Dear Husband: Dealing With You

20180222_130634_0001

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love YouI’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us

-oOo-

Matahari sudah terik ketika sepasang kelopak Nara menggelepar terbuka. Gadis itu mengernyit merasakan sekujur tubuhnya yang pegal. Ia meregangkan tangan sebentar sebelum nyawanya terkumpul sempurna. Nara pusing, setelah berusaha mengingat kejadian semalam. Tangan Nara menarik selimut agar membalut tubuhnya. Raga Nara kini mengenakan kemeja lengan panjang kebesaran berwarna putih. Nara memukul kepala ringan, menyadari betapa bodoh dirinya.

Masih melekat diingatan Nara semua kegiatan yang ia lakukan semalam. Bau alkohol seolah menjadi aroma yang melekat pada raganya. Selain itu, si gadis juga bisa mengecap rasa Sehun dalam benaknya. Nara kembali menepuk pipi agar serebrumnya dapat menghapus bayangan-bayangan mesum mengenai suaminya. Nara merasa tolol karena ia tidur dengan pria yang tak kunjung mencintainya. Kendati demikian, Nara masih mencari keberadaan Sehun yang menghilang dari atas ranjang di tengah kegundahannya.

Ada sakit yang bersarang pada benaknya. Nara berpikir, seolah Sehun menyesal bercinta dengannya karena pria itu lenyap begitu saja. Gadis itu berusaha bangun dari ranjang untuk mencari keberadaan si pria yang lepas tanggu jawab tersebut. Ia berdiri perlahan ketika ada linu pada bagian bawah tubuh. Tangan Nara pun berusaha menggosok bercak merah yang ditinggalkan Sehun pada dirinya. Nara berjuang untuk menetralkan napas yang naik-turun tak beraturan. Sang gadis ingin sekali menangis, namun berusaha dia tahan.

“Jung Nara, bodoh,” bisik Nara. Ia menggigit bibir. Sepintas ada kilasan kenangan jika dia yang memulai semuanya. Tak ada yang dapat disalahhkan semua terlanjur terjadi dan mereka mabuk waktu itu. “Aku kehilangan muka di depan Sehun. Bagaimana bisa aku merayunya? Aku menciumnya dulu dan kami …. Aku bahkan tak mengingat prosesnya,” isak Nara pada akhirnya.

Gadis itu berjongkok di depan cermin, menutupi wajah yang berderai airmata. “Dulu aku selalu mengejek perempuan dalam film yang menangis setelah melakukannya. Aku paham perasaan mereka sekarang,” lanjut Nara. Ia menyeka airmatanya dengan kemeja kebesaran itu. Nara memperhatikan baju milik Sehun yang dikenakannya. “Bahkan aku masih bisa mencium aromanya di tubuhku,” lagi-lagi Nara mengucapkan semua hal yang sedang dia pikirkan.

Nara masih sibuk menangis hingga tak sadar jika pintu kamar mandi terbuka, lalu menampakkan Sehun yang telah memakai kaus dan celana santai selutut. Sehun masih menggosok surainya yang basah dengan handuk. Pria itu menautkan alis bingung saat melihat Nara yang terduduk di lantai dan menangis serupa balita.

“Apa yang sedang kau lakukan, Nara?” tanya Sehun yang lantas mendapatkan raut terkejut dari Nara.

Sehun menghampiri si gadis lalu ikut duduk di samping Nara. Ia mengamati wajah Nara, mata gadis itu bengkak akibat menangis serta hidung merah. Sehun tersenyum miringbaginya Nara terlihat konyol sekarang.

“Kau masih sanggup tersenyum setelah melakukan itu padaku,” ucap Nara pelan. Ia melotot ke arah Sehun.

Sehun melejitkan bahu. “Kau memang menyusahkan kemarin,” timpal Sehun. Ia kembali berdiri kemudian meraih minuman penghilang mabuk yang berada di nakas. Sehun memberikannya pada Nara. “Minum ini dulu agar pikiranmu jernih,” sambungnya.

Nara menurut. Serebrumnya memang sedang dalam kondisi tidak waras. Si gadis memikirkan banyak kemungkinan. Itu yang membuatnya sangat ngeri pada dirinya sendiri. Kebiasaan mabuknya benar-benar menakutkan, ia terlampau agresif. Sayangnya, Nara hanya mengingat adegan bercumbunya saja tak sampai ke acara puncak.

