Love Madness: Moonlight In The Darkness

Dlw3RtHUwAEhDuU (1)

“The one person I want to protect in this dangerous reality. I live because of you.
The one person who is a light in this endless darkness. The day when we can endlessly smile will come.” ―Just For You, iKon

-oOo-

Prolog

Aku peringatkan untuk tidak membaca ceritaku bila kalian sudah muak dengan kisah cinta melankolis. Kisah ini akan berawal dari sana, sebuah kebodohan yang kuputuskan untuk menjadi pilihanku. Dengan semua kesialanku, diriku selalu menyesali setiap langkah yang kuambil. Aku percaya itu, termasuk ketika raga dan jiwa ini kuberikan kepada satu pria yang tidak sepantasnya menjadi milikku. Laki-laki yang tak dapat kuraih meskipun diriku berjuang seumur hidup, kematian pun belum sanggup menebus semuanya.
Aku adalah perempuan ambisius yang sedang jatuh cinta. Aku tipe manusia yang enggan melepaskan dengan begitu mudah orang yang telah mencuri hatiku dan rela melakukan apa pun demi mendapatkan jiwa pria tersebut. Aku menjadikan pikiranku dipenuhi dengan kebencian atas segalanya yang dapat merenggut sesuatu dari diriku, termasuk memusnahkan semuanya tanpa berpikir panjang.

Aku telah tenggelam dalam drama yang kubuat sendiri, tanpa tahu akhirnya. Aku tidak mengetahui dalam bab apa diriku sekarang. Aku tak meyakini peran yang sedang disandangkan padaku. Satu hal yang pasti tentang aku. Aku ialah tokoh antagonis dalam cerita mereka. Benar, bukan tentang aku dan dia tetapi mereka. Aku orang ketiga itu. Aku yang bertugas untuk merusak hubungan bahagia yang sudah terajut.

Aku adalah pengurai ikatan tersebut.

Aku adalah wanita yang dibenci.

Aku adalah perempuan yang merebut.

Namun, aku adalah gadis yang paling dicintai.

Aku adalah Jung Nara, antagonis dalam kisah ini.

-oOo-

“Kenapa lagi ini, Nara?” tanya pria dengan suara serta intonasi yang telah aku hafal di luar kepala. Pria jangkung itu tidak berubah, dia tetap memberikan tatapan khawatir seperti biasanya.

Benar, dia terlampau terbiasa melihat wajahku lebam. Gara-gara kebiasaanku dipukuli ini, pria itu jadi punya keahlian dalam memberikan pertolongan pertama. Tangannya yang dipenuhi otot itu dengan cermat mengobati lukaku seperti yang dilakukan sebelumnya.

Aku hanya bisa meringis kesakitan sebagai balasan atas pertanyaan yang diajukannya. Aku yakin temanku itu sebenarnya tak butuh jawaban, dia sudah mengerti benar dari mana luka-luka yang ada pada tubuhku. Mereka berasal dari wanita lain yang merasa suaminya, kekasihnya, dan putra-putra keluarganya aku rebut. Kebencian telak yang sudah semestinya didapatkan wanita sepertiku. Pria-pria yang sedang jatuh hati padaku itu dapat menjadi pisau yang sewaktu-waktu membunuhku.

“Kau harus berhenti dari pekerjaanmu itu, Nara,” si pria bernama Chanyeol pun mulai buka suara lagi.

“Lalu, apa aku harus beralih menjadi pengantar ayam goreng sepertimu, Park Chanyeol?” tanyaku sarkastis. Aku menyeringai. “Hanya dengan menari satu kali di pub, aku bisa mendapatkan sepuluh kali lipat gajimu,” lanjutku berusaha menyindirnya.

Aku mendengar suara helaan napas berat milik Chanyeol, tampak pria itu kelelahan menasihatiku yang memang keras kepala.

“Terserah kau saja, tapi jangan datang lagi ke sini saat babak belur seperti ini. Kau merepotkan―”

“―Ini restoran ayam goreng untuk umum. Aku bebas makan di sini, Chanyeol,” aku memotong ucapannya datar. Aku memandangi parasnya yang seolah ingin memuntahkan kalimat lain. “Lagi pula aku tidak memintamu membantuku menyembuhkan semua luka ini,” sambungku.

Jari Chanyeol menempelkan plester untuk menutup goresan lebar dan dalam―bekas cakaran dari seorang wanita yang namanya pun aku tidak tahu. Chanyeol bisa begitu lembut dalam berbagai hal, meskipun tubuhnya seperti monster serta wajahnya yang tidak ramah. Ia pria yang baik hati, terutama kepada orang terdekatnya. Aku sangat percaya diri menganggap kami dekat. Oleh karena itu, dari sekian banyak toko ayam goreng―aku lebih suka datang ke sini setelah disiksa―Chanyeol pun bisa mengobatiku, tanpa bayaran tambahan.
“Aku tidak tega melihat wanita lemah sepertimu,” ejeknya. Dia meraih ayam goreng yang ada di nakas, mengangsurkan padaku dengan kasar. “Apalagi, wanita yang sudah dilabeli murahan karena dia bekerja di pub,” lanjutnya, mata elangnya menunggu aku makan.

