Cost of Chance: The Secret Place

cost-of-chance

Poster by Alkindi

Previous:  Perfect Beginning – The Destiny – About Protection

I can see that you are different from other girls.” ―Lotto

Sehun tahu, Nara bukan gadis biasa. Hal tersebut tersurat jelas pada ekspresi si gadis yang dingin dan tatapan berani miliknya. Menurut Sehun, seharusnya Nara ketakutan, menangis atau setidaknya bungkam. Akan tetapi, logika gadis itu masih berjalan. Nara bahkan menunjukkan sikap ingin tahu.

Sehun mulai meghapal segala bentuk gerak non-verbal si gadis beserta arti yang disiratkan, serupa sekarang. Sorot mata Nara sangat mudah ditebak. Sehun tahu gadis itu sedang merasa tertantang sekaligus terkejut, ketika Nara mengetahui apa yang ada di balik ruang penyembuhannya.

Pemuda itu mengerti kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Nara akan mencari jawaban pada diri Sehun.

Sehun pun segera menghempaska pandangannya ke sudut lain, ketika pupil mereka bertemu.

Seolah-olah ia tak tertarik serupa biasanya.

Aku memang terkejut dengan apa yang ada di hadapanku. Ada lorong panjang yang berdinding kaca. Lampu-lampu bewarna merah menyala di sepanjang jalan. Atap dari gedung ini bewarna silver seperti besi-besi berbentuk bulat. Tidak ada penjaga di sana hanya kekosongan.

Kenapa aku tidak mencoba kabur saja? Batinku.

“Kau tidak akan bisa kabur dari sini, Jung Nara,” ungkap Sehun menjawab pertanyaan yang aku ajukan di pikiran

Aku menolehkan kepala ke arahnya. Alisku bertaut. “Kenapa?” tanyaku bersamaan dengan dengusan Chanyeol.

“Lihat dan ingat,” sambar Chanyeol tidak sabar. Pria yang mengaku sebagai saudaraku itu mengambil kotak kecil yang aku yakini sebagai bungkus rokok kemudian melemparkannya. Kotak itu terbelah kecil-kecil sewatu menyentuh sinar merah yang menghiasi lorong.

Oh, itu bukan sinar biasa. Pikiranku kembali berceletuk. Lalu, bagaimana kami bisa lewat. Dinidingnya kelihatan aman atau ada jebakan lain?

Aku hendak menyentuh dinding yang terbalut cermin-cermin itu, namun tangan Sehun dengan sigap menyengkrapku. “Argh!” protesku saat merasakan nyeri.

“Jangan ceroboh!” hardik Sehun, suaranya meninggi. “Kau hanya perlu diam,” lanjut pria itu sembari melepaskan diriku.

Sehun menekan arloji bewarna hitam miliknya. Ada kaca yang muncul dari bawah membentuk dinding menutupi lajur yang penuh sinar merah itu. Kemudian dinding kaca yang berada di samping kanan Sehun terbuka. Ada lorong lain. Kali ini bukan kaca, tetapi dinding yang dilapisi oleh besi. Jalan yang ada di hadapanku seperti tidak berujung.

“Setiap arloji memiliki tingkat akses, energi, dan senjata yang berbeda-beda. Jam tangan milikmu sedikit unik, benda itu hanya berfungsi sebagai pengendali. Kami dapat melacak beradaanmu dengan mudah. Jadi, jangan mencoba kabur,” Chanyeol menjelaskan.

Tanpa sadar aku mengangguk. Bagaimana pun aku belum berniat untuk tercabik-cabik akibat sinar merah itu. Setelahnya, aku mengikuti kedua pria itu berjalan lurus hingga 100 meter dari keberadaanku sebelumnya.

Langkah kakiku berhenti ketika mereka bertindak demikian. Aku mundur satu langkah bersiap untuk menerima kejutan berikutnya. Sehun menyentuh dinding besi yang berada di sebelah kanan kami. Ia menekkan arlojinya. Dinding besi itu terbuka membentuk kotak berukuran sekitar 60×60 sentimeter letaknya menyesuaikan wajah Sehun.

