Perfectly Imperfect: Jealousy You

20180915_103030_0001

Sebuah sequel dari Perfect Match.

Sebelumnya: Because of Imperfect You – Closer To YouI Am Kim Jongin’s Girlfriend! – Of Jongin’s Warm Hug and Kim’s Sweet Kiss

“Jealousy is just love and hate at the same time,” –Drake

-oOo-

Hanya ada dua hal yang bisa membuat seorang Kimberly Park bangung pagi. Pertama, ketika Kim Jongin tiba-tiba datang ke apartemennya, kemudian minta dibuatkan sarapan. Kedua, telepon dari ibunya yang kalau tidak diangkat bisa berdering ratusan kali―ibunya Kim itu memang pantang menyerah. Alasan kedualah yang mengganggu tidur Kimberly kali ini. Kim berusaha membuka matanya, meraih ponsel yang ia lupa diletakkan di mana. Kim lelah sekali karena kemarin menemani Jongin jalan-jalan ke taman hiburan―ternyata pria itu belum pernah berkunjung ke tempat seperti itu―sama Kim juga. Mereka menikmati waktu bersama dengan sangat bahagia. Namun, kegembiraan itu tampaknya meluruh sebentar lagi.

Kimberly mengangkat telepon dari ibunya malas. Nada suaranya pun serak, tapi rasa kantuknya enggan bertahan lama. Netranya langsung membola, ketika sang Ibu mengabarkan suatu hal yang mengejutkan.

“Ethan sudah menyelesaikan konsernya di Jepang, dia akan mengunjungimu,” ujar sang ibu.

Kim lantas cepat-cepat terduduk. “Benarkah? Kapan dia datang?” Tanya Kimberly panik.

“Dia datang hari ini, kami merahasiakan kunjungannya ke Korea. Jadi, kau harus mejemputnya di bandara bersama Dongho,” kata ibunya Kimberly, kemudian menutup sambungannya tanpa mendengarkan pendapat Kimberly.

Kim melemparkan ponsel. Ibunya selalu begitu, wanita itu kerap memutuskan sesuatu tanpa mendengarkan pendapat Kimberly terlebih dahulu. Baiklah, Kimberly seharusnya senang jika pria bernama Ethan Lee itu menemuinya. Namun, Kim punya banyak rencana, dia ingin mengekori Jongin di rumah sakit, mengajak kekasihnya itu ke toko kue Pink Blueberry dekat tempat kerjanya, dan membahas liburan mereka kemarin.

“Argh! Menyebalkan sekali!” seru Kim sangat lantang, hingga manajernya yang baru masuk ke apartemen langsung berlari menghampiri kamar Kimberly.

“Ada apa, Kim?” Tanya Dongho si pria berbadan besar. Ia tergopoh sambil membawa belanjaan banyak di tangan kanan serta kiri. Kang Dongho memang mengetahui password apartemen Kimberly, ia juga tanpa rasa takut siap mendobrak kamar si gadis jika Kim punya gelagat yang mencurigakan. Kang Dongho memang diberikan wewenang tersebut sebab Kim sering menyakiti diri sendiri, baik disengaja mau pun tidak.

Kim menarik napas, menenangkan diri. “Aku pusing,” jawabnya singkat.

“Apa aku perlu memanggil Dokter Kim ke sini?” Tanya Dongho cemas. Ia meletakkan paper bag bawaannya sembarangan, sehingga semua belanjaan tumpah dan menggelinding ke segala arah. Dongho memeriksa kening Kim, memastikan bahwa gadis muda tersebut tidak demam atau semacamnya.

Kimberly beringsut menghindar. “Aduh, jangan panggil Jongin!” serunya emosi.

“Dia dokter yang bertanggung jawab atas dirimu―“

“―Hentikan, pokoknya hari ini aku tidak bisa bertemu Jongin,” potong Kim. Ia melipat tangan di depan dada. “Ethan datang kemari,” lanjutnya menjawab ekspresi bertanya-tanya milik manajernya.

“Apa?” Tanya Dongho seperti tersambar petir. Dongho memijat pelipisnya yang pening. “Merepotkan sekali, berarti aku harus menjaga dua anak ayam,” keluh Dongho.

Kimberly melotot ke arah si manajer. “Bukan itu yang harus kau pikirkan. Bagaimana kalau Jongin tahu aku dan Ethan pernah berkencan? Aku selama ini bilang padanya kalau dia satu-satunya yang pernah kusukai,” Kim mencoba menguraikan kepanikan.

