[Special Part] Perfect Match: The Stories of Us

Perfect Match 3

Previous:

Prolog – Before Our Story Begin – I Was Love Him – The Definition of Love – Because I’m Your Pain Killer – [Special Part] From the Past To The Future – It’s Beginning – When The Sun Embraces Me So Tight – We Are Not Be Alright Again – When You Perhaps Me To Die

Her Attraction

Rae menyimpan peralatan melukisnya di dalam tas punggung besar bewarna hitam. Gadis itu sedang berada di taman sekolah mencari inspirasi untuk menyelesaiakan pekerjaan rumah pelajaran kesenian. Si gadis yang masih mengenakan seragam sekolah berupa rok selutut bewarna kuning dan kemeja putih, ia berlari terburu melewati gudang belakang, ini musim panas namun langit mendung tanda akan hujan. Rae cepat-cepat mencari perlindungan karena tidak ingin kanvasnya basah. Rae yang kini surainya dikuncir kuda itu pun berhenti melangkah saat tubuhnya telah terlindungi oleh atap gedung. Benar saja, selang beberapa sekon rinai hujan mulai turun.

Rae terjebak di sana, melihat rumput-rumput taman gedung itu diguyur hujan. Ia berulang kali menghela napas. Rae menyukai hujan, namun dia juga benci hujan yang datang tiba-tiba. Gadis itu masih menggerutu ketika telinganya mendengar bunyi gaduh dari arah lorong. Rae beringsut menengok tempat gelap tersebut, lalu ia membolakan mata karena melihat segerombolan murid laki-laki yang sedang bertengkar. Si Gadis berusia muda menyipitkan mata, Rae mendapati empat orang laki-laki sedang mengeroyok satu orang pemuda yang tampaknya sudah menyerah untuk hidup.

“Park Chanyeol,” bibir Rae menggumamkan satu nama yang dikenalinya. Baru beberapa hari lalu mereka saling mengetahui nama, namun Chanyeol juga kerap pergi ke rumah Keluaga Oh untuk bermain bersama Sehun.

Rae tahu apabila Chanyeol bukan siswa baik-baik layaknya Jongin, namun dia tidak tahu kalau si pemuda bisa kalah begitu saja. Maksud Rae, Chanyeol punya badan yang besar sekali. Rae berpikir bahwa Chanyeol bisa meninju salah satu dari mereka. Hm. Bisa saja Chanyeol adalah laki-laki cinta damai yang tinggal diam sewaktu diinjak-injak?

Kasihan, aku tidak bisa membiarkan orang lemah seperti Chanyeol terluka, Rae membatin.

Ah, namun Rae juga enggan terlibat perkelahian. Sehun bisa ganti menghajarnya.

Baiklah.

Bukan Oh rae namanya jika kabur dari masalah. Gadis itu melangkah ke sana, ia membawa kanvasnya sebagai senjata.

Rae sempat pusing karena di tidak dapat melayangkan fliying kick miliknya sebab sekarang si gadis tengah mengenakan rok.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Rae keras. Ia berkacak pinggang. “Kalian tidak boleh memukul Chanyeol, dia temanku!” seru si gadis yang lantas mendapatkan perhatian dari keempat pemuda bar-bar tersebut.

Lorong itu sangat sepi, jadi suara Rae menggema keras membuat telinga Chanyeol yang awalnya tuli menjadi mencuat kembali. Park Chanyeol langsung terfokus pada gadis pendek yang kini menenteng kanvas, Oh Rae berdiri di sana tanpa rasa takut. Chanyeol jadi heran sendiri pada Rae, kenapa dia justru kemari bukannya kabur?

Chanyeol sebenarnya bisa membalas mereka berempat, tapi dia memang berniat babak belur. Hal itu bukan tanpa alasan, Park Chanyeol ingin membuat kehebohan pada acara pernikahan ibunya yang kesekian kalinya. Ia berusaha tampil sebagai berandalan yang kalah, lantas dirinya pun mencari masalah dengan salah satu perkumpulan di sekolah mereka. Usahanya akan gagal, apalagi ketika Rae mulai memukuli keempat murid yang tadi menghajar Chanyeol.

Gadis itu menyerang dengan tangkas dan cermat. Chanyeol mengamati gerakan Rae yang terstruktur. Meskipun begitu, Oh Rae tetap saja kalah jumlah. Dengan mudah mereka memegangi Oh Rae yang tampak begitu lucu di mata Chanyeolkarena si gadis tidak berhenti mengumpat. Percayalah, ia jarang sekali melihat anak perempuan di sekolah ini bertingkah sebegitu aktif.

