Love Madness: An Affair To Forget

20181003_192044_0001

Previous: 

Moonlight In The Darkness

“I loved her to death, it’s killing me.” ―Killing Me, iKon.

-oOo-

Aku meminum kopi dan memakan potongan sandwich sebagai sarapan pagiku. Aku duduk dengan anggun di kursi makan mini malis sembari membenarkan gaun tidur yang mahal. Diriku sudah kembali menjadi seorang tuan putri, meskipun dalam kondisi yang berbeda. Jongin sangat memanjakan diriku―uang dan barang-barang mahal yang kuinginkan semuanya milikku. Dunianya pun sedikit demi sedikit berada di genggamanku.

“Selamat pagi, Baby,” Jongin memanggil bersamaan dengan raganya yang berada di hadapanku.

Jongin tersenyum lembut, menarik parasku agar bisa menemukan bibir ini. Dia mengecupku intens. Kebiasaan pria itu adalah mencium tengkukku, menghirup dalam-dalam parfumku. Siapa yang mengira jika pria rupawan yang kini tengah mencumbuku adalah suami orang lain? Kami lebih mirip sebagai pasangan suami istri yang baru saja menikah.

Aku menyeringai apabila kembali memikirkannya. Jongin selalu berada di pelukanku selama satu bulan ini. Entah alasan apa yang dibuatnya sehingga tak ada kecurigaan sama sekali dari keluarga barunya. Pasti istrinya menderita, aku rasa itu sepadan karena cara mereka memisahkan kami juga kejam.

“Pagi yang menyenangkan,” ucapku setelah pria itu mengizinkan aku terlepas darinya.

Jongin mengikuti senyum lebarku. “Aku harap akan tetap menyenangkan setelah aku memberitahumu, jika malam ini aku dan dia harus bertemu,” ujarnya sembari memotong kecil-kecil sandwich untukku.

Aku mengatupkan bibir. Aku mengerti siapa yang dimaksud ‘dia’ oleh Kim Jongin. Bae Sojin, ah tidak, aku harus memanggilnya Kim Sojin sekarang sebab perempuan itu telah menikahi kekasihku. Aku sadar bahwa suatu saat diriku harus kembali ke kenyataan―Jongin terikat pada Sojin.

Tanganku yang berada di atas meja sontak mengepal. “Apa yang akan kalian lakukan?” tanya bibir ini pelan.

Jongin menyisir surai coklatnya dengan jarinya, lalu beranjak meremas tanganku lembut. “Makan malam perusahaan. Aku tidak bisa mangkir, Nara. Orang yang berpengaruh pada perusahaan kita datang ke sana. Kau juga diundang―”

“―Aku tidak ingin datang. Aku akan cemburu melihat kalian,” putusku, mata ini dengan tajam menatapnya.

Jongin menyeringai. Dia mengecup punggung tanganku. “Kau tahu benar, Nara―bahwa yang kulakukan dengannya hanya sebatas formalitas. Lagi pula, ada gadis yang sangat kucintai di sini untuk apa aku menaruh perasaan pada perempuan lain,” ucapnya.

“Baiklah, aku tidak ingin mood kita menjadi buruk karena membicarakan wanita itu,” aku berucap. Sepasang ujung bibirku membentuk sudut simpul yang cantik.

Jongin berdiri dari tempat duduknya. Pria itu meraih tangan ini. “Karena nanti malam aku harus mengikuti kegiatan yang membosankan, aku ingin melakukan hal yang menyenangkan bersamamu―”

“―Tidak mau, aku harus mempersiapkan diri agar terlihat jauh lebih menawan,” selaku. Tanganku melingkar sempurna di leher Jongin.

Jongin mendekatkan paras kami hingga hidungku bersentuhan dengan miliknya. “Aku tidak akan bisa menahan diri apabila kau lebih cantik lagi malam nanti,” rayunya.

Jongin memang selalu begitu, dia pintar memanjakan hati wanita. Mantan kekasihnya memang tidak bisa dihitung dengan jari, meskipun sejauh apa pun priaku ini berkelana dia selalu kembali psdaku. Ia mendapatkan pengalamannya dari wanita lain, kemudian menerapkannya pada diriku. Dunia ini memang tidak adil. Hah.

“Aku tidak butuh kata-kata manis, mengenalmu selama dua puluh tahun ini membuatku … muak,” balasku.

Jongin tertawa. Ia menyentuh pipi ini. “Tapi, rona merah ini tidak bisa berbohong, Nara,” kelakarnya. Ia mengangkat tubuhku, menggendongnya dalam sekali sentakan. “Aku akan menyiapkan gaun-gaun paling indah untukmu, kau tinggal coba lalu memilih yang terbaik nanti. Untuk sekarang kita harus beristirahat,” sambung Jongin.

Tanpa menunggu persetujuanku, dia membawaku ke hal yang paling menyenangkan. Sekaligus berakibat fatal.

“Anda sangat cantik, Nona Jung,” ucap salah satu penata rias yang didatangkan Jongin ke apartemen kami. Wanita itu terlihat sangat sopan dan terpelajar, ia memiliki satu sifat yang aku yakini ada  pada dirinya, yaitu keinginan tahunan yang tinggi―penyebar rumor. “Tuan Kim meminta saya dengan mendadak, saya penasaran siapa wanita yang harus saya layani?” tanyanya sembari memperbaiki tatanan suraiku.

