Perfect Match: We Are Not Be Alright Again

 Perfect Match 3

Previous:

Prolog – Before Our Story Begin – I Was Love Him – The Definition of Love – Because I’m Your Pain Killer [Special Part] From the Past To The FutureIt’s BeginningWhen The Sun Embraces Me So Tight

“Before anything, I’m sorry. And I’m sorry and I’m sorry again. It’s all my fault. It’s all me. I told you I shouldn’t have existed.” Sorry, Heize

-oOo-

Aku terus berjalan sambil menarik koper. Aku memang tidak mendengar panggilan tergesa dari seseorang, tapi aku yakin jika Kim Jongin tengah melangkah mengikuti. Pria itu mengenal diriku dengan baik, dia tahu bahwa aku akan semakin marah apabila dia menyebut namaku. Jongin hanya berjalan dengan tenang di belakang. Aku yang memiliki ego setinggi langit, tentu saja enggan menengok barang sedetik saja.

Aku tidak tahu ke mana arah yang kuambil, sedari tadi aku hanya mengitari area terminal kedatangan bandara. Aku berusaha mencari taksi. Namun, selalu kalah cepat dengan orang-orang yang lebih tangkas. Gerak tubuhku semakin melambat karena perasaan marah yang sudah meletup pada pria bernama Kim Jongin.

Bruk. “Aw!” Suara tabrakan itu terdengar bersamaan dengan keluhan sakit dari bibir ini.

Aku jatuh ke lantai setelah menabrak troli yang dimainkan oleh anak-anak berusia belasan tahun. Aku memandang mereka marah, rasanya sakit. Ah kenapa hari ini menyebalkan sekali?

“Astaga, maafkan putra kami,” suara seorang ibu yang aku pastikan sebagai orangtua anak-anak bar-bar itu terseok-seok mendekat ke arahku.

Aku menghela napas lelah, hanya mengangguk, tanpa senyum. “Argh,” aku berusaha berdiri tapi kakiku sakit.

Tangan yang sangat aku kenal itu menolongku, aku sempat menolak tapi Jongin memberikan tatapan memeringatkan serupa dulu. Netranya menyipit seolah berucap ‘kau tidak punya pilihan lain, selain menerima uluran tanganku’.

Aku mendapati Jongin tersenyum menghanyutkan pada anak-anak nakal yang tengah dipaksa orangtuanya membungkuk. Jongin mnegusap kepala mereka sembari berucap, “Lain kali hati-hati.”

Jongin mengijinkan mereka pergi begitu saja, tanpa menunggu aku membuka mulut. Aku menatapnya tajam, dia menarik ujung bibir dengan sangat lebar. Andai saja, kakiku tidak sakit setengah mati pasti aku sudah meninju wajahnya dan menginjak kaki pria itu.

“Maaf,” dia berucap lagi, tanpa melepaskan tangannya dari pinggangku.

Aku memberontak. “Lepaskan,” cetusku keras.

Jongin memutar bola mata. “Sebagai dokter aku harus membantu pasienku,” balasnya.

Aku berkacak pinggang, “Aku bukan pasienmu!” seruku.

Lantara menimpali bentakan dariku, Jongin justru mengambil gelang merah muda di saku, kemudian memakaikannya padaku. Aku membaca tulisan di gelang itu, Seoul National University Hospital.

“Tadi memang bukan, tapi sekarang iya,” Jongin menyeringai.

Aku menggigit bibir, terlampau lelah.

Kim Jongin, kenapa kau tidak berubah?

Dia membuat semua ini sulit untuk dijalani.

Aku sangat sedih, kecewa, dan marah.

“Kau kekasihnya, ya?” tanya dokter spesialis tulang yang tengah melihat pergelangan kakiku.

Sungguh ini berlebihan karena Kim Jongin sampai meminta seniornya memeriksaku. Aku hanya jatuh, mungkin kakiku terkilir karena sepatu hak tinggi yang tadi kupakai. Bukan berarti aku membutuhkan dokter spesialis tulang. Apalagi, ekspresi Jongin yang tengah menahan tawa semakin membuatku emosi saja. Pria itu mengawasiku dari samping tempat tidur, sementara Dokter Do Kyungsoo meneliti kaki ini.

“Maksud Dokter apa?” tanyaku.

Dokter Do tersenyum padaku. “Jongin tidak biasanya menggangguku karena seorang wanita,” jawabnya.

Aku melotot ke arah Jongin yang melejitkan bahu. “Dulu kami berteman

Apa sekarang sudah melangkah ke jenjang yang lebih mendalam?” potong Dokter Do yang memiliki ekspresi tegas dan ramah. Dia kelihatan pintar karena kacamata yang bertengger di hidung.

Jongin berdeham, mentralkan suara. “Dia saudara kembar Oh Sehun, Hyung,” ujar Jongin yang lantas membuat Dokter Do mengangguk.

“Ah, jadi gadis ini yang disebut sebagai kutukan cinta pertama Dokter Kim,” gumam Dokter Do pelan, tapi masih dapat ditangkap rungu kami.

“Bukan aku, Dokter Do. Jongin berkencan dengan banyak gadis,” aku menimpali.

Jongin memutar bola mata, “Bagaimana kondisi kakinya?” tanya Jongin membalikkan topik.

Dokter yang kini mengenakan jas putihnya itu tersenyum simpul. “Kakinya memar karena benturan keras. Aku memberinya obat untuk pereda nyeri. Kira-kira beberapa hari lagi, Nona Oh sudah dapat berjalan dengan normal,” jelas Dokter Do.

“Terima kasih, Hyung,” Jongin berujar sembari menepuk bahu seniornya yang hendak meninggalkan ruangan ini.

