Perfect Match: I Was Love Him

dap1fjmumaauufq

Previous:

PrologBefore Our Story Begin

“You know me, I was always like that. I can’t easily hide my feelings. You know this too.” ―Akmu, You Know Me


Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku sempat tak percaya jika seseorang yang ada di hadapanku sekarang adalah si Murung Kim Jongin. Jongin tertawa lepas bersama seorang gadis, mereka tampak membicarakan sesuatu yang enggan berdengung dalam runguku. Suara itu tak lekas sampai di telinga karena diriku sekarang masih berada di pintu masuk sebuah taman dekat kompleks rumah. Aku terpaku di tempat sembari membawa tas berisi cat minyak yang hendak kugunakan untuk melukis.

“Itu Kim Jongin bersama kekasih barunya,” ujar Chanyeol yang berada di sampingku, ia membawa kanvas.

Chanyeol sangat patuh mengekoriku ke mana pun aku ingin melukis. Alasannya, dia punya banyak waktu dan takut aku mati kebosanan kalau tidak ditemani. Biasanya dia memang kerap mengoceh ketika menunggu diriku, banyak hal yang digosipkan seorang Park Chanyeol. Vokalnya itulah yang membuatku merasa tak sendirian dan bersemangat, meskipun hanya ocehan rancu tanpa makna.

“Siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya.” ujarku menimpali. Aku menahan langkah Chanyeol yang hendak menuju mereka. Aku ingin melihat senyum lepas Kim Jongin lebih lama, walaupun tarikan bibir itu bukan milikku.

Sungguh, aku tidak mempunyai maksud lain. Aku hanya merasa bahagia ketika kawanku juga gembira.

Tapi … yang kurasakan sekarang bukanlah sebuah kesenangan.

Ada pukulan tak kasat mata yang seolah menerpa diri ini.

Chanyeol tersenyum ketika menjawabku, “Dia gadis tercantik di camp sosial yang diikuti Jongin baru-baru ini. Namanya Summer Song.”

Aku menghela napas. “Apa dia gadis yang baik?”

“Setidaknya lebih baik dan cantik dari dirimu,” Chanyeol tertawa.

Aku melotot ke arahnya, kemudian berbalik. Aku tidak ingin lagi melihat mereka karena gadis itu memang memiliki sesuatu yang tak ada pada diriku. Aku iri akan itu, aku cemburu.

“Rae, kau ingin ke mana?” tanya Chanyeol sembari mengejarku.

Aku enggan menghentikan langkah saat berucap, “Kau pulang saja, aku tidak mood melukis hari ini.”

“Kenapa begitu?” Chanyeol menarik tanganku, lantas membuat tubuhku berhenti. “Aku sudah terlanjur membatalkan kencanku dengan Hwang Mina,” keluh si jangkung yang gemar berganti kekasih. Ia mengungkit soal pacar barunya yang kini menjabat sebagai ketua klub basket putri.

“Ya sudah, kau ke rumahnya saja, jangan menghiraukan aku

Aku bisa dihajar Sehun jika meninggalkanmu sendirian,” selanya.

Aku mengerutkan alis. Mustahil Sehun bersikap demikian, kakak kembarku itu hanya bisa mengusili saja sampai aku lelah menanggapi. Menyebalkan memang.

“Ayo, kita makan sandwich kesukaanmu,” Chanyeol buru-buru berkata ketika aku bungkam. Dia segera menarikku sebelum aku sempat menolak.

Chanyeol mengajakku ke gerai makanan ringan yang menjadi tempat favorit kami, namanya Little Sandwich. Meskipun namanya little, sandwich yang dijual berukuran sangat besar dan murah. Kami memesan satu sandwich berukuran jumbo dan dua gelas jus stroberi. Seperti biasa Chanyeol yang memotong kecil-kecil roti itu sehingga aku tinggal melahapnya saja.

Aku memasukkan potongan roti tersebut banyak-banyak. Biasanya, makan dapat mengurangi rasa kesal yang hinggap dalam hati. Namun, kenyataannya rasa marah itu tetap ada. Bahkan aku terlampau bingung alasan serebrumku berpikir demikian.