Aku mengukir senyum padanya. “Kalau yang kau maksud adalah apa hubunganku dengannya. Aku akan menjawabnya dengan suka rela. Aku ini adiknya―”

“―Bukankah Tuan Kim adalah putra satu-satunya? Dia juga baru saja menikah, bukankah rasa ingin tahu saya ini beralasan karena Tuan Kim mengundang saya untuk merias gadis lain,” ia menyela perkataanku.

Aku tak langsung menjawab. Aku menatap ke depan, mengamati lekuk tubuh ini yang terbalut gaun hitam, bagian atas mengekspos bahuku dan sisi bawah memaparkan kaki jenjangku. Aku sangat sempurna, juga terlampau percaya diri. Aku meraih lemon tea yang sedari tadi disiapkan untuk meredakan dahagaku sewaktu dipoles. Penata rias itu cekatan melukis lagi bibir ini dengan lipstik merah. Aku lantas berdiri, memainkan gelas itu.

“Aku salah satu dari putri angkat mereka,” jawabku setelah jeda yang teramat panjang. Sekali lagi aku tersenyum anggun, menepiskan jarak satu langkah demi langkah. Aku menunduk untuk berbisik ke arahnya. “Apa kau mendengar banyak rumor tentang diriku saat merias gadis kaya lain?” tanyaku, nada yang kugunakan mengalun memekakan telinga.

Wanita tersebut mundur. “T―tidak, Nona Jung,” jawabnya tergagap.

Aku tertawa kecil. “Sayang sekali, padahal aku suka sekali jika banyak dibicarakan oleh gadis-gadis lain―terutama yang berhubungan dengan Kim Jongin,” aku berucap. Telunjuk dan ibu jari ini mencengkeram wajah wanita itu. “Lain kali saat kita bertemu, beri aku pertanyaan dan jawaban yang lebih menarik.”

“B―baik, Nona,” balasnya menderita.

Aku mengangguk penuh khidmat ketika wanita tersebut memahami ucapanku―oh bukan, itu sebuah ancaman dariku. “Ups, aku tidak sengaja menumpahkan minumanku ke tubuhmu,” lantunku singkat, saat cairan isi dari gelas lemon tea mengucur membasahinya.

Aku meninggalkannya di sana. Wanita sampah yang hanya bisa membuat berita buruk kemudian menyebarkannya. Aku benci keinginan tahunan yang tidak perlu. Itu membuat suasana hatiku buruk.

Namun, hati selalu dapat diperbaiki. Jongin merakit kembali kebahagiaanku. Terlebih lagi ketika dia terlihat teramat tampan.

Aku disambut oleh Jongin saat melangkah keluar dari kamar itu. Jongin sudah berada di sana, dia sempurna dengan tuksedo hitamnya. Kekagumanku padanya berhenti karena mendapati orang lain yang berkunjung ke apartemen kami. Ada dua orang pria paruh baya asisten Jongin, orang-orang yang mengenalku sejak kecil.

“Apa kabar, Paman Kang dan Paman Lee?’ sapaku sopan.

Mereka berdua membungkuk singkat sebagai jawaban.

Jongin meraih tanganku, mendekatkan tubuh kami. “Kau cantik sekali,” katanya pelan mengisi rungu dan hatiku.

Pria itu tidak bisa menyentuhku lebih banyak lagi sebab ada orang-orang yang mengawasi. Meskipun, aku yakin kedua paman itu mengetahui hubungan percintaan kami yang terlarang―aku tak ingin memaparkan kemesraan secara cuma-cuma.

“Kau akan ke sana bersama Paman Lee. Aku dan Paman Kang akan menjemput Sojin,” kata Jongin lagi ketika kami menuju basemant.

Aku menyipit, kemudian berhenti melangkah. “Serakah, dua wanita dalam genggamanmu,” ejekku.

Jongin tertawa, dia memegang bahuku. “Tapi, hanya satu yang sungguh-sungguh aku inginkan,” ia menimpali.

Aku mendekat ke arahnya, menuju kerah kemeja putihnya―meninggalkan bekas lipstiku samar-sama di sana. “Lalu aku pun membantumu mendapatkan yang kau inginkan,” aku mengimbuhkan pelukanku yang erat padanya agar Sojin tahu jika tubuh pria ini memiliki aroma parfum wanita lain.

Aku berada di negeri dongeng. Ballroom menawan yang dihiasi bunga-bunga musim semi, karpet merah yang menuntun jalan bagi para tamu pesta ini, dan lampu-lampu kristal menggantung indah. Gaun-gaun membalut tubuh para wanita dan tuksedo dikenakan para pria. Ini bukan sekedar makan malam biasa, hanya orang-orang terpilih―pemilik nama penting yang dapat hadir. Aku menyematkan statusku sebagai putri angkat Keluarga Kim agar bisa dihargai dalam pesta. Bukan berarti sebutan sebagai putri angkat itu menyenangkan, aku hanya simbol belas kasih keluarga itu. Sebuah pencitraan yang dibuat, agar publik semakin mengagumi mereka karena Keluarga Kim peduli pada manusia tidak beruntung seperti kami. Benar, bukan hanya diriku, tetapi masih ada tiga orang lagi.

“Kau datang, Nara. Bagaimana kabarmu?” tanya seorang wanita paling lembut yang pernah kukenal. Namanya Olivia Park, saudariku yang tertua. Gadis blasteran Amerika dan Korea tersebut menggerai surai pirangnya yang tampak menawan, seusai dengan kulit pucat miliknya.

“Kabarku tidak pernah sebaik ini,” balasku ringkas.

