Perfectly Imperfect: Of Jongin’s Warm Hug and Kim’s Sweet Kiss

Perfectly Imperfect

 

Sebuah sequel dari Perfect Match.

Sebelumnya: Because of Imperfect You – Closer To YouI Am Kim Jongin’s Girlfriend!

“Our relationship is like a roller coaster, it has its ups and downs. But is your choice to scream or enjoy the ride.”

-oOo-

“Apa ini, Kim?” tanya Jongin singkat pada gadis yang dua hari lalu resmi menjadi kekasihnya. Ekspresi penasaran Jongin berubah menjadi curiga saat gadis itu tersenyum lebih lebar serta bersemangat sekali.

“Itu proposal mengenai kegiatan kita selama berkencan nanti,” jelas Kim sembari menunjuk kumpulan kertas tebal bersampul merah jambu yang dijilid rapi. “Dongho dan Rae bilang kalau kita harus merencanakan secara sistematis agar bisa berhasil. Aku sudah menulis langkah-langkah dan deskripsi mengenai hal-hal yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan bersama,” sambung Kim diplomatis. Gadis bergaun selutut berwarna merah itu pun menegakkan posisi duduk untuk memberikan isyarat bahwa dirinya sangat serius hari ini.

Jongin mengulum tawa. Dia mulai mengerti arah pembicaraan mereka. Tadinya pria berkulit tan itu khawatir terjadi sesuatu pada Kim karena si gadis tiba-tiba menghampirinya di ruang praktik. Kim bahkan ikut mengantre bersama pasien lain.

“Hm, apa tujuan yang harus kita capai?” tanya Jongin main-main hanya sekedar mendengar ocehan kekasihnya yang di luar nalar.

Kim tersenyum malu-malu. Gadis itu tertawa centil sebelum menjawab, “Untuk membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku.”

Jongin mengangguk beberapa kali. Dia membuka proposal itu membacanya ―hanya sekedar basa-basi agar Kimberly senang. Si pria mulai mengerutkan alis ketika sampai pada bagian meniup balon bersama, memberi makan ayam, mengupas bawang sampai menangis, dan menonton seratus judul film yang berbeda. Kim juga menulis acara lain yang sangat banyak sekali―kelihatannya waktu dua bulan yang akan dihabiskan Kim di Korea tidak akan cukup untuk memenuhi daftar tersebut.

“Aku tidak dapat melakukan semua ini,” ujar Jongin cuek.

Kimberly kecewa, dia menatap Jongin sendu. “Kenapa?” tanyanya.

Jongin menghela napas. “Jangankan menonton seratus film, aku sering ketiduran kalau menonton sesuatu lebih dari satu jam.” Jongin menatap Kim dengan pandangan yang tak bisa diartikan. “Aku tidak punya waktu, young lady,” kata Jongin lagi.

“Ah, benar. Kau sangat sibuk,” Kim berusaha menghilangkan kesedihannya karena secara tidak langsung Jongin menolak. “Aku mengerti. Kalau begitu, aku pulang dulu,” sambung Kim.
Alis Jongin naik satu, tak biasanya Kimberly Park menyerah dengan mudah. Dia jadi khawatir atas perubahan sikap si gadis cerewet. Well, mungkin Kim sedang malas bicara banyak―itulah perkiraan Jongin. Namun, tetap saja ada yang janggal jika Kimberly enggan mengoceh.

Sudahlah, terserah Kim saja―kenapa Jongin yang jadi perang batin?

Biarkan saja dia pergi, pikir Jongin lagi.
Gadis itu sungguh-sungguh beranjak dari duduknya, ia berjalan ke arah pintu. Namun, Jongin meraih tangan si gadis bersurai coklat seolah tidak rela Kimberly pergi begitu cepat dari hadapannya.

Jongin membungkuk, ternyata dia menalikan sepatu kets putih Kimberly. “Jalan dengan hati-hati. Perhatikan tali sepatumu, jangan sampai kau tersandung atau semacamnya. Aku tidak suka kulitmu tergores. Mengerti?” ucap Jongin. Pria itu menarik ujung bibirnya, dia tersenyum dengan begitu menenangkan.

Kimberly mengerjapkan mata beberapa kali. Ia mengangguk patuh. “Ini sungguh tidak adil. Aku tak punya kesempatan untuk membuatmu menyukaiku. Namun, kau justru membuatku jatuh cinta dengan mudah,” perkataan Kim ini ditujukan pada dokter itu.
Kim Jongin hanya melejitkan bahu acuh tak acuh. Memang bukan salahnya apabila dirinya terlalu rupawan.

