Perfect Match: The Definition of Love

dap1fjmumaauufq

Previous:

Prolog – Before Our Story Begin – I Was Love Him
“You were angry and so quiet. That place was my long night. Even in the darkness, I couldn’t sleep because of your crying voice. For long days and long nights. I really loved you.” Last Good Bye, Akmu

-oOo-

“Sudah kubilang, kau jangan ikut donor darah,” Jongin memarahiku saat aku sedang memuntahkan makan pagi yang baru saja kusantap.

Aku langsung mual-mual melihat bagaimana kantong darah itu diletakkan di meja. Aku masih berada di pintu masuk tadi, belum sampai ke dalam. Jongin yang melihatku berlari menuju halaman gedung tempat donor darah itu berlangsung. Sahabatku itu langsung menyusul tubuh ini, ia pasti tahu benar bagaimana kondisiku.

“Aku baik-baik saja,” ucapku menyakinkan. Meskipun kepala ini rasanya pening sekali.

“Wajahmu sampai pucat begitu, kau masih berani bilang kondisimu baik,” Jongin membantuku duduk di kursi taman, tangannya merapikan surai sebahuku yang berantakan tertiup angin.

Aku menggeleng. “Kau ke dalam saja, aku tidak apa-apa.”

Belum sempat Jongin menjawab, seorang gadis berparas cantik dengan surai panjang yang tergerai menghampiri kami. Mini dress putih yang ia kenakan membalut tubuh Summer sempurna.

Ia mengangsurkan air putih ke arahku. “Ini untukmu agar rasa mualnya cepat hilang,” katanya setelah berdiri di samping Jongin.

Aku menatap mereka, ada raut khawatir di sana. Tak berselang lama mataku melihat keduanya, aku langsung membuang muka. Entah mengapa Kim Jongin dan Summer terlihat serasi. Mereka sama-sama rupawan. Okay, baiklah ini pertama kalinya Oh Rae tidak percaya diri. Ada sesuatu dalam diri Summer yang membuatnya lebih menarik daripada aku. Mungkin sikapnya yang lemah lembut, jujur saja aku tidak sanggup berperilaku sesabar dirinya. Bisa gila jika begitu.

Summer Song tetap menampakkan keramahan walaupun botol airnya tak kunjung kugapai. Aku bahkan sengaja menampilkan wajah angkuh.

Jongin yang menerima botol air mineral tersebut, ia membuka tutupnya kemudian menyerahkan padaku. “Ayo, Rae,” bujuk Jongin.

“Aku ingin pulang,” kataku. Aku tahu ini sangat memalukan. Aku datang ke sini tanpa diundang bahkan sudah diperingatkan untuk menyingkir sedari awal oleh Jongin.

“Jongin, kau antar Rae pulang saja,” Summer berucap dengan nada lembut yang mengalun. “Aku akan menangani acaranya

Tidak, aku yang bertanggung jawab di sini. Aku ketua pelaksana,” potong Jongin. Ia menatapku lama sekali. Jongin meletakkan botol itu di sampingku. “Aku akan meminta Chanyeol ke sini,” lanjutnya.

Aku memegangi tangan Jongin yang hendak meraih ponsel. Itu membuatnya menoleh ke arahku.

Penolakan Jongin melukaiku, itu jelas. Kim Jongin berubah. Dia dulu sanggup memahami sikap kekanakannku dan mengalah. Kini dia memilih prioritas lain. Aku memberikan atensi pada Jongin dan Summer secara bergantian. Gerakan dan apa yang mereka ucapkan saling berkait satu sama lain. Bahkan orang awam pun tahu jika Summer ke sini bukan karena mencemaskan aku, namun ia yang enggan melihat Jongin serta diriku bersama terlalu lama.

“Kalian tidak usah berdebat. Aku tadi bilang ingin pulang, bukan berarti ingin diantar pulang,” cetusku. Aku berusaha berdiri. Aku mengambil botol itu lalu menyiramkan isinya ke tanaman di sekitarku. “Maaf, Summer tapi aku benar-benar tidak membutuhkannya,” sambungku sembari meraih tangan Summer kemudian mengangsurkan botol kosong itu kepadanya.

Aku pergi tanpa berkata apa pun. Jongin tidak mengejarku karena aku tahu, fokusnya telah berbeda.

