[Special Part] Dear Husband: Jealousy

20180222_131409_0001

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love You – I’m Okay Even It’s Hurt – If You Were Me – When You and I Become Us – Dealing With You – My Eyes On You – Love, Lies, and Life – Hold Back The Tears –  Special Part: Everything For You – Heart Of Darkness – It’s Too Late To Realize

 

-oOo-

Pernah tidak kalian merasa kesal pada sesuatu? Sebenarnya hal kecil, tapi bisa menjadi besar karena mood swing. Sumbu emosi Nara berubah menjaidi sangat pendek hari ini. Dia sudah mengomel sepanjang menit, menggerutu mengenai banyak masalah. Oh, semuanya dilandasi oleh 90% laki-laki yang kini menjadi rekan hidupnya menomor duakan dirinya dan 10% karena suasana hati yang mendung.

Baiklah, mari Nara jelaskan agar semua makhluk hidup di dunia tidak kepalang bingung dengan sikap uring-uringannya. Semua dimulai dari sore ini ketika Nara punya ide datang ke kantor suaminya, hanya sekedar membawakan makan siang yang terlambat tentunya. Si gadis berjalan penuh percaya diri menyusuri lorong The Three Clouds yang megah. Ia berada tepat di depan ruang kerja utama Oh Sehun yang dijaga oleh asisten pribadi. Lantaran diijinkan memasuki pintu itu, Nara justru dihadang oleh Kim Hyenanama asisten cantik sang suamidengan alasan Sehun masih bertemu seseorang yang penting.

Nara yang memang suka membuat keonaran tadinya ingin mendobrak pintu tersebut, namun dia segera menenangkan diri ketika Hyena menunjukkan pesan singkat yang meminta Nara menunggu. Gadis itu hanya menggerutu, duduk di area tunggu VIP yang disiapkan sang asisten.

“Siapa yang mengobrol dengan Sehun?” tanya Nara tanpa menyembunyikan nada kesalnya yang kentara.

Hyenasi wanita bersurai merah marun itu tersenyum lembut sebelum menjawab, “Presedir sedang menemui perwakilan dari SH Group untuk memerluas jaringan bisnis di Cina.” Ia menyuguhkan milkshake cokelat pesanan Nara.

“Biasanya Sehun tidak menemui sendiri perwakilan dari perusahaan lain,” timpal Nara sembari meneguk minuman dingin itu. Ia cepat-cepat menghabiskan milkshake itu sebab jika Sehun tahu, dia bisa marah. Nara dilarang mengkonsumsi minuman dingin karena flu.

“Putri tunggal SH Group yang datang

Siapa?” potong Nara, ia membolakan mata. Gadis itu menghempaskan surai yang telah dicat cokelat madu beberapa hari yang lalu.

“Victoria Han,” balas Hyena tanpa melupakan tarikan bibir rupawan khasnya.

Nara berdiri dari duduknya, sehingga mini dress ungu muda itu mengayun ringan. “Apa si Victoria itu cantik?” tanya Nara.

Hyena enggan langsung menjawab. Ia berpiki cermat. “Menurutku, dia sangat modis.”

“Sial,” gumam Nara. Dia menatap Hyena lagi. “Apa Victoria menunjukkan ketertarikan pada suamiku?” lanjutnya, kali ini si gadis menggigit bibir cemas.

Hyena mengatupkan suara. Dia menggeleng pelan.

“Jangan berbohong padaku. Aku tahu kau sudah menjadi asisten Sehun saangat lama,” ujar Nara tegas.

“Begini Nona Muda, saya hanya tahu Nona Han bertemu beberapa kali dengan Presedir di kantor, namun saya tidak mengetahui pertemuan beliau di luar jam kantor,” jelas Hyena.

Si gadis terlanjur curiga, “Pasti di menutup mulut semua asistennya

“―Nona Muda, saya berbicara sejujurnya

Nara menghentikan ucapan Hyena melalui gerakan non-verbal tangannya. Gadis itu melipat tangan di depan dada. “Kau bisa pergi,” katanya singkat dan dingin, lalu menghempaskan raganya lagi ke sofa itu.

Nara menghela napas kasar. Dia cukup lelah menjadi orang kesekian dari daftar prioritas Sehun. Gadis itu bahkan harus menghadapi wanita lain. Tenaga Nara habis sudah. Ia jadi mengantuk.

