Perfectly Imperfect: I Am Kim Jongin’s Girlfriend!

Perfectly Imperfect

Sebuah sequel dari Perfect Match.

Sebelumnya: Because of Imperfect You – Closer To You

Jongin bereaksi, alis pria itu naik satu. Belum sempat Jongin membuka kelopaknya, ada sesuatu yang menyentuh bibir dengan sangat lembut. Kimberly Park menciumnya!

-oOo-

Mulai hari ini Kimberly membenci Summer. Summer di sini bukanlah musim panas, tapi sebuah nama dari seorang gadis bertopeng anggun. Summer Song kini berada di hadapannya tersenyum simpul sembari mengetukkan jari beberapa kali ke atas meja yang membatasi tubuhnya dengan milik Kimberly. Seolah gerakan tubuh Summer tidak sabar untuk segera melewati waktu yang canggung bersama Kimberly.

Oh, jangan tanyakan awal mula mereka bertemuKim terlampau emosi ketika mengingat kejadian itu! Sekitar satu jam lalu Kim sengaja mengunjungi Jongin untuk berpamitan karena hari ini dia akan pindah ke apartemen tak terpakai milik Park Chanyeol. Kala itu, Kimberly dengan sabar menunggu Jongin menyelasaikan kunjungannya ke pasienpasien. Namun, selang beberapa menit sebelum pertemuannya dengan Jongin, suster yang mengatur jadwal Jongin membawa satu wanita lagi di ruang tunggudepan ruangan prakter Jongin. Summer datang dengan tergesa, wanita yang jelas terlihat lebih tua daripada Kim itu pun memaksa untuk bertemu Jongin terlebih dahulu. Ada masalah darurat katanya. Menurut Kim, seharusnya dia antri! Memangnya, siapa Summer hingga wanita tersebut harus didahulukan?

Baiklah, Kimberly semakin kesal sebab nama Summer Song tidaklah asing di telinganya. Saudara sepupunya yang setinggi Namsan Tower itu pernah mengatakan, apabila Summer ialah teman lama Jongin juga. Summer pun jelas kurang menyenangkan di mata Kimberly, well wanita tersebut memang hanya diam saja sejak tadi, tapi dia seolah menilai Kimberly dari ujung rambut hingga kaki. Memang penampilan Kim terlampau sederhana. Kim hanya mengenakan celana jeans, kaus kebesaran hadiah dari manajernya, dan alas kaki berupa sepatu Kets limited edition kesayangannya yang sayangnya jarang sekali dicuci sehingga kelihatan kumal. Dari segi fisik Kimberly memang tak kalah rupawan, justru Kim jauh lebih cantik dari berbagai sisi daripada Summer. Namun, label ‘teman lama Jongin’ menjadikan Kimberly kurang percaya diri karena Summer mengenal Jongin lebih baik daripada dirinya.

Oh sungguh menyebalkan, beberapa kali batin Kimberly berucap.

“Apa kau Kimberly Park?” tanya Summer tiba-tiba ketika Kim melepaskan kacamata hitamnya.

Kimberly menautkan alis, dia mengangguk tak nyaman.

Ah, sedari tadi aku mengamatimu. Aku tidak yakin kau selebriti karena penampilanmu terlalu berbeda,” ujar Summer dengan nada sangat lembut tapi dalam artian menusuk. Summer membenarkan gaun biru muda selututnya, kemudian kembali bersuara. “Aku sempat diajak menonton drama musikalmu sewaktu ada proyek di New York. Sayangnya, aku terlalu sibuk dan tak ada waktu hanya untuk menonton sebuah drama musikal.”

Kim tertawa kecut. Dia menyilangkan kaki. “Benarkah? Sekali-kali kau harus meluangkan waktu untuk dirimu karena aku lihat ada banyak kerutan di wajahmu. Sepertinya kau mengalami penuan dini. Oh, bukannya aku ingin mengejek, tapi merawat kulit memang sangat penting,” ujar Kimberly nadanya dibuat-buat.

