Love Madness: Don’t Mess Up With Me

20181012_173238_0001

Previous: 

Moonlight In The Darkness An Affair To Forget

“Andai saja kau gadis biasa, Nara. Aku bisa melenyapkanmu sekarang juga. Sayangnya, aku tidak akan bisa hidup tanpamu,” ―Oh Sehun, Love Madness

-oOo-

Aku dalam posisi yang serba salah. Aku membeku di tempat sembari mengutuk raga ini yang kelewat bodoh, bisa-bisanya aku tidak berkutik berhadapan dengan pria bernama Oh Sehun. Keberanian dan kesombongan yang kumiliki meletup pergi, meninggalkan Jung Nara yang tanpa daya. Aku berada di pangkuannya, tanganku mengacak surai Sehun, netraku terpejam, dan bibirku bekerja keras membalas kecupannya. Sehun ialah pemain yang dominan, ia suka memimpin permainan―berbalikan dengan Jongin. Dia memberikan pengalaman yang berbeda pada sentuhannya. Aku jadi terbuai.

Masalahnya, aku seharusnya tidak pasrah seperti ini. Aku wajib melawan, namun ragaku sudah bertransformasi menjadi jelly. Tanganku jadi kebas, pikiranku pun kosong. Naluriku sebagai wanita justru senang dengan sentuhannya. Tubuhku ini memang benar-benar murahan.

“S―Sehun,” gumamku pelan, ketika pria tersebut memberikan spasi setelah kecupannya yang panjang dan dalam. Aku mengambil napas banyak-banyak, paru-paru ini kekurangan oksigen.

Sehun meletakkan telapak tangannya di wajahku, ia merangkum paras ini―menyalurkan kehangatan lain. “Kau cantik, Nara. Aku suka melihatmu berantakan seperti ini,” ujarnya lembut.

Aku merasakan pipiku memanas, aku yakin rona merah telah muncul di sana. Aku tidak menimpali ucapannya, aku hanya membalas tatapannya. Pria ini pandai menaklukkan hati perempuan, entah sudah berapa wanita yang ia agungkan.

Sehun mengeratkan kungkungan pada pinggangku, saat pintu kamar hotel yang kami singgahi tiba-tiba terbuka. Aku memekik, terkejut dengan situasi yang kulihat sekarang.

Bae Sojin ada di sana dengan raut bingung.

Kim Jongin ada di sana memberikan ekspresi murka.

Aku masih melekat erat pada raga Oh Sehun, tidak bergerak.

Lipstikku berantakan, pakaianku apalagi. Surai Sehun acak-acakan, dasinya sudah menghilang entah di mana. Semua orang bisa saja salah paham karena melihat keadaan kami. Aku mati kutu.

“Jadi, kalian berkencan,” simpul Sojin.

Bae Sojin dan kepolosannya itu bisa membunuhku.

Tatapan ini masih tertuju pada Jongin yang tengah membuang muka. Ia enggan membalas pandanganku, ada ekspresi terluka dalam rautnya.

“Nara, kita harus berdiri dan merapikan diri,” bisik Sehun setengah tertawa ketika aku tetap kukuh berada di pangkuannya dan taganku masih mengalungi lehernya dengan protektif.

Aku langsung saja menegakkan tubuh, beranjak darinya―saking tergesanya, aku sampai terhuyung. Untungnya, Sehun menangkapku lagi.

“Kami tidak berkencan, benarkan Nara?” Sehun menanggapi perkataan Sojin.

Aku mengangguk. “Aku baru mengenalnya,” kataku singkat. Suaraku bergetar karena menyatakan kebohongan.

Sojin menggeleng tidak percaya. Gadis itu menggandeng Kim Jongin untuk mendekati diriku dan Sehun. “Mana mungkin?” Sojin berucap sembari memindai seisi ruangan. Tatapannya yang cermat mendapati pecahan guci hasil dari ulahku. “Sudah sejauh mana? Properti hotel sampai rusak,” gumamnya.

“Sojin, hentikan. Jangan campuri urusan mereka,” Jongin membuka mulut, dia menghempaskan begitu saja tangan Sojin yang menggenggamnya. Jongin beralih ke arahku. “Aku antar kau pulang, Nara,” katanya kemudian menarik tanganku.

Sehun tertawa kecil mendapati tingkah Jongin yang kentara. “Kau menuju ke arah yang keliru, Kim Jongin. Bukan Nara yang harus kau pastikan pulang dengan selamat, tapi istrimu,” katanya datar.

Aku menunduk tidak berani menatap mereka.

“Nara bukan orang lain bagiku. Aku hanya memastikan―”

“―Gadis ini milikku malam ini, jika kau ingin proyek perusahaanmu mendapatkan investor―tinggalkan Nara,” potong Sehun.

