The Wedding Invitation: Moving On

20190110_144800_0000

Tracklist

Previous: I Meet You Again

“The wounds come back to my life.” ―Trauma, EXO

-oOo-

Rae sudah siap dengan dress selutut berlengan panjang. Ia sengaja memilih warna putih plus motif bunga mawar biru yang menghiasi pakaiannya. Gadis itu mengurai surainya agar kelihatan sedikit feminin daripada sebelumnya. Rae memilih tas punggung kecil keluaran JanSport motifnya bunga-bunga yang sangat sesuai dengan pertengahan musim semi. Tangan Rae sibuk memeluk satu buket bunga mawar dengan berbagai macam warna. Rae sengaja mampir ke toko bunga favoritnya sebelum berangkat kerja. Rae ingin mengganti bunga layu yang sebelumnya ia rangkai di meja kerjanya.

Gadis itu berjalan santai sembari bersenandung riang. Musim semi adalah salah satu dari hal-hal yang masuk dalam daftar favoritnya. Mungkin karena udara di sekitar Rae tidak terlalu dingin atau panas. Bahkan Rae memilih datang lebih pagi agar dirinya bisa berlama-lama di jalan. Tampaknya pagi ini tidak berjalan sesuai harapan Oh Rae. Gadis itu sudah didatangi penghancur moodnya ketika ia duduk di halte yang masih lumayan sepi.

Sebuah mobil SUV berwarna hitam berhenti di hadapannya. Rae awalnya cuek, atensinya langsung ia berikan ketika tahu siapa yang sedang mengendarai. Park Chanyeol yang berkaus hitam itu membuka kaca mobil, kemudian tersenyum lebar menyapa Rae. Chanyeol memberikan tanda agar Rae mendekat ke mobilnya.

“Apa?” tanya Rae ketika menuruti permintaan Chanyeol untuk memangkas jarak.

“Tunggu di sina ya, aku parkir dulu,” ucapnya kemudian bergegas pergi begitu saja.

Rae mendengus. Gadis itu mengira Chanyeol akan memohon padanya untuk mengantar Rae ke kantor atau semacamnya. Ia malah diminta menunggu. Huh. Memangnya apa yang Rae harapkan?

Hanya berselang enam menit Chanyeol sudah berada di hadapan Rae lagi. Pria tersebut tampak kepayahan, keringat turun dari dahinya. Dia menarik tangan Rae kemudian melihat jam tangan mantan kekasihnya itu.

“Aku kira akan terlambat,” ucapnya setelah mengatur napas. Chanyeol tersenyum. “Kau masih suka musim semi ternyata,” lanjut pria tersebut.

Rae melejitkan bahu. Ia pura-pura cuek, kakinya melangkah mendahului. Rae berusaha menyimpan rasa penasarannya. Namun ia gagal ketika si pemuda berjalan mengekorinya naik ke bus. Tanpa tahu malu, Chanyeol meminta Rae untuk membayar. Pria itu menarik Rae duduk di bangku paling belakang, dekat jendela.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Rae saat bus biru itu mulai melaju.

Chanyeol enggan lekas menjawab. Ia justru mengeluarkan kaleng susu dan sandwich dari tas kertas yang sedari tadi dibawanya. Chanyeol mengangsurkannya kepada Rae. “Sarapan pagimu,” ujarnya singkat.

Rae sempat ragu menerimanya. Akan tetapi, perutnya yang berbunyi nyaring menariknya untuk tidak jaga image lagi.
“Kau tidak menjawab pertanyaanku,” gumam Rae, giginya menggigit penuh roti isi yang ia yakini dibuat sendiri oleh Chanyeol. Pria ini memang pandai mengolah makanan sebab dulu ketika mereka masih berkencan, Chanyeol lah yang menjadi ahli gizinya. Chanyeol memerhatikan semua hal yang akan masuk ke dalam mulut Rae.

“Aku tidak mengikutimu, kita hanya menuju tempat yang sama. Hari ini adalah hari pertama kita jalan-jalan,” jelas Chanyeol.

