Love Madness: The Heartless Devil

LOVE MADNESS 2

Previous: 

Moonlight In The Darkness – An Affair To Forget – Don’t Mess Up With Me – The Craziest Thing  – All Of Me Want All of You – The Danger of Desire – [Special Part] Love Madness: The Rewind Story About Us – The Hidden World  – Lost Your Mind – Mine to Possess – It’s Love With Benefit

“My sadness didn’t mean anything to you. Leave me alone, don’t come to me. I don’t want to start anything when I know you’re going to leave me in the end.” ―I am Ok, Ikon

-oOo-

Nara’s Point of View

Apa kalian pernah berada di posisi antara hidup dan mati atau … melihat sebuah kematian di depan mata? Aku berada di ambang kehidupan dan menyaksikan iblis yang berwujud manusia sedang mencabut nyawa seseorang. Aku sedang berkelana dalam pikiranku yang sempit, serebrum ini mengulang kembali adegan demi adegan kekejaman Oh Sehun. Pria yang sempat kucintai, tapi menjadi alasan segala rasa marahku sekarang.

Sehun yang menuntunku berada dalam kegelapan yang panjang. Aku yakin ragaku sekarang tergeletak entah di mana, tidak sadarkan diri. Anehnya, otak ini masih dapat berpikir―kenapa tak mati sekalian? Aku sekarat sebab pria yang kucintai tengah berusaha menembakku―membunuhku. Dia tidak punya hati. Oh Sehun adalah iblis.

Semua cerita Jongin mengenai masa lalu Sehun dan gadis bernama Aubree―diriku sebelum hilang ingatan―dapat menjadi fakta telak bahwa Sehun ialah pria kurang waras yang lebih mementingkan kekuasaan. Itu membuatku terancam, aku sebenarnya hanya ingin hidup aman dan dicintai. Tentu saja, harus dengan kondisi ekonomi keluarga yang berada di atas rata-rata―aku akan merasa nyaman. Andai saja Sehun bicara lebih jujur padaku mengenai apa saja yang ia inginkan. Mungkin, aku dapat menuruti harapannya. Misalnya, mengenai anak yang ada di rahimku―apabila dia memang tak menyukai bayi―aku bisa melenyapkannya.

Melenyapkan … apa mungkin aku bisa melakukan hal itu?

Aku memang terlahir jahat, tapi bagaimana mungkin aku membunuh makhluk yang sangat lemah―bahkan belum lahir ke dunia?

Janin ini, bukan hanya bagian dari diriku―tapi ada sebagian dari pria yang kucintai yang membuatnya hidup. Aku jadi ingin melindunginya. Aku ingin melihatnya lahir dan hidup. Apa ini yang disebut naluri seorang ibu?

Ibu … aku tak punya seorang wanita yang berperan sebagai ibu untukku. Aku tak tahu cara seorang ibu mencintai anaknya karena tidak ada seorang pun yang menyayangiku. Jadi, jangan salahkan aku apabila tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik.

Menjengkelkan sekaligus menyedihkan.

Aku tengah menangis dalam pikiran.

“Dia menangis,” suara bariton itu tiba-tiba membangkitkan indra pendengaran ini.

Aku bisa mendengar. Aku berusaha menggerakkan otot pada tubuh, berharap dapat sedikit bergerak. Hasilnya nihil. Aku mengumpat ketika menyadari tubuhku mungkin lumpuh, entah ini untuk sementara atau selamanya.

Selamanya?

Tidak! Aku tidak bisa begini selamanya! Aku harus sadar!

“Nara, apa kau mendengarku?” pertanyaan dari Sehun kembali menggema.

Pria berengsek! Kau yang menjadikan aku begini!

“Aku mencintaimu, Jung Nara,” sekali lagi ucapannya begitu sendu. Dia terisak.

Sehun menangis.

Tidak, aku tak akan memaafkannya meskipun dirinya begitu menderita. Benarkah? Apa aku sanggup melihat Sehun menderita? Memikirkannya saja membuatku berduka. Aku tak dapat membiarkan Sehun sedih.

Pikiranku sangat bertolak belakang. Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tak bisa seegois dulu?

