Dear Husband: Love, Lies, and Life

20180222_130634_0001

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love YouI’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us – Dealing With You – My Eyes On You

“Kang Daniel adalah pisau bermata dua bagiku. Aku bisa mengendalikannya jika membuat Nara tetap berada di dekatku ―sebab pemuda itu terlalu naif ―dia mencintai Nara. Aku menggunakan Jung Nara untuk mengendalikan Kang Daniel.”  ―Oh Sehun

-oOo-

Daniel memutar sloki yang kini berada di tangan kanan. Pemuda itu menatap datar wine yang membentuk putaran kecil sebelum meminumnya. Serebrumnya sedang bergejolak sekarangia teramat murka dengan kabar yang baru saja didengar. Bukan hanya sekali, dia berhadapan pada amarah yang seharusnya tak menghinggapi pikiran sebab sang gadispusat dari pikirannyasudah menjadi milik orang lain.

Daniel cukup sering berandai-andai apabila Nara berada di sisinya, maka ia akan menjauhkan semua hal yang dapat menyakiti gadis itu. Sayangnya, wanita yang mengambil hatinya tersebut justru memilih laki-laki lainyang justru menjadi perusak kebahagiaan Nara. Daniel tak habis pikir, neuron dalam otaknya pun berusaha menelaah kejanggalan hubungan antara Nara serta Sehun yang saling mencintai tapi di sisi lain mereka juga menyakiti satu sama lain. Daniel berusaha menjembatani kedua insan tersebut. Dia kerap berperan sebagai mediator atau penyelesai masalah mereka, mengesampingkan kecemburuan yang sering mengikis logikanya. Daniel melakukan hal tersebut agar Nara bahagia.

“Kau berpikir terlalu banyak,” vokal wanita muda yang tengah menemani Daniel minum. Wanita itu mengenakan gaun pendek berpotongan ketat. Surainya tergerai berwarna cokelat madu dan ia memoles paras dengan teramat cantik.

Daniel yang sedari tadi menatap lantai dansa The A Club enggan mengacuhkan suara si wanita. Ia tetap memandangi dari kejauhan Sehun dan Nara yang mulai menuruni tangga. Tadinya dirinya hanya ingin bersenang-senang sebab benaknya akhir-akhir ini terlalu fokus pada Nara. Dia beranggapan bahwa hasrat memiliki si gadis akan musnah jika ia bermain dengan wanita lain. Argumennya tersebut terbantahkan karena pria tersebut justru tidak dapat menikmati malamnya karena Daniel tak sengaja melihat pasangan itu. Mereka mendapatkan seluruh atensi Daniel.

“Apa yang kau lihat di sini, Daniel?” tanya wanita tersebut, akhirnya berdiri. Ia bergelayut manja di lengan Daniel. Kepalanya disandarkan pada bahu si pemuda. “Apa wanita itu sangat menarik?” ia berucap kembali setelah diabaikan.

Daniel menghela napas. Sedari tadi netranya hanya tertuju pada Nara, tentu saja sangat mudah ditebak. “Iya, dia menarik.”

Si wanita mengamati lebih dalam. “Well, dia rupawan, tapi aku rasa gadis itu kurang memoles kecantikannya.” Wanita tersebut menyipitkan mata. “Bukankah itu, Oh Sehunpemilik The Three Clouds? Jangan-jangan kabar bahwa Sehun telah menikah benar.”

Daniel diam. Ia enggan mendengarkan ocehan wanita yang baru tadi sore ditariknya ke ruangan ini. Alisnya mulai bertaut ketika Sehun meninggalkan Nara sendirian. “Shit,” umpat Daniel. Pemuda itu bergegas meletakkan slokinya di nakas terdekat.

Daniel menghempaskan tangan wanita yang tadi bersamanya. Ia pergi keluar meninggalkan wanita tersebut tanpa memberikan penjelasan. Daniel buru-buru turun ke lantai satu, saat ia melihat Nara mulai berbincang dengan bartender. Kakinya melaju lebih cepat. Belum sempat ia meraih Nara, gadis tersebut sudah berjalan pergilangkahnya gontai.

