Dear Husband: If You Were Me

20180222_130634_0001

Previous:

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love YouI’m Okay Even It’s Hurt

“Please stop only thinking about yourself and open your ears. Just once. Just one time. If you were me. Do you think you’d be different?” If You Were Me, Ost Hwayugi Part 5

-oOo-

Nara melamun di tempat tidur sewaktu Daniel membuka pintu ruang inapnya. Gadis itu telah berada di rumah sakit hampir sepekan. Sebenarnya, dokter sudah memperbolehkan ia pulang, akan tetapi Chanyeol ingin adiknya menginap sehari lagi demi memastikan keadaanya telah baik-baik saja.

Orang-orang di sekitar Nara mulai sibuk dengan pekerjaan. Hanya Daniel yang rutin menjenguk si gadis. Tak banyak hal yang dilakukan Kang Daniel, pemuda itu cuma membawa beberapa kabar yang sangat diminati Nara. Tentu saja bisa ditebak, Nara suka sekali mendengarkan Daniel yang bercerita soal Sehun. Banyak hal tentang Sehun yang dilewatkan Nara selama satu minggu. Contohnya, pria itu sibuk rapat setiap hari, Sehun lupa memakai pasangan kaus kakisatunya cokelat dan yang lainnya hitam, Sehun kesal karena ada acar di sandwich, Sehun tersandung sewaktu akan keluar kantor, dan lain sebagainya. Entah itu karangan Daniel belaka atau bukan, toh Nara menikmatinyasepengetahuan Nara, Sehun masih berada di London. Nara berusaha berpikir positifmungkin Daniel punya mata-mata. Begitulah cara Nara bahagia untuk sementara agar tidak merindukan Sehun terlalu banyak.

“Apa yang dilakukannya hari ini?” tanya Nara, bahkan sebelum si pemuda bermata sipit itu sempat melepas mantel.

Daniel tersenyum saat melihat si gadis menyambut. Ia menurut saja duduk di kursi samping tempat tidur Nara. “Dia tidak melakukan banyak hal,” jawab Daniel singkat yang langsung mendapatkan cebikan Nara.

“Kau pasti kehabisan bahan, ya,” kata Nara. Ia menepuk bahu Daniel. “Terima kasih sudah ada di sampingku saat mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing,” lanjut Nara.

“Ini bagian dari pekerjaanku, Noona,” timpal Daniel. Ia mulai mengupas jeruk untuk Nara. Daniel menyuapkan potongan jeruk pada gadis di hadapannya, lalu mengimbuhkan, “Aku menyukainya, jangan merasa terbebani.”

Nara tertawa. “Kau seakan-akan bilang dibayar untuk menjagaku,” ujarnya.

“Memang begitu cara kerjanya,” gumam Daniel.

Nara menepuk pelan kepala Daniel. “Siapa orang konyol yang melakukan itu?” kelakar si gadis.

“Oh Sehun hyung membayarku untuk membuatmu tertawa,” balas Daniel kemudian terkekeh. Pria itu mengabaikan Nara yang kini memutar bola mata. “Kalian seharusnya bisa lebih dewasa daripada diriku. Tapi, aku rasa usia tidak menentukan tingkat kedewasaan. Aku beritahu satu rahasia, ya

Apa ini soal dia?” potong Nara antusias.

“Dengarkan baik-baik, Sehun hyung sudah berada di Seoul sejak kau masuk rumah sakit. Dia sangat sibuk mencari cara agar perjanjian pernikahan antara dua keluarga dapat diundur. Oh, tolong jangan memasang wajah muram seperti itudia begitu bukan karena tidak suka

Lantas, apa dia menyukaiku?” pangkas Nara sekali lagi, sedikit membuat Daniel menggertakkan gigi.

Anggap saja begitu. Satu alasan yang pasti, Sehun hyung tidak ingin kau menikah karena terpaksa,” Daniel akhirnya menyelesaikan ucapannya dalam satu tarikan napas.

Nara menatap Daniel. Ia tertegun sejenak, kemudian menarik ujung bibir membentuk senyum kecut yang kentara. “Apa yang harus kulakukan, Kang Daniel? Apa aku harus berlutut lalu berkata jika aku menyukainya? Apa aku harus pura-pura tuli serta buta agar tak dapat melihat dan mendengar bahwa Sehun berada di dekatku karena Ahra?” ungkap Nara, ia berkata pelan.