Aku tidur di sofa ruang santai rumah kami yang terletak di daerah Gangnam. Hunian ini masih sangat nyaman seperti dulu, kecuali sepi yang ada karena orangtua kami telah tiada. Rumah Keluarga Oh terlalu besar karena hanya diriku dan Sehun yang menetap. Kadang Gong Jane, bibiku dari pihak ibu yang memiliki hak asuh atas kami berkunjung. Ia kemari satu bulan sekali, mengingat dia bekerja di London. Semua kebutuhan kami dipenuhi oleh Bibi Jane yang masih berusia tiga puluh dua, dia juga belum menikah. Bibi Jane tak menuntut apapun dariku atau pun Sehun, ia hanya ingin keponakannya belajar rajin dan hidup nyaman.

“Apa kau sedang memikirkan nasib Mister Huffy Fluffy?” vokal Sehun mengisi pendengaranku. Ia duduk di kursi lain berdampingan dengan sofa empuk itu.

Aku mendengus. Sehun berucap demikian karena aku hanya menatap kosong layar televisi yang sedang menayangkan kartun favorit kakak kembarku itu.

“Sehun, apa menurutmu aku harus menerima tawaran Bibi Jane?” tanyaku.

Sehun memberikan tatapan bingung.

Aku menghela napas. “Bibi Jane mengirimiku email beberapa perguruan tinggi yang berfokus pada broadcasting di London. Kalau aku ingin kuliah di sana, aku harus pindah sebelum kenaikan kelas,” aku menjelaskan.

Sehun mengangguk. Dia tahu kalau aku sangat berminat pada dunia broadcasting. Impianku adalah bekerja di bidang penyiaran dan menjadi produser. “Terserah padamu saja, aku senang kalau kau pergi jauh. Paling tidak rumah ini akan tenang,” jawabnya santai sambil mengunyah camilan.

Aku melotot ke arahnya. “Kau sama sekali tidak sayang padaku, ya?” keluhku. Aku menghempaskan diri, menyembunyikan paras di balik bantal besar sofa. “Kenapa tidak ada yang sayang padaku?” aku melanjutkan.

Aku mendengar Sehun tertawa kecil. Dia mendekat ke arahku kemudian menepuk kepala ini pelan.

“Aku sayang padamu. Aku memang tidak mencegahmu pergi tapi bukan berarti aku tak sayang padamu. Aku hanya ingin kau mendapatkan hal terbaik. Aku selalu mendukungmu,” ucap Sehun.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku sangat heran saudara kembarku bisa bersikap begitu manis.

“Apa kau sakit, Sehun?” itu satu-satunya kalimat yang dapat kuucapkan.

Sehun memutar bola mata. Dia memukul dahiku dengan keras. “Dasar bodoh,” ejeknya.

Sehun kembali normal.

Pemuda itu dengan malas kembali ke kursinya. Ia berpakaian santai kali ini. Itu artinya dalam sehari Sehun tidak ingin ke mana-mana.

“Apa kau tidak pergi main dengan Chanyeol?” aku memancingnya.

Sehun menggeleng. “Kau tidak jadi ikut donor darah pasti,” balas Sehun.

Aku mengangguk. “Tubuhku ini tidak bisa diajak kerjasama.”

“Jongin meneleponku beberapa kali tadi, menanyakan kau sudah sampai rumah atau belum. Dia khawatirnya terlalu berlebihan,” celetuk Sehun, kini ia mengganti saluran televisi dengan asal. Sehun menghela napas kasar. “Kalau kau memutuskan kuliah di London, tolong hubungi dua pria berengsek yang kebetulan temanku itu dengan rutin. Aku tidak ingin jadi burung hantu yang disuruh-suruh menyampaikan pesan dan mata-mata mereka,” lanjut Sehun. Dia cemberut.

Aku kehilangan kata-kata. Hatiku berdebar sangat keras. Ternyata Jongin masih khawatir padaku.

Ah, jangan salah sangka dulu Rae. Jongin begitu karena dia sudah lama mengenalmu. Dia cemas pasti disebabkan rasa bersalah. Bukan karena hal lain. Aku berusaha mengendalikan kegembiraan yang membuncah.

“Oh Rae,” seseorang menyapaku ketika aku keluar dari rumah. Pemuda yang sangat aku kenal, suaranya aku hafal di luar kepala.