Nara terlalu banyak melamun, itu membuatnya terbatuk ketika meneguk botol minumnya.

Sehun pun cekatan bertindak. Ia menepuk punggung Nara pelan.

“Kenapa kau bersikap sangat tenang, Oh Sehun?” tanya Nara pada akhirnya. Ia terlampau kesal pada pria tampan tersebut. Surai Sehun yang basah membuat Nara susah berkonsentrasi. Nara mengalihkan pandangan agar pupilnya tidak bertemu dengan suaminya.

“Karena kita tidak melakukan apapun,” jawabnya singkat. Sehun meralat ucapannya sebelum Nara sempat menimpali, “well, kita memang saling menyentuh. Tapi, kau ketiduran. Apa kau lupa? Pikiranmu hanya berfungsi untuk hal-hal yang dewasa, kau bahkan tak ingat bagaimana dirimu yang tiba-tiba mendengkur

Lalu, kenapa aku memakai bajumu?” potong Nara tak sabar. Ia menunjuk bercak merah yang ada di lehernya. “Bagaimana dengan ini?”

“Kau melepas sendiri kausmu kemudian meminta kemejakulebih tepatnya merebut. Aku minta maaf soal apapun yang ada di tubuhmu.” Sehun memalingkan muka. “Kita tidak benar-benar bercinta. Apa aku harus menjelaskan semua yang kusentuh?” tanya pria itu setelah mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.

“Menyebalkan!” seru Nara di depan wajah Sehun. Ia ingin sekali menyakar paras Sehun. “Dasar pria tua menyebalkan!” ulangnya. Gadis itu hendak berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus melihat kerusakan apa saja yang telah dibuat Sehun pada tubuhnya. “Argh,” keluh Nara ketika ia melangkah, bagian bawahnya masih sakit jika dia berjalan terlalu cepat. Dia berbalik menuju Sehun yang sudah memasang wajah bersalahNara sendiri agak terkejut karena pagi ini Sehun menampakkan begitu banyak ekspresi. “Ini semua gara-gara dirimu. Dasar mesum, menyebalkan.” Nara kembali pada Sehun lalu memukul punggung pria itu.

Sehun memang merasa bersalah, namun dia tetap menghindar karena baginya mempermainkan Nara merupakan hiburan yang disukainya.

“Awas saja, kalau aku sampai hamil. Kau harus bertanggung jawab,” ungkap Nara ketika mereka makan siang di ruang makan lantai satu cottage. Gadis itu mengacungkan pisau yang seharusnya digunakan untuk memotong steak.

Sehun mengunyah potongan daging tanpa beban. Ia tersenyum sebelum menanggapi, “Memangnya, apa yang harus kulakukan? Kita sudah menikah

Aku membencimu,” pangkas Nara.

Alis Sehun naik satu. “Apa kau bisa membenciku, Jung Nara?” tanya Sehun jahil.

Nara tertawa sinis. “Aku bahkan bisa memotongmu kecil-kecil lalu membuatmu menjadi kornet Tuan Oh yang kaya raya.”

“Dasar phsyco,” gumam sehun sembari meminum jus jeruk.

Nara cemberut enggan mengacuhkan ejekkan yang baru saja dilontarkan suaminya.

“Besok kita pulang,” Sehun mengangkat topik lain setelah beberapa menit bungkam.

“Bulan madu kita masih tersisa beberapa hari lagi,” sergah Nara. Ia menatap Sehun penuh tanya.

“Aku tak bisa membiarkan kejadian kemarin terulang lagi. Kita tidak dapat tinggal di tempat yang terlalu dekat dengan alkohol,” ungkap Sehun.

“Bukannya aku yang seharusnya berkata seperti itu? Aku yang dirugikan, Oh Sehun.” Nara menghela napas kasar.

Sehun hanya berdeham sebagai tanggapan curahan hati si gadis. Ia baru angkat bicara setelah mampu menyembunyikan tawa akibat paras putus asa milik Nara yang dianggapnya lucu. “Chanyeol dan Liv sudah membereskan semua barangmu. Kita akan tinggal di apartemenku untuk sementaramenunggu rumah kita siap ditinggali,” jelas Sehun.

“Apa kau membeli sebuah rumah? Wah, kau mengatakannya dengan sangat ringan seakan-akan hanya sedang membeli ayam goreng,” celetuk Nara.