Aku spontan menengadah.

Sehun memberikan penawaran, dia mengumpamakan aku sebagai barang. Aku tidak percaya bahwa Oh Sehun yang kukenal mengatakan hal itu, dia seperti berkomplot dengan Bae Sojin. Aku hendak memberi dia perhitungan, namun gerakanku kalah cepat dengan Jongin. Jongin meraih kerah Sehun. Sojin berusaha melerai mereka. Keadaan menjadi riuh.

Aku memejamkan mata muak.

“Nara bukan wanita murahan!” bentak Jongin.

“Dulu dia memang bukan, tapi sejak dua minggu lalu―Jung Nara adalah wanita murahan,” gumam Sehun yang memacu kemurkaan Kim Jongin.

Buk! Suara keras itu akhirnya terdengar. Kim Jongin memukul wajah Sehun, hingga pria berkulit pucat tersebut jatuh ke lantai. Jongin hendak menambah pukulannya, namun aku bergerak cepat untuk mencegah. Sebelumnya Sojin sudah berusaha memohon Jongin untuk berhenti. Namun, Jongin justru mendorong istrinya hingga membentur meja.

“Hentikan, Kim Jongin,” ujarku tergesa, tangan ini memegangi tubuh Jongin. “Aku ingin pulang Jongin, bawa aku pergi dari sini―kumohon,” lanjutku.

Jongin menarik napas keras-keras, dia menatapku sekilas, lalu kembali bersitegang dengan netra Sehun yang mengancam.

“Kenapa kau semarah itu, Kim Jongin?” tanya Sehun, dia menyeringai. “Bukan aku yang membuat Nara tidak berharga, tapi kau sendiri. Kau yang memintanya untuk menjadi wanita murahan,” ulang Sehun.

Jongin memejamkan matanya sekilas. Dia sudah akan menghambur ke arah Sehun, ketika Sojin berteriak lantang.

“Cukup!” seru Sojin. Dia menoleh ke arahku, “Nara, tolong bawa Jongin pergi dari sini. Maaf atas perkataan Sehun padamu,” ucapnya.

Aku mengangguk cepat sebab semakin lama kedua orang ini berada di ruangan yang sama maka kekacauan yang ada semakin besar. Aku menarik Jongin meninggalkan ruangan.

Mengabaikan Sehun yang mengikuti kepergian kami melalui matanya yang tajam. Entah apa yang dipikirkan pria itu.

“Sudah berapa lama kau mengenalnya?” tanya Jongin masih dengan amarah yang kentara.

Aku tak langsung menjawab. Netraku masih terfokus pada apa pun yang berada di belakang kami. Aku mendapati van hitam itu sedari tadi mengikuti laju mobil ini. Jongin menghentakkan tanganku agar aku segera menjawab pertanyaannya. Aku mengabaikan Jongin. Kecepatan Jongin ketika mengemudi membuat pikiranku terpecah. Tidak seharusnya dia berkendara dalam keadaan marah, kami bisa celaka.

“Jawab aku, Jung Nara!” bentaknya, yang lantas membuatku terkesiap.

“Aku sudah menjawabnya tadi. Aku baru mengenalnya,” ucapku pelan.

Aku melihat Jongin mencengkeram kemudiannya. “Mana mungkin kau mencium pria asing,” gumam Jongin. Ia menatapku sekilas sebelum kembali pada jalan raya. “Atau kau memang sudah berubah menjadi wanita murahan seperti katanya―“

“―Aku tidak percaya kau mengatakan itu padaku, Jongin,” aku menyambar kecewa.

“Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat, Nara,” ucapnya.

Aku menggeleng. Aku tidak tahu jika pria itu berpandangan sekasar itu padaku, meskipun kami mengenal lama. Ternyata, dia salah satu dari sekian orang yang kerap meremehkan diriku.

“Kau tahu jika perkataanmu sekarang telah menyakitiku,” aku berujar lebih pelan. Aku mulai menggigit bibir.

Jongin tak lantas menimpali, dia semakin menambah kecepatannya―melewati banyak mobil tanpa tahu haluan.

Jongin berulang kali menatap spion. Dia mengumpat sejenak, lalu kembali berkata, “Kau juga harus memikirkan diriku. Banyak hal yang kupertaruhkan untuk tetap di sampingmu. Sementara dirimu berusaha berkencan dengan pria lain yang lebih berkuasa dariku―“

“―Kau sudah mengenalku sejak lama, Kim Jongin. Kau tahu benar jika aku bukan gadis seperti itu―“

“―Kau bukan gadis seperti itu,” Pria itu mengulangi. Ia tertawa sinis. “Lalu, kau gadis seperti apa? Gadis baik-baik yang kebetulan tidur dengan suami orang lain, begitu?” ujarnya datar.