Ternyata kotak itu adalah alat pemindai. Aku meilhat sinar biru yang menelusuri paras Sehun. Setelah aksesnya diterima, ada pintu besi lagi yang terbuka, lebih tepatnya lift berukuran besar. Aku kembali menjadi ekor kedua pemuda itu memasuki kotak besi sambil mengingat apa saja yang harus dilakukan agar diriku dapat keluar dari tempat ini.

Lift ini digunakan untuk berkunjung ke area Executive Officer,” Sehun membuka pembicaraan sembari menekan tombol biru yang terletak di kiri kami. “Tidak semua orang dapat kesana,” lanjut Sehun.

Aku hendak menimpali ucapannya, namun perkataanku seolah tertelan lagi ketika kotak besi yang kami tumpangi bergerak mundur. Aku hampir saja jatuh jika tak cepat-cepat berpegangan pada tangan Sehun.

“Respons kita sama sewaktu pertama kali aku menaiki benda sialan ini,” celetuk Chanyeol ia memamerkan senyum lebarnya yang bagiku terlihat idiot. Ia bahkan merasa senang, padahal sama sekali tidak ada yang lucu.

“Sampai kapan aku harus menaiki benda ini,” dengusku kesal. Aku berusaha keluar dari genggaman Sehun, tangan pria itu terasa hangat dan nyaman. Itu membuatku merasa aman, aku tidak suka menerima kenyataan tersebut.

Bagaimana bisa aku merasa aman padahal diriku sedang tersekap?

Apa aku sudah terlalu lama berada di ruang penyembuhan sehingga pikiranku sedikit terganggu?

Bukankah ini merupakan perasaan yang tak wajar?

“Sampai kau melepaskan tangan Sehun,” sambar Chanyeol lantas membuatku tersadar dari lamunan, tergesa melepaskan pemuda itu kemudian memilih berpegangan pada dinding besi,

Sehun mengabaikan aksiku. Ia hanya menekan beberapa tombol, lalu lift itupun berhenti. Ia berjalan keluar ke dalam lorong lain yang kini berlapis cermin tanpa menunggu diriku atau Chanyeol.

“Kau bilang tidak sembarang orang dapat memasuki wilayah ini,” aku kembali berucap ketika melangkahkan kaki berdampingan dengan Chanyeol. “Berarti aku orang yang penting,” aku memancing topik yang terdengar sensitif tersebut.

Chanyeol pun hanya melejitkan bahu. “Aku tidak banyak tahu karena dirimu bukan lagi bagian dari objek observasiku.” Chanyeol mengimbuhkan dengan volume suara yang lebih pelan, “Satu hal lagi yang harus kutekankan. Kita sedang berada di tempat yang dinding dan atapnya memiliki mata serta telinga. Kurangi ketertarikanmu untuk menanyakan beberapa hal yang dapat membahayakan hidupmu.”

Aku langsung bungkam. Vokal Chanyeol terasa mengancam. Entahlah, pemuda jangkung itu sepertinya memiliki dua kepribadian. Ia dapat menjadi orang yang ceria dan menyeramkan dalam waktu yang singkat.

Aku memilih berjalan lebih cepat. Aku tidak ingin mendengar ungkapan Chanyeol yang terkesan menakuti diriku.

Ternyata area yang disebut Executive Officer tidaklah memiliki banyak pegawai. Sekitar lima menit kami berjalan di sepanjang lorong, namun belum bersilang jalan dengan orang lain. Aku hanya melihat beberapa lampu yang berkedip yang aku yakini sebagai penanda pintu lain.

“Sebentar lagi kita akan memasuki area Directorate of Science, kata Sehun. Dia tampaknya memahami kebingunganku karena menurutku tak ada ruangan lain di lorong ini. “Kita sedang berada di lapis keempat gedung NIS

Oh, kita ada di lantai empat,” selaku yakin.