Aku makan ayam itu dalam suapan besar, lalu mengunyahnya tanpa keanggunan. Perutku perlu diisi dulu sebelum membalas ucapan pedas Chanyeol. Jangan salah, aku tidak tersinggung. Semua yang dikatakannya benar. Aku memang wanita murahan yang bekerja di pub. Aku butuh uang, alasannya bukan karena orang tuaku sakit atau terbelit hutang. Aku ingin kaya sebab diriku tidak bisa hidup tanpa uang. Aku enggan jatuh miskin, aku menolak kelaparan. Toh, semua orang telah memandangku hina sejak kecil. Aku lahir dari seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya, dia meninggalkan diriku di rumah sakit. Aku juga tidak tahu siapa pemilik sperma yang digunakan wanita itu untuk membuatku.

Hidupku terlalu berantakan, tidak ada yang mampu membenahi lagi. Semuanya sudah kacau, aku hanya perlu bertahan hidup dengan semua yang rusak itu.

“Kau akan kesepian, jika aku tidak ada. Hidupmu terlihat menyenangkan setelah mendengar cerita menyedihkan dariku,” aku mulai menggali topik lagi sembari meraih kaleng soda yang biasa kudapatkan sebagai bonus membeli ayam goreng.

Chanyeol mendengus. “Semua hal yang kau ceritakan itu seperti kutukan, aku jadi sulit tidur―”

“―Apa kau mau aku temani tidur, Chanyeol?” pangkasku, bergurau lantaran demikian Chanyeol selalu menganggap serius ucapanku-buktinya pria berusia akhir dua puluhan itu langsung memberengut.

“Jangan coba-coba merayuku, gajiku tidak akan cukup untuk membayarmu,” timpal Chanyeol pada akhirnya. Pria itu kembali membersihkan meja-meja, restoran ayam goreng itu akan tutup.

“Bercanda, aku tidak akan tidur dengan orang seperti dirimu. Bukan levelku,” aku membalas, kemudian memaparkan senyum terbaikku sebagai ucapan terima kasih. Senyumku ini mahal harganya, aku berikan cuma-cuma untuk pria kekar itu. Dia telah menolongku, membebaskan, dan mengangkatku dalam banyak perkelahian yang mungkin terlambat sedikit saja nyawaku melayang.

Aku mengawasi pria itu membersihkan seluruh ruangan, tanganku bergerak mengambil sebatang rokok yang belum kusulut. Aku hendak menyalakan pematik api, namun tangan Chanyeol lebih dulu merampasnya.

“Berengsek,” umpatku keras pada Chanyeol.

“Dilarang merokok di sembarang tempat,” ujarnya lalu tersenyum lebar.

Aku hendak melempar gelas cola padanya, andai saja tidak ingat jika pria itu berjasa besar dalam hidup ini. Sebagai gantinya aku memijat kepalaku yang pusing setengah mati. Rasanya tubuhku terlalu sesak, padahal aku sengaja memakai kaus longgar dan celana jeans kebesaran.

“Aku butuh rokok dan alkohol agar pikiranku lebih santai―”

“―Kau butuh Jongin agar pikiranmu sehat kembali,” sela Chanyeol, ia sukses menancapkan pisaunya kepadaku.

Chanyeol tengah menyentuh sisi paling sensitif dalam diriku, Kim Jongin. Semua orang yang baru mengenalnya pasti akan terkejut jika tahu apabila seorang Kim Jongin si Konglomerat Muda akan ada sangkut pautnya dengan diriku. Kim Jongin adalah bangsawan yang diliputi segala kesempurnaan. Kekayaannya sebagai pemilik tunggal Octention Corporation tak perlu diragukan. Hampir semua wanita yang bertemu dengannya akan terjerat dalam pesonanya. Harta, wanita, dan takhta ialah tiga hal yang dimilikinya. Tak ada lagi yang mengenal dirinya sebaik aku. Laki-laki yang hampir dua puluh tahun ini kukenal dengan baik, kami tumbuh bersama atas belas kasihan keluarganya. Namun, semua hal akan selalu kembali pada tempatnya karena pada akhirnya keluarga itulah yang menendangku keluar dari sana.

“Dia tidak ada waktu untuk mencariku. Jongin menikmati bulan madunya. Aku penasaran, apakah dia bermain sebaik ketika tidur denganku―saat dia bercinta bersama istrinya sekarang?” aku berucap ringan, tapi terasa berat sekali. Ada luka yang sangat besar ketika nama itu disebut. Aku belum bisa memadamkan api cemburu saat Jongin menikahi gadis lain yang jauh lebih mempunyai segalanya.

“Yang jelas dia akan mengincar orang-orang yang telah membuat goresan di tubuhmu, Nara,” kata Chanyeol.

Aku tersenyum simpul. Benar, semua yang diungkapkan Chanyeol memang hal yang akan dilakukan Jongin pada orang yang merusak barang kesukaannya. Tarikan bibir ini berubah menjadi seringai dingin ketika menyadari bahwa aku tak lebih dari sebuah barang―benda mati di mata pria itu.

Tanpa sadar tawaku yang ganjil menggelegar di segala penjuru restoran ayam goreng kecil itu. Pahit rasanya menelan ludahku sendiri. Kegetiran yang selalu menamparku.

