lantas membuat Nara menautkan alis.

Sehun berada di sana sedari tadi. Dia sengaja menunggu di balik pintu rumah Krystal dan Luhan. Ponselnya belum lepas dari indra pendengarannya. Sehun mendengar seluruh perbincangan Krystal dengan Nara.

“Bibi, apa yang kau lakukan?” gumam Nara. Dia menatap bibinya kesal, kemudian berganti menjadi memohon. Bibir Nara sontak terkatup, ketika Sehun berjalan memasuki ruangan itu. Dalam penglihatan Nara, Sehun terlihat  tampan. Kemeja putih yang lengannya di gulung sembarangan dan celana kain hitam membalut kesempurnaan Sehun. Paras pemuda itu tampak kacau, surainya dibiarkan berantakan dan kusut.

Entah mengapa, kehadiran Sehun membuat tangisan Nara bertambah keras. Nara tampak seperti balita yang kehilangan permennya. Nara menutupi wajahnya yang ia yakini terlihat sangat jelek.

Sementara Krystal hanya melejitkan bahu. Wanita itu mengedipkan mata ke arah Sehun, kemudian pergi menaiki tangga. Krystal sengaja memberikan ruang bagi mereka.

Sehun pun mengerti maksud sahabatnya. Dia lekas mendekati Nara. Tanpa ada kata-kata yanh terucap, Sehun menarik gadis itu ke dalam pelukan.

Tubuh Nara menurut saja, ketika Sehun mendekapnya. Gadis itu justru mengalungkan tangan ke leher Sehun. Nara terlalu rindu pada Sehun. Dia tak bisa memikirkan hal lain selain kekasihnya.

“Maaf,” ucap Nara.

Sehun mengeratkan pelukannya sebagai jawaban.

Nara menenggelamkan paras di dalam dekapan Sehun. Gadis itu merasa sangat nyaman akan kehangatan kasihnya. Selalu seperti ini, masalah seolah enyah begitu saja. Raga dan pikiran Nara bahkan menguatkan diri, ia menjadi percaya bahwa semuanya akan membaik.

“Kau membuatku sangat khawatir,” bisik Sehun, ketika pemuda itu menelangkup pipi Nara. Ia mempertemukan manik mereka. Sehun memejamkan mata sejenak, terlalu lega karena dia dapat memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja.

“Maaf,” ulang Nara sekali lagi. Nara semakin merasa bersalah, sewaktu jari-jari Sehun beranjak untuk menghapus airmatanya.

“Kau bertindak kekanakan, Jung Nara. Apa kau kira, dirimu bisa dengan mudah lepas dariku?” tanya Sehun.

Nara langsung menggeleng. “Aku terlalu menyukaimu,” bisik si gadis. Telunjuk Nara menulusuri rahang Sehun. Tatapan gadis itu layu, saat ia bergumam pelan, “Aku terlalu mencintaimu.”

Sehun tersenyum. Ia meraih jemari Nara, kemudian mengecupnya. “Kini saatnya aku membantumu berdamai dengan masa lalumu. Kita sudah berjanji untuk membicarakan segalanya terlebih dahulu sebelum bertindak,” balas Sehun.

Nara mengangguk. Dia kembali beringsut mendekati kekasihnya, memeluknya seakan mereka akan berpisah saja.

Nara kembali ke apartemennya bersama Sehun. Kekasihnya berpikir jika mereka lebih bebas berbicara di sana. Lagi pula, sudah terlalu sering Nara dan Sehun mengganggu masa-masa bulan madu Krystal.

Mereka pun sampai di sana pada malam hari. Sehun sengaja menginap agar Nara lebih tenang. Setelah membereskan barang-barangnya, Nara dan Sehun berbaring di ranjang hendak mengantarkan si gadis ke alam mimpi. Sedangkan Sehun, harus menyelesaikan pekerjaannya yang sempat ia tinggalkan, ketika gadis itu mulai terlelap nanti. Akan tetapi, sudah satu jam mereka berada di tempat tidur, Nara tak juga memejamkan matanya.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Jongin?” tanya Sehun memecah keheningan. Pemuda itu mengubah posisi menjadi bersender pada kepala ranjang. Tangannya membelai puncak kepala Nara.