Sehun memutar bola mata. “Apa kau bisa berhenti membuka mulutmu? Dengarkan dengan baik sebab aku tidak akan mengulangnya lagi,” ujarnya, ia jengkel,

Baiklah, silahkan lanjutkan,” aku menimpali.

Sehun menyambar tanganku yang terpasang arloji. Ia menekan tombol kecil di bagian kanan kemudian mucul hologram peta. Sebuah bangunan berbentuk lingkaran. Ada sesuatu yang unik pada gedung tersebut. Kantor NIS berbentuk lingkaran yang setengah dari bagiannya berada di bawah tanah.

Ada empat lapisan. Tingkat pertama dari gedung ini adalah Directorate of Science tugas mereka adalah meniliti dan menciptakan segala hal yang dapat digunakan untuk pengumpulan data serta keberhasilan operasi rahasia. Yang harus kau ingat di sini, tidak semua objek yang kami teliti ada di lantai atas,” ulas Sehun. “Hanya orang-orang ber-IQ tinggi yang bisa menjadi bagian dari Directorate of Science.”

Apa keberadaanku di sini sebagai kelinci percobaan mereka? Aku mulai berkidik ngeri.

Lapisan kedua bagianku,” Chanyeol menyambar. Ia tersenyum ceria. “Apa kau suka bergosip?” Ia bertanya jahil.

Aku tidak menjawab sebab pertanyaannya sangat tidak penting.

Setiap gadis suka bergosip. Pantas saja unit ini dibangun.” Dia menghela napas panjang. “Lapisan kedua ialah Directorate of Intelligence. Tugas kami menyelidiki gosip

Apa?” potongku, mengira diriku salah dengar.

Chanyeol tertawa sekilas, dia tampak konyol dan menyebalkan.

Hanya bercanda, kau gampang sekali percaya. Kami bertugas melakukan investigasi segala sumber isu penting, topik sensitif yang anti pemerintah, dan segala hal yang dapat membahayakan negara ini.” Chanyeol berdeham kemudian melanjutkan, “bisa dibilang unit kami serupa perpustakaan NIS.”

Aku mengangguk mengerti.

Orang-orang mengira bahwa gedung NIS hanya memiliki dua lantai yang melebar. Masih ada lapisan ketiga dan keempat. Bagian keempat adalah Directorate of Operation di mana agen-agen profesional NIS berada di sana,” kali ini Sehun yang melanjutkan. “Keempat lapisan tersebut memiliki tingkat keamanan yang berbeda-beda. Setiap agen dibagi menjadi empat level. Semakin tinggi level mereka, maka akses yang dimiliki juga luas. Baik itu dari segi teknologi, informasi, dan misi.”

Kalian menjelaskan semua hal mengenai NIS padaku. Apa kalian tidak takut aku melaporkannya pada surat kabar?” Aku bertanya karena benar-benar bingung.

Sehun menarik ujung bibir membentuk seringai. “Coba saja,” ujarnya melalui bibir tipis itu.

Chanyeol berdecak. “Kau bahkan tidak bisa kabur dari sini, masih berani mengancam.”

Aku tidak mengancam. Aku hanyaeumwell, siapa tahu, bukan?”Aku menatap Chanyeol. Aku berucap dengan percaya diri, “Siapa tahu aku digigit laba-laba lalu tiba-tiba memiliki kekuatan superhero

Sehun, apa kau yakin gadis ini sudah sembuh dari trauma di kepalanya?” potong Chanyeol. Ia memasang ekspresi yang begitu terpukul, “Aku tidak bisa menanggung kenyataan jika diriku memiliki saudara yang terganggu

Celoteh Chanyeol terputus akibat arloji Sehun yang tiba-tiba berbunyi.

Kita usdah diijinkan masuk,” kata Sehun kemudian memimpin langkah kami lagi. Chanyeol pun menurut meskipun tetap menggerutu karena Sehun menyela keluhannya.

Pintu baru muncul saat kami berjalan enam langkah. Daun pintu tersebut terbuat dari kayu tua, ada ukiran berbentuk logo NIS yang terbelah garis, membaginya menjadi dua. Tingginya kira-kira empat meter dan lebar dua meter. Engselnya berwarna keemasan.