Ada seorang gadis lagi―bergaun merah jambu selutut, warna yang terlalu terang untuk dikenakan di acara makan malam. Seperti gaunnya yang mencolok, sifat periang gadis itu telah menarik perhatian banyak orang. Dia adalah saudari termudaku, Kang Rae.

“Nara, aku merindukanmu,” ucap Rae bersemangat, dia langsung melompat memeluk tubuhku hingga aku hampir terselip kakuku sendiri kalau saja tak dibantu oleh tangan pria yang familier tersebut.

“Do Kyungsoo,” aku berbisik pelan mengenali pria itu, menyapa satu-satunya kakak laki-lakiku yang sifatnya sangat berbalikan dengan Kang Rae. Pria itu bersurai hitam, tingginya sekitar 178 sentimeter, dan tidak punya banyak ekspresi selain murung.

“Ternyata, kau masih ingat rumahmu, Nara. Aku kira kau salah satu dari korban tabrak lari kemarin,” begitulah cara Kyungsoo menyambut sapaanku.

Aku hanya dapat mendengus sebagai respons, paling tidak Kyungsoo masih mengulurkan tangan ke arahku―memintaku berdansa dengannya. Aku menerima kesopanan kakak laki-lakiku itu sebelum ada ucapan pedas lain yang dilayangkan olehnya.

“Aku hanya berkunjung, rumahku bukan di sini,” aku memulai pembicaraan setelah kami berada di tengah lantai dansa. Ada jeda sejenak ketika diriku melingkarkan tangan ini ke leher Kyungsoo yang dingin. “Rumah kita bukan di sini, Kyungsoo. Sudah seharusnya kita mengembalikan apa yang telah dipinjamkan mereka,” aku melanjutkan.

Kyungsoo tertawa mengejek. “Kau mengembalikan, setelah mendapatkan sesuatu yang lebih besar,” timpalnya. Kyungsoo menghentikan langkah dansanya, dia menatapku tajam. “Jika dirimu terlalu serakah, ganjarannya akan semakin besar, Nara,” sambung Kyungsoo yang lantas membuatku melepaskan pelukanku.

Aku menggigit bibir―pikiranku berputar untuk mencari kalimat yang sama menusuknya dengan yang Kyungsoo ucapkan. “Lebih baik menjadi terlalu serakah, daripada harus kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidup. Paling tidak aku memperjuangkannya,” ujarku. Aku menatap pria itu, menetralkan napasku. Kaki ini berayun mendekati rungunya, kemudian berucap, “Aku bukan pengecut sepertimu. Andai saja, kau berjuang lebih keras―pasti Jo Jisoo masih ada di sini bersama kita.”

Perubahan raut muka Kyungsoo membuatku tersenyum puas. Aku meninggalkan kakak laki-lakiku itu dengan membawa tropi kemenangan karena sudah menyakitinya. Aku sadar bahwa mengungkit Jo Jisoo dapat membawaku sebagai penakluk Kyungsoo. Jo Jisoo adalah putri tunggal Keluarga Jo―keluarga dekat kami, seperti cerita telenovela Do Kyungsoo dan Jo Jisoo jatuh cinta. Namun, kisah mereka berakhir tragis. Kyungsoo dan Jisoo berniat mengadakan pernikahan secara diam-diam, tentu saja mereka ketahuan. Kyungsoo dengan mudahnya menyerahkan Jisoo pada pengawal keluarganya yang tengah mengejar mereka. Beberapa jam setelah peristiwa itu. Jisoo dikabarkan meninggal―bunuh diri di kamarnya. Lagi-lagi pemikiran kolot keluarga kaya ini menelan korban jiwa.

“Suasana hatimu pasti langsung jelek setelah mengobrol dengan Kyungsoo,” ujar Rae.

Aku menghampiri adikku yang tengah sibuk memakan kue pelanginya. Gadis berusia delapan belas tahun itu menyenggol sikuku, ia mengangsurkan segelas susu cokelat.

Aku mengamati gelas susu cokelat ini. Aku jadi mengingat seseorang yang selalu memberikan minuman itu ketika kami bertemu. Oh Sehun, batinku mengucapkan namanya, mendahului bibir. Hampir dua minggu sejak diriku terakhir menemuinya. Kenapa aku justru memikirkannya? Benakku kembali menguarkan pertanyaan yang belum bisa aku jawab.

“Kenapa harus susu cokelat?” aku refleks memberikan pertanyaan pada adikku.

Rae tersenyum cerah. “Karena susu coklat bisa menyelesaikan semua masalah,” jawabnya. Sepasang netra Rae membulat, arah pandangannya tertuju pada sesuatu yang berada di belakangku.

Aku membalikkan badan. Aku melihat pria yang kucintai berada di sana. Kim Jongin dan Bae Sojin tengah memasuki ballroom. Jongin terasa sangat jauh, aku bahkan tidak dapat menyentuhnya. Mereka membuatku sangat iri, Jongin dan Sojin sempurna. Mereka saling menatap dan mengobrol seolah hidup mereka bahagia. Hatiku jadi gelisah, meragukan semua janji Kim Jongin padaku.

“Nara, Bukankah kau belum berkenalan dengan Sojin?” tanya Rae.

Aku menggeleng enggan.

Gadis muda itu menarikku, “Kalau begitu, ayo kukenalkan. Sojin harus tahu kalau ada wanita sehebat dirimu di sekitar Jongin,” katanya.

Naluriku sebagai seorang wanita yang enggan dikalahkan membiarkan kaki ini merajut langkah ke arah Jongin dan Sojin. Mereka berdua sedang mengobrol dengan salah satu tamu jamuan makan malam ini. Sojin yang kala itu mengenakan gaun hitam berpotongan terbuka di bagian depan pun, sedikit terkejut ketika Rae serta diriku mendatangi mereka.