Kimberly meletakkan beberapa album foto yang diberikan Rae padanya ketika si gadis muda itu berkunjung ke rumah kekasih sepupunya tersebut. Kimberly memanjakan mata dengan menatap potret tiga orang sahabat tersebut, ada Chanyeol yang terlihat selalu babak belur, Rae yang ceria, Sehun yang tampak pintar, dan Jongin yang selalu cemberut. Jauh dalam diri Kimberly ada perasaan iri pada mereka karena Kim tidak pernah memiliki teman akrab. Kimberly sedari kecil dilingkupi orang-orang dewasa yang menjadi rekan kerjanya. Namun, mereka hanya lah orang asing yang lekas pergi―setelah tak ada proyek drama dengan Kim mereka akan langsung menghilang begitu saja.

“Kim Jongin dulu disukai banyak sekali murid perempuan di sekolah kami, tapi mereka takut sendiri sewaktu akan mendekatinya,” ucap Oh Rae sembari duduk di samping Kimberly. Wanita muda yang hendak menikah dengan sepupu Kim pun melanjutkan, “Walaupun, Jongin memberikan wajah galaknya, dia juga kerap membantu saat mereka terluka. Jongin senang sekali mengobati orang lain, namun tidak pernah bisa mengobati dirinya sendiri.”

“Apa kau sangat menyukainya, Rae?” tanya Kim, netranya menunggu jawaban.

Rae mengerlingkan mata. “Aku dulu sangat menyukainya. Dia temanku sejak kecil, aku terbiasa bersamanya. Akan tetapi, saat aku menyukai seseorang, perasaan suka saja tidak cukup. Kehadiran orang itu di dekatku akan melengkapinya. Ternyata, justru Park Chanyeol yang lebih kucintai.”

“Aku sudah berusaha mengekori Jongin ke mana pun dia pergi, tapi dia justru mendiamkan aku,” kata Kimberly tanpa menutupi raut kecewanya.

Oh Rae tertawa. “Jangan bermuka masam seperti itu, saat Jongin diam artinya dia baik-baik saja bersamamu. Kalau dia merasa tidak nyaman, Jongin pasti sudah menghilang tiba-tiba. Aku yakin sifat kekanakannya yang suka lenyap tanpa kabar masih ada. Apabila, Jongin masih bisa kau hubungi berarti dia menerimamu dengan ramah, Kim.” Oh Rae menepuk bahu Kim. “Jongin sangat sulit untuk mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan pada orang lain. Kau harus lebih bersabar, okay?”

Kimberly mengangguk, dia selalu merasa lebih baik setelah bertemu Rae. Wanita tersebut membuat Kimberly jauh lebih istimewa. Kim jadi punya semangatnya kembali.

“Baiklah, aku akan datang ke rumah sakit mulai besok,” ujar Kimberly.

Rae mengerutkan alis. “Kenapa tidak sekarang saja? Setahuku, Jongin libur hari ini,” balas Rae.

“Katanya dia ingin tidur sepanjang hari. Aku tidak berani mengganggunya, apalagi proposal kegiatan berkencan kami ditolak, Semangatku jadi turun drastis―”

“―Proposal kegiatan?” potong Rae tampak tertarik.

“Aku membuat daftar dua ratus hal yang harus kami lakukan selama percobaan berkencan,” jelas Kim, gadis itu membenarkan blus biru muda yang dikenakannya.

Rae tertawa. “Kim Jongin pasti menolaknya,” argumen Rae lantas mendapatkan anggukkan kepala dari lawan bicaranya. “Cukup tiga hal saja yang kau minta dari Jongin. Kau harus memastikan itu berkaitan dengan bintang, anak-anak, dan hewan peliharaan. Susun aktivitas yang berkaitan dengan tiga hal favorit Jongin tersebut.”

Kimberly mengaduk tasnya untuk menemukan buku catatan kecil, dia menulis semua yang dikatakan oleh Rae. “Kira-kira apa lagi?” tanya Kimberly. Kim melihat catatannya sekilas. “Jongin menyukai hal-hal yang berlawanan denganku,” keluh si gadis.

“Cinta itu memang butuh pengorbanan Kim,” Rae menasihati dengan lugas. Ia melipat tangan di depan dada. “Yang terpenting dari semua itu adalah kau harus bersama Jongin ketika dia libur―datang ke apartemennya sekarang. Jongin akan mudah luluh jika dia sedang menganggur. Aku akan memberitahu sandi apartemennya,” lanjut Rae.