Daniel terlambat, Nara terlanjur terkena masalah. Kejadian itu bagaikan cuplikan film yang diputar dengan cepat. Si gadis telah tersungkur di lantai. Daniel naik pitam melihat Nara jatuh. Belum sempat Daniel mendekat, ia mendapati Sehun datang dan langsung menghantam laki-laki yang melukai Nara tadi.

Daniel meraih tengkuk Nara yang pingsan. Ia merengkuh kepala si gadis dengan tangannya. “Nara, Jung Nara!” panggil Daniel. Ia panik saat napas Nara mulai terputus-putus. “Hyung!” Panggil Daniel pada sepupunya yang masih menghajar orang tersebut. “Hentikan, Nara tidak sadarkan diri,” lanjut Daniel berteriak berusaha mengalahkan musik yang keras.

Kondisi The A Club secara langsung berubah kacau.

Sehun menghentikan perkelahiannya. Ia menatap Daniel tajam. Pria tersebut menggendong Nara. “Jung Nara kumohon, bangunlah,” bisiknya.

Daniel hanya bisa mengikuti mereka dari belakang. Dia tak memiliki hak untuk murka, namun sekali lagi pikirannya mengkhianati.

Daniel melihat Sehun kacau. Pertama kalinya selama ia mengenal sepupunya.

Sehun duduk di ruang tunggu instalasi gawat darurat, sedari tadi wajahnya hanya menunduk, surainya berantakan, dan ada noda darah di kemeja. Daniel sebenarnya enggan peduli dengan kondisi si sepupu. Ia hanya duduk di samping Sehun sembari mengendalikan diri untuk tak membuat onar.

“Ada sesuatu yang memicu ingatannya sehingga ia terkena serangan jantung,” ucap Sehun. Ia kini menatap Daniel dengan tatapan menderita. “Cari tahu apa yang terjadi. Bawa George ke hadapanku karena dia yang terakhir kali bersama Nara,” lanjutnya.

Lantaran beranjak, Daniel tetap membeku di tempat. “Aku tak ingin lagi ikut campur tentang semua hal mengenai Nara yang berkaitan juga dengan Ahra. Aku tidak bisa lagi melihat Nara tak berdaya seperti tadi. Asal kau tahu pasti mereka membicarakan mengenai Ahra karena sesuatu yang dapat membuat Nara emosional hanya saudari perempuannya,” jawab Daniel. Ia menghela napas. “Selesaikan dulu masalahmu di kantor polisi, Hyung. Tindak penganiyayaan akan membuat saham kita turun dan foto Nara yang pingsan bisa menyebar

Aku tidak dapat meninggalkan Nara sendirian,” potong Sehun datar.

Daniel mendengus. “Orangku bilang George akan segera kabur ke luar negeri. Apa kau yakin tak ingin pergi dari sini dan kehilangan bukti utama?” ujar Daniel, ia menyeringai.

Sehun meraup wajah. Kegundahan itu semakin membuatnya buntu. Ia tak menyangka apabila bartender tersebut memegang satu-satunya kunci. Setelah berpikir beberapa kemungkinan yang dapat terjadi, akhirnya Sehun memutuskan angkat kaki dari ruangan tersebut.

Sudah hari ke lima Daniel berada di ruangan inap Nara. Ia tak ingin beranjak sedikit pun dari gadis yang kini terbaring di ranjang rumah sakit. Orang-orang seperti Chanyeol, Liv, dan teman-teman Nara bergantian berkunjung. Bahkan dia sempat menginap bersama Chanyeol selama tiga hari di ruangan tersebut. Daniel mengabaikan kenyataan jika Sehun tak pernah menginjakkan kaki ke sana. Sehun hilang tanpa kabar. Daniel enggan lagi menggunakan kuasanya untuk mencari informasi sedikit pun mengenai sepupunya. Pemuda itu hanya fokus pada kesembuhan Nara.

