Perfectly Imperfect: Because of Imperfect You

20180713_142826_0001

Sebuah sequel dari Perfect Match.

“Aku berusaha menutupi segala hal yang kurasakan. Namun, aku sudah terlalu lelah untuk mengendalikan apa pun yang ada di benakku.”

-oOo-

Kim Jongin.

Kim membaca name tag yang terpasang di jas snelli yang dikenakan dokter itu. Kim mengamati bagaimana raut serius si Dokter, alis pria itu bertaut, bibir menggumamkan sesuatu, dan tangan kuatnya membalik rekam medis pasien. Kim tahu, apabila bukan hanya dirinya yang tertarik pada gerak-gerik sang Doktersuster, pasien lain yang berbagi ruangan dengannya, dan cleaning service yang kebetulan lewat bahkan sengaja menengok sebentar ke dalam. Kim mengakui apabila pria itu memiliki aura dominan, dia good looking, kulit kecoklatan, dan surai hitam pekat yang berantakanmeskipun terlihat acak, itu justru menambah daya tariknya. Kim mengamati netra si pria yang sayu dan tampak mengantuk, sepasang mata itu seolah menyempurnakan wajah sang Dokter.

“Kimberly Park,” vokal berat Kim Jongin mengusir sepi yang ada di ruang inap pasien tersebut, lantas membuat gadis yang disebut namanya itu pun mengerjap beberapa kali sebelum menjawab.

Just Kim not Kimberly,” Kim mengoreksi.

Jongin hanya menatapnya sebentar, kemudian dia berucap datar, “Percobaan bunuh diri, terjatuh dari kursi yang kau gunakan untuk menggantung kepalamu. Sekarang kakimu terkilir dan kau menambah jam kerjakumerepotkan.”

Bibir Kim terbuka beberapa inci. Apa dia benar seorang dokter?

“Kau masuk ke dalam daftar VVIP karena itu kamarmu harus pindah. Aku rasa lukamu tidak seberapa parah, sebenarnya tidak perlu pelayanan khusus.” Jongin berbalik membelakangi Kim dengan arogan setelah menjelaskan diagnosanya.

“Apa kau tak tahu siapa diriku?” tanya Kim refleks sebelum pria itu beranjak.

Kim Jongin menoleh kepada pesiennya yang sekarang menatapnya melalui mata bundar itu. “Kau adalah gadis kecil yang sedang sakit,” jawabnya kaku, tanpa peringatansetelah itu ia pergi begitu saja.

Kim mengerang marah, paras lembutnya berubah. Kim bukan gadis kecil, usianya sudah menginjak angka dua puluhitulah satu fakta salah yang diungkapkan Kim Jongin. Satunya lagi benar, Kim kini sedang sakit. Lebih tepatnya, Kim tidak pernah sehat secara mental. Hal itu bukan tanpa sebab. Berawal dari Kim kecil yang memeroleh perhatian terlalu besar karena bakat bermusiknyasi jenius dalam hal nada. Kelahirannya adalah anugerah bagi ibunya, tapi justru musibah bagi dirinya.

Kimberly Park lahir di Los Angels pada musim dingin. Kim menguasai berbagai macam alat musik, permainan pianonya menjadi andalan. Kim menciptakan lagu yang indah untuk drama musikal, kadang dia sendiri yang bernyanyi. Kim adalah aktris broadway termuda. Aktualisasi diri, salah satu puncak kebutuhan yang paling diinginkan manusia telah Kim dapatkan. Namun, kebutuhan dasar mengenai rasa aman serta kasih sayang justru tak pernah ia miliki. Penggemarnya mencintainya karena dia seorang Kimberly Park, namun tidak ada yang mencintainya sebagai Kimgadis berusia dua puluh tahun yang sebenarnya lebih menyukai melukis daripada musik, yang lebih nyaman mengenakan jeans dan kaus daripada gaun pertunjukkan.