Oh Rae menarik Kimberly untuk segera beranjak dari sofa. Ia menggenggam sepasang bahu Kim yang kecil. Rae memberikan tatapan yang berapi-api seolah Kimberly akan masuk ke medan perang.

“Tunggu sebentar, aduh,” Kim terseok mengikuti langkah Rae menuju ke depan pintu.

“Dulu aku gagal menarik perhatian Jongin―sekarang kau harus berhasil. Semangat, Kimberly Park!” seru Rae sangat lantang sambil mengepalkan tangan ke atas.

Kimberly teramat bingung dengan keadaan ini, namun melihat Rae begitu antusias dan optimis―gadis itu pun ikut berteriak, “Semangat!”

Entah keributan apalagi yang akan Kimberly buat atas saran Oh Rae, pastinya Kim Jongin harus waspada.

Jongin benar-benar harus berhati-hati akan tingkah Kimberly. Pria itu baru saja bangun tidur setalah hampir empat belas jam terlelap, dia menikmati hidupnya dengan cuti selama tiga hari sebab kalau tidak tubuhnya bisa semakin protes. Baiklah, beberapa bulan lalu Jongin sempat ingin sakit karena sisi melankolisnya muncul. Kini dia berubah pikiran karena banyak hal yang tidak dapat ia lakukan ketika sakit, misalnya menengok pasiennya yang merupakan tanggung jawab pria tersebut.

Okay, semula berjalan sangat lancar dan normal. Namun, Jongin mulai merasa ganjil ketika mendengar teriakan dari arah dapur. Suaranya sangat gaduh, perpaduan antara seruan melengking dan bersin dari seorang wanita.

Jongin bergegas melompat dari ranjangnya, berlari pontang-panting. Jongin yang biasanya tenang pun akhirnya mengeluarkan keterkejutannya. Ruang tamu, ruang santai, dan dapur Jongin berantakan―beberapa piring pecah. Ada sisa makanan ringan yang tadi dilahapnya berhamburan serta air soda tumpah mengenai karpet yang baru saja Jongin laundry. Penyebabnya adalah tiga makhluk yang berbeda jenis. Pertama kucingnya―si Kai. Kedua Kimberly―Jongin masih bertanya-tanya cara gadis itu masuk ke apartemennya. Ketiga, anak anjing jenis Golden Retriever yang berlari ketakutan karena bermain kejar-kejaran bersama kucing Jongin. Suasana sangat kacau. Jongin menatap Kimberly marah, kendati demikian Kim malah sibuk menutupi hidung, menahan bersinnya.

“Akhirnya kau bangun, aku sudah menunggu di sini selama dua puluh menit lalu mereka bertengkar. Astaga, aku bersin lagi. Tolong, bantu aku menangkap si Gugu. Aku alergi bulu ringan, tapi kalau terlalu lama―”

“―Kau alergi bulu, malah membawa anjing ke sini?” potong Jongin tak percaya.

Pria itu segera menuju ke arah Kimberly. Tangan kuatnya menarik si gadis menuju kamar. Ia menutup pintu kemudian meminta Kim untuk duduk di sudut ranjang. Kim Jongin bahkan belum sempat mencuci muka atau mengganti piama tidur, meskipun begitu Jongin sudah harus menangani pasiennya pagi ini. Jongin mengamati kulit Kimberly untuk melihat alergi gadis itu sudah sejauh mana.

“Buka mulut,” perintah Jongin sembarik menekan dagu Kim.

Kimberly menurut. “Aku tidak apa-apa serius. Ini alergi yang sangat ringan, aku hanya bersin―”

“―Diam,” potong Jongin lantas pergi menuju rak kayu yang terletak di samping tempat tidur. Dia mengambil obat dan air minum. Lantas mengangsurkannya pada Kimberly. “Aku membaca riwayat kesehatanmu. Kau pernah sampai pingsan karena alergi,” ucap jongin setelah memastikan bahwa gadis di hadapannya menelan semua obat yang dia berikan.

“Oh, itu sewaktu aku harus memakai mantel bulu untuk drama musikal selama lima jam. Hal yang biasa, aku sering seperti itu―”

“―Mulai saat ini perhatikan kesehatanmu, Kimberly Park. Aku tidak ingin mendengar kau sakit, apalagi sampai jatuh pingsan,” ungkap Jongin, dia menghela napas panjang.

Kimberly tersenyum malu-malu, seolah peringatan menakutkan dari Kim Jongin dianggap angin lalu. “Apa kau khawatir padaku?” tanya Kim pada pria yang sekarang duduk di sampingnya sambil memijat pelipis.