Lantaran menanggapi dengan serius, Dongho justru tertawa keras. “Aku yakin Dokter Kim tidak akan terpengaruh, dia sama sekali tak peduli kau berkencan dengan siapa. Ekspresinya datar begitu,” ejek Dongho.

Kimberly langsung saja cemberut. Ia melirik ke arah sang manajer. “Aku akan membuktikan kalau Kim Jongin peduli padaku. Aku tidak akan menghubunginya sama sekali,” tantang Kim―lebih pada dirinya sendiri.

Hm. Kim sebenarnya tidak yakin dengan yang diucapkan karena selama ini Kim Jongin cuek sekali. Kim bahkan diabaikan setiap kali berkunjung ke rumah sakit atau ketika menghabiskan waktu bersama―Jongin lebih memilih tidur bersandar di bahu Kim. Pria itu terus saja menguap saat mereka mengobrol. Kim sempat mengira bahwa dirinya dianggap semacam obat tidur bagi Jongin.

Okay, kita bertaruh. Kalau kau kalah kita percepat kepulanganmu ke Amerika,” tawar Dongho kemudian tertawa. “Jujur Kim, aku rindu setengah mati pada Joice, meskipun di sini ada Mina yang menemaniku hampir setiap hari,” lanjut pria itu sambil berlalu pergi.

Kimberly melemparkan bantalnya kepada manajer yang sudah ia anggap sebagai kakak laki-lakinya. “Dasar Playboy!” seru Kimberly geram.

Kang Dongho berbalik menjulurkan lidah pada Kim karena bantal yang dilempar si gadis enggan mengenai sasaran. “Cepat siap-siap, kita harus menjemput Ethan. Berias yang cantik, Kim. Siapa tahu kalian kembali jatuh cinta?” Dongho mengejek.

Kim berteriak, “Menjijikkan!” Gadis itu melampiaskan kekesalannya.

“Apa Anda juga penggemar Kimberly Park?” seorang wanita yang kini tengah berkonsultasi atas kesehatannya pada Jongin pun tampak tertarik dengan bingkai foto yang ada di meja si Dokter. Potret itu menampakkan seorang wanita yang memakai bando Mini Mouse, tengah tersenyum lebar ke arah kamera.

Jongin yang sibuk menuliskan resep langsung memerhatikan benda itu. Tanpa sadar sudut bibir Jongin membentuk senyum simpul. Ingatannya berlari pada peristiwa kemarin saat Kimberly mengajaknya berkencan ke taman hiburan. Awalnya, Jongin menolak sebab ke taman hiburan adalah salah satu kegiatan paling kekanakan serta membuang waktu. Pada akhirnya, justru Jongin yang tertawa paling keras, dia pula yang menolak pulang. Lucu.

“Aku mengaguminya juga, Dokter. Dia bisa disebut jenius musik, guruku sering menjadikan lagu-lagu ciptaannya sebagai referensi,” pasien perempuan tersebut mengimbuhkan setelah Jongin mengangguk. “Aku tidak menyangka jika Dokter Kim sampai mengoleksi fotonya,” sambung gadis itu.

Jongin tertawa. “Aku mendapatkan ini langsung dari Kimberly,” jawabnya singkat.

Jongin tahu apabila pasiennya memberikan raut enggan percaya. Jongin yakin,  jika dia mengatakan bahwa dirinya berkencan dengan Kimberly, pasti dianggap gila. Dua hal tersebut yang menyadarkan Jongin jika ia dan Kimberly berada di dunia berbeda. Jongin hidup di dunia monoton dengan sedikit orang-orang yang mengenalnya, sedangkan Kim berada di dunia yang dinamis di mana gadis itu sebagai pusatnya.

Jongin hanya menanggapi basa-basi setiap orang yang menayakan perihal foto Kimberly di meja kerjanya. Ada yang bertanya tertarik, curiga, dan merasa janggal.

Biasanya, Jongin akan melenyapkan semua hal yang bisa membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun, kali ini tidak, dia tetap menaruh foto Kimberly di meja―mengabaikan mereka. Ia memilih untuk menjadi bukan Kim Jongin yang biasanya demi gadis itu.

Kim Jongin sudah sangat terbiasa dengan kehadirian Kimberly yang selalu mengekorinya. Gadis itu kerap  muncul tanpa alasan, kemudian hanya memberikan senyum lebar lalu pergi. Kim juga kerap memohon pada Jongin untuk datang ke gerai sandwich dekat rumah sakit hanya untuk memberikan bekal makanan. Jongin pun juga bersikap demikian, berulang kali dirinya pergi ke tempat tinggal Kimberly hanya sekedar tidur di sofa, mendengar cerita Kim, dan melakukan hal sepele lain. Jongin nyaman di dekat Kimberly, ia bahagia.

