Perfect Match: Before Our Story Begin

DaP1FJmUMAAUUFQ

I’m laughing for no reason. I’m thinking of you again. Is this similar to what love is?” ―Be With You, AKMU

Oh Rae’s POV

Aku menghela napas kesal. Mataku ini sedari tadi memandangi pagar tinggi yang menjulang di depanku. Aku menggigit bibir agar ocehanku tidak keluar, aku tak ingin berisik karena kami bisa terdengar oleh guru piket yang aku yakin sedang berpatroli. Andai saja, aku bisa memilih untuk tak memiliki saudara kandung yang super lama kalau mandi, pasti aku akan tepat waktu datang ke sekolah. Benar, semua ini salah saudara kembarkuOh Sehun yang sangat menjaga kebersihan, dia mandi terlalu lama. Tak hanya itu Sehun tadi mengganti pakaian dua kali sebelum Pak Leesopir keluarga kami yang akan melajukan kendaraan. Alasan si biang keladi menyebalkan itu melakukan hal tak berguna tersebut adalah ingusku yang kata Sehun mengenai baju seragamnya. Astaga, demi apa pun di dunia ini, ingusku itu punya harga diri tinggidia tidak ingin menempel pada manusia menyebalkan sealam semesta serupa saudara kembarku.

Sehun mencanangkan ide tololnya ketika tahu pintu gerbang sekolah telah ditutup. Ia menarikku ke pagar belakang yang jauh dari pengawasan, idenya sih kami akan melompat dari sana karena ada pijakan berupa tiga kotak kayu. Katanya, itu jalan rahasia yang sering digunakan Sehun dan sahabat sesatnya membolos. Baiklah, ternyata saudaraku yang sangat pintar juga punya jiwa keonaran yang tersembunyi.

“Ayo cepat naik,” ucap Sehun sembari memelototiku yang hanya terdiam bagai patung di sampingnya.

Aku membalas membolakan mata. “Apa kau pikir aku Superman? Aku memang dapat naik menggunakan level kayu sialan ini, tapi aku tidak bisa turun.”

Sehun mendengus. “Dasar manja seperti perempuan saja,” celetuknya jahat.

“Aku memang perempuan, saudaraku yang bodoh. Kau pikir aku apa? Lihat ini aku pakai rok!” seruku keras.

“Aku pikir kau gajah betina, kita beda spesies,” celetuk Sehun sangat kekanakan.

Aku hendak menjawab, namun bunyi kaleng yang di lempar ke dinding menginterupsi.

“Ah, mereka sudah datang,” kata Sehun, ia maju ke depan.

Aku melihat Sehun naik dengan tangkas. Ia berhenti di atas dinding pagar itu menoleh ke arahku yang tercengang karena gerak tubuh si kutu buku ternyata lincah juga.

“Wah,” aku mengacungkan dua jempol sebagai pujian.

Sehun memutar bola mata. “Aku tahu loading otakmu itu lama, Rae. Namun, bisakah kau lebih pintar sedikit. Cepat naik pelan-pelan, pegang taganku,” kata Sehun.

Rae mengikuti cara Sehun sambil mengaduh beberapa kali karena lututnya tergores. Sesampainya di atas pagar Rae dapat melihat dua sahabat karib saudaranyaKim Jongin dan Park Chanyeol yang menunggu di bawah. Chanyeol tertawa sambil melambaikan tangan, sedangkan Jongin seperti biasa wajahnya cemberut sembari menggeleng kesal atas kelakuan Oh bersaudara. Ya, Rae paham alasan Jongin memberengut, dia adalah bagian dari tim disiplener yang dipilih secara ketat oleh pihak ketua. Kini Jongin justru diharuskan melihat pelanggaran di depan matanya tapi tidak dapat bertindak apapun karena persahabatan erat si menyebalkan Sehun dengan dirinya.

Sehun berbisik padaku. “Apa kau memakai celana dalam?”

Aku langsung memukul kepalanya. “Celana dalam?” ulangku kesal.

Sehun menggosok kepala. “Bukan itu. Maksudku celana pendek agar ketika kau turun

Iya, aku memakainya,” aku memotong penjelasan Sehun yang membuatku sangat malu di hadapan kedua pemuda lain yang sekarang menatap kami penuh tanya karena tidak segera turun dan malah berbincang penuh rahasia.