Ekspektasi mereka pada Kim semakin tinggi ketika gadis itu mulai tumbuh dewasa. Begitu pula orang terdekatnya yang terus melambungkan harapan untuknya. Mereka tak mengerti jika Kim sangat lelah dengan semuanya. Ia ingin memiliki teman bukan penggemar. Kim ingin mempunyai tempat untuk pulang yang bisa ia rindukan, bukan hunian mewah yang menjadi neraka baginya. Kim bahkan sengaja kembali ke Korea karena menginginkan kehadiran ayahnya yang bercerai dengan sang ibunya sejak gadis itu masih balitaa. Kim lari dari ibunya yang berperan menjadi manajer. Kim langsung kecewa ketika mengetahui bahwa ayahnya itu telah memiliki keluarga baru yang tampaknya lebih bahagia.

Entah bagaimana jadinya. Mungkin kenangan buruk, ekspektasi, dan harapan yang bercampur aduk di kepala Kim membuatnya ingin mengakhiri semuanya. Kimberly Park tidak mempunyai alasan untuk tetap di dunia. Semuanya terasa hampa dan kosong.

Kim memang tersenyum.

Kim memang lembut.

Kim memang sempurna.

Namun, itu adalah kepalsuan.

Jongin memijat pelipisnya yang sakit akibat terlalu banyak begadang. Pria itu kerja rodi beberapa minggu ini, ia justru heran dirinya belum juga tumbang. Padahal dia ingin sekali sakit untuk menghilangkan nyeri dalam hatinya. Jongin bukanlah pria melankolis sebenarnya, dia cukup tangguh untuk berjauhan dengan gadis yang dicintainya selama lima tahundengan harapan apabila cintanya akan menunggu. Konyol. Seharusnya dia paham, siapa yang akan menunggu selama itu jika ada orang lain yang selalu ada?

Benar, si gadis justru lebih memilih sahabatnyaPark Chanyeol. Padahal jelas-jelas jika dia dulu yang meminta Chanyeol menjaga gadis itu. Yang bodohnya lagi, Jongin sama sekali enggan berusaha untuk merebut atau memenangkannnya kembali. Ah, Rae bukan pertandingan yang bisa dimenangkan, Rae punya hak untuk memutuskan. Itulah pembelaan Kim Jongin agar dia tak terlalu menyesal sebab telah merelakan cinta pertamanya begitu saja.

Jongin berpegang teguh bahwa dirinya baik-baik saja. Meskipun, kepalanya seolah akan meledak karena penyesalan yang teramat mendalam itu. Bukankah hidup harus terus berjalan? Jongin memang kembali menerima kenyataan, tapi dengan luka yang berdarah-darah.

Well, itu berlebihan.

Kim Jongin yang selalu bijaksana dalam bertindak kini justru seperti orang bodoh yang gemar marah-marah. Termasuk murka pada dirinya sendiri. Itulah caranya melampiaskan kekecewaannya.

“Argh!” Jongin berteriak kesal, untungnya lantai paling atas gedung rumah sakit tempatnya bekerja kali ini sedang sepi.

Suara pesan masuk di ponselnya menginterupsi Kim Jongin. Astaga, dia baru duduk sekitar lima menit tapi panggilan darurat sudah terdengar lagi. Dengan perasaan separuh kesal, setengahnya lagi bersyukur sebab dia tak harus melanjutkan lamunan mengenai cinta tak sampainya.

Jongin berlari kecil menuju ruang pasien yang membutuhkannya tersebut, di sana sudah ada suster yang panik menunggu kedatangannya. Ada kekacauan yang kini menuntut untuk diselesaikan, kepalanya terasa berdenyut nyeri.

Ah gadis ini lagi. Kimberly Parkah bukan―dia minta dipanggil Kim. Jongin membatin.

Kimberly telah menjadi pasiennya selama empat hari, empat kali pula gadis kecil itu berusaha melukai dirinya sendiri. Hari pertama, Kim menggunakan pisau pengupas buahyang entah dia dapatkan dari mana untuk menggores jarinya. Hari kedua, Kim membenturkan kepala di dinding kamar mandi sampai pingsan. Hari ketiga, Kim meminum obatnya terlalu banyakhingga dia hampir kelebihan dosis. Dan sekarang hari ke empat, Kim dengan wajah polosnya itu menyeringaidia membawa gunting yang kini diletakkan di lehernya.