Aku melihat Kim Jongin masih dengan kemeja biru muda dan celana jeans. Dia membawa tas ransel hitam di bahu. Wajahnya tampak lelah, mungkin acara donor darah itu membuatnya begitu.

Aku hanya mengangguk sebagai balasan atas sapaannya lalu kembali berjalan. Aku bingung harus menjawab bagaimana karena semuanya berubah sangat aneh setelah kejadian donor darah tadi pagi.

Aku hendak ke Seven Eleven membeli es krim untuk Sehun. Well, bukan dengan suka rela aku menjadi pesuruh kakak kembarkuaku kalah dalam berdebat, seperti biasanya.

“Oh Rae,” sekali lagi dia memanggilku kali ini diiringi langkah kakinya menyusul. Tak butuh waktu lama bagi Jongin untuk menyamai posisiku. “Kau akan pergi ke mana?” tanyanya.

Aku menunjuk jalan di depan. “Sevel,” balasku singkat. Aku merapikan surai yang kukuncir satu.

“Ini sudah malam. Kenapa tidak diantar Sehun?” ujar pemuda itu.

Aku berhenti sembari menatapnya tajam. “Ini sudah malam, lebih baik kau lekas pulang,” timpalku kaku.

Jongin menampakkan wajah datar dan tak tertarik seperti biasanya. “Kebetulan aku juga ingin ke Sevel. Jadi, ayo,” ajaknya. Ia meraih tanganku kemudian menariknya begitu saja tanpa persetujuan dariku.

Jelas-jelas dia sangat lelah. Jongin malah repot-repot mengantarku ke Sevel, kini dia mengajakku berhenti dulu di kursi depan toko tersebut setelah membayar berbagai makanan ringan serta es krim kesukaanku. Tidak ada alasan jelas kami di sini, hanya sekedar duduk bersama, ia menatapku saja tanpa bicara.

“Apa kita akan begini terus? Aku bosan,” akhirnya ocehan tersebut keluar dari bibir ini. Aku tidak tahan berhadapan dalam diam terlalu lama dengan Kim Jongin. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya mengenai harinya. Aku penasaran, apakah Jongin bahagia? Apa saja yang Jongin lakukan seharian ini bersama Summer?

Kenapa aku ingin tahu?! Padahal, Jongin keliatan cuek sekali.

Jongin tersenyum simpul. Tarikan bibir itu selalu menjadi favoritku, entah sejak kapan atau sampai kapan.

“Apa saja yang kau lakukan hari ini, Rae?” tanyanya pada akhirnya. Ia menyangga dagu. Pupil hitam itu menatapku, menunggukuseolah apa yang akan kukatan adalah hal paling penting  sedunia.

Aku merasakan pipiku memanas. Ah, astaga. Aku rasanya bisa merebus telur di pipi ini saking panasnya. Sudah gila, aku benar-benar gila.

“Aku hanya bersantai di rumah, rasa mualku tadi hilang setelah pergi dari sana,” jawabku datar seolah pertanyaannya itu tidaklah penting.

Raut Jongin berubah sedih. “Maaf soal tadi. Aku sungguh tidak bisa mengantarmu.”

Aku menghela napas kasar. “Aku tahu, kau tidak dapat meninggalkan Summer sendirian

Bukan Summer. Donor darah itu bisa gagal kalau aku tidak ada. Sementara banyak orang yang menunggu hasil dari donor darah untuk operasi keluarga mereka,” Jongin menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Ia membuang muka. “Aku tidak ingin orang-orang yang membutuhkan darah itu terlambat mendapatkannya seperti ibukku dulu.”

Aku tidak tega melihat Jongin sedih. Semua hal mengenai ibunya menjadikan pemuda itu berduka. Ia sangat sayang pada ibunya yang kini terbaring di rumah sakit, koma karena kecelakaan lalu lintas. Aku pun beranjak, lalu memeluk Kim Jongin. Pemuda ini memang terlihat dingin tetapi hatinya sangat hangat. Dia bersikap begini hanya pada orang-orang yang membuatnya akrab serta nyaman.

“Aku tidak marah padamu, Jongin,” kataku lembut sambil mengusap punggungnya.

Jongin membalas. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mendengar deru napas teraturnya. Rungku menangkap detak jantungnya. Suara yang mengalun itu sangat indah.

Aku melonggarkan dekapan kami untuk menatap parasnya. Aku menarik ujung bibir saat dia tersenyum padaku. “Ayo pulang, dingin,” keluhku, kemudian berdiri.

