Dear Husband: Sometimes He’s Angel

20180222_131409_0001

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario

“I felt my heart opening for you. You wake up my heart and walk to my world. I call you a miracle. Out of everything that breathes. I wanna only remember you. Only feel you, only care for you. I wanna place you close to me.” ―Heaven, Roy Kim feat Kim EZ

-oOo-

“Aku sudah tidak terpengaruh lagi dengan ucapanmu ya, Oh Sehun,” balas Nara yang mulai tersulut amarahnya. Jujur saja Nara jadi tidak nafsu mengunyah daging panggang di hadapannya. “Aku memang tidak dapat naik pesawat karena takut ketinggian. Memangnya kenapa? Suatu hari nanti, aku yakin ibu akan merindukanku kemudian mengunjungiku,” lanjutnya.

Well, aku akan berpura-pura memahami bualanmu,” timpal Sehun santai.

“Yang paling utama, aku tidak akan menikah dengan orang sepertimu. Aku akan menikahi orang yang membuatku jatuh cinta dan kami pasti bahagia. Soal percintaan, aku lebih dewasa daipada dirimu yang dua belas tahun lebih tua dariku,” omel Nara pada pria yang anehnya menyimak serius kata-kata yang diucapkan si gadis muda.

“Lebih dewasa,” Sehun mengulang celotehan Nara yang kini sedang meminum banyak-banyak jus jeruk. Pria itu bahkan mengimbuhkan seringaian mengejek. “Kau seperti anak usia lima tahun yang sedang marah-marah dan bercerita soal dongeng pengantar tidur,” seloroh Sehun.

“Aku ingin sekali menyiramu jus jeruk, tapi sudah terlanjur kuhabiskan. Berdebat denganmu membuatku haus,” keluh Nara yang kini hanya menatap gelas kosongnya.

Lantaran emosi, Sehun justru memunculkan senyum singkat yang kali ini lebih bersahabat dari sebelumnya. “Apa kau suka jus jeruk?” tanya Sehun jahil.

“Iya,” Nara menjawab cepat.

“Lain kali aku akan memesankan lebih banyak jus jeruk untukmu,” kata Sehun.

Nara memicingkan mata. “Lain kali kau harus mentraktirku minum alkohol.”

“Aku rasa tidak akan. Kau tak kuat minum dan kebiasaan mabukmu mengerikan,” Sehun melejitkan bahu. “Aku sarankan jangan minum bersama orang asing, berbahaya.”

“Aku sudah dewasa tidak ada larangan untuk mengkonsumsi alkohol

Sehun memotong ucapan Nara. “Kau tidak perlu minum alkohol untuk menjadi dewasa.”

“Oke, baiklah. Chanyeol juga pernah berkata seperti itu. Chanyeol pun menyalinnya dari Ahra, aku yakin kau juga,” vokal si gadis mengakhiri perdebatan. Nara diam sebentar. Ia menyugar surai cokelatnya. Ada keraguan sebelum dirinya menggelontorkan pertanyaan. “Aku tidak tahu, apa pertanyaan ini membuatmu tak nyaman. Tapi, seperti yang kuceritakan sebelumnya, keluargaku enggan sekalipun membahas mengenai Ahra. Jadi, selain Chanyeol kau pasti juga mengenal Ahra dengan sangat baik.” Nara menahan napas, lalu menghembuskan perlahan. “Apa Jung Ahra sangat mirip denganku?” pada akhirnya Nara mengucapkannya.

Sehun lagi-lagi menjungkitkan ujung bibir. Ia mengamati Nara lekat-lekat. “Sekilas kalian serupa, wajah, selera pakaian, dan suara. Aku menemukan Ahra dalam dirimu. Akan tetapi, setelah bicara denganmu … kalian berbeda. Paras kalian sama, namun ekspresi yang kau keluarkan berbeda. Kau lebih seperti buku yang terbuka lebar. Ahra sangat tertutup. Dirinya menutupi banyak kesedihan melalui senyum. Suaramu memang mirip dengannya, namun caramu berucap serta apa yang kau katakan sangat berbeda.” Sehun sengaja memberikan jeda. “Kemiripan dan perbedaan kalian itulah yang membuatku tak dapat benar-benar membencimu.”