“Dia tidak datang hari ini,” gumam Jongin ketika keluar dari ruang prakteknya, kemudian disambut oleh kursi-kursi kosong di sana―tempat duduk yang biasanya digunakan Kim untuk menunggunya. “Apa Kimberly tidak meninggalkan pesan?” Tanya Jongin pada suster yang bertugas. Kimberly kerap menitipkan sesuatu pada suster-suster itu saat awal perkenalan mereka sebab Jongin yang enggan mengacuhkan keberadaan Kim.

“Tidak ada, Dokter,” jawab Suster Jang singkat.

Jongin sedikit kecewa, Kimberly tidak mengganggunya sama sekali hari ini. Dia jadi cemas, ponsel Kimberly juga tidak aktif. Pikirannya mulai berkata yang tidak-tidak. Semuanya menuntun pada hal-hal negatif, seperti usaha bunuh diri Kim yang lainnya serta sang gadis yang terbaring sakit. Andai saja, pekerjaannya selesai sekarang―ia pasti sudah menyetir mobilnya ke apartemen Kimberly.

Jongin pun memilih menenangkan diri dengan berbaring di ruang istirahat dokter sebelum beralih mengunjungi pasien lainnya. Ia memainkan ponsel serta mencari berita hari ini. Jari Jongin langsung berhenti saat menemukan satu artikel. Potret gadis yang mencuri pikirannya ada di barisan paling atas. Hatinya berdebar keras, perpaduan antara terkejut dan cemas. Jongin menarik napas, ia memulai membaca judul, kemudian isi berita.

Semuanya mengarah pada masa lalu Kimberly dan pria bernama Ethan yang memiliki kedekatan intim. Gadis lugu itu terlihat berbeda. Ia belum sungguh-sungguh mengenal Kimberly beserta masa lalunya.

Pria itu terbangun dari posisi tidur. “Gadis ini benar-benar,” ujarnya kesal sembari melemparkan ponselnya di atas tempat tidur.

Suasana hati Jongin semakin buruk.

Jongin siap-siap meledakkan amarahnya, setelah ini dia harus segera bertemu Kimberly. Tidak bisa diganggu gugat lagi!

Kimberly mengenakan kaus putih kebesaran milik Jongin yang tertinggal di apartemen dan celana jeans yang baru dibeli dua hari lalu. Kim sama sekali tidak memoles wajahnya dengan riasan, walaupun begitu si gadis tetap rupawan. Semua yang ada pada Kimberly sempurna, kecuali suasana hatinya. Mood Kimberly benar-benar buruk hari ini, tak dapat tertolong lagi. Well, ada satu hal sih yang sanggup membuatnya gembira kembali, tapi sayangnya ia tidak dapat bertemu Jongin kali ini karena Kimberly harus menyelesaikan mandatori yang diberikan sang ibu.

Kimberly berjalan menyusuri bandara menuju terminal kedatangan. Ia menutupi wajahnya dengan kacamata dan masker―dua hal wajib yang dilakukannya ketika pergi ke mana saja. Bukannya Kim tidak ingin dikenali―hanya saja Kimberly sedang bermuram durja hari ini, tidak ingin diganggu. Bahkan Kang Dongho menutup mulut cerewetnya sebelum Kim mencakar-cakar wajahnya. Diam ternyata lebih baik.

“Kau bilang tidak akan ada wartawan,” ujar Kimberly dingin setelah mengetahui orang-orang berkempul di depannya. Ada puluhan penggemar dan wartawan yang tampaknya mengerumuni satu orang. “Damn, si Berengsek itu sengaja menipuku,” umpat Kim ketika netranya tertuju pada pria si pusat perhatian―Ethan―yang datang ke arah Kimberly.

Ethan Lee, dia adalah aktor sekaligus penyanyi berusia pertengahan dua puluhan  yang sedang berada di puncak kejayaan. Pria keturunan Korea-Amerika tersebut kebetulan mengenal Kimberly karena mereka belajar di sekolah musik yang sama. Ethan memiliki surai pirang yang dimodel koma, kulitnya putih albino, tingginya sekitar 185 sentimeter, dan dia tampan. Sifat Ethan berkebalikan dengan Kimberly, dia terlalu terbiasa dengan kamera. Pria itu lebih profesional. Sepanjang waktu Ethan tersenyum lalu melambai secara otomatis, dia hanya bermain peran di tengah penggemar dan media yang meliputnya. Ethan serupa matahari pagi yang cerah sekaligus sejuk, well begitulah para fans artis itu menggambarkannya. Namun, bagi Kimberly Ethan tidak lebih dari iblis bersayap malaikat. Ethan senang sekali bertindak jahil pada Kim, ada saja kelakuannya yang bertujuan membuat Kim kesal setengah mati. Meskipun Kim dan Ethan sempat berkecan selama satu minggu sebelum putus sebab mereka lebih cocok sebagai rekan kerja daripada kekasih. Hubungan percintaan itu malah menjadi sebuah petaka karena penggemar Ethan meneror Kimberly kejam. Sudah selayaknya selebritu semacam mereka ditakdirkan hidup sendirian. Dunia memang kejam.