Jongin memutar bola mata jengah dan bosan. Ayolah, Kim Jongin bukan dokter jiwa, dia tidak memelajari itu. Gadis ini seharusnya dibawa ke rumah sakit jiwa atau dipasung saja, itu pemikiran tak waras Kim Jongin. Semua orang jelas menolak pendapat Jongin mengenai Kimberly, mereka memujanya. Maksudnya, televisi memuja gadis itu. Tentu saja, khalayak enggan melihat si Sempurna Kimberly Park dinyatakan gangguan jiwa. Hm. Sebenarnya tidak separah itu, Kim hanya mencari alasan untuk tetap tinggal di rumah sakit, itu sebabnya ia ingin sakit. Jongin memahami benar akan hal tersebut.

Sama halnya dengan Kim Jongin, Kim ingin sakit karena ada rasa terluka yang melebihi sakit itu sendiri. Ada sesuatu yang ingin ia tutupi. Sejenis penderitaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata atau dituliskan.

Jongin tidak mengetahui alasan Kimberly bertindak serupa orang gila atau bertingkah seolah dia kehilangan waras. Jongin mengira bahwa tak ada satu alasan pun bagi Kimberly untuk mati lebih cepat. Kimberly memiliki semua hal yang diinginkan oleh orang lain. Dia gadis yang tanpa bekerja pun bisa tetap kaya raya karena royalti dari lagu yang diciptakannyaini Jongin baca di internetsusternya yang memberikan artikel mengenai Kimberly setelah Jongin buta arah tak tahu siapa Kimberly. Kimberly Park juga terkenal, bukannya gadis remaja suka menjadi populer? Jongin jadi heran.

“Aku tidak ingin pulang, sampaikan pada ibuku, aku ingin tetap di sini!” teriak Kimberly tiba-tiba lantas membuat orang di ruangan itu berjengit kaget.

Begitu pula Kim Jongin yang menatap drama Kim dengan datar. “Kau memang belum waktunya pulang,” desis Jongin ketika Kim mulai menggores lehernya sendiri.

Suster Hwang membisikkan sesuatu, “Keluarganya ingin merujuknya ke rumah sakit di Amerika.” Wanita berusia awal tiga puluhan tersebut segera menambahkan karena mendapati raut marah dari si Dokter, “Saya telah mengatakannya pada Anda kemarin.”

Ah, Jongin sibuk dengan operasi kemarintentunya ia tidak sempat mengingat informasi tersebut.

Jongin mengalihkan atensi kepada Kim. Kimberly Park seolah sangat tertekan dengan kepulangannya. Gadis yang berwajah lembut dan elegansejenis kepribadian serta aura yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya yang kerap menghabiskan uang mereka di restoran mahal. Perempuan kecil yang terlihat sangat ringkih, namun raut mukannya teguh. Jongin tahu jika Kim adalah tipe orang yang keras kepala.

Okay, baiklah tolong kabari mereka untuk memajukan jadwal gadis ini ke Amerika,” ucap Jongin, matanya tidak lepas mengawasi Kimberly.

Dokter itu menyeringai ketika mata Kim membola.

“Akuaku akan mati jika kau melakukan itu,” ancam Kim.

Jongin justru tertawa. “Silahkan karena aku sebagai doktermu memang sudah menyerah

Apa maksudmu?” potong Kim, dia mulai melunak.

Jongin pelan-pelan maju selangkah demi selangkah. “Karena tugasku menyembukan. Walaupun begitu, aku tidak bisa membuang tenaga untuk mengobati seseorang yang egois, menyusahkan orang lain, dan tidak ingin sembuh,” kata Jongin galak.

Kim memang tidak ingin sembuh karena dia selalu sakit.

Kim memang egois.

Kim memang menyusahkan.

Namun, baru pertama kali ia mendengar seseorang memarahinya. Pertama kali juga dia mendengar secara langsung bahwa dirinya menjengkelkan. Selama ini yang masuk ke rungunya adalah pujian. Orang-orang mengatakan, Kimberly yang selalu sempurna serta Kimberly yang berbakat. Hal itu menyebabkan Kim tidak memiliki tujuan dalam hidup karena tak ada sesuatu yang harus ia perbaiki dan dirinya capai. Misalnya, ketika seseorang mendapatkan kritikan bahwa mereka terlalu gendut, maka orang itu akan diet atau saat seseorang itu diejek sebagai pemarah, maka orang tersebut akan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih sabar. Kim membutuhkan hal tersebut, kini Jongin memberikannya.