“Kau tetap saja cemberut, padahal gadis lain yang kuajak makan selalu tersenyum malu-malu,” kata Chanyeol memulai topik.

Aku enggan langsung menjawab. Aku meraih jus itu lalu meminumnya dengan hati-hati agar tidak tersedak. “Memangnya kau menganggapku sebagai perempuan? Walaupun aku sudah memakai mini dress seperti ini, aku yakin kau tidak berpikir kalau aku seorang gadis,” aku menggerutu.

Chanyeol tersenyum tiga jari. “Sebenarnya aku melihatmu sebagai perempuan, tapi kau selalu kelihatan tidak menarikhanya begituaw!” ocehan Chanyeol berubah menjadi teriakan saat aku melempar kepalanya dengan garpu. “Nah, kau mirip seperti monyet yang suka melempar sembarangan,” dengus pemuda itu.

Aku melipat tangan di depan dada. “Ah, kenapa hari ini diriku diberikan banyak cobaan,” Rae bergumam.

“Sabar ya, Rae. Jongin sudah punya pacar sekarang, satu-satunya remaja murung yang tidak pernah berkencan hanya dirimu.” Lagi-lagi Chanyeol membuatku darah tinggi.

“Berlebihan, aku tidak percaya Jongin berkencan. Dia bahkan sangat galak pada perempuan,” aku menyanggah. Itu sesuai fakta, kok. Banyak temanku yang takut pada Kim Jongin karena melihat wajah cemberutnya itu.

“Percaya saja, aku dan Sehun melihat mereka berpelukan

Aku dan Jongin juga sering berpelukan,” potongku.

“Mereka juga berciuman

Aku dan Jongin juga berciuApa?!” aku tidak sadar saat mengutarakan keterkejutan itu. “Sudah sampai sejauh itu?” tandasku lagi.

Chanyeol menyipitkan mata. “Kenapa kau ingin tahu?”

Aku menggigit bibir. “Bukannya wajar, kita kan berteman lama. Aku ingin tahu bagaimana kehidupan teman-temanku hahaha,” jelasku, tidak lupa kutambahkan tawa hambar yang lantas mendapatkan tatapan curiga dari Park Chanyeol.

“Mereka dekat satu minggu ini. Summer meminta Jongin untuk membantunya dalam tugas kesenian

Dia seumuran kalian?” aku memotong penjelasannya.

Chanyeol menggeleng. “Tidak, dia lebih muda satu tahun dari kami. Kau tahu, gadis yang lebih muda itu terlihat naif dan menggemaskan. Apalagi, mereka belum memiliki pengalaman skinship yang membuat laki-laki merasa tertantang

Hentikan, dasar mesum!” aku berseru lagi sampai tenggorakanku kering rasanya.

Chanyeol tertawa keras sekali, ia mengangsurkan jus jeruk padaku agar aku meneguknya.

“Aku berbagi pengalaman padamu, Rae. Jadilah perempuan yang menggemaskan agar ada laki-laki yang mendekatimu,” saran jahil Chanyeol.

Aku hanya mendengus. “Bagaimana aku bisa punya kekasih kalau kalian bertiga menempeliku ke mana-mana? Kau kira aku tidak tahu kalian menggagalkan setiap kencan pertamaku.”

“Itu karena aku khawatir dengan gadis kecil ini,” sambarnya sembari mengelus kepalaku, dia memerlakukanku seperti anjing peliharannnya saja.

“Aduh, jangan membuat rambutku berantakan,” aku mencegahnya, dengan cara menepuk tangannya keras. Bukannya mengaduh dia malah semakin terlihat bersemangat. “Awas ya, kalau kau menganggapku peliharaannmu,” dengusku.

Chanyeol hanya mengangguk-angguk, dia tampak senang. Sedari tadi Chanyeol tersenyum, sementara mengamatiku yang sedang mengomel tanpa berhenti. Chanyeol kerap seperti ini, dia menikmati serta berlama-lama melakukan hal tidak penting denganku. Dasar.

“Wajahmu kusut sekali, Rae,” suara itu menginterupsi tidurku ketika istirahat makan siang.