“Nara,” suara rendah Jongin memanggilku.

Aku memberikan senyum simpul yang anggun, meskipun langkahku kikuk karena Rae terus saja mendorong.

“Jongin, kau sama sekali tidak terkejut Nara pulang,” keluh Rae.

Jongin pun tertawa, ia mengacak surai adik termuda kami. “Karena aku tahu Nara akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke rumah,” balas Jongin, dia mendekat ke arahku. Pria itu memperluas jarak dirinya dengan Sojin.

“Jadi, kau adalah Jung Nara yang selama ini Jongin ceritakan,” Sojin mengikuti obrolan kami. Suaranya indah, mengalun lembut―sesuai dengan gerak tubuhnya. “Kau adik kesayangan Jongin, dia sangat kecewa karena tidak bisa datang ke acara pernikahan kami,” imbuhnya.

Aku mengangguk. “Aku merasa tidak terlalu beruntung karena mangkir hadir dari pernikahan kalian,” ujarku singkat. Aku memberikan tatapan tajam pada Jongin.

“Tidak masalah, aku senang melihatmu ada di sini. Sebagai ganti kau tidak berdansa denganku di hari pernikahan, kali ini kita harus berdansa sepanjang malam,” kata Jongin sembari mengulurkan tangan, meminta kesediaanku―mengabaikan Sojin.

Aku menerimanya.

Kami menuju lantai dansa, tidak peduli pada Sojin yang terpaku di tempatnya.

Menghiraukan perasaan wanita malang itu.

Karena kami ingin bahagia.

Karena kami ingin menjadi manusia paling egois di dunia ini.

Jari-jariku bergerak terampil melepas dasi pria yang kini tengah mengecupku. Aku duduk di meja, sementara tangannya bergerak membelai punggungku lembut. Aku berusaha memimpin permainan. Jongin tetap yang paling pintar dalam hal berciuman. Pria itu bisa membuat lawannya lupa cara bernapas, rela untuk menyerahkan nyawa agar dia tidak berhenti menyentuh tubuhku.

“Jongin,” lenguhku saat dirinya mulai mencumbu leherku. Tanpa sadar aku mulai melepaskan kancing kemejanya satu-persatu, tidak sabar.

Kami sengaja kabur dari pesta membosankan tersebut. Jongin menggiringku untuk naik ke lantai atas gedung yang ternyata terdapat ruangan khusus. Awalnya, hanya berbincang ringan, kemudian seperti biasa―Kim Jongin mulai merayu. Kendati demikian, kemesraan kami tidak berlanjut lama karena ponsel kekasihku berdering dengan lantang.

Jongin meraih benda pengganggu yang ia letakkan di atas nakas. Aku yang masih terengah pun ingin tahu siapa yang meneleponnya. Lantaran mengangkat telepon, Jongin mengabaikannya. Tidak lama setelahnya sebuah pesan masuk, dia membacanya dengan cepat, lalu melemparkan ponsel itu asal. Jongin mengerang frustasi, kemudian mencium pipiku sebentar. Jongin mulai merapikan dasinya.

Aku berdiri dari posisi yang nyaman itu, melipat tangan di depan dada. Ada perasaan kesal yang membuncah. “Apa Nona Bae mencarimu?” tanyaku.

Jongin mengangguk, “Sojin berniat mengenalkanku pada salah satu keluarganya―pemilik JW Group. Sangat sulit bekerja sama dengan perusahaan itu tanpa bantuan keluarga dekat mereka,” jawabnya.

“Gadis itu punya seribu alasan untuk menarikmu dariku,” aku meracau.

Jongin mengusap puncak kepalaku menenangkan. “Kau juga boleh ikut, Nara,” ungkapnya.

Aku mendengus tidak tertarik. “Pasti akan membosankan,” keluhku.

“Kata Sojin, sepupunya ini berusia sebaya denganku,” Jongin membalas. Ia meraih tanganku menggenggamnya erat. “Investor ini jarang sekali bersedia datang ke perjamuan. Aku harus menemuinya ini kesempatan emas,” lanjutnya.

Aku mirip seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Berada di tengah orang-orang yang membicarakan permasalahan bisnis, sementara pikiranku ini terlalu malas untuk iku serta sebab sejak kecil keluarga kami telah belajar begitu banyak hal mengenai uang. Aku muak mendengarkan lagi dan lagi soal perusahaan seolah hidup mereka hanya untuk mencari keuntungan. Lantas aku pun memutuskan bergerak pergi. Aku mundur perlahan, menjauhi Jongin yang sibuk berbincang. Sementara Sojin, ternyata tidak berada di sini―katanya, dia sedang bercengkrama dengan sepupunya yang akan dikenalkan pada Jongin. Itu membuatku bernapas lega, paling tidak dia tak sempat melihat ekspresi konyolku saat ini.

Aku berjalan mundur berharap Jongin bisa memaklumi suasana tak nyaman ini. Aku sebenarnya tidak perlu khawatir atas respons Jongin, ia sama sekali tidak sadar aku sudah jauh dari sisinya. Aku terlalu fokus mengamati Kim Jongin yang berada di sana, hingga tiba-tiba aku menabrak orang lain. Kali ini aku tidak terlalu beruntung, gelas berisi wine yang belum kuminum tumpah mengenai gaunku. Sementara, diriku merasakan cengkeraman protektif dari seseorang yang tadi kutabrak. Andai saja bukan karena dia, aku sudah terjungkal.