Jongin memberikan alasan untuknya agar tetap hidup―secara tidak sadar Jongin melakukannya.

Ada perasaan ganjil dalam diri Kim, dia justru senang saat Kim Jongin memarahinya. Kim pun tanpa sadar melepaskan gunting itu, kini tubuhnya beranjak menghambur ke dokternya.

Kim Jongin kebingungan setengah mati saat mendapati tangan remaja tersebut mendekapnya bahkan sangat erat. Jongin semakin menggerutu ketika dia mendengarkan bisikan Kimberly Park untuknya, “Terima kasih.”

Jongin sampai saat ini tidak tahu untuk apa Kim berterima kasih kepadanya. Namun, suatu hari Jongin akan bersyukur dia telah melakukan hal tersebut.

“Apa kau bisa berhenti mengikutiku, Kim?” Jongin bertanya kesal pada perempuan muda yang berada di belakangnya. Gadis itu masih mengenakan baju pasien, ia juga menggunakan kursi roda.

Kim menggeleng. Dia tersenyum lebar. “Aku membutuhkanmu, Dokter,” jawabnya lantang dan tidak tahu malu.

Kim Jongin memutar bola mata. Ia sangat lelah, tenaganya rasanya sudah habis untuk menghadapi Kimberly Park. Kim sering muncul di hadapannya sejak insiden pelukan mereka yang membuat heboh satu rumah sakit. Anehnya, Jongin melihat perubahan dalam sorot mata Kimkini bersinar, tidak sendu layaknya dulu. Kim juga lebih penurut, ibunya datang kemarin―Mereka membuat kesepakatan. Kim setuju melanjutkan pendidikannya di sekolah musik dengan syarat dirinya dibiarkan dua bulan berada di Seoul. Ibunya bahkan sangat terkejut melihat Kim mengangguk dengan cepat, kata mereka, biasanya Kim berteriak-teriak dulu sebelum menyetujui permintaan keluarganya.

Apa gadis itu semacam kucing gila? Apa dia babi lepas?

Jongin tidak tahu karena sejatina, semua yang ada pada diri Kim terlalu cantik untuk disebut begitu. Bukan, jongin tidak sedang memuji Kimberly Park, dia hanya mengungkapkan fakta di lapangan. Semua orang mengatakan bahwa Kim memang rupawan, dia menjadi pembicaraan satu rumah sakit. Bahkan beberapa media berusaha menerobos ke sana kalau saja ibu dari Kimberly tidak menyewa orang-orang untuk terus mengikuti putrinya. Pengawalnya Kim baru pergi apabila si gadis tengah bersama dokternyadalam hal ini Kim Jongin.

Kim Jongin diminta secara khusus oleh kepala rumah sakitpamannya dari pihak ayahagar pria tersebut bersedia mendampingi Kim secara khusus. Jongin awalnya menolak, tapi ia terlampau tidak tega pada pamannya. Jongin awalnya emosi menghadapi si gadis kesepian tersebut, tapi ia juga sedikit bersyukur karena pikirannya mulai teralihkan karena Jongin sibuk menghadapi ocehan Kim.

“Aku menyapa semua orang hari ini, seperti katamu aku harus jadi ramah,” Kim berujar ceria.

Good girl,” ucap Jongin spontan.

Alis Kim bertaut, ia protes. “I’m not a girl anymore. I’m a lady.”

Jongin hanya mendengus. Ia berjalan menghampiri kursi roda pasiennya, kemudian membantu si gadis mendorongnya dari belakang. “Baiklah, Young Lady,” imbuhnya sebab dia enggan mendengarkan argumen Kimberly.

Kimberly tersenyum. Ia kembali mengajak Jongin mengobrol, “Salah satu sepupuku akan menjengukku hari ini. Dia yang dipercaya ibuku untuk bertanggung jawab atas diriku selama di Seoul.”

“Rupanya kau punya keluarga di Korea,” timpal dokter tersebut sembari terus melangkah menuju kamar inap si gadis.