Chanyeol tertawa sebentar, lalu diam karena ujung bibirnya nyeri. Pemuda itu langsung berdiri sebelum pemuda-pemuda yang menghajarnya tadi menyentuh wajah Rae, dia tidak suka jika seseorang memukul wanita. Apalagi, Rae ialah adik dari salah satu teman baiknya.

“Aduh, kenapa kau malah tertawa, Berengsek!” umpat Rae pada Chanyeol yang tak kunjung menolongnya. Rae sempat berpikir jika Chanyeol adalah laki-laki sialan yang tega meninggalkan seorang gadis dalam keadaan darurat. Kini rae sudah diapit oleh murid laki-laki jelek itu, tak dapat bergerak.

Ternyata, dugaan bahwa Chanyeol lemah itu salah. Pemuda tersebut menghajar keempat murid yang tadi melukainya dengan sangat mudah, bahkan murid ynag punya badan lebih gendut dari Chanyeol kabur duluan. Rae rasanya ingin tertawa saat mereka berempat lari tunggang langgang meninggalkan Rae dan Chanyeol berdua di lorong itu.

Hening beberapa sekon, mereka saling menatap setelah menyelesaikan tawanya.

Si gadis melihat pergelangan tangannya memerah karena cengkraman dari mereka yang jahat. Rae sempat mengernyit, lantas Chanyeol pun meraih tangan si gadis untuk memeriksa lebih dekat.

“Ini pasti sakit―”

―Wajahmu jauh lebih terlihat menyakitkan. Itu harus segera diobati,” potong Rae sembari menunjuk paras Chanyeol yang babak belur. Kendati demikian, Chanyeol memberikan senyum lebar pada Rae. “Dasar bodoh, kau bisa melawan mereka tapi kenapa justru sok lemah begitu?” Rae melanjutkan.

“Karena aku ingin,” jawab Chanyeol enteng, pemuda itu meraih kanvas Rae yang berlubang akibat perkelahian tadi. Ia menatap Rae dan lukisan si gadis secara bergantian. “Cantik,” pujinya, entah untuk siapa.

Rae serta-merta berteriak keras melihat lukisannya untuk tugas kesenian hancur. “Ah! Ini gara-gara kau, Chanyeol!”

Chanyeol menggeleng. “Bukan aku yang memintamu menolongku,” timpal si pemuda. Ia suka mendengar ocehan Rae, ekspresi wajah dari murid perempuan tersebut bisa berubah-ubah dengan cepat. Bahkan wajah Chanyeol yang bengkak tidak terasa sakitIa suka berada di dekat gadis itu. Toh, dari sekian banyak temannya, hanya Rae yang menolongnya dan tampak cemas.

Rae memicingkan mata, “Kau tetap harus bertanggung jawab,” ujar Rae sedih. “Karena aku tidak bisa keluar rumah sendirian untuk melukis ini lagi, maka kau harus menemaniku,” lanjut si gadis.

Rae berkata jujur, ia menghabiskan berjam-jam untuk membuat sketsa Taman Haedong yang letakknya lumayan jauh dari rumah. Dia dulu ditemani Sehun yang terus menggerutu. Tidak mungkin, Rae meminta bantuan Sehun lagi. Jelas, saudara kembarnya tidak akan sudi.

Chanyeol harus bertanggung jawab!

Rae melotot ke arahnya.

Chanyeol bengong sejenak. Mana mungkin Park Chanyeol yang suka hura-hura menemani seorang gadis melukis?

Jelas, itu konyol.

Itu membuang waktu Chanyeol yang berharga.

Itu bukan gaya Chanyeol yang keren.

Itu terlalu lembut.

Banyak hal yang mendorong Chanyeol menggeleng, lantaran begitu … Chanyeol justru mengangguk, lalu bibirnya berucap cepat, “Baiklah, aku temani.”

Ah, hanya satu gerakan dan kalimat mampu membuat jalan hidup Chanyeol menjadi jungkir balik. Kalau bukan akibat kegiatan menemani Rae melukis, Chanyeol tidak akan jatuh cinta pada Rae muda. Sungguh, di mata bulat ChanyeolRae yang sedang melukis memiliki sisi berbeda. Gadis itu terlihat lebih … err memikat?

Bahkan sekarang saat Rae tidak melakukan apa pun, Chanyeol merasa gadis itu sangat menarik.