Tanganku sudah mengepal erat. Aku marah, itu sudah jelas. Jongin pun juga dilanda kemurkaan, aku yakin dia dibutakan kecemburuan. Pikiran kami sedang diliputi kabut tebal. Maka kami seharusnya tak berbincang dalam kondisi begini.

“Menepi, aku ingin turun,” kataku setelah ada jeda.

Aku tidak tahan lagi berada dalam satu mobil dengan Jongin.

Jongin justru mengemudi semakin sembarangan. Beberapa kali dia hampir keluar jalur. Aku mendengar suara klakson dari kendaraan lain.

Aku menatap pria itu, “Aku bilang hentikan!” aku berseru.

Jongin enggan memedulikan.

Aku semakin marah.

“Apa kau ingin menemui pria itu lagi? Kau ingin turun di sini dan menemui pria itu lagi!” Jongin berucap.

Ada lampu merah di depan kami, tapi Jongin tidak berniat mengurangi kecepatannya.

“Jongin, hentikan! Apa kau ingin kita kecelakaan di sini?” Aku mulai histeris dan putus asa.

Semuanya berjalan begitu cepat. Van hitam yang sedari tadi berada di belakang kami mulai mendahului. Mobil itu memotong jalan, berhenti di depan Jongin.

Jongin tidak sempat mengerem dengan sempurna. Kendaraan pribadi Jongin pun membentur Van hitam itu menimbulkan dentuman keras. Van yang ditabrak mobil ini hanya bergeser sedikit, Jongin segera membanting setir―membuat tubuhku condong ke kiri. Mobil yang kami tumpangi berputar, suara decitan memekakkan telinga. Aku merasakan kepala ini seperti membentur sesuatu, pusing sekali. Aku menatap Jongin yang tampak sama terkejutnya. Air bag pun melindungi kami dari benturan yang lebih parah.

Kepalaku sakit.

Aku terengah.

Tanganku bergetar.

“Jung Nara, apa kau baik-baik saja?” tanya Jongin, dia meraih tanganku.

Aku membisu.

Aku masih terkejut, kejadian ini terlalu tiba-tiba … rasanya sakit sekali, pusing.

“Kepalamu berdarah,” vokal Jongin semakin panik.

Aku menatapnya. Dia juga terluka.

Pintu mobilku terbuka.

Aku berusaha tetap sadar.

“Jung Nara!” seru seorang pria lain yang membuka pintu mobil, bukan Kim Jongin. Suara itu terdengar familiar.

Pria itu menarikku dalam sekali sentakan, mengeluarkan tubuhku yang kaku ini dari kendaraan yang sudah rusak, dia menggendongku hati-hati.

“Bawa Jongin ke rumah sakit,” pria itu berucap cepat pada orang lain yang entah siapa.

Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat.

“Jung Nara, buka matamu. Lihat, semuanya sudah berakhir ,” pria itu berkata lembut.

Perlahan aku mulai membuka kelopak mata ini. Aku melihatnya. Paras Park Chanyeol berada di hadapanku. Dia kini tengah berjalan ke Van lain yang berada di belakang kami. Van miliknya mirip dengan kendaraan yang tadi memotong mobil Jongin.

Park Chanyeol mendudukkan aku di dalam Van hitam miliknya. Dia menyentuh parasku, melihat sejauh mana pendarahan akibat benturan.

“S―sakit,” aku mengeluh.

Kenapa Chanyeol selalu ada ketika aku dalam kondisi berdarah-darah seperti ini?

Chanyeol mengangguk. Dia merebahkan kepalaku di bahunya. Aku melihat kemarahan yang mutlak dalam raut itu.

“Jalankan mobil, kita ke The West,” aku mendengar kawan lamaku itu memerintah.

Kejadian selanjutnya, aku tidak dapat mengikuti. Kepala ini sudah sangat berat, aku mengantuk. Pandanganku buram, runguku hanya bisa mendengar suara Chanyeol yang memintaku tetap sadar.

Maaf Chanyeol, aku tidak bisa menurut.

Tubuhku sakit.

Mimpi buruk.

Kilatan cahaya.

Suara decitan.

Ketiga hal tersebut terulang dalam pikiran ini. Aku tidak dapat menggerakkan tubuh, netra ini tertutup. Namun, pikiranku sadar. Aku berkelana dalam benak ini. Aku memikirkan begitu banyak hal.

Kulitku yang sensitif merasakan kain lembut menyelimuti tubuh. Aku mencium aroma ruangan yang asing dalam indraku. Tidak ada suara lain yang mengisi rungu, hanya jam dinding yang terus berdetik.

Di mana tubuhku berbaring?