Aku bertanya-tanya cara Jongin mendapatkan ruang pasien untukku. Maksudku, lukaku ini tidak parahdia justru memasukkan aku ke kamar VIP yang sangat luas dan menakutkan. Aku tahu dia dokter di sini, namun ini terlalu berlebihan.

“Aku ingin pulang,” kataku pada Jongin.

Jongin menggeleng. Ia melihat arloji. “Paling tidak kau harus di sini selama enam jam, menunggu obatnya bereaksi,” ia membalas.

Aku menekan emosiku. “Aku tidak ingin di sini. Aku lapar. Aku bisa mati kalau tidak makan

Kalau begitu, apa kau perlu infus untuk mencegah kematianmu itu?”

“Apa kau gila?” aku mulai mengumpat.

“Sedikit,” dia masih bisa berkelakar. Jongin mendekat ke arahku dia membenarkan posisi selimut ini. Pria itu tetap tersenyum, meskipun aku menepis tangannya. “Kau harus menuruti perkataan dokter,” sambungnya.

“Kau bukan dokterku. Dokter Do yang memeriksaku

Aku juga seorang Dokter, Rae,” ia memotong.

“Aku tidak peduli!” seruku marah.

Suara pintu terbuka. Aku dan Jongin langsung memberikan atensi pada seorang pria jangkung yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Aku terkejut ketika mengetahui bahwa itu adalah Oh Sehun. Dia terlihat kusut sekali, ada lingkaran hitam di bawah mata. Sehun menatapkulebih tepatnya tempat tidurku yang luas dengan penuh harap.

“Kau seperti zombie,” aku berkata sembari menggelengkan kepala.

Sehun menepuk bahuku sebagai gerakan non verbal menyuruhku bergeser. Dia berbaring di tempat tidur bersebelahan denganku, bahkan Sehun dengan tidak tahu malunya merebut bantal yang kugunakan. Dia memejamkan mata.

“Bangun, aku memintamu menjemputku di bandara, tapi kau malah mengirim Jongin

Berhenti merengek Rae. Aku mana bisa pergi ke bandara. Aku ada jadwal piket di instalasi gawat darurat semalam. Kepalaku pusing. Kalian jangan bertengkar, aku ingin tidur satu jam saja. Kalau kalian ingin mengoceh, silahkan keluar dari sini,” Sehun berbicara dengan datar.

Aku menghela napas. Sebenarnya, siapa yang pasien di sini?

Jongin tertawa setelah melihat ekspresiku yang tidak terima.

“Kami hanya punya waktu istirahat sebentar,” jelas Jongin, dia berbisik kemudian duduk di kursi samping ranjang pasien.

“Lalu, kenapa kau masih di sini? Pergi yang jauh sana. Kata, Chanyeol kau akan ke Seoul beberapa minggu lagi,” aku mengusirnya.

“Aku memang kembali lebih awal dari rencana semula. Aku juga sengaja mengambil cuti untukmu,” jawabnya. Jongin berhasil membuat pikiranku berfokus lagi padanya saat dia mengimbuhkan, “Apa kau tidak merindukan aku, Oh Rae?”

Aku menggigit bibir. Iya, aku merindukanmu, Kim Jongin. “Tidak, kau sudah pergi terlalu lamauntuk apa aku merindukan seseorang yang tidak pernah memikirkan diriku.” Bibir dan hatiku melayangkan jawaban yang berbeda.

“Dasar keras kepala,” Sehun berucap lantang di tengah tidurnya.

Aku memukul kepala saudara kembarku itu, dia diam saja melanjutkan tidurnya.

Aku kembali menatap Jongin yang bungkam, aku mendengar alur napasnya yang sangat familiar di serebrum ini. Lima tahun telah berlalu, aku mengira telah melupakan segalanya tentang pria itu, tapi ingatan yang tertidur justru terbangun lagi.

Apa ada yang berbeda?

Tentu saja ada, aku menyadarinya dari awal diriku bertemu dengannya lagi. Namun, aku akan memastikannya terlebih dahulu sebelum mengatakannya kepada siapa pun.

Aku mengatupkan mata.

Aku ingin lari sebentar dari tatapan tajamnya.

Aku ingin berpikir lebih tenang.

“Bagaiamana jika aku merindukanmu, Rae? Selalu, setiap saat.” Itulah kalimat yang diucapkan Jongin setelah aku pura-pura tertidur.

Kenapa dia selalu menjadi pengecut?

Atau aku yang tidak pantas diperjuangkan.

Aku sedang menikmati makan malam di kamar rumah sakit saat seorang wanita masuk dengan raut ceria. Dia teramat menarik dengan kulit putih bersih dan paras rupawan. Jung Nara sahabat baikku yang setia mengirimkan surat elektronik selama aku di Sydney. Selain menjadi teman yang baik, Nara juga berperan sebagai kekasih saudaraku. Aku awalnya sangat terkejut ketika mereka memutuskan untuk bersama karena seingatku sewaktu Nara dan Sehun bertemu yang ada hanya pertikaian. Yah, memang perasaan orang sukar untuk ditebak.

Nara melambai ke arahku sembari menampilkan senyum tiga jari miliknya. Ia langsung memelukku sangat erat. Nara juga mencium pipi kanan dan kiriku.

“Demi apapun Rae, kau semakin cantik,” puji gadis yang kini mengenakan mini dress kuning cerah, surainya dicat warna merah jambu.

Aku tertawa. “Kau juga semakin bersinar, Nara.” Aku melipat tangan di depan dada. “Aku merasa sangat terhormat karena aktris terkenal sepertimu mengunjungi orang biasa serupa diriku,” sambungku.