“Tidak,” Jongin menjawab otomatis. Pria itu membalas tatapan Kimberly. “Aku sedang menjalankan tugasku sebagai dokter,” sambungnya tanpa menatap mata Kim, Jongin masih sibuk mengamati kulit si gadis―memastikan alergi Kimberly tidak bertambah parah.

Kimberly mendesah kecewa. Gadis itu memalingkan wajah. “Terserah saja kalau begitu. Aku ke sini untuk memberikan Gugu, aku sengaja mengadopsinya untukmu,” ucap gadis itu lesu.

Ekspresi Jongin berubah berkabut. Bagaimana bisa Kimberly membawakan anjing untuknya tanpa menanyakan kepadanya terlebih dahulu?

Jongin sedikit trauma pada anjing karena anjing Chanyeol dulu sering sekali mengejarnya. Apalagi, Oh Rae yang selalu tertawa puas melihat pertunjukkan Jongin digigit anjing. Keduanya menjadi hal paling memalukan. Jongin enggan mengulang masa lalunya yang suram dengan si anjing.

“Bawa pulang, aku tidak suka anjing,” ujar Kim Jongin datar dan jahat. Pemuda itu melotot ke arah Kim. “Jangankan untuk memelihara anjing, aku bahkan pusing hanya melihatnya,” lanjut Jongin.

Kimberly tak menimpali, dia seperti mengingat sesuatu yang sempat dilupakannya. Rae bercerita pada Kim kemarin mengenai Jongin yang takut pada anjing serta alasannya. Kim langsung tertawa setelah dia bisa memanggil kisah Jongin dan anjing.

“Oh iya, kau pernah digigit anjing Chanyeol dulu,” Kim berkelakar. Gadis itu berdiri dari duduknya, ia mencolek-colek pinggang Jongin. “Memangnya, bagian mana yang digigit anjing, Dokter?” tanya Kim menggoda lawan bicaranya yang sekarang semakin mengerucutkan bibir.

Jongin berusaha menghindari gurauan Kimberly, pria itu bergerak lincah ke kiri dan ke kanan. Mereka bermain kejar-kejaran di kamar Jongin yang biasanya sangat rapi serta tenang. Kimberly tertawa, sementara Jongin yang pura-pura murka pun mengikuti suara tawa gadis itu. Entah sudah berapa lama Jongin tidak bersenang-senang dengan sederhana. Biasanya, dia menghabiskan waktunya untuk belajar, bekerja, dan tidur. Tingkah kekanakan Kimberly membawa satu warna yang lebih cerah―Jongin melakukan hal luar biasa lainnya karena gadis itu. Hari libur Jongin yang damai menjadi hari paling merepotkan sedunia. Entah dia harus bersyukur atau malah menguarkan sumpah serapah.

Jongin jadi harus bersih-bersih.

Jongin harus memastikan apabila rumahnya bersih dari bulu binatang agar alergi Kim tidak kambuh lagi. Well, kucing kesayangan Jongin dan Gugu si anjing harus dititipkan ke tetangga.

Jongin harus memasak karena Kim mengeluh terus soal perutnya yang mengempis.

Jongin harus tidur di sofa sebab Kimberly dengan santainya ketiduran di ranjang si pria.

Jongin tidak protes sama sekali, pikirannya yang biasanya suram bahkan tak unjuk rasa. Baik tubuh mau pun benak Jongin mencoba memaklumi sifat Kimberly. Toh, Kim datang ke dalam kehidupan Jongin atas persetujuan pria itu sendiri, bukan paksaan orang lain.

Kini Jongin hanya memandangi Kimberly yang terlelap dengan nyaman, menggunakan bantal dan selimut kesayangan pria itu. Mereka baru saja makan tiga puluh menit lalu, Kim kekenyangan lalu mengeluh mengantuk. Seperti biasanya, Kim langsung berbuat sesuka hati―merebut ranjang kekasihnya. Jongin bisa saja membangunkan Kim―niat awalnya begitu, namun pada akhirnya Jongin pun tidak tega melakukannya.

“Lihatlah, dia mirip sekali seperti bayi beruang, setelah kenyang langsung tidur,” Jongin bermonolog. Ia menggeser duduknya ke tengah ranjang mendekati Kimberly. Jari-jari Jongin menyingkirkan surai Kim yang menutupi paras si gadis. Pelan-pelan ia mengusap kepala Kim dengan sangat lembut. “Seharusnya, aku yang tidur pulas, ini hari liburku malah harus mengasuh balita,” lanjutnya kemudian tersenyum. Tarikan bibir Jongin bukan tanpa sebab posisi tidur Kim yang terlentang serta tidak anggun, menurutnya sangat lucu.