Chanyeol dan Sehun memindai pupil mereka sebagai kunci masuk ruangan tersebut. Aku bergeming di belakang mereka. Aku hanya perlu mengamati.

Dua agen level senior dibutuhkan untuk membuka pintu ini. Semacam dual control,” jelas Sehun sebelum aku bertanya.

Tepat setelah Sehun mengakhiri ucapannya pintu tersebut terbuka. Terpaparlah ruang kerja yang teramat luas bernuansa klasik. Tampaknya, ruangan ini memiliki dua lantai. Hampir delapan puluh persen dari perabotan area ini terbuat dari kayu. Meja kerja terletak di bagian kiri pintu. Sebelah kanan terdapat lemari-lemari yang berisi buku tebal. Ada tirai di bagian tengah ruangan, serupa jendela tampaknya membentang. Akan tetapi, bukankah ruangan ini berada di bawah tanah?

Apa yang ada di balik tirai bewarna cokelat tersebut?

Rasa penasaranku beralih menuju tangga yang terletak tak jauh dari meja kerja itu. Sebuah  suara terdengar. “Kalian sudah tiba ternyata,” vokal bariton bersumber dari seorang pria paruh baya yang menuruni tangga.

Pria paruh baya tersebut terlihat sangat bugar, hanya saja surainya mulai memutih. Satu hal yang aku yakini bahwa pria tua tersebut memiliki hubungan darah dengan Chanyeol karena telinga mereka serupa. Perbedaan mereka hanya terletak pada ekspresi wajah. Chanyeol masih memiliki sisi humoris, walaupun payah, sedangkan pria paruh baya tersebut rautnya dingin. Bahkan ia tak membalas senyumanku. Ia hanya menatapku hambar selama beberapa detik yang terasa panjang.

Kau mirip sekali dengannya,” ungkap pria baruh baya tersebut. Ia hendak menyentuh wajahku, lantas membuatku mundur.

Argh!” Aku merasakan cengkraman pada kedua tanganku. Sehun menyakitiku lagi agar pria tua itu dapat menyentuh wajahku.

Pria tua itu membidik netraku. Ia tersenyum tipis, lebih menakutkan. “Dengan kedua bola mata ini, kita bisa membuka semuanya.” Ia menekan wajahku. “Selamat datang lagi, Park Yeora.”

 

-oOo-

 

Terima kasih sudah membaca, semoga kalian suka :D. Jangan lupa add akun Wattpad Twelveblossom (wattpad.com/twelveblossom) 😀

Advertisements

36 thoughts on “Cost of Chance: The Secret Place

  1. NARA BINGUNG AKUPUN LEBIH. Semangaaattt kak tahu bulat selalu mendukungmuu, semoga ff ini bisa lanjut dan menghapus rasa penasaran 😁

  2. Seenggaknya chanyeol sama nara punya kesamaan sih yg bisa buat sehun jengkel, haha. Ditunggu lg interaksi duo kakak-adek ini. Wah, penjabarannya detail kak aku suka. Ditunggu ide selanjutnya buat cerita ini kak. Sdh mulai kelihatan nih masa lalunya nara dan pengen tau kelanjutan nara-sehun. Thanks kak.

  3. Aduhhhhh muter muter muter muter
    Perjalanan cerita masih panjang.. ditunggu kelanjutannya ^^
    Entah kenapa chanyeol padhal ngaku kakaknya tp kok dia sepertinya aneh sehun apalagi -,-

  4. kak tis mah , sukanya bkin penasaran ihhh .
    can’t wait for next chapter . gak sabar baca lnjutannya gimana bisa sehun yg sdingin itu bisa cinta bgt sama nara ohhhh .. ^^

  5. Mungkin Yeora/Nata mengalami amnesia setelah kecelakaan waktu kecil. Tapi kenapa dia pisah sama Chanyeol? Dia bener bener gak tahu sodaraan sama chanyeo? Ditunggu kelanjutannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s