Jongin mengangguk. Dia melepas jaket yang tadi membalut tubuhnya. Ia membantuku memakainya.

Baru beberapa meter kami melangkah dalam diam, ponsel Jongin berdering. Dia mengangkat sebelah alisnya ketika membaca nama yang tertera di ponsel tersebut.

“Siapa yang menelepon?” tanyaku saat Jongin memberikan tatapannya padaku.

“Sekretaris Kim,” jawabnya.

Aku menelan saliva, cemas dengan apa yang akan dikabarkan Sekretaris Kim pada kami. Sekretaris Kim adalah pria berusia pertengahan dua puluhan dia bertugas untuk mengikuti Chanyeol ke mana pun si tengik itu pergi. Biasanya, kalau Sekretaris Kim menghubungi kami ada suatu keadaan darurat mengenai Chanyeol. Misalnya, empat bulan lalu ketika Chanyeol kecelakaan sewaktu balapan liar.

Aku melihat Jongin menjauh dariku untuk menerima telepon tersebut. Aku semakin khawatir. Jujur saja, Chanyeol itu yang paling sering membuatku cemas sebab dia paling susah untuk dikendalikan.

“Apa terjadi sesuatu pada Chanyeol?” aku bertanya dengan terburu-buru.

Jongin menghela napas lelah. “Dia balapan liar lagi. Mantan kekasih Hwang Mina menantang Chanyeol balapan

Kalau begitu kita harus mencegahnya, tangan Chanyeol belum sembuh,” aku memotong. Aku menarik Jongin agar bergegas.

Jongin menghentikanku. “Aku antar kau pulang dulu. Aku akan ke sana bersama Sehun.”

Aku menggeleng. “Sehun pasti sudah tidur sekarang. Bersamaku saja oke, aku harus memastikan si bodoh itu baik-baik saja. Aku tidak akan tenang jika menunggu di rumah.”

Jongin melihatku lamat. Dia mengamati kekhawatiran itu, tak berselang lama Jongin pun mengangguk. “Kau harus tetap berada di sampingku sewaktu kita di sana.”

Aku menyetujuinya.

Kepalaku pusing melihat keramaian itu. Sirkuit balap yang dimaksud Jongin adalah jalan raya utama yang terletak di pinggir Kota Seoul. Banyak orang-orang yang berkumpul di sana. Mereka berteriak-teriak. Tak hanya itu bau alkhol di mana-mana, dentuman musik terdengar sangat berisik. Aku melihat sekitarku, wanita-wanita berpakaian minim banyak berkeliaranada rokok di tangan mereka. Ini pertama kalinya aku datang ke sini. Biasanya Sehun, Jongin, atau pun Chanyeol enggan membawaku kemari. Lebih tepatnya melarangku untuk datang.

Tangan Jongin menggenggamku erat. Tidak terasa hangat lagi karena pikiranku hanya terfokus pada Park Chanyeol sialan itu. Aku sangat takut Chanyeol akan berada di rumah sakit lagi. Aku tidak ingin dia sakit atau terluka seperti dulu. Dia sudah berjanji padaku untuk menjauhi semua hal yang dapat membahayakan nyawanya. Namun, dia mengingkari itu hanya untuk kekasihnya. Dasar idiot.

“Di mana Chanyeol?” tanyaku pada Jongin yang sibuk mengawasi sekitar. Ia menarikku semakin dekat pada tubuhnya untuk menghindari ragaku bersentuhan langsung dengan orang-orang yang berada di sana.

“Chanyeol sudah turun ke jalan. Dia berada di tengah pertandingan,” jelasnya. Dia menunjuk ke arah orang-orang bersorak semakin keras. “Garis akhirnya berada di sana,” sambungnya.

Aku mengangguk. Aku mengikuti langkah Jongin. Aku menunggu di sana sembari menatap jalan senggang itu, berharap Park Chanyeol akan baik-baik saja. Jongin menggosok tanganku yang kedinginan. Dia beberapa kali menghiburku. Si brengsek itu diberkati sembilan nyawa, begitu kata Jongin yang lantas membuatku tersenyum sekilas.