Aku memilih tinggal di kelas, lalu meletakkan kepalaku di meja, mata pun ikut terpejam. Rasanya mengantuk sekali hari ini. Tentu saja, netraku terasa berat karena aku baru terlelap setelah pukul satu dini hari. Entah mengapa, semalam pikiranku hanya berfokus pada satu hal, yaitu kekasih baru Kim Jongin. Ada percampuran rasa kesal, ingin tahu, dan tidak percaya bahwa semua itu kenyataan. Selama ini Jongin yang paling tertutup dibandingkan Sehun dan Chanyeol. Pemuda itu lebih suka diam, baru bicara kalau ditanyai. Masalahnya, aku malu kalau harus bertanya mengenai dunia percintannya yang berubah drastis.

Hmm … kenapa aku harus malu, sementara aku sudah bertahun-tahun berhadapan dengan ketiga pemuda itu?

Memangnya ada apa?

Apa ini penagaruh pubertas yang membuat jalan pikiranku tidak stabil?

“Rae, apa kau sakit?” Nara menggoyangkan bahuku lagi setelah aku tidak menyahut panggilannya. “Astaga, ini belum ujian tengah semester jadi jangan gila dulu,” celetuk teman sebangkuku itu enteng tanpa beban.

Aku menghela napas. “Aku sedang banyak pikiran, Nara,” kataku. Aku membolakan mata melihat tumpukan buku yang dijatuhkan Nara ke meja kami. “Aku kira kau yang sudah gila. Ini masih jam istirahat tapi malah membawa buku sialan ini,” omelanku mengalir pedas.

“Janagn berkata begitu, please. Ini bukan kemauanku. Kakak kembarmu itu yang melakukan hal terkutuk ini. Begini, dia menyuruhku merangkum empat buku tebal sialan dalam waktu tiga hari. Aku rasanya stres hanya membayangkannya saja,” jelas Nara yang secara otomatis menuangkan tawaku.

Aku tahu alasan Sehun berbuat demikian, pasti bocah tengil itu sedang bermain-main dengan Nara. Mataku mengamati paras Nara yang memang rupawan, selain itu sifat temanku ini juga tidak terlalu ramah pada laki-laki. Mungkin Sehun merasa tertantang karena Nara enggan menunjukkan ketertarikannya sedikit pun padanya. Well, Nara harus lebih bersabar menunggu Sehun bosan pada dirinya.

“Nara, apa kau ingin mengerjai Sehun?” tanyaku usil.

Nara langsung menatapku dengan mata berbinar-binar. “Bagaimana caranya?” tanyanya antusias, hal itu tak berselang lama karena ia kembali murung. “Mana bisa aku mengerjai Sehun, nanti aku bisa makin sial,” keluh si gadis bersurai hitam.

Aku menyeringai, “Nanti sewaktu kau mengumpulkan rangkumanmu selipkan saja tisu di balik kertasnya. Sehun jijik dengan tisu,” ujarku menahan senyum.

Nara menautkan sepasang alis. “Kenapa orang seperti Sehun takut dengan tisu?”

“Dulu sewaktu kami kecil, aku sering sekali terkena flu. Ibuku mengelap ingusku dengan tisu, nah pada suatu hari saat ingusku masih berwarna hijau tidak sengaja aku menjejalkannya ke mulut Sehun yang sedang makan. Sebenarnya, bukan tidak sengaja sih-habisnya dia selalu menggangguku, jadi aku kesal,” aku menerangkan dengan khidmat.

Nara hanya geleng-geleng kepala. “Dasar, kalian berdua sama-sama tidak waras,” ujarnya.

Aku memberikan cengiran lebar.

“Rae, apa kau tidak makan siang? Biasanya Sehun, Chanyeol atau Jongin mengajakmu ke kantin,” Nara mulai membawa topik baru ketika dia membaca halaman pertama bukunya.

Aku menggeleng. Mereka kelihatannya sibuk dengan urusan masing-masing.

“Aku tadi melihat Jongin sedang berkeliling sekolah dengan seorang murid perempuan, wajahnya asing sepertinya dia murid baru,” Nara berucap. Nara menatapku lama, kemudian melejitkan bahu. “Aku tadi merasa aneh, Rae. Mereka bercanda akrab. Hm … soalnya selama ini perempuan yang dekat dengan Jongin hanya kau.”