Daniel menghela napas, berusaha sabar. Ia beberapa kali mengatur diafragmanya agar bisa mengatakan hal yang selama ini hanya tersimpan dalam serebrumnya. “Bukankah mencintai seseorang dengan tulus itu menyakitkan sekaligus membahagiakan, Noona? Karena sewaktu mencintai seseorang, aku bahkan rela menjadi siapa saja untuknyaasal dia bahagia.” Pria itu memberikan jeda sebentar. Ia menatap Nara penuh arti. “Meskipun alasan dia tersenyum bukan karena aku, perasaannya bukan untukku, dan pikirannya memimpikan orang lainasal aku bisa berada di dekatnya, tertawa bersamanya. Hal itu membuatku cukup puas.”

“Gadis yang akan berkencan denganmu pasti sangat beruntung,” kata Nara pelan. Ia mengusap kepala Daniel serupa caranya membelai anak kucing. “Adikku sudah besar,” imbuh Nara.

Daniel pun cemberut akibat sikap Nara. “Aku bukan anak kecil yang kau temui lima tahun lalu,” Daniel mengeluh. “Bagaimana apa Noona sudah siap bertemu dengannya? Kalau sudah aku bisa mempertemukan kalian seolah-olah tidak direncanakan,” ujar Daniel mengangkat topik baru.

Nara menggeleng. “Aku ingin pulang ke rumah dan membaca dokumen yang ibu berikan kepadaku,” ungkap Nara sekaligus mengakhiri perbincangan mereka.

Chanyeol sengaja pulang kantor lebih cepat untuk menjemput adiknya di rumah sakit. Pria itu lekas membawa Nara ke rumah agar bisa beristirahat lagi. Kendati demikian, Nara justru meminta dokumen yang ibunya berikan kepadanya. “Kau tidak perlu membacanya hari ini, Nara,” suara Chanyeol mengisi ruang tamu Keluarga Park. “Kau baru saja keluar rumah sakit,” sambungnya. Chanyeol akhirnya ikut duduk di samping Naraia belum sempat membongkar kertas-kertas yang dibawa oleh Han Haera. Ada kecemasan dalam benak Chanyeol, bahwa tulisan-tulisan yang ada di sana dapat mengguncang emosi Nara lagi.

“Ini hanya kertas, Chanyeol. Kau tidak perlu khawatir,” timpal si gadis yang kini mengenakan terusan selutut bewarna cokelat. Nara menyelipkan surai panjangnya untuk berkonsentrasi. “Ibu menyertakan catatan kesehatanku dan Ahra,” Nara bergumam. Gadis itu membalik dokumen lain yang tersimpan di map cokelat. Tangan Nara bergetar saat mengetahui isinya. “Apa dengan menandatangani surat ini aku dan Sehun akan sah menikah secara hukum?” tanya Nara. Ia mendongak ke arah Chanyeol.

“Tidak, kau tak perlu memikirkan dokumen sialan itu. Secara hukum kau sudah menjadi anak angkat dari Keluarga Park. Perjanjian pernikahan antara dirimu dan Sehun mengikat Keluarga Jung serta Oh. Jika kita berusaha membatalkan perjanjian

Maka Keluarga Park yang akan terkena imbasnya,” lanjut Nara sekaligus memotong argumen Chanyeol. Gadis itu tersenyum dingin. “Itu yang dikhawatirkan Ibuku. Dia tidak ingin perjanjian konyol dari suaminya yang dulu mengusik kehidupannya yang bahagia,” kata si gadis. Nara menggenggam tangan Chanyeol erat. “Katakan padaku yang sejujurnya, aku tidak ingin dibohongi lagi. Apa yang akan terjadi pada kita?”

