[Special Part] Love Madness: The Death of The Heart

20190317_100748_0001

Previous: 

Moonlight In The Darkness – An Affair To Forget – Don’t Mess Up With Me – The Craziest Thing  – All Of Me Want All of You – The Danger of Desire – [Special Part] Love Madness: The Rewind Story About Us – The Hidden World  – Lost Your Mind – Mine to Possess – It’s Love With BenefitThe Heartless Devil

“Yes, everything will be fine. Sing the song of the memories that fill up my heart’s dreams. Wait for me in that place.” ―Sandara Park, Song of Memory

-oOo-

“Apa hal yang paling spektakuler dalam hidupmu?” bibir Will bertanya, tatapannya lekat memandangi kekasihnya.

Gadis paling rupawan yang tengah menaklukkan hati Will itu pun masih sibuk tersenyum sambil menunjuk pohon Natal super besar. Mereka sedang berada di salah satu kafe Bryant Park, menikmati malam yang dingin bersama. Aubree yang memilih tempat duduk dekat jendela, sedangkan Will yang menentukan kudapannya. Saling melengkapi, ah bukan, saling membutuhkan.

Will yang kala itu mengenakan mantel coklat pun meremas lembut jari-jari Bree, sekedar untuk mendapatkan balasan. “Jawab aku, Bree,” bisiknya lembut pada Aubree yang duduk di sampingnya.

Aubree memberikan atensi pada Will. Dia tersenyum. Bree selalu menghindari pandangan kekasihnya karena ada rasa campur aduk dalam hatinya ketika mata pria itu hanya terfokus padanya. Perasaan bersalah, bahagia, sedih, dan cinta.

“Saat bertemu denganmu,” jawab Bree. Dia memberikan kecupan pada pipi Will penuh sayang.

“Kita bertemu hampir setiap hari,” gumam Will dia tertawa geli, tapi menyukai perilaku Bree. Will memang pria yang dingin, tapi dia berubah menjadi lembut dan manis seperti gula kapas saat bersama Bree.

Bree memeluk Will. “Suatu hari nanti pasti ada saat kita tidak bisa bertemu lagi, kemudian berselang waktu yang sangat lama ketika kita kembali bersama―kembali bertemu. Itu adalah hal yang paling spektakuler dalam hidupku,” bisik Bree.

Will mengerutkan alis. Dia memberengut. “Tidak ada alasan kita tidak dapat bertemu,” Will mulai protes.
Aubree enggan menjawab. Dia hanya mengeratkan dekapannya. Betapa dia mencintai pria ini, hingga bernapas pun sukar.

“Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia, Bree. Dengan begitu, kita tidak perlu terlalu lama berpisah,” Will kembali mengoceh, ia mengecupi beberapa kali puncak kepala Aubree.

“Aku ini pintar bersembunyi,” celetuk si gadis.

Will tersenyum, “Aku bisa menggunakan antena di kepalaku.” Will melonggarkan pelukannya, ia menaruh sepasang telunjuknya di bagian kanan dan kiri kepala. “Ini berfungsi dengan baik,” dia melanjutkan lalu tersenyum lebar.

“Kau ini kekanakan,” ejek Aubree, tapi bibirnya ikut tertawa. Bree memandangi Will. “Lalu, apa hal yang paling bahagia dalam hidupmu?” tanya Aubree.

Will melejitkan bahunya. “Tidak banyak,” jawabnya seadanya.

Aubree mencubit pinggang Will. “Ceritakan, jangan curang,” kicaunya.

“Pertama, aku bahagia saat menjadi Will―“

“―Memangnya ada keadaan yang membuatmu tidak menjadi William?” sambar Bree.

“Diam, jangan menyela,” protes Will. Dia menarik gadisnya kembali agar mereka tetap dekat dan hangat. “Dengan menjadi Will, aku bisa mencintaimu sesuka hatiku dan seumur hidupku,” lanjutnya.

Netra Aubree memberikan tatapan berduka. Hatinya bertanya-tanya, ‘apa aku juga bisa selamanya menjadi Aubree? Agar aku dapat mencintaimu sesuka hatiku.’

“Aku juga ingin mencintaimu seumur hidupku,” kata Bree. Gadis itu sengaja mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.

“Aku sudah memegang ucapanmu. Kau harus mencintaiku seumur hidupmu,” balas Will sebelum mengecup bibir Aubree singkat.