“Ya, aku harus melakukannya karena tidak ingin Chanyeol dan Liv curiga. Apartemenku sangat dekat dengan rumah Keluarga Parkmereka tentunya akan sering berkunjung ke sana apabila kau masih tinggal di tempat tersebut. Aku juga memberikanmu rumah untuk hidup setelah perceraian kita nanti,” Sehun berkata. Ia menatap Nara sekilas, lalu melanjutkan, “Jangan menolak, aku memberikan semuanya bukan hanya untukmu tapi karena jantung Ahra berdetak pada tubuhmu. Jadi, aku ingin kau hidup dengan baik, bahkan setelah kita bercerai.”

Nara meletakkan garpu dan pisau yang ia gunakan untuk makan. Gadis itu tersenyum kecut pada lawan bicaranya. “Iya, aku tahu semuanya demi menjaga jantung Ahra. Kau melakukan semuanya untuk Ahra. Anggap saja Nara sudah lenyap dari muka bumi ini,” ujar Nara. Si gadis melotot ke arah Sehun. “Bahkan kau mengucapkan kata ‘bercerai’ sebanyak dua kali. Dirimu sepertinya ingin sekali cepat-cepat berpisah denganku,” cibir Nara tanpa berusaha menutupi kejengkelannya. Nara meninggalkan meja makan dengan langkah lebar menuju lantai dua. Si gadis menutup pintu keras-keras sesampainya di kamar agar Sehun mendengar seberapa kesal dirinya.

Nara tersenyum lebar saat tahu siapa yang menjemput mereka. Nara memersilahkan Daniel masuk ke ruang santai cottage yang Nara tinggali hampir selama lima hari. Ia menerima pelukan hangat Daniel yang memujinya terlihat cerah daripada sebelumnya.

“Ini masih jam sepuluh pagi. Tumben kau bisa bangun lebih pagi. Sehun saja masih belum keluar kamar,” ucap Nara saat mengangsurkan kotak susu pisang pada Daniel. Sebenarnya, Nara juga baru bangun, ia masih mengenakan celana pendek dan juga tank top hitam. Nara santai saja bersila di atas kursi.

“Aku selalu bangun pagi sejak tinggal di London karena sepupuku sangat berisik,” timpal Daniel sembari meminum susu pisang. Netra Daniel tertuju pada sesuatu yang berada di leher Nara. Dia lekas membuang muka menyadari bahwa lawan mengobrolnya ini sudah menjadi milik orang lain.

Sementara Nara tetap tidak peka. Ia justru membelai surai Daniel seperti caranya memberikan penghargaan pada anak kucing peliharaannya. “Good boy,” ujar Nara.

Daniel menangkap tangan Nara lalu menurunkannya perlahan. “Aku bukan anak-anak lagi, Noona,” sambar si pemuda nadanya datar. Ekspresi Daniel berubah serius, tangan Nara masih ada di genggamannya. “Aku sudah dewasa,” lanjutnya.

“Jung Nara kau tidak boleh lagi menganggap Daniel sebagai anak laki-laki. Dia juga seorang pria,” vokal Sehun yang baru saja merjaut langkah menuju ruang santai. Sehun sudah rapi dengan kaus dan celana jeans yang membalut sempurna tubuh jangkungnya. Pria itu membawa mantel biru tua.

Nara mengerucutkan bibir. “Well, aku masih belum menerima kenyataan anak laki-laki yang dulu suka mengikutiku telah menjadi seorang pria sekarang.” Nara mengalihkan atensi pada Sehun. “Kau sudah mandi. Baiklah, aku bersiap-siap dulu,” putus Nara.

Sehun menghela napas. Ia risih dengan pakaian Nara, apalagi gadis itu mengenakan sesuatu yang sangat terbuka untuk menemui pria lain. Sehun menyampirkan mantel yang ada di tangan ke bahu Nara. “Lain kali, kalau aku melihatmu mengenakan pakaian ini saat menemui tamuaku akan sangat marah,” bisiknya tepat di telinga Nara.

Nara mendengus. Ia berjalan tanpa mengindahkan ancaman Sehun.

Sehun menatap gadis itu sampai menghilang ke balik pintu. Ia duduk di sofa ruang santai. “Apa kau sudah membuat janji dengan Dokter Hwang?” tanya Sehun pada Daniel.