Bagaimana bisa gadis seperti ini punya banyak penggemar? Mereka pasti akan pensiun menjadi penggemar Kimberly kalau tahu tingkah Kim begini, batin Jongin sembari tetap menatap kekasihnya lamat.

Bukan salah Kim Jongin apabila dia pada akhirnya ikut ketiduran. Percayalah penyakit mengantuk itu menular, apalagi menunggui seseorang mendengkur selama hampir dua jam. Jongin pun terlelap di samping Kim, tanpa penolakan. Padahal, biasanya Jongin tidak suka tidur satu ranjang dengan orang lain. Lagi-lagi Kim Jongin memperlakukan Kimberly Park secara istimewa.

“Astaga!” seruan Kim teredam selimut yang menutupi setengah wajah. Ia sangat terkejut ketika bangun dari tidurnya, kemudian merasakan sepasang tangan kokoh sedang memeluknya dari belakang. Kimberly hampir saja meninju siapa pun orang kurang ajar itu, namun ia segera mengurungkan niat sebab teringat bahwa dirinya tadi tidur di apartemen Jongin. Tadinya Kim ingin marah sekarang justru berbunga-bunga.

Kimberly mengusap tangan Jongin yang melingkar di pinggangnya, agar tidur pria itu semakin pulas. Kimberly ingat dulu sewaktu dia masih kecil, ibunya kerap membelai tangannya ketika Kim cemas akan panggung pertamanya atau saat dirinya menanyakan keberadaan sang ayah. Huh. Kim jadi merindukan ibunya sudah hampir satu bulan mereka tak bertemu. Si ibu memang sangat disiplin pada putrinya, Kimberly kerap dimarahi karena enggan latihan, keras kepala tak ingin memakai gaun pertunjukkan, dan niatnya melarikan diri. Kendati demikian, ibunya selalu memaafkan―wanita itu akan memeluk Kim sangat erat jika Kimberly terlalu nakal atau membuatnya terlampau sedih.

Kimberly jadi merasa bersalah.

“Aku jadi merindukan Mom,” bisik Kim tiba-tiba di tengah lamunan. Gadis itu meremas tangan Jongin pelan. “Tapi, aku tidak ingin kembali ke Amerika,” lanjutnya.

“Kenapa tidak ingin kembali ke Amerika?” Suara Jongin yang serak tiba-tiba terdengar di rungu Kimberly, pria itu sudah bangun ternyata.

Kimberly membalikkan badan agar ia dapat menatap wajah bangun tidur miliki kekasihnya. Keberanian dari mana Kim juga tak tahu sebab secara serta-merta, telapak tangan Kim menyentuh rahang Jongin yang tegas.

“Dulu aku tidak ingin kembali karena merasa sangat lelah dengan kehidupanku sebagai Kimberly Park. Aku ingin mengakhiri semuanya,” jawab Kim, dia membentuk senyum simpul yang sempurna. “Tapi, aku sudah tidak capek lagi sekarang. Soalnya ada pria yang membuatku tidak bosan lagi dengan hidup, namanya Kim Jongin. Aku juga harus di sini untuk memastikan jika wajah yang selalu cemberut ini bisa tertawa gembira,” lanjut Kimberly.

Napas Jongin sempat tertahan beberapa sekon ketika Kimberly mengungkapkan dengan begitu gamblang apa yang gadis itu rasakan. Awalnya, Jongin hanya menganggap Kimberly main-main saja akan hubungan mereka yang memang sedari awal tidak serius. Namun, sikap Kimberly yang bersungguh-sungguh justru membuat Jongin cemas kali ini. Pada akhirnya, Kimberly yang akan terluka.

“Bagaimana jika aku tidak bisa menyukaimu?” tanya Jongin, matanya yang tajam menunggu.

Kimberly menundukkan kepala sebentar, lalu membalas tatapan Jongin. “Aku sangat kecewa, tapi aku ini orangnya pantang menyerah. Aku akan mengekorimu sepanjang hidupmu dan menggagu gadis-gadis yang mendekatimu. Aku pasti kau tidak akan tahan diikuti gadis secantik Kimberly Park. Aku yakin kau yang akan bertekuk lutut,” oceh Kimberly. Dia berbicara sambil menggerak-gerakkan tangan. Kimberly menarik napas sebentar, lalu mulai bersuara lagi, “Aku kan sering sakit, siapa tahu aku menjadi hantu lebih cepat kemudian―”

“―Kimberly Park, aku tidak suka kau bicara asal,” Jongin memotong ucapan kekasihnya. Pria tersebut melotot ke arah Kim dengan galak, “Aku juga tidak ingin kau menjadi hantu lebih cepat. Itu menakutkan,” sambungnya sembari mencubit pipi gadis di hadapannya yang kini justru tertawa.