“Baby Jung,” panggilan itu terdengar beberapa kali memasuki rungu Nara. Tak hanya suara yang menarik si gadis bangun, namun belaian halus di pipi membawanya untuk membuka mata.

Nara mengerjapkan netra beberpa kali, ketika lelapnya diusik. Ia mendapati Sehun berada di sisinya sementara tubuhnya yang tadi duduk di ruang tunggu sudah berpindah ke ruangan kerja sang suami. Raga Nara terbaring beralaskan empuknya sofa merah bata itu. Selimut lembut juga menjaganya agar nyaman. Itu membuat Nara segera terduduk, tampak terkejut.

“Kenapa aku bisa di sini?” tanya Nara, surainya mencuat ke segala arah.

Paras dingin Sehun berubah sangat hangat, dia tersenyum lebar. Sehun suka melihat Nara yang baru bangun tidur. Pipi dan hidung merah, bola mata yang bergerak panik, dan rambut acak-acakan yang lantas menarik Sehun untuk menyentuhnya.

“Kau ketiduran di ruang tunggu. Aku membawamu ke mari karena di sana dingin,” jawab Sehun sekilas sembari, menyentil kening Nara menggunakan jari telunjuk. “Dasar pelupa,” ejek Sehun.

Nara cemberut. Ingatan mengenai rasa kesalnya tadi mulai hadir dalam kepala. Ia menyibak selimut itu, kemudian dia menunjuk Sehun. “Dasar pria tukang selingkuh,” kicau si gadis.

Sehun yang dituduh demikian hanya dapat menautkan alis. “Apa kewarasanmu belum terkumpul, Jung Nara?” Ia menimpali dengan pertanyaan.

Nara menyipitkan mata ke arah Sehun. “Memang benar yang sering aku baca di artikel, kalau laki-laki yang ketahuan selingkuh pasti bersikap bodoh,” dengus si gadis.

Nara membuang muka, ia menolak memertemukan pupilnya dengan milik Sehun. Tanpa sengaja pun Nara mendapati kotak bekal yang tadi dibuatnya untuk Sehun sudah tergeletak di meja, tidak ada isinya. “Kau memakan semuanya?” pernyataan si gadis muda lebih serupa pertanyaan.

Sehun mengangguk. Dia melepas jas kemudian memakaikan di bahu Nara agar gadisnya tetap hangat. “Iya, sambil menunggumu bangun. Tapi, kau tidak bangun-bangun padahal sudah waktunya pulang,” balas Sehun lugu.

Nara memerengut. “Biasanya, kau mengejek semua makanan yang kubuat. Kau justru memakannya tanpa tersisa sekarang. Tanda-tanda orang berselingkuh yang kedua, bersikap seperti tidak biasanya,” cibir Nara keras.

Sehun lagi-lagi kepalang bingung oleh perkataan istrinya. Ia menarik Nara lembut agar duduk di sampingnya. “Apa maksudmu? Siapa yang berselingkuh?”

Nara tertawa dengan dibuat-buat. “Kira-kira siapa ya?” Ia menggunakan intonasi main-main khas pembawa acara gosip di televisi.

Sehun menghela napas berusaha sabar menghadapi gadis muda kekanakan yang sayangnya sudah menjadi istrinya. “Aku tidak mengerti,” ucap Sehun pada akhirnya. Ia memilih beranjak menuju lemari pendingin untuk meraih kaleng soda.

“Dasar tidak peka, aku sangat kesal padamu hari ini.”

“Apa karena aku membuatmu menunggu, Sayang?” tanya sang suami sembari bersandar ke meja kerjanya. Tubuh jangkung Sehun serupa pahatan sempurna setiap wanita akan meleleh melihatnya. “Aku tadi membicarakan sesuatu dengan Victoria

Baiklah sangat penting ya, sampai kau menemuinya berulang kali dan enggan diganggu kalau sedang berduaan. Kenapa tidak sekalian saja berkencan dengannya?” potong Nara intonasinya tinggi.

Sehun menaikkan satu alis. Dia mulai paham alasan istrinya cemberut. “Sayangnya, aku tidak dapat mengencani Victoria

Karena kau terpaksa menikah denganku!” seru sang istri cantik itu. Nara melangkahkan kaki menuju ke hadapan Sehun. “Apa kau berniat menjadikannya kekasih kalau aku tidak ada?” sambung Nara kecewa.

Sehun menyeringai. “Apa kau sedang cemburu, Nara?” Ia bertanya usil.