Aku melipat tangan di depan dada. “Jongin tidak tertarik lagi padaku, aku ini seperti permen karet yang sudah tidak manis. Namun, aku tetap penasaran, apakah orang bayaran Jongin menanyakan kabarku kemari?” tanyaku sambil mengurai surai pirangku yang tadi aku ikat satu.

“Tenang saja, orang bayaran yang kau maksud itu adalah karyawanku, mereka tutup mulut selama aku bosnya. Ada satu orang lagi yang menyewa anak buahku. Mereka diminta untuk menjagamu tetap berpakaian saat menari,” ungkap Chanyeol santai.

Aku menautkan alis, “Siapa?” tanyaku penasaran.

Chanyeol hanya tersenyum jahil. “Identitas klien kami dirahasiakan. Itu sudah aturan turun temurun―kunci sukses bisnis kami bertahan hingga kini,” jawab Chanyeol.

Aku lantas memutar bola mata, jengah. Tentunya, bukan orang biasa. Aku harus lebih berhati-hati karena yang menggunakan jasa keluarga Chanyeol hanya orang-orang penting yang punya otoritas mutlak.

Ah, aku belum cerita mengenai asal-usul pria yang menjadi lawan bicaraku―Park Chanyeol. Dia bukan pemilik restoran ayam goreng biasa. Karyawan yang dimaksud Chanyeol adalah ratusan laki-laki berotot, brutal, dan jago bela diri. Mereka memiliki keahlian menjadi bodyguard, pembunuh bayaran, misi-misi khusus, dan pekerjaan lain di bawah tangan―yang tentu saja ilegal.

Aku berkomplot dengan mereka karena tidak sengaja bertemu Chanyeol sewaktu menari di pub itu. Aku hampir ditelanjangi oleh laki-laki berengsek yang tampak bahagia melihat tubuhku. Harga diriku mungkin tidak terlalu mahal, tapi aku masih punya pikiran untuk menjaga tubuhku. Aku tidak ingin orang kotor semacam mereka menyentuh diriku. Kecantikan raga ini hanya untuk dilihat saja, bukan disentuh. Untungnya, Park Chanyeol bersama ‘karyawannya’ mematahkan tangan-tangan mereka. Kami berbincang sebentar, kemudian berteman. Ada banyak orang yang berkata apabila temanmu adalah cerminan dirimu―apa aku mirip Chanyeol?

Licik.

Arogan.

Tangguh.

Tiga sifat itu melekat pada Chanyeol. Oh, ada satu lagi, lembut. Sudah aku bilang, Chanyeol punya sentuhan yang lembut.

Beberapa minggu setelah pertemanan kami, aku memahami satu fakta bahwa Chanyeol adalah suruhan Jongin yang bertugas untuk mencariku. Ternyata, pertemuanku dengannya dalam kondisi aku setengah telanjang, bukanlah suatu kebetulan. Si Penulis Takdir―Kim Jongin turun tangan mengatur segalanya.

Aku bersenandung senang. “Jika Jongin masih mencariku, itu artinya istrinya tidak bisa memuaskan keinginannya― “

“―Jangan berucap seolah kau pernah bercinta dengannya. Aku tahu Tuanku itu menjagamu seperti berlian. Di matanya kau masih Jung Nara putri angkat keluarga Kim yang terhormat,” sela pria itu.

Aku memutar bola mata. “Berlian, benda mati. Aku tidak ingin menjadi benda mati,” aku menggigit bibir.

Semua orang mengatakan jika aku terlalu rupawan untuk menjadi gadis miskin serta yatim piatu.
Aku terlalu pintar.

Aku terlalu berbakat.

Aku terlalu cantik.

Aku terlalu lembut.

Aku terlalu baik hati.

Mereka meminta banyak hal padaku karena aku gadis miskin yatim piatu yang istimewa. Mereka tanpa segan memintaku agar memutuskan hubungan dengan Jongin karena dia akan menikahi gadis lain. Aku diminta Jongin menunggu, entah berapa lama agar dirinya bisa bebas kembali. Mereka memintaku pergi sejauh mungkin, lenyap menanggalkan kenangan bersama Keluarga yang telah mengasuhku sedari usia enam tahun. Sementara Jongin, ingin aku selalu berada di dekatnya―menjaga dirinya agar tetap waras sebab aku hartanya yang paling berharga.

Mereka memintaku melakukan banyak hal. Tanpa berpikir aku juga mempunyai hati. Mereka enggan mempertanyakan kebahagiaanku. Selalu seperti itu.

“Kembalilah ke Seoul, Nara,” ujar Chanyeol, lembut sekali serupa nyanyian selamat tidur. “Mulailah kembali menjadi penari di studiomu. Kau tidak seharusnya berkeliaran sebagai penari di pub,” lanjutnya kini tatapan Chanyeol teduh.

Itu membuatku mendesah pelan. “Kau menasihatiku sebagai teman atau sebagai pengawal bayaran?” celetukku.

Chanyeol tersenyum. “Sebagai seorang pria yang tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu,” jawabnya singkat.