Sehun mengangguk. Dia beranjak terlebih dahulu, kemudian menangkap tasku yang kulempar sembarangan. “Lompat dengan hati-hati,” Ia memeringatkan. Dia berbalik untuk bicara pada teman-temannya. “Tutup mata kalian, awas kalau sampai melihat. Well, meskipun Rae tidak sesuai dengan selera kita, bagaimanapun dia saudariku,” Sehun tertawa.

“Sebenarnya Rae cantik hanya saja beberapa bagian tubuh Rae yang mirip denganmu. Jadi kalau kami menjadikan Rae tipe ideal sama saja … mengerikan sekali,” celetuk Chanyeol si pemuda bersurai cokelat yang lantas mendapatkan tatapan mengingatkan dari Sehun. “Okay, aku tidak lihat,” gumam Chanyeol kemudian mengatupkan matanya.

Kai berdiri membelakangi mereka tanpa mengoarkan ocehan.

Aku berkonsentrasi untuk turun pelan-pelan. Kendati demikian, apa dayaku, tubuh ini selalu enggan bergerak sesuai perintah. Aku terpeleset, kemudian jatuh menimpa Sehun dengan bunyi yang sangat keras.

“Aduh! Ada gajah menimpaku!” seru Sehun kepalang heboh.

Aku hendak berdiri, namun lutut dan sikuku terasa perih. “Sakit,” keluhku.

Chanyeol berjalan cepat. Ia membantuku berdiri. “Bajumu jadi kotorkan,” ucap Chanyeol ia menepuk seragamku berulang kali dengan lembut.

Aku tetap meringis kesakitan.

Kim Jongin menghampiri kami yang penuh drama ini. Dia melipat tangan di depan dada. Pria itu memandangiku dari atas sampai bawah. “Ini terakhir kalinya aku melihatmu seperti ini, kalau kau terlambat lagi. Aku akan melaporkanmu pada guru kita,” ujar pemuda itu.

Aku mengangguk setengah hati, Sehun pun cuek saja kini pemuda itu justru mengeluarkan ponsel dalam sakunya, kemudian sibuk mengecek pesan masuk yanga ada di sana.

“Kasihan Rae jangan dimarahi sekarang,” bela Chanyeol.

Jongin membuang muka, ketika Chanyeol meletakkan tangannya melingkari pinggangku untuk memapahku. Jongin melepas jasnya, kemudian melemparkannya padaku. “Rokmu sobek, tutupi dengan itu,” ujarnya sembari berlalu pergi begitu saja tanpa memedulikan kami yang masih terkejut.

Sehun menyeringai, melihat kejadian yang ada di hadapannya. “Dasar bedabah itu,” umpat Sehun, lalu mengikuti Kim Jongin meninggalkan aku dan Chanyeol berdua saja.

Aku berjalan tertatih-tatih menuju klinik kesehatan untuk mengobati lukaku. Sebenarnya tadi Narateman satu bangkuku bersedia mengantarkan, tapi gadis itu justru mendapatkan panggilan latihan olimpiade dari Sehun. Saudara kembarku tersebut memang kordinator olimpiade fisika di sekolah, jadi Nara tidak bisa menolak karena taruhannya beasiswanya bisa dicabut. Akhirnya, aku sendiri yang berjalang kemari.

“Astaga, aku lupa kalau hari ini jadwalmu menjaga klinik sialan ini,” ujarku shock saat membuka pintu klinik kesehatan yang dikelola oleh sekolah mewah ini, kemudian mmendapati sosok yang tak ingin kutemui. Murid-murid yang memiliki minat dalam bidang kesehatan dapat menjadi anggota untuk belajar menangani pasien. Benar, Kim Jongin sangat tergila-gila dengan darah, makanya pemuda itu masuk dalam jajaran ketua klub kesehatan tersebut.

Kim Jongin yang sedang asyik membaca buku tebal tersebut langsung memutar bola mata.

Aku berbalik arah. Hati ini sedang kesal dengan manusia berjenis kelamin laki-laki serupa Kim Jongin karena pemuda itu sengaja melaporkan diriku yang tersangkut pagar tadi pagi. Meskipun telah merelakan jasnya dipakai menutupi rokku yang sobek, tapi tetap saja aku kesal. Bukan tanpa alasan diri ini dongkol padanya, asalkan kalian tahu yang dialaporkan pada guru hanya aku, sementara Sehun tidak. Bukankah itu tidak adil?

Belum sempat melarikan diri, Jongin sudah menangkap tanganku. Dia mendudukan aku ke kursi kayu di dekat meja obat, Jongin menarik kursi lain untuk berada di hadapanku. Pemuda itu mulai membawa peralatan medisnya, ia bergerak mengobati. Aku otomatis meringis kesakitan, ketika dia mulai menyentuh lengan ini.