Brother vs Sister

Jongin memutar bola mata, sementara Chanyeol menyilangkan tangan di depan dada. Mereka berdua sedang memerhatikan Rae dan Sehun yang tengah perang dingin. Sepasang saudara kembar tak identik tersebut tampaknya enggan mengerti arti perang dingin yang sebenarnya. Begini, Rae mogok bicara dengan Sehunia kini justru berkomunikasi melalui bahasa tubuh. Sehun pun demikian Ia meliukliukkan badannya ketika ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya menyuruh Rae makan.

“Sebagai orang paling sehat di sini, aku sama sekali tidak dapat memahami mereka,” keluh Chanyeol kepada Jongin yang kini tengah menggelengkan kepala. “Apa mereka baik-baik saja?” imbuh Chanyeol khawatir.

Jongin mendesah lelah. Dia mengambil bola basket, kemudian melemparkannya pada Chanyeol. “Lempar pada Rae,” perintah Jongin.

Chanyeol menaikkan satu alis.

“Cepat lakukan agar mereka berhenti menggeliat seperti cacing,” ujar Jongin pada sahabat baiknya.

Chanyeol sempat ragu, namun ia melakukannya. Bingo! Bola itu tepat mengenai kepala Rae.

“Ya!” Sehun tiba-tiba membentak Chanyeol. Sehun yang tadi sibuk menggunakan bahasa tubuh pada adiknya, melotot ke arah Chanyeol-marah. Pemuda itu melangkah untuk mengambil bola basket miliknya, kemudian melemparkan lurus ke arah Chanyeollebih keras dan … hidung Chanyeol berdarah tersambar bola.

Jongin tertawa keras.

Rae terkejut.

Chanyeol hampir pingsan.

Sehun kembali menoleh pada Rae, kemudian berseru, “Kau cepat makan! Jangan bertingkah kekanakan!”

Akhirnya, perang dingin pun berakhir.

Sehun tidak suka adiknya dilukai orang lain, apalagi secara fisikyang boleh berbuat begitu pada Rae hanya Sehun. Begitu hukumnya dan harus ditaati satu alam semesta.

“Kalau melempar bola jangan sampai terkena kepalanya, dia nanti semakin bodoh,” gumam Sehun sembari menepuk bahu Chanyeol, lalu ia pergi begitu saja.

A Part of Me

Jongin sudah biasa dengan kehadiran Oh Rae di sekitarnya. Entah dalam keadaan Rae yang sedang tertawa seperti orang gila, makan hingga perutnya mengembang, dan tidur layaknya kerbau. Gadis itu sama sekali tidak tahu malu jika berada di dekatnya. Rae bisa muncul kapan saja di saat Jongin ingin sendirian, jika orang lain yang melakukan perbuatan tersebut si pemuda akan sangat marah. Namun, berbeda apabila Rae yang bertindak, Jongin akan diam saja.

Kali ini Rae mengajak Jongin berkebun di depan halaman luas si pemuda. Jongin memang sedang stres karena peringkatnya menurun dan tekanan emosional akibat keluarganya menuntut terlalu banyak pada dirinya. Jongin sempat linglung selama beberapa jam, sebelum Oh Rae datang memanjat pagar rumahnya sembari membawa pot bunga. Tidak lupa cengiran lebar si gadis ditambahkan untuk menaikkan mood Jongin. Oh Rae tertatih-tatih berlari ke arah Jongin kemudian mengajak si pemuda berkebun.

Rae berucap, “Rumahmu ini sebenarnya tidak suram hanya saja kurang tanaman.”

Jongin pasrah saja, toh ucapan Rae benar. Dulu waktu ibunya masih sehat, beliau kerap sekali menghias taman rumah Keluarga Kim. Hunian itu terlihat hidup dan berwarna, tapi semenjak sang Ibu berada di rumah sakit seluruh tanaman itu layuseolah ikut bersedih. Keluarga Kim memang tidak hancur serupa Keluarga Chanyeol. Jongin, ayah, kakak, dan ibunya masih bersama secara hukum. Mereka hanya tinggal di tempat yang berbeda. Jongin bertugas menjaga rumah dan harus tetap di sana karena ia memiliki kewajiban untuk sekolah. Ibunya sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Ayah Jongin menjaga istrinya dengan sangat baik sampai kerap lupa melihat anak-anaknya. Sementara kakak Jongin sibuk menempuh pendidikan sebagai calon dokter. Jongin dibiarkan sendirian, membusuk di rumah sebesar itu.