“Kimberly Park,” sapa Et―nama panggilan Ethan―pada Kimberly yang hendak kabur. Ethan meraih bagian belakang kaus Kimberly, menariknya agar si gadis menghadap kamera.

Dongho sibuk menghalangi wartawan untuk mengambil gambar mereka. Usahanya tampaknya berujung sia-sia, saat Kimberly dipeluk Ethan erat para pencari berita itu enggan berhenti mengabadikan momen.

“Aku merindukanmu, Kim,” ucap Ethan tanpa berusaha memelankan suara.

Kimberly menggerutu, ia ingin sekali menendang tulang kering pria yang telah dikenalnya sejak lama itu, namun diurungkan sebab terlalu banyak orang yang memotret. Kim mebalas pelukan Et terpaksa plus cubitan di pinggang si pemuda.

“Lepaskan, aku tidak bisa bernapas, bodoh,” Kim berkata pelan. Dia memasang senyumnya yang  paling manis setelah Ethan menjaga spasi di antara mereka.

Para kuli tinta itu pun mengajukan pertanyaan seputar Kimberly dan Ethan, alasan Kim tiba-tiba muncul sebab jadwal terakhirnya seharusnya berada di New York, serta banyak hal yang sangat pribadi dikoarkan. Bahkan pertanyaan itu menuju pada rumor percobaan bunuh diri Kimberly. Sebelum semuanya tidak terkendali, Ethan menarik pergi si mantan lekasih.

Ethan menjadi perisai Kimberly sekali lagi. Pria itu kerap memancing keributan, dirinya pula yang berusaha menyelesaikan. Bukan tanpa alasan Ethan bersikap demikian, kesibukannya menyelesaikan jadwal telah membuatnya bosan sampai mengalami stres ringan. Hiburannya adalah menjahili sahabatnya yang telah dianggap sebagai adik kecilnya itu, jika bukan karena Kim―mungkin Ethan sudah memutuskan untuk pensiun dini atau malah mengakhiri hidupnya.

“Aduh, Kim sakit!” keluh Ethan ketika mereka sudah berada di dalam mobil―Kim enggan menghentikan pukulannya pada kepala Et. “Aku butuh berita dekat dengan gadis lain setelah selesai berkencan dengan Sue,” ocehan Ethan membuat Kim semakin emosi.

Kimberly melempari Ethan dengan boneka kecil-kecil yang ada di Van itu. Kim juga menonjok Et, lebih keras dari sebelumnya. “Sudah aku bilang, jangan libatkan aku dengan urusan percintaanmu yang menyedihkan itu. Bagaimana kalau Kim Jongin salah paham?”

“Siapa Kim Jongin?” Bukanya menjawab, Ethan justru mengajuka pertanyaan. Pria itu menyeringai tengil. “Ah, apa dia dokter yang ada di forum penggemarmu? Kau tertangkap kamera sedang berada di rumah sakit bersama seorang dokter. Untung saja, aku sudah membereskannya,” ungkap Et setelah menarik napas.

Kimberly menggigit bibir. Dia enggan menjawab, Kim memilih membuang muka.

“Adik kecilku sudah dewasa sekarang. Kimberly berkencan, kabar yang menggembirakan,” vokal Ethan Lee yang membuat kesimpulan. Dia mencubit pipi Kim sebelum berkata, “Pertemukan aku dengannya. Hm, sebaiknya aku mengenalkan diri sebagai siapamu Kim? Teman lama, kakak, rekan kerja, atau … mantan kekasih―aduh!” ucapan Et terpotong akibat sikutan Kim di perut pria tersebut.

“Kenalkan dirimu sebagai penyanyi kurang berbakat yang hanya mengandalkan wajah tampanmu saja,” sindir Kim tanpa bisa menghentikan cibiran.

Ethan tertawa cerah. Dia mengacak-acak rambut Kimberly sampai berantakan. “Aku tidak pernah bisa marah padamu, dasar bayi besar, meskipun kau menyinggung titik tersensitif dalam suramnya karirku ini,” kata Et kemudian tersenyum, tarikan bibirnya tulus, bukan senyum yang main-main atau seringai jahat seperti sebelum-sebelumnya.