“Kenapa tidak langsung ke sini?” tanyanya datar. Pria itu menatapku tajam sembari membersihkan lukaku perlahan. “Ini bisa saja infeksi, Rae,” lanjutnya.

“Bagaimana bisa aku ke klinik ini, kau melaporkanku pada guru kita?” sulutku kesal.

“Aku mengatakannya kepada wali kelasmu agar kau tidak terlambat lagi

Salahkan sahabat karibmu itu, dia mandi terlalu lama!” aku memotong ucapannya, mencebik.

“Kau bisa berangkat bersamaku atau meminta Chanyeol menjemputmu,” ujar Jongin tidak ingin kalah.

Rae menggeleng. “Aku bisa dihabisi para kekasihnya kalau sampai hal itu terjadi.” Aku menunjukkan bekas cakaran di sikuku. “Lihat ini akibat Chanyeol iseng mencium pipiku di pesta ulangtahunnya. Gadis-gadis sialan itu mirip nenek sihir,” keluhku mengingat masa lalu yang begitu kelam.

Kim Jongin tersenyum.

Tanpa sadar aku juga menarik ujung bibir membentuk simpul yang serupa.

“Padahal kalau mereka tahu kau pernah tidur satu kamar dengan Chanyeol, kira-kira apa yang akan mereka perbuat?” Jongin mengimbuhkan.

Aku mengoreksi ucapannya, “Aku tidak hanya tidur satu kamar dengannya, kau dan Sehun juga ada di sana. Kalian menemani kami saat upacara pemakaman ayah dan ibuku.” Hatiku terasa sakit kembali, sewaktu mengingat kejadia dua tahun lalu saat kebahagian keluargaku hilang disebabkan oleh kecelakaan pesawat.

Aku merindukan mereka.

Aku merasakan telapak tangan Jongin menyentuh pipiku. “Apa kau merindukan orangtuamu?” ujar Jongin seolah dapat membaca pikiranku.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Jongin sudah menurunkan tangannya yang ada di wajahku, pemuda itu memalingkan muka. “Aku sangat merindukannya,” aku menjawab untuk mengalihkan rasa gugup yang ada.

Jongin mengangguk. Ia berlutut di hadapanku, berganti mengobati lututku dengan telaten.

“Kau cocok sekali jadi seorang dokter,” aku memulai topik. Aku memiringkan kepala agar dapat melihat responnya. “Nanti kalau kau sudah jadi dokter, obati dengan gratis ya kalau aku jatuh.”

Jongin menengadah. “Tidak mau,” jawabnya cuek, kemudian berdiri. “Aku tidak ingin punya pasien cerewet sepertimu, Rae,” lanjutnya.

Aku mengangguk paham. “Baiklah, itu jawaban wajar untuk pemuda yang tidak memiliki selera humor sepertimu.” Aku beranjak dari duduk. Tangan Jongin dengan siaga membantuku. “Aku kira kau enggan melihatku sakit dan menjadi pasien―”

Itu juga salah satu alasannya,” potong Jongin. Ia memberikan ekspresi mengingatkan. “Aku tidak suka kau kesakitan seperti tadi, Rae,” sambung Jongin yang lantas membuatku tersenyum kikuk.

Kenapa Jongin selalu bersikap seperti ini padaku? Cara bicaranya kasar, namun ada kehangatan dalam niatnya. Baiklah aku tidak mengerti, lebih baik aku pura-pura tak tahu saja.

Aku berlagak biasa-biasa saja namun pipiku tetap saja merona. Sialan.

“Kau lama-lama bisa menjelma jadi kecebong kalau gaya berenangmu seperti itu, Rae,” Sehun berkomentar di pinggir kolam renang rumah mereka.

Aku pura-pura tuli, bukannya memerbaiki gerakan renangku, diriku malah menjauh menuju seberang tempat Chanyeol bersantai di pelampung besar. Aku menggoyangkan tempat tidur apung yang digunakan si anak pertama Keluarga Park tersebut. Lantas Chanyeol pun menoleh padaku tanpa menutupi ekspresi terganggu.

“Aku mau naik,” ucapku sedikit memaksa sambil berusaha memanjat.