Aku menggantungkan mantelku setelah membuka pintu pub yang kini masih tutup. Kursi-kursi masih di atas meja belum diturunkan, pelayan yang bertugas pagi ini sibuk membersihkan, dan seorang bar tender berdiri tertegun memeriksa stock minumannya. Pria itu langsung saja menoleh padaku ketika mendengar langkah kakiku mendekat, kemudian tersenyum cerah. Tubuhnya yang jangkung serta paras tampannya tidak cocok berada di pub murahan pinggir kota. Ia lebih pantas berada di balik meja menjadi seorang pewaris muda yang sukses. Ah, ada kalanya nasib memang terlampau tidak adil pada manusia―begitulah caraku memercayai bahwa pria bernama Oh Sehun itu sama miskinnya dengan diriku.

“Suasana hatimu sedang buruk,” simpul Sehun ketika aku duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arahnya.

Aku menatapnya tidak berminat. Aku hanya menelusuri wajah pria itu dengan netra ini, menuju bahunya, turun ke lehernya, lalu … mendapati bercak merah di sana. Aku tersenyum kecut. “Apa bayarannya lumayan?” tanyaku tanpa rasa malu. Aku menunjuk leher Sehun, ketika alis pria itu berkerut bingung. “Jangan pura-pura bodoh,” aku mengejeknya. Aku yakin Sehun mengerti maksudku sebab orang seperti kami―manusia rupawan yang sedang membutuhkan uang, pasti melakukan apa saja demi bertahan hidup. Sudah kodratnya demikian.

Sehun menyeringai. Dia menyisir surai hitamnya. Tangan pria itu mengangsurkan segelas susu cokelat padaku―Sehun tidak pernah memberikan aku minuman beralkohol. “Kenapa kau selalu berpikir jika aku yang dibayar?” ia membalas dengan pertanyaan.

Aku menyangga dagu sembari meminum jus jeruk. Sepasang mata ini melihat ekspresi Sehun yang menungguku menimpali perkataannya, ternyata dia menarik juga. “Karena aku tidak yakin, pemilik pub sekecil ini bisa membayar seorang gadis untuk bercinta―”

“―Apa kau lupa pub yang kau sebut kecil ini menyelamatkanmu dari kematian karena kelaparan?” sindiran Sehun, memotong ucapanku.

Aku mengangkat tangan, tanda menyerah. “Baiklah, terima kasih untuk menjadikan aku penari telanjang di sini―”

“―Kau tidak sepenuhnya telanjang, Nona Jung yang terhormat. Lagi pula, aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi,” sekali lagi sikap dominan Sehun ditunjukkan.

Aku hanya tertawa kecil, sama sekali enggan tersinggung pada gurauan pria ini. Toh aku tidak dapat melawan bosku. Dia memang yang memberikan pekerjaan sebagai penari padaku. Kejadiannya sedikit dramatis, waktu itu hujan deras―aku berteduh di pub. Sebagai gadis baik-baik aku sama sekali belum pernah memasuki tempat yang berbau alkohol. Aku dibesarkan oleh keluarga terhormat yang hanya meminum alkohol pada acara-acara tertentu saja, tentunya dengan batas yang wajar. Bagi wanita Keluarga Kim, mabuk tanpa pengawasan adalah hal terlarang. Sayangnya, waktu itu amarahku terlampau memuncak. Aku tidak sadar apabila alkohol yang kuminum mencapai batas, hingga diriku melakukan tindakan konyol yang tidak kusadari. Pada pagi harinya, aku berada di ranjang besar, milik pria yang kini memberikan seluruh atensinya padaku. Sehun memintaku membayar kerugian yang diderita pub ini karena kekacauan yang kubuat dengan cara bekerja. Bayaran yang kudapat lumayan, aku bahkan bisa menyewa tempat tinggal yang layak dan membeli makanan yang cukup.

“Well, aku tidak peduli yang terpenting aku dibayar,” jawabku tak acuh.

Sehun mendekati wajahku, Aku dapat melihat secara detail rahang tegasnya. Garis bibir tipisnya. Aroma parfum maskulin dari raga pria itu tercium.

Seperti orang yang terhipnotis, aku mendengarkan setiap kata yang terucap dari si pria. “Tapi, aku peduli padamu, Jung Nara” ujar Sehun, kemudian menepuk bahuku lembut.

Aku kembali pada pijakanku setelah melayang ke antah-berantah akibat sorot mata Sehun. Mungkin, kalau aku bertemu Sehun terlebih dahulu, aku bisa saja menyukainya … ah tidak mungkin. Hatiku ini sudah terlanjur terpikat pada Kim Jongin.

Jantungku yang berdetak keras, bukan dikarenakan perasaan suka. Ini hanya pengaruh hormon.

Aku menepis tangannya kasar sebagai pertahanan diri. “Satu-satunya orang yang peduli padaku sudah mencampakkan diriku,” kataku.

Sehun tersenyum, ia meraih salah satu seloki kemudian menuangkan wine. Sehun memutar gelas kaca tersebut, lalu meneguknya. “Duniamu tidak hanya sebatas Kim Jongin, Nara. Jangan terlalu lama menjadi gadis naif,” ucap pria itu sebelum meninggalkan obrolan kami yang masih menggantung.