Daniel mengangguk. Ia dengan cuek menyalakan televisi kemudian meraih setoples keripik yang ada di meja. “Sepertinya hyung sangat menikmati kegiatan bulan madu ini,” sindir si pemuda. “Kalau kau begitu menyukai berdekatan dengan Nara, kenapa membuat nyawanya terancam?” lanjut Daniel kali ini ia menekan suara yang dikeluarkannya.

“Itu semua demi kebaikan Nara

Daniel memotong penjelasan Sehun dengan tawa mengejek. “Demi kebaikan Nara,” ulangnya dingin. “Hyung hanya ingin memuaskan rasa penasaramu sendiri. Kau ingin tahu apa benar Ahra berniat bunuh diri atau membunuh

Kang Daniel, you cross the line,” kini giliran Sehun yang menimpali.

“Aku hanya memberikan fakta. Aku sudah berkonsultasi dengan Hwang Minhyun mengenai resiko memancing ingatan yang secara naluriah Nara lupakan. Gadis itu akan terkejuttentu sajabagi orang biasa tidak ada efek yang berarti. Namun, Jung Nara punya kelainan jantung bawaan dia bisa saja terkena serangan jantung ketika proses itu.”

“Resiko itu lebih baik, Kang Daniel.”

“Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu, Hyung. Kau bisa saja kehilangan wanita yang kau cintai sekali lagi.” Daniel menanggapi. Ia menatap Sehun sekilas. “… atau kau bahkan belum menyadari jika sudah mencintai Jung Nara.”

Nara dan Sehun sampai apartemen ketika langit mulai gelap. Mereka akan tinggal di apartemen Sehun yang terletak di daerah Gangnam. Apartemen tersebut merupakan tempat yang jarang dikunjungi si pria karena terlalu luas apabila ditinggali sendiri.

Apartemen mewah yang dibeli Sehun beberapa tahun lalu memiliki fasilitas yang lengkap. Terdiri dari dua lantaidi mana lantai kedua terdapat tiga ruang, yaitu dua kamar tidur serta ruang kerja. Pada lantai satu ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, dan kolam renang dalam ruangan. Dua pilar kokoh menjadi hiasan yang membuat apartemen tersebut elegan.

Pada pijakan pertama Nara memasuki tempati itu, Nara sudah yakin selera mahal tersebut pasti pilihan Ahra. Nara tahu benar bagaimana kesan klasik serta elegan yang tergambar pada unit apartemen itu merupakan salah satu perwujudan Sehun atas permintaan Ahra. Nara merasa sesak di sana. Semua yang ia lihat memang indah, akan tetapi bukan sesuatu yang dapat dirinya sukai.

Nara pun menyeret koper dengan langkah lunglai.

“Kau tadi tidur sepanjang jalan, Nara. Jangan memberikan raut kusut seperti itu karena wajahmu sudah jelek, kalau kau begitu semakin jelek,” ujar Sehun santai. Ia menghempaskan diri di kursi empuk ruang tengah yang sekaligus berperan sebagai ruang keluarga.

Karpet halus yang menerpa jari-jari kaki Nara membuat si gadis tergoda untuk duduk di bawahtepat di samping kaki Sehun. “Bisa tidak Oh Sehun, kau perihatin sedikit padaku,” sergah Nara.

“Tidak bisa, aku hanya bicara jujur mengungkapkan fakta,” balas Sehun.

Oh God! Kau sungguh menyebalkan!” seru Nara ia menunjuk Sehun kesal. “Kau seharusnya sadar untuk tidak mengajakku bertengkar terus. Usiamu lebih tua, Oh Sehun. Lagi pula aku tadi ketiduran soalnya tanganmu mengarahkan kepalaku untuk bersandar pada bahumu,” oceh Nara.

Sehun mengernyit. “Kenapa jadi menyalahkan bahuku?” tanya si pria tidak ingin mengalah. Sehun memijat bahu seolah-olah ia baru saja melakukan pekerjaan berat. “Bahuku ini sangat malang karena harus menanggung kepalamu yang besar, Nara. Sepertinya, kau harus diet sebab pipimu menambah besarnya kepalamu,” ejek Sehun.

Nara menendang kaki Sehun yang berada dekat dengannya. “Dasar pria tua menyebalkan! Aku tidak gendut!” seru Nara dibarengi ringisan kesakitan Sehun.

“Suara teriakanmu terdengar sampai depan, Noona,” vokal Daniel. Ia berjalan sembari mebawa tas makeup Nara yang tertinggal di mobil. Daniel menyerahkan barang yang ada di tangannya pada Nara. “Kalian tetap saja bertengkar padahal sudah menghabiskan malam bersama,” celetuk pria bergigi kelinci sambil tertawa karena kedua orang yang usianya lebih tua darinya tersebut kompak memamerkan rona merah di pipi.