“Bagaimana jika aku lelah mencintaimu suatu hari nanti?” tanya Aubree pelan.

Will membenarkan letak syal milik Bree. “Aku akan menunggumu sampai kau siap untuk kembali padaku,” jawabnya yakin dengan suara baritonnya.

“Walaupun itu butuh waktu selamanya?” Aubree menyuarakan kebimbangannya.

Will menarik ujung bibir, membentuk senyum sederhana, tapi memabukkan hati. “Meskipun itu butuh waktu selamanya,” Will mengulangi.

Nara mulai mengingat kenangan mengenai mereka, Aubree dan William. Hal tersebut bagai siksaan baginya. Keadaan wanita itu kini masih tak lebih baik, meskipun keinginannya dikabulkan oleh Sehun. Satu bulan lamanya, Nara sungguh tak bisa melihat Sehun. Kabar suaminya pun tidak dapat di dengarnya, selain dari media cetak maupun elektronik yang tengah memberitakan kesuksesan perusahaan sang pewaris.

Hari-hari Nara dihabiskan dengan melihat satu-persatu halaman foto dirinya yang dulu―Aubree saat di New York. Sehun begitu kejam padanya hingga akhir, bahkan sebelum perpisahan mereka―pria itu memberikan seluruh kenangan yang tersisa. Agar si gadis tidak melupakannya, Sehun berharap Nara terus dihantui oleh perasaan bersalah dan menderita. Itu prasangka Nara pada Sehun.

Nara berusaha mengalihkan perhatian. Dia memulai hobi barunya, yaitu memasak. Nara berada di dapur enam jam sehari dengan peralatan memasak lengkap yang sengaja Chanyeol siapkan. Nara kini tinggal di apartemen Chanyeol yang berada di Busan. Jauh dari Sehun. Jarak di antara mereka kadang membuat Nara merasa bahwa kisahnya bersama Sehun tidak nyata. Ia berharap dapat membuang semua cerita menyakitkan di antara mereka. Akan tetapi, semuanya percuma.

Nara sangat lelah atas semua kejahatan pria itu. Sehun mengatas namakan kegilaan yang dilakukannya adalah perwujudan dari sebuah rasa cinta.

“Aku akan menunggumu, meskipun itu butuh waktu selamanya, Nara,” itu yang dikatakannya sebelum Nara membubuhkan tanda tangannya di atas surat perceraian mereka.

“Kau bisa kembali padaku kapan pun dirimu merindukanku,” Sehun mengucapkannya saat dia mengantarkan album kenangan Aubree dan Will.

Nara tidak butuh waktu lama untuk merindukannya. Nara merindukan pria itu bahkan detik itu juga saat Sehun berbalik pergi. Namun, ia muak dengan hidup yang penuh penderitaan.

Nara ingin bebas.

Nara juga ingin bahagia, seperti potret yang tengah ia pandangi sekarang.

Ada Aubree di sana, berada di tengah hamparan rumput. Aubree menghadap kamera, dia tersenyum sampai matanya membentuk bulan sabit. Ada tangan yang Aubree genggam―pria yang memotretnya―Will.

“Will, ada berapa banyak hal yang kau sukai di dunia ini?” tanya Aubree di tengah jalan-jalan pagi mereka di taman dekat tempat bekerja William.

Aubree sengaja menarik Will istirahat sejenak dari rutinitas. Gadis itu masih memakai setelan trainingnya yang dilapisi jaket biru tua, sementara Will kemeja putih dan celana jeans. Aubree berlarian di padang rumput, Will berada di sisi kekasihnya meraih tangan Bree agar gadis itu tenang.

“Dua,” jawabnya singkat.

Aubree duduk di rumput diikuti oleh Will.

“Apa saja?” tanya si gadis.

“Kopi dan apronku,” celetuknya. Ia berbaring, menjadikan kaki Aubree sebagai alas kepala.

Aubree mengerutkan dahi. Jari-jarinya membelai surai Will yang terasa lembut. “Jadi, aku tidak masuk ke dalam daftar yang kau sukai,” Bree mengerucutkan bibir.

Will menyentuh pipi kekasihnya. “Tidak, aku tak berani memasukkanmu ke dalam daftar ―“

“―Kenapa?” Aubree tak sabar.