“Kau membuatku semakin berhutang budi padamu, Sehun,” ujarku pada pria yang kini berjalan di sisiku.

Sehun memaksa mengantarkan aku pulang karena hujan enggan berhenti hingga malam hari. Pria itu berucap, “Aku hanya memastikan kau sampai rumah dengan selamat karena terakhir kali aku membiarkanmu pulang saat hujan―kau malah terpeleset di tangga. Akibatnya, bisnisku sepi karena kehilangan penarinya.”

Aku pun mendengus sebagai sanggahan. Pria itu memang super perhitungan jika menyangkut uang. Aku membiarkan Sehun membawakan tas ranselku, sementara tangannya yang lain memastikan payung besar itu tetap membuatku teduh.

Kami membicarakan hal yang tidak penting. Dia menanyakan masalah kecil seperti, warna favoritku, buku yang terakhir kubaca, musik yang sering kudengarkan, dan aroma yang membuatku nyaman. Sehun mendengarkan semua yang kuucapkan dengan saksama, seolah fakta mengenai diriku itu hal yang paling penting di dunia.

“Berapa kali kau berkencan?” itu pertanyaan Sehun saat kami sampai di depan pintu apartemenku.

Pria itu berdiri di sana. Tubuhnya yang tegap terbalut mantel hitam. Ia memasukkan salah satu tangannya ke kantung celana jeans yang dikenakan. Dia menungguku menjawab, ada ekspresi penasaran di rautnya. Lucu.

Aku enggan menjawab. Diriku ini justru memutar bola mata jengah, kemudian mengambil paksa tasku yang sedari tadi dibawakan pria tersebut.

Sehun akhirnya membuka mulut lagi, “Aku rasa hubungan percintaanmu tidak berjalan lancar― “

“―Seperti kau pernah berkencan saja. Well, aku tahu kau tidur dengan wanita yang berbeda setiap malam, tapi kau melakukan itu karena mereka membayarmu,” potongku. Aku menjulurkan lidah ke arahnya sebagai ejekan.

Sehun tertawa riang. Ia mengabaikan setiap ucapanku yang menyindirnya.

Aku sempat lupa password apartemenku ketika mendengar denting tawanya yang khas itu. Aku berusaha fokus, memasukkan angka yang benar. Oh Sehun memang berbahaya.

Sehun mengikutiku masuk ke dalam apartemen. Dia meletakkan mantelnya sembarangan, lalu duduk di sofa kecil dekat televisi. Apartemenku tidak seberapa luas. Ruangan dengan ranjang dan ruang tamu jadi satu. Ada dapur di ujung dekat kamar mandi. Semuanya serba mini malis, maklum harga sewa dan depositnya memang terlampau murah.

“Jadi, pria ini yang membuatmu kabur dari rumah,” gumam Sehun ketika mengamati beberapa foto Jongin dan diriku yang belum sempat kusimpan. “Kau terlihat seperti anak anjingnya,” lanjut Sehun asal.

“Anak anjing,” aku mengulangi ucapan Sehun sewaktu membawa cokelat panas untuk bosku itu. Aku duduk di sofa mengawasi Sehun yang mulai berkeliling. “Paling tidak anak anjing punya nyawa. Kau tak menganggapku sebagai benda mati,” perkataanku itu menghentikan langkah Sehun.

Pria itu memberikan perhatiannya padaku. “Kau selama ini dianggap sebagai barang,” simpul Sehun. Dia mendekat ke arahku, menepuk bahuku. “Setiap laki-laki menginginkanmu karena kau cantik, Nara. Kau terlalu rupawan untuk disebut benda hidup. Sayangnya, itu bukan pujian.”

“Aku tahu,” timpalku. Aku tersenyum ke arahnya. “Menjadi terlalu cantik bukan hal yang menyenangkan. Mereka yang menatapku jadi tidak bisa membedakan perasaan kagum atau sayang,” lanjutku menerawang.

“Aku juga tidak dapat mendefinisikan perasaanku untukmu sekarang, Nara,” gumam Sehun pelan, namun aku masih dapat mendengarkan.

Ada pertanyaan dalam benakku, “Aku tidak mengerti.”

Aku melihat Sehun menggeleng, pria itu berdecap kesal. “Lupakan, kecerdasanmu memang tidak berguna,” sindirnya kemudian mengusap kepalaku.

Menjengkelkan, dasar pria kurang ajar.
Sehun mengabaikan aku yang kesal, dia justru mengambil topik lain. Kali ini mata hitamnya itu menangkap salah satu benda yang berada di ujung ruangan.

“Apa kau menyimpan kembang api di apartemen?” tanyanya. Dia dengan gesit mengambil bungkusan hitam yang sengaja kuletakkan di ujung ruangan. Sehun melotot ke arahku. “Benda ini mudah terbakar, Bodoh. Kau tinggal sendirian di sini― “

“―Iya, aku tahu Sehun. Hentikan omelanmu,” aku memotong ucapannya. Aku berdiri menghampiri pria tampan itu. “Aku sering merindukan mantan kekasihku, jadi aku berusaha mendestruksi ingatanku tentangnya dengan membakar kembang api sialan ini,” aku membela diri.