Nara mendengus. “Sudah beberapa kali kau mengungkit soal aku pembunuh, ingin menyiksaku, dan  membenciku. Aku sudah kebal mendengarnya.”

“Itu hanya bagian dari rasa frustasi.”

“Hmm, bentuk frustasi seorang pria dewasa,” simpul Nara sembari menyuapkan besar-besar potongan daging ke mulut.

“Pelan-pelan, nanti tersedak.” Sehun mengingatkan, namun sesuai yang sudah diduga si priaNara sama sekali tak menggubris perkataannya. Gadis itu justru terbatuk-batuk kecil. Sehun hanya menggelengkan kepala melihat Nara membolakan mata minta air putih.

“Terima kasih,” ujar Nara lega, menerima minum dari lawan bicara. “Kau baik sekali,” tambahnya.

“Paling tidak, kakakkmu tak pernah bersikap konyol sepertimu, dasar ceroboh,” vokal Sehun.

“Dia pasti sangat lembut, elegan, dan baik hati. Tapi, sayangnya harus punya kekasih iblis serupa dirimu,” balas Nara. Ia menunjuk Sehun.

“Kau benar-benar akan menyesali ucapanmu sebentar lagi,” Sehun justru enggan mengalah.

“Benarkah? Kau bahkan mengancam gadis muda, menyeramkan,” Nara menutup percakapan mereka dengan ekspresi mengejek yang kentara, lalu pergi begitu saja sembari membawa tasnya. Nara menghabiskan dengan lahap makan siangnya.

“Dasar anak-anak,” gerutu Sehun, walaupun kesal dia tetap menyusul Nara.

Ajakan makan siang yang terjadi dua hari lalu bukanlah terakhir kalinya mereka melakukan kegiatan tersebut. Hampir setiap hari selama sepekan, Sehun menyeret Nara untuk makan siang bersama. Sehun menghalalkan berbagai cara, mulai menelepon dengan sopan atau datang ke kantor si gadisyang pastinya menarik perhartian seluruh teman satu divisinya. Awalnya, Nara menolak mati-matian, akan tetapi Sehun menggunakan bakat kecurangannya. Jika Nara tak dapat dihubungi ketika berada di luar kantor, Sehun akan menggunakan kepala divisi si gadisdengan alasan rapat mendadak di kantor The Three Clouds mengenai proyek mereka. Hal tersebutlah yang membuat Nara akan segera muncul di hadapan Sehun.

Begitupun hari ini, Nara terengah-engah berlari menyusuri koridor yang menghubungkan kantor utama pria itu. Sekretaris Sehun langsung saja memberikan salam ramah pada Nara yang berkeringat. Tanpa banyak bicara sang sekretaris yang bersurai cokelat tua, mengantarkan Nara ke dalam ruang kerja Sehun kemudian meninggalkan mereka berdua.

Sehun berada di sana. Ia duduk di balik meja kerja, memeriksa dokumen. Pria itu mengenakan pakaian kasualcelana kain hitam dan kemeja lengan pendek biru tua. Kacamata yang bertengger di parasnya segera dilepas ketika Nara memasuki ruangan.

“Bisa tidak kau kembali saja ke London? Aku benar-benar bosan melihat wajahmu setiap hari,” sembur Nara sambil melangkah mendekati meja kerja Sehun. “Apa lagi kali ini?” lanjutnya.

“Makan siang, seperti biasa,” jawab Sehun ringan. Ia berdiri, kemudian mengandeng Nara agar si gadis mengikutinya duduk di sofa tamu tengah ruangan. “Aku sangat sibuk hari ini, jadi kita makan di sini,” terang Sehun.

Nara mencibir, “kalau kau sibuk, kenapa memintaku ke sini?”

“Aku harus memastikanmu makan dengan baik,” ujarnya bertepatan dengan sekertaris Sehun yang masuk membawa beberapa kotak makan besar. “Aku sudah terlanjur berjanji pada Chanyeol.”