Summer tersenyum, dia mengangguk beberapa kali meskipun hatinya kesal dengan ucapan Kimberly. “Aku dengar kau sempat dicari karena kabur dari rumah

Benar sekali, aku sempat dirawat di sini karena percobaan bunuh diri,” potong Kimberly. Gadis itu melotot ke arah Summer. “Selain bisa bunuh diri, aku juga dapat mengakhiri orang lain dengan lihai. Apa kau pernah membaca cerita-cerita fiksi mengenai artis depresi yang berujung gila lalu membantai satu kota? Mungkin saja, aku bisa begitu,” oceh Kimberly, intonasi suaranya mencekam. Kimberly tertawa di dalam hati saat melihat tatapan Summer berubah takut.

Ada jeda yang sangat lama di antara mereka sebelum Summer tiba-tiba berdiri dari duduknya, kemudian melambaikan tangan pada orang yang berada di belakang punggung Kim. Jongin berada di sana dengan wajah datar seperti biasanya. Jongin masih mengenakan snelli dan raut lelah. Pria tersebut tampaknya tidak antusias sama sekali dengan apa yang ada di hadapannya sekarang, dua orang wanita yang sedang menatapnya. Netra milik Summer memancarkan kerinduan, sedangkan gadis muda ituKimberly hanya memerlihatkan kebencian ketika Jongin pasrah saja dipeluk Summer.

“Dasar laki-laki murahan,” bibir Kim berucap sangat keras sampai suster yang ada di sana menatapnya sambil melotot. Kimberly berjalan mendekati mereka, dia memberengut. Lantaran berhenti untuk mengucapkan salam perpisahan pada Jongin, Kim justru melenggang begitu sajagadis itu sengaja menabrak tubuh Jongin dan Summer.

Kimberly pergi dengan sedih.

Summer tetap di sana dengan kesal.

Jongin pun tetap berdiri, dia menarik ujung bibir tanpa sadar. Bukan karena pelukan Summer, tapi akibat wajah cemberut Kim yang menerutnya lucu. Perubahan suasana hati Kim begitu kentara, gadis itu pun tak segan untuk menunjukkannyatentunya hanya Kimberly perlihatkan pada orang-orang tertentu yang dekat dengannya.

“Dia benar-benar gadis bar-bar,” keluh Summer. Wanita anggun itu mengamati Jongin yang suasana hatinya sedang baik hari ini, meskipun wajahnya lelah. “Gadis itu bahkan mengancam akan membunuhku dan cerita soal percobaan bunuh dirinya,” lanjut Summer.

“Artinya kau membuatnya kesal,” celetuk Jongin sambil menepuk kawan lamanya itu.

“Sikap Kimberly mirip sekali dengan Rae. Ah, tidak. Rae jauh lebih sopan, paling tidak Rae tak pernah berniat membunuhku,” gumam Summer sembari berjalan mengikuti Kim Jongin yang kini tengah tertawa. Summer sama sekali tidak mengerti apa yang lucu dari insiden memalukan tadi. Kelihatannya gadis muda tadi sudah mendapatkan perhatian lebih dari Kim Jongin. Summer tahu karena dia mengenal Jongin lama sekali.

Kimberly masih cemberut meskipun matahari sudah tenggelam, bulan pun muncul sebagai pengganti. Gadis itu menduduki sofa lebar tepat berada di tengah ruang santai sebuah apartemen mewah daerah Gangnam. Apartemen itu sebenarnya milik Chanyeol, sepupu Kim tersebut sengaja meminjamkannya selama dua bulan pada KimberlyChanyeol tinggal di hunian Rae.

Kimberly pindahan hari ini, dia punya banyak sekali baju yang harus ditata, peralatan mandi khusus yang harus dibeli, perlatan tidur edisi terbatas, dan hal-hal lain yang mesti dilakukan. Kendati demikian, si gadis hanya duduk memberengut sementara Kang Dongho, Park Chanyeol, dan Oh Rae membereskan semuanya. Kimberly si anak manja tetaplah begitu adanya, sifatnya enggan berubah banyak apalagi dia sedang dalam kondisi marah. Kim sama sekali tak peduli pada Kang Dongho yang membersihkan dapur dan suara batuk Chanyeol yang sangat berisik akibat debu perkakas yang ia lap.