Chanyeol meraup paras. Raut lelah tak dapat dihapuskan di sana. “Kalau saja kau bukan satu-satunya pewaris Keluarga Jung. Pembagian kepemilikan saham mereka sudah berjalan belasan tahun, The Three Clouds tidak akan membiarkan kita lolos. Mereka membutuhkanmu untuk menyatukan perusahaan. Setelah kau menikah dengan Sehun, hakmu sebagai pewaris Keluarga Jung akan diberikan sepenuhnya kepadamusaat ini hanya diawasi oleh dewan perusahaan karena kau dianggap belum cukup matang.” Pria itu melihat respons Nara. Ia melanjutkan ketika Nara mengangguk paham. “Selama ini, bukan tanpa alasan Ahra berada di Seoulberpisah dengan ibumu. Ahra ditekan sedari dulu untuk diserahkan kepada Keluarga Oh serta mengambil peran sebagai pioner,” jelas Chanyeol.

“Aku rasa karena itu ibu merasa bersalah. Dia mengabaikan Ahra, namun ketika Ahra dapat memberikan yang ia inginkan …” Nara menggantung ucapannya. “Apa kini giliranku yang dimanfaatkan, Park Chanyeol?” tanya si gadis getir.

Chanyeol menarik Nara dalam pelukannya. “Tidak, aku akan memastikan tak ada seorang pun yang menyakitimu lagi.” Pria itu menepuk-tepuk punggung adiknya lembut. “Aku sudah pernah gagal melindungi Ahra. Aku tidak akan mengingkari janjiku pada Ahra untuk melindungimu.”

Nara lebih siap sekarang. Ia mengunjungi The Evenue Park sesuai saran Daniel yang mengatakan Sehun sedang berada di sana. Paras cantiknya tampak tegar dengan polesan riasan tipis. Setelan formal yang membalut tubuh langsingnya menambah kesan serius yang ingin dibangun Nara. Ia memberikan tatapan tajam saat memasuki ruang kerja Sehun yang terletak di lantai dua. Melalui netranya Nara memindai pria yang hampir satu bulan tak pernah dilihatnya. Ada kerinduan dalam benak gadis itu terhadap pria yang kini menyita seluruh atensi.

Awalnya Sehun terkejut mendapati gadis yang memenuhi serebrumnya tersebut berada di sanaberdiri angkuh sembari mengamati. Seberkas perasaan lega serta antisipasi terajut menjadi satu sikap defensif yang dapat Sehun baca dari gerak tubuh Nara. Sehun sengaja membisu. Ia tak ingin memulai percakapan, kemudian mengakhirinya begitu cepat. Barang sebentar saja, Sehun ingin menatap Nara yang baik-baik sajakarena selama sebulan ini dalam benak Sehun sosok Jung Nara tergambar kesakitan dan menderitayang sialnya disebabkan oleh dirinya.

“Kau memberikan dokumen ini kepada ibuku, bukan?” Nara memulai perbincangan. Ia mengangsurkan map cokelat tersebut. “Kau mengancamnya menggunakan ini.”

“Aku tidak mengancam. Aku hanya memberikan opsi untuknya,” koreksi Sehun.

Nara tertawa mengejek. “Sehingga dia datang padaku

Bukankah kau yang selama ini ingin bertemu ibumu?” potong Sehun. “Banyak kesalah pahaman yang terjadi di antara kita, Jung Nara. Termasuk antara kau dan ibumu. Kalian memiliki sifat yang sama. Ia baru akan menemui jika aku membawa topik yang sensitif.”

“Kau melakukan itu agar aku bisa bertemu ibuku,” ulang Nara.

Sehun menghela napas. “Bukan hanya untukmu. Apabila Ahra masih berada di sini, tentunya ia ingin melihat kalian bersama.”

“Tidak, kau berbohong. Kau hanya ingin aku menyadari seberapa tidak berharganya diriku di mata ibuku. Kau ingin aku sadar bahwa aku hanya sebuah alat untuk ibuku,” sergah Nara. Ia berusaha menenangkan diri, ketika melihat kilatan murka dari Sehun. “Kenapa kau marah? Aku seharusnya yang lebih marah darimu, Oh Sehun.”