Gadis dalam balutan piama itu lantas menjawab, “Entahlah, mungkin karena dia selalu menolongku.”

Sehun mengangguk. “Kalau begitu, aku harus berterima kasih pada Jongin,” lontar Sehun yang langsung mendapatkan raut cemberut dari Nara. Menyadari itu Sehun memberikan sunggingan bibir yang begitu rupawan. “Jongin menjagamu ketika aku belum mengenalmu. Dia melepasmu saat aku akan datang dalam kehidupanmu,” jelas Sehun.

“Kau membela saudaramu,” cebik Nara. Gadis itu menengadah agar dapat melihat pria yang kini memakai piama bergaris merah. “Dia juga menyakitiku. Jika kau tahu cerita lengkapnya, pasti kau berniat menghajar Jongin―“

“―Aku tahu. Aku mencari seluruh informasi mengenai dirimu, bahkan sebelum kau duduk di ruang kerjaku saat itu,” potong Sehun. Dia mengerling ke arah Nara, sewaktu berucap, “Dan aku telah menghajarnya, lebih dari cukup.”

Nara menautkan alisnya. Gadis itu mengikuti Sehun untuk duduk. “Kenapa kau tidak mengatakan itu padaku?” tanya Nara.

“Karena aku ingin kau yang menjelaskannya sendiri padaku.”

Ada hening beberapa sekon.

Nara memandangi Sehun. Rautnya berubah menjadi sedih.

“Aku juga berusaha menghormati dirimu dengan cara tak ikut campur dengan masa lalumu, kecuali apabila kau memang menginginkannya,” ungkap Sehun. Si pria menghela napas. “Jika kau pikir, aku tidak lagi mencintaimu karena kau mantan kekasih adikku, maka hal itu adalah pemikiran paling konyol.”

“Bagaimana kalau aku berniat membalas dendam padamu karena adikmu telah menyakitiku?”

Sehun mengangkat bahu. Dia mengecup puncak kepala Nara, lalu berkata, “Aku akan pasarah saja. Bagaimana ya, Jung Nara? Aku terlanjur mencintaimu.” Senyum jahil sengaja Sehun imbuhkan.

Nara cemberut. “Tidak seru,” olok si gadis, lalu menarik Sehun agar ikut berbaring di ranjang. Gadis itu menelusuri rahang tegas kekasihnya. “Aku juga terlanjur mencintaimu,” bisiknya, kemudian tersenyum. Nara mengecup singkat ujung bibir Sehun.

Sehun mengangguk setuju. Pria itu menarik selimut agar membalut tubuh mereka. “Selamat malam,” vokalnya lembut. Ia melingkarkan tangannya pada tubuh Nara, melindungi gadisnya.

Beberapa minggu setelah kejadian kaburnya Nara pun berlalu. Hubungan antara Nara dan Sehun berjalan sempurna. Nara memang beberapa kali berkunjung ke rumah Keluarga Choi untuk menemui Jinri, namun dia tak berjumpa dengan Jongin. Entah Jongin sengaja menghindarinya atau bagaimana, Nara sama sekali enggan mengetahui alasannya.

Nara merasa baikan hari ini saat dirinya berkunjung ke galeri Krystal. Gadis itu bahkan memakai terusan selutut bewarna merah muda dan polesan tipis yang mempercantik paras. Surainya sengaja ia gerai untuk menambahkan kesan feminim dalam diri Nara.

Nara langsung disambut oleh Bibinya yang tak kalah ceria ketika memasuki bagian kafe di sudut galeri. Krystal membawa nampan kosong dan mengenakan apron.

Hi, young lady. Tumben kau kemari sepagi ini,” celetuk Krystal sembari memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri Nara.