Aku menyipitkan mata. “Benarkah? Kenapa dia tidak cerita padaku?”

“Memangnya kenapa dia harus mengatakan semua hal padamu?”

Benar, kenapa aku ingin tahu dia melakukan apa saja?

Kenapa, Rae?

Aku menghela napas kasar.

“Kalau kau ingin tahu, mereka sedang berada di perpustakaan,” Nara menepuk bahuku. “Tidak usah berbohong, kita berteman sudah hampir dua tahun. Aku itu pengamat yang baik,” lanjutnya sambil tersenyum.

Aku ingin menyangkal argumen Nara. Akan tetapi, kakiku telah memutuskan sendiri. Aku telah bergerak menuju perpustakaan tempat di mana Jongin berada.

“Aduh!” keluhan itu tidak diungkapkan oleh bibirku, namun gadis lain yang sedang tersungkur jatuh. Gadis itu mengaduh sembari berusaha melihat sikunya yang menyentuh lantai, sementara aku hanya menatap datar ke arahnya.

Aku tidak sengaja menabrak murid baru yang sedang diajak Kim Jongin berjalan berkeliling sekolah. Tubuhku ini dengan sangat kasar bergerak, kecepatannya maksimal saat menyeruduk mereka. Well, meskipun dalam gerakan yang elegan seolah-olah aku tak sengaja melakukannya. Aku hanya tidak tahan saat si gadis baru tersebut berusaha menyentuh pergelangan tangan Jongin sambil menunjuk buku di atas lemari. Menyebalkan, dasar perempuan lemah. Cih.

“Apa kau terluka?” tanya Jongin sambil memegang tanganku.

Aku langsung menoleh ke arahnya. Pemuda itu justru menanyakan keadaanku yang baik-baik saja dan sangat sehat, sama sekali enggan menghiraukan si murid baru yang jatuh. Aku menyeringai menang ke arah gadis baru itu.

“Aku tidak apa-apa,” jawabku disertai senyum.

Jongin melihatku dari atas hingga bawah. Dia bahkan menarik sikuku untuk memastikan keadaan tangan ini tergores atau tidak, itu kebiasaannya dari dulu. “Kalau begitu cepat minta maaf pada Summer,” ujar pemuda bersurai hitam dengan wajah yang selalu mengantuk itu.

Aku melotot ke arahnya. Dia seharusnya paham betul kalau aku paling benci minta maaf.

Tampaknya Jongin mengerti perubahan raut wajahku, ia kembali berucap, “Kau harus belajar meminta maaf atas kesalahanmu, Rae,” ujarnya sembari membantu si gadis baru berdiri.

Aku melipat tangan di depan dada. “Aku tidak melakukannya dengan sengaja,” belaku. Aku mendapati Jongin menaikkan sebelah alisnya yang berarti dia tahu, kalau aku dengan sengaja menyeruduk hingga jatuh si Summer.

“Oh Rae,” dia memanggil dengan nada mengingatkan.

“Aku bilang tidak sengaja, ya tidak sengaja! Toh, dia tidak terluka,” aku mulai membentak karena harga diriku memang setinggi langit di angkasa. Apalagi, kami mulai dikerumuni anak-anak lain.

“Sudah Jongin, aku baik-baik saja,” Summer mulai memgoceh.

Telingaku sakit, aku membencinya. Setelah kuingat-ingat wajah si gadis baru sama dengan perempuan yang kulihat kemarin waktu di taman. Summer yang kata Chanyeol adalah kekasih baru Jongin.

“Oh Rae, minta maaf sekarang atau aku memberimu point atas tindakan menyerang murid lain,” Jongin berucap tegas, nadanya kini tidak main-main.

Aku menatapnya tak percaya. Tanpa sadar diriku menggigit bibir karena terlampau kesal. Kim Jongin yang biasanya membelaku kini justru menjatuhkan diriku.

“Kau berkata begitu karena aku membuat kekasihmu jatuh, begitu?” kataku tanpa tahu malu. Aku melihat netra Jongin yang sudah berkilat-kilat marah. “Aku membencimu,” sambungku kemudian pergi begitu saja tanpa mengindahkan panggilan murka dari manusia bernama Kim Jongin.