Siapa yang mengira gadis cerdas dan juara olimpiade nasional justru memutuskan untuk masuk di universitas seni? Nara yang penuh kejutan melakukannya, dia menggemparkan sekolah kami ketika dia memilih demikian. Dari sekian banyak orang yang menganggapnya tolol karena keputusan itu, Oh Sehun justru mendukungnya. Itu yang membuat mereka berkencan hingga sekarang. Sehun menjadi kekuatan bagi Nara ketika masalah menerpanya. Nara berperan sebagai sandaran Sehun saat pria itu lelah. Tentu saja, mereka masih terus bertengkar sepanjang hari.

Nara mengerucutkan bibir. “Siapa yang berani menyebut kekasih seorang Park Chanyeolpemilik KH Group sebagai orang biasa?” Ia menyeringai. “Kau itu belahan jiwaku yang lain. Aku langsung membatalkan semua jadwalku saat Sehun bilang kau masuk rumah sakit,” ujar Nara, dia duduk di ujung ranjang.

“Hanya kakiku yang bengkak, selebihnya aku baik-baik saja. Jongin terlalu berlebihan,” aku menimpali.

Nara tersenyum penuh arti. “Apa jantungmu baik-baik saja setelah bertemu dengannya?” tanya Nara jahil.

Aku menepuk bahunya. “Aku sudah melupakannya,” jawabku. Aku melihat ke sekitar, Kim Jongin dan Oh Sehun tak ada di ruangan ini ketika aku bangun dari tidur. Seorang suster mengantarkan makanan untukku. “Dimana Jongin dan Sehun tadi mereka di sini?”

Nara mendengus, dia menatapku tidak percaya. “Kata Sehun kau menyuruh Jongin pergi dari sinisekarang kau malah mencarinya.”

Aku meletakkan sumpit yang tadi kupegang kemudian meneguk jus melon yang tersaji. “Aku marah karena dia pergi dan datang tiba-tiba. Walaupun, perasaanku sudah tidak seperti dulu, kami saling mengenal sejak kecil. Paling tidak dia harus memberitahuku,” aku menjelaskan.

Nara mengangguk. Dia menghela napas panjang. “Kau juga jangan menyakiti Chanyeol. Pria itu memang sering berkencan dengan gadis lain sewaktu kau di Sydney, tapi seperti yang kuucapkan sebelumnya dia sangat menyukaimu,” kata Nara.

Jangan terkejut.

Aku yang menyuruh Chanyeol mencari kekasih selama masa kuliahnya agar rasa bersalahku hilang. Aku ingin dia menemukan gadis lain yang mungkin dapat dia cintai. Namun, Park Chanyeol selalu kembali padaku. Pria bodoh itu memberikan segalanya untukku. Dia sudah mencoba jatuh cinta pada yang lain, kendati demikian hatinya enggan.

Ah, kenapa jadi memikirkan Chanyeol lagi?

Apa karena selama beberapa bulan belakangan ini aku jarang sekali berjauhan dengannya?

Aku menghempaskan diri ke ranjang. “Aku jadi ingin mendengar suaranya,” gumamku. Aku melihat ponsel yang tergeletak di nakas. Benda itu tidak berdering sekali pun. Biasanya, aku dapat mendengar vokal khas Chanyeol dua jam sekali. Chanyeol selalu menyempatkan diri untuk meneleponku.

“Aku jadi iri, kau dan Chanyeol itu pasangan yang sangat manis,” Nara berucap sambil menerawang.

Atensiku terfokus lagi pada Nara. “Apa yang sudah saudara kembarku lakukan padamu?” tanyaku penasaran.

Nara tertawa. Gadis itu menunjukkan jari manisnya yang terpasang cincin indah berhiaskan mutiara cantik di tengah. “Dia melamarku,” Nara memamerkan.

Aku membolakan mata. “Astaga! Kau serius akan menikahi si Jelek semacam Oh Sehun?” Aku terlampau terkejut.

Nara mengangguk dengan semangat. “Aku tidak bisa hidup tanpa saudaramu itu, Rae. I’m sorry, but he looks so handsome for me.”

“Cinta benar-benar buta,” aku berbisik, tapi tetap memeluk Nara. Aku juga sangat senang saudaraku yang tidak baik bisa mendapatkan wanita terbaik seperti Nara.

“Rae, I think you must know about this,” Nara berbisik sangat pelan yang lantas mendapatkan satu tatapan penasaran dariku. Nara melanjutkan sebelum aku sempat bertanya. “I’m pregnant.”

“Wow! Jung Nara!” Aku berteriak. Percampuran antara rasa bahagia, terkejut, dan terkesan. “Kalian jarang sekali bertemu karena sibuk. Bagaimana bisa?” aku tidak dapat menutupi nada penasaran itu.

Nara memberikan cengiran lebar. “Justru itu, rasa rindu kami sangat besar jadi lebih bersemangat untuk

Okay, stop. Aku tidak ingin mendengar lebih jauh lagi,” potongku.

Nara memicingkan mata. “Don’t say that, you never did that with Chanyeol,” ia berucap pelan.

Aku membuang muka. Pura-pura tak mendengar ucapan Nara. Wajah wanita itu semakin mendekat dia menggodaku dengan ekspresinya. Oh, dia pantas sekali mengambil profesi sebagai aktris. Aku membatin dalam hati.

Yes, we did it,” ujarku pada akhirnya.

Nara bertepuk tangan. “Bagus, bawa Chanyeol ke sini. Bibirmu memang tidak mengatakan kau sangat mencintainya, tapi tubuhmu sudah,” putus Nara. Gadis itu menarik tanganku. “Lagi pula, tiga hari lagi kau harus menemaniku dan Sehun foto prewedding,” lanjutnya.

Aku diam tidak menyetujuinya.

