Dear Husband: It’s Too Late To Realize

20180222_130634_0001

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love You – I’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us – Dealing With You – My Eyes On You – Love, Lies, and Life – Hold Back The Tears – Heart Of Darkness

“When I looked at you in my dreams that have only cold memories. Painful memories in your tears. Pull me in my dream.” ―Lucid Dream, Monogram

-oOo-

Sehun menjaga Nara yang kini tengah tertidur di ranjang. Pria itu telah duduk di samping Nara hampir satu jam, menekuni paras rupawan istrinya yang tampak pucat. Sesekali jari-jari Sehun menghapus keringat pada kening gadis yang dicintainya tersebut.

Sehun tahu apabila Nara sedang berada di alam mimpi. Entah adegan apa yang sedang dijalani si gadis, selama itu tak membuat Nara terengahSehun membiarkannya.

Sehun terdiam, dia memutar kembali memorinya tentang kegiatan yang mereka jalani selama beberapa hari berada di Tokyo.

Mereka sampai di Tokyo pada malam hari. Minhyun membuat Nara sadar tepat setelah pesawat mendarat. Nara menjalani berbagai pemeriksaan sebelum memulai sesi hipnoterapinya. Suami si gadis langsung membawa Nara ke rumah sakit tempat di mana ia sempat menjalani perawatan. Hasilnya nihil, bahkan Nara sangat tenang ketika berada di sana.

Pada hari berikutnya Minhyun sempat mengira bahwa rencana mereka gagal. Lantas dokter itu memutuskan agar Nara beristirahat terlebih dahulu sebab Nara tetap bungkam mengenai bayangan-bayangan yang dilihatnya ketika tertidur di rumah sakit. Sehun memutuskan untuk mengajak Nara tinggal di salah satu hotel miliknya yang berdekatan dengan rumah Han Haera. Berharap bahwa sang istri jauh lebih terbuka.

Minhyun pun mengatakan, ingatan Nara mungkin akan kembali jika si gadis merasa sangat terancam atau nyaman. Dokter itu pun juga mengingatkan agar Sehun selalu berada di sisi sang istri agar dapat memantau keadaan Nara. Jadi, Oh Sehun di sini sekarang. Ia mengikuti ke mana pun gadisnya pergi.

Hingga Nara mulai terbangun, pria itu tetap berada di sana. Dia tersenyum simpul mengamati netra si gadis yang menggelepar terbuka. Sehun siap mengambilkan gelas yang berisi air, kemudian membantu Nara duduk bersandar di kepala ranjang.

“Apa kau bosan menungguku tidur, Sehun?” tanya Nara pelan setelah nyawanya benar-benar terkumpul.

Sehun menggeleng. “Ekspresimu lucu saat tidur. Aku seperti melihat film komedi,” celetuknya. Ia membelai puncak kepala Nara ketika si gadis beringsut di pelukannya.

Nara menyembunyikan wajah di dada Sehun yang bidang. Ia tidak menimpali gurauan Sehun. Gadis itu hanya ingin melupakan sejenak hal yang baru saja terlewat pada mimpinya. Ia ditampar oleh fakta yang menyatakan bahwa Ahra bukanlah saudara kandungnya. Nara hilang akal karena itu.

Sehun mengeratkan dekapannya pada Nara, mencoba untuk memberikan kekuatan pada istrinya. “Semua akan baik-baik saja, Nara. Kita hampir menyelesaikan ini. Kau hanya perlu menceritakan semua hal yang baru saja ada di mimpimu padaku,” hiburnya.

Nara menggeleng. Ia melepaskan diri dari kungkungan prianya. Gaun tidur Nara bergerak ringan ketika si gadis memosisikan tubuh sedemikian rupa, sehingga paras mereka dapat berhadapan. “Usiaku masih delapan tahun saat itu, tapi aku terlalu banyak mengetahui sesuatu yang harusnya tersimpan,” gumam Nara. Ia menyentuh rahang suaminya. “Apa kau dapat memercayai yang kukatakan mengenai kakakku, Sehun?” tanyanya.