“Apa yang kau pikirkan, Kim? Aku lihat dirimu belum tersenyum hari ini,” ujar Rae memulai topik pembicaraan, lalu duduk di sebelah Kimberly. “Pasti ini berkaitan dengan Jongin,” sambung wanita tersebut setelah Kimberly enggan menjawab.

Kim menghela napas sewaktu mendengar nama pria itu disebutkan. “Aku lelah sekali menyukainya,” kata Kimberly pelan.

Rae membolakan mata. Dia mentralkan raut beberapa sekon kemudian. “Aku iri denganmu,” Rae menimpali.

“Kenapa?” tanya Kimberly.

“Karena kau lebih bisa jujur dengan perasaanmu,” ungkap Rae. Gadis itu menghela napas dalam-dalam. “Perasaan seseorang memang kerap berubah, tapi ketulusan hati memang susah dilupakan,” lanjutnya.

“Apa maksudmu Jongin akan bersamaku ketika aku tulus menyukainya? Tapi, aku lihat Jongin lebih dekat dengan Summer

Summer? Apa si genit kurang kerjaan dan mengesalkan itu datang lagi?” potong Rae, intonasi suaranya naik beberapa tingkat. Wanita tersebut kini melotot ke arah Kimberly.

Chanyeol yang mendengar seruan kekasihnya segera mendekat, pria itu mulai pasang terlinga.  Chanyeol bahkan langsung menimpali ketika Kim memertanyakan kedekatan Rae dan Summer. “Summer dan Rae pernah bertanding untuk memerebutkan Jongin. Mereka sangat seru ketika saling berhadapanyang satu sangat kasar kemudian yang lainnya bersikap seolah dia gadis paling cantik sedunia,” jelas Park Chanyeol, pria itu dengan kekanakannya menjulurkan lidah pada Raebermaksud mengejek.

Rae berusaha membela diri. Ia pun berucap, “Jangan dengarkan dia, aku dan Jongin tidak ada apa-apa.”

“Sudah jangan berbohong lagi,” Kim mengatakan sambil melirik Rae. “Aku tidak cemburu padamu, Rae. Toh kau telah bersama saudara sepupu bodohku ini. Aku lebih mengkhawatirkan kebersamaan Jongin dan Summer.”

Rae tertawa kecil. “Tenang saja, Jongin tidak tertarik sama sekali pada Summer, gadis anggun seperti Summer bukan tipenya. Dari dulu mereka memang kerap menjadi sukarelawan bersama, bahkan Summer sempat berkuliah di Jerman dengan Jongin, tapi beberapa bulan kemudian gadis itu kembali ke Korea. Aku mendengarnya dari Nara,” kata wanita tersebut. Dia tersenyum lembut pada Kimberly. “Biarkan semuanya berjalan pelan-pelan, Kim. Kalau kalian memang ditakdirkan bersama, selalu ada jalan. Sebaliknya, jika semuanya berjalan tidak sesuai dengan ekspektasimu, kau harus berlapang dada dan menerima.”

Lantaran Kim yang bersuara justru Chanyeol tiba-tiba yang datang menghampiri Rae, memeluk tubuh kecil wanita itu dari belakang membuat kekasihnya tersungkur.

“Aku bangga sekali padamu, Rae. Kau jadi semakin dewasa,” ujar Chanyeol ceria.

Kim menarik ujung bibir melihat tingkah sepasang kekasih yang sebentar lagi menikah itu. Kebersamaan mereka membuat orang lain ikut bahagia. Chanyeol dan Rae begitu sederhana ketika jatuh cinta, namun dalam kesederhanaan itu setiap orang yang bertemu mereka akan tahu bahwa keduanya saling menjaga.

Kimberly melamun lagi, matanya menatap lurus Chanyeol yang diam saja diomeli Rae ketika mereka menuju ke arah dapur. Entah apa yang akan dilakukan mereka di sana. Kim tidak ingin tahu karena dia masih asyik dengan pikirannya.