Tadinya Nara akan pergi mendengar alasan Sehun. Namun, niatnya diurungkan setelah si sekretaris cantik membuka hidangan. Ada sushi yang Nara yakini dibuat oleh restoran favoritnya. Nara kembali duduk manis, menerima sumpit yang diberikan.

Sehun tertawa melihat tingkah Nara. “Tidak konsisten,” gumam pria itu yang sedari tadi mengawasi Nara.

Si gadis enggan menanggapi karena sedang asyik dengan hidangan yang tersaji. “Bagaimana kau bisa tahu restoran sushi favoritku?” tanyanya setelah menghabiskan beberapa potong. “Kenapa kau tidak ikut makan?” Ia memberikan suaranya lagi sebelum Sehun menjawab.

Sehun tak langsung membalas ia memberikan tissu pada Nara sebab ujung bibir gadis itu terkena serpihan kudapan. “Ahra dulu pernah bilang apabila adiknya menyukai sushi, sementara Liv  memberitahuku restoran favoritmu. Aku tidak makan karena setengah jam lagi, aku harus makan siang bersama klien,” jawab Sehun.

“Terima kasih,” balas Nara sembari tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat.

Sehun hanya mengangguk singkat, perhatiannya teralihkan pada hal lain. Ia melihat Nara mengenakan shirt dress dengan warna navy. Sehun meraih jaket cokelat yang berada di dekatnya lalu meletakkan di pangkuan Nara, menutupi paha si gadis yang sedikit terlihat karena dress tersebut lumayan pendek.

Nara menautkan alis. “Kenapa?”

“Nanti bajumu kotor. Kau kan harus kembali ke kantor setelah ini,” jelas Sehun berdusta. Ia membuang muka.

“Baiklah,” Nara melejitkan bahu, tanpa curiga.

Sehun menghembuskan napas lega. Dia merasa dirinya sangat aneh.

Kenapa ia harus perhatian pada Nara?

Apa karena Sehun melihat Ahra pada diri gadis ini sehingga ia ingin melindunginya?

Namun, secara karakter Sehun dapat melihat bahwa Ahra dan Nara ialah dua kepribadian yang berbeda.

Akhir bulan bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi Nara. Hal itu disebabkan oleh dua hal, pertama ia lembur sampai larut malam dan yang kedua gadis itu mendapatkan kram akibat tamu bulanannya. Nara sedari tadi pagi hanya bisa lesu tak ada tenaga. Ia pun sangat kelabu seperti dress selutut yang kusut akibat seringnya Nara bergerak-gerak tidak nyaman di kursi kerjanya.

Pukul sepuluh malam Nara menelungkupkan tangan di atas meja, kepalanya ia sembunyikan di sela-sela lekukan tangan tersebut. Ia telah menyelesaikan pekerjaannya, namun terlalu malas untuk bergerak.

Jisoo yang mempunyai kubikal tak jauh dari si gadis menepuk pundak Nara yang lesu. “Nara saatnya pulang,” kata Jisoo hati-hati.

Nara hanya bergumam, tanpa berniat untuk beranjak. “Sebentar lagi, kau pulang saja dulu.”

Jisoo menghela napas maklum kalau saja ia tak ada janji bertemu kekasih, dirinya pasti menemani Nara. “Baiklah, aku pulang dulu karena Kyungsoo sudah menungguku di depan. Jangan pulang terlalu malam. Kalau kau butuh bantuan segera telepon aku.”

Nara hanya mengangguk. Gadis itu kembali tidur. Ia akan pulang setelah kondisi kram perutnya membaik sehingga dirinya dapat menyetir. Sepuluh menit berselang, ponsel Nara berdering. Nara awalnya ingin mengabaikan, akan tetapi benda itu terus berbunyiakhirnya si gadis pun terusik.

“Iya Oh Sehun, ada apa?” ujar Nara, setelah melihat nama yang tertera pada layar ponsel.

Kau ada di mana?” tanya Sehun.