“Kenapa kau bisa tahu? Sehun kau memberitahunya, ya?” tebak Nara.

Sehun memutar bola mata. “Tentu saja, Daniel tahu. Lihat lehermu. Kau seharusnya memakai sesuatu yang bisa menutupinya,” jawab sehun. Jari pria itu bergerak untuk melepas kuncir rambut Nara kemudian memosisikan sedemikian rupa agar menutupi leher si gadis.

Nara mengangguk-angguk paham. “Kau pintar juga, Daniel,” puji Nara.

Noona sebaiknya istirahat karena ada jadwal konsultasi dengan dokter dimulai besok,” kata Daniel. Ia duduk di sebelah kanan Nara.

“Apa yang harus aku konsultasikan? Aku baik-baik saja,” balas Nara.

“Kita akan menemui dokter untuk mengurangi rasa takutmu pada ketinggian. Bukanya kau telah setuju, Nara?” Sehun segera mengambil alih.

Nara enggan langsung menjawab. Ia mengiggit bibirkebiasannya sewaktu ragu atau sedang berpikir. Dua orang pria yang berada di samping kanan dan kirinya sabar menunggu. “Baiklah, aku akan menemui dokter itu. Tapi, kau harus ikut bersamaku, Sehun,” jawab Nara setelah menghabiskan waktu selama lima menit.

Sehun mengangguk. “Tentu saja, aku harus ikut,” jawabnya.

Nara enggan memungkiri bahwa dirinya ketakutan sekarang. Ia berada di lorong gelap rumah sakit yang panjang seolah tanpa ujung. Gadis itu mencoba melangkahkan kakinya satu-persatu, walaupun terasa berat. Dia terhuyung beberapa kali berusaha menyetabilkan napas yang enggan beraturan. Tubuh Nara berbalik ketika ada seseorang yang menarik tangannya.

“Kak Ahra,” bisik Nara setelah mengetahui orang yang tadi membalik badannya.

Gadis muda yang dipanggil Ahra terlampau mirip dengan Narahanya saja lingkaran matanya lebih pekat, surainya bergelombang, dan cara ia tersenyum pada Nara teramat mengerikan.

“Kau mengambil semuanya dariku,” ucap Ahra dingin. Tangannya yang tadi berada di bahu Nara beralih menuju leher sang adik.

Tanpa Nara duga, gadis itu mencekiknya. Nara tak berdaya. Napasnya semakin tersengal. “Kak Ahra, s-sakit. Le-lepaskan,” Nara memohon, namun Ahra enggan mengabulkan.

“Kau harus lenyap,” bibir tipis Ahra berucap lagi dengan intonasi yang membuat Nara semakin meronta.

“Nara, bangun,” suara Sehun terdengar dalam potongan film hitam putih yang Nara rasuki.

Gadis itu masih tergagap. Jari-jarinya berusaha menggapai udara kosong.

“NaraJung Nara!” vokal Sehun semakin keras.

Nara pun terbangun dari kenangannya. Gadis itu memegangi dada, ia merasakan nyeri sekaligus sesak. Dia menerima pelukan dari Sehun yang tadi memang mendampinginya. Nara membalas dekapan erat itu. Meski begitu, air matanya tak berhenti mengalir.

“Aku sangat takut, Sehun,” gumam Nara pelantetap berusaha menggapai napasnya.

Sehun membelai punggung Nara. “Semua baik-baik saja. Kita sudah melakukan cara ini beberapa kali,’ hibur si pria.

Benar, ini bukan pertama kalinya Nara berkunjung ke psikiatri. Sehun rutin menemani Nara untuk bertemu Dokter Hwang selam satu bulan belakangan ini. Dokter Hwang Minhyun adalah ahli dalam bidang hipnotis yang bertujuan untuk menggali kenangankhususnya masa lalu penyebab trauma pada seseorang. Tujuan terapi Nara adalah agar traumanya pada ketinggian hilang. Nara diharapkan dapat memaafkan masa lalunya yang menjadi alasan si gadis itu memiliki trauma pada hal tersebut. Pada percobaan pertama belum menghasilkan apapun Nara hanya melihat kekosongan, akan tetapi pertemuan selanjutnya kilasan kenangan semakin tergambar secara nyata.