Jung Nara, bukan saatnya kau memikirkan orang lain sementara dirimu begitu tersiksa. Kau harus tetap menjadi jahat seperti dulu, berulang kali aku berusaha menekan pikiran ini.

Sehun membisikkan sesuatu pada telinga ini, “Aku mencintaimu, Nara.”

Aku juga mencintaimu Sehun, lebih dari apa pun. Namun, aku juga terluka karena dirimu.

Apa aku bisa memaafkanmu?

Author’s Point of View

Chanyeol tidak habis pikir dengan kelakuan manusia bernama Oh Sehun. Bisa-bisanya dia menembus perut istrinya yang sedang mengandung dengan peluru. Sehun sengaja menembak Nara setelah melihat wanita tersebut bersama dengan Kim Jongin. Chanyeol benar-benar ingin meledakkan kepala Sehun ketika melihat adiknya terkapar dengan darah yang merembes. Sehun seperti kerasukan, itu yang mata Chanyeol lihat. Bos sekaligus kawannya tersebut bersikap serupa bukan dirinya, terlalu emosional untuk ukuran seorang Oh Sehun.

Sehun berniat bunuh diri setelah melihat Nara tidak sadar.

Itu yang membuat Chanyeol tidak jadi mengoyak nyawa Sehun. Membuat Sehun tetap hidup dan menyaksikan Nara sekarat adalah hukuman yang pantas bagi dirinya. Pria sinting itu harus diberi pelajaran karena telah berusaha membunuh raga Nara dua kali.

Sehun hanya tertegun di samping Nara yang baru saja menjalani operasi. Operasi pertama untuk mengeluarkan peluru di perutnya dan operasi kedua dokter mengambil rahim Nara yang terluka parah. Benar, Jung Nara tidak akan bisa lagi memiliki anak. Berulang kali Sehun memohon ampun pada tubuh Nara yang koma. Penyesalan karena dia membuat hidup si gadis sengsara serta dia yang tak tahu jika ada buah cinta mereka yang sedang dikandung Nara.

Chanyeol jadi mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika Sehun berada dalam kondisi sama. Sehun yang kehilangan wanita tercintanya―dikhianati. Terlebih lagi, kecelakaan parah itu merenggut identitas si wanita. Aubree dan Nara yang malang.

“Aku sudah membereskan Kim Jongin. Sojin membawanya ke Amerika, membungkam mulut Jongin,” Chanyeol melaporkan meskipun tatapannya berniat membunuh. Dia mendekat ke arah ranjang rumah sakit yang dikelola oleh Keluarga Oh, tempat Nara berbaring. “Orang-orangku merekayasa semua bukti membuat ini seolah menjadi sebuah kecelakaan,” lanjut Chanyeol. Pria itu miris dengan apa yang diucapkannya. Dia menyadari bahwa Sehun bisa terbebas dari hukuman bahkan setelah melukai banyak orang, itu yang disebut kekuatan uang.

Sehun bergeming. Dia memejamkan mata sejenak. “Aku hanya mengira bahwa Nara menipuku lagi. Dia tiba-tiba jauh dari jangkauanku― “

“―Dia tidak akan begitu. Adikku memang serakah, tapi dia lebih mencintaimu dari apa pun di dunia ini,” potong Chanyeol.

Sehun mengalihkan tatapannya ke Chanyeol. “Nara pernah melakukannya. Dia menggunakan diriku untuk memperkuat Kim Jongin. Jung Nara, dia sengaja hamil agar bisa menguasai semuanya―“

Ucapan Sehun tidak lagi bisa dia lanjutkan. Park Chanyeol menariknya, meraih kerahnya. Chanyeol memukul Sehun telak hingga pria itu tersungkur. Ujung bibir Sehun berdarah seketika.

“ADIKKU HANYA MENIPUMU SEKALI, OH SEHUN. AUBREE SUDAH MENEBUSNYA DENGAN NYAWA! KAU MENGAMBIL KAKI AUBREE DAN JUGA BAYINYA. BERENGSEK!” Chanyeol berteriak geram. Ia meraih Sehun sekali lagi, menghantamnya. “Aku bahkan rela menjadi budakmu, hanya untuk menebus masa lalu. Nara hanya gadis malang yang tidak memiliki siapa pun. Dia sengsara dan merasa dibuang. Kenapa kau harus membuatnya begitu menderita?” lanjutnya.