Aku ditemani Chanyeol membolos pelajaran tambahan. Kami sedang berada di The Ground, tempat itu adalah sebuah klub pecinta balap motor, lokasinya tak jauh dari sekolah. Chanyeol bagian dari klub tersebut, dia investor terbesar yang menjadikan klub ini masih berdiri hingga saat ini. Ruangan bawah tanah di The Ground menjadi basecamp Sehun, Jongin, dan Chanyeolberhubung aku sering bersama mereka ini juga tempat favoritku. Ruangan bawah tanah ini berupa gudang tua yang didekorasi oleh Sehun dengan kaca besar untuk menutupi dinding, Chanyeol yang berasal dari keluarga kaya bertugas mengisi properti di dalamnyaada dapur mini dan permainan yang sedang trend, sementara Jongin yang pintar berfungsi sebagai penjaga kebersihan serta mengawasi tata letak barang. Aku menggunakan keahlianku untuk melukis sudut dinding yang tidak dilapisi kaca.

Kami biasanya hanya main-main saja, menghabiskan waktu dengan tidur atau menonton sesuatu karena ada home theater di The Ground. Chanyeol dan Jongin menemani diriku serta Sehun secara bergantian. Mereka sangat protektif semenjak orangtua kami tiada. Aku dan Sehun tidak dibiarkan sendirian.

“Sudah jangan bersedih begitu. Aku yakin Jongin tidak sengaja memarahimu,” kata Chanyeol sembari ikut menghempaskan diri ke bantal Rilakkuma raksasa yang wajahnya bisa diduduki.

Aku tidak ingin membalas ucapan Chanyeol. Aku enggan mengubah posisiku yang sangat nyaman sekarangduduk sembari bersandar.

Chanyeol melepas jaket yang tadi dikenakan hingga menyisakan seragam sekolah. Pemuda itu menyampirkan jaketnya ke pangkuanku untuk menutupi bagian tubuhku yang terlihat.

“Dia berubah sejak punya kekasih,” aku menggerutu.

Chanyeol mengusap suraiku. “Aku benar-benar iri pada Kim Jongin,” celetuk Chanyeol yang langsung membuat wajahku mengkerut.

“Kenapa?” tanyaku spontan.

“Dia bisa membuatmu cemburu hanya karena dirinya jalan berdua dengan gadis lain,” balasnya. Chanyeol mengamati. “Tidak terhitung berapa kali aku berkencan dan mencium gadis lain tapi kau tetap diam saja. Apa kau tidak takut kehilangan diriku? Padahal aku sangat takut kehilangan dirimu,” lanjutnya.

Lantaran merasa terharu atau bingung. Aku justru meraih toples plastik makanan kecil lalu melemparkan tepat ke kepala Park Chanyeol.

“Aduh, Rae! Sakit!” seru Chanyeol langsung berdiri dari tempatnya. Dia membolakan mata ke arahku, bahkan telinganya yang lebar bergerak-gerak. “Kau hampir saja merusak aset terbesarku. Kau tahu jika wajah tampanku ini adalah sebuah anugerah terindah di dunia,” oceh Chanyeol.

“Dasar, tidak waras! Pergi sana, aku ingin muntah mendengar bualanmu,” ucapku sambil melemparkan toples-toples lain untuk mengusir Chanyeol.

Kendati demikian Chanyeol tetap berada di sana, ia tidak kabur melihat kemarahanku. Selalu seperti itu.

Bukan pertama kalinya aku ketiduran di sofa empuk milik The Ground. Namun, ini pertama kalinya aku terlelap di sini dalam keadaan gundah. Rasanya tidak nyenyak, aku tertalu lelah. Banyak hal yang kupikirkan, apalagi ketika mataku mulai terbuka kemudian menampilkan Kim Jongin yamg sedang duduk di bawah-punggungnya ia sandarkan ke bagian samping sofa yang kutiduri. Sehingga aku dapat melihat tubuhnya yang mebelakangiku.

Aku mengamatinya selama beberapa menit, pikiranku mengulang kilasan adegan untuk menjawab pertanyaan kenapa Jongin memiliki arti yang berbeda di hidupku?