“Terima kasih,” kataku singkat, aku masih menunduk bingung dengan gaunku yang basah.

“Aku membantumu lagi. Kau berhutang banyak hal padaku, Nara,” balas suara bariton itu.

Aku mengenalnya!

“Oh Sehun!” seruku keras karena terlalu terkejut, spontan aku memukul kepalanya. Ada hening beberapa sekon, aku menggigit bibir saat menganalisa lingkungan sekitar―orang-orang melihatku dengan tatapan penuh tanya, begitu pula dengan Jongin. Bingo! Aku mempermalukan keluarga dengan bersikap anarkis. Harga diriku jatuh tanpa sempat merentangkan parasut. Tanpa sengaja aku melihat Sojin yang berada di belakang Sehun, ia tengah tersenyum kecil seolah menghinaku. Menyebalkan.

Sehun tertawa hangat, seperti biasanya. Dia bisa menenangkan orang lain dari suara tawanya. Sehun melepas jas hitamnya, kemudian menyampirkannya pada bahuku. Sehun menatapku lamat, ia mengambil sapu tangan dari sakunya. Tanpa kuduga, pria itu berlutut di hadapanku membersihkan tumpahan wine yang mengenai kakiku. Setelah gaun dan ragai ini beres, Sehun meraih pinggangku, melingkarkan tangannya di sana, penuh perlindungan.

“Jangan banyak bertanya. Pastikan berjalan lurus dan tetap anggun,” bisik Sehun.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku pun mengangguk setuju. Terlalu banyak orang jadi aku memilih untuk tidak berdebat.

Kami melangkah menuju orang-orang yang disebut sebagai anggota keluarga inti dari Bae Sojin. Si gadis ternyata berjalan di belakangku dan Sehun, ia memosisikan diri di samping suaminya ketika pria itu menyapa Jongin.

“Kenalkan ini Sehun, dia sepupuku―sekaligus Excecutive Director dari JW Group,” Sojin menjelaskan.

Aku terperangah. Bibirku terbuka beberapa inci. Sehun yang selama ini aku labeli dengan pria miskin yang bermasa depan suram, justru berdiri angkuh sebagai pemilik JW Group yang kekayaannya berkali-lipat lebih besar dari Keluarga Kim.

“Jangan memasang wajah bodoh, Nara. Hanya aku yang boleh melihat wajah bodohmu itu,” bisik Sehun pelan.

Aku menolehkan kepala ke arahnya, memberikan tatapan tidak percaya. Tanpa sadar, aku mencengkeram lengan kemeja Sehun, meminta penjelasan darinya. Aku metasa duniaku sedang jungkir-balik sekarang. Sehun tampaknya memahami kebingunganku, dia meremas lembut tangan ini, kemudian menggenggamnya.

Ternyata interaksiku dengan Sehun memicu perhatian orang-orang yang berada di sana. Entahlah, sepertinya mereka sangat tertarik pada pria ini. Aku pun semakin merapatkan tubuhku pada Sehun karena hanya dia yang dapat menolongku.

“Apa Nona ini salah satu dari temanmu, Oh Sehun?” tanya seorang wanita berusia empat puluhan. Wanita tersebut berdandan elegan dengan gaun hitam cantik yang membalut tubuhnya.

Sehun menatapku sekilas. “Dia satu-satunya teman dekatku,” jawabnya langsung.

Aku mendapatkan tatapan bertanya dari Kim Jongin. Dia memberikan pandangan jika aku merahasiakan sesuatu darinya. Astaga, aku juga baru tahu kalau Sehun punya peran penting.

“Kau berasal dari keluarga mana, Nona?” tanya seorang pria yang sedari tadi berbincang dengan Jongin.

“Dia adikku,” Jongin yang menjawab, secara otomatis semua mata menuju ke arahnya.

“Tapi, Keluarga Kim tidak memiliki seorang putri,” sanggah wanita yang lain.

Aku kebingungan menghafalkan wajah mereka karena semuanya terlihat sama. Mereka menyerupai predator yang tengah mencari mangsa. Mereka berusaha menemukan celah yang ada pada diriku, sehingga melabeli bahwa aku tidak pantas berada di sin dan tak layak berdiri di sisi Sehun.

Jongin enggan menjawab, dia bungkam.

“Aku putri angkat Keluarga Kim,” bibirku yang membalas. Mereka terkejut, hanya satu orang yang tersenyum―Oh Sehun.

“Dia gadis yang sangat berbakat,” Sehun berkata sembari menepuk bahuku. Pria itu menghela napas keras-keras, ketika melihat diriku menggeleng―tanda bahwa kami tak perlu melanjutkan obrolan ini. “Baiklah, aku rasa cukup sesi perkenalan dirinya. Semua orang pasti penasaran dengan gadis ini, simpan keingintahuan kalian karena aku tidak ingin dia merasa tak nyaman,” lanjutnya memberi penegasan pada setiap kata yang diucapkan.

“Pasti dia gadis yang istimewa untuk Anda, Tuan Oh. Gadis yang beruntung sebab mendapatkan seluruh perhatian Anda. Aku harap gadis ini memiliki kualitas seperti yang kami harapkan,” wanita tengah baya tersebut memberikan senyum simpul padaku. Dia mengarahkan tangannya padaku, hendak meminta berjabat tangan dengan angkuh. “Selamat datang, perkenalkan saya Bae Mirae―bibi dari Sehun sekaligus ibu kandung Bae Sojin,” ujarnya kemudian.

