[7] Under Cover Marriage

undiscover-mrriage-2-1

Poster by Miss of Beat R @ D’Angel Falls

Prev:

Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5

Ada banyak hal di dunia ini yang sanggup mengubah seseorang. Salah satunya ialah perasaan takut. Ketakutan itu dapat berasal dari banyak hal, misalnya melalui kenangan buruk yang membekas. Kenangan buruk itu dapat menjadi noda bagi seorang gadis yang sukar untuk dihapus. Apalagi, tiada satu pun detik bagi kim Jisoo untuk membayangkan dirinya bearada dalam posisi ini. Tertekan oleh keadaan, merasa kotor, dan menjijikan.

Kim Jisoo baru saja mengalami sesuatu yang membuat dirinya berubah.

SI gadis berusia delapan belas tahun kini hanya mampu menatap kosong langit-langit kamarnya. Pikirannya ingin bekerja, namun hatinya terlalu berduka untuk mengingat. Jisoo hanya sanggup terisak dalam diam, kejadian dua hari lalu menyisakan kepedihan. Bagaimana Jisoo terkejut ketika ada pria yang tiba-tiba memasuki apartemennya, bagaimana pria itu menariknya kasar, dan bagaimana tangan pria itu menjamahi tubuhnya yang berusaha memberontak. Satu hal yang tak luput dari ingatannya adalah ketika Kyungsoo datang dan menghunuskan timah panas. Amarah Kyungsoo terpapar jelas, itulah yang membuat Jisoo semakin kalut. Kim Jisoo belum pernah melihat Kyungsoo semurka itu.

Jisoo pun semakin merasa hambar saat menyadari bahwa Kyungsoo tak ada di sampingnya ketika dirinya membuka mata. Hati gadis yang sedang gundah itu pun mengira bahwa sang pemuda enggan bersitatap dengan gadis yang telah kotor. Jisoo terluka mendapati kenyataan tersebut. Ia mengingkan seseorang yang dapat menghiburnya tanpa ada pandangan kasihan mengenai apa pun kejadian yang baru saja menimpanya.

Jisoo segera menutup kembali netranya saat ia mendengar suara pintu yang terbuka. Ada langkah kaki yang mulai mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring.

Dia tampak tidak baik,” seorang pria membuka pembicaraan. Jisoo langsung saja dapat mengenali pemilik suara itu.

Tentu saja, dia hampir dilecehkan dan melihat seseorang tertembak di depan matanya,” jawab pria lain yang Jisoo yakin sebagai lawan bicara Kim Jongin.

Sampai sejauh mana Kyungsoo akan ikut campur dalam kehidupan Jisoo,” gumam Jongin.

Sahutan pun lantas terdengar dari pria lain yang datang bersama Jongin, “Sampai akhir,” ia melanjutkan, “Kita tahu benar bahwa Do Kyungsoo tak pernah menghentikan perburuannya hingga dia mendapatkan apa yang diinginkan.”

Kim Jisoo hanya gadis biasa.”

Teman bicara Jongin mendengus mendengar ungkapan si pemuda berkulit cokelat tersebut. “Dia bukan lagi gadis biasa, sejak membuat Do Kyungsoo jatuh cinta padanya. Tidak ada satu pun pria yang dapat menyentuh gadis ini tanpa persetujuan Do Kyungsoo.”

Jongin tertawa hambar. “Bagaimana pun, aku akan melindunginya karena dia juga bukan lagi gadis biasa dalam kehidupanku.”

Kau sudah gila,” sambar si pemuda lain yang suaranya tak dapat Jisoo kenali.

Jongin enggan menimpali. Setelahnya hanya ada jeda kesunyian, entah apa yang dilakukan kedua pria itu. Jisoo hanya merasakan sentuhan lembut dari Jongin. Pemuda itu menaikkan selimut Jisoo agar tubuh si gadis terlindungi sepenuhnya. Jongin juga menggenggam tangannya dengan penuh kesabaran. Seolah-olah pertengkaran mereka beberapa minggu lalu menguap begitu saja.