Nara tidak menjawab menggunakan ucapan, ia menggeleng. Dia sibuk mengendalikan pertahanan airmatanya yang sudah menggenang di pelupuk mata. Menurut Nara, Sehun sangat menyebalkan sekarang. Pria itu justru menghadapi semua ucapan istrinya dengan raut biasa-biasa saja, cenderung memandang Nara serupa lelucon.

Sehun mendekati gadisnya. Ia tersenyum lembut kali ini, bukan bermaksud mengejek sang istri. Pria itu meraih dagu Nara agar si gadis mendongak.

“Kau tidak perlu cemburu dengan Victoria. Aku tidak dapat berkencan dengannya karena dia sudah menikahi salah satu sepupuku,” jelas Sehun.

“Kau bohong,” sanggah si gadis.

Sehun melejitkan bahu. “Kau bisa tanya Kang Daniel jika tak percaya,” ia menyakinkan Nara.

Nara sangat malu, tentu saja. Bibirnya bahkan terbuka beberapa inci. Parasnya merah karena rasa salah tingkah itu. Nara menilai dirinya sangat konyol sekarang. Dia menghempaskan tangan Sehun yanga ada pada pipinya, lalu Nara menutupi wajah dengan telapak tangan.

Sehun mengulum tawa. Dia menyimpan gigi agar tidak terlihat. Pria itu diam seribu bahasa membiarkan Nara sibuk dengan rasa malunya. Sehun juga ingin berpura-pura marah pada Nara untuk menambah ekspresi lucu pada gadisnya.

Nara yang merasa aneh dengan keheningan itu pun memberanikan diri menatap Sehun. Raut suaminya tampak murka. Tatapan lawan bicaranya juga datar. Seketika Nara menarik ujung kemeja Sehun, memberikan paras merajuk yang dibuat manja.

“Maafkan aku ya, Sehun. Aku benar-benar tidak tahu,” oceh Nara. Dia menghapus jarak, lalu berusaha memeluk prianya. “Aku yang salah. Mana mungkin suamiku yang tidak terlalu tampan ini berselingkuh,” kelakar Jung Nara manis. Ia mendekap tubuh Sehun yang lebih besar darinya erat-erat.

Sehun mengerucutkan bibir. Dia meregangkan pelukan mereka agar wajahnya sejajar dengan milik Nara. “Apa kau bilang, aku tidak tampan?”

Nara tersenyum lebar. Sehun sudah menanggapi yang berarti si pria sedang tidak murka lagi. “Iya, aku suka kau jadi jelek agar gadis lain tak ada yang menyukaimu,” timpal Nara ceria.

Nara berjinjit untuk mengecup pipi Sehun sekilas.

“Dasar gadis egois,” celetuk Sehun datar, sebelum mengangkat tubuh Nara agar ia tidak perlu menunduk untuk mencium gadisnya.

Nara dapat merasakan Sehun tersenyum pada tautan mereka. Ia mengerti bahwa masalah kecemburuannya dapat terselesaikan dengan mudah karena ini bersumber dari kesalahpahaman.

Nara merasa konyol, tapi ini menyenangkan.

Nara terlihat bodoh, namun itu membahagiakan.

Nara menikmati setiap momen yang tercipta bersama Sehun. Kadang, sejenak saja mereka dapat melupakan segala permasalahan, kemudian menyisakan kebahagian. Meskipun hanya sebentar, Nara tidak pernah menyesal pertemuan, pertengkaran, dan percintaan yang menjadi kisahnya saat ini, asal Sehun yang menjadi tokoh utama bersama dirinya.

-oOo-

Terima kasih sudah membaca. Ini adalah special part yang artinya penggalan cerita dari Dear Husband, kebanyakan sih flashback. Biar bisa menjawab pertanyaan kalian, kok Nara bisa sih jatunh cinta sama Sehun. Bisalah, Sehun itu sebenarnya sangat romantis (kalau sedang waras gak bahas Ahra loh ya hehehe)

Baiklah, sampai jumpa di part selanjutnya~ .

Jangan lupa tersenyum di hari Senin! 😀

Advertisements

159 comments

  1. Aurhor bikin penyakittt… Ketergantungan sama ini ff,mati akuu.. makin lama makin bikin seneng sendiri wkwk. Sering sering bikin ff yg main castnya sehun ya eonni,aku bakalan selalu mangkal di blog eonni kalo banyak ff Sehun wkwkwk. Lopiuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s