Rae menatapnya sengit. Ia hendak membalas tetapi dirinya justru tersedak, untung saja ada Chanyeol yang dengan tangkas membuka kaleng susu.

“Daripada kita membuang waktu, lebih baik langsung saja ke lokasi pertama― “

“―Aku belum menyiapkan semuanya,” potong Rae.

Chanyeol menyeringai. “Aku akan menikahi gadis super sibuk yang tidak sempat menikmati waktu liburnya. Jadi, aku putuskan untuk membawanya kembali ke usia delapan belas tahun. Itu konsep bulan maduku nanti,” jelas Chanyeol.

Rae menautkan alis. “Kalau kau sudah paham betul dengan rencanamu. Kenapa masih menggunakan jasa kami?” timpal Rae.

Chanyeol tertawa keras. “Aku hanya ingin kaubmemastikan jika rencanaku akan benar-benar berhasil,” balas Chanyeol.

Chanyeol memang pandai bersilat lidah. Rae jadi lelah berdebat dengan mantan kekasihnya. Daripada Rae darah tinggi, lebih baik Rae menurut saja. Toh, Ia juga dibayar mahal.

Apa benar hanya itu alasan Rae bersedia menurut?

Entahlah, Rae tidak bisa berpikir jernih. Chanyeol terlalu tiba-tiba datang kembali ke kehidupannya, Rae belum sempat membangun pertahanan agar pria ini tak masuk lagi dalam pikirannya. Rae sungguh was-was dengan Park Chanyeol, dia terlalu berbahaya.

“Bagaimana rasanya?” tanya Chanyeol tiba-tiba setelah jeda yang panjang.

“Enak,” jawab Rae kelewat antusias.

Chanyeol tersenyum simpul, dia menatap Rae. “Bagus, aku akan memasak roti isi lagi untuk calon istriku. Dia pasti suka,” kicauan Chanyeol langsung membuat Rae merana.

Tampaknya, Oh Rae hanya jadi kelinci percobaan. Hm.

“Aku sungguhan terlihat super tolol,” gerutu Rae sembari menatap tajam pria yang kini tersenyum lebar ke arahnya. Rae tak habis pikir arah serebrum Chanyeol ketika memutuskan mereka harus mengganti pakaian dengan seragam sekolah menengah atas mereka dulu.

Rae memakai rok selutut dengan lipatan manis berwarna biru tua, sementara bagian atas ia mengenakan kemeja putih dan sweter berwarna senada dengan bawahannya. Chanyeol pun juga memakai seragamnya, pria berusia dua puluhan tersebut sangat percaya diri ketika memakai celana panjang serta kemeja dan sweter yang modelnya serupa milik Rae.

“Kau harus totalitas dalam bekerja, Oh Rae―”

“―Tapi, sama sekali tidak lucu berjalan-jalan di Hongdae dengan seragam ini. Wajahku sudah terlalu tua,” Rae menimpali sengit. Pertengkaran mereka mengundang perhatian pegawai toko seragam yang sedang melayani.

“Kau tidak terlihat tua kok, masih sama jeleknya seperti dulu―aduh!” Chanyeol belum tuntas menyelesaikan kalimatnya, Rae sudah menendang kakinya. Chanyeol berjalan tertatih-tatih, mengabaikan Rae yang masih mengoceh. Chanyeol menuju kasir untuk membayar semua yang mereka kenakan ini.

Rae berhenti membuka mulut setelah Sehun menelepon. Kakak laki-laki sekaligus bosnya tersebut mengatakan bahwa Rae tak perlu datang ke kantor, ia bisa langsung pulang setelah mengantar Chanyeol. Tidak biasanya Sehun memberikan diskon jam kerja seperti ini, Rae kerap lembur sebab agen perjalanan yang dirintis Sehun mempunyai banyak pelanggan. Rae tentu saja senang, ia hanya perlu cepat-cepat memaksa Chanyeol pulang. Namun, rencana Rae tampaknya tidak berjalan lancar sebab energi dan semangat Chanyeol masih terisi penuh.

Ah, sial. Berulang kali Rae menggerutu dalam hati.