Kimberly yang awalnya cemberut ikut menarik kedua ujung bibir. “Sudah lama tidak ada yang memanggilku begitu. Ternyata, aku merindukannya. Well, meskipun rasa kangenku ini sedikit sekali,” timpal Kimberly. Dia menyipitkan mata ke arah pria yang telah menjaganya itu. “Kau harus merasa beruntung, Et. Jarang sekali seorang Kimberly Park merindukan orang jelek,” lanjutnya.

Ethan Lee menunjukkan gigi, ia menyeringai lebar. “Aku memang tidak jelek. Aku masuk sepuluh besar wajah terupawan versi majalah Vogue, Kim.”

Kimberly mendengus. “Menurutku, masih lebih tampan dokterku―ah, dia sudah berkencan denganku. Mulai sekarang aku harus biasa menyebutnya kekasihku. Astaga, aku malu sekali kalau membahasnya,” oceh Kim, gadis itu sempat-sempatnya menutupi wajahnya yang merona. “Aku tak mengira kalau membicarakan Jongin bisa semenyenangkan ini,” sambungnya.

Ethan menggerutu, “Awas saja, jika dia tidak benar-benar menyukaimu. Aku akan membuat perhitungan―“

“―Berhenti over protective padaku. Kita ini sudah tidak berkencan jadi harus ada batasan. Sayangnya, Jongin memang belum terlalu menyukaiku,” Kimberly memutus ucapan Ethan, justru dia yang mulai mencurahkan isi hatinya.

Ethan cemberut. “Kalau begitu, mari kita lihat sejauh mana dia memermainkanmu. Adik kecil Ethan Lee tidak boleh dicampakan laki-laki. Kau harus yang menedangnya,” vokal Et yang sangat menggebu.

“Cukup, Et. Karena dirimu aku belum berkencan sampai sekarang. Mereka takut mendekatiku sebab kau galak dan terlalu ikut campur,” keluh Kimberly.

Ethan tampaknya sedang terlalu bersemangat. Kimberly bisa tahu soal itu karena si pria memang mudah sekali ditebak. Kim khawatir membayangkan hal-hal yang akan dilakukan Ethan pada Jongin. Kimberly cemas Ethan menyakiti Jongin. Hubungan Kimberly dan Jongin memang tidak romantis, tapi ada kemajuan yang bertahap. Kim menyadari apabila sifat Jongin yang tertutup membuat proses hubungan percintaan mereka berjalan lambat.

Semoga bukan Kimberly yang berusaha sendirian.

“Aku tidak ingin kau yang berjuang sendirian Kimberly Park karena itu sangat melelahkan dan menyakitkan. Aku bisa berkata demikian sebab diriku pernah mengalaminya,” gumam Ethan memeringatkan. Ethan Lee tidak pernah begitu serius sebelumnya. Ia tidaak ingin Kimberly terluka oleh orang-orang di sekitarnya lagi. Gadis itu sudah terlampau tertekan kali ini, ia enggan menyaksikan Kimberly menderita.

Kimberly lantas mengangguk berusaha meyakinkan, ia tak ingin membuat orang lain mencemaskannya.  Apalagi, Ethan berjasa banyak dalam hidup Kimberly.

Ah, walaupun begitu jauh dalam lubuk hati Kim tidak yakin. Selama ini hanya Kimberly yang berusaha memperindah hubungan mereka. Jongin sebagai pihak pasif, pria itu pun tak menunjukkan ketertarikan. Namun, Jongin tidak menolak. Kimberly ingin kepastian, ia tak ingin diombang-ambingkan Kim Jongin.

Kimberly bukan gadis super sabar yang akan menunggu terlalu lama.

Kim tidak tahan menyimpan keingintahuan pikirannya mengenai isi hati Jongin yang sebenarnya. Apa Jongin mencintainya? Pertanyaan itu berkembang semakin besar dalam serebrum si gadis muda.

Apabila Jongin tak menyukainya sedikit saja. Kim … tentu saja Kimberly tidak akan menyerah dengan mudah. Kim akan berusaha sekuat tenaga karena Kimberly Park sangat menyukai Kim Jongin, serius!

Kim bersemangat lagi.