Minhyun memberikan minum pada Nara. Dokter yang berusia akhir tiga puluhan tersebut berparas tenang. Ruangan tempat prakteknya pun didesain untuk memberikan kenyamanan bagi pasien. Ia juga merupakan teman baik Sehun dan Daniel sewaktu di London.

“Apa kau bisa menceritakannya padaku, Nara?” tanya Minhyun sabar, setelah pasiennya dapat menenangkan diri.

Nara sudah melepaskan pelukannya pada Sehun, tapi ia tak membiarkan suaminya jauh. Dia menggenggam tangan Sehun. Nara menoleh ke arah si pria. “Aku sudah tahu siapa yang bersamaku sewaktu di lorong.” Nara menghembuskan napas berat. Ia memandang Sehun, takut. “Jung Ahradia mencekikku,” lanjutnya.

Alis Sehun mengernyit. “Apa?”

“Kak Ahra berusaha menyakitiku,” ulang Nara. Ia mulai terisak lagi. Gadis itu menutup mulut agar suara isakannya tak terdengar.

“Tapi itu tidak mungkin,” sanggah Sehun.

“Aku rasa hari ini cukup,” Minhyun menengahi. Ia memberikan tatapan memeringatkan pada kawannya.

“Nara harus mengingat lebih jelas lagi,” ucap Sehun. Pria itu menatap Nara yang tertekan. Sehun masih keras kepala agar Nara bersedia menjalankan sesi hipnotisnya sekali lagi karena beberapa kali pertemuanbaru kali membuahkan hasil yang jelas.

Nara menggeleng sebagai balasan. Gadis itu mencoba menguasai diri. Ia enggan terpengaruh pada mata Sehun yang mengintimidasi. “Aku tidak ingin melihat lebih jauh lagi. Itu menyatiku, Sehun. Aku ingin pulang,” pinta Nara.

Sehun menghela napas. Ia meraup wajah. “Semakin cepat kita mengetahui semuanya

Kau hanya memanfaatkanku untuk mengetahui semua hal tentang Ahra,” potong Nara mulai emosional.

Minhyun yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menggelengkan kepala maklum. Perdebatan mereka memang sering terjadi. Sehun dan Nara yang sama-sama berkepala batu menambah runyam sesi konsultasi. Minhyun sempat menyarankan jika Nara bisa saja bertemu hanya berdua dengannya, namun gadis itu menolak Nara ingin suaminya bersamanya.

“Sehun kau tahu benar kondisi Nara. Kita akan melakukan ini secara bertahap,” kata Minhyun. Dia berdiri, menepuk bahu Sehun. “Sampai jumpa hingga kau siap Nara,” lanjuntnya tersenyum ramah pada si gadis, kemudian ia pergi meninggalkan ruang konsultasinya. Minhyun sengaja memberikan ruang bagi suami dan istri itu untuk berdamai.

Atensi Nara beralih kepada Sehun yang diam. Ia melepaskan genggaman tangannya pada jemari milik Sehun. “Kalau kau tidak mau pergi dari sini, aku pulang sendiri saja,” rajuk Nara. Ia beranjak.

Sehun mendengus mendengar ancaman Nara. Pria itu menarik tangan Nara untuk kembali duduk. Dia enggan menerima kemarahan si gadis lagi karena ia tidak ingin muncul kecanggungan di apartemen. “Maaf, Nara,” kata Sehun mengalah. Ia menghapus berkas airmata Nara. “Aku seharusnya tidak boleh terlalu egois. Kita pulang sekarang,” sambungnya, kemudian meraih tangan istrinya.

“Apa kita jadi berkunjung ke kantor utama, Sehun?” tanya si gadis pada suaminya.

Mereka duduk di kursi penumpang mobil pribadi Sehun. Kendaraan tersebut tengah melaju menembus padatnya jalanan Seoul di siang hari. Gadis itu terlihat menawan hari ini dengan mini dress selutut berwarna merah jambu. Nara tanpa ragu menyandarkan kepalanya di bahu Sehun yang tampak sibuk menekuni iPad. Walaupun Sehun terkesan tak acuh, hubungan mereka berkembang jauh lebih akrab dari sebelumnya. Hidup bersama selama satu bulan membuat mereka tidak segan untuk melakukan kontak fisik.