Bagaimana keadaanya?” tanya Kyungsoo, ia beranjak dari kursi kerjannya. Rautnya lelah, dia sempat merasa kualahan dalam menangani bisnis keluarga, Kim Jisoo, serta kasus penembakan yang melibatkan dirinya. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu menatap pengawalnya tajam ketika tak ada satu pun jawaban. “Alex?” ulang Kyungsoo kali ini nadanya lebih dingin.

Nona Do sudah sadar, namun Nona Muda enggan bicara,” Alex menundukan kepala. “Kami menjagannya dengan ketat sesuai permintaan Anda. Tidak ada seorang pun yang dapat masuk kecuali dokter dan orang-orang yang mendapatkan kepercayaan Anda.” Alex mengambil jeda sejenak kemudian melanjutkan, “Dokter Park menyarankan agar salah satu dari kerabat dekat dapat menemaninya. Setidaknya memberikan kekuatan bagi Nona Do. Maka dari itu, sesuai permintaan Tuan Muda, saya mengundang Tuan Kim jongin untuk memeriksa keadaan Nona Muda.”

Bagaimana respon Kim Jisoo saat Jongin mengunjunginya?” tanya Kyungsoo pemuda itu menarik lengan bajunya kasar. Lalu mengendurkan dasi.

Tetap tidak ada respon dari Nona Jisoo. Sesuai dengan rekaman CCTV pada kamar Nona Muda, ia tetap bungkam,” lapor Alex.

Kyungsoo menyeringai puas. “Kerja bagus, pastikan semuanya berjalan sesuai dengan keinginanku,” kata pemuda itu sembari menepuk pundak Alex.

Baik. Tuan Muda. Apa perintah Anda selanjutnya?” balas Alex.

Sang pengusaha sukses itu tak lantas menjawab, Kyungsoo memutar otak jeniusnya. Ia mulai melangkahkan kaki, tanpa memedulikan karyawan lain yang membungkuk memberikan salam. Selang beberapa sekon ia memberikan titah, “Bersihkan media yang mengangkat kasus ini. Panggil pengacaraku untuk mengusutnya dan pastikan bahwa orang-orang yang berada di belakang kejadia itu semuanya tertangkap.” Pria itu menghentikan lajurnya. “Jika proses hukumnya berjalan lambat, kalian tahu apa yang harus dilakukan. Habisi mereka,” ujarnya.

Baik, Tuan Muda,” Alex kembali bertanya, “Lalu, apa yang harus kami lakukan pada Nona Jisoo?”

Pemuda itu mengangkat telapak tangan kirinya memberikan sinyal bahwa pengawal tidak usah lagi mengikuti pemuda itu. “Aku akan menangani gadis itu dengan tanganku sendiri,” katanya menutup percakapan.

Kyungsoo meninggalkan kantornya tepat pada pukul tujuh malam. Dia segera menuju rumah sakit tempat Jisoo dirawat. Pria itu butuh menenangkan diri terlebih dahulu sebelum bertatap muka dengan Do Jisoo. Ada banyak hal yang membuatnya teramat marah, khawatir, dan merasa tidak berdaya. Ia tidak menyangka bahwa pesaing bisnisnya dapat melakukan hal kotor terhadap gadis muda itu. Sebenarnya, Kyungsoo memiliki dugaan bahwa yang merencanakannya ialah Kim Junghee. Namun, Kyungsoo enggan memberikan tuduhan tanpa adanya bukti yang kuat. Kyungsoo khawatir jika Kim Junghee justru akan lolos dengan mudah jika ia asal tuduh. Satu-satunya harapan Kyungsoo adalah menunggu si pelaku yang ‘tidak sengaja’ menjadi bidikannya itu tersadar. Pelaku pelecehan terhadap Kim Jisoo tersebut terkapar setelah mendapatkan satu tembakan dari Kyungsoo.