Aku mengenal Kim Jongin entah sejak kapan, dia sudah ada di hidupku ketika aku lahir. Kami besar dan bermain bersama. Dia selalu datang pertama kali saat aku menangis atau kesakitan. Sebenarnya, Chanyeol juga melakukan hal tersebut padaku, namun tetap saja Kim Jongin memiliki arti khusus. Aku terbiasa akan kehadirannya yang hanya terfokus padaku, sedangkan Chanyeol memiliki banyak atensi untuk gadis lain.

Pasti kalian bertanya, apa aku menyukai Kim Jongin?

Jawabannya, mungkin.

Aku enggan memastikan karena perasaan yang diakibatkan oleh hormon pubertas ini akan menjauhkanku padanya. Cerita klasik, bukan? Benar, aku tidak ingin memastikan perasaanku agar kami tidak perlu berubah. Aku nyaman dengan hubungan kami yang seperti ini. Aku senang berada di tengah-tengah mereka tanpa perlu merusak segalanya.

Dulu aku sempat mengejek opera sabun atau novel romansa yang menyuguhkan kisah mengenai seseorang yang menjadi pengecut untuk mengungkapkan perasaan pada sahabatnya. Kini aku tahu seberapa besar rasa takut kehilangan itu bersarang. Akan sangat aneh apabila rasa suka itu semakin menjalar. Bagaimana jika nanti hubungan kami tidak baik-baik saja kemudian saling membenci?

Hanya membayangkannya saja dapat membuat hatiku semakin berduka.

“Kau sudah bangun,” vokal Jongin, ia mengubah posisinya menjadi menghadapku. Pemuda itu melipat tangan di atas sofa kemudian meletakkan dagunya di sana.

Aku hanya bergeming.

“Maaf,” ucapnya setelah belasan sekon kami diam.

Jongin tersenyum simpul saat mendengarkan gerutuan pelan dari bibir ini.

Aku langsung mengatupkan mulut lagi. Ternyata senyum Jongin bagus juga kalau dilihat dari jarak sedakat ini. Selama ini aku ke mana saja sampai tidak menyadarinya?

“Kau harus belajar untuk mengucapkan kata maaf, Oh Rae,” kata Jongin lagi. “Suatu saat nanti kau akan membutuhkannya. Aku tidak ingin kau menyesal karena tak tahu cara meminta maaf,” sambung pemuda itu.

Aku mengalihkan pandangan. Bukan tanpa alasan aku berhenti mengucapkan kata maaf. Dua tahun lalu aku sudah mengungkapkan maaf berulang kali, tapi rasa penyesalan dan sakit itu masih ada. Bermula dari kecelakaan pesawat yang mengakibatkan orangtuaku tiada. Aku yang bersalah karena saat itu merengek agar mereka kembali lebih cepat, sehingga ibu dan ayahku menaiki pesawat naas tersebut. Andai saja, aku bersabar menunggu, mengijinkan mereka untuk pulang besoknyapasti ibu dan ayahku masih ada bersamaku sekarang.

“Aku tidak ingin mengucapkannya lagi, Jongin. Dulu aku melakukannya memohon kepada nenek untuk memaafkanku tapi dia justru marah dan mengurungku berhari-hari. Dia berkata bahwa anak pembawa sial sepertiku tidak layak untuk mengucapkan maaf,” aku membalasnya, suaraku bergetar.

“Itu semua bukan salahmu, Rae,” Jongin menimpali. Kini nadanya lembut mengalir dalam runguku.

“Mereka menyalahkanku, bahkan setelah aku meminta maaf.” Aku menggigit bibir agar air mata ini terbendung. “Kau tadi juga menyalahkanku,” aku menyambung. Ragaku bergerak duduk untuk menghindari tatapan netranya.

Jongin berlutut di hadapanku. “Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya ingin gadis yang kujaga selama ini bersikap baik

Bagaimana jika aku tidak dapat bersikap baik?” aku memotong. “Apa kau akan menjauhiku?” intonasi getir tak luput dari sana.

Jongin mendekatiku, ia memeluk tubuh ini sangat erat dan hangat. “Tidak akan, aku tidak akan bisa jauh darimu.” Jongin memberikan tepukan ringan pada punggungku untuk menenangkan.