Apa aku berada di rumah sakit? Kenapa tidak ada bau anti septik khas rumah sakit?

Ah, apa Jongin membawaku pulang ke Rumah Keluarga Kim?

Tidak, mungkin.

Jongin juga terluka, aku melihatnya berdarah. Dia tidaak mampu menyelamatkan diriku.

Lagi pula, aku sudah diusir dari sana.

Chanyeol―aku diselamatkan oleh kawanku. Ke mana dia membawaku?

Tenang, aku harus tenang.

Aku tidak perlu khawatir karena Chanyeol salah satu orang bayaran Kim Jongin. Dia pasti mengamankan kami.

Monologku berhenti ketika aku mendengar suara gaduh yang baru memasuki ruangan. Pintu terbuka, langkah kaki dari sepatu pantofel.

“Kenapa dia belum sadar?” Ada vokal gamblang emosional.

Aku mengenali suara itu. Dia Oh Sehun.

Kenapa aku bisa berada bersamanya?

Aku mulai khawatir.

“Kecelakaan itu membuatnya syok berat. Lukanya sudah diobati, hanya saja dia masih dalam pengaruh obat bius,” ucap lawan bicara Sehun.

Suara kedua membuatku semakin menggigil. Itu Park Chanyeol.

Lalu, bagaimana dengan Jongin?

Apa yang terjadi?

Aku belum bisa menemukan kaitan antara ketiga pria itu.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat agar bisa mendengar seluruh percakapan mereka.

“Berengsek, aku tidak ingin melihat orang-orangmu yang terlibat kecelakaan ini. Segera singkirkan mereka, sebelum aku yang bertindak,” vokal Sehun kali ini lebih serupa desisan.

Langkah kakinya semakin mendekat ke arahku. Aku gugup. Aku takut.

“Tapi, mereka tidak sepenuhnya bersalah, Oh Sehun. Nara dan Jongin akan mendapatkan kecelakaan lebih serius jika mereka tidak menghadang,” Chanyeol membela.

“Aku tidak suka dibantah,” kalimat itu dibeberkan Sehun.

Chanyeol mendesah kesal, “Lalu, bagaimana dengan Kim Jongin? Kita tidak bisa terlalu lama menyekapnya.”

Sehun enggan langsung menjawab, ia justru membelai puncak kepalaku. “Nara, kira-kira apa yang harus kulakukan pada pecundang itu?” ucapnya.  “Apa lebih baik dia kusingkirkan agar kau sepenuhnya menjadi milikku? Tapi, aku tidak suka melihatmu menangis jika dia binasa,” aku mendengarnya bicara pada kekosongan.

Jongin. Tidak boleh dilenyapkan!

Jongin harus baik-baik saja.

Aku tidak akan sanggup jika hidup tanpa dirinya.

Napasku semakin tidak teratur. Aku berusaha melawan beban berat yang seolah menindih tubuhku. Aku ingin bicara, Sehun tak kuizinkan menyentuh Jongin. Dia iblis, Sehun yang sangat baik kini lenyap. Sehun membuat semua orang berkhianat padaku.

Aku mencoba membuka mata. Aku mendorong raga ini hingga memasuki puncak kekuatan. Perlahan namun pasti, kelopak mataku mulai terbuka. Aku bisa melihat cahaya dari lampu terang ruangan ini. Kamar tidur yang luas dengan nuansa Eropa kuno. Aku terbaring di ranjang besar berkelambu merah. Ketika kepalaku menengok ke sebelah kiri, aku dapat melihat pria berkulit putih pucat itu. Jari-jarinya menggenggam tanganku. Parasnya yang rupawan menatapku datar, tidak ada yang berubah. Sehun tanpa ekspresi.

“Nara, kau sudah sadar,” justru perkataan bahagia dari pria lain yang berdiri di depan pintulah―yang memenuhi gendang telinga ini.

Chanyeol mendekat. Aku ingin pergi dari sini, mereka terlihat serupa monster di mataku. Sayangnya, ragaku kaku. Aku sekujur tubuhku kebas saat aku mencoba bergerak.

Aku terengah. “Jangan sentuh aku!” Aku berucap parau. Aku terkejut karena suaraku begitu rendah. Tersiksa, sedih, dan kecewa―ketiga hal tersebut yang memenuhi intonasi vokalku.

Aku memerhatikan Chanyeol, langkahnya berhenti. Dia diam di tempat. Belum sempat aku berkata lagi, tangan kekar Sehun meraih wajahku dengan paksa, hingga aku menengok ke arahnya.

“Kau seharusnya hanya memandangku, Nara,” gumamnya. Dia menyeringai. “Jung Nara yang cantik,” lanjutnya.

Cengkeramannya sangat menyakitkan. “Lepaskan,” pintaku.