Will tertawa. “Aku cenderung kehilangan sesuatu yang kusukai,” dia berucap setelah mengendalikan kekehannya. Will menarik napas panjang. “Dan aku akan sangat terobsesi dengan semua hal yang tidak bisa kudapatkan. Itu bukan sesuatu yang baik,” sambungnya.

Aubree menatap Will. “Kau membuatku takut, Will. Kalau begitu, jangan menyukaiku terlalu banyak,” Bree berkelakar.

Will tidak menanggapi, dia hanya menatapnya lekat sambil tersenyum miring―lebih serupa menyeringai.

“Aku sangat mencintaimu, Nara. Bahkan lebih dari nyawaku sendiri,” ucapan Sehun pada Nara terus menggema ketika mereka bertemu di sidang perceraian.

Kaki Nara lemas. Pikirannya tak berkolaborasi dengan benar. Ia hanya memberikan pandangan kosong pada pria itu yang akhirnya diartikan sebagai tatapan dingin oleh lawan bicaranya.

Ungkapan tersebut telah berselang lama. Kendati demikian, efeknya masih menyakiti Nara hingga kini. Pertanyaan bertubi-tubi datang. Jika Sehun sungguh mencintai Nara, kenapa dia merelakan begitu saja bayi mereka mati? Apabila kasih itu ada, mengapa Sehun menaruh Nara dalam urutan ke sekian? Mengorbankan Jung Nara yang ia cintai.

Jawaban dari pertanyaan tersebut ditulis di belakang foto mereka. Potret ketika Aubree dan William masih bersama. Duduk berdua, berdampingan, dan bahagia.

‘Karena aku sangat mencintaimu. Karena aku takut kehilangan dirimu.’

Nara menyentuh tulisan tangan itu. Dia membayangkan wajah Sehun yang menulisnya dengan serius.

Rindu. Nara rindu pada prianya.

“Will, apa yang kau lakukan apabila merindukanku?” tanya Aubree saat mereka berada di gang kecil di belakang klub malam.

Will sedang menyeret pelan Aubree yang setengah mabuk. Gadis itu agak gila setelah pertengkaran kecil mereka, lalu memutuskan minum alkohol sampai oleng. Will yang kepalang sayang, memaafkannya setelah melihat betapa sedihnya Aubree.

Will tidak banyak bicara. Dia lantas meraih Bree, menggendongnya di punggung. Melewatkan pertanyaan gadisnya.

Aubree menciumi bahu Will. “Jawab aku, Sayang,” kicau Aubree.

“Aku tidak akan melakukan apa-apa,” desis Will yang masih setengah murka.

“Kau marah padaku!” seru Bree.

Will menggeleng.

“Mengaku saja, aku hafal nada suaramu. Suaramu akan berubah seperti beruang saat marah padaku―”

“―Kau sok tahu, Sweet Apple,” potong Will lebih lembut.

Aubree tersenyum mendengar panggilan sayang itu. “Coba ulangi lagi, aku suka saat kau memanggilku begitu,” kata Bree.

Hening.

Will menolak.

“Kenapa kau jarang sekali memanggilku dengan nama khusus seperti tadi? Kau justru memanggilku Aubree,” tanya Bree.

Will berpikir sejenak, “Karena aku ingin mengenalmu sebagai Aubree, hanya sebagai Aubree.”

Giliran Aubree yang bungkam, dia mengeratkan dekapan tangannya pada leher Will.

“Baiklah, hanya Aubree,” gumam si gadis kemudian jatuh tertidur.

‘Aku jatuh cinta pada keduanya.’

Lembar terakhir album foto itu, terdapat dua gambar yang disandingkan. Potret pernikahan mereka ketika si gadis menjadi Jung Nara, lalu saat dia menggunakan nama Aubree. Mereka tak pernah mengadakan resepsi. Mereka hanya melakukan beberapa pemotretan sesuai permintaan Nara. Si wanita ingin memiliki foto pengantin yang dipasang di dinding kamar, seperti pasangan lainnya.

‘Aku menyakiti keduanya. Penyesalanku tidak berarti lagi. Ini hukumanku.’

Kalimat terakhir itu ditulis Sehun. Berpisah dengan Nara adalah sebuah hukuman. Bukan hanya bagi diri Sehun, tapi Nara juga.

“Nara, sudah saatnya kita pergi,” suara Chanyeol menyela benak adiknya.

Nara membalikkan tubuh. Ia melihat kakaknya sudah rapi, koper besar mereka berada di sisi kanannya. Nara akan meninggalkan Korea. Pergi sejauh mungkin.