Satu menit berlalu dalam benaknya.

Tiga menit pun habis.

Lima menit mulai terasa membosankan.

Kang Dongho yang tengah memakai apron datang menghampirinnya dengan senyum merekah, tepat sepuluh menit gadis itu terbawa lamunannya,

“Kim, ada tamu untukmu,” ujar asisten manajer Kimberly tersebut sambil menggoyangkan bahu gadis yang dijaganya sejak kecil itu.

“Aku tidak mengenal siapa pun selain kalian di sini. Mungkin itu tamu Chanyeol,” balas Kimberly lemas. Dia beringsut bersandar ke sofa.

Kang Dongho tertawa dramatis. “Dia orang yang sangat kau tunggu-tunggu. Aku yakin kau akan senang sekali sampai ingin salto melihatnya di depan pintu,” balas pria tegap tersebut.

Kimberly memutar bola mata. “Aku tidak tertarik

Apanya yang tidak tertarik?” suara yang sangat familiar tersebut mengudara sehingga memutus ucapan Kimberly.

Kim langsung berdiri dari tempat duduknya, melihat pria yang kini berada di hadapannya. Kim Jongin sangat tampan untuk ukuran orang yang baru pulang kerja. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sesiku dan celana hitam. Surai Jongin berantakan seperti biasa, Kim juga melihat raut yang selalu mengantuk itu sedang cemberut.

“Kau melupakan obatmu,” kata Jongin sambil melempar paper bag besar yang dibawanya.

“Aku buatkan minum ya, kalian berdua bicara baik-baik,” Kang Dongho undur diri.

“Cepat dibuka,” perintah Kim Jongin pada Kim.

Kimberly membongkar isi tas kertas tersebut dengan malas. “Tas ini terlalu besar,” gumam Kimberly.

Ternyata tidak hanya obat saja yang dibawa Jongin, tapi kotak makan berisi kue berbentuk hati, bulan sabit, bunga, dan berbagai macam lainnya. Ada beberapa gulungan kertas juga isinya gambar Kimberly yang sedang memainkan piano, Kimberly yang bernyanyi bersama anak-anak, dan Kim yang tersenyum saat memeluk Jinheegadis kecil yang sakit kanker. Tentu saja, gambar-gambar itu dibuat dengan gaya khas anak-anakpenuh coretan warna-warni.

Kim tanpa sadar tersenyum karena ada surat yang tampaknya ditulis oleh salah satu dari mereka, isinya tentang semoga Kim cepat sembuh, ucapan terima kasih, dan keinginan mereka untuk bertemu Kimberly lagi. Ini bukan pertama kalinya Kim menerima surat dari orang lain yang berisi pujian, dulu banyak hal yang ditujukan kepada Kim. Namun, ia enggan untuk sekedar membaca karena terlalu lelah latihan. Pada akhirnya, manajernya yang membalas atau membuang surat-surat itu.

“Karena banyak obat yang harus dimuat, makanya tas itu besar. Asal kau tahu, anak-anak itu dapat menjadi obat kesepian dan kesedihan yang mujarab,” timpal Jongin yang sedari tadi mengamati ekspresi si gadis cantik.

“Mereka manis sekali, aku sampai ingin menangis,” ujar Kimberly, dia menarik napas panjang menahan air matanya yang hendak turun. “Kalau aku jadi mereka pasti akan sangat takut dengan semua jarum suntik itu, tapi anak-anak justru memikirkan aku. Mereka ingin aku cepat sembuh padahal aku tidak sakit.” Tangis Kimberly pecah. Ia menutupi wajahnya rapat-rapat.

Jongin justru tertawa. “Jangan tutupi wajahmu begitu, nanti kau tidak bisa bernapas,” kata si pria, sambil berusaha menarik telapak tangan Kimberly.

Kimberly menggeleng. “Aku jelek sekali waktu menangis,” keluh Kim.

Jongin menggeleng. “Meskipun tidak menangis, kau tetap saja jelek, Kim,” celetuk Jongin yang akhirnya menyerah. Pria itu justru menghempaskan diri di sofa yang empuk.