“Ayah kandungku dan keluarganya tinggal di sini semua, Dokter,” ujar Kim. Gadis itu menghela napas sebagai jeda. “Pasti Dokter Kim bertanya-tanya mengenai ayahku yang tidak menemuiku, bahkan menjengukku sekali saja

Aku sudah tahu, orangtuamu bercerai sewaktu kau masih kecil,” potong Jongin datar. Ia berhenti mendorong kursi roda Kim.

Kim berdecak, “Wah, Dokter pasti membaca artikel mengenai diriku ya,” kata Kimberly.

Jongin hanya melejitkan bahu sebagai respon. Kimberly mengatakan kalimat itu dengan nada ceria, meskipun begitu Jongin menyadari perubahan gerak tubuh si gadis. Jongin melihat kecemasan dalam diri Kim.

Jongin berusaha menghibur ketika dia menepuk bahu Kim yang ringkih di matanya. “Iya, bukankah sudah tugas seorang dokter untuk memahami pasiennya?” balas Jongin.

Kim tidak menjawab, dia menarik ujung bibirnya. Sementara mereka terus bergerak menyusuri lorong rumah sakit.

Jongin jadi merasa aneh mendapati Kim bungkam, selama beberapa minggu ini dia mengenalnyasetahu Jongin, Kim adalah gadis yang cerewet. Well, sebenarnya bukan kepada banyak orang Kim bicara, tapi hanya pada dirinya. Kim akan mengoceh mengenai hal-hal tidak penting hanya untuk membuat Jongin marah-marah.

“Oh, ya Kim, siapa nama sepupumu itu?” tanya Jongin penasaran, sekaligus membuyarkan tingkah diam pasiennya. Hm. Sebenarnya, pertanyaan Jongin bukan hanya basa-basi. Jongin memang ingin tahu siapa penanggung jawab Kimberly Park selama di Seoul sebab dirinya akan banyak berurusan dengan orang tersebut.

“ChanyeolPark Chanyeol,” jawabnya. “Chanyeol akan meminjamkan apartemennya untukku selama aku di Seoul. Dia sudah punya kekasih, jadi Chanyeol memilih tinggal di dekat kekasihnya,” celetuk Kimberly.

Jongin serta merta meraup wajah.

Kebetulan macam apa ini, sial. Begitulah batin Jongin berbicara.

Kedua manusia yang seharusnya dia hindari, justru secara kebetulan berurusan lagi dengannya.

Baiklah, Jongin mengaku sekarang.

Sudah hampir dua bulan Jongin menolak bertemu Chanyeol maupun Rae dengan alasan sibuk bekerja.

Bukan, bukannya Jongin belum rela Rae bahagia.

Jongin amat sangat rela gadis itu gembira.

Tapi … jika bahagianya Rae dengan pria lain, setengah dari pikiran Jongin masih belum bisa menerima kenyataan. Ia butuh jeda waktu untuk menata dan memerbaiki dirinya.

Hah. Jongin merasa bahawa kesedihannya lebih mirip dengan emosi seorang anak yang mainannya direbut oleh orang lain. Bahkan, kondisi tersebut tidak sesuai dengan dirinya karena Rae secara nyata bukanlah miliknya, sedari awal dia telah kalah.

Kekanakan, pikiran Jongin berseru marah ketika dirinya yang lain menyatakan bahwa Rae adalah sebuah permainan. Namun, hatinya yang terdalam sungguh enggan peduli, apa pun itubaik permainan, persaingan atau yang lainjika menyangkut Oh Rae, Jongin menjadi sangat sensitif dan kekanakan.

Oke, tenang saja, sifat kekanakannya dapat ia simpan untuk dirinya sendiri. Jongin berusaha untuk mengendalikan semuanya dengan baik.

Kim Jongin akan selalu menjadi Jongin yang berlapang dada di mata kedua sahabatnya, semua orang tanpa terkecuali.

Kim Jongin akan memakai topengnya dengan baik seumur hidupnya agar gadis itu tetap bahagia, tanpa merasa bersalah.

Kim Jongin baik-baik saja atau setidaknya dia harus baik-baik saja.