Jongin tahu bahwa kegilasahannya sedari kemarin memang tidak beralasan. Ia uring-uringan hanya karena melihat berita selebritas yang muncul di beranda ponselnya mengenai Ethan Lee. Jongin tidak mengenal Ethan Lee secara personal, bertemu pun belum, tapi dia sudah menyimpan kebencian pada artis itu. Hati Jongin rasanya meletup-letup kepanasan melihat foto seorang gadis yang wajahnya buram di halaman tersebut, namun dari postur tubuh ia mengenal siapa itu. Dari posturnya Jongin tahu jika itu ialah Kimberly Park―gadis muda yang menyandang gelar sebagai kekasih Jongin. Awalnya Jongin merasa apabila hubungan mereka hanyalah main-main saja, toh sebentar lagi Kimberly pulang ke Amerika dan Jongin yakin Kim akan segera melupakannya. Awalnya berjalan sesuai skenario yang dibayangkan Jongin. Akan tetapi, semuanya berubah di tengah cerita. Perasaan Jongin mulai enggan dikendalikan oleh logika.

Hati Jongin yang biasanya lurus, taat pada peraturan yang diberikan logikanya justru melawan arus. Pikirannya berkata jika Jongin tidak perlu mencari Kimberly yang seharian tak dapat dihubungi, ia seharusnya bersyukur sebab terlepas dari Kim yang terus saja mengganggunya. Keadaan terbalik, Kim Jongin yang biasanya memilih tidur setelah shift malamnya kini berada di apartemen Kimberly pada pagi buta. Jangan tanyakan wajah Kim Jongin yang berantakan, kesal, dan marah.

Kim Jongin menekan bel pintu berulang kali, hampir sepuluh menit dia menunggu di sana. Paras Jongin tampak sangat datar, kendati demikian pikirannya memberikan ratusan pertanyaan―semuanya mengenai Kimberly Park. Jongin juga terheran-heran mengenai kondisi kejiwannya saat ini. Apa perlu Jongin berkonsultasi pada psikiater?

“Kimberly Park,” nama itu diucapkan Jongin ketika seorang gadis yang sangat dikenalnya membukakan pintu.

Oh my god,” Kimberly terkejut setengah mati. Ia mengusap mata, takut kalau orang yang ada di hadapannya ini hanya salah satu dari bunga tidur.

Jongin mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Pria tersebut berdecak saat melihat Kim mengenakan gaun tidur pendek yang terbuka di bagian atas. Jongin lantas menyampirkan jaketnya ke bahu kekasihnya. Ia tidak suka Kimberly terlalu memamerkan tubuh. Jongin mendorong pelan Kimberly masuk ke apartemen, meskipun si gadis masih saja membeku di tempat.

“Kemana saja kau, Kim?” Tanya Jongin langsung saat mereka berada di ruang santai, Jongin enggan duduk. Dia berkacak pinggang dan melotot pada Kimberly.

Kimberly yang memang baru bangun tidur―nyawanya belum terkumpul sempurna―dia hanya mengerjapkan mata beberapa kali. “Aku tadi dari kamar. Aku tidur,” jawabnya lugu.

Jongin beranjak mengambilkan air putih untuk Kimberly, meminta gadis itu duduk di sofa lalu membiarkan Kim meneguknya. Kim Jongin biasanya menunggu dengan sabar, kali ini dia langsung membuka suara sebelum si gadis menghabiskan minumannya.

“Kenapa kau tidak datang ke rumah sakit padahal kau bilang ingin makan kue? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau masuk berita? Kenapa kau pergi ke bandara tanpa memberitahuku?” Jongin memborbardir kekasihnya dengan pertanyaan yang berputar sedari kemarin.

Sementara Kimberly hanya mengerlingkan mata. Gadis itu tertawa canggung. Jujur saja Kimberly terkejut karena Jongin belum pernah memberikan pertanyaan sebanyak ini. “Aku senang sekali kau mencemaskan aku―”

“―Aku tidak khawatir padamu,” sontak Jongin memotong. Pria itu terduduk di samping kekasihnya. Ia memijat kepalanya yang pening. Jongin belum sempat tidur dia sangat lelah. Jongin menatap Kimberly membalas mata Kimberly yang menguraikan rasa penasaran. “Aku hanya ingin tahu Kimberly karena kau bilang kita berkencan,” lanjut Jongin.

Kimberly menghela napas panjang. Jari-jari gads itu meraih paras Jongin, ia membelai rahang si pria, kemudian mengusap lingkaran hitam di bawah mata Jongin yang begitu kentara. “Baiklah, kau tidak khawatir padaku tapi aku yang sangat cemas melihat wajahmu sekarang, Dokter Kim,” ujar Kimberly. Dia mendekat ke arah Kim Jongin, beringsut memeluknya. Kim diam, memasang telinganya di dada Jongin. Kimberly sangat suka suara detak jantung Jongin. “Jangan marah,” bisik Kimberly setelah ada sepi selama beberapa sekon.