“Pelan-pelan, Sehun. Gadis ini baru saja sadar,” Chanyeol memperingatkan.

Tatapan tajam Sehun beringsut ke Chanyeol. “Keluar,” perintahnya.

Chanyeol membuka bibir lagi, “Sehun, kita harus membicarakannya pelan-pelan―“

Plak.

Ucapan Chanyeol terpotong saat Sehun menampar wajahku.

“Aku tidak suka dibantah, semakin kau melawanku―aku akan bermain-main dengan kelemahanmu,” Sehun berkata.

Chanyeol mengumpat. Dia memukul dinding bercat coklat tersebut dengan emosional. Berat langkahnya, dia pun meninggalkan kami tanpa perlawanan.

Aku merasakan pipiku panas. Kedutan sakit di wajah itu lantas mendorong air mataku keluar. Sekali lagi aku menerima kepedihan dalam hidupku. Tak bisakah sekali saja aku bahagia? Kenapa aku selalu dirundung duka?

“J―jangan sakiti Jongin,” itu permintaan putus asa. Aku berharap si pengubah takdir yang sekarang tersenyum di sampingku itu mengabulkan.

“Kau justru meminta keselamatan orang lain. Nasibmu saja tidak bisa dipastikan, Jung Nara,” kata Sehun. Dia tertawa. “Seharusnya, ketika kau memutuskan untuk menjadi tokoh antagonis di cerita mereka―kau juga harus tahu karma apa yang akan didapatkan,” lanjutnya.

“Apa yang kau inginkan, Sehun?” tanyaku.

Sehun mendengus. “Memangnya, apa lagi yang dapat kau berikan padaku?” dia menjawab dengan pertanyaan.

Aku bungkam.

Kami hanya saling memandang.

Sehun mendekatkan kembali paras kami hingga hidungnya bersentuhan dengan milikku. Rautnya bersahabat. Namun, perubahan mimik mukanya justru membuat semakin waspada. Pria ini tidak dapat ditebak.

Sikap hati-hati yang coba kucanangkan enggan bertahan lama. Parfumnya menguar begitu saja di indra penciuman. Interaksi kami yang begitu intens itu membuaiku lagi.

Tanpa sadar aku pun berucap, “Aku bisa memberikan diriku padamu,” aku menahan napas yang tergesa, lalu berkata, “Asal Jongin tetap hidup.”

Sehun langsung membeku. Ekspresi hangatnya tadi lenyap. Ia menjauhkan diri dariku.

Aku kecewa dia mengambil spasi, sementara Sehun menatapku terluka.

“Kau jauh lebih berharga daripada Jongin, Nara. Dirimu tidak seharusnya berada di posisi ini,” vokalnya.

“Aku bukan apa-apa tanpa Kim Jongin,” ujarku putus asa.

Sehun tidak menghiraukan. Dia seolah tuli. Tubuhnya beranjak menjauh, semakin jauh.

Sehun mematikan ruangan itu sebelum meninggalkan ruangan yang terasa asing bagiku.

Gelap.

Aku tidak suka gelap yang pekat.

Kegelapan ini mendorongku mengingat kembali memori yang sudah lapuk.

Aku pernah ditinggalkan dalam lorong sunyi yang gelap. Sekali lagi, kejadian itu akan berulang.

Aku merintih sendirian, ketakutan. Tiada satu orang pun yang menyelamatkanku dari sini.

“Bagaimana keadaanmu, Nara?” tanya Chanyeol keesokan harinya.

Aku menatapnya dengan enggan. Mataku berat, aku hampir tidak tidur semalaman karena ruangan ini terlalu gelap. Aku hanya bisa menangis diam-diam. Aku tidak ingin tersedu terlalu lantang. Aku berharap Sehun membangun persepsi bahwa diriku adalah gadis kuat yang tidak mudah dipermainkan. Aku bahkan menghapus sisa air mataku ketika sinar matahari mulai melewati sela-sela tirai jendela besar dan saat langkah kaki Chanyeol yang terdengar memasuki ruangan.

Aku sudah bisa bergerak, pengaruh obat bius itu sirna. Aku terduduk, tetap gelisah. Gaun tidur berwarna putih yang kukenakan semakin kusut. Aku hanya melamun sepanjang pagi ini sebelum Chanyeol datang untuk memeriksa infusku. Seperti biasa mata lebar Chanyeol menatapku prihatin. Dia memberikan seluruh atensinya padaku, itulah yang membuat tubuh ini tidak tega mengabaikannya.

“Tidak seharusnya kau menanyakan keadaan orang yang sudah kau khianati,” desisku.