Sehun menyeka darah di bibir. Dia bangun dari tidurnya. “Bukan aku yang bersalah. Keluarga Kim yang berencana membunuhnya karena Nara adalah pemilik sah dari semua properti keluarganya,” kata Sehun. Dia menunjuk Nara. “Aubree telah mengetahui segalanya, tapi Nara lupa. Aku menduga Nara sudah mengingatnya karena itu Jongin berusaha menemuinya lagi,” Sehun mengutarakan argumen.

Chanyeol meraup muka. Sehun sungguh keras kepala. Dia lebih memikirkan hartanya daripada keselamatan Nara. Seharusnya, Sehun dapat menjadi pria yang rela mengorbankan apa pun jika dia benar-benar mencintai Nara.

“Kau akan kehilangan Nara, Oh Sehun,” desis Chanyeol. Emosinya sungguh tersulut. Akal sehatnya seolah meledak. Chaanyeol harus segera menyingkir sebelum tangannya bertindak kotor. Ia hanya ingin adiknya sembuh. Chanyeol berharap Nara baik-baik saja.

Nara’s Point of View

Aku mendengar pertengkaran mereka. Kedua laki-laki yang berharga dalam hidupku bermusuhan karena aku. Memangnya, apa yang penting dari diriku? Apa semuanya akan kembali damai tanpa aku? Aku telah terlampau biasa tidak diharapkan. Kenyataan tersebut membuat hati ini pilu sekaligus berat.

Bagaimana jika aku pergi saja? Namun, aku masih ingin hidup. Apa aku menyingkir dari kehidupan Sehun? Dengan begitu, aku tetap bisa hidup. Apa benar aku bisa hidup tanpa Sehun? Tidak, pasti kewarasan ini enggan sempurna apabila berjauhan dengannya. Pada satu sisi, aku tidak ingin Sehun terus dikejar oleh rasa cemasnya karena diriku.

Apa yang harus kulakukan?

Apa aku berpura-pura tak sadar selamanya?

Tidak, aku tak akan lari dari masalah.

Aku harus bangun, kemudian menyelesaikan cerita ini. Aku pun mencoba lagi, lagi, dan lagi untuk menggerakkan tanganku. Aku mendorong kelopak mata agar kembali terbuka. Aku terus menghitung detak jam dinding setiap sekonnya agar otakku tetap bekerja.

“Argh,” aku mendengar geraman pelan, ternyata dari bibirku. Upaya ini tak sia-sia.

Perlahan namun pasti, mataku mulai terbuka. Pandanganku kabur enggan terfokus. Ada sosok yang memang aku tahu tengah berada di sisiku. Oh Sehun dengan kemeja biru, wajah kusut, dan raut berduka. Pria itu mendekatiku, entah apa yang diucapkannya―ada ekspresi bahagia di sana lalu berganti sedih.

“Jung Nara, apa kau bisa mendengarku?” dia bertanya tak sabar.

Kepalaku masih berat. Aku mencoba menggerakkan bibir. Susah. Aku ingin memanggilnya, namun suaraku tidak bisa keluar―hanya berupa bisikkan.

Sehun mencium puncak kepalaku beberapa kali. “Tidak masalah, kondisimu akan segera membaik. Aku sudah menyingkirkan makhluk itu. Aku tahu kau tidak suka bayi. Aku telah melenyapkannya,” bisik Sehun khidmat.

Spontan aku mengusap perutku. Ada rasa nyeri ketika tanganku berada di sana. Luka tembak itu. Lalu, bagaimana dengan bayiku?

Dia sudah tidak ada di perutku.

Tubuh ini bergetar hebat saat pikiranku memahami apa yang dikatakannya. Apa yang dia lenyapkan? Dia membunuh bayiku sekali lagi ….

Monster.

Oh Sehun bukan manusia.

Aku menangis, ini bukan tangisan biasa. Aku meraung seperti orang gila. Ini pertama kali dalam hidupku yang malang, aku merasan begitu kehilangan.