Kimberly yang kesal akan ucapan Jongin pun melempar bantal sofa besar favoritnya ke arah Jongin, tepat mengenai kepala si dokter. Jongin membalas. Keributan pun dimulai, tidak ada yang bisa berhenti tertawa sebab baik Kimberly atau Kim Jongin belum pernah memainkan hal yang mereka anggap tidak berguna. Banyak hal menyenangkan di dunia ini, namun kenapa justru kejadian kecil ini yang justru membuat mereka bahagia?

Oh ya, mulai kapan Jongin dan Kimberly jadi seakrab ini?

Apalagi, kini Kim sudah berani memukul bahu Jongin beberapa kali. Pria itu pun juga menginjinkan gadis di sampingnya melakukannya. Sepertinya, batu es yang dibangun oleh keduanya mulai mencair.

“Sampai kapan kau akan memandangi bedebah ini tidur, Kim?” tanya Chanyeol menginterupsi keasyikan Kimberly yang tengah mengamati Jogin yang sedang terlelap di hadapannya.

Kim Jongin ketiduran di sofa setelah membantu si gadis menata apartemen barunya. Pria itu mengobrol beberapa saat dengan Chanyeol dan Rae sebelum akhirnya mengantuk, Jongin kemudian terlelap dalam posisi duduk.

“Jongin pasti sangat kurang tidur,” kini giliran Rae yang menunjukkan vokalnya.

Kimberly bergantian membolakan mata pada Rae dan Chanyeol. “Kenapa kalian tidak memerhatikan jadwal tidurnya padahal kalian berdua temannya?”

Chanyeol mengacak-acak surai adik sepupunya itu. “Jongin bukan balita lagi, kalau pun dia masih bayi aku sudah punya satu bayi besar yang harus kujaga,” balasnya sambil menunjuk Rae yang tersenyum.

“Baiklah, aku titip teman baikku, Kim. Aku dan Chanyeol harus segera pulang karena ada beberapa hal penting yang harus kami urus,” pamit Rae, masih menarik ujung bibirnya dengan sangat lebar. Ia mendorong Chanyeol keluar karena pria besar tersebut tampaknya enggan meninggalkan saudara sepupunya berduaan dengan Kim Jongin.

Kimberly hanya bisa ternganga. Baru saja bibirnya hendak protes sebab dia ingin mereka membawa Jongin pulang, Rae serta Chanyeol sudah menghilang dari pandangan. Kim tak ingin suasana kembali canggung akibat ditinggalkan berdua dengan Jongin di apartemen. Apalagi, Kang Dongho juga pergi karena ia harus menerima panggilan darurat dari kekasihnya.

Kim meratapi nasibnya yang kelewat malang. Gadis itu terlalu malu dengan keadaan, dia takut kalau Jongin mendengar betapa jantung Kimberly berlarian hanya karena melihat wajah tidur pria itu. Jongin tampak sangat menarik di mata Kim sebab raut si pria jauh lebih ramah dan tak berkerut marah. Jari Kim ingin sekali menyentuh parasnya, mungkin akan sangat menyenangkan. Namun, ia takut membangunkan Jongin. Kimberly dilanda pilihan yang sulit, ia ingin tetap di sini kendati demikian gadis itu takut tak dapat mengendalikan diri.

“Aku seperti gadis mesum saja,” gerutuan Kim ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Siapa yang mesum?” suara bariton yang terdengar serak pun menginterupsi rutukan si gadis.

Kimberly terkejut, dia tak mengira apabila ocehannya akan mengganggu si dokter. Kim berusaha tersenyum canggung. Ia menggeleng beberapa kali, memasang rupa bodoh yang sempurna. Ekspresi Kim itu semakin membuat Jongin bingung, apalagi Kimberly langsung berdiri begitu sajagadis tersebut bergerak cepat kabur dari Jongin.

“Aduh, aduh!” seru Kimberly ketika Jongin menariknya hingga terduduk bersebelahan dengan Jongin.