Sentuhan Jongin padaku seperti sihir, ia mampu mengubah suasana hati yang mendung menjadi cerah, dan kegelisahan menjadi kebahagiaan. Hanya Jongin yang dapat begitu.

“Park Chanyeol,” bisikku saat aku melihat kelebatan bayangan Chanyeol yang hendak memasuki ruang utama The Ground, tapi dia pergi setelah melihatku bersama Jongin. Aku buru-buru melepas pelukan Jongin. “Kenapa Park Chanyeol pergi?” tanyaku pada Jongin yang menaikkan alis.

“Apa kau tadi bersama Chanyeol?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Dia tadi menawarkan diri untuk membelikan aku sandwich,” jawabku.

Jongin menghembuskan napas. Dia memandangiku, sembari tersenyum simpul. “Mungkin, nanti dia akan kembali,” ulasnya enteng.

“Otakmu itu sudah jadi batu, ya?” sindiran kejam itu terkoar dari bibir Jongin.

Baru dua jam lalu kami berbaikan, namun dia kembali ke sifat iblisnya. Aku hanya bisa pasrah karena kalau tidak begitu, Jongin enggan mengajariku Biologi. Kelasku akan ujian besok, jadi aku perlu belajar-apalagi Kim Jongin itu peramal hebat yang bisa menebak soal apa saja yang akan keluar.

“Dia tidak punya pikiran memang,” Sehun yang sedang bermain play station menimpali.

Chanyeol mengangguk-angguk. “Hidup ini memang tidak adil. Semua kecerdasanmu telah diambil Sehun. Aku ikut sedih, Rae,” Chanyeol ikut heboh, ia sampai tersedak mie instan yang sedang dilahapnya.

Chanyeol datang lagi ke The Ground bersama Sehun, dia bilang kalau tadi lupa membawa saus kesukaanku jadi dia kembali lagi ke Little Sandwich. Padahal sebelumnya dia tidak pernah sekali pun melupakan saus itu. Mungkin, Chanyeol sedang tidak fokus, entahlah. Yang paling penting sekarang, kami sudah berkumpul lagi di sini. Meskipun, mereka tidak ada habisnya mengejekku. Sial.

“Kalian bedebah menyingkir saja dari sini

Oh Rae, konsentrasi pada bukumu. Aku mengulangi materi ini tiga kali tapi kau tetap tumpul!” omelan Jongin mendiamkan selorohanku pada Chanyeol serta Sehun.

Aku kembali menenggelamkan wajahku di balik buku.

“Cepat selesaikan, setelah ini aku harus menemui Summer.”

“Kau ingin berkencan, ya?”

Jongin memutar bola mata. “Aku tidak berkencan dengan siapa pun, itu hanya membuang waktu,” jawabnya santai.

Bibir ini langsung membentuk senyum lebar sekali. “Itu artinya Summer bukan kekasihmu?”

“Iya,” kata Kim Jongin yang masih mengenakan seragamnya.

“Sudah kuduga,” aku bergumam, lalu menatap Jongin penuh ketertarikan. “Tapi Sehun dan Chanyeol bilang kalau kau berkencan

Tidak, mereka hanya berlebihan saja,” potongnya.

Aku langsung bernapas lega.

“Kami sering bertemu untuk membicarakan program donor darah akhir bulan ini. Dia kebetulan juga pindah ke sekolah kita. Summer memilih pindah karena isu bullying, dia sempat menjadi korban pemerasan teman sekelasnya,” jelas Jongin. Ia melirik ke arahku. “Makanya, lain kali jangan mendorong dan menyeruduknya seperti tadi, agar murid-murid lain tidak salah paham padamu,” imbuh Jongin galak.

Ah jadi begitu, dia ingin aku minta maaf agar Summer tidak merasa dijahati olehku. Hm, baiklah.

“Apa aku boleh ikut donor darah?” aku bertanya dengan suara yang ceria.

Jongin menatapku, ekspresinya aneh. “Tidak, kau kan takut melihat darah.”

Aku merengek, jelas Jongin sangat tidak tahan mendengarnya. “Ayo, Jongin aku mohon. Aku ingin berkawan dengan Summer. Aku bisa menjadi salah satu temannya, boleh ya?” nada suaraku kuimut-imutkan. Aku hendak membuka mulut lagi tapi sebuah boneka katak melayang ke kepalaku. “Aduh, Park Chanyeol sakit!”