Chanyeol membawa Rae ke dekat Hongdae, tempat street food yang kerap mereka kunjungi saat masih di bangku sekolah. Chanyeol berhenti di salah satu kedai tteokbokki yang terletak di ujung persimpangan. Kedai ini adalah sebuah warung tenda yang mempunyai kursi dan meja kecil bagi pelanggan.

Chanyeol memilih duduk berhadapan dengan Rae setelah memesan makanan. Pria itu teramat antusias dengan seluruh pernak-pernik di kedai makanan ini yang tak berubah sama sekali sejak terakhir kali dia ke sini. Sementara Rae sedari tadi tampak gelisah, ia memegangi perutnya. Rae memang sangat menyukai tteokkbokki tapi akhir-akhir ini dia sedang mengurangi mengonsumsi masakan pedas. Ia sama sekali enggan menikmati segala hal yang berada di tempat ini―awalnya sih begitu sebab Chanyeol selalu punya cara menenangkan Rae.

“Aku sudah pesan tiga porsi,” kata Chanyeol.

“Park Chanyeol, kau saja yang makan aku sedang tidak bisa makan sesuatu yang pedas,” ungkap Rae.

“Aku memesan yang tidak pedas. Kondisi pencernaan calon istriku sedang tidak baik, jadi aku ingin mencoba rasa tteokbokki yang tidak pedas sebelum nanti datang ke sini bersamanya,” potong Chanyeol. Si pemuda pun melipat tangannya dengan begitu serius. Ia mengawasi Rae yang mulai menganggukkan kepala. “Kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik, Oh Rae,” sambung Chanyeol, dia memulai topik lain yang berkaitan soal mantan kekasihnya.

Makanan mereka datang di tengah perbincangan. Rae sontak mengabaikan Chanyeol, ia justru asyik mengagumi kudapan yang tersaji di meja. Rae menyuap beberapa kali, dia baru fokus pada lawan bicaranya setelah Chanyeol berdeham meminta tanggapan. “Aku sudah menjaga diri dengan baik, hanya saja semakin bertambah usia―aku punya berbagai hal yang harus dipikirkan. Kata dokter aku sakit perut juga disebabkan oleh stres,” jelas Rae.

Chanyeol mengangguk, dia mendengarkan dengan saksama setiap ucapan si gadis. “Sepertinya kau perlu sedikit liburan. Bagaimana kalau besok temani aku untuk menginap di hotel yang kalian rekomendasikan untuk kami?” lanjut Chanyeol.

Rae berhenti makan. Ia hampir tersedak karena terlalu terkejut.

“Menginap?” Rae memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.

Chanyeol mengangguk santai.

“Tidak, aku tidak bisa menghabiskan malam dengan calon suami orang,” Rae menolak secepat kilat.

Chanyeol justru tertawa mengejek, matanya menyipit. “Kita tidak tidur satu kamar Rae. Aku hanya ingin kau mencoba kamar kami nanti, setidaknya kau bisa menambahkan hal-hal yang kurang,” jelas Chanyeol setelah mengendalikan kotak tertawanya. Pria itu diam sebentar, ia mengambil nafas.

“Mana mungkin aku tidur denganmu sedangkan dua minggu lagi akan menikah? Yang benar saja,” lanjutnya.

Rae memberengut. Ia jadi tidak nafsu makan karena ucapan Chanyeol yang sama sekali enggan memikirkan perasaannya. Pria itu tetap saja egois sejak pertemuan awal mereka. Chanyeol tidak menyinggung soal hubungan mereka dulu saat semuanya berakhir mengenaskan. Bisa-bisanya ia berniat menghabiskan waktu dengan Rae yang notabenenya adalah mantan kekasih, sepanjang perjalanan pun dia hanya membahas calon istrinya yang entah siapa. Chanyeol bersikap seolah Rae adalah kelinci percobaan yang bertugas menggantikan pengantinnya. Sungguh, itu menyebalkan!