Sehun memandang pupil cokelat Nara. Ia sering tenggelam dalam tatapan istrinya, mungkin untuk kesekian kalinya netra itu membuat isi kepala Sehun berdebat. Sehun belum dapat memilih, ia memutuskan untuk bungkam.

“Apakah bisa kau menyelidiki satu hal untukku Sehun?” Nara mengganti pertanyaannya.

Sehun mengangguk.

“Siapa ibu kandung Jung Ahra?”

Sehun menautkan alis. “Tentu saja Han Haera

Nara tertawa kecut. “Bahkan ibuku dapat menyembunyikan kebenaran ini darimu. Jung Ahra adalah putri ayahku dari wanita lain. Aku tahu kenyataan ini akan semakin membuatmu bersimpati pada Ahra. Satu hal lagi, apa kau tak pernah curiga sedikit pundulu sewaktu aku dirawat di sini ….” Nara menggangtungkan ucapannya. Ia menarik napas panjang. “Ahra selalu berkunjung menemuiku ketika Appamaksudku Tuan Park, memang dijadwalkan kemari di tengah kesibukannya. Aku mulai mengingat bagaimana obat tidur itu disuntikkan ke cairan infusku. Aku terlalu lemah untuk membuka mata, tapi diriku mendengar semuanya.”

“Nara,” panggil Sehun menyela. Sehun bukan pria tolol yang tak tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Kau hanya dipengaruhi oleh halusinasimu,” Sehun mengingatkan.

“Daniel pernah berucap padaku, jika kehamilan Ahra ditutupi oleh orang yang lebih berkuasa apabila dibandingan dengan dirimu atau Chanyeol. Jika Ahra memang mengandung karena dipaksa tidur dengan pria di klub ituseharusnya usia kandungannya baru satu atau dua bulan dari

Hentikan Jung Nara, jangan bodoh! Mana mungkin Ahra melakukan hal yang dapat menyakiti ibumu?” gertak Sehun.

Kendati demikian si gadis tetap melanjutkan. “Mereka … mereka … melakukannya ketika ibu … ibuku tidak ada,” Nara berucap terbata-bata. “Nara berperilaku demikian karena dia ingin menyakiti ibu. Ia beranggapan jika ibu lebih menyayangiku.”

Sehun tertawa dingin. “Lebih menyayangimu? Ibumu, Chanyeol, dan aku hanya memikirkan Ahra selama empat belas tahun ini Jung Nara

Dia berusaha membunuhku Sehun. Kenapa kau masih membelanya?” teriak Nara.

Potongan adegan yang sempat Nara lupakan seolah hadir silih berganti sebagai potongan film yang mengerikan. Nara menarik surainya karena berharap semua yang telah ia lihat dan dengar sirna begitu saja dari otaknya. Ia merasa jijik terhadap mereka.

Sehun membuang muka. Dia tidak ingin mendengar seluruh fakta itu. Ia tentu saja tidak percaya jika gadis yang dulu sempat memenuhi serebrumnya, tidur bersama si ayah tiri dengan suka rela. Jauh dalam hatinya Sehun perihatin pada Nara. Semua kepingan itu membuat istrinya semakin terluka. Sehun tahu apabila Nara juga menyayangi Ahra sama besarnya dengan dirinya. Gadis itu terluka lebih dalam karena seseorang yang dia sayangi mengkhianati.

“Ahra mengajakku ke atap gedung karena aku terbangun ketika mereka … aku … hampir jatuh kalau saja ibu tidak ….“ Napas Nara terputus-putus. Ia memegangi dadanya yang nyeri. Mata Nara terpejam karena rasa sakit yang diakibatkan jantungnya.

Nara mengulurkan tangan menggapai suaminya. “Aku mohon, Sehun,” bisik Nara.

Sehun menemukan pijakan ketika secara nyata menyaksikan Nara kesakitan. Ia berusaha mengontrol emosinya. Raga pria itu bergerak cepat menuju Nara, seolah kemarahannya tadi meluap begitu saja.