Chanyeol tersenyum simpul. Gayanya yang santai membuatku kesal.  Kaus merah terang dan celana jeans sobek-sobek itu menambah kesan riang gembira. Bagaimana bisa dia menunjukkan aura bahagia ketika aku dalam kondisi merana? Dunia memang tidak adil.

“Aku tidak mengkhianati siapa pun, Jung Nara,” dia membalas. Chanyeol melejitkan bahu, “Sehun membayarku lebih mahal daripada Jongin. Kita punya kepribadian yang serupa. Kau pasti tahu ke mana aku akan berpihak,” lanjutnya dengan senyum konyol.

Aku mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak menonjoknya. “Aku kira kau temanku,” katanya.

“Teman,” Chanyeol mengulang. Dia menyeringai. “Sebagai seorang teman aku sudah memperingatkanmu untuk keluar dari pub itu. Kau justru mengabaikan aku. Penyesalan memang selalu datang di akhir,” vokalnya lagi.

Aku membuang muka, mengumpat dalam hati.

Chanyeol menepuk bahuku, dia menunjuk satu kotak besar yang ditaruh di sampingku―ada pakaian dan sepatu.

“Sebentar lagi ritual makan siang di rumah ini dimulai. Kondisimu sudah lumayan oke, aku rasa kau bisa berjalan ke ruang makan. Bersiaplah, kenakan baju itu,” perintahnya.

Bukannya menurut aku justru melempar kotak itu hingga isinya mengenai kepala Chanyeol. Semuanya berhamburan. Chanyeol menatapku tidak sabar, aku membalasnya dengan ekspresi lebih garang.

“Aku tidak akan menurut!” teriakku. Aku menunjukkan jari tengahku padanya, sikap yang sangat kekanakan. “Aku membencimu!” seruku lebih lantang.

Chanyeol memutar bola mata. “Sungguh Nara, lebih baik kau menuruti ucapanku daripada Sehun yang turun tangan dan berakhir buruk,” ujarnya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan ruangan.

Satu nama itu mampu membuatku bungkam. Suasana sepi itu membuka pikiranku, aku tidak ingin Sehun menyentuh tubuhku dengan paksa. Cepat-cepat aku pun meraih pakaian yang kubuang tadi, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Mengabaikan harga diriku yang sudah lama berceceran.

Jung Nara memang pengecut, aku merutuki diriku sendiri.

Aku mendapati Sehun tersenyum puas ketika melihatku memasuki ruang makan dalam kondisi rapi. Aku mengikat surai hitamku menjadi satu kaitan, menunjukkan leher jenjang yang selama ini kubanggakan. Kakiku melangkah menyusuri lantai marmer kuno, aku dapat mengamati dinding batu sepanjang perjalanan. Bangunan ini lebih menyerupai kastil dengan perabotan yang modern. Ada banyak jendela lebar yang tidak dilapisi kaca, membuat angin musim semi yang sejuk membelai kulitku.

Aku duduk berhadapan dengan Sehun. Makanan yang tersaji di meja semuanya adalah kudapan favoritku. Bahkan jus alpukat yang kini mengisi gelas, tidak terlalu manis sesuai dengan yang kuinginkan. Aku tidak nafsu makan sebenarnya, namun tatapan tajam Sehun yang mengawasi setiap gerak-gerik yang kuperbuat menyebabkan diriku tidak punya pilihan lain. Aku sedang berada di kandang harimau sekarang, lebih baik aku tidak banyak tingkah atau aku akan dimakan hidup-hidup―begitulah insting bertahan hidupku memeringatkan.

“Aku sudah menyerahkan Jongin pada Sojin pagi ini,” ujar Sehun yang langsung mendapatkan atensi dariku.

Aku meletakkan pisau yang kugunakan untuk memotong steak daging. “Bagaimana keadaannya?” tanyaku pelan, takut menyinggung.

Sehun menjungkitkan satu bibirnya. “Dia baik-baik saja,” ujarnya.

Aku menarik napas lega. Terakhir kali bertemu Jongin, aku memang terlibat pertengkaran dengannya. Namun apa pun yang terjadi, aku tetap enggan berhenti mencemaskan dirinya. Aku terus saja memikirkan Jongin sepanjang hari ini, pria yang kucintai satu-satunya.

“Apa aku boleh menemuinya?” tanyaku.

Sehun tertawa. “Silahkan, kenapa kau meminta izin padaku?” ia menjawab dengan sebuah pertanyaan.

Benar, memangnya siapa Sehun sehingga aku harus memohon padanya?

Lantas, bagaimana caraku pergi dari hunian mewah ini jika tanpa kuasanya?

“Aku hanya … aku tidak tahu cara mencarinya,” balasku, harga diriku terjun bebas.