Aku tidak dapat berhenti berduka. Air mata enggan dikendalikan. Emosiku tengah mengambil alih pikiran dan tubuh ini. Aku merasa bahwa diriku adalah boneka bagi Sehun. Dia mempermainkan kehidupanku seakan dia adalah Tuhan yang menciptakan segalanya. Sehun bertindak atas kemauannya sendiri, dia menganggapku sebagai benda mati yang tidak punya hati.

Sehun mengurungku di rumah sakit. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Sehun tak sadar dia secara langsung menyebabkan kematian bayi kami.

Tidak, aku harus berhenti memikirkannya. Terus berada dalam kesedihan itu hanya membuatku bertambah sakit … baik secara mental atau fisik.

Netraku mengalihkan pandangan pada orang-orang yang kulewati. Aku memandangi mereka satu-persatu. Aku iri kepada mereka yang tertawa, mempunyai keluarga, dan hidup bebas. Sementara diriku di sini terkurung dalam cerita ini.

Aku berada di kursi roda, kata dokter tubuhku masih terlampau lemah untuk berjalan sendiri. Setiap pagi, selama satu bulan aku berada di rumah sakit, Chanyeol rajin membawaku ke taman. Menurut Chanyeol, aku harus melihat dunia luar agar waras. Kakak laki-lakiku berulang kali mengatakan bahwa ada kebahagiaan lain dan aku pantas mendapatkannya. Meskipun taruhannya adalah meninggalkan Sehun serta semua aset yang kuinginkan.

“Kehidupan memang seperti itu, Nara. Harus ada yang kau korbankan sebagai konsekuensi atas pilihanmu. Kau tidak bisa menjadi terlalu serakah,” kalimat yang dikatakan Chanyeol bergema dalam pikiranku.

Chanyeol berhenti mendorong kursi rodaku tepat berada di bawah pohon rindang. Sinar matahari melewati sela-sela daunnya. Ia membungkuk di depanku, jarinya membenarkan suraiku yang berantakan karena tertiup angin. Aku bisa melihat matanya, ada bayangan diriku di sana.

“Kita bisa pergi dari sini,” gumamnya.

Gagasannya mendorongku untuk menggerakkan pita suara. “Sejauh mana kau bisa membawaku pergi?” tanyaku pada Chanyeol.

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Selama aku berada di rumah sakit Sehun selalu berada di sisiku hampir setiap saat, kecuali ketika aku terlalu marah hingga enggan mengendalikan diri untuk berteriak. Itu terjadi saat aku bangun tidur. Aku tahu Sehun tersiksa mendapati wanita sempurna miliknya kini sangat berubah drastis.

Aku tidak cantik seperti dulu. Rambut yang terawat dan panjang, kini berubah kusut dengan potongan sebahu. Aku sendiri yang memangkas surai ini dengan gunting. Parasku yang dulu bersih, seolah tanpa cela―kini ada bekas luka goresan lumayan lebar di pipi. Aku mencakar wajahku sendiri. Aku menyakiti ragaku dengan tanganku sendiri. Aku begini untuk mencari tahu, apa Sehun tetap mencintaiku jika aku buruk rupa?

Atau…

Sehun akan menyingkirkan aku seperti makhluk hidup lain yang tidak dia sukai?

Aku masih mengingat ucapannya mengenai diriku.

Sehun pernah berkata bahwa, “Tubuhmu cantik, itu yang membuatku menyukaimu―meskipun kau adalah Aubree atau Nara.”

Kini aku tak ingin menjadi keduanya. Baik Aubree atau Nara, keduanya menyakitkan. Keduanya adalah gadis yang malang dan tak akan pernah bahagia.

Aku mendongak ke arah Chanyeol, lalu menuntutnya lagi, “Apa aku tak akan bertemu dengannya selamanya?” Entah mengapa bibir ini membentuk seringai. “Satu-satunya jalan agar aku bisa lepas dari semua ini adalah … aku harus mati,” sambungku.

Chanyeol bungkam. Ia menarikku lembut ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan tangan Chanyeol mengusap lembut puncak kepalaku.

“Ini salahku. Seharusnya aku membiarkan Aubree mati selamanya, aku tidak perlu mencarimu,” suaranya sengau.

Aku menggeleng. Ini bukan salah kakakku. Semuanya berawal dari kelahiranku. Aku tidak pantas hidup.