“Daniel,” suara lemah terdengar mengisi kekosongan dalam ruangan VIP itu.

Daniel sebagai pemilik nama pun langsung menegakkan tubuh. Ia tadi baru akan memejamkan mata sejenak karena semalam tak dapat tidur. “Noona, kau sadar,” balas pria itu senang, kemudian menekan tombol di samping tempat tidur Nara untuk memanggil dokter.

“Di mana Sehun?” tanya Nara.

Daniel terdiam. Ia telah membuat prediksihal yang pertama kali ditanyakan oleh Nara pasti Sehun. Kendati demikian, mulutnya tetap saja belum siap memberikan jawaban.

Waktu ternyata berpihak pada Daniel sebab dokter masukmenghentikan perbincangan. Daniel memersilahkan dokter memeriksa Nara. Ia mengangguk ketika dokter menyatakan keadaan Nara mulai membaikwalaupun mereka masih perlu beberapa tes untuk memastikan.

“Apa Sehun pergi?” Nara mengulang pertanyaannya setelah dokter tersebut keluar dari kamar.

Daniel menghela napas. “Dia akan datang sebentar lagi

Kau berbohong, pasti dia mengejar bartender itu,” potong Nara. Ia menyengkram lengan Daniel. “Jangan berusaha membohongiku karena aku tak punya siapa pun selain dirimu yang bisa kupercaya,” lanjutnya.

Daniel mengangguk, ia menyetujui agar gadis itu lekas istirahat dan berhenti memikirkan Sehun. “Noona, baru saja sadar. Istirahatlah dulu,” ucapnya sembari melepas cengkraman Nara dengan lembut.

Nara menatap Daniel lamat. “Kang Daniel, jika nanti aku sangat lelah dengan semua inibisakah kau membawaku pergi jauh hingga semua orang tak dapat lagi mencariku?” tanya Nara sebelum gadis itu mulai menutup matan.

Daniel terhentak. Ia membelai surai Nara penuh sayang. “Aku akan melakukan apapun yang kau minta,” jawabnya pelan.

“Rentang waktu Nara pingsan ketika serangan jantung bertambah. Biasanya itu tak lebih dari tiga hari.” Daniel memulai pembicaraan dengan Chanyeol. Mereka berada di bangku tepat depan kamar inap Nara ketika dokter memeriksa si gadis.

Chanyeol bersandar pada bangku panjang. Ia memijat pelipis. “Iya, kondisinya semakin buruk. Operasi yang dilakukannya empat belas tahun lalu seakan sia-sia,” timpal Chanyeol.

“Apa yang harus kita lakukan, Hyung?” tanya Daniel, nada putus asa terdengar dalam suara baritonnya.

“Menghentikan Sehun membuat Nara terus mengingat kenangan yang dulu dia lupakan,” jawabnya. Ia menatap Daniel. “Mungkin kau satu-satunya orang yang memiliki kekuasaan itu. The Three Clouds memanfaatkan kemampuan Keluarga Kang untuk menjadi intelijen internal. Kau adalah sumber informasi bagi Sehun.”

Daniel menunduk. “Aku bisa menutup akses Sehun pada Nara. Tapi, jika gadis itu tetap berusaha menemuinyaitu akan percuma. Aku akan membantunya, apabila Nara sudah benar-benar siap pergi dari kehidupan Sehun,” timpal Daniel.

“Nara terlanjur jatuh cinta pada Sehun,” gumam Chanyeol kecewa. Ia memberikan jeda sejenak. “Kau tahu di mana Sehun sekarang?” tanya Chanyeol.

“TokyoSehun hyung berusaha menemukan George dan juga catatan kesehatan Ahra yang asli,” jawab Daniel. Ia menyeringai sebentar. “Aku tahu keluarga kalian menyembunyikan sesuatu. Orangku berusaha mencari hasil visum jasad Ahra. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh keluarga kalian,” lanjutnya.