Aku hendak membalas jabatan tangannya, tapi Sehun menggenggam jari-jari ini erat.

“Cukup,” Sehun mengulangi melalui bibir tipisnya.

Sehun yang kulihat sekarang berbeda dengan pria yang kukenal selama ini. Dia menunjukkan sisi lain dari dirinya. Oh Sehun lebih berwibawa dan dingin. Ia semakin rupawan dengan pakaian mahal yang dikenakannya, Sehun tidak lagi mengenakan kaus usang yang hampir setiap hari ditunjukkannya padaku. Dia juga tidak memakai apron abu-abu yang digunakannya ketika bekerja. Aku menjadi serupa itik buruk rupa yang berdiri di samping angsa. Apalagi, gaunku sudah ternoda wine. Merana sekali hidupku. Di mana pun aku berada, kesialan enggan lepas dariku.

“Apa kau ingin berganti gaun, Nara?” bisik Sehun padaku penuh perhatian.

Aku mengangguk pelan. Bukan hanya berganti pakaian, aku ingin cepat pergi dari sini―kabur dari tatapan mereka. “Bawa aku pergi dari sini, Sehun,” pintaku sedih. Tangan kami masih bertaut, aku takut jika sedetik saja kulepaskan, maka dia akan meninggalkanku―diriku pun bisa semakin jatuh pada rasa malu.

Sehun mengerti. Tanpa banyak bertanya, pria itu berpamitan pada mereka. Ia meraih diriku, berjalan dengan hati-hati agar tubuhku nyaman berada di dekatnya.

Aku pergi dari sana, tanpa menengok ke belakang.

Aku lupa, jika Kim Jongin ada di sana.

“Kau berbohong padaku,” kataku tajam ketika kami sampai di salah satu kamar hotel―lokasinya sama dengan tempat perjamuan makan malam.

Aku langsung saja menyodorkan topik yang sedari tadi membuatku risau. Aku butuh penjelasan. Aku tidak ingin seseorang membodohi diriku. Maka dari itu, aku sama sekali enggan menunggu. Meskipun, pria yang sedang berdiri di hadapanku sembari melonggarkan dasinya itu tampak tidak tertarik dengan topik yang kuangkat.

“Aku tidak pernah berdusta padamu. Aku memang pemilik dari pub itu, namaku Oh Sehun― “

“―Tapi, kau memegang penuh kendali di JW Group. Aku banyak mengejekmu karena tidak punya apa pun. Aku seperti orang tolol di sana,” potongku putus asa.

Sehun tertawa, dia membuka pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan kamar tidur. “Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku menikmati setiap waktu yang kulewatkan bersamamu,” kata pria tersebut. Sehun menuju ke arah ranjang―aku membuntutinya―di sana ada beberapa kotak sepatu yang terbuka dan gaun-gaun yang diletakkan sesuai warna. “Ganti bajumu, aku menunggu di luar,” perintahnya.

Cepat-cepat aku meraih tangannya lagi.

Sehun berbalik. “Apa kau ingin aku tetap di sini melihatmu telanjang?” tanyanya tanpa melupakan seringai jahil itu―dia kembali menjadi Sehun yang kukenal.

“Aku belum selesai bicara,” tegasku.

Sehun memutar bola mata. “Kita akan bicara setelah kau mengenakan pakaian yang pantas. Kau bisa terkena flu kalau terus memakai baju basah seperti itu― “

“―Kau harus menjelaskan dulu, alasanmu tidak memberitahu siapa dirimu yang sebenarnya―aw!” ucapanku berhenti menjadi pekikan kesakitan ketika Sehun mencengkam bahu ini.

“Aku tidak suka dibantah, Nara. Jangan menguji kesabaranku. Cepat ganti pakaianmu sendiri atau aku yang akan merobek gaun sialan ini, lalu memakaikan gaun yang baru,” dia berucap, kemudian melepaskan tubuhku.

Aku menatap matanya yang tajam. Aku bungkam enggan mengiyakan. Aku tetap diam di tempat mengabaikannya.

Lima sekon berlalu, tanpa belas kasihan―Sehun merobek bagian bahu gaunku.

Aku refleks menepis tangannya, mundur selangkah. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku marah.

“Apa masih ada penolakan? Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku,” sambarnya, tanpa berusaha menjawab pertanyaanku.

Napasku memburu. “Aku bisa menggantinya sendiri,” balas bibir ini. Suaraku bergetar, aku ketakutan.

Sehun meraup wajahnya, “Good girl,” gumamnya sebelum keluar dari kamar tidur. Menyisakan diriku yang sangat terkejut dengan perlakuan kasar Oh Sehun.

Sehun berada di sana, ia duduk di sofa di tengah ruang tamu. Pria itu memainkan ponselnya. Dia tidak menyadari kehadiranku. Ia serupa pahatan yang kaku, parasnya yang datar menambahkan aura berbeda dari diri Sehun. Aku menghentikan langkah ketika menyadari sebuah senjata api berukuran kecil diletakkan di meja. Apa itu milik Sehun? Untuk apa dia membawa benda berbahaya itu?

Langkahku yang pelan, tampaknya tidak bertahan lama. Tanganku secara tidak sengaja menyenggol guci, menimbulkan suara gaduh saat benda itu pecah. Netra Sehun membidik diriku. Dia berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekat. Pria itu meraih jari-jari ini, menuntun diriku dengan sangat berhati-hati.

“Kau ini ceroboh, Nara,” vokalnya. Sehun mendorongku duduk, sementara dirinya berlutut di hadapanku untuk melihat kulit ini sempat tergores pecahan atau tidak.