Posisi mereka sangat dekat, Kim semakin salah tingkah. Rasanya sekujur tubuhnya bekerja dua kali lipat dari sebelumnya. Gadis itu sampai teramat pusing dengan semua yang terjadi, apalagi ketika jari-jari Jongin tiba-tiba mendarat di rahang Kimberly lalu menyentuh surainya dengan sangat lembut. Kimberly menahan napas. Ia lupa cara bernapas dengan benar. Kim stres berat, ini lebih menegangkan daripada pertama kali Kimberly harus tampil di panggung internasional.

“Kenapa pipimu merah?” itulah pertanyaan Jongin, setelah dua belas sekon mereka dalam posisi canggung ini.

Kim menggigit bibir. Haruskah Jongin memberikan pertanyaan sesulit itu di saat gawat darurat seperti ini? Sumpah, Kim tidak bisa berpikir! Namun Kimberly juga tak ingin terlihat idiot di depan orang yang dia taksir. Kegundahan lagi. Hah. Kenapa setiap dekat dengan Jongin, Kim jadi mempunyai banyak pilihan dalam hidup?

“Karena udaranya panas?” nada dari jawaban Kim seperti pertanyaan akibat keraguan yang dideritanya.

Jongin menyeringai. “Benarkah?”

Kim melejitkan bahu. “Kau lebih pintar dariku seharusnya, kau bisa menjawabnya,” timpal si gadis rupawan itu.

Jongin tersenyum, kali ini lebih tulus. “Aku punya sedikit teori tentang kita

Kita,” Kim mengulangi kata itu, dia merasa senang saat Jongin menyebut dirinya dan Kim sebagai kita.

Jongin mengangguk. “Benar tentang kita yang membuat pipimu begitu. Pertama, kau menyukaikujangan menyangkalnya Kim semuanya sudah tertulis di wajahmu. Kedua, kau terlalu gembira menjadi temanku. Ketiga, Kau cemburu pada kedekatanku dan Summer

Ah, gadis itu lagi!” Kim memotong ucapan Jongin dengan emosional. Dia bahkan menepis tangan Jongin yang ada di pipinya. “Aku sama sekali tidak menganggap dia sainganku, kata Rae kau tidak pernah menyukainya

Tapi aku pernah berkencan dengannya,” ungkap Jongin yang langsung membuat Kim terdiam. Jongin melanjutkan, “Aku mencoba berkencan dengan Summer sewaktu di Jerman karena aku kira dengan begitu diriku bisa melupakan Oh Rae.”

“Hasilnya?” Kim cemas menunggu jawaban.

Jongin tertawa. “Gagal,” jawabnya singkat.

“Tentu saja dia gagal. Summer tidak begitu menarik. Kalau saja waktu itu aku yang berkencan denganmu pasti berhasil karena Kimberly Park tidak pernah gagal,” kata Kim sangat antusias dan semangatnya membara.

Jongin mengacak surai Kim. Gadis itu terlihat unik serta menarik dalam hal sifat. Kim memiliki dua sisi yang berlawanan, emosi gadis itu dapat dipermainkan dengan mudah. Kepolosannya itulah yang dapat menjadi alasan utama Kim akan ditipu pria-pria lain di luar sana. Entah mengapa mengetahui hal tersebut membuat Jongin khawatir jika suatu hari nanti Kimbely bertemu dengan laki-laki berengsek yang menyakiti si gadis. Mungkin itulah alasan Jongin memutuskan sesuatu yang nantinya akan mengubah cerita hidupnya yang flat menjadi menukik tajam akibat mengijinkan si gadis memasuki hidupnya terlalu dalam.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak mencobanya?” tanya Jongin setelahnya.

Kimberly menolehkan kepala, bulu matanya bergerak beberapa kalimenandakan jika si gadis muda belum paham atas pertanyaan Jongin. “Mencoba apa?” ucap Kimberly.

“Mencoba menjadi kekasihku,” Kim Jongin menjawab dengan cepat. Pria itu memasang ekspresi kakunya seperti biasa.