Raut Chanyeol menegang. Ia mengepalkan tangan erat untuk menahan emosi. Ia menyadari bahwa lawan bicaranya ini tak jauh lebih licik dari Sehun. “Keluarga Jung tak menyetujui permintaan visum itu,” elaknya.

“Kenapa?” tandas Daniel. “Kalian menghapus seluruh catatan mengenai Ahra dan memalsukannya. Satu-satunya yang masih tersisa mengenai kematian Ahra adalah ingatan Nara dan ibunya. Jangan lupa hyung, aku ahli dalam bidang ini,” lanjutnya datar.

“Kang Daniel, apa yang kau inginkan?” intonasi Chanyeol mengancam.

Daniel tersenyum, kali ini tarikan bibirnya berbeda. “Kenapa kau begitu ketakutan?” Ia berdiri menepuk bahu Chanyeol. “Aku selama ini tidak menaruh kecurigaan padamu, tapi melihatmu begitu menyayangi Narahmmsiapa yang lebih kau sayangiNara atau Ahra?” ucapnya lagi, kemudian pergi meninggalkan Chanyeol.

“Kau baru mengobrol dengan Chanyeol, ya?” tanya Nara ketika Daniel masuk ke ruang inap.

Daniel mengangguk. Dia tersenyum lembut pada Nara. “Kau jauh lebih sehat dari sebelumnya, Noona.”

“Terima kasih sudah menjagaku,” balasnya. Nara memberikan isyarat pada Daniel agar pemuda tersebut duduk di kursi tepat samping ranjang Nara. “Bagaimana kabar Rooney dan Peter?” tanya Nara kemudian mengusap lengan Daniel.

“Mereka baik dan merindukanmu,” balasnya singkat. “Kau menanyakan kabar kucingku tapi kau sendiri sakit, Noona.”

“Aku baik-baik saja,” celetuk Nara. Ia menekan diafragmanya. “Aku hanya pingsan karena serangan jantung

Kenangan apa yang kau lihat?” potong Daniel. Ia menambahkan sebelum Nara sempat menjawab, “kau ingat perjanjian kita untuk saling jujur kan?

Nara tersenyum, ia mencoba tegar. Dia memerhatikan pria yang kini masih mengenakan kemeja dan celana kain hitam. “Tentang Ahra. Aku seharusnya enggan memercayai bartender itu, namun kenangan itu seolah menghantamku, Daniel. Aku tak dapat mengendalikan tubuh dan pikiran, menyesakkan sekali.”

“Kau tak mengatakannya pada Sehun hyung,” sergah pria itu.

Nara menggeleng. “Aku tak ingin Sehun terluka. Dia begitu mencintai saudariku.”

“Lalu, bagaimana denganmu? Kau juga tak harus terluka,” timpal Daniel.

“Bukankah kau yang bilang padaku apabila mencintai seseorang itu memang butuh pengorbanan,” Nara mengoarkan argumen.

Sementara Daniel menghembuskan napas. “Kau tahu Noona, melihat orang yang kau cintai menderita memang menyakitkan. Kau bahkan tidak tahu, jika dirimu sangat penting bagiku.”

Nara tersenyum. Ia menyentuh rahang Daniel, kemudian mengusapnya. “Terima kasih sudah menyukaiku terlalu banyak, Kang Daniel. Aku mohon bantu Sehun menemukan jawabannya.”

Daniel berada di ruang kerjanya untuk pertama kali dalam satu bulan ini. Pria bersurai cokelat tersebut akhirnya meninggalkan ruang inap Nara atas permintaan si gadisDaniel akan membantu Sehun. Pria itu mendapatkan dokumen yang dicari Sehun, tentu saja menggunakan uang yang tak sedikit dan koneksi. Ia sengaja membacanya cermat di ruangan tersebut sebab ia belum tahu respon jantung Nara atas hasil visum dan catatan kesehatan Ahra.

Apabila ada pertanyaan, mengapa Sehun baru berminat pada dokumen tersebut setelah empat belas tahun kematian Ahra?