Nara selalu semaunya sendiri.

Dari banyak hal yang berubah, gadis itu tetap sama dari yang dulu.

Dia lebih peka. Nara tahu lebih dulu jika aku menyukai Jongin waktu itu, kini dia mengenali perasaanku lebih baik dari siapa pun.

“Apa semuanya baik-baik saja, Rae?”

Aku diam sejenak saat Chanyeol menyebut namaku. Chanyeol jarang sekali, memanggilku dengan nama, dia selalu mengatakan sayang, baby atau darling.

“Oh Rae?” ulang Chanyeol, suaranya menggema melalui ponsel yang kini berada di telinga.

Aku menghubunginya terlebih dahulu karena aku ingin tahu kabarnya hari ini.

“Iya,” aku menjawab singkat.

Aku mendengar Chanyeol menghela napas, dalam pikiranku memutar adegan bagaimana ekspresinya sekarang. Baru satu hari, aku sudah ingin melihatnya.

“Kalau begitu, aku tutup teleponnya, ya? Aku masih ada pekerjaan―

Aku ada di rumah sakit,” aku memotong ucapannya. Ada jeda sejenak. “Aku merindukanmu,” lanjutku.

Aku mendengar Chanyeol tertawa. “I miss you too, Darling,” balasnya lembut yang langsung membuatku tersenyum. “Jongin sudah mengatakannya padaku jika kau menabrak sesuatu saat di bandara. Aku tidak kaget, kau memang ceroboh.”

Rasanya ada yang ganjil sebab aku hanya mendengar suaranya melalui telepon. “Aku ingin melihat wajahmu. Aku iri pada Olivia yang saat ini bisa menatapmu,” gumamku tanpa berpikir.

“Aku sebentar lagi akan rapat, kau sukses membuat konsentrasiku buyar, Sayang,” kelakar Chanyeol. “Semua materi yang sudah aku hafal sekarang berganti dengan ucapanmu barusan,” sambungnya.

Aku menggigit bibir. Aku tidak mampu mendengar lebih banyak lagi sebab suara jantungku yang berdetak mendominasi. Dulu semuanya hanya sebatas rasa bersalah dan pura-pura. Kenapa sekarang justru terasa sangat nyata?

Ini menyenangkan.

Rasa malu itu.

Pipi yang memanas.

Perutku yang tergelitik seolah dipenuhi kupu-kupu.

Semuanya dapat aku rasakan hanya ketika Chanyeol berada di sekitarku.

Rasanya menyenangkan.

“Chanyeol, akuaku mencintaimu,” entah aku sadar atau tidak, bibirku berucap demikian.

Hening.

Tidak ada jawaban dari pria itu. Seolah Chanyeol menghilang begitu saja.

Aku semakin cemas. Apa aku terlalu terburu-buru jadi dia merasa muak denganku?

“Maaf, aku … aku hanya bingung,” kataku pelan setelah jeda beberapa sekon yang terasa sangat lama. Aku heran sendiri, kenapa aku justru minta maaf? Oh Rae yang jarang memohon kini dengan mudahnya mengatakan hal tersebut. “Bye,” ucapku sebelum aku menutup telepon. Aku bahkan memutuskan sambungan sebelum Chanyeol menjawabnya. Aku terlalu takut.

Aku mematikan ponselku, lalu meletakkannya.

Kenapa Chanyeol hanya diam?

Apa dia merasa tak nyaman?

Bagaimana jika dia tidak mencintaiku lagi?

Pertanyaan itulah yang hinggap di kepalaku, berputar-putar di sana sampai aku pusing. Aku ingin menangis rasanya. Aku terlalu khawatir.

Aku sibuk tenggelam dalam benakku hingga tidak tahu apabila seseorang tengah berdiri di ujung ruangan sambil bersandar dan melipat tangannya. Aku baru menyadari suaranya ketika dia mulai batuk-batuk kecil.

“Astaga, Jongin. Kau mengagetkan aku,” vokalku terkejut. Aku melotot padanya. “Sejak kapan kau di sana?” tanyaku.

Jongin tersenyum simpul, tarikan bibir khas dari si pria. Dulu itu menjadi hal paling menyenangkan yang mampu membuatku salah tingkah. “Lima menit lalu, lebih tepatnya saat kau mengucapkan ‘aku mencintaimu’,” jawabnya datar.

Jongin mendekatiku, dia memeriksa kakiku. Sementara, aku hanya bungkam sebab diriku sendiri kacau. Aku merasa jika akhir-akhir ini situasi enggan berpihak padaku.

“Aduh,” keluhku ketika Jongin mengetuk bagian yang bengkak.

“Kakimu mulai membaik,” Jongin mengoarkan argumen. Dia menatapku lamat, kebiasaannya saat menimbang sesuatu. “Apa kau ingin bersenang-senang sebentar, Rae?” tanyanya hati-hati.

“Maksudnya?” Aku menaikkan satu alis.

“Pergi ke pantai seperti dulu

Tidak,” tukasku, tanpa ragu. Aku tak ingin semua kenangan itu semakin naik ke permukaan.

Jongin mengangguk. “Baiklah, padahal aku sudah memesan lobster kesukaanmu yang hanya ada setiap tiga tahun sekali

Mister Big Lobster?” aku menyela, tak percaya dengan ucapannya. Makanan kesukaanku yang terakhir kali kumakan enam tahun lalu, bahkan di Sydney tidak ada.

Jongin enggan langsung menjawab dia hanya menggaruk tengkuk. “Tapi kalau kau menolak, tidak jadi. Toh, lokasi pantai itu juga sama dengan tempat prewedding Nara dan Sehun. Kita ke sana besok atau nanti sama saja,” jelasnya.