Sehun menghela napas panjang. Dia mengangsurkan sebuah map cokelat, setelah kubuka ada beberapa dokumen yang ada. Kumpulan artikel yang berada di dalamnya memiliki satu nama yang disebutkan berulang-ulang Bae Sojin. Topik yang dibahas pun sama, semuanya berkaitan dengan percobaan bunuh diri. Kasus-kasus itu kebanyakan berlatar di luar negeri.

“Sojin memiliki kecenderungan depresi dan berakhir menyakiti dirinya sendiri. Keluarga kami berusaha menyembunyikan kasus-kasus yang berkaitan dengan Sojin. Termasuk menyingkirkan hal-hal yang dapat memicu Sojin melakukan sesuatu yang berbahaya. Tujuan kami hanya satu yaitu menjaga agar perusahaan tetap stabil. Keluarga kami bisa kehilangan semuanya apabila dewan perusahaan lain mengetahui bahwa Sojin mengalami gangguan kejiwaan atau rumor buruk menimpa salah satu dari kami. Kami membuat Sojin menjadi gadis yang normal. Kondisi Sojin juga jauh lebih baik ketika dia mulai jatuh cinta pada Kim Jongin,” jelas Sehun. Pria itu mengambil jeda sejenak sebelum memulai percakapan, “Tapi, usaha kami sia-sia setelah aku menyelidiki hubunganmu dengan Jongin. Kemarahan dan perasaan dikhianati membuat Sojin jauh lebih berbahaya.”

Sehun menyerahkan satu lembar dokumen lagi. Ada sebuah foto yang hampir saja membuatku memuntahkan kembali daging yang baru saja kumakan. Dalam potret itu terdapat seorang pelayan wanita dengan pisau dapur berukuran besar tertancap di perutnya. Darah ada di mana-mana, sangat mengerikan.

Aku melempar lembaran itu begitu saja, sangat terkejut. “Apa yang berusaha kau katakan padaku?” aku mendesak.

“Sojin tidak lagi melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri, tapi juga orang lain―“

“―Apa kau berusaha mengancamku?” aku memotong ucapanmu.

Sehun menghela napas kasar. “Aku justru berusaha melindungimu, Nara,” ungkapnya.

Jawaban yang dia berikan jauh dari prediksiku. Berada di sekitar Sehun membuat diriku tidak dapat mendefinisikan perasaan yang sedang kurasakan. Sehun menarikku ke dalam dunianya yang gelap, melemparkan tubuh ini tanpa belas kasih, kemudian pada esok harinya ia justru menyelamatkan diriku.

Bukankah itu terdengar ganjil?

Siapa yang akan mempercayai ucapan pria yang berulang kali mencoba mengancamku?

Aku menggeleng, menolaknya mentah-mentah. “Aku tidak butuh perlindunganmu,” kataku kasar. Aku memberanikan diri menatapnya, mata yang indah milik pria itu berbahaya.

Sehun justru mendekat ke arahku dia merangkum wajah ini dengan satu tangannya. “Andai saja kau gadis biasa, Nara. Aku bisa melenyapkanmu sekarang juga. Sayangnya, aku tidak akan bisa hidup tanpamu,” gumamnya dengan suara yang dalam dirundung duka.

Oh Sehun sekali lagi menarikku menuju labirinnya. Aku akan mati perlahan di tangannya. Aku percaya niatnya tidak baik hanya dengan melihat sorot matanya―di sana ada obsesi kuat untuk menyingkirkan diriku. Aku yakin bukan hanya Sojin yang memiliki gangguan kejiwaan, kendati demikian pria ini―keluarga mereka, semuanya tidak waras.

-oOo-

a/n: Halo, terima kasih sudah baca cerita ini <3. Sebenarnya, aku berencana untuk tidak update minggu ini karena habis terkena musibah kecelakaan. Tapi, bosen juga ternyata seminggu di rumah tanpa ngapa-ngapain. Aku harap kalian bisa menikmati cerita ini. Aku sangat menunggu komentar kalian. Sampai jumpa di part selanjutnya!

Contact Me:

 

 

Advertisements

140 thoughts on “Love Madness: Don’t Mess Up With Me

  1. Kaget kaget baca part ini😔 sehun napadah gitu padahal suka juga huuu dan sojin bener2 gak waras astaga nyeremin gitu depresi nya😂

  2. Aku selalu suka sama ide dan cara author buat cerita, refreshing dan selalu buat deg-degan, terus bisa kubilang aktif dibanding bbrp penulis lain yangg lagi nulis cerita bagus-bagusnya menghilang tanpa kabar dan jejakk :”)

  3. Maaf kak, baru komen di part ini..
    Lahhh, dikira dari awal pemeran antagonisnya nara…ternyata??
    Berat bnget kalo ada yg hidup kek nara 😥