Daniel dapat memperkirakan jawabannya, Sehun tak curiga atas riwayat kesehatan Ahra yang dipalsukan oleh keluarga si gadis. Sehun selama ini mengira bahwa kematian Ahra hanya karena kecelakaan itu. Kendati demikian, Daniel menemukan fakta lain.

Daniel membaca beberapa kali deretan huruf yang berjajar di sana. Ia mengernyitkan alis ketika melihat kondisi terakhir Ahra dinyatakan hamil. Anehnya, mati otak yang diderita Ahra disebabkan oleh pendarahan hebat pada kandungannya, bukan hanya karena kecelakaan itu.

“Ahra mengandung,” bibir Daniel berucap pelan. “Tidak hanya kecelakaan itu yang membuat Ahra koma,” lanjutnya. Daniel memijat pelipis. Ia benar-benar sakit kepala.

Serebrumnya mulai tercetus beberapa pertanyaan:

Pertama, apa bayi itu anak Sehun? Kalau benar, kenapa Ahra tak pernah mengungkapkannya?

Kedua, kenapa keluarga Jung dan Park menutupi penyebab kematian Ahra? Apa karena Ahra hamil? Kalau janin itu hasil perbuatan sepupunya, tentunya mereka tak akan berusaha menyembunyikan.

Pertanyaan pertama terjawab, batin Daniel. “Ahra mengandung karena pria lain,” kata Daniel.

Ketiga, apa hubungan antara bartender tersebut dengan Ahra? Padahal, informasi yang didapatkan Daniel, Ahra bukan tipe gadis yang mengunjungi klub malam. Nara juga terkena serangan jantung karena ucapan si barista. Berarti dia mendengarkan sesuatu yang fatal.

Daniel menghela napas kasar. Dia tak dapat menemui bartender yang kini menjadi objek observasi Sehun. Sepupunya akan curiga. Daniel tak ingin Sehun membaca dokumen yang dipegangnya karena hubungan Keluarga Oh dan Jung akan memburuk dan itu menyakiti Nara. Daniel harus berhati-hati.

Suara telepon kantornya berdering, menghentikan pikirannya. Sekretaris Daniel bicara jika ada seseorang yang ingin bertemu. Dia mengatakan persetujuannya untuk bertemu orang itu.

“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Daniel pada pria yang dimintanya menyelidik The A Club secara keseluruhan.

Pria yang memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter, kulitnya putih, dan usianya awal dua puluhan pun tersenyum. “Sabar, hyung. Kita bicara pelan-pelan.” Pemuda itu duduk di kursi yang tepat berada di depan meja kerja Daniel.

“Lai Guanlin, aku sedang tidak ingin bercanda,” timpal Daniel malas.

“Aku menemukan beberapa hal menarik di sini. Aku menemui beberapa bartender lama yang sudah resign dari klub itu. Yang menjadi kecurigaanku adalah lima bartender keluar dalam minggu yang sama. Kami mengobrol sebentar

―Hanya mengobrol?” potong Daniel, ia tertawa kecut.

“Dengan beberapa kekerasan fisiktenang hyung aku sudah membereskan semuanya, hanya luka ringan. Polisi tak akan mendengar laporan apapun.” Gualin berhenti sejenak untuk mengambil napas. “George sempat keluar, namun ia kembali lagi karena istrinya meninggal dan dia sempat depresi. Menurut teman-temannya, kematian istrinya sangat tak wajar, namun detektif yang diminta menyelidiki kasus ini menyatakan istri George bunuh diri. Bukankah kau sudah menebaknya? Siapa yang bisa memanipulasi bukti?” pancing Guanlin, dia tampak antusias.

Daniel menjawab serius, “Keluarga Park.”

“Benar,” balas pemuda itu. “Dugaanku ada yang berusaha disembunyikan. Berlainan dengan George, kelima bartender yang mengundurkan diri tersebut sama sekali tak menerima ancaman apa pun. Well, awalnya mereka enggan mengakuternyata menerima uang dari seseorang. Aku belum mendapatkan salinan atau pun informasi mengenai si pemilik rekening, butuh waktu dua minggu untuk melacak.”