Suara kendaraan terpacu terdengar semakin mendekat. Aku melihat lampu menyorot, dua kendaraan yang saling mendahului. Sekelebat di antara kerumunan, netra ini menangkap sosok Hwang Minakekasih Chanyeol, tengah memakai rok mini dan baju yang memerlihatkan perut. Emosiku memuncak, jadi gara-gara gadis murahan ini Chanyeol memertaruhkan nyawanya. Aku lebih membenci Mina daripada Summer. Menyebalkan.

Chanyeol keluar sebagai pemenang. Aku merangkai semua adegan itu di serebrum ini. Mina langsung menghampiri Chanyeol. Wajah sahabatku itu sangat datar ketika orang-orang menyorakinya. Aku menyengkram tangan Jongin saat Hwang Mina menarik leher Chanyeol kemudian mereka berciuman. Chanyeol tidak membalas kecupan itu, matanya tetap terbuka lebar. Ada kehampaan dalam sikap si pemuda.

“Sialan, mereka bersenang-senang. Kita justru di sini seperti orang bodoh memikirkan dia,” cetusku bersamaan dengan itu aku membebaskan kungkungan Jongin. Kemurkaan besar mengiringi langkahku menuju mereka.

Kekuatan dari mana, aku juga tak tahu asalnya. Aku menerobos kerumunan yang mengelilingi Chanyeol dan Hwang Mina. Kerusuhan yang kubuat itu ternyata mendapatkan atensi Chanyeol. Pemuda itu mendorong Mina menjauh. Dia memberikan tatapan khawatir padaku membuang jauh-jauh ekspresi dinginnya.

“Rae, kenapa kau ada di sini?” itu kalimat yang terucap dari bibir Chanyeol, nadanya cemas.

Aku melihatnya mulai dari atas hingga bawah, memastikan jika Park Chanyeol baik-baik saja. Hatiku lega, tapi kemarahan ini masih membakar. Refleks tanganku terangkat kemudian menampar wajahnya.

Chanyeol sangat terkejut. Ia memegang rahangnya yang baru saja terkena kemurkaanku. Kendati demikian, aku belum menemukan kemarahan pada dirinya. Dia justru menampilkan wajah sedih.

“Kau mengingkari janjimu padaku,” aku berbisik kecewa. Rasanya aku ingin menangis sekarang. Park Chanyeol yang selalu mengerti diriku, memenuhi apa pun yang kuinginkan. Dia justru melupakan janjinya untuk tidak balapan liar lagi.

Aku berbalik. Aku enggan meneteskan airmata sialan ini di hadapannya. Aku mendapati Jongin berada di sana, menatap Chanyeol marah. Aku menggeleng ke arah Jongin ketika pemuda itu akan menyusulku mendekati Chanyeol.

“Rae, tunggu,” Chanyeol menarikku sampai berbalik.

Chanyeol menatapku khawatir dan penuh penyesalan saat aku mulai melelehkan tangis. “Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Jangan menangis. Aku sangat sedih melihatmu begini.”

Chanyeol berusaha menghapus airmataku ketika aku memukul kepalanya beberapa kali. Dia pasrah.

“Aku benci menangis di depan orang lain. Tapi, kau justru membuatku menangis di depan banyak orang. Aku membencimu,” gumamku pelan seketika Chanyeol menarikku dalam pelukannya. Dia menyembunyikan kepalaku di dadanya agar orang lain tidak dapat melihat wajah berdukaku.

“Maaf Rae, maafkan aku,” Chanyeol berbisik pelan mengulang permintaannya tersebut berulang kali.

“Aku sangat marah padamu. Aku marah.” Aku membalasnya.

Bukan, ini bukanlah perasaan marah. Aku terlampau putus asa karena terlalu khawatir padanya. Rasanya aku sangat sedih.

Aku kelelahan setelah menangis. Mataku rasanya sangat berat. Jongin tampaknya tahu apa yang kubutuhkan sekarang, dia menyandarkan kepalaku ke bahunya. Aku memejamkan mata, mengantuk.

Kami sedang berada di mobil yang dikemudikan Sekretaris Kim. Chanyeol duduk di depan, sementara aku dan Jongin berada di kursi penumpang belakang. Kejadian beberapa menit lalu memang penuh drama, rasanya aku ingin sekali mengubur diriku dalam-dalam jika mengingat apa yang kulakukan tadi. Aku menangis, memeluk, dan memarahi Park Chanyeol di depan umum. Oh Rae yang elegan serta sangat bermatabat turun derajat karena seorang laki-laki bodoh bernama Park Chanyeol. Hm … Chanyeol memang tidak mengejekku atas sikap emosionalku tadi. Dia justru tersenyum sepanjang jalan. Chanyeol menarikku pergi dari keremunan itu, tanpa memedulikan Hwang Mina yang meraung-raung.