Hanya perlu waktu duapuluh menit bagi Kyungsoo untuk sampai di ruang inap si gadis. Kamar di mana Jisoo berbaring setara dengan hotel berbintang. Tak serupa kamar orang sakit, ruangan itu serupa tempat peristirahatan musim panas yang begitu hangat. Yang membedakan adalah adanya infus dan beberapa pengawal-di luar pengawal laki-laki dan di dalam pengawal perempuan.

Jisoo masih tertidur ketika Kyungsoo memasuki kamar itu. Jisoo baru saja mendapatkan obat penenang. Kyungsoo tak berniat mengusik tidur Jisoo, ia hanya ingin melihat sejauh mana luka yang ada pada tubuh si gadis. Kyungsoo duduk di kursi yang berdekatan dengan raga Jisoo. Satu jam Kyungsoo merenungi paras Jisoo yang terlelap tanpa menyentuh si gadis. Tak ada perilaku lain yang ia tunjukkan, kecuali hanya sebaris kalimat.

Hanya dengan cara seperti ini kau bisa menyadari betapa lemahnya dirimu tanpa aku,” ucapnya pelan. Ia melipat tangannya lalu melanjutkan, “Dengan begini kau akan menerima tawaranku tanpa ragu lagi.”

Kyungsoo telah berubah. Aura pemuda itu tidak lagi hangat. Insiden yang terjadi baru-baru ini menambahkan keyakinan pada Jisoo bahwa karakter Do Kyungsoo yang dulu telah memudar. Seolah Kyungsoo yang lembut tak ada lagi, menghilang begitu saja tergerus waktu. Yang ada di depan Jisoo sekarang ialah sesosok pria bertatapan dingin. Tak ada belas kasih dalam tindak tanduknya.

Sekelebat dalam ingatan Jisoo muncul potongan-potongan adegan kejadian kelam tersebut. Tangan Kyungsoo yang menghajar pelaku dan menembakkan peluru. Kekejaman Kyungsoo ketika itu menyisakan kegetiran dalam diri si gadis serta menjadi mimpi buruknya.

Bunga tidur yang menakutkan.

Datang setiap Jisoo menutup matanya, membuat dirinya tak tenang.

Jisoo terbangun pada tengah malam akibat kegelisahan yang melandanya. Nampaknya, obat penenang yang sore tadi ia minum mulai menghilang efeknya. Sewaktu sepasang netranya menggelepar terbuka, gadis itu mendapati sosok Kyungsoo yang duduk di samping ranjang. Pemuda itu tengah pulas tertidur. Namun, selang beberap detik Jisoo memandangi Kyungsoo yang terlelap, sang pemuda tiba-tiba terbangun. Lantas, jisoo pun tak dapat melarikan diri lagi dari sepasang pupil bewarna coklat milik Do Kyungsoo.

Lidah Jisoo kaku untuk berucap. Ia bergeming di atas ranjang, terduduk, serta menjauhkan pandangannya agar tidak bertemu dengan si pemuda. Jisoo bergerak-gerak gelisah membuat baju pasien yang kini dikenakannya kusut. Seluruh bahasa non-verbal milik tubuh jisoo menyatakan ketidaknyamanannya.

Bagaimana keadaanmu?” ucap pria berpakaian serba hitam itu.

Si gadis enggan menjawab.

Mereka tidak berani lagi menyentuhmu. Aku sudah mengenyahkan semua orang yang berkaitan dengan pelaku,” sambar Kyungsoo, sewaktu Jisoo menyuguhkan raut takut.

Sepasang netra Jisoo beralih pada lawan bicaranya. Jisoo mengepalkan tangannya teramat kuat. “Apa kau berencana membunuh orang-orang itu?” tanya Jisoo gemetar.

Kyungsoo berkata kaku, “Bukan salahku. Mereka membuatku marah.”