“Bisakah kau berhenti menyimpulkan tanpa mendengar penjelasan, Jung Nara?” tanya Sehun yang lantas membuat Nara bungkam. “Ibumu juga menyayangimu seperti caranya mencintai Jung Ahra dan Park Ryujin. Dia ingin berada di sisimu, namun di lain pihak tak dapat membebaskanmu dari perjanjian ini. Ibumu juga membaca catatan kesehatanmu bahwa kau memiliki kecenderungan untuk tidak bisa melahirkan bayimu karena permasalahan jantung. Han Haera ingin kau hidup aman dan normal. Saat aku bertemu ibumu dia memintaku untuk menjagamu karena menurutnya hanya diriku yang dapat memberikan kebebasan yang selama ini kau inginkan.”

Nara menggigit bibir. Ia menahan emosi yang saling memacu dirinya.

“Kau tidak perlu memikirkan dokumen itu. Aku akan mengurusnya,” Sehun berucap lagi. Tangan pria itu hendak menyobek kertas yang dulu dijadikannya sebagai senjata.

Nara menghentikan Sehun. Gadis itu mulai tidak waras ketika menyadari apa yang ia lakukan. “Aku tidak ingin menyelakai keluargaku karena enggan menikah denganmu.” Gadis itu menatap Sehun. Suaranya bergetar saat mengatakannya, “Menikahlah denganku Oh Sehun. Kita hanya perlu pura-pura menikah.”

“Kim Jisoo, apa kau pernah dengar kasus seorang wanita yang melamar pria?” tanya Nara ketika jam kantor telah usai. Dia menarik kursi untuk mendekati kubikal Jisoo.

Jisoo mengentuk dagu menggunakan pena, ia berpikir. “Ada, kok. Pasti si wanita itu sudah yakin kalau kekasihnya setuju dan sangat mencintainya,” jawab Jisoo.

Nara menghembuskan napas kasar. “Masalahnya, mereka bukan sepasang kekasih,” timpal Nara dengan nada frustasi.

Jisoo melotot. “Wah, dia berani sekali. Apa gadis itu melamar orang yang ia temui di jalanan atau

Bukan seperti itu,” Nara memotong ocehan Jisoo. “Begini, mereka kenal sudah hampir tiga bulanlumayan dekattapi si wanita ini belum tahu apa yang laki-laki itu rasakan

Jangan bilang kau melamar Sehun?” tebak Jisoo langsung tepat sasaran.

Nara menggeleng heboh. “Bukan, apa aku sudah gila!” seru Nara. Gadis itu bangkit, lalu mengambil tasnya. “Itu hanya cerita temankukasusnya, bukan aku,” Nara menandaskan.

Jisoo yang memang tak mudah dikelabui pun tersenyum puas. “Tenang saja, Jung Nara. Aku yakin lamaranmu pada Sehun tidak akan ditolak, kok. Aku kan bisa membaca masa depan,” kata Jisoo keras-keras mengiringi kaburnya Nara dari tempat tersebut.

Nara melangkah gontai menuju tempat parkir mobil. Sepanjang jalan gadis itu melamun mengenai caranya meminta Sehun untuk menikah dengan dirinya. Nara merasa konyol, harga dirinya terluka. Namun apa daya semuanya terlanjur terjadi.

Nara pun masih ingat benar respon yang diberikan Sehun sewaktu itu. Sehun langsung saja menjungkitkan alis, lalu menatap Nara tidak percaya. Bahkan si gadis yakin Sehun belum memperkirakan jika Nara akan mengatakan hal tersebut. Sehun sempat tertegun beberapa sekon sebelum ia kembali mendominasitanpa disangka-sangka sang pria memberikan senyum mengejek. Nyali Nara yang ciut membawanya kabur keluar dari ruangan Sehun begitu saja tanpa menunggu jawban. Kira-kira begitulah ringkasan kejadian lamaran memalukan yang dilakoni oleh Nara kemarin.

Nara berjanji pada dirinya sendiri jika hal yang dilakukannya kemarin akan menjadi kekonyolan terakhirnya. Ia tidak ingin dipandang sebagai gadis yang mengoarkan lelucon sepanjang hari. Agar bisa memperkecil perasaan malu itu, Nara memutuskan untuk enggan bertemu Sehun sementara waktu.

Tampaknya, keinginan Nara hanya isapan jempol belaka.