Sehun memeluk Nara, ia lebih memilih menenangkan gadisnya daripada mendengarkan semua omong kosong yang terjadi empat belas tahun lalu. Hati pria itu teriris ketika mulai mendengar sedu istrinya. Dia memang dihadapkan oleh kenyataan jika Ahra sepenuhnya berdusta mengenai rasa cintanya. Namun, kenyataan apabila Nara terluka sekarang lebih membuat dirinya kesakitan.

Tangan Sehun beranjak menggenggam jemari Nara agar si gadis tak lagi menjabak surainya sendiri dan menyakiti raganya yang rapuh.

“Jangan mengatakan hal ini pada orang lain, ibumu akan sangat tersiksa mendengarnya

Ibuku sudah mengetahui semuanya. Dia mengatai Ahra sebagai gadis jalang.” Gadis itu berusaha bicara walaupun kondisinya lemah. “Dulu ketika awal terapi itu, aku melihat ibuku murka padanya dan … Ahra berusaha membunuhku.”

Nara melepaskan pelukan Sehun dengan kasar. Gadis itu tiba-tiba menjerit. Ia seperti gadis yang kehilangan kewarasannya. “Ahra tidak benar-benar menyayangiku. Ibuku meninggalkanku karena aku sakit.” Gadis itu menyampar gelas kristal yang berada di nakas. “Tidak ada yang menyanyangiku di dunia ini, semua orang membuangku,” seru Nara.

Sehun bergegas meraih istrinya yang terkena dampak dari keseluruhan terapi kejiwaan itu. Nara depresi, Sehun yakin akan hal tersebut.

Nara meraih pecahan kaca gelas. Ia menggores nadinya dengan benda tajam tersebut. “Aku … aku sudah tidak ingin hidup lagi,” teriak Nara sebelum ia mulai jatuh karena rasa nyeri pada jantungnya.

Sehun menangkap tubuh Nara yang pingsan. Pria itu menepuk pipi Nara berusaha menyadarkan si gadis. “Jung Nara, bangun! Jung Nara!” panggilannya tak pernah dijawab ketika itu.

Daniel sangat murka dengan kabar yang baru saja didengarnya. Sehun membawa Nara ke Tokyo, entah bagaiamana gadis itu koma sekarang. Pria itu sungguh tak habis pikir mengenai tindakan Sehun yang diklaimnya mengabaikan tanggungjawab.

Daniel tak dapat mengendalikan dirinya lagi saat ia sampai di depan ruang ICU. Daniel melihat Sehun tengah bicara dengan Chanyeol. Tanpa berpikir panjang Daniel menyengkram kerah kemeja Sehun kemudian memukulnya hingga sepupunya terpelanting jatuh ke lantai.

Daniel menarik Sehun lagi agar berdiri. “Bagaiaman bisa kau menyakiti Nara, Hyung?” Daniel terkejut karena Sehun enggan memberikan perlawanan sedikit pun. “Bagaimana jika Nara meninggal? Apa kau bisa hidup tanpa dirinya, Oh Sehun!” bentak Kang Daniel.

Chanyeol memisah mereka. Kakak tiri Nara itu pun menghempaskan tangan Daniel yang berada di kerah Sehun.

Daniel hendak menyerang lagi, tapi langkahnya berhenti ketika tangan Sehun bergetar.

Sehun memerlihatkan kemejanya yang dipenuhi darah. “Dia menyakiti dirinya sendiri karena diriku. Aku tidak bisa kehilangan Nara,” bisiknya. Sehun terduduk, pria itu memalingkan muka karena ada buliran air yang terjatuh dari matanya.

Pertama kalinya sejak dewasa Sehun meneteskan airmata, bahkan ketika Ahra meninggal pun Sehun enggan menangis.

Ini terlampau menyakitinya.

“Apa kau bisa mengunjungi Ahra, Ibu?” tanya Chanyeol kepada Han Haeraibu kandung Nara yang telah menikah dengan ayahnya. Chanyeol mengimbuhkan saat tidak mendapatkan jawaban dari wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. “Nara tidak sadarkan diri lagi. Dokter mengatakan Nara koma, adikku bisa mati otak.”