Sehun tertawa keras. “Konyol, kalau ingin merombak kenangan kau tidak bisa sendiri. Kau butuh aku untuk menciptakan kenangan indah yang lain. Aku punya satu hal menarik yang ingin kutunjukkan,” balasnya. Sehun meraih tanganku, menarikku melangkah keluar apartemen sembari membawa kembang api tersebut.

“Wah, indah sekali,” ujarku spontan ketika kami sampai di atap gedung apartemen.

Aku sama sekali enggan menyangka bahwa apartemen tua yang kusewa ternyata memiliki pemandangan mengesankan. Seolah semua gedung tinggi menyingkir agar siapa pun yang datang kemari bisa melihat bintang. Netraku juga disuguhkan dengan lampu yang berkerlap-kerlip dari taman dekat apartemen itu. Kolaborasi yang sangat mengesankan.

Aku menatap pria yang berada di sampingku, dia melipat tangan di depan dada sambil tersenyum puas. Sehun yang sadar kupandangi sedari tadi, segera membalasnya. Dia mengatupkan senyum tersebut. Ekspresinya berubah serius, tangan Sehun mengangsurkan kembang api padaku, kemudian menyulutnya dengan tiba-tiba.

Aku terkejut, pria itu justru menyeringai jahil.

“Ayunkan,” perintah Sehun. Dia memberikan contoh. Sehun mulai bermain-main, dia berlari serupa orang gila. Ia kembali menarikku, kami berkejaran mirip anak sekolah dasar. Menyenangkan.

Benda itu menyala dengan indahnya di tanganku. Aku mengayunkannya seperti caraku dulu. Sewaktu kecil, aku sering bermain bersama saudaraku yang lain. Berteriak, menangis, dan tertawa sepuasnya. Kini aku bahkan tidak dapat berbagi kemalanganku dengan siapa pun. Mereka terlalu sibuk dengan urusannya. Sementara aku, terlanjur patah hati.

Aku mengikuti Sehun yang berseru keras, mengoceh soal betapa susahnya menjalankan sebuah pub. Ia juga mengeluh soal dirinya yang terlahir sebagai Oh Sehun.

“Aku bosan menjadi Oh Sehun!” pekiknya.

“Aku tidak ingin menjadi Jung Nara!” Aku berteriak sama kerasnya.

Aku mendapati Sehun kembali tersenyum. Dia mengamatiku dari dekat, ketika aku menari dengan membawa kembang api itu―Sehun menjaga tanganku agar aman dari api.

“Aku tidak mengira, jika bangunan tua ini bisa memberikan kesenangan,” racauku sembari terengah. “Lihat, padahal ada gedung yang lebih tinggi. Tapi, mereka berada di sisi apartemen ini. Gedung-gedung itu seakan memberikan jalan agar orang-orang yang berada di atap apartemen bisa melihat pemandangan indah.”

“Semuanya sengaja didesain seperti itu― “

“―Mana mungkin?” potongku.

Sehun yang beranjak duduk di lantai pun menjungkitkan ujung bibir. “Mungkin saja, ada seseorang pria yang kaya raya ingin menghabiskan uangnya. Kebetulan apartemen tua ini adalah salah satu bangunan favoritnya. Dia punya kuasa untuk meruntuhkan bangunan lain yang dapat menghalanginya memandang bintang dan taman itu.”

“Konyol sekali,” aku bercelatuk. “Kau pandai berandai-andai,” lanjutku.

“Benar, aku memang pandai bermimpi,” ia menimpali.

Kami memilih menikmati pemandangan yang ada dengan cara bungkam.

Sehun terdiam, jika tidak bergerak pria di sampingku ini lebih mirip dengan sebuah patung. Ia terpahat sempurna. Caranya menatap, posisi duduknya, bibirnya yang terbuka beberapa inci, dan ekspresi dinginnya. Sehun memang awalnya tampak tidak ramah, namun setelah mengenalnya selama beberapa lama―dia hangat. Mengagumkan.

Sehun memiliki pesona tersendiri yang bisa menarik wanita untuk terperangkap. Aku bahkan menyadari apabila pikiranku hanya terfokus padanya ketika kami hanya berdua. Kesedihan karena diriku yang dicampakkan Jongin, seolah berkurang. Hanya ada kenangan manis, yang mulai tidak terasa manis. Memori pahit yang menjadi hambar. Kim Jongin tetap mengisi hati ini, tetapi tidak sepenuh dulu. Semua hal yang kulakukan memang mengingatkan diriku padanya, namun itu karena aku terbiasa bersamanya.

“Jika kau diberikan kesempatan untuk berandai-andai, apa yang kau inginkan, Nara?” tanya pria itu tiba-tiba.

“Aku ingin bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya. Aku ingin menghapus perasaan kecewa yang terlanjur ada,” jawabku cepat.

Sehun menghela napas panjang. “Sumbumu sangat pendek,” timpalnya.

Aku menyugar surai. “Aku ingin bersamanya, meskipun dia bukan milikku. Aku akan menunggunya, meskipun itu berarti selamanya,” aku melanjutkan kicauan. Ada jeda beberapa sekon ketika aku menghela napas dalam. “Jangan berburuk sangka dulu karena ketika jatuh cinta, aku bisa melakukan apa pun,” sambungku.