Rae harus hidup dengan penuh kesenangan. Seharusnya, aku merasa lega karena gadis yang  kujaga selama ini telah menemukan seseorang yang rela mati untuknya. Aku mungkin baik-baik saja, semuanya akan segera kembali sempurna seperti dulu. Diriku tidaklah terlalu penting yang terutama adalah Rae mendapatkan yang terbaik―mendapakan segalanya yang ia inginkan. Begitulah Jongin menyakinkan dirinya setiap hari.

-oOo-

a/n:

Terima kasih sudah membaca cerita ini. Aku memutuskan untuk membuat cerita ini dulu sebelum menulis epilog Perfect Match. Please, jangan tanya soal epilog Perfect Match kok gak dipost. Ikuti saja alurnya, biar ngalir. Biar Jongin seneng dulu.

Hehehehe. Oh ya, kenalan dulu ya sama Kimberly Park, sepupu Chanyeol. Yang follow instagram Rae pasti udah tau wajahnya Kim kayak gimana.

Oke sampai jumpa di part selanjutnya dan di cerita lain 😁. Happy weekend!~<3

Advertisements

143 thoughts on “Perfectly Imperfect: Because of Imperfect You

  1. Kasian kim pasti tertekan sekali hidupnya, dan kim sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sma jongin walaupun dia gadis yg merepotkan..
    Siapa coba yg gak akan jatuh cinta sma donter yg ganteng dan masih muda..uhuuu

  2. Dan dunia emang sesempit itu yaaaaaaaa, duhhh aku suka rae yang punya semangat idup setelah ketemu jongin, dan dokter kim kamu juga jangan menyia2kan wanita untuk kedua kalinya, sebelum terlambat, semoga raeeee gak main bunuh diri bunuh dirian lagi

  3. Waaaw akhirnya jongin bau2nya sih jongin dapet calon pasangan:)) akhirnya setelah pengorbanan yg cukup besar ya ngelepasin rae:)) baru mampir ke ff ini skrng karena nunggu tamat dulu karena w super duper kepoan dan tidak sabaran kl nunggu per chap dan diawal ceritanya tidak mengecewakan:’’))

  4. Seperti biasa suka ama alur ceritanya, menarik, dan bikin penasaran. Sebenernya sih belum bisa move-on dari Perfect Match, tapi ya mau gimana lagi😂
    Selalu baper sama ceritanya kakak, nggak pernah bikin penantian lama sia-sia💕

  5. Jongin..oh jongin..sama kim ajah lah..suka klo karakter kim ini yg ceria..dn gk mau di sbut ‘girl’..😂, kesanny imut gemesin gtu dn cocok sama kraktr jonginny gtu..😁 (*bagi gw sih)

  6. Waahh kok jongin ngenes banget :”((
    Yang sabar ya bang, hidup mah tidak semulus paha hyuna :”
    Daaan ko disini saya jadi ngeship jongin-kim ya, semoga disini jongin dipertemukan dengan jodohnya
    Gasabar nunggu next chap, semangat author! 🙂

  7. Wellehh welleehh ini up nya kpn, gue baca kpn?? Efek sibuk ini thor..
    Oiya buat Kimberly selamat datang dan selamat berjuang untuk memdapatkan jonginmu yaaaaaa.. 😄

    Dan buat author, semangat nulis epilog nyaaaa!! Curahkann hati dan pikiranmu semaksimal mungkin di epilog nanti thoorrr😘

  8. jadi ini kelanjutan yang itu??toloooong ini yang maenya banyakin jongin,biarin lah yang udah bahagia mah.pokus sama jongin sama kimberly aja.

  9. cieeeee kim jatuh cinta nih ma si kim😉😁

    seruuuuu eon ini seq nya bt jongin masih ada kan???
    kok q penasaran ya ma si kim ini😁
    gue tebak kim minta waktu 2 bulan bt naklukin jongin ya???
    terus klo gagal balik ke amerika lagi?#sotoy

  10. Sejujurnya masih belum bisa move on sm jong-rae, tp ku setuju kalau jongin itu tipikal kakak yang penyayang dan kalau misal jadinya sama jongin, aku ga yakin chanyeol bakal selapang dada jongin wkwkk. Salahkan Jongin yang dengan mudahnya hilang 5 tahun tanpa kabar atau ya mungkin dengan kabar tapi tidak memperjuangkan rae :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s