Aku menggigit bibir, berpikir keras. Apalagi, tatapan tajam Jongin belum beranjak dariku barang satu sekon saja. Menyebalkan, bukan? Butuh tekad yang kuat untuk menolak dua senjata yang ditembakkannya. Pertama, lobster favoritku. Kedua, mata Jongin yang lama tak kulihat. Aku merindukan keduanya.

Namun tetap saja, aku menggeleng. “Aku tidak mau,” aku berucap tegas.

Itulah akhir percakapan kami hari ini.

Aku menolak untuk hari ini.

Tapi, tidak tahu kalau besok.

Aku memang tak memiliki pendirian teguh, buktinya tubuhku sekarang berada di kursi penumpang mobil Jongin. Pria itu menyetir sambil bersiul-siul dan tersenyum setiap lima menit sekali. Aku kira harga diriku yang setinggi langit sukar untuk dijatuhkan, tapi Jung Nara dengan mudah membuatku tersungkur hingga berguling-guling demi memungut martabat ini. Ah, Nara memohon padaku untuk melihat lokasi pemotretan prewedding yang akan diselenggarakan besok. Alasannya, ia hanya percaya padaku serta Nara yang tak punya waktu untuk itu. Sayangnya, kakiku tidak dapat digunakan mengendarai sesuatu atau berjalan terlalu jauh. Jadilah, Kim Jongin yang menjadi kandidat menemaniku ke pantai sialan yang kemarin aku tolak.

“Jangan cemberut terus, kau harus membantu seseorang dengan tulus,” vokal si pria berbusana kemeja putih dan celana jeans.

Aku melirik ke arahnya. “Tulus kepalamu,” desis bibir ini. Aku melipat tangan di depan dada. “Sesuai perjanjian, aku tidak ingin kita mengobrol. Aku masih marah padamu,” lanjutku.

Jongin tertawa sangat lebar. Aku jadi kesal sendiri, kenapa kini dia jadi suka menyunggingkan bibir seperti itu?

Okay, as you wish, Rae,” ujar Jongin yang langsung setujujustru membuatku curiga.

Kami sampai di pantai setelah berkendara selama dua jam. Tempat tersebut memang sangat indah, letaknya di daerah Incheon. Aku kerap berlibur kemari ketika masih kecil. Aku rasa Sehun sengaja memilih tempat ini sebagai bagian dari hari bahagianya agar dapat mengingat kembali kenangan ayah dan ibu.

Aku langsung turun dari mobil yang diparkir tak jauh dari bibir pantai. Air laut yang biru, matahari bersinar terik menerpa kulit, dan angin yang membuat suraiku bergoyang. Ini menyenangkan.

Aku melangkahkan kaki pelan-pelan. Jongin mengikutiku dalam diam. Ada beberapa anak tangga yang harus kuturuni. Aku mendesah kecewa, kakiku masih tidak bisa digunakan untuk menuruni tangga batu tersebut. Aku menengok ke arah Jongin yang fokusnya tertuju pada pasir pantai.

“Jongin,” panggilku.

Jongin tidak menoleh, dia memberikan pandangan pada hal lain.

“Kim Jongin,” ulangku. Dia tetap bungkam.

“Kim Jongin!” aku bersuara lebih keras kali ini, sambil menggoyangkan kemejanya.

Jongin memberikan tatapan bertanya. “Kenapa kau mengajakku bicara? Bukannya tadi kita sudah berjanji?”

Sialan, dia pasti tahu kalau kami harus melewati tangga ini. Makanya, dia parkir di sinibukan di tempat biasanya.

Aku menarik napas berusaha sabar. Kakiku pelan-pelan melangkah satu-persatu anak tangga. Namun, tetap saja ngilu.

“Kim Jongin, katanya kau seorang dokter. Kenapa tidak membantuku?” ujarku.

Jongin melejitkan bahu. “Kau bilang dokter yang merawatmu hanya Dokter Do.” Jongin menyeringai, “Aku ini orangnya sangat taat peraturan, Rae.”

Aku menggigit bibir. “Baiklah, perjanjian itu dibatalkan,” sambungku setengah hati.

Jongin tersenyum simpul. Dia mulai membantuku. Tak hanya itu, pria jangkung tersebut berjongkok di hadapanku, kemudian berujar, “Ayo, naik,” pintanya.

Aku menggeleng.

Jongin memutar bola mata. “Cepat atau aku akan berubah pikiran,” ia menimpali.

Dengan sangat terpaksa, aku naik ke punggungnya.

Aku berada di punggung Jongin dengan tangan mengalung sempurna di lehernya. Untung aku mengenakan celana jeans dan kaus hijau, jadi gerakanku lebih leluasa. Aku dapat mencium aroma maskulin dari tubuh pria itu. Sangat berbeda dengan dirinya lima tahun lalu. Tidak seperti aroma Chanyeol yang begitu familiar di hidungku, Jongin tampak asing. Aku berusaha mencari Jongin yang dulu, pemuda yang bisa menenangkanku. Namun, hasilnya nihil.

“Kau tidak berat sekarang,” ucap Jongin saat kami mulai menelusuri bibir pantai.

Aku meletakkan dagu di bahunya. “Kata Chanyeol aku berat,” aku membalas.

Aku bisa mendengar napas Jongin hilang sejenak. “Apa kau sangat menyukainya?” tanya Jongin.

Aku mengeratkan tanganku di lehernya membuat Jongin lantas berhenti. “Aku terus memikirkannya,” ujarku lebih serupa bisikan.

“Kalau begitu, kau boleh mengingat Chanyeol selamanya. Tapi, bisa tidak Rae kau berhenti memikirkannya untuk hari ini saja?” Jongin bergumam.