Kimberly membuka bibir beberapa inci. Dia terkejut, bahkan rasanya waktu berhenti ketika ia membalas tatapan Jongin. Pria tersebut memang terkesan santai, tapi melalui sorot matanya, Kim dapat menangkap jika Jongin tengah menunggu sesuatu. Ada kesungguhan di sana, Kim bahkan tak dapat berpikir apabila Jongin hanya bercanda. Suasana kali ini terlalu serius.

“Katamu, kau menyukai tantangan dan selalu menang. Aku rasa semuanya omong kosong

―Okay, aku mencobanya!” teriak Kim memutus apa pun yang dikatakan Jongin. Kim memukul kepala, dia berpikir jika harga dirinya murah sekali karena terlalu cepat menjawab. Itu bukan tanpa alasan sebab Kimberly suka sekali berkompetisi, nalurinya enggan diremehkan. Oh baiklah, lebih tepatnya karena Jongin yang memintanya, kalau orang lain Kimberly akan berpikir ribuan kali.

Jongin tersenyum. “Baiklah,” dia bergumam rileks kemudian bersandar lagi ke sofa. Ia melipat tangannya di depan dada, lalu memejamkan mata. “Aku butuh tidur nyenyak,” sambung Jongin, seolah-olah tak ada yang terjadi beberapa menit lalu.

Hati Kim terjun bebas, dia tadi berada di atas awan lalu dihempaskan kembali ke tanah. Hanya Kim Jongin yang dapat melakukan ini kepadanya. Kimberly jadi kesal sendiri. Kenapa hanya dia yang naik roller coaster padahal seharusnya Jongin juga seharusnya merasakan hal sama sepertinya? Bukankah, mereka berkencan sekarang? Well, meskipun ini hanya tantangan kekanakan yang disetujui keduanya.

“Kau sungguh tidak pernah berkencan dengan benar, Kim Jongin. Bagaimana bisa kau tidur setelah memiliki kekasih baru?” ujar Kim. Gadis itu menatap Jongin yang tampaknya tetap pada posisi tidurnya tersebut. Si Gadis menghembuskan napas kasar. “Ada satu hal yang harus dilakukan sepasang kekasih. Apalagi, ini hari pertama kita. Aku tidak ingin kita melewatkannya,” lanjutnya kemudian mendekati tubuh pria itu, Kim meletakkan telapak tangannya di pipi si dokter.

Jongin bereaksi, alis pria itu naik satu. Belum sempat Jongin membuka kelopaknya, ada sesuatu yang menyentuh bibir dengan sangat lembut. Kimberly Park menciumnya!

Kim benar-benar nekad. Dia mengecup Kim Jongin tanpa ijin! Ah, mereka kan sudah sepakat bersamasecara bersyarattentunya sepasang kekasih tidak pelu minta ijin bukan?

Jantung Kimberly seolah lepas dari tempat. Ia belum pernah membayangkan apabila mencium Kim Jongin akan semenyenangkan ini. Aroma pria itu lebih seperti menthol yang segar, ada bagian dari Jongin yang berbau rumah sakitKim sangat menyukainya. Kim berpikir jika Jongin akan mendorongnya atau memarahinya. Namun, Kim Jongin justru meraih pinggang Kimberly Park yang kaku hingga dia terduduk di pangkuan si pria. Setelahnya, Kim terengah karena Jongin melepaskan kecupannya. Gadis itu melihat tautan alis Jongin.

“Itu ciuman pertamamu,” Jongin mengoarkan argumen. Jari pria itu mengusap bibir Kimberly sangat pelan, dia menarik senyum simpul khasnya. “Jangan berbohong,” ujarnya lagi sebelum Kim sempat menjawab.

Kimberly memutuskan mengangguk saja, toh dia tidak ahli berdusta. Dia memang tak tahu bagaiamana caranya, tadi Kim hanya menempelkan bibirnya. Gadis itu bahkan bingung dia bergerak ke kanan atau ke kiri. Otaknya macet kalau dekat-dekat dengan Kim Jongin.

“Aku tidak tahu caranya. Apa Summer lebih tahu?” gumam Kimberly.