“Aku mencintaimu, Nara,” aku mendengar Sehun berucap lembut. Tangannya menggenggam jari-jari ini, sementara aku berbaring terlentang―mengabaikannya.

Aku juga mencintaimu, Sehun. Namun, rasa cinta ini justru membuatku takut.

“Jangan diam, Nara. Itu menyakitiku,” ujar pria berkemeja putih dengan dasi yang sudah dilonggarkan.

Aku juga sedih, Sehun. Aku ingin memelukmu seperti dulu. Namun, aku akan lebih sedih karena masih menginginkan dirimu. Aku seharusnya membencimu.

Sehun mengecupi tanganku. Penuh sayang dan putus asa.

“Yang dikatakan Jongin memang benar,” Sehun menjelaskan.

Aku tidak tahu alasan dia memulai topik ini. Jika yang diutarakan Jongin ialah sebuah fakta, lalu untuk apa dia membahasnya? Semuanya membuat Sehun terlihat buruk. Tak ada satu pembelaan pun yang pantas dikuarkannya.

“Jongin bukan orang baik, sama sepertiku. Mungkin awalnya dia menganggapmu sebagai adik angkatnya yang malang. Tapi, justru dirinya yang tidak mempunyai apa pun. Jongin bukan anak kandung dari ayah angkatmu. Ibu angkatmu mengandung terlebih dahulu sebelum menikahi ayahmu. Demi keluarganya, ayahmu harus menikahi ibu angkatmu,” jelas Sehun.

Aku mengernyitkan dahi. “Jangan mengarang cerita,” aku menimpali sinis.

“Apa kau tidak pernah penasaran identitas ayah biologismu?” Sehun justru bertanya.

“Ibuku tidur dengan pria hidung belang, dia pelacur― “

“―Aku tahu kau dan Chanyeol dilahirkan oleh wanita yang sama. Ibumu mengkhianati ayah Chanyeol yang notabenenya adalah mafia―bukan pria sembarangan. Akan tetapi, klan ayah Chanyeol tidak bisa menyentuh laki-laki yang kabur bersama ibumu. Pria itu―Tuan Kim, memiliki kuasa untuk melindungi dirinya dari ayah Chanyeol, tapi ia enggan melindungi ibumu,” Sehun menyela.

Sehun memberikan jeda sejenak. Tatapannya mengawasiku. “Kondisi keluarga kalian yang begitu rumit. Baru terungkap satu-persatu. Jongin yang awalnya tahu mengenai kebenaran semuanya, bahwa kau yang sebenarnya berhak atas segalanya―ingin menyingkirkanmu. Namun, dia terlanjur sayang padamu, Nara. Perasaannya bukanlah sebuah tipuan. Ibunya yang mengetahui bahwa Jongin lemah terhadap dirimu pun mulai mengancammu―orang-orang berbaju hitam yang mengikutimu. Lalu, kau memutuskan pergi ke New York. Jongin memintamu untuk mendekatiku, pria yang dikabarkan akan menjadi pewaris perusahaan lawannya,” penjelasan panjang dari Sehun ini membuatku semakin pusing.

“Kau melimpahkan kesalahan ini pada Jongin,” bisikku. Aku menenangkan diriku, lalu kembali berkata, “Aku sudah tidak peduli dengan masa lalu, Sehun. Aku meletakkan kenangan itu jauh di belakang. Aku marah pada sikapmu yang tak berusaha mencintai bayi kita, sejak dulu―“

“―Kau yang membunuh anak pertama kita, Nara. Kecelakaan itu terjadi karena kau berusaha melarikan diri dariku,” Sekali lagi pria itu berucap tanpa memikirkan perasaanku. Sehun mendekat ke arahku hingga wajah kami hampir bersentuhan. “Dan itu akan terus terjadi jika kau ingin pergi dari sisiku, Jung Nara,” lanjutnya.

Napasku tercekat. Sehun sedang mengancamku. Tubuh ini bergetar, ketika tangannya meraih tengkukku. Sehun menautkan bibir kami kasar. Dia membuatku tidak dapat bergerak. Aku berusaha melawan.

Perlawananku tampaknya sia-sia. Tubuhku menginginkan dirinya. Aku merindukan sentuhannya.