Han Haera yang awalnya enggan bersimpati pun, ekspresinya berubah menjadi marah. “Aku sudah memohon padamu untuk menjaga Nara,” ucapnya datar. Ia menatap mata Chanyeol tajam. “Apa semua ini karena Ahra?”

Chanyeol meraup wajah, ia tak dapat menyembunyikan duka. “Nara berusaha bunuh diri. Dia merasa tidak ada yang mencintainya

Apa suaminya memerlakukan putriku dengan buruk?” potong Haera sendu. Wanita anggun itu pun bermuram durja. Ia mengatur napas agar dapat menenangkan diri. “Tolong katakan pada Sehun, Nara bukan pengganti Ahra, Park Chanyeol. Nara adalah pewaris asli Keluarga Jung. Gadis yang seharusnya dijodohkan dengan Sehun adalah Nara. Putriku tidak merebut apapun dari saudarinya

Nara mengingat semuanya, Ibu. Nara tahu jika Ahra bukan saudara sedarahnya.”

“Ahra memang berbeda dari anak perempuan biasanya. Jung Dongyonayah mereka, bahkan tidak mengetahui bahwa Ahra itu ada. Ahra yang masih balita tiba-tiba ditinggalkan begitu saja di rumah Keluarga Jung. Aku berusaha membesarkannya seperti putriku sendiri. Aku mengusahakan yang terbaik untuk Ahra dan Nara tetapi …. Ahra memiliki rasa cemburu yang sangat besar. Ia bisa menyakiti orang lain secara fisik jika suasana hatinya tidak baik.” Han Haera menerawang, sudah lama ia ingin membagikan cerita ini, namun di sisi lain dirinya tak ingin mengumbar kejelekan dari keluarga lamanya. “Ahra dapat bersikap sangat lembut. Dia dan Nara memang memiliki pesona, mereka dengan mudah dapat membuat orang jatuh cinta. Dua kepribadiaannya tersebut semakin membahayakan Nara yang sakit-sakitan. Mungkin dia cemburu karena perhatiaanku hanya tertuju untuk merawat adiknya. Entah bagaimana Ahra mengetahui jika dia bukanlah putri yang kulahirkan.”

“Apa karena itu ibu mengirimkannya ke Seoul?” tanya Chanyeol.

Han Haera mengangguk. “Aku ingin menjauhkannya dari Nara. Bahkan saat aku menikahi ayahmu untuk kestabilan hidup kami … aku tak ingin menemuinya lagi. Ahra yang cerdik menemukan sebuah langkah untuk mengunjungi Nara dengan dalih ia dapat membantu transplantasi jantung adiknya. Ahra bersedia menjadi donor jantung, apabila

Jika dia meninggal,” lanjut Chanyeol memutus ucapan ibunya.

“Hal itu akan membayangi diriku dan Nara seumur hidup. Semua orang mengira aku yang membuat keputusan akan Ahra yang mengorbankan diri demi Nara. Gadis itu berbohongaku tidak tahu alasan dirinya beperilaku sangat kejam,” kata Han Haera. Ia menunduk, ibu Nara pun mulai menangis. “Putriku hidup tapi dia menderita. Aku tidak dapat menemuinyabahkan harus berpura-pura tak menginginkannya.”

Chanyeol mengenggam tangan Haera berusaha menenangkan. “Nara ingat jika Ahra merayu Appa

Wajah wanita itu berubah panik seketika. “Sejauh mana Nara mengetahui semuanya, Chanyeol? Apa dia mengningatnya?” tanya Haera. Ia mulai memohon, “Jangan sampai Tuan Park tahu akan hal itu. Aku takut dia akan menyakiti Nara.”

Chanyeol menghela napas kasar, kemudian mengangguk. “Ada Sehun yang menjaga Nara. Aku yakin Sehun tidak akan membiarkan orang lain menyakiti istrinya, meskipun dia tanpa sadar memberikan luka pada Nara,” timpal putra sulung Keluarga Park.