“Kau tahu Kim Jongin, dirimu jauh lebih ekspresif sekarang. Dulu sewaktu kita pertama kali bertemu sikap dan ekspresi wajahmu sangat kaku. Itu artinya aku berhasil,” ungkap Kimberly.
“Berhasil apanya?” tanya Jongin tidak bisa menerima kenyataan.

Kimberly mendekati paras Jongin hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Berhasil membuatmu menyukaiku, Darling,” jawab Kim lalu beranjak menjauhi Kim Jongin.

Jongin tidak menjawab ia justru membuang muka karena mendapati keanehan pada dirinya. Pria itu merasa bahwa dunianya berputar sangat cepat sehingga jantungnya bekerja ekstra ketika raga si gadis menempelinya.

Kimberly melipat tangan di depan dada, gadis itu memamerkan gigi. “Sudah malam saatnya kita melihat bintang. Bukankah kau suka bintang, Dokter? Uh, jangan tanya aku tahu dari mana―itu insting―memang ya, kalau jodoh pasti mengerti kesukaan kekasihnya tanpa bertanya,” Kim berucap panjang lebar, tanpa arah tujuan yang pasti.

Jongin hanya menggelengkan kepala, “Kau pasti tahu dari Oh Rae. Siapa lagi yang bisa menjadi informan terbaikmu selain dia?” timpal Jongin.

Kimberly berkacak pinggang. “Aduh, pura-pura saja tidak tahu biar semuanya terdengar romantis!” seru Kim. Ia menarik Jongin agar pria itu rela meninggalkan ranjangnya yang empuk. “Pokoknya, ayo bangun, Jongin! Kita lihat bintang di rooftop gedung apartemen ini,” rengek Kimberly.

“Kau harus makan malam dan aku juga harus mandi dulu sebelum kita melihat bintang,” putus Jongin, nadanya tegas.

“Aku tidak ingin makan tadi kan sudah,” tolak gadis muda itu.

Jongin berdecap, “Tadi itu makan siang, kalau sekarang malam. Kau harus makan dengan teratur agar perutmu ini ada isinya.”

Jongin enyah dari kasurnya ia meraih tangan Kim, kemudian menggenggamnya―menuntun gadis itu menuju dapur. Jongin yakin perhatiannya saat ini dikarenakan nalurinya sebagai dokter, bukan jenis rasa lain yang dia ingin hindari.

“Kimberly hanya pasien. Dia pasien,” berulang kali Jongin berbisik pelan mengulangi kalimat itu serupa mantra.

Ah, dasar keras kepala. Padahal, serebrum Jongin sudah bertanya-tanya secara lantang.

Apa benar kau hanya menganggap Kim sebagai pasienmu, Jongin?

Apa sebelumnya kau pernah menghabiskan hari libur dengan pasienmu, Jongin?

Apa kau rela kesusahan membersihkan bulu-bulu anjing untuk pasienmu, Jongin?

Apa kau bersedia memasakkan semua pasienmu agar mereka makan dengan teratur, Jongin?”

Apa kau kerap tersenyum seperti orang bodoh ketika melihat pasienmu tidur, Jongin?

Apa kau akan membiarkan pasienmu menyentuh tubuhmu sembarangan, Jongin?

Apa kau juga berdebar ketika pasienmu tersenyum padamu?

Apa pasienmu yang lain juga terlihat sangat cantik seperti Kimberly di matamu, Jongin?

Dari segala pertanyaan itu telah menjelaskan bahwa Kimberly bukan hanya sekedar pasien bagi Kim Jongin.
Ayolah Jongin, jangan terlalu naif atau cerita ini tidak akan ada ujungnya!

“Kata Rae, kau menyukai tiga hal, yaitu anak-anak, bintang, dan hewan peliharaan,” ucap Kim ketika mereka berada di balkon apartemen Jongin yang luas.