Bibirnya melumat bagian atas dan bawahku, ia tahu kelemahanku dalam berciuman. Sehun membuatku mendesah pelan. Aku tahu ini gila, aku tidak seharusnya menikmati ciumannya.

Jari-jariku telah berada di surai pria itu, meremasnya pelan sementara Sehun memberikan kecupan di leherku. Dia terlihat sangat menginginkan diriku, lebih besar dari sebelumnya.

Tidak. Aku tidak boleh lagi terjerat dalam perangkapnya. Hati kecilku berteriak, minta didengar. Tanganku turun ke dadanya, mulai mendorong Sehun. Aku enggan membalasnya kembali.

Aku yang diam, menarik perhatian Sehun. Pria itu melepaskan kaitannya. Matanya menatapku teduh, sementara tangannya menelangkup parasku. Aku memejamkan mata, semuanya begitu damai.

“Bukan begitu cara mencintai seseorang, Sehun,” bisikku.

Sehun tetap bungkam.

“Mencintai seseorang berarti siap untuk merelakan agar dia bebas dan bahagia,” aku menambahkan.

“Tapi, kau tidak akan bahagia tanpa diriku, Nara.”

Benar, aku tak akan mampu hidup tanpa dirinya.

Aku menggeleng. “Hidup bersamamu hanya membuatku sakit, Sehun.” Aku meraih tangannya yang ada di pipiku, mencium punggung tangannya. “Aku tidak sanggup membencimu, tapi aku juga tak bisa memaafkanmu setelah semua yang terjadi,” aku berkata tanpa peduli menyakiti hatinya.

“Aku akan membuatmu menjadi wanita yang memiliki segalanya, Nara― “

“―Aku tidak bisa mengandung lagi, Sehun. Melahirkan seorang anak adalah segalanya bagi seorang wanita,” aku menyelanya. “Aku bukan lagi Jung Nara atau Aubree yang menginginkan kekayaanmu. Ada satu hal yang kusadari setelah aku kehilangan bayiku, kita hanya saling menyakiti,” sambungku.

Aku menunggunya bicara.

Sehun tidak membuka mulut.

Air matanya yang mengungkapkan segalanya. Sehun menangis tanpa suara, hanya buliran air yang mengalir. Itu menandakan seberapa tersiksanya priaku, kekasihku, suamiku.

Sehun memelukku sangat erat. “Aku melepaskanmu, Nara. Hanya sebentar,” katanya.

Dia pun merelakan diriku. Hatinya hancur, aku juga.

“Tapi nanti saat kau merindukan dan menginginkanku lagi, kembalilah padaku―tidak―katakan saja padaku, aku akan yang berlari kepadamu,” bisiknya di telingaku.

Benarkah? Dia sungguh membiarkanku pergi? Apa kau benar-benar Oh Sehun-ku?

“Aku mencintaimu, Nara. Aku melepaskanmu bukan karena tak menginginkanmu lagi. Aku membiarkanmu pergi karena aku mencintaimu,” Sehun berulang kali mengutarakan kalimat sayang untukku. Pelan. Hanya aku yang dapat mendengar.

Hanya untukku.

Sehun milikku.

Aku mencintaimu.

Luka terbaik dalam hidupku.

-oOo-

 

Lama rasanya nggak nulis ini. Semoga masih ada yang menanti kelanjutan ceritanya huhuhu. Aku menunggu komentar dan like kalian. Eum, aku minta pendapat nih, kalian mau sad ending apa happy ending? Tim Nara apa tim Sehun? Hahaha. Cuma pengen tau aja.

Makasih ya uda baca sampai sejauh ini. Happy weekend!

Oh ya, jangan lupa follow akun wattpad dan twitterku aku ya usernamenya @twelveblossom.

Advertisements

115 thoughts on “Love Madness: The Heartless Devil

  1. Sehunieonni says:

    Ke2nya seakaan2 ingin bersa namun luka masa lalu yang masih tergores blm sembuh lalu ditambah dengan luka baru semacam gt lah ..

  2. Maria Stephanie says:

    Sesuatu yg berawal dari kebohongan dan saling menghianati tidak akan pernah berjalan baik.
    Lebih baik saling melepas demi kebaikan dari pada terus menggenggam yg hanya akan semakin menyakitkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s