Nara menjawab malas, “kantor. Ada apa? Aku sedang tidak ingin diganggu, sudah ya.” Nara menutup telepon sebelum mendengarkan balasan dari lawan bicaranya.

Nara meletakkan ponsel dengan sedikit kasar. Gadis itu melihat ke sekitar yang ternyata hanya tersisa dirinya di divisinya. Ruangan tersebut gelap, sumber pencahayaan berasal dari kubikal Nara dan lampu kecil yang menempel di dinding. Nara melihat arloji.

“Sudah hampir tengah malam. Aku harus pulang, perutku sakit sekali,” keluh Nara.

Setelah meregangkan badan beberapa kali, gadis itu membereskan barang-barangnya. Ia mulai berjalan menuju basemant perusahaan. Nara sempat beberapa kali berhenti hanya untuk memulihkan tenaga, sebelum ponselnya berdering lagi.

“Apa lagi Oh Sehun?” ujar Nara tanpa berbasa-basi.

Sehun yang berada di seberang telepon pun demikian. “Aku sudah berada di depan lobi kantormu. Pulang bersamaku saja.”

“Tidak mau, bagaimana dengan mobilku?” sergah Nara.

Asistenku yang akan membawanya. Cepat ke mari.” Kini giliran Sehun yang menutup pembicaraan sebelum Nara menyetujui.

Nara menghela napas. Ia berpikir sejenak. Logikanya berjalan kali ini. Ia sedang sakit, tak mampu menyetir sendiri. Kaki Nara berjalan menuju lobi. Atensi si gadis langsung saja tertuju pada Sehun yang tengah mengenakan sweater abu-abu dan celana jeans. Pemuda itu duduk di kursi tunggu dekat resepsionis sembari memainkan ponsel.

“Sehun,” sapa Nara. Gadis yang kini mencebikkan raut melanjutkan ucapannya ketika Sehun menoleh ke arahnya. “Ayo pulang. Perutku sakit.”

Sehun lekas berdiri. Ia mengangguk, lalu membimbing Nara menuju mobilnya yang terparkir. Beberapa menit kemudian mereka duduk di Audi RS7 milik Sehun. Berlainan dengan hari-hari sebelumnya kali ini Sehun tidak menyetir, pria itu menemani Nara duduk di kursi penumpang. Sopir pribadinya melajukan kendaraan ketika Sehun memerintahkan.

“Apa kau bisa pastikan mobilku baik-baik saja?” tanya Nara, kepalanya bersandar di kursi menghadap ke arah sang pria. Gadis itu sangat lelah. “Tumben kau tidak mengemudi,” gumam Nara, ia mulai memejamkan mata.

Sehun menunjukkan seluruh perhatiannya pada gadis muda yang berada di sampingnya. “Aku baru saja minum alkohol jadi tidak dapat menyetir,” jelas Sehun. Ini sungguh di luar dugaan, namun tiba-tiba tanpa diproses terlebih dahulu oleh pikirannyajari-jari pemuda itu mengusap peluh yang ada di kening Nara. “Apa kita harus beli obat untukmu?” tanya Sehun.

Nara menggeleng. “Besok semuanya akan beres. Aku ingin pensiun jadi perempuan kalau tiap bulan harus kesakitan seperti ini,” rengek Nara. Ia membuka mata, lalu menemukan Sehun yang tersenyum sembari menatapnya. Nara langsung bungkam sebab ada kegugupan ganjil yang mulai mengusik.

Sehun yang entah dari mana mengeluarkan cokelat berbentuk persegi panjang dari tas plastik yang berada di hadapannya. “Aku tidak tahu ini manjur atau tidak, semoga cokelat dapat membuat suasana hatimu membaik.”

Nara mengangguk. “Aku makan ini besok pagi saja ya soalnya takut gigiku berlubang,” timpal Nara. Ia buru-buru membalikkan badan dan bersandar pada sisi yang lain untuk menyembunyikan pipinya yang merona. Tak hanya itu, Nara malu sekali karena suara jantungnya yang sangat keras, takut terdengar oleh Sehun.

Hmm… kira-kira, apa Sehun mendengarnya?