Han Haera mengangguk mengerti. “Tidak seharusnya Nara berada di Tokyo. Aku sengaja untuk menjauhkan dia dari belunggu Keluarga Park dan tak menemuinya. Aku cemas Nara berakhir sama seperti Ahra,” katanya.

“Ibu harus menemui Nara. Dia mulai depresi perihal semua kenyataan mengenai keluarga kita. Bahkan kehadiran Sehun tak berarti banyak bagi adikku,” timpal Chanyeol tanpa menyembunyikan keputusasaannya.

Wanita itu menggeleng. Ia meremas tangannya sendiri akibat rasa bersalah yang membelit raganya. “Terakhir kali kami bertemu, aku menyakitinya. Aku bukan ibu yang baik karena tidak dapat menjaga putri-putriku

Ibu akan benar-benar menyesal jika tidak bertemu dengan adikku sekarang. Nara sedang sekarat,” potong Chanyeol mengakhiri segala perdebatan yang terjadi di antara mereka.

Sehun tidak berdaya. Kekuasaanya tak sanggup untuk membangunkan gadis yang kini berbaring di ranjang rumah sakit. Sehun telah mendatangkan dokter terbaik, namun mereka berkata serupa―dia tetap harus menunggu, ditemani ketidak pastian. Ia telah berada di sana hampir satu minggu, mengamati kekasih hatinya tertidur. Sehun kini mulai merindukan Jung Nara. Dia ingin melihat gadis itu bersuara, tersenyum, merengek minta sesuatu, dan sehat. Pria itu sanggup menukar dunianya agar istrinya kembali berada di sisinya.

“Apa yang harus kulakukan, Sayang?” bisik Sehun sembari mengenggam jemari Nara. “Aku sudah menemukan pelaku pemerkosaan Ahra. Tapi, ternyata semua itu tak berarti lagi bagiku. Aku justru hampa karena kehilangan dirimu,” lanjutnya.

Hanya kekosongan yang menjawabnya.
Ruang inap Nara begitu sunyi.

Sepi itu membuat Sehun merenungkan perbuatannya. Banyak waktu yang ia sia-siakan untuk mencintai gadis yang salah. Dirinya justru mengabaikan Nara.

Sehun dulu dengan arogan mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja membiarkan gadis ini terluka. Kenyataan yang dia dapatkan memukulnya telak. Sehun seharusnya sudah lama tersadar bahwa sang gadis telah menaklukkannya. Nara sudah menjadi bagian dari dirinya, napasnya.

“Apa Ahra banyak menyakitimu?” Sehun berkata lagi.

Bayangan dirinya yang tak percaya semua kenyataan yang diceritakan berlalu-lalang dalam benak pria itu. “Maaf sudah tidak memercayaimu Nara,” katanya lembut. “Aku mencintaimu Nara. Kau tidak sendiri karena aku mencintaimu. Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama agar aku mengucapkannya.”

“Bagaimana hasilnya, Daniel?” tanya Chanyeol pada pria yang kini duduk di sebuah gerai kopi dekat rumah sakit tempat Nara dirawat.

Daniel yang kini mengenakan kemeja biru bermotif kotak-kotak dan celana jeans pun menjawab, “Aku sudah mengecek seluruh rekaman CCTV pada tanggal yang Sehun minta, tapi tidak ada. Aku rasa semua barang bukti telah dihapus, bahkan mengenai Ahra yang mencoba membunuh Nara. Tapi, ada satu hal. Guanlin memeriksa rekaman CCTV waktu Ahra di klub dan mabuk. Dia menemukan sekretaris pribadi Tuan Park yang menolong Nara dari laki-laki hidung belang itu.” Daniel melipat tangan di depan dada. “Dia menyembunyikannya dengan sangat rapi. Tuan park membuat seolah-olah Ahra adalah gadis baik-baik yang merelakan jantungnya untuk si adik.”

“Dan bodohnya aku juga berusaha menutupi catatan kesehatannya, sial,” timpal Chanyeol.