Aku akan melupakan mereka, tapi kumohon Kyungsoo aku tidak ingin tanganmu dipenuhi darah,” isak Jisoo. Gadis itu meraih telapak tangan Kyungsoo. “Aku lebih takut jika dirmu berubah. Aku semakin kehilangan kakakku yang dulu,” sambungnya.

Kyungsoo tersenyum kecut. “Aku memang bukan kakakmu, Jisoo,” balas pemuda itu sengit. Ia mengentakkan tangan Jisoo. “Tapi, aku bisa melindungimu. Aku harap tidak ada lagi keraguan mengenai perjanjian awal kita. Kita akan menikah dan kau akan menjadi bagian dari Keluarga Do lagi. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menyakitimu” pria itu menandaskan ucapannya dengan tegas.

Jisoo menatap kosong lawan bicaranya. “Apa Kim Junghee juga tidak akan menyakitiku?” tanya Jisoo pelan. Gadis itu tampak menerawang. “Aku berusaha mengendalikan pikiranku agar tidak mencurigainya, tapi penjahat itu datang setelah aku mempermalukan Kim Junghee,” jelas Jisoo.

Kyungsoo diam sejenak. “Aku berjanji dia tidak akan memiliki kemampuan lagi untuk menyakitimu,” jawab Kyungsoo. Perlahan-lahan pemuda itu membelai surai Jisoo. “Kau hanya perlu berada di dekatku dan mengikuti semua perintahku,” bisik Kyungsoo sembari menarik Jisoo dalam kungkungannya.

Kim Jongin berjalan dengan langkah lebar. Tangan pemuda itu terkepal dan rautnya tampak murka. Ia masih mengenakan setelan kerjanya ketika menerobos masuk ke dalam ruang kerja Kyungsoo. Pemuda itu sama sekali tidak gentar, walaupun dirinya disambut dengan wajah dingin milik Do Kyungsoo.

Apa kau sudah membuang kesopananmu Kim Jongin?” sindir Kyungsoo pada pemuda yang tengah berdiri di hadapannya. Kyungsoo sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran Jongin. Ia malah sibuk menekuni laporan bulanan perusahaannya.

Kim Jongin menunjukkan koran yang sedari tadi dia bawa. “Pewaris Do Corporation mengakhiri masa lajang,” Jongin membacakan berita utama dari koran tersebut. Ia tertawa dingin. “Jisoo bahkan belum keluar dari rumah sakit. Kalian belum resmi menikah-”

Kyungsoo melemparkan dokumen pada Jongin membuat ucapan pria berusia awal duapuluh an itu terpotong. “Jisoo telah menandatangani seluruh perjanjian dan dokumen pernikahan kami. Secara hukum dia istriku,” balas Kyungsoo.

Jongin memeriksa dokumen yang diangsurkan Kyungsoo padanya. Pemuda itu lantas menyengkram kertas-kertas yang memperkuat pernyataan Kyungsoo tersebut. “Kau menggunakan cara yang licik, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo menarik ujung bibirnya menampakkan seringai. Pemuda itu menunjuk kepala sembari berkata, “kau harus menggunakan logikamu untuk menghentikanku.’

Apa kau sengaja melepaskan Kim Junghee agar Jisoo terus terbayang-bayang dalam ketakutannya sendiri?” tanya Jongin.

Kau tahu benar jika menangkap ayahmu bukan hal yang mudah. Dia memiliki banyak perisai yang dapat digunakan. Satu-satunya cara ialah membuat Jisoo lebih kuat dari sebelumnya. Dengan begitu, ia akan berpikir seribu kali untuk menyakiti gadis kecil itu,” kata Kyungsoo.

Kau menjadikan Jisoo senjata,” timpal Jongin, kekesalannya meningkat lagi.