Aku sempat terenyuh dengan sikapnya yang hangat. Dua kali sudah dsalam satu hari inu, aku mendapatkan simpati darinya.

Aku menggigit bibir. “Maaf,” gumamku―merasa bersalah dengan serpihan guci itu. Aku berusaha menetralkan napasku. “Katakan apa pun yang dapat membuatku mengerti dengan keadaan ini, Sehun,” aku mulai memancingnya bicara.

“Seperti yang kau dengar, aku ambil bagian dari kepemilikan saham JW Group. Aku memiliki segalanya, kecuali kebebasan. Itu salah satu alasanku mengelola pub,” jelasnya singkat.

Aku memberikan tatapan prihatin padanya, sebisa mungkin parasku menampakkan ekspresi yang wajar. Aku enggan melupakan keanggunan gerak tubuh ini ketika menimpali ucapannya, “Aku sedikit terkejut ketika melihat sisi lain dari dirimu, Oh Sehun. Kau seperti bukan Sehun yang selama ini aku kenal.”

Sehun menjungkitkan ujung bibirnya. Dia melihatku melalaui sorot matanya yang berubah menjadi serius. “Aku memang berbeda, Nara,” Dia diam beberapa sekon. “Bukankah seseorang akan mengambil tindakan yang berbeda, tergantung dengan situasi yang dihadapi? Manusia bertindak sesuai peran yang dimainkan,” ujarnya lagi.

Aku mengangguk.

Sehun bergeming. Dia pun berucap, “Dulu aku berperilaku baik karena diriku menjadi bosmu. Kau aset yang berharga. Kemudian sekarang kita bertemu lagi, dalam kondisi yang berbeda. Kau bukan lagi Jung Nara yang dulu. Kau menjalin hubungan yang tidak sepantasnya dengan adik iparku. Kira-kira sikap apa yang perlu kuambil?” tanya Sehun, intonasinya begitu dalam.

Aku kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa Sehun mengetahui hubunganku dengan Kim Jongin?

Jelas-jelas, Jongin membayar orang-orang terpercaya untuk melindungi keberadaan kami.

Apakah Sehun memiliki lebih banyak informasi?

Aku menggigil, menyadari bahwa pria yang ada di hadapanku ini sama halnya dengan predator yang berada di luar sana. Mereka mencari informasi mengenai korbannya, kemudian menguliti dengan perlahan―sampai sekarat.

Pria itu membuatku takut ketika dia mulai berdiri, lalu mengambil revolver. Sehun melangkah mendekatiku. Memainkan benda itu tanpa memedulikan rautku yang tak nyaman.

“Jongin hanya kakak angkatku, hubungan kami tak lebih dari itu. Jongin tidak mungkin mengkhianati Sojin,” kataku mencoba menetralkan suara yang bergetar.

Sehun mendengus. Dia merangkum wajah ini, agar kami bisa saling menatap.

Aku kesulitan bernapas.

Sementara Sehun tertawa mengejek. “Aku tidak mengatakan bahwa pria itu Jongin atau adik yang kumaksud ialah Sojin. Aku tidak hanya memiliki satu saudara saja, Nara,” timpalnya penuh kemenangan. “Kau membuka sendiri kedokmu, Jung Nara,” tambahnya, kemudian menelusuri paras ini dengan telunjuknya.

Ah, pria ini. Sehun tak main-main. Dia bisa melumpuhkan lawanya hanya dengan sentuhannya padaku. Sehun tidak perlu membawa revolver sebenarnya, ia hanya perlu memberikan sikap dominannya.

Aku membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi yang diberikan oleh pria itu. Jujur saja, tubuhku mulai merespons atas tindakan Sehun ini. Ada keringat dingin yang mengalir, tangan yang mencengkram gaun, dan penghlihatanku yang mulai buram.

“Aku tidak suka dipermainkan oleh wanita,” bisik Sehun di telingaku, suaranya rendah. Ia berlama-lama di sana, tangannya yang lain memainkan senjata api itu di kepalaku. “Ada satu hal yang paling tidak kusukai dari wanita, mereka mudah sekali berdusta. Kebohongan adalah hal yang paling kubenci,” ucapnya tajam.

Aku bisa merasakan dinginnya ujung revolver yang siap ditembakkan padaku. Aku terancam. Aku ketakutan. Jemari ini bergerak menuju jas Sehun, memegangi jasnya kuat―itulah caraku memohon pengampunan, ketika bibir ini enggan mengatakan secara gamblang.

“A―aku … tidak berbohong,” bersamaan dengan itu, air mataku mulai menetes.

Ekspresi Sehun datar lagi lalu memberikan seringai yang tidak pernah kukenali sebelumnya.

Netranya beralih melihat tanganku yang tengah mencengkam ujung pakaiannya. “Gadis licik,” itu ucapannya sebelum melakukan tindakan yang lantas membuatku kepalang terkejut.

Lantaran menarik pelatuk revolver yang ada di tangannya, pria itu justru mengecup bibirku.

Tanpa aku bisa melawan.

Tanpa aku berniat menolaknya.

Pertama kalinya dalam hidupku, aku menikmati ciuman pria lain selain Kim Jongin.

-oOo-

Kenapa aku posting part dua sekarang?

Karena aku lagi bahagia EXO mau comeback dan teaser mereka yang kayak geng motor itu keterlaluan T.T. Gimana nih kamu masih sehat habis lihat teaser barunya? Hahahaha.