  4. sepertinya chanyeol juga ada rasa ma nara tapi mungkin sadar diri kali ya klo sehun tergila2 ma nara😁 makanya gx terlalu terbuka gitu btw kayaknya keluarga sehun gx ada yg waras sabar ya nara😁 btw klo cinta jgn di sakitin dong sehun nanti malah lari😂

  5. Suka karakter chanyeol disini duhh 😍
    Sehun dingin tapi penyayang yaa uu.
    Nara sama sehun aja udah.
    Pas di bacaan ketiga disni ak ngerasa kenapa baru sekarang nemu blog cerita sebagus ini.
    Btw semoga selalu sehat kak. ❤

  6. Seumur2 aku baca cerita kakak, aku selalu sebel sama tokoh Sehun.. dia jahat dan ga pengertian tp kenapa d cerita ini lg sebel bgt sama Nara yg bodoh bgt.. udah d cintai sama Sehun tp tetep milih Jongin mulu😤😤😤

  7. Andai saja kau gadis biasa, Nara. Aku bisa melenyapkanmu sekarang juga. Sayangnya, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. these words tho :”)
    tapi ttp aja sehun knp jadi tega gitu k nara :((
    sebenernya sejauh apa sh sehun kenal nara?
    sejak kapan dia mulai sadar kalo dy suka nara?
    ah, semakin menegangkan saja kisah mereka 😦
    jadi makin penasaran :’)

  8. Kasian sih nara, terjebak diantara 2 pria aneh hahahahaa
    Ceritanya unpredictable.. sukaaaakk 👍🏼👍🏼
    Btw, gws yaa.. ga usah maksain nulis.. fokus kesehatan dulu, soalnya sehat mahal hehehehe semangaattt 💪🏻❤️❤️

  9. Kasihan sih lihat sehun kejam sama nara tapi itu kan juga kan gara ” nara yg mau jadi simpanan jong in. Mungkin sehun dah kehabisan cara buat taklukan hati nara. Maka sehun kayak gitu

  10. Yang di bilang sehun ada benernya sih. Nara jadi wanti murahan karena Jong In. Ini sehun kaya punya kepribadian ganda

  11. Ya ampun, what happen with Sehun exactly?? Sehun terlihat seperti psychopath hehehe, kayaknya Sehun terobsesi gitu ya sama Nara. Wah,gak sabar sabar deh sama next chapter. Fighting Thor 💪

  12. Mereka semua dalam posisi yang sulit. Tapi dugaan Nara ga salah2 amat, kalo perilakunya Sehun seperti itu siapapun akan mengira Sehun juga ada gangguan kejiwaan alias agak2 psycho

    Tapi ke depannya masih akan ada banyak ceritanya kan….
    Selalu ditunggu kelanjutannya

  13. Makin gak ketebak alurnya, sehun creppy disini gak tau beneran sayang sama nara atau cuma obsesinya aja. Tapi excited banget sama cerita ini huhu, semangat kakak dan gws ya💕💕

  14. wah…
    apa ya…
    :”
    asli bingung. jadi apa kecelakaan itu ga disengaja pasti ada yg lain yg akan melakukannya tapi bukan bawahan chanyeol ?
    ga sojin ga sehun sama-sama gila dan horror

  15. Padahal, aku lebih percaya semua tokohnya nggak ada yang waras. Mana ada yg bisa waras setelah diculik kayak gitu. Masih bisa makan steak. Kalau aku mungkin udah gila.

    Agak sulit ya nebaknya. Sehun sayang Nara. Tapi sayang Sojin karena dia keluarga. Sekaligus butuh reputasi bagus Sojin buat menjaga kekayaannya. Jongin butuh Nara, tapi nggak bisa melepaskan Sojin. Sojin jelas udah gila sama Jongin. Bisa dibunuh semua orang kalau dia tahu Jongin nggak sepenuhnya cinta sama dia. Nara malah dilema. Satu sisi dia nggak bisa melepaskan cintanya ke Jongin. Satu sisi ingin melindungi Jongin. Sisi lainnya ingin pergi dan bebas. Sisi lainnya Nara sedikit berharap pada Sehun buat bantu dia keluar dari kurungan ini. Repot

  16. tapi ini lama2 mikir jg w kayaknya yg antagonis emg lebih condong ke sehun bukan nara soalnya dulu waktu baca prolog w udh sempet bayangin nara antagonis yg bener2 kyk selingkuhan di sinetron2 smpe ngeinjek2 si sojin gitu lah tp apakah ini memang sengaja di twist???? lets just wait then

  17. Dari awal udh curiga pasti sehun bkn org “biasa-biasa” aja ,eh ternyata bener, tpi sifat sehun di luar dugaan awal,keren kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s