Kyungsoo mengangguk, “Aku bertahan di posisi ini karena sahamnya. Itulah satu-satunya alasan aku tidak bisa melepaskannya.” Pria itu melipat tangan, kemudian bersender santai pada kursi kerja. “Kau tidak perlu lagi mencemaskan Do Jisoo, dia sudah menjadi milikku dan aku tidak butuh bantuanmu untuk melindunginya lagi.” Kyungsoo tersenyum ramah, lalu berucap, “jangan lupa sampaikan ucapan terima kasihku pada Kim Junghee sebab tanpa bantuannya Do Jisoo tidak akan sadar betapa lemah dirinya.”

Jisoo menerima uluran tangan Kyungsoo. Gadis itu pasrah ketika Kyungsoo memapah tubuhnya menuju kursi roda. Jisoo keluar dari rumah sakit hari ini, tepat dua minggu setelah kejadian mengerikan tersebut. Jisoo juga sempat didatangi tim penyelidik dari pihak kepolisian. Untungnya, gadis itu dapat menjelaskan dengan baik kejadian yang menimpanya serta alasan Kyungsoo menyiderai si pelaku. Pegacara Keluarga Do membantu mereka untuk terbebas dari segala tuntutan.

Kau harus segera beristirahat setelah ini,” kata Kyungsoo lembut sembari mendorong kursi roda Jisoo menuju kendaraan yang akan membawa mereka pulang.

Jisoo menggelengkan kepala. “Aku sudah terlalu lama beristirahat di rumah sakit, Dio.” Jisoo mencoba tersenyum, kemudian dia melanjutkan ucapannya, “Aku ingin mengetahui apa saja yang orang lain bicarakan mengenai diriku selama dua minggu ini.”

Kyungsoo menghentikan langkah. Ia berjalan ke hadapan Jisoo, lalu berlutut. “Aku bisa memberitahumu.” Kyungsoo menggenggam tangan gadis yang kini berparas pucat itu. “Pertama, mereka pasti membicarakan tentang pernikahan kita yang mendadak,” sambungnya. Kyungsoo mengeluarkan sesuatu dari saku celana kain hitamnya. Sebuah cicin bewarna silver yang tersimpan dalam kotak cokelat yang elegan. “Untuk memerkuat perbincangan mereka. Kau harus memakai ini,” ujar pemuda itu sambil memasangkan cincin pada jari manis Jisoo.

Gadis itu menatap cincin yang diberikan Kyungsoo. Jisoo langsung menyukai benda berbentuk bulat tersebut. Ia tersenyum tipis mengamati motif sulur sederhana dan berlian kecil yang menjadi mata cicinnya. “Cantik sekali,” bibir Jisoo mengalunkan pujian. “Lalu, apalagi?” tanya Jisoo.

Kyungsoo menyentuh pipi Jisoo. “Mereka juga membicarakan sehebat apa pesta pernikahan kita nantinya,” kata pria itu. Ia kembali berdiri dan mendorong kursi roda gadisnya. “Ketiga, mereka juga berbincang tentang Do Jisoo yang akan melanjutkan sekolah baletnya,” Kyungsoo berucap lagi demi menyenangkan Jisoo.

Kenapa semuanya berlawan dari mimpi burukku. Dalam mimpiku, orang-orang mencibirmu karena menikahi adik angkat yang sudah kau anggap sebagai saudaramu sedari kecil. Lalu, mereka akan bergunjing mengenai gadis yang kau nikahi sudah dilecehkan-“

-Tidak, mereka tidak akan berani bicara seperti itu,” potong Kyungsoo. “Seseorang hanya mendengarkan apa yang memang ingin mereka dengarkan. Kau hanya perlu mendengarkan hal yang membuatmu bahagia, Jio. Aku akan membuatmu tuli pada semua yang dapat menyakitimu,” Kyungsoo menguatkan si gadis.

Ada kalanya, kekuasaanmu itu terbatas, Dio. Kau bisa membeli dan mengatur segalanya, tetapi perasaan manusia tidak bisa kau kendalikan,” tutur Jisoo, lantas membuat Kyungsoo bungkam.