Aku diam.

Tidak bisa.

Hatiku yang menjawab.

“Nona Jung telah menyiapkan resort untuk Tuan Kim dan Nona Oh, Anda diharuskan menginap karena ada pesta kembang api yang wajib dilihat sebagai bagian dari pemotretan dan resepsi,” ujar pelayan hotel yang menangani lokasi pengambilan gambar Nara.

Jongin dan aku saling menatap. Aku menggeleng kepadanya.

“Terima kasih, tapi kami pulang saja,” jawab Jongin.

“Nona Jung berkata pada saya, jika Tuan Kim baru saja menangani operasi selama delapan jam sebelum berangkat kemari. Ia tidak ingin, Nona Oh dan Tuan Kim terancam nyawanya karena kelelahan berkendara. Tolong terima kuncinya,” ujar si Pelayang pantang menyerah.

Jung Nara, awas kau. Aku mengutuk.

Jongin menghela napas, dia menerima kunci yang diberikan pihak hotel.

“Tenang, kita hanya perlu melihat kembang api setelah itu aku janji mengantarmu pulang

Tidak, kau nanti lelah,” aku memotong. Aku menatap pria itu, kemudian berucap, “Asal kau mau traktir Mister Big Lobster.”

Jongin menaikkan alisnya. “Okay, call!” Ia tetap saja setuju.

Kami menunggu di area bermain pantai. Restoran Mister Big Lobster dan kembang api akan dimulai malam hari. Jadi, kami mempunyai waktu yang cukup untuk melihat-lihat. Aku duduk di pasir beralaskan plastik bergambar semangka, sedangkan Jongin sudah berganti pakaian celana pendekaku curiga kalau dia dan Nara yang mempersiapkan ini semuatapi Jongin beralasan jika dokter memang selalu membawa baju ganti. Pria itu berlarian ke sana kemari seperti anak kecil. Lebih tepatnya, serupa Jongin yang dulu.

Jongin adalah pemuda yang dingin. Namun dia akan berubah begitu hangat dan menyenangkan saat bertemu dengan pantai.

“Rae, apa kau tidak ingin membuat istana pasir?” tanyanya sembari membawa sekop dan ember kecil.

Cute. Pikiranku menilai terlebih dahulu.

Jongin berdecak melihat sikapku yang tidak bersahabat. Dia berjalan ke arahku, cekatan merangkum tubuh ini. Kim Jongin menggendongku seperti sedang mengangkat bulu. Aku sempat memberontak, namun segera bungkam ketika dia mulai tertawa.

“Ya, Kim Jongin!” seruku terkejut ketika si pria menurunkan diriku di guliran ombak kecil yang lantas membasahi bajuku.

“Kau menyukai laut, jangan pura-pura tidak suka,” ujarnya sambil memercikkan air ke arahku.

Aku membalasnya. Dia mulai berlari kecil. Aku bahkan melemparinya dengan sepatu yang kupakai, Jongin menghindar kemudian terpleset hingga terjungkal.

Lucu.

Aku tak sanggup menahan tawaku lagi. Aku terkekeh sampai perutku sakit. Aku menyadari jika Jongin menatapku. Aku membalasnya, hingga netra kami bertemu.

Jongin tersenyum sekali lagi.

Aku menahan napas karenanya.

Sialan, Kim Jongin. Kau benar-benar jahat.

“Akhirnya, aku bisa membuatmu tertawa,” ia berucap. Pria itu mulai meraih sekop dan embernya.

Aku menghampiri istana pasirnya. Dia menarikku ke dalam rencanya sekali lagi ketika Jongin mengucapkan, “Dulu aku pernah berjanji untuk membuatkanmu istana pasir.”

“Baru setengah jadi kemudian Sehun dengan sangat percaya diri menabraknya,” aku melanjutkan cerita yang memang tidak asing bagiku.

“Kau menangis sampai demam. Sepertinya mulai saat itu, aku berusaha untuk menjagamu,” kenang Jongin. Tangannya menepuk gumpalan pasir bercampur air.

“Kau meninggalkan aku selama lima tahun,” gumamku.

Jongin menghela napas. “Maaf, aku kira saat itu diriku akan baik-baik saja tanpamu. Ternyata ….” Ia menggantung perkataannya. Ada jeda di antara kami. Jongin menghela napas sebelum mengucapkan ini, “Ternyata, semuanya berjalan lebih berat dan ketika aku menyadari apa yang kuinginkan … aku sudah terlambat.”

Iya, kau telah sangat terlambat, Kim Jongin.

“Cantik sekali!” Aku berseru senang sewaktu pesta kembang api dimulai.

Pantai di malam hari sangat indah dengan percikan api yang membentuk bunga. Pihak hotel menyiapkan pesta kecil di bibir pantai. Lampu berkerlap-kerlip dinyalakan untuk memberikan penerangan. Ada musik khusus berdansa. Semuanya sempurna dan menyenangkan.

Aku mengawasi Jongin yang sibuk memotret. Dia melambai ke arahku. Aku lantas menarik ujung bibirku untuknya. Respons otomatisku padanya.

Musik mulai diputar, ada beberapa orang yang berdansa. Estetik, menarik, dan romantis. Aku melihat mereka dan merasa iri. Chanyeol pasti suka dengan ini. Aku justru memikirkan pria itu. Ada letupan aneh ketika terbayang ekspresi Park Chanyeol yang ceria, mungkin dia tak akan mengajakku berdansa dengan romantis. Chanyeol justru akan menarik tanganku, kami akan menari gaya bebas.

“Rae, ayo!” ajak Jongin yang serta merta menggenggam tanganku. “Kita berdansa,” tambahnya ketika kami sudah berada di tengah pengunjung yang menari.