Daniel tersenyum masam. “Orang sepertimu bisa juga dibodohi,” ejek pemuda itu. “Apa kau tak berniat kembali ke Seoul? Aku rasa Liv menantimu,” imbuhnya.

Chanyeol mendengus. “Dia akan baik-baik saja tanpa diriku,” balasnya langsung tanpa beban.

Daniel mengangguk. “Jangan sampai kau menyesal seperti sepupuku. Dia sudah mirip orang gila.”

Pria jangkung itu hanya melejitkan bahu mendengar perkataan lawan bicaranya. “Kau sendiri juga mencintai adikku. Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak ingin berada di sana untuk menjaganya?”

“Aku tahu Nara ingin Sehun yang berada di sana. Aku tidak diperlukan sekarang. Aku berfungsi sebagai penyelesai masalah, memikirkan cara untuk menangkap Tuan Park

Ayahku bukan orang sembarangan, asal kau tahu. Bahkan Han Haera tidak bisa bercerai dengannya, meskipun mereka tidak tinggal bersama. Ahra bahkan dengan suka rela tidur dengan tua bangka itu.”

“Apa kau tidak tahu kelemahan ayah biologismu sendiri? Lucu sekali,” ucap Daniel sinis.

“Park Ryujin, kelemahannya adalah gadis kecil itu,” gumam Chanyeol. Ia menghela napas. “Dia akan menjadikan Ryujin sebagai penerusnya―the next queen. Jika kau dapat mendapatkannya itu akan menguntungkan kita semua,”

Daniel menyeringai. “Berapa usia adikmu yang lain itu?”

“Mungkin sekitar tujuh belas tahun,” jawab Chanyeol.

“Ah, kita tunggu satu sampai dua tahun lagi. Aku akan menemuinya,” timpal Daniel tanpa berusaha menutupi maksud dari perbuatannya.

Chanyeol menyilangkan kaki. Dia tertawa menggelegar. “Apa kau meremehkanku? Dia juga adikku,” ulas si pria arogan tersebut.

Daniel hanya melejitkan bahu. “Aku tidak peduli,” jawabnya enteng.

“Aku dulu juga pernah mendengar Sehun mengatakan hal yang serupa. Dia berniat mendekati Nara dan yakin tidak akan jatuh cinta padanya. Well, aku tidak bisa menyalahkan sepupumu karena wanita yang masuk ke dalam keluarga Park memang menarik,” ujar Chanyeol.

“Baiklah, aku akan lebih waspada,” ucapnya seolah itu bukan masalah besar.

Chanyeol melirik arlojinya sembari meminum kopi robusta yang dirinya pesan tadi. “Aku duluan. Han Hara berniat mengunjungi Nara.”

Chanyeol pun beranjak dari duduknya meninggalkan Kang Daniel yang sibuk berputar pada pikirannya.

Sehun bersandar di dinding, sementara atensinya mengawasi pertemuan Nara dengan Han Haera. Pria itu diam di sana, mendengarkan baik-baik apa yang hendak diucapkan wanita yang telah melahirkan istrinya. Apabila perkataan Haera dapat memerburuk kondisi Nara, maka Sehun siap untuk mengusir Haera pergi dari sana.

Sebenarnya, Sehun murka pada Haera. Bagaiamana bisa sang ibu menyembunyikan kebernaran mengeneai Ahra sedemikan lama? Bagaimana bisa Haera tidak menemui Nara selama empat belas tahun, membuat putrinya dirundung rasa bersalah?

Sehun tahu jika keadaan Haera juga menderita selama empat belas tahun ini. Wanita paruh baya itu membohongi Chanyeol dan Nara dengan mengatakan bahwa dia hidup bahagia bersama Tuan Park dan Ryujin. Kenyataannya, Ryujin sudah lama diasuh oleh ayah kandungnya, sementara Haera mengurus hidupnya sendiri yang dipenuh kesepian.

Sehun menarik napas, berusaha menyetabilkan diri.

“Apa kau tidak ingin pergi dari sini agar mereka dapat lebih leluasa?” tanya Chanyeol yang kini menepuk bahu sahabatnya.