“Sehun memintaku datang ke sini. Katanya, daripada aku stres dan berpikir macam-macam, lebih baik bertemu Bibi. Aku stres sampai mual akhir-akhir ini. Sehun tidak tahu, jika tingkat stresku justru meningkat setiap menemui Bibi,” timpal Nara yang langsung mendapatkan rutukan dari bibinya. Nara buru-buru menghindari dengusan sebal dari Krystal. Gadis itu masuk ke area bar mini. Dia menyapa beberapa pelayan yang dikenalnya sepanjang perjalanan.

Krystal lekas menghampiri keponakannya setelah meletakkan nampan itu ke dapur. “Akhir pekan selalu ramai, jadi aku harus membantu,” ucapnya lelah. Dia berdiri dan bersender di meja Nara. “Kebiasaanmu mual ketika sedang stres sama dengan ibumu,” Krystal memastikan hal yang telah Nara katakan tadi.

“Iya, rasa mualnya sampai membuatku tak berselera makan. Aku hanya ingin makan jika ada Sehun saja.” Nara tersenyum lagi, kali ini lebih jahil dari sebelumnya. “Anehnya, saat masuk ke galeri Bibi aku jadi tidak mual, lalu mulai lapar.”

Krystal ikut nyengir. “Well, tempat ini memang menguarkan aura positif,” katanya. Ia menyenggol bahu Nara, “Apa kau ingin makan sesuatu?” tawar Krystal.

“Gratis? Aku ingin steak dan jus jeruk!”

Krystal menggeleng tak percaya. “Kau masih minta gratis, bahkan setelah mendapatkan kartu kredit dari Sehun. Dasar pelit,” katanya, kemudian berlalu ke dapur untuk menyiapkan pesanan keponakan kesayangannya itu.

“Dia seharusnya lebih banyak beristirahat,” gumam Nara, melihat bibinya yang tampak capek.

Nara baru saja akan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk mengetik pesan singkat, sewaktu seseorang mendekat ke arahnya. Nara sontak menghentikan kegiatannya, ketika dia mengenali pemuda yang beridiri di hadapannya.

“Jung Nara,” sapa si pemuda dengan suara bariton yang khas.

Nara langsung saja beranjak meninggalkannya. Akan tetapi, pria berkaus biru tua itu menarik pergelangan tangan si gadis.

“Kim Jongin, lepaskan,” desis Nara.

“Kita harus bicara,” sela Jongin. Ia melepaskan tangan Nara. “Sehun meminta kita bicara,” imbuh Jongin.

Nara membalikkan tubuh. Dia menatap Jongin tak percaya. Gadis itu menimbang sejenak. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan―“

“―Kau akan menjadi bagian dari hidup saudaraku, maka dari itu kita harus bicara,” potong Jongin.

Nara memejamkan mata sekilas. Ia menghela napas kasar. Netra gadis itu mengamati seisi ruangan yang ramai. “Kita tidak bisa bicara di sini. Ikut aku,” kata Nara, kakinya merajut langkah ke lantai dua.

Krystal menghentikan Nara, ketika si gadis hendak menaiki tangga. Dia berbisik ke arah Nara. “Siapa dia? Kau sedang selingkuh, ya?”

“Dia Kim Jongin, Bibi. Adik Sehun sekaligus mantan kekasihku yang dulu kau juluki sebagai berandalan,” jelas Nara.

Krystal lantas membolakan mata pada Jongin. Wanita berusia akhir dua puluhan itu memasang ekspresi marah yang dibuat-buat. “Jadi kau pria berengsek itu,” kata Krystal. Dia menyipitkan maniknya karena terlalu serius mengamati Jongin. “Wah, pantas saja Nara hampir gila karena dirimu. Ternyata kau lumayan juga,” celetuk Krystal yang langsung mendapatkan senyum bangga dari Kim Jongin.

“Terserah,” timpal Nara dingin, menanggapi ungkapan bibinya. Gadis itu meninggalkan Krystal. Jongin mengekorinya setelah mengucapkan terima kasih pada Krystal.

Nara duduk di salah satu kursi. Ada meja bundar sebagai pembatas dengan kursi lain di hadapannya. Lantai dua gerai lukisan ini khusus untuk pengunjung VVIP. Hanya beberapa orang penting saja yang dapat masuk ke bagian ini. Ruangannya sepi, tapi tetap masih dalam pengawasan penjaga.