“Dia kelelahan sepertinya,” vokal Chanyeol mengisi rungu. Aku tetap menutup mata, malas mendengar ocehannya. “Kau lebih pintar sekarang Sekretaris Kim. Aku kira kau akan memanggil Direktur Park yang agung itu ternyata malah Rae,” lanjut Chanyeol, nadanya menyindir.

Aku mendengar suara tawa Sekretaris Kim yang berat. “Karena kau sudah mulai dewasa. Kau tidak takut lagi dengan amarah ayahmu. Kau lebih takut Rae

Aku akan membuat perhitungan jika kau melakukan ini lagi,” Jongin memotong perdebatan mereka. Entah ucapan pemuda itu ditujukan kepada siapa. Aku tidak tahu.

Chanyeol mendengus. “Okay, aku juga tidak ingin Rae berada di tempat seperti tadi. Aku tidak ingin tubuh Rae berbau asap rokok,” jelas Chanyeol.

Jongin tidak lagi menimpali. Aku merasakan tangan Jongin membelai suraiku dengan lembut dan pelan. Dia meletakkan dagunya di puncak kepalaku.

Aku mendengar tarikan napasnya yang dalam.

“Jangan terlalu cepat menyadari perasaanmu padanya, Rae. Aku mohon,” bibir Jongin berucap sangat pelan hanya aku yang dapat mendengarnya.

Perasaan apa?

Untuk siapa?

Kenapa dia terdengar sedih?

Kenapa dia memohon?

Aku sama sekali tidak memahami ungkapan pemuda itu.

-oOo-

Hai, terima kasih sudah membaca sampai selesai :’).

Beberapa komentar di part sebelumnya ada yang bilang ini mirip drama Great Seducer karena ada satu orang cewek dalam geng mereka hehehe. Iya, aku sempat nonton drama itu episode 1-4 kalau gak salah dan menarik. Sebenarnya, aku sudah memikirkan Rae berada di antara Sekaiyeol sudah lama dari aku nulis Datum dulu. Beberapa sifat Chanyeol aku olah lagi karena terinspirasi dari tokoh di drama Great Seducer. Aku membuat jalan cerita ini benar-benar beda dari drama itu, semua yang ada di sini lepas dari cerita lain. Aku memikirkan sendiri setiap detail yang ada di sini. Kecuali cinta segitiga yang memang uda ada di banyak cerita. Aku harap kalian tahu maksudku.

Hmm… itu saja yang ingin kusampaikan. 😀

Btw, aku masih bingung ini Rae nanti jadinya sama siapa :’).

Advertisements

136 comments

  1. Nggak chanyeol nggak jongin kayak nya sama2 suka rae deh.. Bingung sama siapa si rae..
    Keep fighting kak.. 😘❤

  2. Apa yang kuharapkan mereka uwu tapi waktu baca pertama kali aku masuk dlm squad jonginrae skrg setelah mengulang chanyeol emang da best lah. Kurang apa coba dia ngelindunginnya, aku bakal luluh sejadi-jadinya kalo jadi rae :v

  3. Makin seru!!penasaran, untung kebuka pas partnya udah lengkap. Jadi ngk ngegangutung. Si rae makin direbutin.

  4. Poliandri aja, Oh Rae! 😁🙊

    Tampaknya, baik Chanyeol maupun Jongin punya kekuatiran yang serupa terhadap Rae. Chanyeol takut Rae jatuh cinta sama Jongin. Begitu pun sebaliknya, Jongin takut Rae jatuh cinta sama Chanyeol.

    Maka dari itu, poliandri aja, Rae atau ga memilih salah satu dari mereka, cari cowok lain 😂

    Kalo soal feel mah, Kak Titis jagonya 🙂👍

  5. Gakuat sih ini ada apa, apa jangan jangan ini tuh keposesifan si rae aja sama 3 cowok itu? Atau dia punya perasaan lebih ke salah satunya *re:chanyeol* yg dia gasadari hmm

  6. Baca sendiri gemes sendiri, kak titis emanng the best. Semangat berkaryanya! Rae nggak usah sok nggak paham, Chanyeol demen ama lu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s