“Aku akan pergi,” bisik Nara sembari meletakkan album itu di meja kayu.

Nara tersenyum pada Chanyeol, kemudian melangkah bersama kakak laki-lakinya.

‘Sampai jumpa lagi, Sehun. Aku merindukanmu setiap waktu. Namun, aku bahagia sekarang.’

Pesan itu Nara taruh di sisi albumnya. Meninggalkannya di sana sebagai kenangan.

-oOo-

Kira-kira Sehun harus gimana? Nara juga harus gimana? Aku butuh pendapat dari kalian sebagai bagian dari cerita ini.
Terima kasih sudah membaca special part ini. Jangan lupa tinggalkan komentar agar aku tahu apa yang kalian rasakan setelah membaca Love Madness.

P.s: Aku nulis ini saat dengerin lagunya Sandara Park judulnya Song of Memory. Aku anjurkan kalian bacanya sambil dengerin itu ya. Hehehe.

CONTACT ME ON

Advertisements

168 thoughts on “[Special Part] Love Madness: The Death of The Heart

  1. Maria Stephanie says:

    Di satu sisi pengen cerita ini jdi terkesan real
    Tpi klo rela banget udh pasti sad ending
    Di sisi lain diri ini hanya ingin nara-sehun bahagia sekali saja
    Bingungggg akuu tuhhh

  2. Defitribp says:

    Aku pikir sehun harus mencari nara dan berubah, meyakinkan nara bahwa sehun benar” mencintai nara dan tdk akan bertindak bodoh bagai iblis lagi.
    Tp terserah author saja heheh itu hanya pendapatku

  3. lisamagdalena2003 says:

    Aku pengen banget happy ending, karna di sini sehun sayang banget ama nara. Buat aja mereka menyadarinya sendiri kk. Btw aku baru tau nih buat komen di wordpress , makanya baru jarang komen. Sorry 😭😭

  4. 94LUV says:

    Bagi aku ini sad ending😢 but bisakah kak nara dan sehun ketemu lagi, buka lembaran baru tp dengan sifat yang beda, lebih baik daripada sebelumnya😢 saran aja kak aku sebagai salah satu reader pengennya ya happy ending hehe 😁

  5. Leyna cullen says:

    Pengen nya sih happy ending ka”’….tp harus ada pembuktian buat keduanya seberapa berartinya satu sama lain
    Dan juga supaya mereka berdua bisa berubah terutama sifat nya Nara yg serakah
    Semoga kisah nya indah pada waktu nya

  6. Naeli Ahadi says:

    Aku pengen Sehun ngejar Nara, memperlihatkan kesungguhan hati dia klo emang bener2 cinta sm Nara and happily together forever❤❤❤

  7. Quin says:

    Kebahagaian membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, daripada terus menerus bersedih lebih baik mengorbankan sesuatu demi kebahagian walaupun menyakitkan. Semoga nara selalu bahagia walaupun menyakitkan

  8. Vidya ayunanda says:

    mau nya sih happy end, tapi sebelum happy end sehun di buat menyesali perbuatan nya boleh juga hehe #ehtapikasian

  9. Rain Cloudz says:

    Wahhhh….
    kayaknya klo ngeliyat ini versi drama sepertinya lebih seru lagi deh😁😁😁
    pengennya sihh happy ending untuk semuanya ,karena dh tragis gini ceritanya
    jadi smoga ending nya tu bisa senyum waktu bacanya
    😊😊😊

  10. Kkamcan says:

    Maunyaaa happy ending tapi sekali2 sad ending gpp kok☺ sehunnya butuh pelajaran sekali2 jgn hidupnya happy ending mulu haha tapi kasian sehun juga dia terobsesi sma sayang bngt sma nara makanya sifatnya bgtu😂 will sma aubree sifatnya manis bngt mereka berduaaa kusukaaa

  11. kimdaena says:

    akhirnya sekian lama :”)
    akuu suka banget masa” aubree dan will,manis dan muda walaupun aku yakin banyak kebohongan disana, tapi cinta mereka disana terasa sungguhan.
    Lain cerita dengan nara dan sehun yang saling mencintai tapi menyakiti dengan kebenaran yang ada.
    Aku pengen mereka berpisah demi kebahagiaan masing” tapi bagaimana klo 2/3 kebahagiaan mereka adalah untuk memiliki satu sama lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s