“Ini tidak muat kalau dinaiki dua orang,” jawabnya. Chanyeol kembali berkata ketika aku memberikan tatapan memohon. “Astaga, kapan sih kau berhenti memanfaatkan wajah cantikmu itu?” tanya Chanyeol kesal, ia turun ke kolam memberikan kasur apungnya padaku.

“Aw!” seruku tiba-tiba saat sahabat baik saudara kembarku mengangkat tubuh ini ke atas kasur apung.

“Kalau kau tidak bisa berenang, lebih baik pakai pelampung daripada tenggelam,” Sehun mengusulkan usil dari seberang, ia melemperkan pelampung bebek kuning miliknya.

Aku melihat Chanyeol tertawa sangat lebar. “Aku rela bolos demi melihatmu memakai pelampung bebek itu, Rae. Jadi. Kabari aku kapan kira-kira kau akan ujian renang,” kata Chanyeol.

“Terus saja kalian menganiyayaku. Awas saja kalau Jongin datang pasti dia membelaku. Aku yakin

Aku tidak berniat membelamu,” vokal yang begitu familiar tersebut meenyela.

Kim Jongin memasuki area kolam renang indoor Keluarga Oh. Ia masih mengenakan seragam sekolah yang kemejanya sudah keluar dan bagian lengan yang dilipat sesiku.

Aku bersorak tepuk tangan. “Wah, pelatihku sudah datang.”

Kim Jongin sudah menjadi pelatih renangku sejak dua bulan lalu. Dia merasa iba karena Chanyeol serta Sehun angkat tangan untuk mengajariku sesuatu. Menurut mereka yang paling kuat jiwa mengguruinya itu ya Kim Jongin. Ralat, Si laki-laki berkulit coklat memang punya karakter diktaktor yang kuat, dia juga yang mampu berdebat denganku kemudian menang. Berlandaskan alasan tersebut Sehun dan Chanyeol mengumpankan Kim Jongin padaku. Sungguh sahabat yang setia kawan.

Aku belajar berenang karena ujian akhir semester olahraga yang mengharuskan siswa-siswi di sekolah kami menguasai beberapa gerakan renang. Aku sempat stres berhari-hari mengenai hal tersebut. Dari sekian banyak hal, aku paling tidak percaya diri apabila berkaitan dengan olahraga air. Pada awal latihan, aku sempat enggan masuk ke dalam kolam, kalau ongin tidak melotot galak sambil marah-marah padaku.

“Aku mengundurkan diri menjadi pelatihmu mulai hari ini,” Jongin berucap galak tidak berperasaan. “Aku bisa mati muda kalau terus mengajarimu yang sama sekali tidak ada kemajuan,” ia melanjutkan omelannya sembari duduk di kursi santai pinggir kolam.

Aku berkacak pinggang. “Setidaknya, aku sudah bisa mengambang sekarang,” aku mulai membela diri.

“Apanya yang mengambang? Kau bakan bergerak seperti batu,” gerutu Jongin.

“Kenapa kau jadi mengejekku? Menyebalkan sekali,” aku menimpali.

“Kami bicara fakta, dear my sister.” Sehun memberikan suara. “Lagi pula, Jongin sangat sibuk akhir-akhir ini, dia tidak bisa lagi menemani gadis bar-bar sepertimu. Ada yang lebih menarik daripada mengajari Oh Rae yang kurang pintar,” lanjutnya tanpa belas kasihan.

Alisku bertaut. “Memangnya, apa yang dia lakukan kerjaannya tiap hari hanya tidur? Dia hanya belajar sekali seminggu

Jongin punya kekasih baru,” potong Chanyeol santai.

Napasku langsung berhenti sejenak. Rasanya ada sesuatu yang mengejutkan. Aku tersenyum kikuk enggan percaya. Selama ini aku memintanya berkencan dengan beberapa gadis, tidak ada yang berhasil. Kali ini siapa manusia super yang bisa meluluhkan hati pemuda menjengkelkan seperti Kim Jongin.

Aku jadi iri.

Kenapa aku harus iri?

“Siapa gadis tidak beruntung itu?” pertanyaan Sehun memutuskan lamunanku.

Aku menunggu Jongin membalas ucapan Sehun. Rasa penasaran itu menjadikan diriku sangat tidak sabar. “Pasti ini bagian dari bualan kalian karena tidak ingin Jongin dilabeli sebagai penyuka sesama jenis. Mana ada gadis yang ingin berkencan dengannya?” aku menggerutu sekaligus memancing Kim Jongin untuk membuka mulut.

Aku dapat melihat Jongin mengerucutkan bibir. Dia memandangiku jengah tanpa minat sedikit pun.