Jongin yakin suatu saat nanti ia akan pergi dari rumah sepi itu, melebarkan sayapnya. Jujur saja, Jongin lelah dengan kehidupan yang monotonnya di kota ini. Ia ingin pergi ke negara lain, liburan, dan menghabiskan waktu tanpa semua ekspektasi tinggi yang diinginkan keluarganya. Well, meskipun ia memiliki sahabat baik yang akan dia rindukan apabila dirinya benar-benar pergi jauh. Namun, Jongin muda berpikir hal tersebut bukan masalah yang berarti. Dia berpendapat, apabila waktu dapat mengobati kerinduan dengan sangat baik.

“Jangan melamun saja, ayo angkat itu,” celetuk Rae ketika melihat Jongin duduk terdiam di hadapan pot besar yang barus saja mereka beli.

Jongin lantas mengerjapkan mata beberapa kali kemudian mengambil pot yang dimaksud Rae. “Kau sedari tadi menyuruhku. Padahal berkebun adalah idemu,” timpal Jongin sambil mendengus.

Rae yang kala itu memakai jumpsuit berwarna kuning cerah pun tertawa. Ia menepuk tangannya yang terkena tanah dan pupuk. Benar, sedari tadi Rae hanya bermain-main dengan semua peralatan sedangkan Jongin sibuk bekerja.

“Aku ingat waktu kita kecil, ibumu sering mengajak kau dan aku untuk menanam bunga setiap kita libur sekolah. Aku jadi menyukai wangi mawar yang tumbuh di halaman rumahmu

Makanya, kau suka sekali ke sini tanpa diundang. Kau menyukai hal-hal yang membosankan, Rae,” potong Jongin sambil cemberut.

Rae pun berpindah posisi menjadi duduk di samping Jongin, membiarkan bajunya semakin kotor. “Ibumu pernah bilang, kalau kau sebenarnya juga senang berkebun. Kau bangun lebih pagi dan lekas mandi jika tahu kita akan berkebun. Tapi, Kim Jongin kecil punya gengsi yang tinggi. Dia tak ingin orang tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya,” Rae mulai berkicau. Gadis itu menatap Jongin sekilas. “Kau juga kerap menyimpan masalah dan kesedihanmu sendirian. Tingkahmu itu membuat orang-orang yang sayang padamu khawatir, Jongin,” lanjutnya.

Jongin diam, tangannya mengaduk-aduk tanah bercampur pupuk. “Aku baik-baik saja,” katanya lalu tertawa aneh.

Rae merampas sekop kecil yang dipegang Jongin, lalu memukul pemuda itu dengang benda itu. “Kau memang tidak bisa dinasehati hanya dengan kata-kata,” keluh Rae. “Aku tahu kau stres berat karena peringkatmu turun. Kau kira aku tidak mengawasimu,” imbuhnya.

Jongin menunduk. “Percuma saja aku mengatakan hal yang kupikirkan, tidak ada orang yang peduli. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing,” timpal Jongin datar.

Rae melipat tangan di depan dada. “Siapa bilang begitu?” tanya Rae, vokalnya lantang. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari. “Orang lain memang tidak peduli, tapi aku amat sangat peduli padamu.”

Jongin memandang gadis itu. Dia diam.

Rae menepuk beberapa kali kepala Jongin. “Jongin, kau tidak harus menjadi seseorang yang selalu baik-baik saja. Kau juga bisa sedih, marah, dan menangis. Aku memang senang kalau kau tertawa, tapi aku lebih suka kalau hatimu juga tertawa. Kau harus tertawa saat dirimu merasa bahagia, jangan tertawa untuk menutupi kesedihanmu.”

Hening.

Satu.

Dua.

Tiga detik berlalu.

“Rae, apa boleh aku memelukmu?” tanya Jongin tiba-tiba.

Rae bingung, kendati demikian si gadis tetap merentangkan tangan.

Jongin mendekap tetangga sekaligus sahabat karibnya tersebut. Ia berharap kecerian Rae dan semangat gadis itu dapat mengisi energinya kembali serta membuang jauh-jauh kegundahannya.

Rae mengusap punggung Jongin. Ia tidak tahu jika tangannya itu membuat kemeja putih Jongin kotor. Dasar.

Lantaran begitu, Jongin tersenyum kali ini lebih tulus dari sebelumnya. “Terima kasih sudah peduli dan sayang padaku,” ujarnya

Kini giliran Rae yang bungkam.

Jongin tidak tahu, kalau satu kalimat itu mampu memunculkan rona merah di pipi sahabatnya.