“Aku juga hampir gila karena mencarimu,” Jongin membuka pembicaraan. Pria itu duduk dengan cara sangat elegan. Dari caranya bertingkah Jongin sama sekali tak merasa bersalah. Ia justru memberikan pandangan tajam pada lawan bicaranya, seakan dialah pemilik semua yang ada di sini.

Aura dari anak angkat Tuan Choi memang begitu mengintimidasi, pikir Nara.

“Aku hanya punya waktu tiga menit, bicara langsung pada topik utamanya,” lontar si gadis.

Jongin tertawa kecil. Bagi pemuda itu, sisi menarik Nara terkuar saat si gadis sedang marah seperti ini. “Sehun memukulku untuk pertama kalinya setelah sekian lama kami bersaudara.”

Nara refleks memberikan perhatian pada wajah Jongin. Ada lebam biru di sudut bibir si pria. Rasa aneh itu justru ada lagi, Nara kasihan pada lawan bicaranya. Walaupun demikian, Nara tetap diam.

“Sedari awal diriku mendekatimu memang karena ingin memenangkan taruhan. Nara si gadis galak yang tak bisa berteman dengan siapa pun, begitu cara teman-temanku menjulukimu. Kau tahu, aku tampan. Gadis lain bahkan rela melakukan apa saja untukku. Tapi, kau berbeda. Kau sama sekali tak meladeni,” jelas Jongin.

Nara bergumam sinis, “Terlalu percaya diri. Sifatnya sama sekali tidak berubah.”

Jongin lagi-lagi tersenyum simpul. “Semakin aku mendekatimu, semakin aku tahu mengenai dirimu. Rasa kesepianmu, kelemahanmu, dan hal-hal yang membuatmu bahagia. Aku seperti melihat diriku sendiri dalam dirimu.” Ada jeda beberapa detik. “Kemudian entah bagaimana, aku justru terbiasa denganmu. Yang kulakukan selanjutnya benar-benar tulus, bukan pura-pura, Jung Nara.”

“Kau berbohong lagi,” Nara menanggapi.

“Saat aku mulai jatuh cinta padamu, kau mengetahui kebenarannya dan pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan dariku.” Jongin meraup wajahnya. Kali ini nadanya lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi, itu tidak penting. Kau terlihat bahagia sekarang.”

“Jika itu memang tidak penting. Kenapa kau mengancamku saat di bandara?” tanya Nara, ada nada getir dalam suaranya.

Jongin melipat kedua tangan di depan dada. Dia menyeringai. “Aku cemburu dan kesal.” Jongin melejitkan bahu tak acuh. “Aku mencarimu ke mana-mana, kau justru berada di pelukan saudaraku. Sebenarnya, aku mengetahuinya sejak beberapa bulan lalu. Aku mencoba merelakanmu. Namun, melihatnya sendiri dengan kedua mataku, rasanya sedikit tidak rela.”

“Kau seharusnya tidak melakukannya.”

Jongin mengangguk. “Aku memang tak semestinya bertingkah kekanakan.” Ia melihat jam tangannya. “Sudah tiga menit. Terima kasih karena kau telah mendengarkan.” Pria itu bangun dari duduknya. Jongin menepuk bahu Nara pelan. “Aku seharusnya mengatakan ini sedari dulu, maaf Jung Nara. Hiduplah dengan baik. Kau dan Sehun adalah dua orang yang kusayangi, kalian harus bahagia,” lanjut Jongin, kemudian pergi dari hadapan Nara.

Kelegaan itu merayap ke dalam seluruh tubuh Nara. Ia kini bisa melepaskan kesalahan Kim Jongin. Ini memang terlalu cepat dinyatakan, namun Nara mulai bisa memaafkan pria itu. Bagaimana pun, Kim Jongin sempat memberikan kenangan yang manis.

Nara harus bisa memaafkan dan melupakan, jika ia betul-betul ingin bahagia.