“Anggap saja ini liburan gratis, kau juga tidak perlu ke kantor. Lagi pula sesuai misi perusahaanmu ‘kepuasan konsumen adalah prioritas’. Apa kau tak khawatir jika hotel yang akan kami gunakan ternyata tak sesuai ekspektasi?” ujar Chanyeol setelah Rae menolak memberikan tanggapan. Pria itu membolakan mata. “Apa kau tidak takut aku menulis ulasan buruk soal agen perjalanan kalian? Bagaimana kalau perusahaanmu tutup kemudian kau tidak bisa melunasi hutangmu? Wah, aku tidak membayangkan kau akan berakhir di penjara sebab hutang yang menumpuk. Kau sangat takut gelap Rae―astaga, bagaimana kalau ada monster tikus di dalam penjara kemudian mereka menggigitmu setiap hari?” Chanyeol terus saja berkicau tentang semua hal yang dibenci si gadis muda.

“Cukup, hentikan!” seru Rae sembari menutup telinganya. Rae ingin menangis rasanya. Kenapa dia cengeng sekali? Chanyeol tahu kelemahan Rae yang benci tikus, itu sangat menyeramkan. “Baiklah, aku besok akan datang ke sana,” sambung rae pasrah.

“Aku hanya mengatakan fakta, Oh Rae. Jangan bilang kau ingin menangis sekarang,” ungkap Chanyeol pura-pura terkejut ketika melihat mata Rae berkaca-kaca. Chanyeol mengulum senyumnya yang hendak muncul.

Oh Rae tidak berubah di mata Chanyeol ia masih naif dan lucu. Rae ialah salah satu dari sekian banyak mainan yang disukai Chanyeol. Kejahilan Chanyeol ini sama sekali tak berkurang, Rae pun lagi-lagi jadi korban.

 

Chanyeol mengajak mereka menyusuri lapangan basket yang dulu biasa Chanyeol kunjungi ketika si pria masih aktif di klub sekolah. Letaknya tepat berada di depan ruang kelas Rae. Si gadis ingat ia sering melewatkan penjelasan guru demi menatap Chanyeol yang bermain basket. Gadis itu juga kerap menghitung jumlah gadis lain yang berusaha memberikan botol air minum kepada Chanyeol, tapi ditolak oleh si pemuda. Chanyeol hanya menerima botol minum Rae, pemuda itu menunggu Rae di depan kelas sambil mengeluh soal betapa hausnya dia, membuat hampir semua gadis di sekolahnya memberikan tatapan iri kepada mereka.

Selanjutnya, mereka melangkah dengan santai, berjalan bersisian mengamati murid-murid yang sedang memasuki pergantian jam pelajaran. Mereka sengaja memilih waktu yang tepat untuk berkunjung ke sekolah ini agar tidak mengganggu proses belajar. Untungnya, kepala sekolah Chanyeol masih mengingatnya. Beliau dengan senang hati mengizinkan mereka untuk melihat-lihat sekolah setelah sekian tahun tidak ke sana.

“Kau dulu sering tersandung di sana,” kata Chanyeol, jarinya menunjuk ke arah lorong.

Rae mengikuti pandangan Chanyeol. “Aku berlari terlalu kencang untuk mengejar kelas pertama,” kata Rae.

“Kau memang kerap terlambat. Langkahmu sangat berisik ketika berlari,” kenang Chanyeol. Pemuda ini masih ingat Rae yang melewati kelasnya dengan tergesa sembari menghindari ocehan guru mereka. Rae yang wajahnya merah jambu karena terlalu lelah berlari pun tetap ada di ingatan Chanyeol. Tanpa sadar Chanyeol tersenyum simpul.

“Waktu itu aku tidak sengaja menabrakmu saat sedang dikejar guru. Ah, sepatumu sempat lepas lalu mengenai kepala guru kita,” timpal Rae.