“Aku sangat iri dengan mantan kekasihmu. Dia berengsek, tapi tetap ada gadis bodoh yang menunggunya,” Sehun menanggapi.

“Apa kau ingin seseorang menunggumu?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Pasti tidak ada yang ingin menunggu pria sepertimu. Kau hanya punya pub yang hampir bangkrut, aku yakin hutangmu di mana-mana,” ejekku. Aku menyenggol lengan Sehun dengan siku ini. “Tenang saja, selain rentenir―aku juga bersedia menunggumu untuk menagih upah,” sambungku.

Sehun tertawa kecil.

Aku terpaku.

Manis seperti gula.

Sehun yang baik hati.

“Aku tidak akan mengizinkanmu menunggu sesuatu. Jung Nara yang mudah bosan, membuatmu menunggu hanya akan menyiksamu,” ucapnya lembut. Sehun merangkul tubuhku, dia mengusap bahuku ketika menyadari aku mulai kedinginan. Pria itu kemudian kembali berkata, “Apabila dia sungguh mencintaimu, pria itu tidak seharusnya membuatmu menunggu dalam keadaan patah hati.”

Sehun mengeratkan dekapannya padaku, seolah tubuhnya bisa merekatkan kembali hatiku yang terlanjur hancur. Dia berusaha mengobati luka yang ditorehkan orang lain padaku.

Hangat.

Nyaman.

Aku merebahkan kepala ini di bahunya. Meresapi kata-katanya yang mengisi runguku. Syaraf-syaraf di serebrumku membenarkan ucapannya.

“Kalau begitu, tolong katakan pada pria kaya raya yang kau sebutkan tadi―aku menginginkan Jongin kembali padaku, walaupun dia sudah menjadi suami wanita lain. Aku ingin Jongin berucap jika dia menginginkanku,” kataku pelan sembari memejamkan mata, meresapi angin yang menyentuh kulit ini.

Entah itu sengaja atau tidak. Aku merasakan Sehun mengecup puncak kepalaku. Tubuhku yang bodoh juga diam, tanpa perlawanan.

Bahkan ketika dia membalas ucapanku, “Dia mungkin akan mengabulkan permintaanmu―apa saja Nara asal dirimu bahagia.”

Terasa seperti mimpi.

Mimpi yang indah.

Jongin ada di depan mataku. Dia berdiri di sana, ekspresinya dingin, kedua tangannya dimasukkan ke saku jeans, dan netranya menatapku sayu. Satu-satunya orang yang tidak menikmati pertunjukkan. Hanya dia yang tak bertepuk tangan ketika aku menyelesaikan tarianku. Dia juga lah yang enggan memandangku dengan tatapan melecehkan, seperti pria lain di sana yang seolah ingin merobek gaun tipis yang membalut kulitku. Jongin juga satu-satunya pria yang membuatku ingin berlari ke pelukannya, lalu menyerahkan semua hal yang kumiliki.
Lantaran mengikuti kata hatiku, aku justru berbalik menjauh. Aku berjalan menyusuri lorong pub tempatku bekerja. Langkahku semakin cepat, menyadari pijakan lain yang mengejar.

Aku terkesiap hingga berbalik ketika tangan yang sangat kukenali menarik lenganku. Jongin mengejarku, kali ini ekspresinya kelabu. Ia diselimuti kabut yang begitu pekat. Aku tenggelam dalam pelukannya yang menyesakkan. Ia selalu menjadi badai dalam hidupku. Semua yang aku tata porak-poranda dengan demikian mudah jika bertemu muka dengannya.

“Jangan coba-coba pergi lagi,” bisiknya ketika mencium puncak kepalaku. Suaranya begitu sedih seolah ia telah mendapatkan hukuman puluhan tahun.

Aku memang menghukumnya dengan pergi dari pelukan pria itu. Semuanya pantas sebab ia terlalu rapuh. Kim Jongin memang memiliki segalanya, namun jauh di dalam sana ada satu kekurangan fatal. Kim Jongin bukanlah apa-apa tanpa nama keluarga. Dia hanya pria lemah yang tidak bisa menolak segala ikatan yang diminta oleh keluarganya, termasuk pernikahan itu. Jongin membiarkan diriku terluka sendirian, semua ucapan manisnya padaku dibuang begitu saja. Kini dirinya justru tiba-tiba datang padaku, mendekapku begitu erat hingga menyesakkan.

“Pergi,” bisikku pelan, melawan egoku yang terus ingin berada di sampingnya.
Sifat keras kepala Jongin enggan untuk melepaskan diriku. Aku mulai berontak. Aku mendorongnya, kemurkaan serta kesedihan ini menjadi kekuatan.

“Nara, maafkan aku. Aku menikahinya karena melindungimu,” kata pria yang sangat kucintai itu. Dia memberikan spasi di antara kami. “Nenek akan melenyapkanmu jika aku tidak menuruti mereka,” lanjutnya penuh kepedihan. Ada satu bulir air mata yang menggenangi netra Jongin, lantas hati ini pun semakin sakit.