-oOo-

a/n:

Hai, ketemu lagi sama Special Part. Ini sebagai ganti karena aku bakal telat update lagi karena ada banyak hal yang harus diselesaikan. Semoga kalian sabar menunggu, ya?

Kalau ada yang tanya Special Part kok ceritanya pendek dan settingnya bukan lanjutan part yang kemarin?

Jawabannya karena ini memang potongan-potongan kecil cerita tiga sekawan ini yang belum sempat aku tulis di part sebelumnya. Setting waktunya bisa sebelum mereka kenal atau waktu Rae menikah begitu.

Okay, terima kasih sudah membaca. Aku harap kalian meninggalkan komentar mengenai ‘rasa-rasa’ yang ada setelah membaca ini. Semoga hari kalian menyenangkan dan sampai jumpa hahaha!

Twitter: @twelveblossom
Wattpad: @Twelveblossom
Line@:@NYC8880L

 

Advertisements

75 comments

  1. Ternyata gegara pukulan si rae yg bikin chanyeol terpesona..wkwk.., si rae emang “sesuatu” ya. Unik,ceria..makanya disukai..

  2. Sehun-rae soo kiyowo 😂😂 tu kan jongin baek banget dulunya. Coba aja dia ga pergi kmaren hiks. Semua chanyeol segera udahan bencinya sama rae 🙂

  3. Special partmya keren! Apalagi pas Rae nolong Chanyeol. Tpi Entah kenapa aku jadi sedih baca ini.. Karna sahabat laki2 ku satu2nya jadi benci sama aku, dan saat baca ini aku jadi ngiri😢 ah manisnyaa persahabatan merekaa😍

  4. Aiiisssss suka banget sm si sibling 😂😂😂walaupun sehun jahat banget, cuma dia yg boleh mukul rae…
    Mangatttt kak

  5. Jadi, awal mulanya chanyeol suka sama rae dari sini… Wkwk
    Lucu deh dengan sikapnya rae…
    Yang terbuka sama orang lain..

  6. Sengaja tuh biar ga cuci tangan,makanya Rae mau meluk Jongin biar tangannya yg kotor dielap2 di baju Jongin hahaha😄😄 Btw berkebun berdua itu scene Romantis yg ga pernah ngebosenin 🍃

  7. Aku sukaaaaaaa kok special part. Aku akan menunggu dengan sabar. Hihi. Rae itu tipe yang bisa bkin orang jadi sayang dg mudah. Favorit ku momen rae sehun, entah knp suka banget. Suka aja ngelihat sikap mereka yg kadang berantem, tapi sifat alamiah sebagai sodara yang hangat dan melindungi. Chanyeol sama jongin udah keliatan banget suka sama rae dari lama.

  8. Keren kak, side story in kan juga menyajikan awal Mula kebersamaan jongin, chan, Rae sama sehun.. keren pkoknya!! 😉

  9. Kereeeeeennnnn………
    Setiap partnya setiap chapternya selalu ada cerita berbeda dan selalu bisa bikin baper,senyum2 sendiri,sedih juga,pokoknya nano nano banget deh,
    Suka sama part spesial ini,cerita awal rae sama Chanyeol sahabat bego tapi selalu bantuin dan nemenin,Sehun saudara yg overprotektif ngeselin resek tapi sayang banget sama adiknya,jongin teman yang selalu pengertian dan suka bantuin dan selalu sweet itu cerita mereka dimasa lalu,aku kepo banget sama cerita lanjutan mereka, complicated banget gak ketebak dan bikin penasaran,selalu semangat kak buat ngelanjutin ff nya,aku menunggumu,semangat😁

  10. Kereeeeeennnnn………
    Setiap partnya setiap chapternya selalu ada cerita berbeda dan selalu bisa bikin baper,senyum2 sendiri,sedih juga,pokoknya nano nano banget deh,
    Suka sama part spesial ini,cerita awal rae sama Chanyeol sahabat bego tapi selalu bantuin dan nemenin,Sehun saudara yg overprotektif ngeselin resek tapi sayang banget sama adiknya,jongin teman yang selalu pengertian dan suka bantuin dan selalu sweet itu cerita mereka dimasa lalu,aku kepo banget sama cerita lanjutan mereka, complicated banget gak ketebak dan bikin penasaran,selalu semangat kak buat ngelanjutin ff nya,aku menunggumu,semangat😁

  11. Keren Thor. Wah, si kai tau banget semua hal ttg rae. Hidup rae-kai. Semoga rae dan kai bisa hidup bersama. Wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s