“Jangan mengekori Jongin terus,” kata Chanyeol datar. Dia pergi menuju dapur setelah mengucapkan hal itu.

Park Chanyeol aneh, dia terdengar marah. Padahal dia jarang bersikap begitu padaku.

Aku langsung berdiri membuntuti Chanyeol yang menuju dapur The Ground, tanpa mengindahkan panggilan Jongin. Tempat memasak itu memiliki ruang sendiri di sudut gudang. Jadi, agak terisolir dari area permainan.

Aku melihat Chanyeol membuka lemari pendingin, kemudian meminum susu pisang. Aku yakin Chanyeol sebenarnya tahu aku berada di belakangnya, namun tampaknya suasana hati si pria bertelinga lebar itu sedang tak bagus.

“Apa kau baik-baik saja, Chanyeol?” tanyaku pelan. Aku melipat tangan di depan dada, sepertinya aku tahu alasan Chanyeol kesal. “Apa kau putus dengan Hwang Mina? Dia pasti berselingkuh. Ya?” ujarku lagi.

Chanyeol membalik badan, mukanya masam. Dia menatapku lamat sebelum memutar bola mata. Dia maju beberapa langkah, kini berdiri di depanku. Pemuda itu menunduk, hingga bibirnya tegak lurus dengan rungu ini.

Chanyeol pun berbisik. “Kau menyukai Jongin,” katanya, bukan sebuah pertanyaan namun pernyataan.

Aku pun tidak dapat menjawab, mulutku terbuka bebera inci.

Apa aku ketahuan?

Bagaimana bisa?

Chanyeol tersenyum hambar. “Tolong jangan perlihatkan rasa sukamu terlalu banyak, aku tidak suka,” ujarnya dingin, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan aku.

-oOo-

a/n:

Hai, makasih sudah baca sampai abis. Ini 15 halaman aku sendiri kaget waktu lihat jumlah halamannya di ms word karena aku kan nulisnya lewat handphone :’). Awalnya, cuma pengen 5-6 halaman tapi kok keterusan. Aku harap kalian belum bosen ya. Huhuhu.

Kemarin ada yang tanya melalui kolom komentar, kebanyakan soal jalan cerita dan setting waktu. Aku memang memilih setting mereka saat sekolah, tapi nanti … oke biar part-part selanjutnya aja yang jawab hehehe.

Baiklah, aku tunggu masukan, kritik, dan saran kalian setelah baca cerita ini. Aku sangat menunggu agar aku tahu dan memerbaiki yang kurang-kurang. Terimakasih sekali lagi.

Btw, kalian dukung Rae sama siapa nih? :D.

Oh ya, ini akun wattpadku wattpad.com/twelveblossom dan info terbaru soal ceritaki bisa diliat di twitter twitter.com/twelveblossom

Selamat menjalankan puasa dan memasuki bulan Ramadhan^^.

 

Advertisements

141 comments

  1. Lama gak baca ff nya kakak ih 😭😭 kangen aku huhu

    yaampun ini 15 halaman? gak kerasa serius bacanya wkwk aku suka pembawaan ceritanya yang ringan, interaksi antar tokoh nya juga udah kaya liat drama langsung wkwk mantab lah kak 🙂

  2. Jongin malah sama cewek lainn.. Rae pasti cemburu nih.. Soalnya kelihatannya rae suka ma jongin ya..
    Fighting kak… 😘❤

  3. Detik detik dimana chanyeol tau kalo rae suka ama jongin yapi dia tidak menyerah juga wkwkwkwkwk. Kapan aku dpt cowok kek chanyeol. Kalo aku jadi rae aku juga nggak mau kehilangan dua-duanya tapi itu adalah hal yang sangat egois. Disini nara juga blm suka ama sehunnn 😂. Lanjjuutt

  4. Kisah cewek yang dikelilingi banyak cowok masih menarik ternyata. Apa lagi kalo Kak Titis yang menuliskan kisah itu 🙂

    Apa pun yang akan terjadi, aku berharap masing-masing tokoh tetap dapat memaknai sebuah hubungan 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s