“Lalu, apa alasan mereka mendapatkan uang dan keluar?” tanya Daniel lagi.

“Mereka tak tahu alasannya. Mereka hanya bercerita, jika ada seseorang yang menanyai ‘apakah kau mengenal Ahra?’ dan menyebutkan ciri-cirinya.” Alis Guanlin terangkat satu. “Kelima bartender tersebut tak tahu nama gadis itu, tapi mereka sadar apabila si gadis datang ke The A Club hampir setiap hari, selama satu bulantepatnya sebulan sebelum keberangkatannya ke Tokyo. Pria-pria itu ingat kepada Ahra karena kecantikannya. George berbeda, dia mengenali Ahra sebagai

Pewaris Keluarga Jung,” tambah Daniel. “Maka dari itu, George medapatkan itu karena mengenali identitas Ahra atau dia akan melanggar kesepakatan untuk tutup mulut.”

Guanlin menatap saudara tirinya tersebut. “Lebih masuk akal pilihan kedua, dia melanggar kesepakatan sebab beberapa hari sebelum kematian istrinyaGeorge bertemu Sehun Hyung.”

Daniel mengernyitkan dahi. Benaknya bicara, apa Sehun tahu jika Ahra hamil? Kenapa dia tak mengambil tindakan?

“Apa kau mendapatkan informasi lain?” tanya Daniel.

Guanlin mengangguk. “Timku masih menelusuri rekaman CCTV yang ada di The A Club. Mereka menyelidiki beberapa kejadian sebelum kematian Ahra.”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan?”

“Satu bulan,” jawab Guanlin yakin. Pemuda itu menunjuk dokumen yang berada di atas meja saudaranya. “Aku sudah membacanya. Apa kau ingin tahu dugaanku, Hyung? Aku tak pernah meleset.”

Daniel bersandar pada kursi kerja. Ia melipat tangan, tatapannya was-was. Adik tirinya ini memang jeniusia bahkan sempat takjub dengan beberapa ramalan yang dia rakit berdasarkan fakta.

Si cerdas pun kembali membuka mulut. “Seseorang yang membuat gadis itu hamil pasti orang terdekat yang berada di sekitarnya. Seseorang yang tak terduga, sehingga ia terlalu terkejut untuk mengatakannya kepada publik. Laki-laki yang penting baik bagi Sehun, Ahra, dan Chanyeol,” tutup Gualin, tanpa lupa memberikan seringaian.

Tokyo, 09.00 PM

“Adik sepupumu itu sangat membahayakan, Sehun,” vokal lawan bicaranya.

Sehun menjetikkan api pada rokonya. Pria berusia pertengahan tiga puluhan tersebut merokok ketika pikirannya sedang gundah. Masalah begitu banyak dalam serebrumnya, ia tak dapat berkonsentrasi sama sekali sebab alam bawah sadarnya terfokus pada kenyataan bahwa Nara masih berada di rumah sakit. Sementara dirinya hanya dapat mengawasi dari jauh keadaan istrinya tersebut. Sebulan lamanya Sehun menghabiskan waktu di Tokyo mencari sesuatu, tapi hasilnya nihil.

“Dia pasti telah mengetahui jika Ahra mengandung. Percuma kita menutupinya selama ini. Aku seharusnya membunuh George, tapi orang itu justru melenyapkan istrinya,” ujar si pria berpakaian serba hitam tersebut. Pria yang duduk di hadapan Sehun itu sengaja menemui pioner utama The Three Clouds yang berada di Tokyo untuk berdiskusi.

Sehun menatap tajam sahabat karibnya. “Kita masih membutuhkannya untuk tahu siapa yang memerkosa Ahra.” Pria itu mendengus. Pikirannya tertuju karena kesalahannya di masa lalu. Andai saja, ia tak berusaha menutupi semuanya karena takut perusahaannya akan goyah akibat isu pemerkosaan Ahradia pasti telah menemukan pelakunya. Kendati demikian, pelaku itu ternyata memiliki kemampuan untuk berkelit. Dia mempunyai kekuasaan setara atau lebih besar darinya.