“Iya, ada rapat pemegang saham. Aku menjadi ahli waris perusahaan Keluarga Jung untuk mewakili dirimu,” jawab Sehun.

“Baiklah, aku hanya perlu duduk dan mendengarkan, bukan?” ujar Nara. Ia melanjutkan ucapannya ketika melihat Sehun mengangguk, “Karena aku baru saja melakukan terapi, itu membuatku sangat lelah.”

Sehun meletakkan iPad tersebut sebentar. Ia membelai puncak kepala Nara. “Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum sampai. Tidurlah dulu,” katanya pelan.

Nara memberikan senyum manis hingga sepasang lesung pipinya terlihat. Sementara saja, Nara merasa jika Sehun betul-betul miliknya dan memberikan seluruh perhatian itu tanpa syarat. Meskipun faktanya berkata sebaliknya.

Nara memejamkan mata berusaha mengenyahkan berbagai kecemasan mengenai Oh Sehun. Ia nyaman terlelap dengan disangga bahu Sehun yang lebar. Parfum khas pria itu telah menjadi aroma yang sangat familiar di indra penciumannya.

Tak berselang lama. Nara memasuki dunia mimpi.

Nara merasa janggal dengan dunia yang baru dimasukinya ini.

Nara tahu apabila bunga tidurnya berbeda saat ia mulai merasakan hempasan angin yang menerpa wajah. Ternyata dirinya berada di atap dari gedung yang sangat tinggi. Lebih menakutkan daripada itu, si gadis berada di tepi bangunan tersebut. Tubuh Nara bergerak tak sinkron akibat angin yang berhembus ke arahnya. Keadaan langit yang gelap dalam mimpi tersebut menambah ketakutan si gadis. Nara tiba-tiba merasakan nyeri pada lehernya. Ia menggapai udara kosong. Ada seseorang yang mencekiknya dari belakang. Nara semakin melawan, kemudian semuanya gelap. Nara tidak dapat bernapas.

“Nara,” lagi-lagi suara Sehun membuat Nara menemukan jalan untuk sadar dari mimpinya.

Netra Nara terbuka. Ia terengah sementara Sehun menatapnya khawatir. Nara segera memeluk pria yang berada di sampingnya. Mereka masih di mobil, bedanya kendaraan tersebut berhenti di basement parkir gedung utama The Three Clouds.

“Apa kau bermimpi buruk Nara?” tanya Sehun sembari melonggarkan dekapan si gadis. Ia mengusap peluh yang ada di kening Nara.

“Aku tidak ingin bertemu Minhyun lagi, Sehun,” bisik Nara. Ia menyentuh rahang Sehun perlahan. “Bisakah kau memberikan belas kasihan padaku? Aku tidak ingin mengingat lagi,” ucapnya pelan, ada kesedihan dalam sorot mata Nara. Gadis itu tahu, Sehun pasti enggan mengabulkan permintaannya sebab dirinya bukan prioritas sang suami.

-oOo-

a/n:

Hai terima kasih sudah membaca. Aku tunggu saran untuk part selanjutnya. Semoga sudah tidak ada typo  :”). Oh ya, kalau ada yang punya akun Wattpad bisa loh baca ceritaku di Wattpad >> twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom.

Aku mau curhat dikit. Dari kemarin aku pengen nulis sesuatu yang tokohnya Kang Daniel seraca utuh tapi masih bingung buat nama Oc yang cocok sama dia :”D. Pengennya sih kayak Daniel’s Side waktu dia berperan sebagai sepupu Sehun dalam cerita ini. Apa kalian punya ide nama?

Advertisements

310 thoughts on “Dear Husband: Dealing With You

  1. Sebenarnya Sehun punya perasaan gak sih sama Nara? Kok bener kata Nara ya kalo Sehun itu kayak manfaatin ingatan Nara buat mencari tahu soal Ahra. Sedih aja bayangin di posisi Nara 😦

  2. Makin kelo ama kelanjutannya ini ahra baik apa ga ? Kasian sumpah sedih baca nara huhuhuhu sehun juga knp jahat bngtttt :((((

  3. Ahra ni jahat ato baik sih? Entah kenapa dlm pemikiran aku ahra tuh punya rencana buat jatuhkan nara dari gedung tinggi namun takdir berkata lain, jadi yg jatuh bukan nara tapi ahra. Trus akhirnya jantung ahra di kasih ke nara karna dia mati otak tu. Just my mind…

    Sehun maksa banget sih, tampol boleh g?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s