“Ah, aku lupa!” seru Nara ketika mereka berada di depan pagar Keluarga Park. “Ini hari Jumat minggu ketiga,” Nara menepuk kening.

Sehun yang ikut turun dari mobil pun menautkan kedua alis. “Kenapa?”

“Hari ini waktunya pengurus rumah kami libur, jadi tidak ada yang membukakan pintu,” jawab Nara. “Tenang saja aku bawa kunci sendiri,” lanjutnya sambil mengaduk totebag miliknya. Beberapa detik berlalu, paras cantik Nara berubah menjadi pucat. “Di mana aku meletakkannya,” gumam Nara sangat pelan agar tak didengar oleh Sehun yang mulai menampilkan wajah kecut.

Sehun memutar bola mata. Ia seharusnya sudah dapat memperediksi masa depan, apabila lawan mainnya dalam adegan ini adalah Jung Nara serta segala kecerobohannya. “Ini sudah lewat tengah malam, Jung Nara. Kau lupa kuncimu, bagus sekali. Kau bahkan sangat pintar,” sindir Sehun. Ia mengetuk sepatu tak sabar, tangannya disilangkan di depan dada. “Selamat mencari. Aku tidak bersedia menemanimu di depan pagar. Aku pulang,” lanjut Sehun.

Nara melotot. Ia refleks menarik lengan sweater pria itu. “Tunggu,” vokal Nara. Ia memberikan tatapan yang minta dikasahani serupa anak anjing kelaparan. “Apa kau tega membiarkanku tidur di sini?”

“Tentu saja, kenapa tidak?” goda Sehun.

Nara mengerucutkan bibir, “tolong aku hari ini saja, ya?” pinta Nara.

Sehun menggeleng.

“Mobilku kan belum datang. Aku tidak bisa ke mana-mana,” rengekan kecil pun akhirnya terkoar dari Nara.

Sehun membuang muka, menyembunyikan senyumnya. “Sebentar lagi mobilmu datang,” bantah Sehun, setelah suaranya kembali netral.

Nara melepaskan tangannya dari sweater Sehun. Ia kecewa dan sedih. Ini kekanakan, namun Nara mulai menangis. Karakternya yang cengeng biasanya hanya gadis itu tunjukkan pada Chanyeol. Kendati demikian untuk pertama kali, Nara menangis di depan pria selain saudara tirinya itu.

Sehun yang tahu akan tersebut langsung saja kebingungan. “Hai, Jung Nara. Astaga, kenapa menangis?” tanya Sehun tanpa dapat menyembunyikan rasa paniknya. “Aku hanya bercanda,” lanjut Sehun. Pria itu mendekat ke arah Nara. Ia menggunakan telapak tangannya yang besar untuk menghapus airmata si gadis.

“Aku sangat kesal hari ini. Semuanya menyebalkan dan kau juga. Aku lelah sekali, ingin cepat-cepat tidur,” omel Nara pada Sehun.

Pria itu tertawa. “Dasar anak kecil. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku meninggalkan adik kesayangan Ahra sendirian,” Ia mengusap kepala Nara. “Kita akan menginap di rumahku.”

“Hanya berdua?” tanya Nara terkejut.

“Iya, hanya berdua,” tegas Sehun.

-oOo-

Seharusnya aku ngepost ini minggu depan. Tapi, terlalu gemes pengen ngepost sesuatu di blog sambil nungguin kereta datang 😂. Sampai sini ideku masih mengalir deras buat mereka di FF ini, semoga hari-hari berikutnya juga masih seperti itu. Jadi, aku menunggu saran kalian mengenai cerita ini di kolom komentar, siapa tahu ada ide lain gimana seharusnya Nara sama Sehun. Aku tunggu ya, sarannya 😄.

Cerita ini juga dapat dibaca di wattpad.com/twelveblossom atau bisa mengunjungi Line@ Twelveblossom (@NYC8880L).

Terima kasih atas komentar pada part sebelumnya dan terima kasih sudah membaca ya^^.

Advertisements

215 thoughts on “Dear Husband: Sometimes He’s Angel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s