Sehun berdiri di sana. Ia bersandar di mobil merah milik Nara. Tubuh jangkungnya masih terbalut setelan kantor yang sangat pas. Sehun memberikan ekspresi datar, tangannya terlipat di depan dada, dan netranya yang tajam menusuk mengarah ke Nara.

Nara langsung berhenti di tempat. Ia akan berbalik pura-pura tidak lihat, kemudian kabur. Kendati demikian langkah kakinya kalah panjang dengan Sehun. Tangan Nara ditarik Sehun hingga gadis itu berbalik. Nara pun sulit bernapas karena Sehun terlihat menawan hari ini. Tampak lebih tampan jika dilihat sedekat itu.

“Kau terlihat seperti pencuri yang hendak kabur, Jung Nara,” kata Sehun. Pria itu melepaskan tangan Nara setelah memastikan lawan bicaranya bisa diam.

Nara mengerucutkan bibir. Ia mendongak menatap Sehun yang berjarak kurang dari satu meter darinya. “Aku kabur karena melihat hantu,” celetuk Nara. Ia merajut kakinya menuju mobilnya. Gadis itu akan menaiki kursi kemudi tapi segera dicegah Sehun.

Sehun mengangkat tubuh Nara, kemudian membuka pintu penumpang di samping kemudimendudukan gadis itu di sana. Gerakan yang dilakukan Sehun begitu cepat, kurang dari tiga menit kendaraan Nara telah melaju menembus jalanan Seoul dengan Sehun sebagai pengemudinya.

Nara mendengus berulang kali. “Kau tahu ini tindak penculikan,” katanya kesal.

Sehun mengabaikan. Ia justru mengangkat topik lain. “Katanya kau ingin menikah denganku. Bukankah kita harus memulai persiapannya?” tanya Sehun datar.

Gadis itu terbatuk beberapa kali karena diingatkan lagi masalah lamaran konyolnya tersebut. “Aku mengatakan hal itu tanpa berpikir panjang,” sesal Nara. Ia melihat Sehun yang sorot matanya terpaku pada jalan raya. “Seharusnya, bukan wanita yang melamar laki-laki,” sambung si gadis.

Sudut bibir Sehun berkedut menahan senyum. “Apa maksudmu aku yang harus melamarmu?” kelakarnya.

Ada rona merah dalam paras Nara. Ia menepuk pipi beberapa kali berusaha untuk menghilangkannya. “Aku tahu kau tidak akan melakukannya,” ucap Nara pada akhirnya. Ia menghembuskan napas dalam-dalam. “Padahal aku telah mempertaruhkan harga diriku untuk mengajakmu menikah. Kau bahkan tidak menjawabnya,” keluh Nara.

Sehun membelokkan setirnya menuju tepi jalan. Ia menghentikan mesin kendaraan. Tangannya meraih dokumen yang berada di dasbor mobil. Sehun menyerahkannya pada Nara. “Baca baik-baik. Kau sudah memberikan setempel pada aplikasi pendaftaran pernikahan kita kemarin. Pengacaraku sudah mengurus semuanya. Secara hukum kita telah menikah. Itu jawabanku,” jelas Sehun.

“Kau bercanda,” kata Nara membolakan mata.

“Aku tidak pernah membuat lelucon mengenai urusan bisnis.”

Nara masih mengerjapkan mata beberapa kali. “Bagaimana bisa pernikahan yang sakral dipermainkan dengan setempel dan kertas?”

Sehun tertawa mengejek. “Tentu bisa, jika kau punya uang.” Pupil Sehun yang cokelat membidik lawan bicaranya. “Jangan pernah bermimpi apabila pernikahan ini akan seperti pernikahan yang lainnya. Kita hanya menjadi suami-istri untuk memenuhi perjanjian dan kau adalah pengganti Ahra. Aku juga telah berdiskusi dengan Chanyeol, menentukan sampai kapan kita akan terikat. Chanyeol minta kita berpisah setelah satu tahun,” tegasnya.

Nara menundukkan wajah. “Apa kita tidak sekalian berpura-pura mengadakan upacara pernikahan?” tanya Nara dingin. “Agar kepalsuan yang ada tidak tercium oleh orang lain,” sambungnya sengau.