Jongin membalas pelukan Kimberly. Dia sangat lelah, ia ingin merasa nyaman barang sebentar saja. “Aku tidak marah,” Jongin masih menyangkal.

Kimberly mengangguk, dia menepuk dada Jongin beberapa kali. “Kau itu pembohong yang payah,” gumam Kimberly.

“Jawab pertanyaanku, Kim,” timpal Jongin. Tangan dokter itu telah berada di puncak kepala Kimberly, dia memainkan surai Kimberly yang terasa halus di jarinya.

“Aku tidak bisa ke rumah sakit karena diminta Mom ke bandara menjemput Et. Aku muncul di berita karena Ethan tiba-tiba memelukku dan berkata jika dia merindukanku,” jelas Kimberly. Gadis itu merasakan Jongin mengeratkan dekapannya, lantas membuat Kim memahami arti dari gerakan pria itu. “Ethan tidak memelukku seerat ini, pasti aku langsung menonjoknya kalau dia menyentuhku lebih dari itu,” ungkap Kimberly.

Kim tersenyum saat paras Jongin berangsur lega. Alis pria yang ia cintai tersebut tidak berkerut marah lagi. Kimberly tahu apabila kekasihnya bukanlah tipe pria yang bisa dengan mudah mengutarakan isi hati atau pikirannya. Jadi, Kimberly yang harus pintar-pintar membaca situasi.

“Siapa Ethan?” akhirnya pertanyaan itu terucap juga.

Kimberly menunduk, dia menahan napas. Ragu-ragu Kimberly berusaha menjawab dengan yakin. “Dia teman lamaku―”

“―Aku mantan kekasihnya juga,” suara bariton menginterupsi percakapan mereka.

Ethan muncul begitu saja dari bekas ruang kerja yang sekarang berubah menjadi kamar tamu. Pria itu masih mengenakan piama dam rambutnya acak-acakan. Ethan menyeringai. Dia mengawasi perubahan pergerakan Kimberly dan Jongin yang tiba-tiba saling menjaga jarak. Apalagi, yang pertama kali melepas pelukan itu adalah Kimberly. Ethan pun dapat melihat kejengkelan Jongin karena dirinya.

Kimberly menggigit bibir, ia seperti berada di ujung tombak. Kedua pria itu saling memberikan tatapan membunuh. Kim menggenggam erat tangan Jongin, ia takut Jongin akan salah paham sebab Ethan menginap di apartemen ini.

“Apa kau tidur bersamanya?” Tanya Jongin tegas pada kekasihnya.

Kimberly sontak menggeleng.

Jongin tertawa datar. Pria itu berdiri, kemudian melangkah pergi dari sana.

Kimberly terseok mengikuti pijakan kaki kekasihnya, sebelumnya dia menodorong Ethan untuk kembali masuk ke kamar tamu kemudian menguncinya. Kimberly bisa penuaan dini kalau Ethan ikut campur.

“Jongin tunggu!” seru Kim sewaktu Jongin akan membuka pintu untuk keluar dari apartemen ini. Gadis itu memegangi tangan kekasihnya begitu erat sampai Jongin berbalik. “Ini semua tidak seperti yang kau bayangkan, sungguh,” lanjutnya.

“Iya, aku tahu,” jawab Jongin tak acuh. Dia menepis tangan Kimberly.

“Kau marah,” sela Kimberly tidak ingin menyerah. Gadis itu mendahului langkah Kim Jongin.

“Tidak, untuk apa aku marah?” ujar Jongin dingin.

Kimberly enggan beranjak, dia merentangkan tangan menghalangi si pria berkemeja biru tesebut. “Kau marah, aku tahu itu. Jangan membohongiku―”

“―Kau memintaku berkata jujur, tapi dirimu tidak mengatakan satu kebenaran pun padaku, Kim. Kenapa kau tidak bilang saja jika kemarin menghabiskan malammu dengannya?”

Kimberly mengacak surainya hingga semakin berantakan. “Dia hanya menginap di sini karena reporter terus saja―”

“―Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli,” pangkas Jongin, bibirnya memang berucap demikian namun sesungguhnya kepala Jongin seolah akan meledak. “Aku tidak peduli dengan siapa kau tidur. Aku tidak peduli kau menjadi gadis seperti apa. Aku sama sekali tidak peduli dengan kehidupan percintaanmu. Bukan urasanku jika kau memohon padanya untuk menerima dirimu, seperti yang kau lakukan padaku dulu. Cara pandang kita berbeda, Kim. Semua yang kau anggap biasa justru membuat dirimu menjadi gadis murahan karena―” ucapan Jongin terputus karena Kimberly Park menampar dokter itu dengan sangat keras.