Sehun mengusap paras. “Aku mengejar George sampai ke Tokyo, namun dia menghilang begitu saja, sial.” Sehun kembali meminum wine. “Aku juga sudah mengorbankan Nara untuk menjadi umpan kemunculan George,” lanjutnya datar.

Si pria lain tersebut menarik ujung bibirnya membentuk senyum dingin. “Kau harus kembali ke Seoul dan mendapatkan kepercayaan adikku lagi. Kita masih membutuhkan ingatan Narameskipun kita tahu upaya Ahra untuk membunuh Nara disebabkan karena depresinya. Aku tidak ingin Nara memberitahukan semua yang dia ingat pada Kang Daniel

Jangan khawatir, Daniel akan tetap diam. Dia tak akan berani mengungkapkan semuanya pada publik karena itu akan menyakiti Nara. Salah satu kelemahan Daniel.” Sehun meletakkan rokoknya. Ia meminum wine dalam gelas kristal yang tersuguh pada kamar hotel. “Aku akan melenyapkannya jika dia berani merusak nama baik Ahra,” imbuh Sehun dingin.

-oOo-

Ini daily activities-nya Kang Daniel. Aku fokus ke pemecahan masalah mereka jadi, si kesayangan kita semuaSehun tidak banyak dimunculkan dulu. Sehun masih sibuk nyari ikan di laut huhuhu.

Oh ya, boleh ya cek akun Wattpad ku usernamenya twelveblossom atau wattpad.com/twelveblossom 

Selain itu kalian juga bisa add Line@ twelveblossom tinggal search id >> @NYC8880L (menggunakan @)

Advertisements

234 comments

  1. Suka banget sama ff ini dapat banget feelnya … chanyeol gk jahat kan ? Jgn sampe deh nanti aku kezl sendiri sama biasku.

  2. Kok semua pada tega ya. Btw disini lumayan rumit otakku mencernaa hahaha otak sesendok mah gini. Sekarang aku kok jadi mendukung Daniel,tinggal dia yang waras keknya……

  3. Kok gue jd kzlll ya sama peran sehun disini..
    Maksudnya tuh sebenernyaa tuh gimanaaaaa ,,, gue jdi penasarann gilaa aslinya itu gimanaa
    Kok ada kasus ahra diperkosa? Bukannya td george blg dia ke klub sma cowo gitu ,sape tau ahra lebih cinta sma cowo itu ..
    Yah pkiran gue kemana mana deh

  4. Entah kenapa ak nangkep dr cerita ini kalau sehun hanya memanfaatkan nara dia tdk ingin nama baik ahra tercoreng…

    So sehun sedikirn brengsek

  5. Itu PCY yg ngobrol sama sehun ? Atau sebenarnya ahra&nara punya kakak lain yg brmarga jung… Tambah penasaran….

  6. Apaaaaaaa???,sehun dan canyeol mereka berdua???astagaaa penuh dengan orang bermuka dua,harapan aku cuma daniel.

  7. Yg lagi ngobrol sama sehun chanyeol bukan sih?
    Trus itu yg memperkosa ahra orang yg bagi chan sehun dan ahra? Sape yeee
    Dan aku sempat ngira masa chanyeol secara dia kayak gak suka liat anak kecil dan bikin liv gak berani bilang kalo dia hamil
    Hmmm semakn penasaran

  8. baca pelan2 biar ngerti serius sih konflik seru abis ga ngerti lg aku shock ada lai guanlin wkkwkwkw bahagiaaaa yaaaa sehun nara walaupun ksl am sehun -_-

  9. Sehun, sehun, sehun kau sungguh tega

    Aku tdk tau sp yg jahat ahra ato sehun dn komplotannya…

    Daniel, saranghae. Neomu, neomu saranghae

  10. Suka banget sama ff ini, anti mainstream alurnya, susah di tebak. Bagus banget 😄😄semangat nulisnya thor,semoga happy ending ceritanya😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s