“Oh Sehun,” sapa Nara pada pria yang sedang duduk di kursi kerjanya. Nara sengaja mengunjungi Sehun setelah pertemuannya dengan Jongin. Gadis itu disambut senyum Sehun yang menawan hati. “Aku kira pekerjaanmu telah selesai,” kata Nara, ketika dia duduk di pangkuan kekasihnya. Netra Nara mengamati tumpukan dokumen yang berada di hadapan mereka.

“Apa hari ini menyenangkan, Love?” tanya Sehun sembari membelai surai Nara penuh sayang.

Nara mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka saling bersentuhan. “Lumayan, meskipun aku merindukanmu setiap saat,” kelakar Nara manja, langsung mendapatkan tawa Sehun.

“Kai mengunjungimu hari ini,” intonasi Sehun lebih seperti pertanyaan daripada pernyataan.

Nara mengangguk. “Dia menjelaskan semuanya.”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Entahlah, Sehun. Aku memilih baik-baik saja karena dengan begitu diriku bisa lebih bahagia. Sama seperti caramu menghadapi masa lalumu,” jelas Nara.

Sehun tampak puas dengan jawaban gadisnya. Ia hendak mengecup Nara, tapi tiba-tiba si gadis justru menutup mulut. Nara seperti akan memuntahkan sesuatu.

Nara berlari kecil ke kamar mandi, saat merasakan mual yang begitu bergejolak di dalam perut. Sewaktu berada di hadapan kloset, Nara berusaha memuntahkannya, tetapi hanya sedikit yang keluar. Kepalanya mendadak pusing.

Sehun menangkap tubuh Nara yang terhuyung. Dia membantu gadisnya untuk mencuci mulut di wastafel. Meskipun Nara sempat menolak dengan alasan jika dirinya terlihat sangat menjijikkan sekarang.

Toh, Nara pada akhirnya pasrah saja, ketika Sehun menggendongnya menuju sofa di ruang kerja pria itu. Si gadis mendadak kehilangan tenaganya. Memang beberapa hari ini dia merasakan kejanggalan pada tubuhnya. Nara mengira bahwa itu efek stres karena berjauhan dari Sehun. Kendati demikian, rasa mualnya terus berlanjut sampai sekarang.

Sehun sibuk menghubungi dokter pribadinya. Ia memijat pelipis kepala karena kekhawatirannya pada Nara.

“Tidak usah memanggil dokter, Sehun. Mungkin aku hanya salah makan. Aku baik-baik saja,” bujuk Nara.

“Kau sampai lemas begini masih berani bilang baik-baik saja,” balas Sehun. Dia segera mendekat ke arah Nara yang terbaring di sofa. Pemuda itu memeriksa suhu tubuh Nara.

Nara cemberut mendapati sikap berlebihan Sehun. “Sudah empat hari aku mual seperti ini. Sebentar lagi juga tidak mual lagi.”

“Empat hari? Kau mual selama empat hari dan kau baru bilang padaku?” cecar Sehun.

Nara sontak mengkerut. Gadis itu mengangguk kemudian menunduk, tak berani membalas tatapan Sehun yang tajam. Sehun mengerang kesal. Ia segera meraih mantelnya dan jaket milik Nara, lalu memakaikan pada kekasihnya. Sehun membopong Nara lagi.

“Kita akan ke mana?” tanya Nara panik.

Sehun menjawab singkat, “Rumah sakit.”

“Sehun ini berlebihan, sungguh aku tidak apa-apa,” Nara mulai meronta.

Dasarnya Sehun keras kepala, pernyataan Nara hanya sekedar angin lewat saja di telinganya.

Perlu waktu satu jam bagi Sehun untuk menunggu hasil pemeriksaan gadisnya. Dia berada di ruang tunggu sekarang, sementara Nara berada di ruang inap. Pemuda itu tak bermaksud berlebihan, bagi sebagian orang rasa mual bukan hal yang harus dicemaskan. Namun, itu berbeda jika Sehun yang mengalami kejadian tersebut. Dulu, saat Sehun berada di rumah penampungan anak, salah satu temannya meninggal karena penjaga mereka meremehkan rasa mual yang diderita oleh anak tersebut. Mulai dari saat itu, Sehun menjadi lebih peduli terhadap orang-orang yang dikasihinya. Segala bentuk keluhan kecil dari mereka akan menjadi perhatian Sehun.