Tangan Kimberly bergetar. Dia refleks melakukan hal tersebut. Kimberly tidak ingin melukai Kim Jongin, demi apa pun dia sangat mencintai pria yang kini murka. Kimberly hanya enggan menahan dadanya yang sesak sebab tuduhan tidak berdasar. Bagaimana bisa Jongin  mengatakan jika Kim bersama laki-laki lain sementara dirinya hanya merindukan pria itu sepanjang hari?

“Aku sengaja tidak menghubungimu karena ingin tahu apa kau akan khawatir padaku, Jongin,” gumam Kim, ia memberikan Jongin tatapan terluka. “Dan aku tidak menyesal melakukannya sebab aku tak hanya melihat kekhawatiran pada dirimu tapi juga kecemburuan― “

Jongin mendengus memotong ucapan Kimberly. “Kecemburuan ada disebabkan oleh rasa cinta, sedangkan kita tidak saling mencintai. Kau hanya terobsesi padaku, aku muncul saat hidupmu menyedihkan. Sementara aku berkencan denganmu karena kasihan.” Kim Jongin memejamkan mata sejenak, lalu ia memberikan tatapan itu pada Kimberly, “Ini bukan sebuah kekhawatiran atau kecemburuan. Aku sangat kecewa padamu, Kim. Lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi,” tutup Jongin. Dia menepis tangan Kimberly yang berusaha memohon padanya hingga gadis itu kehilangan keseimbangan. Jongin pergi begitu saja.

Kimberly terduduk di lantai. Dia menangis keras. Kimberly memukuli dadanya yang sakit. Kimberly terluka bukan karena kesalahannya. Kimberly sekali lagi ditinggalkan, dalam keadaan sangat berduka.

Tidak ada yang menyayangiku. Tidak ada yang berharap aku hidup. Batin Kimberly menaburkan garam di atas lukanya.

-oOo-

Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini dan maaf aku postingnya terlambat. Beberapa bulan menuju akhir tahun ini aku bakal sibuk sekali sampai sempat ngedrop, nulis ini juga disela-sela waktu istirahat.

Sewaktu menulis ini, aku juga sambil menulis epilog dari Perfect Match. Jadi, yang masih menunggu epilog cerita tersebut aku harap bisa bersabar <3. Kalau begitu, sampai jumpa dicerita berikutnya. Aku sangat menunggu komentarmu pada setiap ceritaku agar aku tahu apa yang kamu rasakan setelah membacanya.

Semoga hari-harimu menyenangkan dan masih betah baca cerita di sini :D!


Contact Me On:


Advertisements

67 thoughts on “Perfectly Imperfect: Jealousy You

  1. Ya ampuunnnn!!! Udah lama ini cerita aku anggurin. Baru sempet baca sekarang pas senggang, efek fds nih! Si jongin klo cemburu bilang aja kaliii, ya ampunn… Greged aku tu!! Buat kim tetep semangat!! Author jugaaa

  2. Jong In tuh yah klo cemburu udh keterlaluan bahasnya kasar bnget…..
    Tar liat ajj klo ampe dy nyese…. yakin sih aq dy pst nyesel…. ishhhhh aq gregetan am sifat dy yg sok jual mahal… harga diri tinggi… sombong

  3. Aduhhhh udah jelas bangeett gitu sikap jongin ke kim masih aja kekeuh menyangkal, jangan sampai jongin menyesal untuk kedua kalinya karena kehilangan wanita yg dicintainya..

  4. Kak, minta pw nya boleh? Aku udh comment di semua chapter kok, tp ya gitu gk punya line sm wattpad. E-mail aja ya kak, btw ini e-mail ku @realada1811@gmail.com
    Makasih ya kak

  5. Kak, minta pw nya boleh? Aku udh comment di semua chapter kok, tp ya gitu gk punya line sm wattpad. E-mail aja ya kak, btw ini e-mail ku @realada1811@gmail.com
    Makasih ya kak

  6. Ngechecknya beneran sambil berharap malah belum update tp kl lagi iseng begini update. Gak papa deh kak, penantian panjangnya membuahkan hasil yg memang pantas😊

  7. WAH JONGIN YA BENER2 MULUTNYAAAAAAA, GAK NGERASA YA KAKO KIM BISA SEDOWN ITU GEGARA SALAH PAHAM MU, LAGIAN JUFA SI ETHAN NGOMPOR2 AJAAAA KAYA LPG 3KILOAN, KIIIIMMMM PLEASE STAY STRONG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s