“Aku telah meminta asistenku mengosongkan jadwal selama dua minggu ini. Kita akan mengadakan upacara pernikahan dan bulan madu,” timpal Sehun. Pria itu memberikan kotak kecil pada Nara. “Pakai cincinnya,” perintah Sehun.

Nara berusaha sabar dengan menuruti perkataan pria itu. Ia membuka kotak beludru biru tersebut. Sebuah cincin berbentuk sulur dengan berlian kecil sebagai mata. Indah sekali, batin Nara. Cincin itu sangat sederhana tanpa kesan mewah yang mencolok. Namun. Semuanya pas di jari si gadis. Begitu menawan serta sesuai selera Nara. Seolah cincin tersebut dibuat untuk dirinya.

“Aku tahu ini pasti bukan cincin yang dipilih olehmu atau dibuat khususkau pasti menyuruh asistenmu yang membelikan dan dipilih secara acak,” Nara berkata. Ia melihat cincin itu sekali lagi. “Ini sangat indah,” bisiknya lalu tersenyum ke arah Sehun.

Entah apa hal yang dipikirkan Sehun, pria itu mengangguktangannya terkepal menyengkram kemudi. “Setelah dewan perusahaan tahu kita telah menikah, mereka akan menuntut ahli waris darimu dan aku. Aku ingin kau melahirkan seorang putra untukku, bagaimana pun caranya,” ujar Sehun kepada gadis yang kini hanya bisa membolakan mata terkejut.

-oOo-

Halooo, terima kasih sudah baca, selamat uda sampai bagian ke tujuh dari cerita ini semoga nggak bosan :”). Aku tunggu kesan dan pesan kalian di kolom komentar. Mau tanya soal mereka juga boleh :D.

Oh ya, selain di blog ini kalian juga bisa membaca ceritaku di Wattpad (username: twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom), bisa add LINE@ twelvblossom (search aja @NYC8880L menggunakan @) atau bisa main ke akun Askfm aku (username: titiskw / ask.fm/titiskw).

Advertisements

278 thoughts on “Dear Husband: If You Were Me

  1. ya ampun nih abang sehun sanggup banget ya
    tpi mungkin ini jalan supaya sehun itu bisa makin deket sama nara
    okay laaaaaa……..

  2. Wew,udh nikah aja ni orang dua,,,sehun jg aneh,bkn ny dy sndr yg blg kl nara gk bs hamil krn pny pnyakit jantung,,trus gmn bs dy ngelahirin keturunannya,,,
    Kira2 apa yg bkal chanyeol lakuin kl tau nara udah nikah sm sehun,,soalny dy kan pgn bgt ngelindungin nara,,

  3. aku kabur krna melihat hantu??????
    sehun jadi hantu ganteng gitu aku jugaaa mauuuuuuuu kali hohohoho

    bisa yaa nikah cmn tanda tngan krts trus sah, yaaa bisa sihhh sbnrnya hahahhaha tpi ini ngk ada ijab qobul atw pemberkatannya gitu yaa hahaha

    suka bnget sma crta ini… mkin seru hohohoho

  4. Ngakakk.. Nara oh naraaa… Lucu ee pas cerita ke jisoo. Aku jd bayangin ini beneram dijadiin film or drama gt. Keren sih

  5. Klo orngnya sehun mah nggk apa2 dilamar duluan sekalipun sudah ahjussi, lah sehun minta pewaris gimanapun caranya ? Penasaran gimna kehidupan mereka selanjutnya.

  6. Aku terlalu semangat bacanya. Dalam beberapa jam aku udah baca dari part awal. Feelnya kerasa tau ga thor😭 kerennnn.

  7. Jangan2 yg daniel suka itu nara? Hehehe
    And akhirnya nara secara sukarela menawarkan pernikahan wkwkwkw
    Eh gapaa mba nara ,jaman sekarang cewe nembak cowo duluan itu wajarrr.. Ya nglamar duluan boleh lah wajarr juga wkwkwk

  8. Gila sih.. sehun nuntun pewaris gimana pun caranya~ padahal kan dia tau kalo nara susah buat hamil gara” jantungnya

  9. Sehun bgst bgt dsni kdg baik kdg nyebelin. Gmna mau kasih anak kalo nara aja punya kelainan jantung ihh 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s