“Tentu saja ada, tapi selain dirimu, Gadis bodoh,” Chanyeol yang menimpali, tidak lupa ia mengusap kepalaku penuh penekanan.

Aku menepis tangannya yang sering kurang ajar memegang kepalaku. “Kau kan lebih bodoh dariku, bodoh teriak bodoh.”

“Paling tidak aku pintar dalam bidang percintaan,” oceh Chanyeol sambil menjulurkan lidah.

“Dan aku pintar dalam segala hal,” Sehun mengikuti alur pembicaraan kami sebelum dia kembali berenang.

“Dasar kekanakan,” justru dua kata itu yang dibuat oleh vokal Jongin. Ia tampaknya enggan menggubris perdebatan kami.

Aku hanya memberengut mengawasi mereka. Aku sendiri tidak mengerti alasan kesialanku karena harus berada di sekitar ketiga spesies yang menjengkelkan ini. Mereka enggan menganggapku sebagai perempuan, justru seenaknya mengumpat atau melakukan hal-hal jorok di depanku seperti mengupil―well yang dilakukan Chanyeol di depanku sekarang. Aku heran mereka sangat tidak tahu malu. Selama ini orang-orang selalu memuji merekateman satu kelas, satu sekolah, satu tempat les, dan bahkan semua orang yang ada di klub musik yang aku ikuti juga membangkan ketiga orang berengsek itu.

“Panas sekali rasanya,” runguku mendengar ucapan Jongin. Indra pendengarku ini memang terlampau terbiasa untuk mengenali suara pemuda itu.

“Turun kemari,” ajak Chanyeol.

Aku mengerjap beberapa kali. Pandanganku terfokus pada Kim Jongin yang sibuk melepas kancing bajunya satu-persatu, lantaran menjawab pertanyaan Chanyeol.

Aku membolakan mata. “Berhenti, jangan lakukan itu.” Aku mencegahnya menurunkan lagi kancing kemejanya.

Ketiga pemuda yang ada di sana memberikan ekspresi bingung.

“Jangan telanjang di sini, Kim Jongin.”Aku menegaskan.

“Kenapa?” Sehun bertanya bingung.

“Ada aku di siniaku perempuan. Tidak boleh melihatnya

Tapi aku dan Sehun juga sedang bertelanjang dada. Kau bahkan tadi memegang perutku.” Chanyeol menginterupsi sambil menampilkan cengiran lebar.

Aku mengerang frustasi. “Beda!” seruku. Aku menggelengkan kepala.

“Bukannya, biasanya Jongin tidak memakai baju waktu mengajarimu renang?” tanya Chanyeol penasaran.

Jongin yang menjawab, “Aku biasanya memakai pakaian khusus untuk berenang,”

“Nah makanya jangan dibuka,” aku bersikukuh.

Sehun memutar bola mata melihat sikapku yang aneh. “Kau berlebihan Rae,” ia menyisir surainya yang basah terkena air. “Biasanya juga melihatku begitu. Kita bahkan masih mandi bersama delapan tahun lalu―”

Diam, aku tidak ingin berdebat!” seruku sembari membuang muka untuk menghindari tatapan mereka. Aku naik ke atas. Melangkah lebar-lebar meninggalkan mereka yang masih mengoceh tidak karuan.

Aku sendiri tidak tahu apa yang salah denganku. Yang pasti, pengaruh Kim Jongin padaku dua kali lipat lebih hebat. Aku tidak ingin memicu apapun yang membuat jantungku berdetak keras. Itu yang membedakan dirinya dengan Chanyeol dan Sehun. Aku tidak peduli jika Chanyeol dan Sehun enggan menganggapku sebagai perempuan, namun aku ingin Jongin memerlakukanku sebagai seorang gadis.

Aku tidak mengerti alasannya.

Aku tidak tahu dari mana awalnya.

Tiba-tiba perasaanku ingin bertindak demikian.

-oOo-

Gimana? Ini masih awal-awal aku pengennya konfliknya mengalir gitu aja. Terima kasih sudah membaca ;D.

Advertisements

137 thoughts on “Perfect Match: Before Our Story Begin

  1. Gemes sendiri aku sama mereka hehehe.

    Tapi kak kenapa POV nya ganti-ganti ya? Kurang enak jadi dibacanya hehe.

  2. eeh part ini kelewat di comment, adududu akutuh bingung siapa lakinya.. apakah jongin atau chanyeol 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s