Chanyeol memberengut. “Kau membuatku ikut dihukum. Mereka mengira, aku sengaja bersikap kurang ajar karena ingin membantumu,” gumam Chanyeol. Ia melipat tangan di depan dada. “Kita dihukum membersihkan halaman belakang setiap pagi selama satu bulan. Aku yang banyak bekerja sementara kau hanya melihatku sambil tersenyum tidak jelas,” sambung Chanyeol

Rae mengangguk. “Karena waktu itu kau lucu. Bagaimana bisa murid populer dan kesayangan para guru justru terjebak di halaman belakang bersamaku?” katanya. Gadis itu melanjutkan di dalam hati, kejadian itu membuatku semakin mengenalmu dan sangat menyukaimu. Rae mulai melamun, tapi tidak lama karena Chanyeol dengan tiba-tiba menariknya agar beranjak ke aula utama.

Rae sendiri bingung dengan keadaan ini. Ia seperti terbawa memasuki mesin waktu. Tangan Chanyeol menggenggam jarinya erat. Tubuh mereka begitu dekat bersisian. Rae bisa mencium parfum Chanyeol, ia dapat mendengar deru nafas mantan kekasihnya. Chanyeol tetap rupawan di mata Rae. Pria ini tampak sempurna, namun kesempurnaan tersebut membuat getir pikiran si gadis. Perasaan itu pun datang lagi, sebuah rasa tidak pantas berada di sisi laki-laki ini.

Rae masih ingat bagaimana teman-temannya dulu memandangnya sebelah mata. Gadis seperti Rae yang tidak populer tiba-tiba dikabarkan berkencan dengan Park Chanyeol. Kehidupan Rae saat masa remaja sangat berubah ketika Chanyeol berada di sampingnya. Orang-orang yang awalnya tidak memerhatikan Rae, mereka jadi melihat setiap detail yang ada dalam diri si gadis dan mereka semua memberikan tatapan menilai. Semua yang dilakukannya salah karena dia tidak sempurna seperti Chanyeol. Mungkin mereka berharap bahwa gadis lain yang akan berada di posisinya, menggantikannya―perempuan lain yang dinilai jauh lebih cantik darinya. Mereka lah yang memupuk rasa khawatir Rae pada Chanyeol. Mungkin itu juga yang menjadi awal mereka berpisah.

Rae menggigit bibirnya ketika mengenang kembali kegelisahannya kala itu. Gadis itu sontak melepaskan tangan Chanyeol. Ia berhenti di sana. Tatapannya mengarah pada Chanyeol yang sedang menautkan alis. Bertepatan dengan pupilnya yang membingkai Chanyeol, rasa nyeri dalam hatinya yang mulai terobati datang lagi.

“Jawab aku, Park Chanyeol. Kenapa kau dulu begitu?” Rae mengulang pertanyaannya yang belum Chanyeol jawab.

Chanyeol menatap Rae. Pria itu tenggelam lagi dalam netra coklat Rae yang dulu sempat membuatnya lupa segalanya. Mata sayu itu tetap terlihat rupawan. Chanyeol merasa bahwa keputusannya untuk menemui Rae sebelum menikah adalah hal yang salah. Bagaimana jika dia jatuh lagi pada keindahan Oh Rae? Apa yang akan terjadi apabila ia terpikat dalam pesonanya lalu tertarik untuk tetap berada di sisinya? Yang ada hanya akhir menyedihkan, Chanyeol tidak ingin hal tersebut terjadi.

Chanyeol ingin memberikan batasan atas pertemuan ini, tapi ia justru memilih menjadi pria berengsek yang  berkata, “Karena kau cantik dan aku menyukaimu. Semuanya masih sama seperti dulu.”

Ucapan dari Chanyeol tersebut menjadi penyebab kegundahan Oh Rae sekaligus penutup dari episode cerita mereka kali ini. Semoga semuanya berjalan serupa rencana awal, itu harapan dari keduanya.

Karena tak ada yang berniat menyakiti atau pun disakiti.

-oOo-

Terima kasih sudah membaca, aku harap kalian menyukainya. Aku tunggu komentarnya <3.

Advertisements

60 thoughts on “The Wedding Invitation: Moving On

  1. Choco says:

    Baru cek web ini lagi sejak pergantian tahun, dan series ini langsung memikat mata, nyatanya memang tepat untuk di baca. Ikutan baper, sangat! semangat ka terus berkarya yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s