Aku membiarkan dirinya merangkum wajahku, mata kami bertemu. Hanya ada aku di dalam pupilnya itu. “Lalu, kau ingin aku bagaimana, Jongin? Apa yang harus kulakukan? Aku sangat mencintaimu, tapi kau milik orang lain sekarang. Tolong jangan muncul di hadapanku lagi,” aku memohon padanya.

Aku meminta karena ini terlalu berat. Dua bulan lamanya aku berusaha melupakan pria itu dengan hidup sesuka hati. Dalam dua menit, ia telah mampu meruntuhkan usaha ini. Kemunculan Jongin di hadapanku membuat diri ini ingin berlari ke dalam cintanya kembali. Aku ingin tetap bersamanya apa pun yang terjadi. Namun, semua itu salah.

“Aku ingin kau egois, Nara,” jawabnya sengau. Jongin mengecup puncak kepalaku―anehnya aku pun mengizinkannya. “Aku ingin kau egois seperti diriku. Kita harus tetap bersama, Nara. Aku bisa gila jika membiarkanmu berada di luar jangkauanku,” sambungnya.

Aku sontak menggeleng. “Kau berharap aku menjadi wanita jalang―”

“―Tidak, Nara dengar. Pernikahanku akan segera berakhir. Aku akan melakukan semua cara untuk menyingkirkan wanita itu,” sambar Jongin. Dia memelukku sekali lagi. “Kau hanya perlu menunggu sebentar,” gumamnya.

Tanganku bergetar saat mendorongnya menjauh. “Berapa lama alu harus menunggu? Rasa sakit apalagi yang harus kuterima agar bisa bersamamu?” tanyaku bertubi-tubi.

Aku mulai tersedu-sedu. Ini pilihan yang sulit. Aku enggan berakhir sengsara, namun perpisahan kami hanya menimbulkan penderitaan yang mendalam. Aku sangat mencintai Jongin. Aku pun tidak mampu hidup tanpa dirinya. Jongin memang milik orang lain, walaupun begitu seluruh pikiran dan hatinya hanya diberikan padaku.

“Tidak akan lama, Nara. Aku berjanji tak akan membuatmu terluka lagi,” jawabnya. Jongin menghembuskan napas pelan, “Jangan menangis Nara, aku mohon,” rayunya sembari berusaha menghapus air mata ini.

Telapak tanganku menyentuh rahang Jongin yang keras. “Tepati janjimu kali ini, Jongin. Sekali lagi kau mengkhianatiku, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu, selamanya,” ucapku penuh ancaman.

Jongin enggan lagi membalas. Dia meraihku, Jongin menciumku dengan begitu dalam.

Aku pun terjatuh sekali lagi dalam lubang hitam yang tak tahu di mana ujungnya. Aku juga tidak memahami bagaimana diriku akan berakhir.

Apakah aku akan berada di akhir yang bahagia?

Apakah aku akan berada di akhir yang memilukan?

Aku hannyalah seorang wanita yang sedang jatuh cinta.

Aku hannyalah seorang wanita yang merebut milik orang lain.

Aku sadar ketika memenuhi permintaan Jongin untuk tetap mencintainya, peranku pun dalam kisah ini bukan lagi protagonis yang disakiti, tapi antagonis yang menyakiti. Aku akan melakukan tugasku dengan sangat baik―jahat, murahan, dan tanpa belas kasih.

-oOo-

Mungkin ini akan menjadi project terakhirku di tahun 2018. Semoga siapa pun yang membaca dapat menikmati jalan ceritanya. Aku sangat menunggu komentar kalian agar aku tahu apa yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini. Have a good day everyone! See you!

Advertisements

155 thoughts on “Love Madness: Moonlight In The Darkness

  1. “Aku juga tidak dapat mendefinisikan perasaanku untukmu sekarang, Nara,” gumam Sehun pelan, namun aku masih dapat mendengarkan.

    Oh my sehun❤

  2. complicated…

    smga sehun bisa ngedapatin hati nara sepenuhnya, biar terlepas dari jongin.. ksian naranya juga kalau harus mkin di benci sma kluarga kim

  3. Bagus k’ceritanya… Semua cast bikin penasaran… Terutama sehun… Jangan2 dia udah suka sama nara dari dulu… Trz yg punya gedung mungkin sehun… Hehehe asal nebak..
    But q suka ceritanya 😃

  4. sepertinya sehun bukan hanya pemilik pub pinggiran kota ug penghasilan nya sedikit deh, dan sepertinya jongin aja kalah nih ma kekayaan sehun😁 #sotoy ya tpi bisa jadi dilihat dari gelagat sehun
    nara gx kepikiran nih bt tinggalin jongin?

  5. “Menjadi terlalu cantik bukan hal yang menyenangkan. Mereka yang menatapku jadi tidak bisa membedakan perasaan kagum atau sayang,”

    Suka banget sama kalimat ini, kalimat yang cocok buat cewek juga yang ngeliat cowok cakep, itu engga bisa ngebedain mana kagum mana suka 😁

    Buat part awalnya banyak tokoh yang udah dimunculin dengan berbagai karakter yang engga tau itu mereka yang asli atau bukan, mungkin banyak teka teki nantinya 😂

    Karena penasaran, aku izin baca ceritanya kak ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s