“Aku akan tetap di sini. Nara sedang tidak berdaya sekarang. Untuk apa dia menemui Nara yang bahkan belum sadar?” Sehun mendengus.

Chanyeol mengangkat kedua tangan. “Baiklah, aku menyerah. Aku keluar dulu mencari udara segar.”

Sehun mengangguk.

Selang beberapa menit, pemandangan yang ada di hadapan si pria hanyalah Haera menggenggam tangan Nara. Sesekali dia membelai surai putrinya. Sehun dapat mendengar suara tangisan pelan yang berasal dari wanita tersebut.

“Terima kasih sudah menjaga kedua putriku,” ucap Haera pelan. Mata wanita itu menatap Sehun.

Sehun bungkam.

“Aku tahu kau pasti murka dengan semua kenyataan yang dirimu dengar,” Haera tetap bicara meskipun Sehun tidak mengacuhkan. “Ahra sedang depresi saat itu. Dia memiliki dua kepribadian. Ahra yang penuh kasih hanya muncul ketika kau dan Chanyeol bersama karena kalian berdua memberikan perhatian yang selama ini diharapkannya. Aku merasa bersalah padanya. Aku kira bisa melindungi Nara dengan membiarkan dia melupakan saudarinya, namun itu justru membuatnya bingung dan menyalahkan diri senditi.”

Sehun menghela napas. “Aku tidak menyesali pertemuanku dengan Ahra. Aku memang pernah mencintainya. Aku dan Chanyeol merencanakan semuanya dan mengumpulkan bukti selama belasan tahun. Namun. Kami tidak dapat berbuat apapun jika Ahra memang dengan suka rela mengkhianati kami,” ia mulai menjelaskan. Pria itu menatap nanar gadis yang kini terbaring di ranjang, tanpa daya. “Jung Nara membuat perjuanganku selama belasan tahun itu menguap begitu saja. Semua hal yang kupikirkan mengenai Ahra hilang, digantikan dengan bagaimana cara mengusahakan Nara terbangun lagi.”

Sehun menyelesaikan ucapannya, lalu berjalan mendekati Nara. Ia mengusap paras istrinya penuh sayang. Setiap jengkal dia menyentuh Nara mengingatkan dirinya akan ucapan dokter yang menangani gadis itu, hanya keajaiban yang dapat membangunkan si gadis.

“Bawa Nara kembali ke Seoul. Jangan lagi mengungkit masa lalu Ahra ataupun Tuan Park. Buat seolah-olah kalian tidak pernah mengetahui semua ini. Aku akan berusaha menutup mulut informan Tuan Park mengenai kesehatan Nara. Tolong berikan kebahagian pada putriku, berikan semua hal yang dia inginkan,” pinta Haera, dia berlutut di hadapan Sehun.

“Sampai kapan kau akan terus di sini, Hyung?” tanya Daniel malam itu ketika dia baru saja tiba dari Seoul. “Hampir satu bulan kau hanya duduk di sini, tidak beranjak dari ruangan Nara,” lanjut Daniel sembari mengangsurkan kaleng kopi kepada sepupunya.

Sehun hanya mendengus. Dia tahu apabila telah banyak waktu yang dilaluinya untuk menunggu Nara sadar. Pria itu meminta asistennya mengurus seluruh kebutuhannya mulai dari pakaian hingga makanan selama dirinya menjaga istrinya. Sehun enggan menyentuh pekerjaan, berpikir soal perusahaan. Serebrumnya sudah mati rasa.

“Perusahaan membutuhkanmu. Kau pasti akan menemui kesulitan, jika Paman Oh mendengar kau mengesampingkan The Three Clouds karena wanita,” pemuda itu menarik napas. Ia memosisikan diri di sisi lain ranjang Nara. “Gadis ceroboh ini pasti tak ingin kau kesulitan, Hyung,” dia mengimbuhkan.

“Apa yang dilakukan ayahku?” tanya Sehun datar.