Mereka tidak jadi melihat bintang di atap gedung apartemen karena dingin dan bintang tidak muncul akibat tertutup awan. Akhirnya, mereka hanya duduk bersebelahan menatap lampu-lampu yang berkerlip. Jongin membungkus tubuh si gadis dengan selimut, memastikan kekasihnya hangat. Kimberly pun sangat menikmati suasana ini, apalagi dia punya sandaran super wangi yaitu bahu Jongin. Semuanya terasa menyenangkan sekali. Tentu saja sebelum mereka sampai pada ketenangan ini ada perdebatan panjang mengenai gagalnya melihat bintang di atap apartemen. Semua ketegangan tersebut berakhir ketika Jongin berjanji pada Kimberly akan membawa gadis itu ke tempat bintang bisa terlihat sangat indah―suatu saat nanti kalau Jongin libur lagi.

“Aku menyukai satu hal lagi, berkebun,” timpal Jongin dia menatap Kimberly sekilas. “Lebih tepatnya ibuku yang menyukai keempat hal tersebut. Ibu, aku, Rae, dan Sehun sering sekali menghabiskan waktu bersama sejak aku kecil. Orang tua Rae dan Sehun terlalu sibuk, mereka berdua kerap dititipkan pada ibuku. Ibuku mencari kegiatan agar mereka tidak menangis dan membuatku tidak bosan juga bermain dengan mereka,” jelasnya.

“Ibumu sangat menyenangkan, tidak seperti Mom yang hanya bisa memaksa ini serta itu,” Kimberly mencurahkan isi hatinya.

Jongin tertawa kecil saat melihat Kim mengerucutkan bibir. “Apa ibumu mirip denganmu, Kim?” tanya Jongin penasaran.

Kimberly menggeleng. “Dia sangat tidak mirip aku. Mom pemarah serupa nenek sihir dan keras kepala― “

“―Ah, kalau itu sangat mirip denganmu,” sela Jongin. Dia mengacak-acak surai Kim.

Si gadis meraih jari Jongin lalu memainkannya. “Eum, banyak yang bilang aku cantik seperti Mom. Mom cantik sekali, bahkan ketika dia sedang marah,” Kim berucap. Ia memandang lurus―menerawang.

“Hm, ibumu pasti lebih cantik darimu,” kelakar Jongin.

Hening beberapa sekon, kemudian Kim memberikan atensinya pada Jongin. Matanya bertemu dengan pupil cokelat milik pria itu. “Apa ibumu juga cantik? Aku ingin bertemu dengannya,” kata Kimberly.

Senyum Jongin lantas menghilang. “Ibuku sangat cantik karena itu aku tampan begini,” gurau Jongin, meskipun begitu wajahnya muram. “Sayangnya, kalian tidak bisa bertemu. Ibuku sudah pergi,” sambungnya.

Kimberly mengerjapkan mata beberapa kali, sepertinya dia salah memilih topik pembicaraan. Gadis itu jadi tidak tega melihat Jongin sedih. Tanpa berpikir panjang Kimberly beranjak memeluk pria itu, sangat erat sampai terasa hangat. Kimberly menggigit bibir saat menyadari Jongin membalas dekapannya.

“Maaf, pasti rasanya sangat berat,” bisik Kimberly.

“Duniaku runtuh waktu itu. Aku menyesal karena terlalu sibuk di Jerman tanpa sempat menjenguk ibu. Setelah semuanya berlalu, penyesalan itu menelanku bulat-bulat,” ujar Jongin sendu.

Kimberly menepuk punggung prianya dengan sabar. “Penyesalan memang menyakitkan,” bibir Kim berucap.

“Kim, jika dirimu merindukan ibumu temui dia. Aku yakin ibumu juga rindu sebab harus berjauhan denganmu. Aku tidak ingin kau menyesal karena itu akan melukaimu,” timpal Jongin.

Kim hanya tidak menimpali. Netra gadis itu terpejam. Napasnya teratur berderuk mengisi pendengaran. Ah, jadi sedari tadi Kim merasa hangat sampai membuatnya mengantuk. Astaga Kimberly, ini bukan waktunya untuk tidur! Suasana sedang serius.

“Kim? Kimberly Park?” panggil Jongin berulang-ulang ketika gadis yang ada di dekapannya mendengkur. “Kimberly Park!” seruan Jongin lebih keras, ia terlanjur cemas mengira Kimberly pingsan.

Kimberly langsung membuka mata. Tangannya masih mengalung sempurna di leher kekasihnya. Gadis itu tertawa lebar.

“Apa aku ketiduran? Habisnya, kau sangat hangat, Dokter. Aku jadi mengantuk,” Kim mencari alasan.

Kim Jongin mendengus. Pria itu akan mengambil jarak di antara mereka, akan tetapi Kim justru mengeratkan spasi.

“Kimberly, lepaskan,” Jongin mengingatkan.