Okay, terima kasih ya sudah baca. Aku tunggu komentarnya, biar semangat nulis. Sampai jumpa di part selanjutnya!^^<3

CONTACT ME ON

Advertisements

145 thoughts on “Love Madness: An Affair To Forget

  1. sdh aku duga dari awal kalau sebenarnya sehun itu org yg lebih berwibawa dan kuasa.. wooohhh daebakkkkkk…
    dan wktu di hotel sehun sma nara, aku ngk ngerti apa tujuan sih sehun ke nara, apa krna tw sih nara ini simpanan sih jogin atw krna sehun suka sma nara jadi sikap dia jdi berubah2 kaya bunglon.. aahhhh keren pokonya

  2. benar kan sehun lebih kaya dari jongin😱😁
    udah kelihatan sih😁 gx cocok juga klo sehun jadi orang kismin dan orang miskin bkl kelihatan dari kata2nya sedangkan sehun kelihatan sekali klo mengelola pub cuma kebebasan dia aja.
    gimana tu reaksi jongin? dan bagaimana nih nara?

  3. nara jadi adik sekaligus selingkuhan, really? dan dia bakalan masuk dikehidupan sehun yg berpengaruhnya melebihi jongin. kamu hebat banget si nara bisa direbutin dua cogan hahha

  4. Ku bingung sehun sebenernya baik atau jahat sih ? 😂😂😂 awal2nyaa sikapnya sweet bngt kok makin kesini nyeremin ya ? Haha berarti yg ngerobohin gedung2 tinggi jangan2 sehun lagi sudah kudugaaa😂😂

  5. Daebak, I like this ff. Aku dari awal emang udah curiga kalau Sehun itu org kayak, si nara aja yg salah paham. Wah, gak sabar sama next chapter.

  6. Wow.. seorang jung nara gak berkutik dihadapan Oh Sehun yang dominan.. wow..
    Terbaik memang Oh Sehun.. man with many secrets..

  7. karakter sehun di ff ni ga ktebak,di part seblumnya dia baik sekarang dia dingin, dominan,licik tp aku mlah tmbah ska.smoga aja nara bsa ska ma sehun,trus lupain jongin dan kdepanya banyakin moment sehun-nara

  8. Aaaaaaakk haha akhirnya sehun balik lagi ke karakter yang dingin dan dominan setelah liat part satu dia riang riang hangat agak berbeda gitu ya dan balik lagi dingin ginu haha
    Aaaa makin ga sabar liat hubungan merekaaaaa
    Up nya jangan lama lama ya kaaaa hihiw
    Keep writing kaaa!

  9. wah sehun jahat atau licik. menyebalkan apa tujuannya. minta dibawa pergi malah dijahatin. sojin pasti curhat sama sehun keknya. hm. nara kena jahatnya sehun besoknya kena amukan cemburu jongin mpus deh:(
    baru ini pelakor jadi peran utama:v. tapi kok aku jadi berpihak ke pelakor biar ga jadi pelakor:v

  10. Maigatt keren bgt… sbenernya aku binggung si kok si Jongin bisa aja ngilang trus bareng Nara tanpa ada yg curiga stelah sekian lama gk muncul serius paling gk suka orng php.

    Sukaa banget pas bgian Nara mikirin Sehun tanda” udh mulai berpaling, udhla sama Sehun aja. Kkkk

    Btw aku jg seneng denger EXO comeback full team semangat thorrr

  11. Ya ampuuun alur ceritanya gak ketebak sumpah ka, aku suka banget sama alur ceritanya, aku pikir td pemeran utama cowoknya si chanyeol, eh ternyata sehun sama jongin, dan ko aku kesel sendiri yaa pas nara mesra2an sma jongin, akutuu gak suka..
    Lebihh milih sehun sama naraa uhhh, gw harap sehun yg bakal bikin nara move on dr jongin..
    Dan sehun jg orang yg mysterious, ternyata dia cowok tajirrrr uhhh, nyesel lu nara udah memandang sebelah mata sehun..
    Semoga chapter selajutnya segera di post ya kaka, kutunggu kelanjutan ceritanyaa..^•^

  12. Udah kuduga kalo kak Tis ngga mungkin bikin Sehun yang tak punya power apa-apa huhu
    Ternyata tetep ya konsep all he can do tuh ada banget buat Sehun
    Suka banget kak, suka
    Parah sih :))))

  13. yes….yes…yes…..
    oh sehuuuuun 😍
    yang di part awal,canyeol pasti di bayar oh sehun biar nara gak sampe bugil kalo nari.
    aku sukaaaaa,agak nyebelin nara di cerita ini tv ya udahlah ada sehun ini yang nyadarin nara,hadeuuuuuh aku ngayal gini sehun bakal jadi sama nara.moga aja,lanjuuuut lagi baca aaah

  14. yes….yes…yes…..
    oh sehuuuuun 😍
    yang di part awal,canyeol pasti di bayar oh sehun biar nara gak sampe bugil kalo nari.
    aku sukaaaaa,agak nyebelin nara di cerita ini tv ya udahlah ada sehun ini yang nyadarin nara,hadeuuuuuh aku ngayal gini sehun bakal jadi sama nara.moga aja.

  15. Wih…bener banget dugaan we,Sehun orang kaya,dia selalu melindungi Nara dengan caranya,so sweet,aku suka mereka,gak sabar dengan lanjutannya,ditunggu kakak

  16. Tuhkan beneran sehun holkay
    Suka Bangett kak sama ceritanya
    Lanjuttt dong kak
    Penasaran,
    Endingnya bakal tetep Sehun Nara kan kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s