“Dia hanya berkunjung ke The Evenue Park sebentar, lalu marah

Berengsek,” umpat pria itu, ia memijat pelipis.

“Kita bisa membawa Nara kembali ke Seoul kalau kau mau,” ungkap Daniel.

Sehun enggan lekas membalas, pria itu berpikir sejenak. “Baiklah, siapkan kepulangan kita. Tapi, dia akan dirawat di Busan. Bantu aku menjaganya,” putus Sehun pada akhirnya.

Sehun harus cepat membuat rencana sebab semuanya akan berjalan sulit jika ayahnya ikut campur dalam masalah ini. Ia akan menyelesaikan masalah yang timbul selama dirinya pergi.

“Baiklah, aku akan menjaga Nara dengan senang hati,” balas Kang Daniel.

Daniel tersenyum puas, saat mendengar pilihan sepupunya.

Entah rencana apa yang ada di benak pemuda itu.

-oOo-

a/n:

Wah ini uda part lima belas dan aku baru sadar sudah nulis cerita ini panjang banget :”). Biasanya cerita yang aku buat gak lebih dari sepuluh part udah ganti sesi hahaha. Btw, aku berusaha nggak bosen buat ngelanjutin ini dan meluangkan waktu untuk terus ngetik biar gak berakhir males, kemudian ceritanya ditelantarkan.

Baiklah, aku mau curhat kalau ingin Dear Husband segera tamat kemudian berganti cerita lain dengan karakter Kai, Sehun, dan Chanyeol trio kwek-kwek kesayangan. Mau bikin yang lebih ringan dari ini bikos nulis Dear Husband itu pusing (apalagi yang baca). Semoga hal itu bukan sekedar wacana :”)

Terima kasih sudah membaca cerita ini sampai lima belas part, apalagi yang uda meninggalkan kesan dan pesan kalian setelah membaca Dear Husband di setiap partnya. Membaca komentar dari kalian bikin semangat nulis hehehehe terima kasih banyak ya.

Oh ya, Dear Husband sudah bisa dibaca di wattpad loh langsung aja search @twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom atau add Line@ (@NYC8880L).

Oke, panjang ya author’s note ku kali ini. Sampai jumpa di part selanjutnya!~<3

Advertisements

191 thoughts on “Dear Husband: It’s Too Late To Realize

  1. Cuteapuppiess

    Serius bacanya was was aja gua takut kalo sad aja gtu ga siap :((( please lah nara jgn di paksa ;((( tuang park juga adohhh kalo dia ampe kalah gue bakal tenang dah ini masih ombang ambing gtu :(((

  2. Bee

    Benerkan ternyata si tuan park yang gituin ahra…
    Si nara kasian bangettt,,, jangan bilang ini bakalan sad ending 😭

  3. Hunnielover

    Yaahhh namanya juga penyesalan..pasti datangnya terlambat…kalo ngga gini khan kamu ngga akan berhenti nyiksa nara khan Hun..

  4. Holy Rabbit

    sedikit bingung awalnya pertalian darah antara chanyeol ahra n nara n ryujin tapi sekarang udah jelas …. klo bikin family tree .. bakalan njelimet

  5. Pingback: [Special Part] Dear Husband: Epilogue – Twelveblossom

  6. Sho

    Aaaaah…..oh my my my god….I dont wht to say…..
    Nara depresi berat…ini puncaaak nya….siapa yg ga tertekan kalo diposisi itu..

  7. well hun, penyesalan selalu datang terlambat dan kemana aja lo selama ini yg lebih mementingkan rasa keingin tahuan lo ttg kematin ahra dibanding keselamatan kesehatan org yg lu cintai. tau gua lo dulu cinta sama ahra, tapi kan dia udah ga ada hun di dunia, and you gonna lose your love twice.
    ahra oh ahra sebegitu malang kah dirimu sampe lo juga harus bgt sirik sama adek lo yg notabenenya punya kelainan jantung, padahal lo ga pernah di usik loh bahkan org2 lebih mengunggulkan elo dibanding nara tapi kok tetep yg iri sama nara?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s