Dokter Kim justru tersenyum penuh wibawa, ketika selesai memeriksa Nara. Pria berusia paruh baya yang telah melayani Keluarga Choi selama belasan tahun itu menepuk bahu Sehun, menenangkan.

“Dari hasil pemeriksaan, Nona Jung tidak sedang sakit,” jelas Dokter Kim.

Sehun menautkan alis. Dia tampak tak yakin dengan diagnosa dokter keluarganya. Sehun berulang kali memindah pandangannya dari Nara yang terbaring di ranjang pasien dan Dokter Kim yang sedang mengamati catatan kesehatan Nara.

“Dia mual empat hari belakangan ini, Dokter,” ulang Sehun. Pria berjas hitam itu semakin memperdalam kerutan dahinya, ketika mendapati wajah Nara terlihat gembira.

“Nona Jung sedang mengandung,” kata Dokter Kim singkat yang langsung membuat Sehun diam.

Sehun mengedipkan matanya beberapa kali. Dia sangat kaget dengan apa yang sedang di dengarnya. “Apa? Siapa yang hamil?”

Dokter Kim tersenyum maklum. “Nona Jung mengandung, usia kandungannya menginjak empat minggu,” jawabnya sabar.

Mulut Sehun terbuka sedikit. Dia butuh belasan sekon untuk memeroses informasi tersebut. Sehun hanya menatap Nara, meskipun Dokter Kim telah pamit meninggalkan ruangan itu.

“Sehun?” panggil Nara. Dia berdeham singkat, tapi Sehun tak kunjung memberikan balasan. “Sehun, apa kau sakit?” ujar Nara, kini ia mencoba duduk dan meraih Sehun.

Sehun menggelengkan kepala. Dia menepis tangan Nara yang akan menyentuhnya. Lantaran beringsut mendekati kekasihnya, pria itu justru berbalik meninggalkan Nara. Sehun pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

-oOo-

a/n: Halu, setelah sekian lama ya, akhirnya aku lanjutin juga ini cerita huhuhu. Aku tahu ini lama banget gak kelar-kelar. Maka dari itu, aku mengucapkan terima kasih sama teman-teman yang masih membaca cerita ini, meskipun updatenya lama. Outages kurang satu sampai dua bagian lagi dan aku usahakan untuk segera melengkapi ceritanya sebelum aku berangkat training. Sekali lagi, terima kasih, ya. Aku tunggu kesan dan pesan kalian setelah membaca Outages hehehe, jangan lupa tinggalkan komentar di kolom komentar. ❤ ❤ ❤

Oh ya, kalian juga bisa baca ceritaku di Wattpad >>> @twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom. 😆

 

Advertisements

238 thoughts on “Outages: Romantic Escape

  1. omg….. baru nyadar kalo aku salah baca chapter ㅠㅠㅠ dari chapter behind the scene dan salah pencet malah langsung ke chapter ini ㅠㅠ bodohnya :”

  2. wait what…. nara hamil ._. unexpected sih hehe. karena diawal dibilangin kalo nara mirip ibunya kalo lagi stress pasti mual. dan uhm… menurutku reaksi sehun itu… mungkin bisa dibilang wajar.. karena sehun emg mungkin gak bakal nyangka kalo nara bakal hamil. well, bagi sehun yg punya trauma mungkin itu reaksi yg wajar(?)

  3. Takutnya sih bukan anak sehun itu , karena aku pikir mereka belum melakukan sesuatu deh atau mungkin aku ngga ingat hehe. Menurutku cerita diblg ini pasti menarik apaagi castnya ohsehun aku suka bangetttttt.

  4. Takutnya sih bukan anak sehun itu , karena aku pikir mereka belum melakukan sesuatu deh atau mungkin aku ngga ingat hehe

Sudahkah Kamu Meninggalkan Jejak?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s