-oOo-

Halo! 😀

Apa kabar? Lama gak nulis apa-apa di sini. Aku mulai sedikit-sedikit ngembaliin mood nulis lagi. Makanya, sekarang lagi proses nulis beberapa cerita yang belum selesai. Terima kasih sudah membaca. 🙂

Nb: oh ya jangan lupa untuk add Line@ Twelveblossom: @NYC8880L (menggunakan @). Cerita di blog ini juga aku publish di Wattpad dengan username twelveblossom.

Advertisements

28 comments

  1. Kak, ini nggak dilanjut lagi?? Padahal aku suka ceritanya (*>.<*) Semoga dilanjut yaa kaa, aku tunggu^^ Semangattt!!!

  2. Dio nya nyeremin ihhh😢 betapa kerasnya menjadi pengusaha dan para pewarisnya semoga jio selalu kuat yaa dengan segala cobaan wakakak semangat kak nuliasnya!!! Aku selalu menunggu cerita mu ini… fighting💪💪💪💪💜

  3. huaaa akhirnya ada lanjutannya ini
    kangen dio sama jisoo bangettt tapi kasian jisoonyaa pasti batinnya terluka banget dan untungnya dio dateng tapi knpa musti sebrutal tu si dio? bikin tambah ketakutan
    semoga dio bener2 bisa berubah jadi dio yg jisoo mau

  4. Lop lop buat ceritanya
    Udah kangen bgt sama ceritanya
    Ini udah beneran lama bgt nunggu
    Dan selalu puas sama tulisan hasil karyanya kakak
    Semangat menuliss
    Keep writing and fightingg ❤

  5. uuuuhhh lama sekali…sampe lupa ma awal cerita ini
    tp tetep seru kok dan harus dilanjut lagi
    ak tunggu nxt chptr
    keep writing and Fighting
    :))))

  6. Dio udah berubah. Ngga lagi kaya dulu, tindakannya bener2 udah ga logika lagi. Segala masalahnya Jisoo bisa kelar pake jalan pikirannya sendiri, ga mikir gimana Jisoo nantinya😭😭
    Huhh stelah lama ga update akhirnyaaaa… Ditunggu next partnya ka smangatttt!!!

  7. Kalau menurut ku, dari cerita sebelumnya kyungsoo sepertinya emg sengaja bikin jisoo jadi begitu (korban pelecehan), kenapa? Soalnya kalau di lihat-lihat apartement yang ditinggali jisoo itu pengawasannya ketat dan setelah kejadian dimana jisoo jadi korban pelecehan, kyungsoo gak terlalu mempermasalahkan sama penjaga yang jaga jisoo (kalau ada yang bisa masuk apartement kan otomatis penjagaannya kurang ketat) nah kesimpulannya hampir mirip sama yang di katakan jongin “kau menjadikan jisoo senjata.” Mungkin maksud dari senjata ini bukan seperti alat (benda) tapi seperti orang yang selalu mendukung/didepan Kyungsoo. Mungkin juga karna Kyungsoo gak mau kehilangan Jisoo makanya Kyungsoo sampai lakuin hal seperti itu (biar jisoo sadar kalau jisoo gak bisa hidup tanpa kyungsoo) Ini gak tau ya alur ceritanya gimana, cuma nebak-nebak. Intinya suka sama ffnya. Mau gimana ceritanya kedepan, mau lama atau cepet up nya bakalan ditunggu kak, semangat!!
    Sebelumnya maaf kak jarang komen.

  8. Wahhhh lama banget ga baca ini ida hampir lupa sama alurnyaa haha
    Semangat trus kak tis
    Semoga ff yg lain segera lanjut lagii

  9. Wahh akhirnya dirilis lagi
    Pas bca notif dr line lngsung bru” bka web ny
    Duh sudah hmpir lupa mlahan
    Dyo pribadinya keras ya haha

  10. Kangen Kyungsoo kangen Jisoo… Kangen SooSoo couple 😘😘 dan kangen kak Titis…. 😘😘😘. Jangan lupa Sehun dan juga Nara… 😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s