Gadis itu menyengir lagi. “Maaf. Aku penasaran sekali, kenapa memeluk dokter terasa lebih hangat? Aku jadi mengantuk dan ingin tidur. Apa semua dokter seperti itu? Kalau begitu, aku akan mencoba memeluk Dokter Hwang besok― “

“―YA!” Jongin tiba-tiba jadi emosi sendiri. Pria itu melanjutkan omelannya, “Jangan menyentuh orang sembarangan, apalagi sampai memeluknya. Tidak semua orang mempunyai suhu tubuh sepertiku, jadi kau hanya boleh memelukku. Awas saja kau, Kim. Ada banyak bakteri dan virus di tubuh mereka―“

Benar, ucapan Jongin terputus. Selama ini, Jongin akan sangat murka apabila orang lain menyela kemarahannya. Kini pria itu justru terpaku di tempat, bibirnya terbuka beberapa inci. Kimberly berhasil mendiamkan kekasihnya dengan mengecup pipi Jongin singkat.

“Aku sangat sayang padamu, Dokter. Aku sangat sayang padamu, Kim Jongin. Terima kasih sudah khawatir,” bisik Kimberly di rungu lawan bicaranya yang sedang membeku.

Kimberly tidak tahu efek dari tindakannya. Gadis itu justru beranjak di sana dengan langkah riang dan nyanyian merdu. Kim mengira bahwa sentuhannya tak akan berarti apa-apa pada pria itu. Kimberly benar-benar lugu. Itulah yang membuat Jongin sakit kepala kini.

“Berengsek, sial,” kata Jongin setelah merapikan pikirannya yang berisik.

Jongin si pria lurus yang hidup di jalur kebenaran akhirnya mengumpat juga setelah sekian lama.

Jongin sungguh harus lebih berhati-hati karena kalau tidak Kimberly Park bisa mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda. Gawat.

Entah apalagi yang akan Kimberly lakukan kepada Jongin.

Tapi, jangan khawatir toh Kim Jongin pasrah saja menghadapi sikap Kimberly. Yang terpenting adalah hubungan mereka menyenangkan. Super riang gembira!

-oOo-

 

a/n:
Halo terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini. Aku terharu dan senang sekali membaca komentar-komentar kalian di part sebelumnya. Semoga part ini juga bisa menghibur ya :).

Aku menunggu rasa-rasa dan curhatan kalian mengenai part ini di kolom komentar. Kalau begitu, sampai jumpa di part selanjutnya atau cerita selanjutnya! Hehehehe. Happy weekend :D.

P.s: Aku sudah mulai mengerjakan epilog Perfect Match, semoga masih ada yang nungguin. Doakan cepat selesau ya, terima kasih! 😀

Twitter: @twelveblossom
Wattpad: @twelveblossom
Line@: @NYC8880L

Advertisements

136 thoughts on “Perfectly Imperfect: Of Jongin’s Warm Hug and Kim’s Sweet Kiss

  1. Kim lucu banget dengan segala tingkah kekanakan dan kebodohannya, itu dia sebenernya yg menjadikan kehidupan jongin berwarna..

  2. Hubungan nya easy going sekali, kim suka yang simpel2 yang penting bahagia sama jongin, u,u emang gitu ya kalo udah punya segalanya tapi kurang kasih sayaaaang

  3. “Jalan dengan hati-hati. Perhatikan tali sepatumu, jangan sampai kau tersandung atau semacamnya. Aku tidak suka kulitmu tergores. Mengerti?”
    Yawlaaaa gimana ngga klepek2 di giniin?? :’))
    Aduuh si jongin mulai seneng sama kebisingan kim, mulai memperlakukan kim secara istimewa juga :’))
    Udahlah jongin, ngaku aja kalo suka mah wkwk

  4. Yeu pak dokter bilang aja cemburu kalo sampe kim meluk orang lain
    pake alesan suhu tubuh beda lah ada bakteri virus lah apalah
    kim mah orngnya iyaiya aja kalo kata pak dokter wkwk

  5. seorang kim jongin klo sudah marah lngsung serasa bumi gonjang ganjing 😆 seremmn euyyyy
    kasian khan jd slh paham, kimberly bersabarlah nanti jg jongin bakal ke pelukan mu kembali 😃 berharap gitu

  6. Geregetan pengen cepet dinikahin mereka berdua ih. Udah akuin aja jongin mah gt nanti nyesel lagi kek dulu :3. Tapi emang jingin cocok bgt sama kim dibanding sama rae /? Opini si :”v

    Bagus bgttt ❤ keep writing and fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s