Jongin hendak tertawa, tapi dia kasihan dengan ekspresi sedih Kim. “Aku bisa memberitahumu,” balas pria itu. Tanpa aba-aba, Jongin mendekatkan parasnya pada gadis di pangkuannya tersebut hingga hidung mereka bersentuhan.

Kimberly meremas kemeja pria itu saat Jongin secara perlahan menyatukan kembali bibir mereka. Kim Jongin menciumnya dengan cara yang tak dapat Kim deskripsikan dengan kata-kata. Banyak hal yang bercampur dalam dirinya. Semuanya terasa menggembirakan, Kim dapat merasakan pria itu tersenyum di tengah kecupan mereka.

Aku tahu Kim Jongin menertawakan betapa bodohnya diriku, benak Kim berkata seperti itu.

Padahal yang ada dipikiran Jongin adalah … tidak adapria itu tersenyum karena … hanya karena dia merasa senangtidak ada alasan lain. Ah Jongin enggan berdalih sebab ia sedang kehabisan energi karena berusaha mengendalikan dirinya.

Mengendalikan diri untuk apa?

Rahasia, begitu benak Jongin menjawab.

-oOo-

a/n: Hai, terima kasih jika kamu sudah membaca cerita ini sampai selesai. Semoga masih ada yang ingin membaca cerita ini. Aku berusaha menulisnya dengan sebaik mungkin, aku berharap kamu menyukainya. Aku menunggu komentar darimu agar aku bisa melanjutkan cerita ini. Untuk Epilog Perfect Match semoga aku bisa menyelesaikannya dalam dua minggu ini. Sampai jumpa di cerita selanjutnya! 😀

Advertisements

139 thoughts on “Perfectly Imperfect: I Am Kim Jongin’s Girlfriend!

  1. Official. Semoga jadi beneran ini mah. Otw jadi shipper Kim-Jongin
    Eh/ kok jadi kayak nyebut satu nama doang ya? Kwk

  2. Aduhhh bener2 sma Summer yaa ngajak perang diaa..
    Ga nyangka kim bakal seberani itu nyosor jongin duluan..hhaa tapii lucu sihhh ditambah jonginnya yg ga nolak..

  3. Masih aja ya ada summer wqqwqq, jangan nyerah kim, jongin udah mulai nyaman tuuuhhhh deket kamu, buktinya nyosor terus senyum2 gituuuuuuu, semangatlah kim

  4. Ohooo
    “Selain bisa bunuh diri, aku juga dapat mengakhiri orang lain dengan lihai. Apa kau pernah membaca cerita-cerita fiksi mengenai artis depresi yang berujung gila lalu membantai satu kota? Mungkin saja, aku bisa begitu,”
    Kimberly benar2 gadis hebat! Dia tau bagaimana harus melindungi sangpujaan hati 😍
    Hhahaha
    Cie jadian ciee…
    Akhirnyaaaa ❤️❤️

  5. Menunggu happy ending buat semua castnya. Betah banget baca cerita disini. Bahasanya enak, tanda bacanya bener, ceritanya menarik. Kurang apa cobak. Uw
    Semangat yaaa

    Keep writing and fighting ❤

  6. Nah ini ni yang ditunggu! Mereka yang pacaran tapi gw yng ngefly, pokonya sukasukasukaaaaaa😍😍
    Semoga hubungannya lanjut terusss

  7. Yeeeeeyyyyy.. Seneng banget double kim pacaran 😍😍😍😍 gak sabar pengen baca lanjutannya… Lanjutan chanyeol sama rae nikah juga 😀

  8. Wahhhh…kimberly hatinya berbunga2, aq juga berbunga2..wkwk…seneng banget akhirnya hubungan mereka berlanjut…lanjut thor…

  9. Akhirnya Jongin harus menerima kenyataan dan jalan sesuai garis ya. Daripada sibuk merutuki masa lalu. Dia lebih memilih maju melawan tantangan di depannya. Kim

  10. Omaigattt😆 aku baru sempet baca inii… Ya ampun sweet banget sih jongin sm kim😆😆😆 aaaa omaigat aku baper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s