Jongin meletakkan tangan di pinggangku. Aku mengalungkan tangan di lehernya. Kami mengikuti musik, dia bergerak perlahan karena kakiku masih kaku.

“Apa kau pernah berdansa dengan Chanyeol?” bisik Jongin.

Aku menggeleng. “Belum,” jawabku.

“Paling tidak, aku orang pertama yang berdansa denganmu,” gumamnya.

Jongin menarikku semakin dekat dengan tubuhnya. Aku merasakan pria itu meletakkan dagunya di puncak kepalaku. Kebiasaannya sejak dulu ketika ada masalah atau hal yang merisaukan.

Sementara aku mengingat parfumnya yang memasuki indra penciumanku. Menyimpannya dalam pikiranku yang terdalam. Nanti ada kalanya aku akan kembali kepada Chanyeol kemudian merindukan pria ini. Aku berusaha memuaskan rasa rinduku agar tidak ada lagi kenangan yang menggantung.

“Jongin, apa kau pernah menyukaiku?” pertanyaan itu terucap begitu saja. Aku terbawa suasana.

Jongin menghentikan langkah dansanya. Dia menunduk agar bisa melihat parasku. Pria itu menggunakan telapak tangan untuk merangkum wajah ini.

Jongin tampak menimbang sesuatu. Dia tersenyum sebagai tanggapan atas pertanyaanku, kemudian ia menarikku ke dalam pelukan.

Tidak ada lagi rasa berdebar seperti dulu.

Aku hanya membeku dalam kehampaansampai Jongin bergumam sesuatu di telingaku. “Always, I loved you once. I love you still, Rae.”

Jongin perlahan mendekatkan parasnya padaku. Jarak kami hanya beberapa inci. Aku bisa menghirup napasnya. Aku merasakan hidung kami bersentuhan. Ini memang salah, aku memikirkan Chanyeol saat pria lain hendak mengecupku. Kendati demikian, aku enggan menghindar.

Lembab adalah jawaban atas pertanyaanku dulu mengenai bagaimana rasanya ketika Jongin menciumku.

Dingin.

Aku tak memejamkan mata karena rasanya terlalu dingin.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” vokal familiar tersebut menginterupsi kami, bahkan di tengah dentuman musik aku bisa mendengarnya.

Park Chanyeol berdiri di sana, ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sudah ditekuk hingga siku dan dasi yang telah dilonggarkan. Sehun dan Nara berdiri di sampingnya. Mereka tampak terkejut sama dengan diriku.

Aku segera melepaskan diri dari Jongin. Aku menyadari kesalahan yang kuperbuat begitu fatal ketika Chanyeol menampilkan raut kecewa.

“Kau bersenang-senang sepertinya,” jelas ucapan Chanyeol ditujukan padaku.

Aku menahan napas. Kakiku melangkah ke arahnya, tanganku meraih Chanyeol.

Aku takut sekali.

Rasa takut ini semakin besar sebab pria itu semakin menjaga jarak.

“Kenapa kau di sini?” aku bertanya pelan.

Netraku mencari jawaban dengan mencuri pandang ke arah Nara serta Sehun secara bergantian. Mereka hanya melejitkan bahu.

“Aku baru sampai. Aku lelah. Aku ingin tidur,” jawab Chanyeol dingin, tidak ada senyum yang biasanya ia berikan padaku. Tak ada pelukan hangat atau kecupan di keningku. Dia berbalik begitu saja seolah menolak kehadiranku.

“Park Chanyeol, please berhenti,” aku mengejar pria yang memiliki langkah kaki jauh lebih lebar daripada diriku.

Aku tergesa meraihnya lagi, mengabaikan kakiku yang masih sakit. Aku mengeluh beberapa kali sebelum pria itu berhenti kemudian berbalik ke arahku.

“Bukankah ini yang kau tunggu selama lima tahun, Rae?” tanya Chanyeol tanpa menutupi nada dingin dalam suaranya. “Jongin menyukaimu, kenapa kau justru kemari?” cecarnya.

Aku menggenggam tangan kekasihku. Demi apapun aku tak ingin melepaskannya barang sebentar saja.

“Aku … aku … aku sudah mengatakannya jika aku mencintaimu,” aku mengungkapkannya terbata-bata.

Chanyeol mendesis. Dia menatapku seolah aku ini orang yang paling dibencinya. “Aku langsung ke Seoul saat kau mengucapkannya kemarin. Aku ingin mendengarnya secara langsung. Nyatanya, semuanya tidak seperti yang aku pikirkan. Oh Rae sudah mendapatkan apa yang  diinginkan, kau tidak perlu menunggu lagi sekarang.”

“Aku tidak ingin kau pergi, Chanyeol,” aku meminta, suara ini menghilang.

Chanyeol memberikan tatapan dingin padaku. “Berhenti menjadi gadis egois, Rae,” balasnya.

“Aku … aku.” Bibir ini tidak sanggup berucap lagi. Dadaku terlalu sesak.

Aku menengadah agar tangisku tidak pecah. Bukan saatnya bagiku untuk menangis. Aku harus menjelaskan apa yang kurasakan padanya. Walaupun demikian, airmataku mulai jatuh satu-persatu sukar dikendalikan.

Pupil Chanyeol menatapku tajam, penuh kemurkaan. Chanyeol tidak pernah melihatku dengan cara itu. Semuanya menjadi sangat berat.

“Aku mencintaimu,” aku kembali berbisik.

Dia justru membuang muka. Tertawa sinis.

Chanyeol bodoh. Idiot. Harus berapa kali aku mengatakannya jika aku sangat menyayanginya?

“Cinta?” ulangnya.

Jari-jari Chanyeol bergerak menghapus airmata ini. Dia mengangkat daguku.

“Jika kau sungguh-sungguh mencintaiku, kau tak akan mencium pria lain,” tutupnya sebelum pergi meninggalkan diriku tanpa belas kasihan.

Aku jatuh terduduk.

Menangis sejadi-jadinya.

Rasanya sangat sakit.

-oOo-

a/n: Hai, selamat dan terima kasih sudah membaca Perfect Match sampai sejauh ini. Part kali ini bisa dibilang terpanjang yah 4.500 kata kurang lebih 25 halaman. Tapi, gak tau kenapa kayak nggak kerasa aja nulisnya tiba-tiba uda segini :’) terlalu mendalami cerita ini. Okay, pertanyaan kalian di Instagram Rae dan Chanyeol sudah terjawabkan kenapa mereka begitu?

Baiklah, sampai jumpa di part selanjutnya. Kalau ada pertanyaan juga bisa disampaikan di kolom komentar, twitterku (@twelveblossom), Line@ (@NYC8880L) atau wattpad (@twelveblossom).

Aku tunggu komentar kalian ya! 😀

 

 

Advertisements

136 thoughts on “Perfect Match: We Are Not Be Alright Again

  1. Ya ampun.. Kok jadi gini sih.. Chanyeol ku yg Malang.padahal udah rela2in balik je seoul buat denger langsung dari rae,eh malah…. 😢😢

  2. Waaa udah lama aku absen baca cerita ini. Maafkan aku kak yg ga tau kenapa baca part ini malah fokus ke sehun 😂 sehun-nara forlife pokonya aku mah wkwkw
    Jonginaaaa, dia hangat banget ya sama rae. Kasian juga kalo ditinggalin jongin nya, tapi kalo sama jongin chanyeol nya dikemanain dongss 🤧🤧

  3. Chanyeol kasian amat, udah jauh2 juga datengnya ke seoul malah liat rae ama jongin. Ngk sabar buat dapet endingnya

  4. Good job, Mr. Park! 😀👍 Pengin banget peluk Chanyeol. Memang harus dikasih pelajaran itu Oh Rae. Pada akhirnya mengungkapkan perasaan ke Chanyeol setelah 5 tahun jalanin hubungan gaje. Eh, masih mau aja dicium Jongin. Meskipun membayangkan Chanyeol waktu dicium Jongin, tetap aja ndak elok perangainya 😌😌😌

  5. aku pengen chanyeol sama si pairing sebelumnya yang udah biasa kakak buat. Begini rasanya kayak naik rollercoaster yaa :’

  6. Raeeee elaaah, giliran gini jadinya terlambat. Chanyeol juga sih elah baper segala 😦 huhuhu jangan hancurkan shipper ku thor 😦 tapi bagus ceritanya bikin ikut baper

  7. woww…..chanyeol bsa marah jg…mungkin krna cmburu….
    jongin udah telat woyyy…aku jd rae-chanyeol …

  8. Hehe mian kak baru comment di part ini. Ketinggalan bgt kyknya. Sumpah deh ini kok greget greget gimana gt ya hehe. Tp dari awal acu team canyol rae uuuuunceha. Semangat author nulisnya!!!

  9. Sumpah ya.. Jujur aja gangerti mau nya rae itu apa. Kayak jahat aja nggak sih, gaada jongin dia pake chanyeol. Gaada chanyeol dia pake jongin. Egois banget, gaheran si chanyeol gini.. Tapi yah.. Baguslah, sekarang dia udah tau dia mau sama chanyeol. Aku tunggu next nya ya kak, seru bgt. Feel nya juga dapet, semangat!

  10. Kalimat terakhir nya chanyeol nyesek asli:(( gereget kan jadinya, selalu bikin penasaran semangat terus kak nulisnya ditunggu chapter selanjutnyaa

  11. Berantemm,, sakit duhh chanyeol, salah paham rae udah cinta ma kamu chan. Jongin cuma masalalu diaa… Jongin main nyosor aee…

    Jelasin rae ama chanyeol, jangan sampe gmana gmana.. Next nya ditunggu

  12. Waaaaa suka banget kak sama ceritanya ini karena biasanya pemeran utamanya cowok tapi ini cewek jadi tambah bagus ceritanya .. Semangat nulis part selanjutnya ya kakkk

  13. Aku berharap wktuu bisa diputar lagI… Rae knp kamu tdi malah ling lung diem aja gk nolak sih??? apa cuman pngen mastjin doang apa gmna??? chanyeol jd marah kan… Ikut sedih ah kalau gini 😥😥😥

  14. Okehh baper maksimal…. Gatau mau ngomong apa lagi..
    Tapi wajar ga sih Saia bacanya Ampe menitihkan air mata?

  15. Aduh aya aya wae mereka tuh 😧😧 tapi mantep lah ceritanya bikin gemes wkwkkw
    Semangat ka buat ngelanjutin ceritanya 💪💪😁😁😁❤❤

  16. OH MY GOD! WAGELASEEHHHH.. Itu kalimat Chanyeol yg terakhir bikin nyesek bgt. SUMPAH. Aku sampe mau gigit handphone saking gregetnya >< wkwk
    Aku jadi gemess sendiri dgn jalan kisah cinta mereka bertiga :") duh

    SEMANGAT KA NULISNYA! Mian, aku baru komen di part ini. Semoga next chap lebih greget lagi yaw hehe^^

  17. Maaf thor baru komen, baru nemu ff ini dan langsung jatuh hatiii banget
    Kasian sama chanyeolnya 😦
    Fanficnya parah bikin baper bangetttt 😂😂😂😂
    Udah bikin rae sama chanyeol aja thorr 😂😂😂
    Semangat nulisnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s